Anda di halaman 1dari 10

Metode Pembelajaran Bahasa Arab Alternatif



Oleh : Abdul Haris
Pendahuluan
Problem serius yang harus dituntaskan oleh para akademisi, khususnya yang bergerak
dibidang kajian bahasa arab adalah mencari terobosan metodologi pembelajaran membaca
dan memahami teks Arab. Hal ini dianggap serius lebih disebabkan karena sampai saat ini
harus diakui bahwa sarjana-sarjana alumni Sekolah Tinggi Agama Islam Neger (STAIN),
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) dan Universitas Islam Negeri (UIN) mayoritas
kemampuan mereka dalam bidang pembacaan dan pemahaman teks Arab masih tergolong
mengecewakan, bahkan kemampuan mengecewakan juga tampak terlihat dengan jelas di
jurusan atau program studi bahasa Arab sendiri1. Kemampuan yang tinggi dalam bidang
pembacaan dan pemahaman teks Arab yang dimiliki oleh sarjana STAIN, IAIN dan UIN
biasanya merupakan kemampuan bawaan dari lembaga pesantren, sebuah lembaga
pendidikan yang dikesankan sebagai lembaga tradisional , kolot dan stagnan dalam bidang
metodologi pembelajaran.
Lembaga pendidikan pesantren yang dikesankan tradisional, kolot dan stagnan dalam
aspek metodologis harus diakui sebagai lembaga yang lebih berhasil dalam mengantarkan
para santrinya pada kemampuan membaca dan memahami teks Arab, dibanding lembaga
pendidikan formal. Lembaga pendidikan formal yang mengklaim dirinya sebagai lembaga
yang kaya metodologis harus banyak belajar kepada lembaga pendidikan pesantren mengenai
bagaimana cara “memandaikan” para santrinya dalam bidang membaca dan memahami teks
Arab, meskipun hal ini sulit, karena situasi dan kondisi antara pesantren dan lembaga
pendidikan formal berbeda seratus delapan puluh derajat.
Karena situasi dan kondisi pesantren tidak mungkin dibawa ke kampus, maka para
akademisi, khususnya yang concern di bidang pembelajaran bahasa Arab memiliki kewajiban
untuk mencari format metode alternatif dalam bidang pembelajaran bahasa Arab untuk
meningkatkan kwalitas kemampuan bahasa Arab mahasiswa secara keseluruhan.
Makalah ini disusun dalam rangkat mencari format alternatif tersebut sebagai
sumbangan pemikiran tentang konsep pembelajran bahasa Arab dengan harapan dapat
dipertimbangkan sebagai metode alternatif di lembaga Pendidikan formal.
Analisis Kebutuhan
Untuk dapat melakukan analisis menyangkut apa saja yang dibutuhkan dalam rangka
membaca dan memahami teks Arab, mungkin dapat diurai dari jawaban tentang sebuah
pertanyaan : Kapan seseorang dianggap mampu membaca dan memahami teks Arab ?
Seseorang yang setiap hari berinteraksi dengan teks Arab pasti akan sepakat bahwa
seseorang dapat dianggap mampu membaca teks Arab ketika :
1. Memahami kaidah nahwu dan sharf
2. Memiliki koleksi hafalan mufradat yang cukup memadai
3. memiliki kemampuan untuk menerapkan kaidah yang sudah dipahami terhadap
mufradat yang sudah dihafal.

Peran Kaidah Nahwu dan Sharf



Pernah dipresentasikan dalam Seminar Nasional “ Mencari Format Pembelajaran bahasa Arab” Program
Studi Bahasa Arab STAIN Jember pada Tanggal 26 November 2007

Penulis adalah Ketua Program Studi Bahasa Arab STAIN Jember dan juga pembina pesantren “al-Bidayah”
khusus putra yang fokus pada pembelajaran kitab yang baru dirintasnya sejak 2003 yang beralamat di Jln. Moh.
Yamin no 3b Tegal Besar Jember. Telp. O331 325355
1
Realitas semacam ini tampak jelas dalam proses pengajuan judul, pembimbingan dan ujian skripsi, dimana
rata-rata dari mahasiswa bahasa Arab enggan untuk menulis skripsi dengan menggunkan bahasa Arab dan
ketika ada keberanian untuk menulis dengan menggunakan bahasa Arab, rata-rata pembimbing mengeluhkan
kemampuan mereka, sehingga pembimbingan yang terjadi bukan menyangkut substansi penelitian, akan tetapi
lebih banyak pada pembenaran dan koreksi tulisan. Lemahnya kemampuan bahasa Arab mahasiswa STAIN
juga banyak diakui oleh dosen Unit Pengembangan Bahasa (UPB). Sehingga wajar dalam sebuah orientasi
untuk dosen-dosen bahasa asing, Dr. Arief Furqon mengatakan bahwa kita sedang ditertawakan banyak pihak
karena sedang memproduksi sarjana-sarjana terjemahan.

1
Sulit dibayangkan seseorang yang mengklaim dirinya sebagai orang yang memiliki
kemampuan membaca dan memahami teks Arab, padahal yang bersangkutan tidak
memahami kaidah, baik nahwu mapupun sharf. Dalam susunan yang sederhana mungkin
semua ahli akan sepakat bahwa kemampuan kaidah nahwu dan sharf tidak begitu
dibutuhkan, seperti contoh :
‫رجع محمد من المدرسة في الساعة الثانية نهارا‬
Contoh di atas akan sangat mudah dipahami, baik oleh orang yang ahli nahwu dan
sharf, maupun yang tidak ahli nahwu dan sharf, karena contoh di atas sangat sederhana dan
tidak menimbulkan kerancuan, akan tetapi ketika susunan yang ditawarkan termasuk dalam
kategori susunan yang rumit dan terlalu banyak alternatif bacaan serta menimbulkan
kerancuan, maka dapat dipastikan bahwa tidak semua orang dapat membaca, menganalisis
dan memahami maksud dan isi bacaan. Yang mampu membaca, mengalisis dan memahami
hanyalah orang yang memiliki kemampuan nahwu dan sharf. Hal ini dapat dapat dicontohkan
dengan :
‫ان ال بريئ من المشركين ورسوله‬
Contoh di atas memiliki alternatif pemahaman yang banyak tergantung pada cara baca
dan bentuk analisisnya. Huruf waw dalam lafadz ‫ ورسوله‬dapat dianggap sebagai waw athaf
dan waw isti’naf. Permasalahan akan menjadi crusial ketika wawu dimaksud dianggap
sebagai wawu athaf, karena mungkin saja lafadz ‫ رسوله‬yang menjadi ma’thuf diathafkan
pada ma’thuf alaihi lafdaz ‫ المشركين‬atau pada ma’thuf alaihi lafadz ‫ ال‬.
Ketika lafadz ‫ المشششركين‬ditentukan sebagai ma’thuf aliahi, maka pengertian yang
didapat dari ayat di atas adalah “ Allah tidak bertanggung jawab terhadap orang-orang
musyrik dan rasulnya”. Sedangkan ketikalafadz ‫ ال‬dijadikan sebagai ma’thuf alaihi, maka
pengertian yang didapat dari ayat di atas adalah “Allah dan rasulnya tidak bertanggung
jawab terhadap orang-orang musyrik” Pengertian sebagaimana yang terakhir ini juga didapat
ketika huruf wawu yang ada dijadikan sebagai wawu isti’naf.2
Contoh yang lain yang dapat dimajukan dalam masalah ini adalah kalimah ‫ما اجمل السماء‬
. Dalam rangkaian kalimah ini, dapat dipastikan bahwa tidak ada mufradat yang asing, akan
tetapi tidak semua orang mampu menangkap maksud dari rangkaian kata tersebut, lebih
disebabkan karena i’rab dari masing-masing kata yang merangkai jumlah dapat
mempengaruhi maksud yang diperoleh. ‫ مشا‬yang tersebut dalam rangkaian kata di atas
dapat dianggap sebagai isim dan dapat pula dianggap sebagai huruf. Apabila ‫ ما‬yang ada
dianggap sebagai kalimah isim, maka ‫ ما‬tersebut dapat berstatus sebagai ‫ ما‬istifhamiyah dan
dapat pula berstatus sebagai ‫ مششا‬ta’ajjubiyah. Sedangkan apabila ‫ مششا‬yang ada dianggap
sebagai kalimah huruf, maka ‫ ما‬yang ada dapat dianggap sebagai ‫ ما‬nafi.3
Lafadz ‫ اجمل‬dalam rangkaian kata di atas dapat dianggap sebagai kalimah isim dan
dapat pula dianggap sebagai kalimah fi’il. Ketika lafadz ‫ اجمل‬dianggap sebagai kalimah isim,
maka statusnya adalah sebagai isim tafdlil4, sedangkang apabila dianggap sebagai kalaimah
fi’il, maka statusnya sebagai fi’il madli. Variasi status kalimah yang pada akhirnya
berdampak pada variasi status i’rab akan berdampak pada maksud yang dicapai. Variasi
maksud yang yang dicapai dapat dilihat dalam tabel berikut ini :
Maksud Yang
No Kalimah Keterangan
Diperoleh
1 ‫ما اجمل السماء‬ Lafadz ‫ مششا‬berstatus sebagai Langit apa yang paling
isim istifham yang
indah ?
berkedudukan sebagai
khabar muqaddam.
Sedangkan lafadz ‫اجمشششششل‬
2
Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, Syarh Mukhtashar Jiddan ( Surabaya, Dar al-Nasyr al-Mishriyah,tt) hal. 3
3
Bahwa ‫ ما‬memiliki multi prediket dapat dilihat dalam : Al-Ustadz Thohir Yusuf Al-Khotib. Mu'jam Al-
Mufashshal Fi Al-I'rab. Indonesia: AL-Haramain. Hal. 401
4
Isim Tafdlil adalah isim sifat yang diikutkan pada wazan ‫ افعل‬untuk mudzakkarnya, dan diikutkan pada wazan
‫ فعلى‬untuk muannatsnya. Sebuah isim sifat apabila diikutkan pada wazan-wazan tersebut, maka secara arti
mendapatkan tambahan arti “lebih” atau paling. Lebih lanjut mengenai hal ini lihat : Syeikh Mushthafa al-
Ghulayaini, Jami’ al-durus al-Arabiyah ( Bairut, al-Maktabah al-Ashriyah, 1989) Juz I hal. 195-196

2
berstatus sebagai isim yang
berkedudukan sebagai
mubtada’ muakhkhar. Lafadz
‫ السششماء‬berkedudukan sebagai
mudlaf ilaihi dari lafadz ‫اجمل‬
2 ‫ما اجمل السماء‬ Lafadz ‫ مششا‬berstatus sebagai Alangkah indah langit
isim (‫ )مشششششا التعجبيشششششة‬yang
itu !
berkedudukan sebagai
mubtada’. Sedangkan lafadz
‫ اجمشششل‬berstatus sebagai fi’il
madli yang fa’ilnya berupa
dlamir yang kembali kepada
lafadz ‫مشششا‬. Lafadz ‫السشششماء‬
berkedudukan sebagai maf’ul
bih. Jumlah fi’liyah yang
terdiri dari ‫اجمشششششل السشششششماء‬
berkedudukan sebagai
khabar.
3 ‫ما اجمل السماء‬ Lafadz ‫ مششا‬berstatus sebagai Dia tidak mengin-
huruf (‫ ) مششا النافيششة‬yang tentu
dahkan langit.
saja tidak memiliki mahal
i’rab. Lafadz ‫ اجمشششل‬sebagai
fi’il madli yang fa’ilnya
tersimpan, sedangkan lafadz
‫ السششماء‬berkedudukan sebagai
maf’ul bih.

Diskripsi di atas mencerminkan bahwa kaidah nahwu dan sharf sangat berperan dalam
menentukan maksud dari sebuah teks, sehingga sulit dibayangkan seseorang yang mengklaim
dirinya sebagai orang yang mampu memahami teks-teks arab, sementara yang bersangkutan
tidak mengenal atau memahami kaidah nahwu dan sharaf.

Peran Mufradat
Memahami nahwu dan sharf bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan
kemampuan membaca dan memahami teks arab, sehingga bisa jadi seseorang yang sudah
dianggap pakar dalam bidang nahwu dan sharf mengalami kesulitan pada saat membaca dan
memahami teks arab, lebih disebabkan karena koleksi mufradat yang dimilikinya sangat
terbatas.
Untuk memberikan penegasan tentang signifikansi mufradat dan bahwa nahwu dan
sharf bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan kemampuan membaca dan memahami
teks arab, berikut dapat disebutkan contoh :
‫وفي كل عضو ل منفعة فيه حكومة‬5 . Dari aspek nahwu dan sharf, analisis rangkaian kata ini tidak
terlalu sulit. Jer-majrur ‫ في كل عضو‬dapat ditentukan sebagai khabar muqaddam, karena yang
jatuh sesudahnya ada yang pantas untuk ditentukan sebagai mubtada’ muakhkhar. Lafadz ‫ل‬
termasuk dalam kategori ‫ ل التي لنفي الجنس‬yang berpengamalan sebagaimana ‫ ان واخواتها‬, akan
tetapi khusus masuk pada isim nakirah. Lafadz ‫ منفعة‬berkedudukan sebagai isim ‫ ل‬yang
dimabnikan sesuai dengan tanda nashabnya, sedangkan khabar ‫ ل‬adalah lafadz ‫ موجود‬yang
dibuang. Jumlah yang terdiri dari rangkaian kata ‫ ل منفعيية فيييه‬berkedudukan sebagai naat
jumlah, karena jatuh setelah isim nakirah. Lafadz ‫ حكومة‬berkedudukan sebagai mubtada’
muakhkhar dari khabar muqaddam ‫في كل عضو‬.
Seandainaya kemampuan menganalisis i’rab adalah satu-satu kemampuan yang
menentukan pemahaman seseorang terhadap teks arab, maka dengan analisis di atas
seharusnya seseorang mampu memahami rangkaian kata di atas. Akan tetapi realitasnya tidak
5
Abu Syuja’, Taqrib (Surabaya, Nur Hidayah, tt) , hal. 55

3
demikian. Kesulitan dan bisa jadi kesalahpahaman dalam memahami teks di atas di antaranya
muncul dari arti mufradat ‫ حكومة‬. Di dalam kamus al-Munawwir, lafadz ‫ حكومة‬diartikan
dengan : pemerintah. Pemahaman yang didapat ketika lafadz ‫ حكومة‬diartikan dengan arti :
pemerintah adalah “ Didalam setiap anggota badan yang tidak bermanfaat/ cacat (apabila
dirusak), maka dendanya adalah pemerintah” . Pengertian semacam ini tentu saja sangat
membingungkan dan pasti tidak sesuai dengan maksud mushannif.
Setelah dicek di dalam referensi yang ada, ternyata lafadz ‫ حكومة‬diterjemahkan dengan
: ‫مقدار من الدية يراه القاضي العدل متناسبا مع الجناية‬6 ( ukuran tertentu dari diyat/sanksi hukum yang
dipandang sesuai oleh seorang hakim yang adil dengan tindak kriminal yang dilakukan).
Dengan pengertian ini, maka pemahaman teks di atas (‫ ) وفي كل عضو ل منفعة فيه حكومة‬adalah :
Didalam setiap anggota badan yang tidak bermanfaat/ cacat (apabila dirusak), maka sanksi
hukumnya tergantung pada ketentuan/ ijtihad hakim yang adil )
Setelah mengetahui, signifikansi kaidah dan mufradat dalam mengantarkan seseorang
pada kemampuan membaca dan memahami teks arab, selanjutnya yang perlu dipikirkan
adalah bagaimana strategi dalam melakukan percepatan pada pembelajaran kaidah dan
penambahan mufradat.

Tahapan dan Strategi Pembelajaran Kaidah


Secara umum harus dipahami bahwa kaidah dalam bahasa Arab dapat diklasifikasikan
menjadi dua, yaitu : 1) Kaidah nahwu, 2) kaidah sharf. Strategi dan tahapan kedua kaidah ini
tentunya berbeda, karena karakter dari dua kaidah ini juga berbeda. Kaidah nahwu secara
umum berbicara tentang i’rab, sedangkan kaidah sharf secara umum berbicara tentang sighat.

1. Pembelajaran Kaidah Nahwu


Ada tiga tahapan dalam pembelajaran kaidah nahwu yang perlu diperhatikan, yaitu :
• Tahapan al-hifdhu (menghafal teori)
Tahapan al-hifdhu ini biasanya diorientasikan pada peserta didik yang baru saja
mengenal ilmu nahwu. Tahapan ini sulit dicapai apabila peserta didik banyak sekali
dibebani hal-hal yang tidak memiliki relevansi dengan ilmu nahwu. Realitas semacam
ini secara kasat mata terlihat pada lembaga-lembaga pendidikan formal, dimana pada
umumnya peserta didik hanya mampu mengahafal materi pelajaran yang paling akhir,
sedangkan materi-materi sebelumnya pada umumnya dilupakan. Dalam konteks
pembelajaran ilmu nahwu yang ideal, dimana tujuannya adalah mampu menganalisis
struktur kata yang merangkai sebuah teks, maka tidak dapat ditawar lagi bahwa semua
materi ilmu nahwu yang ada harus dihafal, karena semua bab nahwu memungkinkan
muncul dalam sebuah teks, sehingga seorang pembaca teks arab tidak dapat membatasi
diri pada bab-bab tertentu dalam ilmu nahwu.
Dari pengalaman yang ada dapat disimpulkan bahwa strategi yang dapat dibilang
ampuh dalam pembelajaran ilmu nahwu untuk tahap awal adalah pembelajaran privat
(satu tutor untuk satu murid) dengan melibatkan para senior yang memiliki keunggulan
dan penguasaan materi yang lebih untuk merawat para yuniornya. Pembelajaran model
privat ini pada akhirnya memungkinkan untuk melakukan pengawasan, kontrol dan
evaluasi terhadap perkembangan kemampuan peserta didik setiap saat. Pemanfaatan
para senior sebagai tutor sebaya pada akhirnya akan menjadikan suasana pembelajaran
lebih santai dan jauh dari unsur ketegangan, sehingga kesan materi ilmu nahwu sebagai
sebuah momok yang ditakuti oleh para peserta didik dapat sedikit ditekan,
diminimalisir atau bahkan dihapuskan sama sekali. Dalam konteks pembelajaran ini,
seorang guru hanya berfungsi sebagai fasilitator, meneger dan pengendali situasi belajar
mengajar, sehingga kehadirannya secara fisik di dalam ruang belajar-mengajar masih
sangat dibutuhkan.
• Tahapan al-fahmu (memahami teori)
Setelah seseorang menghafal semua bab nahwu yang dibutuhkan, maka tahapan
berikutnya adalah upaya peningkatan pemahaman kaidah-kaidah yang sudah
6
Dr. Mustafa Dibul Bagha, al-Tadzhib fi Adillat Matni al-Ghayah Wa al-Taqrib ( Surabaya, Syirkah Bungkul
Indah, 1978) hal. 200.

4
dihafalnya. Realitas dilapangan menunjukkan bahwa tidak semua orang yang
menghafal kaidah nahwu mampu memahami semua kaidah yang dihafalnya tersebut,
lebih-lebih apabila kaidah yang dihafalnya berupa kaidah yang berbahasa arab. Strategi
yang paling sederhana untuk dapat memastikan bahwa disamping hafal, seseorang juga
memahami kaidah-kaidah yang sudah dihafalnya adalah dengan menjadikan yang
bersangkutan sebagai tutor sebaya untuk teman-temannya. Penunjukan ini pada
umumnya dianggap sebagai sebuah penghormatan yang secara psikologis akan mampu
meningkatkan motivasi yang bersangkutan untuk memahami konsep-konsep yang
sudah dihafalnya, sehingga secara sadar yang bersangkutan akan mempersiapkan diri
untuk memahami konsep-konsep yang ada, sebelum yang bersangkutan “mengajar”
yunior. Tidak jarang peserta didik yang diangkat sebagai tutor berkonsultasi kepada
ustadznya secara suka-rela pada saat akan mengajar, lebih disebabkan karena yang
beresangkutan kurang memahami secara maksimal konsep-konsep yang akan diajarkan.
• Tahapan al-tathbiq (menerapkan teori)
Setiap orang yang memiliki jam terbang yang cukup lama dalam menangani
pembelajaran pemahaman teks arab, akan mampu menyimpulkan bahwa tidak semua
peserta didik yang sudah memahami kaidah nahwu akan mampu menerapkan kaidah
tersebut pada saat membaca teks arab. Hal ini disebabkan karena karakter tulisan arab
yang gundulan memang terlalu banyak mengandung alternatif bacaan. Lafadz ‫ من‬bisa
dibaca ‫ن‬ ْ ‫( َم‬dianggap isim)7 , bisa juga dibaca ‫ن‬
ْ ‫( ِم‬dianggap huruf) dan bisa juga dibaca
ّ ‫( َم‬dianggap fi’il).
‫ن‬
Tahapan al-tathbiq (menerapkan teori) merupakan tahapan yang cukup serius, sehingga
tidak semua “ustadz” dapat menangani tahapan ini. Ustadz yang mampu menangani
tahapan ini adalah ustadz yang memiliki pengalaman yang cukup dan memahami
karakter semua bab dalam ilmu nahwu dan sharf, karena tahapan tathbiq menuntut
pembahasan lintas bab sesuai dengan teks yang sedang dibahas dan didiskusikan.
Sebagai contoh dapat digambarkan sebagai berikut : ‫من كان يؤمن بال واليوم الخر فليكرم ضيفه‬
. Seorang ustadz yang sedang membimbing tahapan tathbiq harus menjelaskan seluk-
beluk semua kata yang merangkai teks di atas, sehingga ia harus mampu menjelaskan :
• Lafadz ‫ مششن‬dan seluk-beluknya. Seorang pembimbing harus menjelaskan
bahwa lafadz ‫ من‬adakalanya disebut sebagai syarthiyah, maushuliyah dan
kadang juga bisa disebut sebagai istifhamiyah. Apa ciri dan konsekwensi
ketika disebut sebagai syarthiyah, apa ciri dan konsekwensi ketika lafadz ini
disbut sebagai maushuliyah dan apa ciri dan konsekwensi ketika lafadz ini
disebut sebagai istifhamiyah, semua ini harus mampu dijelaskan secara lugas
dan tegas oleh seorang pembimbing yang menangani tahapan tathbiq.
• Lafadz ‫ كشششان‬dan seluk-beluknya. Seorang pembimbing harus mampu
menjelaskan bahwa lafadz ‫ كان‬dapat dianggap sebagai ‫ كان‬tam dan dapat pula
dianggap sebagai ‫ كان‬naqish. Apa ciri dan konsekwensi ketika lafadz ini
dianggap tam, serta apa ciri dan konsekwensi ketika lafadz ini dianggap
sebagai naqish, semuanya harus mampu dijelaskan secara lugas dan tegas oleh
seorang pembimbing yang menangani tahapan tathbiq.
• Lafadz ‫ يؤمن‬dan seluk-beluknya. Untuk kepentingan analisis teks, seorang
pembimbing minimal harus mampu menjelaskan apakah lafadz ini termasuk
dalam kategori fi’il madli, mudlari’ atau amar dan apa konsekwensi dari
masing-masing, dan apakah lafadz termasuk dalam kategori fi’il mabni atau
mu’rab dan apa konsekwensi dari masing-masing, dan apakah lafadz termasuk
dalam kategori fi’il ma’lum atau fi’il majhul dan apa konsekwensi dari
masing-masing, serta apakah lafadz ini termasuk dalam kategori lazim atau
mutaaddi dan apa konsekwensi dari masing-masing.

7
Ketika ‫ من‬dianggap sebagai isim, maka statusnya bisa dianggap sebagai isim istifham, isim syarat dan isim
maushul. lebih lanjut lihat Umar Taufiq Safaragha, Al-Mu’jam fi al-I’rab, ( al-Maghrib, Daru al-Ma’rifat, 1993)
hal. 142-143.

5
• Lafadz ‫ بال‬dan seluk-beluknya. Tentang masalah ini, seorang pembimbing
harus menguasai tentang konsep huruf jer, baik berkaitan dengan arti, maupun
dengan pembagiannya dan juga harus memahami tentang konsep taalluq.
• Lafadz ‫ واليشششوم الخشششر‬dan seluk beluknya. Tentang masalah ini, seorang
pembimbing harus menguasai tentang konsep wawu (‫)و‬, kapan harus dianggap
sebagai wawu athaf, wawu haliyah, wawu isti’nafiyah, wawu ibtida’iyah dan
wawu qasam. Bagaimana konsep ma’thuf dan seluk-beluk permasalahan na’at
juga harus dikuasai secara lugas oleh seorang pembimbing yang akan
menangani materi tathbiq.
• Lafadz ‫ فليكرم‬dan seluk-beluknya. Tentang masalah ini, seorang pembimbing
harus menguasai tentang jawab syarat, kapan harus ditambah dengan fa’
jawab, kapan tidak perlu ditambah dengan fa’ jawab; tentang lam amar, apa
dampaknya terhadap fi’il mudlari’ yang dimasukinya, kapan lam amar ini
harus dikasrah dan kapan pula harus disukun.
• Lafadz ‫ ضيفه‬dan seluk-beluknya. Tantang masalah ini, seorang pembimbing
harus menguasai tentang konsep maf’ul bih, konsep idlafah dan konsep
tentang cara mencari marji’ (tempat kembali) dari sebuah dlamir.
• Strategi Pembelajaran Tathbiq
Strategi yang dapat digunakan dalam melakukan pembinaan untuk tahapan tathbiq
adalah :
o Seorang pembimbing terlebih dahulu harus menentukan teks yang harus dibaca
dan dianalisis oleh semua peserta didik. Untuk memaksa para peserta didik
mengerahkan semua kemampuan yang dimilikinya, teks yang ditentukan lebih
baik teks yang baru dan tidak ada terjemahannya. Fasilitas yang diberikan
kepada peserta didik hanya berupa kamus, tidak yang lain.
o Peserta didik yang ada diklasifikasikan menjadi kelompok-kelompok kecil,
dimana peserta didik yang potensial disebar pada kelompok yang berbeda.
Peserta didik yang disebar dapat berfungsi sebagai tutor sebaya bagi peserta
didik yang lain yang siap memberikan arahan dan bimbingan. Kondisi semacam
ini pada akhirnya akan mengurangi beban psikologis bagi para peserta didik
pemula yang pada akhirnya mendorong mereka untuk “berani” melakukan
improvisasi pada teks-teks yang ada tanpa merasa ketakutan atau sungkan.
Situasi yang berbeda akan terjadi ketika yang melakukan bimbingan adalah
utadz atau kyai secara langsung, lebih-lebih dalam suasana pesantren yang
tingkat “ketawadluan” seorang santri kepada kyainya terkadang berlebihan.
Seorang peseta didik akan merasa takut untuk melakukan improvisasi ketika
berhadapan dengan teks.
o Setelah diskusi kecil selesai dilaksanakan, baru kemudian diplenokan dengan
mempersilahkan masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasil
diskusinya. Tahapan ini penting untuk dilakukan karena pada akhirnya masing-
masing kelompok memiliki kesempatan untuk melakukan koreksi terhadap hasil
diskusi kelompok yang lain, sehingga terjadilah perdebatan antar kelompok.
Perdebatan ini pada akhirnya mampu mempertajam analisis peserta diskusi.
o Setelah diskusi antar kelompok atau pleno selesai, baru kemudian pembimbing
mengambil peran dengan cara memberikan koreksi dan tashhih terhadap
pandangan-pandangan yang muncul dalam diskusi. Hal ini penting dan harus
selalu dilakukan oleh seorang pembimbing, karena mungkin saja pandangan-
pandangan yang muncul dalam diskusi adalah pandangan salah yang
membutuhkan pelurusan secara serius.

• Sistimatika Analisa Dalam Tathbiq

6
Sistimatika analisa dalam tahtbiq harus dimulai dari sesuatu yang sederhana,
kemudian berproses lebih lanjut pada sesuatu yang lebih rumit, sehingga secara hirarkis
sistimatika dapat digambarkan sebagai berikut :
 Identifikasi Kalimah
Seorang pembimbing yang sedang melakukan bimbingan tathbiq harus
memulai dengan melakukan identifikasi kalimah. Yang dimaksud dengan
identifikasi kalimah adalah mengurai status kalimah yang merangkai sebuah
jumlah. Apakah kalimah tersebut termasuk dalam kategori isim, fi’il atau
huruf. Klarifikasi ini penting dilakukan oleh pembimbing kepada peserta
didik untuk memastikan apakah penguasaan peserta didik tentang sesuatu
yang paling sederhana sudah memenuhi kwalifikasi atau tidak
 Lebelisasi I’rab. Setelah dipastikan bahwa tingkat akurasi peserta didik dalam
melakukan identifikasi kalimah mencapai seratus persen, maka selanjutnya
dilakukan penentuan I’rab untuk masing-masing kalimah. Ketika yang
dihadapi adalah kalimah fi’il, maka dalam tahapan lebelisasi ini pertanyaan
yang harus dikembangkan secara hirarkis adalah ; 1) apakah fi’il tersebut
termasuk dalam kategori fi’il madli, mudlari’ atau fi’il amar, 2) apakah fi’il
tersebut termasuk dalam kategori fi’il mabni atau mu’rab, 3) apakah fi’il
tersebut termasuk dalam kategori ma’lum atau majhul, dan 4) apakah fi’il
tersebut termasuk dalam kategori lazim atau mutaaddi. Sedangkan ketika yang
dihadapi adalah kalimah isim, maka dalam tahapan lebelisasi pertanyaan yang
harus dikembangkan adalah: 1) isim tersebut dibaca rafa’, nashab atau jer, 2)
kenapa dibaca rafa’, nashab atau jer, 3) tanda rafa’, nashab atau jernya apa.
 Konklusi murad. Konklusi murad sementara ini yang lebih efektif dilakukan
dengan metode diskusi.

2. Pembelajaran Kaidah Sharf


Harus diakui, untuk tingkat dasar, sharf bukanlah merupakan sebuah kemampuan, akan
tetapi lebih merupakan sebuah ketrampilan. Karena demikian, Frekwensi peserta didik dalam
melakukan latihan-latihan sangat berpengaruh pada hasil yang dicapai. Secara umum
tahapan-tahapan pembelajaran ilmu sharf adalah sebagai berikut :
• al-ta’wid (pembiasaan)
Pembiasaan ( ‫ ) تعويد‬harus dilakukan sejak awal, dimana peserta didik baru pertama
kali mengenal tashrif dengan cara mewajibkan peserta didik untuk bersama-sama
membaca wazan-wazan yang sudah ditentukan setiap kali pelajaran akan dimulai. Hal
ini harus terus dilakukan sampai pada sebuah tahapan dimana lidah peserta didik
terbiasa, tidak kaku dan dapat lancar melafadzkan tashrifan wazan yang sudah
ditentukan.
Waktu yang dibutuhkan untuk sampai pada sebuah tahapan dimana peserta didik
terbiasa, tidak kaku dan lancar dalam melafadzkan wazan-wazan yang sudah
ditentukan sangat tergantung pada frekwensi latihan. Ketika membaca bersama-sama
dilakukan tiga kali atau lebih dalam satu hari misalnya, maka kemampuan lancar
membaca dan melafadzkan wazan akan cepat dicapai.
• al-tahfidh (penghafalan)

Setelah peserta didik sudah terbiasa membaca dan melafadzkan wazan-wazan yang
sudah ditentukan, maka tahapan selanjutnya adalah membebani peserta didik untuk
menghafalkan (‫ )تحفيظ‬wazan-wazan tersebut secara bertahap sambil terus
mempertahankan tradisi membaca bersama-sama sebelum pelajaran dimulai.
Pada tahapan ini yang paling berperan adalah perhatian dan konsistensi seorang
tenaga pengajar. Ketika perhatian dan konsistensi seorang tenaga pengajar sangat
rendah dalam mengawasi peserta didik untuk sampai pada tahapan ini, maka pada
saat yang sama perhatian dan konsistensi peserta didik juga cukup rendah, sehingga
pada gilirannya target dan tujuan yang sudah ditetapkan menjadi sulit untuk dicapai

7
‫•‬ ‫)‪al-tadrib (latihan‬‬
‫‪Setelah wazan-wazan yang ada sudah dihafal, maka tahapan selanjutnya yang harus‬‬
‫‪ ). Ada dua tahapan yang dilakukan‬تدريب ( ‪dilalui oleh peserta didik adalah latihan‬‬
‫‪oleh seorang tenaga pengajar dalam melatih peserta didik; yang pertama adalah‬‬
‫‪melatih peserta didik untuk mentashrif mauzun dengan dimulai dari al-ashlu al-‬‬
‫‪ ), yang kedua adalah melatih peserta‬تدريب تصريف الصل الواحد الى المثلة المختلفة ( ‪wahid8‬‬
‫‪didik untuk mampu mengembalikan al-amtsilah al-mukhtalifah9 kepada bentuk al-‬‬
‫‪ ).‬تدريب رد المثلة المختلفة الى الصل الواحد ( ‪ashlu al-wahid‬‬
‫‪Untuk melatih kemampuan tahapan yang pertama, seorang pembimbing cukup‬‬
‫‪membuat kolom-kolom sebagai berikut :‬‬

‫الموزون‬ ‫الوزن‬
‫ملك‬ ‫قلم‬ ‫سخن‬ ‫نعم‬ ‫قرب‬ ‫علم‬ ‫حدث‬ ‫فعل‬
‫املك‬ ‫اقلم‬ ‫اسخن‬ ‫انعم‬ ‫اقرب‬ ‫اعلم‬ ‫احدث‬ ‫افعل‬
‫مالك‬ ‫قالم‬ ‫ساخن‬ ‫ناعم‬ ‫قارب‬ ‫عالم‬ ‫حادث‬ ‫فاعل‬
‫تمالك‬ ‫تقالم‬ ‫تساخن‬ ‫تناعم‬ ‫تقارب‬ ‫تعالم‬ ‫تحادث‬ ‫تفاعل‬
‫تملك‬ ‫تقلم‬ ‫تسخن‬ ‫تنعم‬ ‫تقرب‬ ‫‪‬تعلم‬ ‫تحدث‬ ‫تفعل‬
‫امتلك‬ ‫اقتلم‬ ‫استخن‬ ‫انتعم‬ ‫اقترب‬ ‫اعتلم‬ ‫احتدث‬ ‫افتعل‬
‫انملك‬ ‫انقلم‬ ‫انسخن‬ ‫انعم‬ ‫انقرب‬ ‫انعلم‬ ‫انحدث‬ ‫انفعل‬
‫املك‬ ‫اقلم‬ ‫اسخن‬ ‫انعم‬ ‫اقرب‬ ‫اعلم‬ ‫احدث‬ ‫افعل‬
‫استملك‬ ‫استقلم‬ ‫استسخن‬ ‫استنعم‬ ‫استقرب‬ ‫استخبر استعلم‬ ‫استفعل‬
‫وجع‬ ‫وثق‬ ‫وثف‬ ‫وتد‬ ‫وتر‬ ‫وبق‬ ‫وبش‬ ‫وكل‬
‫صلى‬ ‫لبى‬ ‫نمى‬ ‫سمى‬ ‫رقى‬ ‫ربى‬ ‫لقى‬ ‫زكى‬
‫ونى‬ ‫وقى‬ ‫وخى‬ ‫وصى‬ ‫وعى‬ ‫ورى‬ ‫وفى‬ ‫ولى‬
‫حال‬ ‫قار‬ ‫راق‬ ‫خاف‬ ‫جال‬ ‫مار‬ ‫ماد‬ ‫ماس‬
‫ساقى‬ ‫راعى‬ ‫بالى‬ ‫رامى‬ ‫لقى‬ ‫نادى‬ ‫نافى‬ ‫عاطى‬
‫اشل‬ ‫الم‬ ‫ارق‬ ‫احل‬ ‫احس‬ ‫اعل‬ ‫اجل‬ ‫امد‬
‫اوجع‬ ‫اوثق‬ ‫اوثف‬ ‫اوتد‬ ‫اوتر‬ ‫اوبق‬ ‫اوبش‬ ‫اوعد‬
‫ايمن‬ ‫ايقن‬ ‫ايسن‬ ‫ايرع‬ ‫ايتم‬ ‫ايبس‬ ‫ايأس‬ ‫ايسر‬
‫ادام‬ ‫امات‬ ‫اضاف‬ ‫افاض‬ ‫اشار‬ ‫احال‬ ‫افاد‬ ‫اجاب‬
‫اصلى‬ ‫البى‬ ‫انمى‬ ‫اسمى‬ ‫ارقى‬ ‫اربى‬ ‫القى‬ ‫اعطى‬
‫اونى‬ ‫اوقى‬ ‫اوخى‬ ‫اوصى‬ ‫اوعى‬ ‫اورى‬ ‫اوفى‬ ‫اودى‬
‫تحال‬ ‫تقار‬ ‫تراق‬ ‫تخاف‬ ‫تجال‬ ‫تمار‬ ‫تماد‬ ‫تماس‬
‫تساقى‬ ‫تراعى‬ ‫تبالى‬ ‫ترامى‬ ‫تلقى‬ ‫تنادى‬ ‫تنافى‬ ‫تعاطى‬
‫تصلى‬ ‫تلبى‬ ‫تنمى‬ ‫تسمى‬ ‫ترقى‬ ‫تربى‬ ‫تلقى‬ ‫تعدى‬
‫اشتل‬ ‫التم‬ ‫ارتق‬ ‫احتل‬ ‫احتس‬ ‫اعتل‬ ‫اجتل‬ ‫امتد‬
‫اقتات‬ ‫اختار‬ ‫افتاد‬ ‫احتاط‬ ‫استاك‬ ‫احتال‬ ‫احتاج‬ ‫اعتاد‬
‫انشل‬ ‫انلم‬ ‫انرق‬ ‫انحل‬ ‫انحس‬ ‫انعل‬ ‫انجل‬ ‫انفض‬
‫انسلى‬ ‫انلبى‬ ‫انرقى‬ ‫انبلى‬ ‫انحرى‬ ‫انبرى‬ ‫انعدى‬ ‫انجلى‬
‫استمر‬ ‫استبل‬ ‫استلم‬ ‫استخف‬ ‫استجل‬ ‫استحل‬ ‫استقر‬ ‫استمد‬
‫استوجع‬ ‫استوعد‬ ‫استوثف‬ ‫استوتد‬ ‫استوتر‬ ‫استوبش استوبق‬ ‫استوثق‬
‫استدام‬ ‫استمات‬ ‫استضاف‬ ‫استفاض‬ ‫استشار‬ ‫استحال‬ ‫استفاد‬ ‫استجاب‬
‫استونى‬ ‫استوقى‬ ‫استوخى‬ ‫استوصى‬ ‫استوعى‬ ‫استورى‬ ‫استولى‬ ‫استوفى‬
‫‪Sedangkan untuk melatih tahapan yang kedua, seorang pembimbing cukup‬‬ ‫‪membuat‬‬
‫‪kolom-kolom sebagai berikut :‬‬
‫‪8‬‬
‫‪Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang maksud dari al-ashlu al-wahid. Menurut ulma bashrah‬‬
‫‪al-ashlu al-wahidu adalah adalah masdar, sedangkan menurut ulma kufah al-ashlu al-wahidu adalah fi’il madli.‬‬
‫‪Lebih lanjut mengenai kontroversi ini lihat : Abu Hasan Ali Bin Hisyam al-Kailani, Syarah Kailani ( al-‬‬
‫‪Haramain, tt) hal. 2‬‬
‫‪9‬‬
‫‪Yang dimaksud dengan al-Amtsilah al-Mukhtalifah adalah fi’il madli, mudlari, amar, nahi, nafi, juhud, isim‬‬
‫‪fa’il, isim maf’ul, isim zaman, isim makan , isim alat, masdar marrah dan masdar nau’. Lebih lanjut lihat : Abu‬‬
‫‪Hasan Ali Bin Hisyam al-Kailani, Syarah Kailani ( al-Haramain, tt) hal. 2‬‬
‫‪‬‬

‫‪8‬‬
7 6 5 4 3 2 1 ‫النمر‬
‫ة‬
‫مستغرق‬ ‫اعلل‬ ‫تسمية‬ ‫نداء‬ ‫محال‬ ‫مبين‬ ‫تبيين‬ 1
‫افادة‬ ‫مفطر‬ ‫متم‬ ‫تحديد‬ ‫منزل‬ ‫تربية‬ ‫استطاعة‬ 2
‫محتال‬ ‫اختيار‬ ‫مقدم‬ ‫اجلل‬ ‫تدوين‬ ‫تطور‬ ‫ابتعاد‬ 3
‫تأخير‬ ‫مضح‬ ‫تذكية‬ ‫تشعب‬ ‫لعان‬ ‫ظهار‬ ‫جهاد‬ 4
‫مشتر‬ ‫متفاوت‬ ‫متعمد‬ ‫مسلم‬ ‫ترتيب‬ ‫مستحب‬ ‫مميت‬ 5
‫تشهد‬ ‫اقتداء‬ ‫افتراش‬ ‫منفرد‬ ‫مصنف‬ ‫مشاهدة‬ ‫متبايع‬ 6
‫مستمر‬ ‫منفك‬ ‫مختص‬ ‫استيطان‬ ‫مناف‬ ‫ملقاة‬ ‫منافاة‬ 7
‫انتهاء‬ ‫تعميم‬ ‫استغفار‬ ‫مستعمل‬ ‫استهلل‬ ‫انقضاء‬ ‫مضاف‬ 8
‫مراد‬ ‫مريد‬ ‫تصرف‬ ‫استيفاء‬ ‫منعقد‬ ‫تقابض‬ ‫مستعار‬ 9
‫ايصال‬ ‫مجتمع‬ ‫ملتقط‬ ‫توكيل‬ ‫استثناء‬ ‫مدرك‬ ‫اتفاق‬ 10
‫تشمير‬ ‫اهداء‬ ‫تسويف‬ ‫مراع‬ ‫اقامة‬ ‫مسوف‬ ‫ايقاظ‬ 11
‫اجتناب‬ ‫موفق‬ ‫مؤثر‬ ‫ابقاء‬ ‫معاينة‬ ‫متوقع‬ ‫تفكر‬ 12
‫متكاسل‬ ‫مستكثر‬ ‫تفطن‬ ‫مقتضى‬ ‫ايمان‬ ‫تردد‬ ‫مفرق‬ 13
‫تتحرى‬ ‫تتخلف‬ ‫اسقاط‬ ‫انتظار‬ ‫متحمل‬ ‫مكفر‬ ‫تصلية‬ 14
‫ملزمة‬ ‫متقدم‬ ‫تحريض‬ ‫تسوية‬ ‫مهم‬ ‫يتخطى‬ ‫احتياج‬ 15
‫اخراج‬ ‫ملم‬ ‫اشتغال‬ ‫مخاطب‬ ‫مفصل‬ ‫محافظة‬ ‫مقتصر‬ 16
‫معتزل‬ ‫مبيح‬ ‫اباحة‬ ‫توحيد‬ ‫تسعير‬ ‫ممطر‬ ‫تطوع‬ 17

Yang perlu ditanyakan oleh seorang tenaga pengajar kepada peserta didik dalam
melatih kemampuan peserta didik untuk mengembalikan al-amtsilah al-mukhtalifah
kepada al-ashlu al-wahid adalah seputar harus dilafadzkan bagaimana kalimah-
kalimah yang terdapat didalam kolom, sighatnya apa dan berasal dari bentuk madli
apa

Strategi Pembelajaran Mufradat


Yang harus selalu diperhatikan oleh seorang tenaga pengajar dalam semua aspek
pembelajaran adalah bahwa materi-materi yang diajarkan harus terukur dan peningkatan
jelas. Maksudnya, apa yang harus diajarkan pada pertemuan pertama dan pertemuan-
pertemuan selanjutnya serta targetnya apa harus serba terukur. Hal ini menuntut keseriusan
dari seorang tenaga pengajar dalam hal monitoring dan evaluasi. Ketika seorang pengjar
teledor dalam masalah ini, maka sebenarnya dapat dipastikan bahwa tingkat keberhasilan
pembelajaran yang sedang dilakukan sangat rendah, karena pada umumnya perhatian dan
keseriusan peserta didik berbanding lurus dengan perhatian dan keseriusan tenaga pengajar,
lebih-lebih dalam lembaga pendidikan formal seperti STAIN Jember.
Strategi yang harus dikembangkan dalam rangka pembelajaran dan pembekalan
mufradat juga harus memperhatikan hal-hal sebagaimana di atas, yaitu terukur, arah dan
orintasinya jelas, dan konsisten dalam melakukan orientasi dan monitoring. Strategi ini
apabila diaplikasikan dalam bentuk operasional dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Tenaga pengajar harus menggunakan fasilitas teks Arab tertentu yang sesuai dengan
tujuan pembelajaran. Penegasan tentang kemampuan apa yang ingin diberikan
kepada peserta didik menjadi penting unuk dilakukan, apakah bidang keilmuan fiqh,
aqidah, tafsir atau yang lain. Bidang keilmuan yang ingin diberikan kepada peserta
didik sangat berpengaruh pada penentuan teks Arab.
2. Untuk mempercepat proses dan menghilangkan ketergantungan peserta didik pada
tenaga pengajar, serta untuk meningkatkan kreatifitas berfikir, maka teks Arab yang
sudah ditentukan sebagai standar pembekalan mufradat harus dimiliki oleh peserta
didik minimal dua, atau bahkan tiga dengan judul yang sama; satu buah teks Arab
kosongan, satu buah teks Arab tarjamah bahasa Indonesia dan satu buah lagi teks
Arab tarjamah bahasa jawa. Teks Arab kosongan digunakan pada saat peserta didik
melakukan setoran pada tenaga pengajar, teks Arab tarjamah bahasa jawa
digunakan sebagai kamus arti kata perkata dan teks Arab bahasa Indonesia

9
digunakan sebagai sarana untuk melatih murad atau mengungkap maksud dari
sebuah teks arab.
3. Peserta didik diberi waktu khusus untuk menghafal dan memahami teks-teks yang
terdapat di dalam teks Arab yang sudah ditentukan. Meskipun kegiatan ini
merupakan penugasan yang bersifat individual, akan tetapi masih perlu untuk
dikumpulkan dalam satu ruangan. Hal ini memiliki fungsi disampingkan untuk
memastikan bahwa semua peserta didik aktif melaksanakan tugas-tugas yang telah
dibebankan, juga berfungsi sebagai sarana dialog dan saling tanya antar peserta
didik ketika diantara mereka mengalami kesulitan. Ketika tugas menghafal dan
memahami teks tidak dikumpulkan dalam satu ruangan, maka bisa jadi peserta didik
yang tingkat idealismenya rendah akan mengabaikan tugas-tugas yang telah
dibebankan.
4. Peserta didik diberi waktu khusus untuk berdiskusi dalam rangka menentukan dan
mengungkap maksud teks. Setelah tugas individual selesai dilaksanakan, maka
peserta didik yang ada perlu diklasifikasikan menjadi kelompok-kelompok kecil
antara tiga sampai empat orang dengan tingkat kemampuan yang berbeda. Seorang
tenaga pengajar harus memberikan intruksi bahwa masing-masing anggota
kelompok harus aktif mengutarakan pandangannya, tidak boleh ada dominasi dalam
kelompok. Proses diskusi yang lepas dan tidak ada beban (tidak takut salah) dan
pemahaman sebuah teks yang didahului oleh sebuah “persengketaan” akan
menambah daya resap pemahaman yang didapat.
5. Kontrol dilakukan oleh tenaga pengajar dengan cara sorogan dan dibuktikan dengan
kartu konsultasi mufradat peserta didik. Setelah peserta didik melakukan diskusi
tentang hasil yang diperoleh pada saat melakukan tugas individual, maka tahapan
selanjutnya adalah tahapan kontrol dan evaluasi yang langsung dilakukan oleh
seorang tenaga pengajar. Evaluasi dan kontrol ini dilakukan setiap hari dengan
menggunakan metode sorogan. Tekhnisnya adalah dengan cara peserta didik
dipanggil satu-persatu untuk membaca dan memahami teks yang sudah ditentukan
dengan menggunakan teks Arab yang kosongan. Disamping mempertanyakan arti
masing-masing mufradat yang dibaca, seorang tenaga pengajar juga harus
mempertanyakan kedudukan i’rab masing-masing mufradat, serta mempertanyakan
murad.

Daftar Pustaka
Abu Syuja’, Taqrib (Surabaya, Nur Hidayah, tt)
Dahlan, Ahmad Zaini Dahlan, Syarh Mukhtashar Jiddan ( Surabaya, Dar al-Nasyr
al-Mishriyah,tt)
Dibul Bagha ,Mustafa, al-Tadzhib fi Adillat Matni al-Ghayah Wa al-Taqrib
( Surabaya, Syirkah Bungkul Indah, 1978)
Ghulayaini,al Syeikh Mushthafa, Jami’ al-durus al-Arabiyah ( Bairut, al-Maktabah al-
Ashriyah, 1989)
Kailani,al Abu Hasan Ali Bin Hisyam, Syarah Kailani ( al-Haramain, tt)
Khotib, al Thohir Yusuf. Mu'jam Al-Mufashshal Fi Al-I'rab. Indonesia: AL-
Haramain.
Safaragha ,Umar Taufiq, Al-Mu’jam fi al-I’rab, ( al-Maghrib, Daru al-Ma’rifat, 1993)

10