Anda di halaman 1dari 18

Analisis Sistem Pengendalian Manajemen

Perusahaan
(Studi Kasus pada Merpati Nusantara Airlines)
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Pengendalian
Manajemen

Disusun Oleh:
Melani Ali Selamat
Rifka Indi

1113081000005
1113081000014

Maya Asmara Imas Pane

1113081000017

Tika Octafiany Rahayu

1113081000027

Fahdiansyah Rahman

1113081000069

Sufyan Alfarisi

1114081000049

Jurusan Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan
hidayahnya kami dapat menyelesaikan makalah ini. Tak lupa shalawat serta
salam senantiasa tercurah kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW,
beserta keluarga dan para sahabatnya.
Makalah yang berjudul Analisis Sistem Pengendalian Manajemen
Perusahaan (Studi Kasus pada Merpati Nusantara Airlines ) ini kami buat
untuk memenuhi kompetensi mata kuliah Sistem Pengendalian Manajemen.
Dalam penyusunan makalah ini, kami telah berusaha sekuat tenaga. Namun
tentu saja, makalah ini tidaklah luput dari kesalahan. Untuk itu kami
mengharapkan kritik dan saran yang membangun, agar makalah ini menjadi
lebih baik.
Dalam pembuatan makalah ini kami mendapatkan dukungan dari
berbagai pihak. Untuk itu, kami ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada:
1. Ibu Amalia, selaku dosen mata kuliah sistem pengendalian manajemen,
2. Kedua orang tua yang telah memberikan dukungan, baik secara moril
maupun materil kepada kami, dan
3. Rekan-rekan seperjuangan, yang telah memberikan energi positifnya
kepada kami.
Kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca
pada umumnya dan penulis pada khususnya.

Tangerang, 5 April 2014

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................................................ii
DAFTAR ISI....................................................................................................................................iii
1.1

EXECUTIVE SUMMARY.................................................................................................1

1.2

ANALISIS SWOT MERPATI AIR LINES........................................................................2

1.3

VISI, MISI, DAN STRATEGI MERPATI AIR LINES......................................................3

1.4

SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN MERPATI AIR LINES..............................5

1.5

ANALISIS KASUS DAN PENYEBAB KEBANGKRUTAN MERPATI AIR LINES.....5

1.6

DAMPAK KEBANGKRUTAN MERPATI AIR LINES....................................................8

1.7

REKOMENDASI STRATEGI............................................................................................9

1.8

KESIMPULAN.................................................................................................................11

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................................13

1.1 EXECUTIVE SUMMARY


Merpati Nusantara Airlines adalah salah satu maskapai penerbangan nasional yang
sahamnya dimiliki sebagian besar oleh pemerintah Indonesia. Berdiri pada tahun 1962,
Merpati memiliki pusat operasi di Jakarta, Indonesia. Maskapai ini mengoperasikan jadwal
penerbangan domestik dan juga internasional ke daerah Timor Timur dari pusatnya di
bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Merpati Nusantara Airlines merupakan maskapai udara yang menghubungkan tempattempat terpencil di Indonesia. Rute penerbangan Merpati Nusantara Airlines antara lain ke
Aekgodang, Alor, Amahai, Ambon, Bade, Bali, Balikpapan, Bandanaira, Bandung,
Banjarmasin, Batam, Bau-Bau, Bejawa, Biak, Bima, Bintuni, Bomakia, Buol, Dili, Dobo,
Dumai, Ende, Ewer, Fak-Fak, Galela, Gebe, Gorontalo, Gunung Sitoli, Inanwatan, Jakarta,
Jayapura, Kaimana, Kamur, Kendari, Keppi, Ketapang, Kimam, Kisar, Kuala Lumpur,
Kupang, Labuan Bajo, Labuha, Langgu, Lombok, Luwuk, Makassar, Manado, Mangole,
Manokwari, Maumere, Medan, Melanguane, Merauke, Meulaboh, Mindiptanah, Morotai,
Nabire, Namlea, Namrole, Okaba, Palembang, Palu, Pangkalan Bun, Pontianak, Poso,
Putusibau, Ruteng, Sampit, Sanana,

Saumlaki, Semarang, Senggo, Sibolangit, Sibolga,

Sinabang, Sorong, Surabaya, Tambulaka, Tanah Merah, Tembilahan, Ternate, Timika, Toli
Toli, Wahai, Waingapu, Wanam, Wasior, dan Yogyakarta.
Akan tetapi, berdirinya usaha merpati harus mengalami pasang surut dan seringkali
mengalami masalah. Hutang Merpati yang menumpuk kepada beberapa pihak Badan Usaha
Milik

Negara (BUMN) dan beberapa pihak swasta sangat tidak menguntungkan

Negara. Hutang-hutang tersebut salah satunya disebabkan karena Merpati

bagi
belum

membayarkan hutangnya kepada Pertamina sebesar Rp. 550.000.000.000. Hutang tersebut


merupakan akumulasi dari pokok, bunga dan denda yang dikenakan Pertamina kepada
Merpati karena belum membayar avtur yang sudah dipakai dan melewati batas waktu yang
sudah ditentukan oleh Pertamina. Merpati pun juga mempunyai hutang sebesar Rp.
6.500.000.000.000,- terhadap sekitar 20 pihak BUMN dan pihak swasta.
Alasan Merpati sulit mencetak laba juga karena Merpati mengoperasikan beberapa rute
yang ada namun sangat tidak menguntungkan atau merugi karena jarak yang ditempuh
sangat tidak sesuai dengan biaya yang dikeluarkan. Hingga pada 1 Februari 2014, Merpati

harus menutup seluruh penerbangan dikarenakan masalah keuangan yang tidak dapat
diselesaikan.

1.2 ANALISIS SWOT MERPATI AIR LINES

1. Strength (kekuatan)

a. Merpati Airlines mampu mengelola jasa penerbangannya kepada para konsumen


secara konsisten sejak tahun 1962.

b. Mampu terbang ke tempat-tempat terpencil (pelosok) dan terisolasi di daerah


Indonesia Timur.

c. Mampu menghubungkan berbagai kawasan regional yang sulit dijangkau oleh


beberapa perusahaan penerbangan lainnya.

d. Adanya sistem aplikasi ERP yaitu software SAP. Software SAP tentu saja dapat
memberikan kemudahan pada merpati airlines dalam mendukung visi dan misi
perusahaan. Hal ini juga dilakukan dengan tujuan agar proses bisnis perusahaan
menjadi lebih cepat dan meminimalisir human error.

e. Memiliki 2 Strategic Business Unit (SBU), yaitu Merpati Training Center dan
Merpati Maintenance Facility yang keduanya merupakan milik merpati airlines
dalam memperoleh pendapatan maupun keuntungan. Merpati Training Center
berada di Surabaya dan Jakarta dan telah melatih maskapai penerbangan domestic
seperti Mandala Airlines, Bouraq, Indonesian Airlines, dan penerbanganpenerbangan mancanegara. sedangkan Merpati Maintenance Facility merupakan
suatu unit bisnis strategi yang telah memberikan pelayanan teknis ke lebih dari 80
penerbangan.

f. Memiliki armada yang lengkap, mulai dari pesawat kecil, besar, hingga pesawat
jet yang bisa digunakan untuk penerbangan ke daerah-daerah terpencil.

2. Weakness (kelemahan)

a. Masalah birokrasi internal yang dapat menghambat perusahaan dalam


pengambilan keputusan.

b. sumber daya manusia yang lemah karena sejak tahun 2007, merpati airlines
memperbolehkan karyawannya untuk pension dini. Hal ini mengakibatkan banyak
karyawan yang berkualitas dan berpengalaman menjadi berkurang.

c. IT yang belum terintegrasi

d. Tidak adanya modal yang cukup.

3. Opportunities (peluang)

a. Merpati airlines berpeluang untuk menjadi jasa penerbangan nomor satu di


Indonesia bahkan se-Asia Tenggara karena pengalaman terbangnya sejak tahun
1962.

b. Merpati airlines merupakan BUMN, hal ini menyebabkan merpati dapat dengan
mudah bekerja sama dengan instansi-instansi pemerintah.

c. Adanya merpati online yang diharapkan mampu memudahkan konsumen dalam


hal transaksi.

d. Pasar Inonesia yang cukup luas.

4. Threats (ancaman)

a. Adanya armada lain yang mulai memasuki wilayah Indonesia Tengah dan Timur

b. Adanya perang harga atau perang tarif antar perusahaan terbang lainnya karena
pemerintah hanya menetapkan harga maksimum tapi tidak menetapkan harga
minimum.

c. Kondisi perekonomian dunia yang masih belum stabil menyebabkan harga bahan
bakar pesawat yaitu avtur naik, hal ini juga berpengaruh terhadap harga tiket yang
dijual menjadi naik.

1.3 VISI, MISI, DAN STRATEGI MERPATI AIRLINES


Visi
Secara garis besar merpati airlines punya 2 misi utama yaitu :
1. Merpati air selalu memegang komitmen dengan tujuan agar bisa memberi pelayanan
dalama hal transportasi penerbangan yang aman serta nyaman bagi masyarakat dimana saja
mereka berada.
2. Sebagai perusahaan penerbangan yang sudah punya pengalaman cukup banyak. Merpati
air selalu berusaha untuk menjadi pelopor dan harus meningkatkan system kerja yang terpadu
agar bisa melayani kebutuhan dari pelanggan dan mampu menyeleseikan masalah disetiap
tujuan penerbangan.
Misi
Adapun misi dari perusahaan merpati air adalah :

1. Selalu memenuhi standar dengan kualitas paling tinggi pada keselamatan


penerbangan
2. Selalu memodernisasikan pesawat yang kuat dan handal sehingga mampu digunakan
3.
4.
5.
6.
7.

untuk transportasi penerbangan.


Selalu memenuhi ketepatan dalam hal waktu penerbangan.
Selalu berusaha untuk tumbuh dan menghasilkan keuntungan.
Menciptakan suatu hubungan bisnis atau kerja yang paling efektif.
Mampu menerapkan segala perkembangan teknologi dibidang informasi.
Mengembangkan kompetisi yang efektif.

Untuk mencapai visi dan misi tersebut, PT. MNA menerapkan strategi yang diantaranya
adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan penjualan secara agresif
Melihat adanya ancaman dari maskapai penerbangan oleh karena itu PT MNA
meningkatkan penjualan terutama kepada pelanggan yang berada di daerah pelosok
guna kelangsungan operasional perusahaan.
2. Meningkatkan efektifitas dan efisiensi kinerja SDM
Peningkatan efektifitas dan efisiensi dilakukan melalui pembenahan dalam budaya
organisasi perusahaan.
3. Menerapkan teknologi yang optimal untuk mendukung proses bisnis perusahaan
PT. MNA selalu berusaha untuk meningkatkan teknologi yang optimal untuk
mendukung proses bisnis dan mencapai visi perusahaan.
4. Meningkatkan kualitas SDM untuk bersaing dengan kompetitor lain
Perusahaan mengadakan berbagai pelatihan yang sesuai dengan area tanggung jawab
pekerjaan.

1.4 SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN MERPATI AIR LINES


Merpati air memiliki komitemen dalam hal pengembangan teknis perusahaan serta
menciptakan value customer. Hal ini dilakukan karena pengembangan teknis maskapai akan
meningkatkan kualitas perusahaan serta kualitas penerbangan yang mereka akomodir. Dalam
hal value customer Merpati mengutamakan penerbangan jarak jauh yang menempuh hingga
daerah terpencil di Indonesia. Ini sangat langka dilakukan dan hanya Merpati Airlines yang
berani melakukannya.
Pengembangan teknis diwujudkan dalam beberapa hal:
PT. MNA memiliki 2 SBU, yakni Merpati Training Center dan Merpati
Maintenance Facility, yang keduanya merupakan strategic business unit

PT. MNA dalam memperoleh pendapatan mau pun keuntungan. Merpati


Training Center berada di Surabaya dan Jakarta dan telah melatih
maskapai penerbangan domestik seperti Mandala Airlines, Bouraq,
Indonesian

Airlines,

dan

penerbangan-penerbangan

mancanegara.

Sedangkan Merpati Maintenance Facility merupakan suatu unit bisnis


strategi yang telah memberikan pelayanan teknis ke lebih dari 80
penerbangan.
Sedangkan untuk menciptakan value customer terwujud dalam hal
di bawah ini:

Pada tahun 1969, Merpati dibagi dalam dua daerah operasi, yakni
Operasi MIB (Merpati Irian Barat) dan MOB (Merpati Operasi Barat),
yang mencakup Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara.

Tahun 1975-1978, Merpati merintis operasi berskala lebih besar


dengan

mengambil

bagian

dalam

penerbangan

haji

dan

penerbangan transmigrasi. Di samping itu merpati juga membantu


pengembangan

pariwisata

dengan

melakukan

penerbangan

borongan internasional (charter flight), misalnya Manila Denpasar


pp, mengunakan pesawat BAC-111, dan Los Angeles-Depasar PP,
memakai Boeing 707.

1.5 ANALISIS KASUS DAN PENYEBAB KEBANGKRUTAN MERPATI AIR LINES


Pada tahun 2014 kondisi keuangan Merpati Nusantara Airlines terus menerus
mengalami kemunduran. Buruknya kinerja keuangan Merpati menimbulkan berbagai macam
masalah, salah satunya tuntutan pembayaran gaji oleh seluruh karyawan. Penyebabnya
selama dua bulan masa kerja, karyawan tidak menerima gaji. Sehingga sebanyak 200-an
pegawai Merpati baik berstatus tetap maupun kontrak melakukan mogok kerja massal.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk memulihkan keadaan maskapai ini yakni
melalui proses restrukturisasi dan revitalisasi dengan cara melakukan pemisahan anak usaha,

divestasi, konversi utang menjadi saham, program Kerja sama Operasi (SKO), dan
mendirikan anak perusahaan, termasuk di dalamnya restrukturisasi rute. Meskipun begitu,
rencana untuk menghidupkan kembali maskapai ini sudah menemui jalan buntu karena
restrukturisasi aset dan rencana penjualan tidak lagi menguntungkan. Sehingga pada tanggal
1 Februari 2014, Merpati harus menutup seluruh penerbangan dikarenakan masalah keuangan
yang bersumber dari berbagai hutang.
Terdapat beberapa penyebab kebangkrutan maskapai merpati antara lain:
1. Membengkaknya utang Merpati hingga mencapai Rp 6,7 triliun. Selain tanggungan
pada pemerintah Rp 2 triliun, di luar pajak, maskapai ini juga punya utang kepada 20
BUMN dan beberapa pihak swasta. Hutang-hutang tersebut salah satunya disebabkan
karena Merpati

belum membayarkan hutangnya kepada Pertamina sebesar Rp.

550.000.000.000. Hutang tersebut merupakan akumulasi dari pokok sebesar


270.000.000.000 dan sisanya adalah bunga dan denda yang dikenakan Pertamina
kepada Merpati karena belum membayar avtur yang sudah dipakai dan melewati batas
waktu yang sudah ditentukan oleh Pertamina.

2. Internal manajemen yang buruk menjadi penyebab utama keterpurukan merpati.


Dalam menjalankan perusahaan, manajemen tidak memakai prinsip kehati-hatian dan
terjadi penyalahgunaan wewenang. Selain itu tidak adanya perencanaan menyebabkan
negara mengalami kerugian hingga 2 triliun. Beberapa indikasi kurangnya
perencanaan pada maskapai tersebut antara lain:

Perusahaan melakukan bisnis dengan mitra bisnis yang menguntungkan mitra


bisnis dan diindikasikan untuk kepentingan pribadi atau golongan, contoh :
menyewakan mesin dan hanggar di bawah harga pokok produksi yang sudah
ditetapkan.

Pengelolaan aset berharga yang buruk dan tidak memiliki pola dalam menjamin
kontinuitas operasional alat-alat produksi akibat dari kapabilitas manajemen yang
rendah.

Pembayaran ke pihak mitra tidak melihat kemampuan perusahaan dan tidak


mempertimbangkan segi kelangsungan perusahaan.
7

Pengangkatan anggota manajemen yang tidak mempertimbangkan kapabilitas


sehingga beban yang ditumpukan kepada yang bersangkutan tidak dapat
dilaksanakan sesuai amanah.

Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan sangat merugikan perusahaan seperti


double up lift dan pembayaran ke vendor atau supplier tertentu.

Pengangkatan pejabat setingkat direktur (associate directors) tidak sesuai dengan


aturan yang berlaku. Pada awalnya jumlah direktur dikurangi dalam rangka
efisiensi; namun kenyataannya malah bertambah.

Pembayaran tunjangan profesi pilot terhadap direksi dan komisaris PT Merpati


Nusantara Airlines (Persero), sedangkan menurut Peraturan Menteri BUMN
Nomor PER-07/MBU/2010 tentang Pedoman Penetapan Penghasilan Direksi,
Dewan Komisaris dan Dewan Pengawas BUMN, tidak berhak untuk
memperolehnya; apalagi ditambah kondisi perusahaan sedang terpuruk.

3. Adanya tindakan korupsi oleh Dirut PT Merpati Nusantara Airlines, Hotasi Nababan.
Ia terbukti bersalah melakukan korupsi sewa 2 pesawat Boeing 737-400 dan 737-500.
Berdasarkan Putusan MA Nomor : 417 K/Pid.Sus/2014 tanggal 7 Mei 2014 Terpidana
divonis dengan pidana penjara selama 4 tahun dan membayar ganti rugi Rp 200 Juta
subsider 6 bulan.
4. Lemahnya pembinaan dan pengawasan oleh Kuasa Pemegang Saham/Kementerian
BUMN). Menteri BUMN selaku Kuasa Pemegang Saham tidak menjalankan fungsi
pembinaan dan pengawasan terhadap PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) karena
sejak tahun 1998 perusahaan sudah mulai merugi dan nilai kerugian semakin
bertambah hingga saat ini total hutang per 31 Januari 2014 sebesar 7,647 triliun.
5. Pemberhentian pasokan avtur atau bahan bakar oleh Pertamina (Persero)
menyebabkan merpati tidak dapat beroperasi. Pada 15 Januari 2014, Pertamina
memutuskan untuk hanya menerima pembelian tunai dari Merpati. Sebab, maskapai
Merpati telah memiliki tunggakan utang avtur mencapai Rp 165 miliar kepada
Pertamina.
6. Maskapai merpati tidak mampu membayar uang sewa pesawat. Sehingga dua pesawat
merpati tipe Boeing 737 ditarik oleh lessor.
7. Pemanfaatan aset produktif tidak dilakukan dengan maksimal, hal ini dapat dilihat
dari :
8

Merpati Maintenance Facility (MMF) dan Merpati Training Centre (MTC) yang
memiliki fasilitas dan SDM yang baik tidak dikelola secara profesional sehingga

tidak bisa menjadi sumber pemasukan keuangan bagi perusahaan.


Pesawat C-212 dan DHC-6 (Twin Otter) yang memiliki pasar dengan perolehan
tinggi tidak diberdayakan secara maksimal sehingga aset yang produktif hanya 30

persen.
Pesawat MA-60 sebagai pesawat yang saat ini masih dalam masa Grace
Periode yang diharapkan dapat menjadi tulang punggung perusahaan malah
menjadi beban perusahaan karena kehandalan pesawat tidak sesuai antara kontrak
dan kenyataan. Supporting dari pihak manufacturer (Xian) tidak optimal dalam

hal : technical advisor, logistic, dan warranty component.


8. Kesalahan pengelolaan pada level manajemen/direksi dan komisaris serta kemampuan
manajemen yang buruk dalam penguasaan bisnis penerbangan, yaitu:
Laporan Keuangan Perusahaan yang menunjukkan kondisi Perusahaan semakin

memburuk dan berdampak berhenti beroperasi (stop operation) bagi perusahaan.


Pembuatan Rencana Bisnis Perusahaan (Business Plan) sampai saat ini belum

selesai, dalam arti belum bisa meyakinkan pemegang saham.


Penerapan pola operasi yang menyebabkan biaya operasional lebih tinggi dari

pendapatan seperti :
Penempatan pilot sebagai pejabat struktural dimana berdampak terhadap kenaikan
biaya organisasi, penerapan rotasi crew yang tidak optimal, dan masih

diberlakukannya airborne mechanic.


Base crew yang tidak menunjukkan efisiensi seperti base crew DHC, C-212 dan
MA-60 masih di Jakarta.

1.6 DAMPAK KEBANGKRUTAN MERPATI AIR LINES


Dengan bangkrutnya perusahaan Merpati, maka rute penerbangan ke daerah-daerah
pun ditutup. Padahal, rute penerbangan yang ditawarkan Merpati sangat membantu
menyokong sektor pariwisata. Banyak wisatawan domestik maupun asing yang membatalkan
kunjungannya ke berbagai tempat pariwisata karena terkendala masalah transportasi dan
akomodasi.

Hal ini tentu menjadi pukulan keras bagi tempat-tempat wisata di berbagai daerah.
Padahal, majunya sektor pariwisata memiliki efek pengganda (multiplier effect) kepada
lingkungan sekitarnya. Tak hanya tempat wisata yang terkena dampaknya, namun juga
industri-industri pendukung lain yang digerakkan oleh sektor pariwisata seperti biro
perjalanan, perhotelan, tempat menjual cinderamata, restoran, transportasi lokal, dan
sebagainya. Lemahnya industri-industri ini pun juga dapat berdampak pada meningkatnya
pengangguran.
Dalam era globalisasi saat ini, sektor pariwisata merupakan industri terbesar dan
terkuat dalam pembiayaan ekonomi global. Industri pariwisata terbukti kebal dari krisis
global. Saat perekonomian global tersuruk, pertumbuhan pariwisata Indonesia tetap tumbuh,
bahkan melebihi angka pertumbuhan ekonomi nasional.
Padahal di tahun yang sama dengan tahun saat ditutupnya Merpati, sektor pariwisata
sedang berada dalam kondisi baik. Pertumbuhan industri pariwisata di Indonesia tahun 2014
mencapai 9,39 persen lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Angka itu di atas pertumbuhan
ekonomi nasional yang mencapai 5,7 persen. Seharusnya angka tersebut bisa lebih tinggi lagi
apabila tidak ada kendala penutupan rute penerbangan ke daerah-daerah yang disediakan oleh
Merpati.

1.7 REKOMENDASI STRATEGI


J. David Hunger & Thomas L. Wheelen dalam bukunya Manajemen Strategis
mengatakan bahwa strategi perusahaan menentukan 2 hal, yaitu : (1) orientasi perusahaan
terhadap pertumbuhan, dan (2) industri atau pasar yang akan dimasuki. Dalam internal,
perusahaan harus mampu memaksimalkan sumber daya yang ada untuk mewujudkan tujuan
perusahaan itu sendiri. Sedangkan dalam eksternal, perusahaan harus mampu bersaing baik
10

dalan industri sejenis maupun yang berbeda sebagai usaha mempertahankan perusahaan.
Berikut rekomendasi strategi yang dapat dilakukan oleh PT Merpati Nusantara Airlines :
1. Strategi Korporasi
a. Pertumbuhan
1) Meningkatkan pengelolaan perusahaan khususnya dalam bidang
manajemen dengan sistem pengendali manajemen yang baik.
2) Meningkatkan kepercayaan terhadap perusahaan dengan menunjukkan
tren positif dalam kegiatan perusahaan, kenaikan laba perusahaan,
hingga penawaran investasi yang menarik.
b. Stabilitas
1) Mempertahankan visi dan misi serta tujuan perusahaan yang telah
sesuai sebagai sebuah maskapai penerbangan.
2) Mempertahankan

tujuan

pada

destinasi-destinasi

terpelosok

(kedaerahan) yang menjadi ciri khas dari maskapai ini.


c. Pengurangan
1) Mengurangi karyawan yang tidak dapat membantu memajukan
perusahaan atau bahkan merugikan perusahaan sehingga perusahaan
lebih efisien.
2) Mengurangi kesalahan-kesalahan teknis dalam operasional seperti
keterlambatan penerbangan.
2. Strategi (Bersaing) Bisnis
a. Kooperatif
1) Bekerja sama dengan perusahaan sejenis dalam bentuk akuisisi
ataupun merger guna membantu penyelesaian permasalahan dengan
meningkatkan nilai perusahaan (integrasi horizontal).
11

2) Bekerja sama dengan perusahaan yang menunjang perusahaan seperti


supplier pesawat terbang hingga penjual jasa tiket pesawat dengan
tujuan untuk meningkatkan jangkauan perusahaan agar lebih efektif
dan efisien (integrasi vertikal).
b. Kompetitif
1) Memperkuat daya saing antar maskapai penerbangan dengan
penawaran produk yang menarik konsumen.
2) Meningkatkan keunggulan kompetitif perusahaan yang deferensiasi
dengan jangkauan bersaing yang luas.
3. Strategi Fungsional
a. Pemasaran
1) Meningkatkan promosi yang luas sebagai jawaban akan isu-isu buruk
tentang perusahaan.
2) Meningkatkan penjualan secara agresif dengan berfokus pada produkproduk dengan nilai tinggi (banyak permintaan).
3) Mengubah isu-isu negatif terhadap perusahaan dengan image
perusahaan yang baik sehingga meningkatkan kepercayaan konsumen.
b. Keuangan
1) Mengaudit keuangan perusahaan baik dalam hal pemasukan maupun
pengeluaran sebagai upaya efektivitas dan efesiensi perusahaan dengan
bantuan pihak-pihak terkait seperti BPK jika diperlukan.
2) Meningkatkan permodalan ketika sedang krisis sebagai angin segar
sehingga dapat menyelesaikan permasalahan yang membutuhkan
biaya.
c. Operasi

12

1) Meningkatkan pelayanan yang menarik dan unik sehingga konsumen


merasa sangat puas akan pelayanan yang diberikan.
2) Membeli pesawat dengan harga yang wajar dan terhindar dari korupsi
sehingga menguntungkan bagi perusahaan.
3) Memperbanyak penerbangan pada destinasi yang banyak permintaan
pasarnya dan mengurangi penerbangan yang kurang permintaannya.
d. Sumber Daya Manusia
1) Meningkatkan

efektifitas

dan

efisiensi

kinerja

SDM

dengan

pembenahan budaya organisasi yang ada.


2) Meningkatkan apresiasi terhadap karyawan seperti dalam tingkat
upah/gaji ataupun perhatian langsung terhadap karyawan itu sendiri.
3) Meningkatkan kualitas SDM untuk bersaing dengan kompetitor lain
melalui pelatihan-pelatihan.

1.8 KESIMPULAN
Pada tanggal 1 Februari 2014, Merpati harus menutup seluruh penerbangan
dikarenakan kinerja keuangan yang terus memburuk. Penyebab utama kebangkrutan
maskapai ini adalah membengkaknya utang Merpati hingga mencapai Rp 6,7 triliun. kepada
20 BUMN dan beberapa pihak swasta.
Internal manajemen yang buruk dalam menjalankan perusahaan, terjadinya
penyalahgunaan wewenang, serta tidak adanya perencanaan menyebabkan Merpati harus
mengalami banyak kerugian. Tuntutan pembayaran gaji oleh seluruh karyawan,
pemberhentian pasokan avtur atau bahan bakar oleh Pertamina (Persero), serta penutupan
sebagian kantor cabang di daerah-daerah merupakan beberapa indikasi kebangkrutan Merpati
Air Lines.
13

Ditutupnya Merpati Air Lines sebagai maskapai udara yang menghubungkan tempattempat terpencil menyebabkan berkurangnya penerimaan devisa dari sektor pariwisata.
Padahal sektor pariwisata dapat menghasilkan pendapatan yang luar biasa bagi suatu daerah
terutama apabila dikelola dengan baik.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut beberapa strategi dapat diterapkan baik
secara internal maupun eksternal. Dalam internal, perusahaan harus mampu memaksimalkan
sumber daya yang ada untuk mewujudkan tujuan perusahaan itu sendiri. Sedangkan dalam
eksternal, perusahaan harus mampu bersaing baik dalam industri sejenis maupun yang
berbeda sebagai usaha mempertahankan perusahaan.

DAFTAR PUSTAKA
Hunger, J. David dan Thomas L. Wheelen. 2009. Manajemen Strategis.
Jakarta: Andi Published
https://www.scribd.com/doc/227360540/Business-Plan-Merpati-Airlines diakses tanggal
3 April 2016
http://gema-nurani.com/2014/07/komis-iv-merpati-bangkrut-karenahuman-error/ diakses tanggal 3 April 2016
https://id.wikipedia.org/wiki/Merpati_Nusantara_Airlines diakses
2016
14

tanggal

April

http://news.liputan6.com/read/2082158/kejagung-eksekusi-terpidana-kasus-korupsi-merpatihotasi-nababan diakses tanggal 3 April 2016


http://www/dpr.go.id/doksetjen/dokumen/biro-apbn-apbn-MENJADIKAN-PARIWISATASEBAGAI-SEKTOR-UNGGULAN-PENGHASIL-DEVISA-1433409452.pdf
diakses tanggal 3 April 2016

https://fildzahazzahra.wordpress.com/2015/06/17/analisis-matrikspt-merpati-nusantara-airlines/ diakses tanggal 4 April 2016

15