Anda di halaman 1dari 31

Pengertian Daya Listrik dan Rumus untuk Menghitungnya Daya Listrik

atau dalam bahasa Inggris disebut dengan Electrical Power adalah jumlah energi
yang diserap atau dihasilkan dalam sebuah sirkuit/rangkaian. Sumber Energi
seperti Tegangan listrik akan menghasilkan daya listrik sedangkan beban yang
terhubung dengannya akan menyerap daya listrik tersebut. Dengan kata lain,
Daya listrik adalah tingkat konsumsi energi dalam sebuah sirkuit atau rangkaian
listrik. Kita mengambil contoh Lampu Pijar dan Heater (Pemanas), Lampu pijar
menyerap daya listrik yang diterimanya dan mengubahnya menjadi cahaya
sedangkan Heater mengubah serapan daya listrik tersebut menjadi panas.
Semakin tinggi nilai Watt-nya semakin tinggi pula daya listrik yang
dikonsumsinya.
Sedangkan berdasarkan konsep usaha, yang dimaksud dengan daya listrik
adalah besarnya usaha dalam memindahkan muatan per satuan waktu atau
lebih singkatnya adalah Jumlah Energi Listrik yang digunakan tiap detik.
Berdasarkan definisi tersebut, perumusan daya listrik adalah seperti dibawah
ini :
P=E/t
Dimana :
P = Daya Listrik
E = Energi dengan satuan Joule
t = waktu dengan satuan detik
Dalam rumus perhitungan, Daya Listrik biasanya dilambangkan dengan huruf P
yang merupakan singkatan dari Power. Sedangkan Satuan Internasional (SI) Daya
Listrik adalah Watt yang disingkat dengan W. Watt adalah sama dengan satu
joule per detik (Watt = Joule / detik)
Satuan turunan Watt yang sering dijumpai diantaranya adalah seperti dibawah
ini :
1 miliWatt = 0,001 Watt
1 kiloWatt = 1.000 Watt
1 MegaWatt = 1.000.000 Watt

Rumus Daya Listrik


Rumus umum yang digunakan untuk menghitung Daya Listrik dalam sebuah
Rangkaian Listrik adalah sebagai berikut :
P=VxI
Atau
P = I2R
P = V2/R
Dimana :

P = Daya Listrik dengan satuan Watt (W)


V = Tegangan Listrik dengan Satuan Volt (V)
I = Arus Listrik dengan satuan Ampere (A)
R = Hambatan dengan satuan Ohm ()

Contoh-contoh Kasus Perhitungan Daya


Listrik
Contoh Kasus I :
Sebuah Televisi LCD memerlukan Tegangan 220V dan Arus Listrik sebesar 1,2A
untuk mengaktifkannya. Berapakah Daya Listrik yang dikonsumsinya ?
Penyelesaiannya
Diketahui :
V = 220V
I = 1,2A
P=?
Jawaban :
P=VxI
P = 220V x 1,2A
P = 264 Watt
Jadi Televisi LCD tersebut akan mengkonsumsi daya listrik sebesar 264 Watt.

Contoh Kasus II :
Seperti yang terlihat pada rangkaian dibawah ini hitunglah Daya Listrik yang
dikonsumsi oleh Lampu Pijar tersebut. Yang diketahui dalam rangkain dibawah ini
hanya Tegangan dan Hambatan.

Penyelesaiannya
Diketahui :
V = 24V
R = 3
P=?
Jawaban :
P = V2/R
P = 242 / 3
P = 576 / 3
P = 192W
Jadi daya listrik yang dikonsumsi adalah 192W.

Persamaan Rumus Daya Listrik


Dalam contoh kasus II, variabel yang diketahui hanya Tegangan (V) dan
Hambatan (R), jadi kita tidak dapat menggunakan Rumus dasar daya listrik yaitu
P=VI, namun kita dapat menggunakan persamaan berdasarkan konsep Hukum
Ohm untuk mempermudah perhitungannya.
Hukum Ohm :
V=IxR
Jadi, jika yang diketahui hanya Arus Listrik (I) dan Hambatan (R) saja.
P=VxI
P = (I x R) x I
P = I2R > dapat menggunakan rumus ini untuk mencari daya listrik
Sedangkan penjabaran rumus jika diketahui hanya Tegangan (V) dan Hambatan
(R) saja.

P=VxI
P = V x (V / R)
P = V2 / R > dapat menggunakan rumus ini untuk mencari daya listrik

Daya dalam Rangkaian Listrik


Selain tegangan dan arus, ada besaran yang diperoleh akibat aktivitas elektron
bebas dalam suatu rangkaian listrik, yaitu daya. Pertama-tama, harus diketahui
apa pengertian daya sebelum menganalisisnya dalam rangkaian listrik.

Daya adalah ukuran seberapa besar kerja yang dapat dilakukan dalam waktu
yang diberikan. Definisi kerja umumnya adalah mengangkat sesuatu yang berat
melawan gaya gravitasi. Semakin berat dan semakin tinggi benda yang
diangkat, maka semakin besar kerja yang dilakukan.
Dalam rangkaian listrik, daya merupakan fungsi dari tegangan dan arus.
Hubungan daya secara sistematis dapat dirumuskan sebagai berikut :

Akan tetapi dalam masalah ini daya (P) sama dengan arus (I) dikali dengan
tegangan (E) atau sebanding dengan IE. Ketika menggunakan formula ini, satuan
besaran daya adalah watt, yang disingkat dengan huruf kapital W.

Daya merupakan gabungan antara tegangan dan arus dalam rangkaian. Ingat
bahwa tegangan adalah kerja tertentu (atau energi potensial) per satuan
muatan, ketika arus adalah laju muatan listrik yang bergerak melalui konduktor.
Tegangan analogi dengan kerja yang dilakukan dalam mengangkat beban
melawan tarikan gravitasi. Arus analogi dengan kecepatan pada beban yang
diangkat.

Suatu rangkaian dengan tegangan tinggi dan arus yang rendah mungkin
melepaskan jumlah daya yang sama sebagaimana rangkaian dengan tegangan
rendah dan arus yang tinggi. Baik nilai tegangan maupun nilai arus menunjukkan
besarnya daya dalam rangkaian listrik.

Dalam suatu rangkaian terbuka, di mana terdapat tegangan antara terminal


sumber dan arus sama dengan nol, maka tidak ada tenaga yang dilepaskan, tak
masalah seberapa besar tegangan yang terukur. Karena P=IE dan I=0 dan
tegangan dikalikan dengan nol hasilnya adalah nol, maka daya yang dilepaskan
dalam rangkaian sama dengan nol. Dengan demikian, jika rangkaian dihubung
singkat sehingga tahanan hubung singkat sama dengan nol (seperti kawat
superkonduktif), dari kondisi seperti ini maka tegangan bernilai nol, sehingga
tidak ada daya yang akan dilepaskan.

Jika diukur daya dalam satuan daya kuda atau satuan watt, maka ada hal
yang sama dalam satuan tersebut, yaitu seberapa besar kerja yang dapat
dilakukan dalam waktu tertentu. Dua satuan tersebut tidak sama secara angka,
tetapi dapat dikonversikan antara satu dengan yang lain.

1 Daya Kuda (Horse Power) =745,7 Watt

Jika suatu mesin diesel atau mesin sepeda motor 100 daya kuda, maka dapat
dinominalkan dengan mesin 74570 watt.

Perhitungan Daya Listrik


Sebagaimana telah diketahui pada pembahasan sebelumnya formula untuk
menentukan daya dalam rangkaian listrik adalah dengan mengalikan tegangan
dalam volt arus dalam amp sehingga didapat satuan daya dalam watt.
Contoh perhitungan daya dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1 Sumber tegangan dan tahanan rangkaian diketahui

Dalam rangkaian di atas, dapat diketahui bahwa sebuah baterai dengan


tegangan 18 volt dan lampu dengan tahanan 3 . Dengan menggunakan hukum
Ohm untuk menentukan arus, di dapat :

Setelah didapat arus, maka daya dapat ditentukan dengan mengalikannya


dengan tegangan sehingga :

Jadi jawabannnya adalah lampu tersebut melepaskan daya 108 watt, sebagian
besar dalam bentuk cahaya dan panas.
Kemudian dengan rangkaian yang sama tegangan baterai dinaikkan untuk
melihat apa yang terjadi. Secara gamblang dapat diketahui bahwa arus dalam
rangkaian akan meningkat sebagaimana tegangan meningkat dan tahanan
lampu tetap sama. Demikian juga, daya akan meningkat juga :

Gambar 2 Sumber tegangan dinaikkan

Sekarang, tegangan baterai adalah 36 volt sebagai ganti 18 volt pada Gambar 1.
Lampu tersebut menyediakan tahanan listrik 3 Ohm agar elektron dapat
mengalir, sehingga arus menjadi :

Hal ini karena jika I = E/R, dan nilai E ganda sedangkan R tetap sama dan nilai
arus menjadi ganda pula. Nilai arus yang diperoleh adalah 12 Amp dan daya
menjadi :

Perhatikan bahwa daya meningkat sebagaimana yang diperkirakan, tetapi


meningkatnya lebih disebabkan oleh arus. Hal ini disebabkan daya merupakan
fungsi dari tegangan dikalikan arus, dan baik arus maupun tegangan bernilai
ganda dari nilai pada rangkaian sebelumnya, sehingga daya pun meningkat oleh
faktor 2 x 2 atau 4. Ini dapat diperiksa dengan membagi 432 Watt dengan 108
Watt dan hasilnya adalah 4.

Dengan menggunakan aljabar dapat memanipulasi Persamaan (1), walaupun


tidak diketahui salah satu besaran baik itu arus, tegangan atau tahanan. Jika
hanya diketahui tegangan (E) dan tahanan (R) :

Jika kita hanya mengetahui arus (I) dan tahanan (R), maka :

Menurut catatan sejarah bahwa James Prescott Joule, bukan Georg Simon Ohm,
yang pertama kali menemukan hubungan matematis antara pelepasan daya dan
arus yang melalui tahanan. Penemuan ini diterbitkan dalam tahun 1841, diikuti
dengan formulasi terakhir (P=I2R), dan tepatnya dikenal dengan hukum Joule.
Akan tetapi persamaan daya ini sangat umum jika dihubungkan dengan
persamaan hukum Ohm yang berhubungan dengan tegangan, arus dan tahanan
(E=IR ; I=E/R dan R=E/I) sehingga sering ditujukan kepada Ohm sebagai
penghargaan.

rtikel kali ini lebih saya tujukan kepada orang awam yang ingin mengenal dan mempelajari teknik listrik ataupun
bagi mereka yang sudah berkecimpung di dalam teknik elektro untuk sekedar mengingat kembali teori-teori
dasar listrik.
1. Arus Listrik
adalah mengalirnya elektron secara terus menerus dan berkesinambungan pada konduktor akibat perbedaan
jumlah elektron pada beberapa lokasi yang jumlah elektronnya tidak sama. satuan arus listrik adalah Ampere.
Arus listrik bergerak dari terminal positif (+) ke terminal negatif (-), sedangkan aliran listrik dalam kawat logam
terdiri dari aliran elektron yang bergerak dari terminal negatif (-) ke terminal positif(+), arah arus listrik dianggap
berlawanan dengan arah gerakan elektron.

Gambar 1. Arah arus listrik dan arah gerakan elektron.


1 ampere arus adalah mengalirnya elektron sebanyak 624x10^16 (6,24151 10^18) atau sama dengan 1
Coulumb per detik melewati suatu penampang konduktor
Formula arus listrik adalah:
I = Q/t (ampere)
Dimana:
I = besarnya arus listrik yang mengalir, ampere
Q = Besarnya muatan listrik, coulomb
t = waktu, detik
2. Kuat Arus Listrik
Adalah arus yang tergantung pada banyak sedikitnya elektron bebas yang pindah melewati suatu penampang
kawat dalam satuan waktu.
Definisi : Ampere adalah satuan kuat arus listrik yang dapat memisahkan 1,118 milligram perak dari nitrat perak
murni dalam satu detik.
Rumus rumus untuk menghitung banyaknya muatan listrik, kuat arus dan waktu:
Q=Ixt
I = Q/t
t = Q/I
Dimana :
Q = Banyaknya muatan listrik dalam satuan coulomb
I = Kuat Arus dalam satuan Amper.
t = waktu dalam satuan detik.
Kuat arus listrik biasa juga disebut dengan arus listrik

muatan listrik memiliki muatan positip dan muatan negatif. Muatan positip dibawa oleh proton, dan muatan
negatif dibawa oleh elektro. Satuan muatan coulomb (C), muatan proton +1,6 x 10^-19C, sedangkan muatan
elektron -1,6x 10^-19C. Muatan yang bertanda sama saling tolak menolak, muatan bertanda berbeda saling tarik
menarik
3. Rapat Arus
Difinisi :
rapat arus ialah besarnya arus listrik tiap-tiap mm luas penampang kawat.

Gambar 2. Kerapatan arus listrik.


Arus listrik mengalir dalam kawat penghantar secara merata menurut luas penampangnya. Arus listrik 12 A
mengalir dalam kawat berpenampang 4mm, maka kerapatan arusnya 3A/mm (12A/4 mm), ketika penampang
penghantar mengecil 1,5mm, maka kerapatan arusnya menjadi 8A/mm (12A/1,5 mm).
Kerapatan arus berpengaruh pada kenaikan temperatur. Suhu penghantar dipertahankan sekitar 300C, dimana
kemampuan hantar arus kabel sudah ditetapkan dalam tabel Kemampuan Hantar Arus (KHA).

Tabel 1. Kemampuan Hantar Arus (KHA)


Berdasarkan tabel KHA kabel pada tabel diatas, kabel berpenampang 4 mm, 2 inti kabel memiliki KHA 30A,
memiliki kerapatan arus 8,5A/mm. Kerapatan arus berbanding terbalik dengan penampang penghantar, semakin
besar penampang penghantar kerapatan arusnya mengecil.
Rumus-rumus dibawah ini untuk menghitung besarnya rapat arus, kuat arus dan penampang kawat:
J = I/A
I=JxA
A = I/J
Dimana:
J = Rapat arus [ A/mm]
I = Kuat arus [ Amp]

A = luas penampang kawat [ mm]

4. Tahanan dan Daya Hantar Penghantar


Penghantar dari bahan metal mudah mengalirkan arus listrik, tembaga dan aluminium memiliki daya hantar listrik
yang tinggi. Bahan terdiri dari kumpulan atom, setiap atom terdiri proton dan elektron. Aliran arus listrik
merupakan aliran elektron. Elektron bebas yang mengalir ini mendapat hambatan saat melewati atom
sebelahnya. Akibatnya terjadi gesekan elektron denganatom dan ini menyebabkan penghantar panas. Tahanan
penghantar memiliki sifat menghambat yang terjadi pada setiap bahan.
Tahanan didefinisikan sebagai berikut :
1 (satu Ohm) adalah tahanan satu kolom air raksa yang panjangnya 1063 mm dengan penampang 1 mm
pada temperatur 0 C"
Daya hantar didefinisikan sebagai berikut:
Kemampuan penghantar arus atau daya hantar arus sedangkan penyekat atau isolasi adalah suatu bahan yang
mempunyai tahanan yang besar sekali sehingga tidak mempunyai daya hantar atau daya hantarnya kecil yang
berarti sangat sulit dialiri arus listrik.
Rumus untuk menghitung besarnya tahanan listrik terhadap daya hantar arus:
R = 1/G
G = 1/R
Dimana :
R = Tahanan/resistansi [ /ohm]
G = Daya hantar arus /konduktivitas [Y/mho]

Gambar 3. Resistansi Konduktor


Tahanan penghantar besarnya berbanding terbalik terhadap luas penampangnya dan juga besarnya tahanan
konduktor sesuai hukum Ohm.
Bila suatu penghantar dengan panjang l , dan diameter penampang q serta tahanan jenis (rho), maka tahanan
penghantar tersebut adalah :
R = x l/q
Dimana :
R = tahanan kawat [ /ohm]
l = panjang kawat [meter/m] l

= tahanan jenis kawat [mm/meter]


q = penampang kawat [mm]
faktot-faktor yang mempengaruhi nilai resistant atau tahanan, karena tahanan suatu jenis material sangat
tergantung pada :
panjang penghantar.
luas penampang konduktor.
jenis konduktor .
temperatur.
"Tahanan penghantar dipengaruhi oleh temperatur, ketika temperatur meningkat ikatan atom makin meningkat
akibatnya aliran elektron terhambat. Dengan demikian kenaikan temperatur menyebabkan kenaikan tahanan
penghantar"

5. potensial atau Tegangan


potensial listrik adalah fenomena berpindahnya arus listrik akibat lokasi yang berbeda potensialnya. dari hal
tersebut, kita mengetahui adanya perbedaan potensial listrik yang sering disebut potential difference atau
perbedaan potensial. satuan dari potential difference adalah Volt.
Satu Volt adalah beda potensial antara dua titik saat melakukan usaha satu joule untuk memindahkan muatan
listrik satu coulomb
Formulasi beda potensial atau tegangan adalah:
V = W/Q [volt]
Dimana:
V = beda potensial atau tegangan, dalam volt
W = usaha, dalam newton-meter atau Nm atau joule
Q = muatan listrik, dalam coulomb

RANGKAIAN LISTRIK
Pada suatu rangkaian listrik akan mengalir arus, apabila dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1. Adanya sumber tegangan
2. Adanya alat penghubung
3. Adanya beban

Gambar 4. Rangkaian Listrik.


Pada kondisi sakelar S terbuka maka arus tidak akan mengalir melalui beban . Apabila sakelar S ditutup maka
akan mengalir arus ke beban R dan Ampere meter akan menunjuk. Dengan kata lain syarat mengalir arus pada
suatu rangkaian harus tertutup.
1. Cara Pemasangan Alat Ukur.
Pemasangan alat ukur Volt meter dipasang paralel dengan sumber tegangan atau beban, karena tahanan dalam
dari Volt meter sangat tinggi. Sebaliknya pemasangan alat ukur Ampere meter dipasang seri, hal inidisebabkan

tahanan dalam dari Amper meter sangat kecil.


alat ukur tegangan adalah voltmeter dan alat ukur arus listrik adalah amperemeter
2. Hukum Ohm
Pada suatu rangkaian tertutup, Besarnya arus I berubah sebanding dengan tegangan V dan berbanding terbalik
dengan beban tahanan R, atau dinyatakan dengan Rumus :
I = V/R

V=RxI
R = V/I
Dimana;
I = arus listrik, ampere
V = tegangan, volt
R = resistansi atau tahanan, ohm
Formula untuk menghtung Daya (P), dalam satuan watt adalah:
P=IxV
P=IxIxR
P = I x R
3. HUKUM KIRCHOFF
Pada setiap rangkaian listrik, jumlah aljabar dari arus-arus yang bertemu di satu titik adalah nol (I=0).

Gambar 5. loop arus KIRChOFF


Jadi:
I1 + (-I2) + (-I3) + I4 + (-I5 ) = 0
I1 + I4 = I2 + I3 + I5

NEVER SURRENDER
ELECTRICAL ANSI CODE
PEMBAKUAN ISTILAH KELISTRIKAN
PLC DALAM INDUSTRI
SOFTWARE PENTING
TEORI DASAR LISTRIK

Meta
Mendaftar
Masuk log
RSS Entri
RSS Komentar
WordPress.com

Halaman
ELECTRICAL ANSI CODE
PEMBAKUAN ISTILAH KELISTRIKAN
PLC DALAM INDUSTRI
SOFTWARE PENTING
TEORI DASAR LISTRIK

RSS - Pos
RSS - Komentar

Maret 2016
S

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

31

Okt

Blog Stats
102,680 hits

TEORI DASAR LISTRIK

71 Votes

TEORI DASAR LISTRIK


1. TAHANAN DARI PENGHANTAR LISTRIK
Semua bahan bagaimanapun murninya selalu mempunyai tahanan listrik, yang mana tahanan ini
tergantung tahanan jenis ( ) bahan itu sendiri.
Tahanan tersebut tergantung dari bahan; berbanding lurus dengan panjang dan berbanding
terbalik dengan penampang penghantar tersebut.
Temperatur juga akan mempengaruhi besarnya tahanan. Baik atau buruknya tahanan suatu
penghantar ditentukan oleh;
a. TAHANAN JENIS ( = Rho )
= adalah menunjukkan tahanan darin suatu penghantar panjang 1 meter, penampang 1 mm2
pada suhu 20 o C.
Satuan dari nilai ini adalah ohm milimeter kwadrat permeter ( ).
A= 1mm2 pada 20 o C
panjang (l)= 1 m
b. DAYA HANTAR ( = Kappa )
= adalah bilangan yang menunjukkan panjang dalam meter dari sebuah penghantar yang
penampangnya 1 mm2 dan tahanannya 1 .

Nilai daya hantar adalah kebalikan dari tahanan jenis, yaitu =


Nilai daya hantar adalah bermacam-macam tergantung dari bahannya. Pada umumnya adalah kita
menghitung dengan;
Contoh 1: Daya hantar tembaga adalah
Hitung tahanan jenis tembaga ?
Jawab : = = =
Catatan: Makin tinggi tahanan jenis serta makin panjang penghantarnya dan makin kecil
penampangnya adalah = makin tinggi tahanan dari penghantarnya.
Tahanan jenis harganya 0,01786 atau
Hantaran jenis harganya 56 ( atau kebalikan dari tahanan jenis )
dimana;
R = Tahanan atau hambatan ( )
= Tahanan jenis
= Daya hantar
l = Panjang ( m )
A = Luas ( mm2 ).
Hambatan adalah gesekan atau rintangan yang diberikan suatu bahan terhadap suatu aliran
arus.
Hambatan itu antara lain ; lampu, kumparan, elemen panas, dsb.
Ukuran semua jenis kawat telanjang biasanya diameternya ( ) dalam mm.
Ukuran penghantar jenis kawat berisolasi biasanya penampang dalam mm2.
Contoh 2 : Tahanan kawat Manganin pada suatu alat ukur dengan diameter 0,1 mm. Berapa
panjang kawat tersebut jika R=100 ?
Jawab : A = d2 . 0,785 = 0,12 . 0,785 = 0,00785 mm2
100 . 2,3 . 0,00785 = 1,806 m.
Contoh 3 : Sebuah kumparan dari NYA 2,5 mm2, panjang 50 m .
Hitung tahanannya sebelum digulung ?
Jawab : atau
2. KERAPATAN ARUS ( S )
Yaitu beasarnya arus per mm2 luas penampang
Kerapatan arus ( ) =
Contoh 1 : Suatu arus sebesar 0,2 A mengalir melalui bola lampu.
Berapa kerapatan arus:
a) Pada penghantar jala-jala yang luas penampangnya 1,5 mm2
b) Pada filamel yang luas penampangnya 0,0004 mm2
Jawab : a) S =
b) S =
Catatan : S dalam satuan A/mm2 untuk penghantar (kawat2), elemen2,
pemanas, belitan mesin listrik, kumparan relay, dsb.
S dalam satuan A/cm2 untuk sikat2 arang.
S dalam satuan A/dm2 untuk pelapisan (galvanis).
Kerapatan arus yang lebih tinggi berakibat kenaikan suhu yang lebih tinggi pula pada penghantar
Cara lain untuk menghindari kerusakan isolasi dan loncatan bunga api, kerapatan arus pada
penghantar pada rangkaian, gulungan kawat suatu kumparan, transformator2 dan motor2 tidak
boleh melebihi dari nilai maksimum yang telah ditentukan.

Kerapatan arus untuk kumparan2 dari tembaga, yang ditentukan adalah;


1. Transformator kecil s.d 500 VA 2,0 2,5 A/mm2.
2. Transformator2 s.d 2 kVA 2,0 2,8 A/mm2. *)
3. Transformator2 s.d 20 kVA 1,7 2,3 A/mm2. *)
*) Tergantung pada panas yang dilepaskan pada permukaan kumparan
(pendingin).
Sirip pendingin Sirkulasi Ventilasi
4.
5.
6.
7.
8.

Motor < 1,5 KW 6 8 A/mm2 4 6 A/mm2


Motor < 15 KW 5 7 A/mm2 3 5 A/mm2
Motor2 colector yang kecil 5 A/mm2
Motor2 dengan pendingin yang kuat 10 A/mm2
PCB 26 A/mm2

Contoh 1: Konduktor berdiameter berapa harus dipilih untuk untuk menggulung transformator
yang kecil jika arusnya adalah 4,5 A? S= 3 A/mm2
Jawab: A =
Contoh 2: Sebuah sikat karbon mempunyai penampang 162,5 mm dan diberi mujatan dengan
arus 28 A. Hitunglah kerapatan maksimum yang diijinkan?
Jawab: A = 16 mm x 2,5 mm = 200 mm2 = 2 cm2
S=
Contoh 3: Kawat panas yang bulat ( =1mm2 /m ) panjang (l) = 5,31 m dan tebalnya (d)= 0,2
mm, dihubungkan dengan tegangan 220 V.
Hitung: a) Luas penampang (A)=
b) Tahanan ( R ) =
c) Arus ( I ) =
d) Kerapatan arus ( S ) =
3. RUGI TEGANGAN ( 8 )
Rugi tegangan adalah tegangan yang hilang pada jala-jala, pada saat arus mengalir.
Makin besar arus pada jala-jala dan makin besar tahanan pada jala-jala, makin besar pula rugi
tegangan yang terjadi pada jala-jala.
Rugi tegangan menyebabkan rugi daya yang dirubah menjadi bentuk panas.
Perlu diingat bahwa V = I . R
R penghantar =
Jadi rugi tegangan itu dihitung; 2 v ( Va ) = I.Rpenghantar=
Dimana, Rpenghantar = Tahanan dari satu jala saja.
2 = Panjang dari dua penghantar.
Rugi tegangan yang kecil adalah dapat diterima. Rugi tegangan biasanya ditunjukkan dengan
simbol 8 dari tegangan kerjanya.
Tanda untuk rugi tegangan di dalam 8 adalah v 8 (Va).
Rugi tegangan yang diijinkan adalah;
Va Penggunaan jala / jaringan
0,5 8 Dari jala-jala ke KWH meter
1,5 8 Dari meter ke peralatan pemakai / lampu penerangan
3,0 8 Dari meter ke motor-motor / rangkaian daya.
Contoh 1: Sebuah motor dc di suplai dengan kabel NYM 24 mm, sepanjang 28 m, arusnya adalah
23 A. Hitunglah:
Jawab: a) Rugi tegangan (V)
b) Rugi tegangan ( 8 )

c) Periksalah apakah rugi tegangan tersebut diizinkan?


Rugi tegangan 2,6 8 adalah diizinkan karena dibawah 3,0 8.
4. RUGI DAYA ( PV )
Ingat ; P = I2.R
Rpenghantar =
Rpenghantar adalah hanya satu penghantar
Disini rugi daya (Pv) untuk jala-jala listrik dihitung;
Contoh 1: Suatu arus 45 A mengalir melalui saluran udara yang terbuat dari aluminium dengan
penampang 95 mm2 sepanjang 14 km. Tegangan nominal 6 kV. Hitunglah :
Jawab:
a) Rugi daya dalam Watt
b) Rugi daya dalam 8
Contoh 2 : Sebuah alat pemanas air dayanya 4 kW mempunyai 18,2 A. Jala-jala suplainya terbuat
dari tembaga sepanjang 17 meter. Rugi daya tidak lebih dari 3 8. Hitunglah :
Jawab:
a) Rugi daya maksimum yang diperbolehkan ( Watt )
b) Penampang yang diperlukan ( mm2 )
Kita pilih penampang dari 1,7 mm2 menjadi 2,5 mm2
karena penampang 1,7 mm2 tidak ada, yang ada 2,5 mm2.
c) Rugi daya efektif ( Watt )
5. ARUS LISTRIK / LAJU ALIRAN ( AMPERE )
Arus listrik hanya akan ada dalam suatu rangkaian tertutup dan jika terdapat sumber yang
mendorong elektron-elektron ke satu arah. Gerakan dari elektron ini dinamakan ALIRAN ARUS.
DEFINISI:
Jika sejumlah listrik 1 C ( satu coulomb) dipindahkan melalui sebuah penampang pada suatu
tempat dalam suatu rangkaian dalam waktu 1s ( satu detik), maka besar arus itu kita sebut 1 A
( satu Ampere ).
Am (Amperemeter) adalah alat untuk mengukur laju aliran. Ameter ini dipasang SERI dengan
beban. Aliran arus ini harus melewati alat itu. Tempatnya dapat dimana saja dalam rangkaian itu.
Menurut perjanjian ARAH ARUS (bukan arah aliran elektron) selalu diambil dari positif ke negatif.
Elektron mengalir dari negatif Arus mengalir dari positif
ke positif. ke negatif.
Berikut ini perlu diingat pula bahwa,
Hubungan antara laju arus ( I ), Jumlah muatan listrik ( Q ), dan Waktu ( t ), adalah;
I = Q = I . t I dari perkataan Intensity atau laju arus dengan
satuan Ampere.
I diukur dalam Ampere ( simbol A )
Q diukur dalam Coulomb (simbol C )
t diukur dalam detik ( simbol s = second )
Jumlah muatan listrik yang bergerak pada 1A , 1 C dan 1 s , maka terdapat ;
1A = atau 1C = 1A x 1s
Arus bolak-balik ( ABB atau disebut juga a.c.= alternating current) ditulis dengan tanda , yang
artinya bahwa jika suatu arus dimana ggl ( gaya gerak listrik ) nya menimbulkan arus yang

berganti arah dengan teratur.


Arus listrik mempunyai sifat panas, kimiawi dan kemagnitan.
Arus searah ( Arus dc = directing current ) ditulis dengan = , yang artinya bahwa jika suatu arus
yang selalu mengalir dalam suatu tujuan yang sama (searah saja).
Jika pada suatu peralatan tertulis dengan simbol , artinya peralatan bisa digunakan dengan dua
tegangan ac maupun dc, ( sisi primer ac dan sisi sekundernya dc, atau sebaliknya. Hal ini biasa
digunakan untuk pengukuran, kontrol, proteksi, rangkaian elektronik, dsb).
6. TEGANGAN LISTRIK ( VOLT )
Tegangan listrik diukur dengan alat ukur yang bernama Volt meter (Vm), jika tegangan listrik
diukur dan tidak ada rangkaian luar lainnya, maka akan kita dapatkan GAYA GERAK LISTRIK ( GGL
dengan simbol E) dari sumber listrik tersebut.
Satuan untuk mengukur tegangan listrik dan GGL adalah Volt ( simbol: V ).
Tegangan selalu diukur antara dua titik, yaitu positip dan negatip, atau dalam gambar biasanya
ditulis plus ( + ) dan minus ( ), atau bis juga dengan simbol L dengan N.
Alat ukur dipasang secara PARALEL ( beda dengan Ampere meter yang dipasang secara SERI).
Alat ukur Ampere meter Alat ukur Volt meter
Tegangan adalah : Suatu tegangan yang dibutuhkan untuk menolak satuan kuat arus melalui
satuan tahanan.
E (V) = I (A) x R ( ) 1 V = 1 A x 1
7. HUKUM OHM
Satuan dari hambatan
Untuk menunjukkan
Untuk menunjukkan
Untuk menunjukkan

atau tahanan listrik adalah OHM ( simbol : , diucapkan Omega)


suatu hambatan / tahanan kita gunakan huruf R
suatu arus kita gunakan huruf I
suatu tegangan kita gunakan huruf E

Dimana hukum Ohm, adalah : E = I x R , atau dengan perkataan;


Arus berbanding lurus dengan tegangan dan berbanding terbalik dengan hambatan/tahanan.
E=IxR
8. DAYA LISTRIK ( W)
Daya ialah kerja yang dilakukan dalam 1 detik atau jumlah tenaga yang digunakan dalam 1 detik (
satuan waktu ), maka akan didapatkan DAYA atau penggunaan daya.
Besaran daya menggunakan simbol P
Satuan daya ialah Watt dengan simbol W
Dimana dalam rangkaian listrik, daya berbanding lurus dengan tegangan dan arus.
Rumus :
Contoh 1 :
Contoh ini agak sukar sedikit karena E dan I belum diketahui secara langsung, maka kita ubah
dulu sebagai berikut:
E=I.R menghasilkan dan
P=I.E menghasilkan
Sekarang kita gabungkan kedua hasil itu :
yang menghasilkan E2 = R.P
E2 = 1.2 = 2 maka E =
Hubungan antara E , I , R dan P , dapat dinyatakan dengan rumus :

a. E = I . R atau dapat diubah menjadi dan


b. P = I . E atau dapat diubah menjadi dan
c. Ada rumus ketiga yang di dapat dari penggabungan kedua rumus itu, yaitu:
E = I . R dan P = I . E
Dimana jika E-nya diganti dengan I.R , maka menghasilkan ;
P = I . E atau P = I . I . R karena E sendiri adalah I.R ,
Sehingga rumusnya menjadi,
P = I2 . R sehingga dan
Catatan : Rumus-rumus diatas sangat penting untuk digunakan dalam segala macam perhitungan
pada bidang listrik, karena rumus-rumus tersebut adalah dasar sebelum menghitung ke tingkat
selanjutnya.
9. PENGUKUR DAYA / WATT METER
Watt meter digunakan untuk mengukur pemakaian daya dari suatu hambatan / beban.
Perlu diingat bahwa : 1 Watt = 1 Ampere x 1 Volt
Gambar cara menyambung Vm dan Am.
Bila arus dalam suatu rangkaian diukur dengan Ammeter dan tegangan dengan Voltmeter, maka
pemakaian daya dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
P=IxE
Harus selalu diingat bahwa, Ammeter dipasang SERI dengan rangkaian, sedangkan Voltmeter
dipasang PARALEL / melintang terhadap hambatan.
Sesungguhnya Wattmeter itu adalah suatu perpaduan antara Voltmeter dengan Ammeter.
10. KERJA ATAU TENAGA ( JOULE = WS )
Kerja atau tenaga ialah perkalian antara daya dan waktu ( bandingkan dengan perihal DAYA
LISTRIK ).
Contoh 1: Suatu bola lampu sebesar 100 Watt menyala selama 5 menit ( 300 detik ), maka tenaga
yang digunakan , yaitu :
W=Pxt
= 100 W x 300 detik = 30.000 Ws
DAYA ( dengan simbol P ) mempunyai satuan Watt ( dengan simbol W ).
Kerja atau tenaga dengan simbol W mempunyai satuan Joule yang simbolnya J, ( jangan sampai
terbalik atau tertukar dengan Watt ).
Dimana,
1J=1Wx1s
( 1 Joule = 1 Watt kali 1 second )
Contoh 2: E=110V , I=0,5 A , t=60 s, W=.?
Jawab: P (daya) = E.I = 110 x 0,5 = 55 Watt
W (kerja) = P.t = 55 Watt x 60 second = 3300 J (Joule)
Contoh 3: E = 240 V ; R = 96 ; t = 5 h ; W = ..?
Jawab:
P = I x E = 2,5 x 240 = 600 Watt.
W = P x t t = 5 h = 18.000 detik
W = 600 W x 18.000 sekon = 108.105 Ws = 108.105 J
Jika ingin menyatakan kerja itu dalam satuan kWh ( dimana 1000
Wh = 1000 x 3600 Ws atau 10003600 J )
Maka menghitungnya menjadi;

W = P x t = 600 W x 5 h = 3000 Wh atau = 3 kWh.


( Catatan: k melambangkan kilo atau seribu ).
11. USAHA LISTRIK / HASIL KERJA LISTRIK ( WH )
Yaitu hasil kerja / tenaga dikalikan dengan waktu
A = Usaha listrik ( Jika Wh , t-nya adalah jam
Jika Ws . t-nya adalah sekon)
W = Daya listrik (Watt)
t = Waktu : jika jam A=Wh
jika detik A= J atau Ws
Dari rumus , W=E.I , maka A = E.I.t
Dari rumus , W=I2.R , maka A = I2.R.t
Dari rumus , , maka
Dari rumus, Q = I.t maka A = E.Q rumus ini dengan satuan J.
Dan A = E.I.t
Contoh 1 :
Sebuah motor listrik bekerja dengan daya 10 kW dalam waktu jam.
Hitung usaha listrik yang dipakai oleh motor listriki itu (A) ?
Jawab : A=W.t = 10.000 W . h = 5000 Wh = 5 kWh.
Contoh 2:
Sebuah lampu pijar dipasang pada tegangan 120 V dan memakai arus 0,5 A. Berapakah usaha
listrik yang dipakai oleh lampu itu, jika menyala dari jam 15.30 sore s.d. 06.30 pagi ?
Jawab: A=E.I.t = 120 V x 0,5 A x 13 jam = 780 Wh = 0,78 kWh.
Contoh 3:
Sebuah dynamo memberikan arus pada jala-jala sebesar 10 A dengan tegangan 220 V.
Hitung: a) Daya yang dikeluarkan dynamo

b) Usaha yang dikeluarkan dynamo selama 5 jam (A)?


c) Tahanan jala-jala (R)?
Jawab: a) W = E . I = 220 V. 10 A = 2200 Watt = 2,2 kW
b) A = W . t = 2,2 kW . 5 h = 11 kWh
c)
Contoh 4:
Suatu solder listrik mempunyai tahanan (R)= 60 Ohm dan tegangan 110 V.
Hitung dayanya (W)?
Jawab:
Contoh 5:
Unsur pemanas dari suatu ketel listrik dengan tegangan 220V. Harus diperbarui.
Hitung panjang kawat (l) yang diperlukan, jika daya ketel itu

600 Watt dan yang dipakai

kawat nickel chroom yang mempunyai garis tengah d=0,5 mm jika kawat nickel chroom =1
Jawab:
A = 0,785.d2 = 0,785 . 0,52 = 0,19625 mm2
Contoh 6:
Sebuah gedung terdapat 10 buah lampu yang terdiri dari 4 lampu @ 60 W , 4 lampu @ 40 W dan
2 lampu @ 25 W. Jika tiap malam rata-rata menyala dari jam 17.30 s.d 06.30. Tegangan pada 120
V dan tarip per kWh = Rp. 500,Ditanya: a) Kuat arus I ?
b) Biaya penerangan selama 1 minggu?

Jawab:
Jumlah 10 lampu = ( 460)+(440)+(225) = 450 Watt
a)
b) Daya dalam 1 minggu = 7 x 450 = 3150 Watt = 3,15 Kwh
Biaya penerangan dalam 1 minggu = 3,15 x Rp.500 = Rp. 1.575,12. RENDEMENT / DERAJAT GUNA / EFFISIENSI ( )
Perubahan daya/usaha listrik menjadi daya/usaha mekanik atau daya/usaha panas atau
sebaliknya, selalu timbul kerugian-kerugian, sehingga baik pada motor-motor listrik, generatorgenerator atau ketel-ketel, daya/usaha yang dimasukkan selalu lebih besar dari daya/usaha yang
dikeluarkan. Dalam hal ini bisa dikatakan bahwa rendement adalah daya/usaha yang dimanfaat
atau daya yang dihasilkan tidak akan mencapai daya/usaha penuh 100%.
Kerugian-kerugian daya/usaha listrik ini antara lain disebabkan oleh sebagian daya/usaha listrik
yang dimasukkan ke dalam motor listrik, misalnya melalui kumparan yang merupakan tahanan,
sehingga daya/usaha ini harus mengatasi tahanan tersebut. Dan sebagian daya/usaha yang
dirugikan ini berubah menjadi panas. Dan sebaliknya daya/usaha mekanik yang masuk ke
genarator sebagian dari daya/usaha mekanik ini harus mengatasi tahanan-tahanan dari gesekkan
antara poros dan bantalan, dimana daya/usaha ini juga berubah menjadi panas.
Perbandingan antara daya/usaha yang berguna dan daya/usaha yang masuk disebut Rendement
(Derajat guna/Daya guna).
Contoh 1:
Suatu motor listrik untuk tegangan Ek=220V , dan menahan arus I=20A. Hitunglah daya yang
berguna dalam satuan KW dan tk, jika motor =0,9.
Jawab: Wt = Ek.I = 220 x 20 = 4400 Watt
Wn = . Wt = 0,9 x 4400 = 3960 Watt = 3,96 kW
1KW = 1,36 tk Pn = Wn x 1 KW = 3,96 x 1,35 tk = 5,3856 tk.
Contoh 2:
Sebuah generator dengan =0,9 dijalankan oleh suatu mesin dengan daya 30 tk (Pt) dan
tegangan klem (Ek)=220V. Hitung arus yang dikeluarkan generator?
Jawab: Pn = x Pt = 0,9 x 30 = 27 tk
Wn = 1 tk x Pn = 736 Watt x 27 tk = 19872 Watt
Contoh 3:
Sebuah ketel listrik bekerja dengan daya (Wt)=850 Watt untuk mendidihkan air G=2 liter dan
suhu (t1)= 10oC, ketel=0,8 dg t2=100oC.
Hitung ongkos pemanasan jika tiap KWh=Rp.500,- dan waktu (t) yang dibutuhkan sampai air
mendidih?
Jawab: Qn = G (t2-t1).kCal.
= 2 ( 100 o 10o ) kCal = 180 kCal.
Contoh 4 :
Sebuah generator dihubungkan satu poros dengan motor diesel. Generator bekerja dengan
tegangan klem 125 V dan mengeluarkan arus 4A. Rendement generator 0,8 dan rendement diesel
0,6.
Hitung banyaknya minyak yang digunakan kalau mesin itu bekerja selama 10 jam. Nilai bakar dari
minyak 104 (tiap 1 kg menghasilkan 104 kCal.
Jawab:
Wn gen = Ek x I = 125 x 4 = 500 Watt
Pt gen = Wt gen x 0,00136 tk = 625 W x 0,00136 tk = 0,85 tk
Pn dis = Pt gen = 0,85 tk
At dis = Pt dis x t = 1,42 x 10 = 14,2 tk
Qt dis = 635 x 14,2 = 9017 kCal

13. HUBUNGAN ANTARA DAYA/USAHA LISTRIK DENGAN DAYA/USAHA PANAS.


Ahli ilmu alam Joule setelah melakukan percobaan menemukan, bahwa nilai dari Joule = 0,00024
kCalori.
Nilai tersebut adalah menunjukkan beberapa persamaan dari nilai daya / usaha listrik dengan
nilaia daya / usaha panas.
Dari 1J=0,00024 kCalori , dan rumus A=E.I.t , maka didapatkan rumus :
Q = 0,00024 . A atau
Rumus-rumus yang lain juga dapat dipergunakan, yaitu :
Q = 0,00024 . W . t atau A = W . t
Q = 0,00024 . I2 . R . t atau A = I2 . R . t
atau
dimana, Q = jumlah panas ( kCalori )
t = waktu ( detik ).
Contoh 1 :
Berapakah panas yang ditimbulkan oleh suatu tungku sinar listrik dalam waktu 2 jam, jika
tegangan 220 V dan arus sebesar 5 A.
Jawab:
Q = 0,00024 . E . I . t
= 0,00024 . 220 . 5 . 7200
= 1900000 Calori = 1900 kCalori.
14. HUBUNGAN ANTARA DAYA/USAHA LISTRIK DENGAN DAYA/USAHA MEKANIK.
Bunyi hukum SARA daya usaha : Daya usaha atau tenaga tidak dapat ditiadakan dan tidaklah
terjadi dari ketidak-adaan.
Dari hukum diatas mempunyai arti bahwa, jumlah energi atau tenaga dalam alam kita ini adalah
tetap. Jadi jika ada sejumlah tenaga hilang dari bentuk yang satu, maka selalu timbul sejumlah
tenaga dalambentuk yang lain yang sama banyaknya. Setelah melalui percobaan dan penyelidikan,
maka dapat diketahui persamaan-persamaan harga daya/usaha listrik dengan daya/usaha
mekanik.
DAYA
LISTRIK MEKANIK PANAS
KW W tk Kgm/detik kCal/detik Calori/detik
1 1000 1,36 102 0,24 240
0,001 1 0,00136 0,102 0,0024 0,24
0,736 736 75 76 0,1755 175,5
1/102 9,81 1 1 0,00233 2,33
4,180 4180 427 427 1 1000
0,00418 4,18 0,427 0,427 0,001 1
USAHA
LISTRIK MEKANIK PANAS
KWh Wh Joule TKh Kgm K.Calori Calori
1 1000 36.10
1,36 367200 864 864.10
0,001 1 36.10
0,00136 367,2 0,864 864
1/36.10
1/36.10
1 1/9,81 0,102 0,00024 0,24
0,736 736 265.10
1 27.10
635 635.10

1/367200 1/367,2 9,81 1/270000 1 0,00233 2,33


1/864 1/0,864 4180 1/635 427 1 1000
1/864.10
1/864 4,28 1/635.10
0,427 0,001 1
15. RUMUS DAYA
1 FASA 3 FASA SATUAN
BEBAN SEIMBANG BEBAN TAK SEIMBANG
P = U.I.Cos
DAYA NYATA (REAL/AKTIF) P 3 = 3.Uf.If.Cos
Atau
P3 = 3.U .I .Cos
P3 = Pf + Pf + Pf , atau
P3 = Uf . If . Cosf +
Uf . If . Cosf +
Uf . If . Cosf
Dihitung per fasa
WATT
Q = U.I.Sin
DAYA BUTA ( REAKTIF )
Q 3 = 3.Uf.If.Sin
Atau
Q3 = 3.U .I .Sin
Q 3 = Pf + Pf + Pf , atau
Q 3 = Uf . If . Sinf +
Uf . If . Sinf +
Uf . If . Sinf
Dihitung per fasa
VAR
S = U.I.
DAYA SEMU
S 3 = 3.Uf.If
Atau
S3 = 3.U .I
VA
HUKUM OHM TETAP BERLAKU
16. DERAJAT LISTRIK
Pada mesin empat kutub , bahwa setiap kali putaran mesin, tegangan induksi yang ditimbulkan
sudah menyelesaikan dua siklus penuh, atau dengan kata lain satu siklus adalah 360o, sehingga
mesin itu mekaniknya berputar 2x360o=720o. Perputaran listrik itu secara umum dapat

dituliskan ;
dimana : e = sudut listrik
m = sudut mekanik
P = jumlah kutub ( jika p artinya
pasang kutub )
TERBANGKITNYA ARUS BOLAK-BALIK / ARUS TUKAR
17. GENERATOR ABB
Bedanya dengan arus searah yang mana besar dan arahnya tetap atau searah saja, sedangkan
Arus Bolak-Balik (ABB) dimana setiap saat besarnya tidak tetap, dan pada saat tertentu pula
arahnya akan berubah. ABB dibangkitkan oleh sumber generator.
Dalam generator ABB, biasanya mempunyai kumparan yang tetap dan yang berputar adalah
kutub-kutubnya (generator dengan kutub dalam).
Keuntungan konstruksi macam ini ialah, bahwa untuk pengambilan arus yang dibangkitkan dalam
kumparan tidak diperlukan cincin seret/slipring dan burstel-burstel sebagai hantaran luar dapat
dihubungkan padanya melalui klem-klem. Hal ini sangat penting artinya bagi generator-generator
tegangan tinggi atau arus kuat.
Bagian-bagian generator;
1. Rumah generator (body)
2. Lilitanstator dan inti stator
3. Lilitan jangkar rotor , inti rotor dan kutub
4. Cincin seret / slipring
5. Poros
6. Sikat arang
7. Terminal
8. Bantalan
9. Pendingin / kipas
10. Tutup
11. dll
kutub-kutub dari jangkar kutub diperkuat dengan dinamo arus searah yang dipasang satu poros
dengan generator ABB.
Jika jantera kutub berputar satu putaran, maka akan terjadi suatu perubahan aliran daya magnetis
yang serupa dengan apabila suatu lilitan diputar sekali sekeliling kutub-kutub.
Gambar : A
Perhatikan gambar diatas ;
Sikap a :
Arus daya magnetis tegak lurus terhadap bidang lilitan, sehingga jumlah garis-garis gaya yang
terkurung dalam belitan adalah paling besar (maksimal) dan ggl yang dibangkitkan adalah Nol.
Sikap b :
Arus daya magnetis sejajar dengan bidang lilitan sehingga jumlah garis-garis gaya yang terkurung
di dalamnya Nol dan ggl yang dibangkitkan dalam lilitan adalah maksimum.
Arah ggl dapat ditentukan dengan kaidah tangan kanan. Perlu di ingat bahwa dalam hal ini yang
berputar/bergerak adalah kutub-kutubnya.
Kita umpamakan kutub-kutubnya yang diam dan lilitannya yang berputar dengan arah berlawanan
dengan berputarnya kutub-kutub.
Pada sikap ini ggl yang dibangkitkan pada sisi lilitan yang berhadapan dengan kutub Utara
meninggalkan kita, dan yang berhadapan dengan kutub Selatan menuju pada kita.
Sikap c :
Jumlah garis-garis gaya yang terkurung dalam lilitan maksimal dan ggl yang dibangkitkan dalam
lilitan Nol.

Sikap d :
Jumlah garis-garis gaya yang terkurung dalam lilitan Nol dan ggl yang dibangkitkan maksimal,
tetapi arahnya berbalikan dengan sikap b, sebab sisi lilitan bagian atas pada sikap d berhadapan
dengan kutub Utara.
Sikap e :
Jumlah garis-garis gaya yang terkurung dalam lilitan kembali maksimal sehingga ggl yang
dibangkitkan dalam lilitan adalah Nol.
Perubahan besarnya ggl dan juga besarnya aliran selama jangka kutub berputar satu kali putaran,
digambarkan dengan suatu garis-garis lengkung seperti gambar diatas. Garis ini , yang berbentuk
garis lengkung sinus dapat dilukiskan seperti gambar dibawah.
Gambar : B
Mula-mula kita gambarkan sebuah lingkaran dengan jari-jari yang panjangnya diumpamakan
sebagai ggl maksimum. Jari-jari atau Vektor ini dimisalkan berputar satu kali dan arah yang
bertentangan dengan arah perputaran jarum jam dan pada sekeliling lingkaran itu terletak sisi
lilitan.
Jika vektor berada pada jam 0, maka lilitan berada pada sikap a dan ggl yang terbangkit adalah
Nol.
Setelah perputaran, vektor berada pada jam 3 dan ggl telah mencapai harga maksimumnya .
dan setelah perputaran lagi, vektor berada pada sikap pada jam b, maka ggl yang terbangkit
telah turun hingga mencapai harga Nol lagi. Garis-garis tegak lurus dan memperhubungkan titik
ujung vektor dengan garis menyatakan arah dan besarnya ggl yang terbangkit.
Dengan cara serupa itu dapat diketahui besar dan arahnya dari sikap-sikap vektor setiap saat.
Jika waktu selama terjadinya suatu perubahan tekanan yang sempurna kita bagi 12 bagian yang
sama, maka kejadian-kejadian itu semua dapat dilukiskan seperti terlihat pada gambar B.
SIFAT-SIFAT ARUS BOLAK-BALIK ( ABB )
1. ABB tidak dapat dipakai untuk pekerjaan kimia
2. ABB tidak dapat dipakai untuk pekerjaan suhu
3. ABB dapat dipakai untuk pekerjaan kemagnitan.
KEUNTUNGAN ABB
Tegangan dari generator dapat dibuat tinggi sampai 10 s.d 15 KV. Untuk pengiriman tenaga listrik,
tegangan generator tersebut dapat dinaikkan lagi dengan pertolongan transformator sampai 150
kV bahkan sampai pula 500 kV. Setelah sampai tujuan yang diinginkan, tegangan yang tinggi itu
diturunkan lagi dengan pertolongan transformator juga sesuai tegangan yang dikendaki.
Dengan demikian kerugian tegangan yang besar pada hantaran pengirim dapat dihindari.
Dari pertolongan transformator tersebut, dimana tegangan bisa diatur naik atau turun, maka
dalam hal ini transformator yang digunakan adalah transformator step-up atau step-down.
18. NILAI EFEKTIF DARI KUAT ALIRAN DAN TEKANAN
Apabila melalui suatu pesawat pemanas gbr.a) mengalir suatu aliran tukar yang mempunyai nilai
maksimum 30 A, maka nilai aliran tukar akan berubah diantara 0-30 A. Dan gambar b) ,
memperlihatkan jalannya aliran tukar ini selama kala. Alat pengukur Ammeter ternyata hanya
menunjuk suatu harga aliran sebesar 21 A, dan ini dinamakan Kuat Aliran Efektif atau Nilai
Guna dari aliran tukar.
Sehingga nilai efektif dari aliran tukar itu adalah kira-kira 0,7 atau 1/2 kali besarnya kuat aliran
maksimum, atau dapat dituliskan rumus :
Dan dari itu
Hal serupa juga berlaku pada tekanan aliran, dan ternyatalah bahwa ;

Nilai tekanan efektif sudah diketahui secara umum, tetapi harus diperhatikan juga besarnya nilai
tekanan maximum, lebih-lebih pada tekanan-tekanan yang tinggi karena akan berhubungan
dengan penentuan besarnya penahan/tahanan-tahanan isolasi suatu penghantar.
Jika tidak ada petunjuk-petunjuk lain, maka besarnya harga-harga untuk tekanan dan aliran tukar
selalu kita tafsirkan sebagai nilai efektif.
Dari percobaan-percobaan diatas ternyata bahwa selama jangka waktu perjalanan yang sama,
besarnya kuat arus efektif dari aliran tukar sebesar 21 A itu menimbulkan suatu kalor (panas)
yang sama banyaknya dengan kuat aliran rata dari 21 Ampere juga.
Untuk menentukan banyaknya panas yang terjadi dari aliran tukar , berlaku pula Hukum Joule,
yaitu dengan rumus :
19. LINGKARAN ALIRAN TUKAR DENGAN MUATAN BEBAS INDUKSI
Apabila aliran listrik dalam aliran rata diputuskan dengan tiba-tiba, maka perubahan aliran yang
mengalir akan besar dan terbangkitlah suatu ggl induksi sendiri, yang kadang-kadang sangat
besar, sehingga percikan-percikan bunga api listrik.
Di dalam suatu lingkaran aliran tukar akan selalu terbangkit ggl induksi sendiri secara terus
menerus, disebabkan oleh karena aliran tukar itu selalu berubah kuatnya.
Jika pada lingkaran aliran tukar yang semata-mata hanya terdapat lampu-lampu pijar, pesawatpesawat pemanas , dsbnya, yang hanya mempunyai penahan-penahan ohm saja, maka pada
waktu aliran tukar dialirkan dengan semisal frekuensi 50 Hz, maka tidak akan terbangkit suatu ggl
/ DEM yang nyata.
Pesawat-pesawat yang dihubungkan pada suatu tekanan bolak-balik dan di dalamnya tidak
terdapat adanya gejala-gejala induksi sendiri yang nyata, maka pesawat-pesawat itu dinamakan
Pesawat Yang Bebas Induksi.
Besarnya kuat arus dalam setiap saat dapat dihitung dengan jalan membagi besar tekanan pada
setiap saat dengan tahanan. Dan ini ternyata bahwa kuat aliranpun berubah menurut garis
lengkung, yang sesuai dengan garis lengkung tekanan.
Jadi,kuat aliran itu, juga selalu berubah menurut garis sinus, yaitu dari harga Nol sampai :
dan, dengan melihat Hukum Ohm, maka :
20. INDUKSI SENDIRI DAN PERKISARAN FASA
Jika dalam suatu lingkaran kumparan dialirkan aliran tukar gambar 20.a, maka aliran yang
terdapat pada lilitan-lilitan akan selalu berubah arahnya, sehingga aliran daya magnetis yang
terbangkit di dalam kumparan itu juga akan selalu berubah kuat dan arahnya.
Aliran daya magnetis yang berubah-ubah ini akan mengakibat ggl/DEM induksi sendiri di dalam
kumparan yang mana juga dapat bertambah atau berkurangnya kuat aliran.
Didalam suatu lingkaran aliran tukar gejala induksi itu selalu timbul, oleh karenanya kuat aliran
akan mencapai nilai-nilai maksimalnya dan selain dari itu akan mengikuti (mengiring) jalannya
tekanan seperti terlukis pada gambar 20.b. dimana garis lengkung aliran bergeser kekanan
terhadap lengkung tekanan.
Hal serupa itu dikatakan bahwa , Aliran berkisar dalam fasa terhadap tekanan.
Pesawat-pesawat yang dimana timbul gejala-gejala induksi sendiri dinamakan : Pesawat
Induktif.
Pada suatu muatan induktif, aliran dan tekanan selalu berkisar dalam fasa, yang mana aliran
mengiring/mengikutu tekanan. Perkisaran fasa itu akan menjadi besar, apabila induksi sendiri
bertambah besar. Besarnya perkisaran itu umumnya dinyatakan dengan huruf yunani ( phi ) dan
diukur dengan derajat listrik.
Dalam gambar 20.b. garis lengkung tekanan dan garis lengkung aliran dilukiskan sedemikian rupa,
sehingga perkisaran fasa adalah 1/12 x 360o = 30 o listrik.
Jika kumparan dari contoh diatas itu dilengkapi dengan suatu teras baja lunak yang tertutup
( gambar 20.c.), maka induksi sendiri akan menjadi sangat besar. Perkisaran fasa yang terjadi
dapat kita anggap sedemikian besarnya, sehingga tekanannya menjadi nilai maksimal pada saat
harga aliran sama dengan Nol dan mulai mengalir kearah yang bersamaan dengan arah tekanan

itu (gambar 20.d).


Setelah kala, tekanan itu mencapai harga Nol dan aliran mencapai harga maksimalnya. Dalam
hal serupa ini dikatakan bahwa perkisaran fasa = 90o.
Didalam prakteknya hanyalah mungkin tercapai suatu perkisaran fasa yang sangat mendekati nilai
itu, untuk mencapai 90o tepat sangatlah tidak mungkin.
Dalam hal yang demikian ini besarnya tahanan ohm haruslah sedemikian kecilnya, sehingga
bolehlah diabaikan saja. Hal serupa ini dinamakan suatu muatan induktif yang sempurna , jadi ;
Pada suatu muatan induktif yang sempurna, aliran mengiring/mengikuti pada 90o.
21. HARGA RATA-RATA
Harga rata-rata untuk tegangan ac ditulis Erata-rata dan untuk arusnya Irata-rata .
Harga rata-rata untuk garis lengkung berbentuk sinus dicari selama periode. Sebab kalau dicari
dalam 1 periode harga rata-ratanya = 0 (luas bidang bagian positip atau yang diarsir tegak sama
dengan luas bidang bagian negatip yang diarsir mendatar.
Yang diartikan harga rata-rata seperti gambar diatas ialah tinggi bidang berbentuk segi empat,
yang luasnya sama dengan luas bidang yang dibatasi garis lengkung bentuk sinus selama
periode, dan menurut perhitungan Ilmu Pasti bahwa harga harga itu dapat dihitung dengan
rumus:
a. Untuk tegangan : E rata-rata =
b. Untuk arus : I rata-rata =
Contoh 1 :
Tegangan bolak-balik bentuk sinus mempunyai harga maksimum 140 Volt. Berapa harga rata-rata
dan harga efektifnya?
Jawab: a. E rata-rata =
b. E efektif =
22. HARGA DARI FAKTOR PUNCAK ( ft )
Faktor puncak ialah faktor bagi dengan maksimum harga efektif, sehingga rumusnya;
23. HARGA DARI FAKTOR BENTUK ( fb )
Faktor bentuk ialah hasil bagi dari harga efektif dengan harga rata-rata, sehingga rumusnya :
Contoh 1: Pada saat 1/6 periode harga tegangan = 80 V. Berapa harga rata-rata dan harga
efektifnya?
Jawab : e = 80 V selama 1/6T
e = Em.Sin
Catatan :
1. Faktor bentuk sangat penting untuk menentukan konstuksi kutub magnit supaya dapat
membangkitkan ggl bentuk sinus.
2. Untuk penulisan harga efektif pada index ef tidak perlu ditulis, karena harga listrik yang dipakai
konsumen adalah menunjukkan harga efektifnya. Cukup ditulis untuk tegangan E dan untuk arus I
saja.
3. Kalau besaran bentuk sinus diukur dengan pesawat ukur dan harga yang ditunjukkan oleh
pesawat ukur itu ialah menunjukkan harga efektifnya. `
24. HARGA-HARGA PADA ARUS BOLAK-BALIK 1 FASA
A. Harga sesaat : yaitu harga pada saat tertentu pada gelombang sinusoida
( saat t1 e1 , t2 e2 , t3 e3 , .dstnya)
Karena a = .t , maka harga sesaat arus, adalah i = Imax.Sin .t
B. Harga Maksimum : yaitu harga paling tinggi pada gelombang sinusoida.
C. Harga Efektif : yaitu harga yang ditunjukkan oleh alat ukur bolak- balik,

D. Harga Rata-rata : yaitu harga rata-rata Arus Bolak-Balik pada setengah


sinusoida ,
E.Harga faktor bentuk =
Jadi, faktor bentuk = 1,1
dan, untuk faktor konstantanya = 4,4.
25. KALA DAN FREKUENSI
Jika jangkar kutub berputar satu kali putaran, gaya gerak listrik (ggl) dan arus yang dinduksikan di
dalam kumparan stator berubah dari Nol menjadi maksimum positip menjadi Nol maksimum
negatip dan kembali ke Nol ( untuk 2 kutub). Waktu terjadinya perubahan penuh dari ggl dan arus
ini disebut KALA. Satu kala bila dibagi menjadi 360 bagian yang sama, masing-masing bagian
disebut SATU DERAJAT LISTRIK ( 1o LISTRIK).
Jadi, 1 KALA = 360 DERAJAT LISTRIK
( 1 KALA = PERIODE CYCLE ).
Jika pada 1 detik jangkar kutub berputar 1x putaran, maka waktu terjadinya 1 Kala adalah 1 detik.
Jika jangkar kutub itu berputar 2x putaran, maka waktu terjadinya 1 Kala adalah detik dan
dalam 1 detik terjadi 2 Kala.
Dan apabila jangkar kutub berputar 25x lebih cepat, maka waktu terjadinya 1 Kala adalah 1/25
detik, atau dalam 1 detik terjadi 25 Kala.
Banyaknya Kala yang terjadi dalam 1 detik disebut FREKUENSI aliran tukar.
Dan sudut yang dijalani oleh putaran jangkar kutub pada setiap detik dinamakan KECEPATAN
SUDUT, yang dinyatakan dengan (OMEGA).
Kecepatan sudut ini () biasanya tidak dinyatakan dalam derajat listrik tetapi dalam RADIALRADIAL.
RADIAL adalah suatu sudut yang besarnya bersamaan dengan jari-jari r, oleh karena keliling
lingkaran adalah sama dengan 2. .r. Jadi suatu sudut dari 360o listrik ( 1Kala ) adalah = 2. radial
listrik.
Untuk suatu frekuensi (f), besarnya kecepatan sudut listrik atau apa yang dinamakan FREKUENSI
LINGKARAN , menjadi :
= 2. . f RUMUS.
Atau nilai = 2. . f = 2 x 3,14 x 50 = 314.
Karena frekuensi yang digunakan di Indonesia adalah 50 Hz.
26. PENGERTIAN FREKUENSI
f = f Hz , artinya dalam 1 detik menghasilkan f gelombang, atau 1 gelombang membtutuhkan 1/f
detik.
f = 50 Hz , artinya dalam 1 detik menghasilkan 50 gelombang, atau 1 gelombang membutuhkan
waktu 1/50 detik.
Padahal 1 gelombang waktunya = T detik. Jadi ;
Dari rumus diatas, dan rumus karena ,
Sehingga rumusnya menjadi ; Jadi nilai = 2 x 3,14 x 50
= 314
Jika frekuensi yang berlaku adalah 50 Hz, yang mana besaran frekuensi 50 Hz adalah frekuensi di
Indonesia.
Definisi Frekuensi
Ialah jumlah perubahan arah arus perdetik, atau jumlah sinusoida perdetik.
f = 50 Hz , artinya 1 detik terjadi 50 x perubahan arus , atau
1 detik sebanyak 50 gelombang sinusoida.
Dari persamaan derajat listrik diketahui bahwa untuk setiap satu siklus tegangan yang dihasilkan
mesin menyelesaikan kali putaran. Karena itu frekuensi gelombang tegangan adalah
dimana, e = sudut listrik
m = sudut mekanik

P = jumlah kutub ( jika p artinya pasang kutub )


n = rotasi permenit ( rpm )
= rotasi perdetik ( rps )
Kecepatan sinkron untuk mesin arus bolak-balik lazimnya dinyatakan dengan ;
Jadi, misalnya untuk generator sinkron yang bekerja dengan frekuensi 50 c/s dan mempunyai
jumlah kutub ( p=2 ), kecepatan berputar mesin tersebut adalah ;
Catatan : 50 c/s ( cycle/second = 50 Hz = 50 putaran/detik).
Jadi, 1 putaran = 1 pasang kutub = 1 periode = 1 detik = 1 frekuensi
Rumus :
1 periode
1 periode
1 periode
1 periode
1 periode

dalam
dalam
dalam
dalam
dalam

waktu
waktu
waktu
waktu
waktu

1 detik , maka frekuensinya = 1 Hz


detik , maka frekuensinya = 2 Hz
2 detik , maka frekuensinya = Hz
1 menit , maka frekuensinya = 1/60 Hz
50 detik , maka frekuensinya = 1/50 Hz

Sehingga ;
dimana karena
Putaran dalam 1 menit = 60 detik.
atau, ingat p huruf kecil, artinya untuk pasang kutub.
ingat P huruf besar, artinya untuk jumlah kutub.
(dimana perbedaannya pada Pasang dan Jumlah).
Jadi, untuk pasang kutub karena ;
untuk jumlah kutub P=1/2 p , dan
untuk pasang kutub p = 2 P
untuk jumlah kutub
Dari rumus XL pada arus tukar, yaitu , dimana L=1 Henry , maka
maka
Sehingga, bila f = 50 Hz , maka XL = 314
f = 25 Hz , maka XL = 150
f = 10 Hz , maka XL = 62,8
f = 5 Hz , maka XL = 30
f = 0 Hz , maka XL = 0
Kesimpulan ; f makin tinggi , maka XL makin besar
Dari rumus XC pada arus tukar, yaitu , jika C = 10 F , maka
Sehingga, bila f = 50 Hz , maka XC = 318
f = 25 Hz , maka XC = 636,6
f = 10 Hz , maka XC = 1591
f = 5 Hz , maka XC = 3183
f = 0 Hz , maka XC = 1 M
Kesimpulan ; f makin tinggi , maka XC makin kecil
f makin kecil , maka XC makin besar

Bottom of Form