Anda di halaman 1dari 26

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
I. Pendahuluan
Pelayanan kesehatan di Rumah Sakit merupakan bagian integral
yang tidak dapat dipisahkan dari pelayanan kesehatan secara
keseluruhan. Dan struktur organisasi dan tata kerja merupakan
gambaran falsafah participative governance, artinya tiap sub unit
atau seksi saling berpartisipasi, saling memperkuat, birokrasi tak
panjang hingga cepat memperoleh akses yang diperlukan,
transparan artinya terbuka dalam laporan maupun informasi hingga
dapat dipertanggung jawabkan, akuntabel, pemerataan hak dan
keadilan yang semuanya difokuskan untuk produktivitas dan
kelestarian lab. klinik, kepuasan pengguna jasa dan kesejahteraan.
UU No. 23 / 1992 tentang kesehatan menjadi landasan hukum untuk
pelaksanaan peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Berkaitan
dengan pengukuran mutu pelayanan kesehatan tersebut, ada 3
variabel yang dapat digunakan untuk mengukur mutu, yaitu :
1. Input (struktur), ialah segala sumber daya yang diperlukan
untuk melakukan pelayanan kesehatan, seperti SDM, dana,
obat, fasilitas, peralatan , bahan, teknologi, organisasi,
informasi dan lain-lain. Pelayanan kesehatan yang bermutu
memerlukan dukungan input yang bermutu pula. Hubungan
input dengan mutu adalah dalam perencanaan dan
penggerakan pelaksanaan pelayanan kesehatan.
2. Proses, ialah interaksi professional antara pemberi layanan
dengan konsumen (pasien / masyarakat). Proses ini
merupakan variable penilaian mutu yang penting.
3. Output/outcome, ialah hasil pelayanan kesehatan, merupakan
perubahan yang terjadi pada konsumen (pasien/masyarakat),
termasuk kepuasan dari konsumen tersebut.

Cakupan kegiatan peningkatan mutu meliputi:


1. Kegiatan teknis laboratorium
a. pra-analitik, analitik dan pasca-analitik
2. Kegiatan administrasi
a. Pendaftaran pasien / specimen
b. Pelayanan administrasi keuangan
c. Pelayanan hasil pemeriksaan
3. Manajemen laboratorium
a. Pemberdayaan sumber daya
b. Penatalaksanaan logistic
c. Pemberdayaan SDM
Pendekatan yang dilakukan dalam upaya meningkatkan mutu
pelayanan laboratorium di Instalasi Patologi Klinik adalah :
Pendekatan tidak langsung
o Program
menjaga
mutu
(quality
assurance/quality
improvement), seperti pemeriksaan kontrol kualitas
(quality control), Pemantapan Mutu Internal (PMI),
Pemantapan Mutu Eksternal (PME)
o Quality Assesment, seperti akreditasi, ISO 9001:2000
o Total Quality Managemen (TQM)
o Pengembangan standar profesi, seperti seminar / kursus /
workshop / pelatihan, pendidikan berkelanjutan. Program
ini dilakukan baik untuk Pranata Laboratorium maupun
tenaga administrasi.
o Risk management, misalnya penanganan komplain dari
pelanggan.
o Program-program khusus, misalnya mengukur kepuasan

pelanggan melalui pemberian kuesioner.


Pendekatan pemecahan masalah
o Pemecahan masalah merupakan suatu proses siklus (daur)
yang berkesinambungan. Identifikasi masalah merupakan
bagian sangat penting dari seluruh proses siklus karena
akan menentukan kegiatan-kegiatan selanjutnya dari
pendekatan masalah. Masalah akan timbul apabila :
Terdapat penyimpangan antara hasil yang dicapai
(output) dengan standar yang adab.
Terdapat
ketidakpuasan
akan
penyimpangan
tersebut.
Organsiasi
laboratorium
klinik
rumah
sakit
sebaiknya
memperhatikan pilar-pilar organisasi untuk mencapai tujuan atau
sasaran. Sedikitnya ada sepuluh pilar yang perlu dimanfaatkan yaitu
:
1. Nilai (values)
2. Struktur (stuctures)
3. Kepemimpinan (leadership)
4. Proses manajemen (management pro- cesses)
5. Informasi (information)
6. Tata kerja dan kemitraan (procedures and partnership)
7. Kompetensi (competences)
8. Pengawasan (controls)
9. Kinerja (performance)
10. Pembayaran (pay).
SK menteri Kesehatan RI No. 983/Menkes/SK/XI/1992 tentang
pedoman organisasi rumah sakit umum, maka rumah sakit umum
harus menjalankan beberapa fungsi, satu diantaranya adalah fungsi
menyelenggarakan pelayanan penunjang medik dan non medik.
Bidang penunjang medik membawahi tiga buah seksi yaitu :
1. Seksi ketenagaan dan pengendalian mutu penunjang medik
2. Seksi pengembangan fasilitas penunjang medik
3. Seksi pemeliharaan fasilitas penunjang medik
II. Struktur Organisasi Laboratorium Klinik
Contoh struktur organisasi Laboratorium Klinik,

Pada contoh ini kepala lab. klinik mengkoordinasi delapan kegiatan,


mengimplementasikan good participative governance untuk
pengembangan dan kelestarian Laboratorium Klinik, tiga kotak di
atas merupakan sekretariat, sedang lima kotak di bawah merupakan
kegiatan fungsional lab. pra- analitik, analitik, pasca-analitik dan
pemantapan mutu internal serta eksternal.

Pada contoh ini Ketua lab. mengkoordinasi 4 kegiatan atau seksi


atau sub unit dalam lab. ditambah tugas keluar untuk
pengembangan lab. Di sini perlu sekretaris untuk kebutuhan
fungsional lab. yang mengkordinasi administrasi, keuangan, tarif,
informasi, promosi, pamasaran dan lain-lain.
III. Tata Kerja di Laboratorium Klinik
Tata kerja menggambarkan sistim aliran kegiatan dalam organisasi
dalam hal ini lab. hingga lab. tersebut berfungsi. Agar fungsi lab.
tersebut produktif, perlu diterapkan beberapa prinsip, proses,
deskripsi pekerjaan dan alur kerja.Prinsip tata kerja tersebut antara
lain adalah adalah sebagai berikut:
1. Security and safety:
a. Keamanan dalam tata kerja lab. pra-analitik, analitik,

2.

3.
4.
5.
6.
7.

8.

pasca-analitik.
b. Keamanan dalam tata kerja administrasi yang
memerlukan kerjasama,partisipasi dan tanggung jawab
karyawan tim yang berkaitan.
Simplicity :
a. Kesederhanaan prosedur administrasi hingga birokrasi
diperpendek dan prosedur tetap tes pra-analitik,
analitik, dan pasca analitik.
Efficiency & Effectiveness:
a. Semua bertanggung jawab atas kecepatan prosedur
tata kerja hingga dapat selesai tepat waktu.
Equity :
a. Keadilan dalamprosedur tata kerja antara lain tak
membedakan gender dan kaya miskin dalam pelayanan.
Quality :
a. Kualitas hasil tata kerja administrasi maupun hasil lab
harus baik.
Responsibility :
a. Tanggung jawab semua karyawan sesuai deskripsi
pekerjaaan dan tata kerja sesuai tugasnya.
Welfare :
a. Kesejahteraan karyawan maupun pengguna jasa
misalnya memberi kemu- dahan bagi yang tak mempu
untuk tetap meningkatkan kesehatan.
Sustainability :
a. kelestarian pengembangan fungsi lab. hingga terjadi
perbaikan berkelanjutan (continous improvement).

IV. Proses Tata Kerja


Tata kerja adalah aturan atau mekanisme fungsi unit, seksi atau sub
unit di lab. klinik dengan prinsip partisipatif, profesional dan
kebersamaan kerja untuk mencapai sasaran. Koordinasi menyeluruh
oleh kepala lab. dimulai dari perencanaan, pelaksanaan,
pengawasan dan evaluasi hasil. Untuk jelasnya diberikan
pengertian-pengertian sebagai berikut:
1. Koordinasi adalah suatu upaya/usaha pimpinan untuk
menyelaraskan kegiatan masing-masing petugas dalam
organisasi dengan maksud agar supaya semua kegiatan yang
terkait dapat diselesaikan tepat waktu sesuai rencana dengan
hasil tepat sasaran atau target. Hal ini dapat dilaksanakan
dengan jalan mengadakan rapat-rapat baik formal maupun
non formal yang membahas berbagai hambatan yang
dihadapi oleh berbagai petugas atau seksi/sub unit organisasi.
Dalam pembahasan tersebut diharapkan akan mencapai
kesepakatan bersama apa yang harus dilakukan agar dapat
mengatasi
hambatan-kelemahan
dan
meningkatkan
kesempatan-kekuatan
untuk
memperoleh
hasil
yang
memuaskan.
2. Perencanaan adalah proses atau kegiatan menetapkan apa

3.

4.

5.

6.

7.

yang akan kita kerjakan di masa yang akan datang baik


mengenai waktu, jumlah, dan mutunya dalam rangka
mencapai sasaran tertentu. Bila perencanaan tersebut dapat
dicapai dan diselesaikan dengan lebih baik dan rinci maka
tujuan usaha ini dapat dicapai dan diselesaikan dengan lebih
memuaskan karena dapat diselesaikan menurut urutan
tingkatan penting dan yang kurang penting. Perencanaan
biasanya dibagi menjadi jangka panjang misal untuk 10-25
tahun, jangka menengah untuk lima tahun dan jangka pendek
atau rencana tahunan.
Organisasi dan Pelaksanaan adalah pelaksanaan atau tata
kerja berdasarkan organisasi yang ada atau yang dibentuk,
semua kegiatan lab. klinik selama 24 jam (lab. pagi, sore dan
malam, lab. rawat darurat dan lab intensif). Pelaksanaan
kegiatan selalu berlandaskan efektivitas, efisiensi dan
produktifitas.
Efektivitas adalah evaluasi atau penilaian tentang apakah
kegiatan telah dilakukan sesuai dengan yang direncanakan
baik mengenai waktu kerja maupun mengenai mutu dan
volume kerja.
Efisiensi adalah suatu evaluasi terhadap suatu proses atau
kegiatan dengan jalan mengukur masukan (input) dengan
keluaran (output), atau antara sumber daya yang digunakan
dengan hasilnya, atau satuan biaya tertentu dengan hasilnya.
Produktivitas dapat didefinisikan dengan efisiensi penggunaan
sumber daya tertentu dalam menghasilkan output. Cara
pengukurannya antara lain adalah sebagai berikut:
a. Keluaran/hasil (output) per jam orang.
b. Keluaran/hasil (output per unit modal.
Pengawasan adalah segala upaya yang harus dilakukan oleh
atasan langsung dengan maksud agar segala sasaran atau
rencana yang ingin dilakukan dapat terlaksana dengan baik.
Upaya-upaya dilakukan dalam pengawasan itu banyak bentuk
serta variasinya. Apa saja yang harus diketahui agar supaya
pengawasan dapat dilakukan antara lain adalah sebagai
berikut:
a. Apa yang harus dikerjakan, misalnya: jumlah dan jenis
tes, mutu hasil tes, waktu yang tersedia
b. Sumber daya yang dipakai untuk pekerjaan atau tes
tersebut:
i. Tenaga kerja misalnya tenaga administrasi atau
analis.
ii. Bahan-bahan misalnya formulir permintaan dan
formulir jawaban tes.
iii. Peralatan operasional dan telah distandarisasi.
iv. Fasilitas lainnya misalnya aliran listrik dengan
tegangan tetap, air bersih, a.c., dll.
c. Proses dan progres/kemajuan:
d. Segera mengetahui bila terjadi hambatanApa yang

dilakukan dalam mengatasi hambatan itu: siapa yang


melakukan, bagaimana caranya, berapa biayanya,
kapan selesainya
e. Bila pekerjaan selesai:berapa waktu penyelesaiannya,
bagaimana mutu hasil tes, bagaimana biayanya
dibandingkan dengan biaya operasionalnya.
f. Bagaimana pekerjaan dapat lestari
i. Prasarana lab., air, listrik dan lain-lain baik.
ii. Sarana: alat, reagen dan lain-lain tersedia dan
diperkirakan tidak kadaluwarsa.
iii. SDM terlatih untuk tiap kegiatan tersedia.
g. Stabilitas ekonomi, politik dan keamanan yang
mendukung fungsi lab. klinik serta strategi pemasaran
yang berhasil untuk pengembangan lab.
8. Evaluasi Hasil adalah penilaian hasil kegiatan apakah sesuai
dengan perencanaan, apakah ada hambatan-kelemahan
hingga perlu analisis SWOT untuk mengurangi hambatankelemahan dan meningkatkan kesempatan kekuatan.
V. Deskripsi Pekerjaan
Deksripsi pekerjaan walaupun diuraikan dari Kepala Lab. atau Unit
Pelayanan Lab. sampai seksi atau sub unit terkecil sendiri-sendiri,
tetapi tetap ada kaitannya dengan seksi atau sub unit lainnyauntuk
mewujudkan
participative
governance
maupun
coorporate
governance setelah ada kesepakatan bersama.Di bawah ini
diberikan beberapa contoh deskripsi pekerjaan dan alur kerja
A. Deskripsi Pekerjaan Kepala Lab/Unit Pelayanan Lab.
Kepala Lab berfungsi sebagai kordinator pelaksanaan dan
pengembangan pelayanan lab. rumah sakit dan pelayanan
pendidikan serta memfasilitasi penelitian di unit laboraorium.
Dengan tugas-tugas:
1. Memimpin dan mengkoordinasikan kegiatan pelayanan
di laboratorium.
2. Merencanakan,
melaksanakan,
mengawasi
dan
mengendalikan kegiatan pelayanan lab. Rumah sakit,
pelayanan pendidikan dan penelitian di laboratorium.
3. Mengkoordinasikan
dan
memelihara
administrasi
pelayanan, keuangan, rekam medik,informasi, promosi
dan pemasaran sesuai dengan ketentuan perundangundangan yang berlaku.
4. Mengevaluasi dan membuat laporan tahunan dan
laporan berkala.
5. Memberikan pembinaan administrasi, pelatihan dan
manajemen kepada seluruh staf laboratorium.
Dan berwewenang:
1. Menentukan keputusan menyangkut kebijaksanaan
pelayanan dan pengembangan labortorium.

2. Mengusulkan program-program yang berkaitan dengan


pelayanan dan pengembangan laboratorium kepada
direktur rumah sakit.
3. Mengusulkan tambahan prasarana dan sarana sesuai
dengan kebutuhan laboratorium.
4. Mengadakan pertemuan koordinasi sedikitnya sekali tiap
bulan.
5. Memberikan teguran terakhir kepada staf yang
melakukan pelanggaran dan mengembalikan staf yang
bersangkutan kepada direktur rumah sakit bila teguran
terakhir tidak diindahkan.
Dan bertanggung jawab:
1. Bertanggung jawab kepada direktur rumah sakit atas
kelancaran pelaksanaan dan pengembangan pelayanan
laboratorium rumah sakit dan pelayanan pendidikan,
pelatihan serta penelitian di laboratorium.
2. Bertanggung jawab kepada direktur rumah sakit atas
pemasukan dan pengeluaran keuangan laboratorium.
B. Deskripsi
Pekerjaan
Kepala
Seksi
Sub
Unit
Administrasi, Keuangan dan Logistik
Bertindak selaku koordinator administrasi dan di bawah
supervisi kepala lab., merencanakan dan mengelola
administrasi, keuangan dan logistik laboratorium dan
bertugas:
1. Menangani sistem pencatatan dan distribusi surat
masuk dan surat keluar.
2. Membuat rencana kebutuhan/Rencana Kerja Anggaran
Perusahaan (RKAP) tahunan.
3. Menyusun laporan keuangan setiap bulan.
4. Bekerjasama dengan para kepala sub unit lainnya
menentukan kebutuhan-kebutuhan untuk pelayanan
laboratorium.
5. Berkoordinasi dengan kepala unit menentukan kontrak
kerjasama dengan rekanan berdasarkan perbandingan
harga produk/reagen yang digunakan.
Dan berwewenang
1. Menentukan
prioritas
kebutuhan/permintaan
dari
seksi/sub unit pelayanan baik darti segi keuangan
maupun logistik.
2. Atas
persetujuan
kepala
unit,
meminta
pertanggungjawaban kepala sub unit atas penggunaan
alat/reagen dan bahan habis lainnya.
C. Deskripsi Pekerjaan Kepala Seksi/Sub Unit Hematologi
Bertindak sebagai kordinatnor pelayanan, pengembangan dan
pendidikan, pelatihan serta penelitian dalam bidang
hematologi dan Bank Darah dan bertugas:
1. Mengawasi kelancaran pelayanan setiap hari di bidang

Hematologi dan Bank Darah.


2. Mengawasi kontrol kualitas tes-tes hematologi dan Bank
Darah setiap hari.
3. Melaksanakan pemantapan mutu internal setiap hari
dan mengikuti Pemantapan Mutu Eksternal (PME) secara
berkala.
4. Menentukan solusi atas permasalahan yang timbul di
seksi/sub unit Hematologi dan Bank Darah termasuk
masalah ketenagaan.
5. Mengupayakan pengembangan tes-tes Hematologi dan
pelayanan Bank Darah sesuai kebutuhan pengguna jasa.
6. Membimbing peserta pendidikan dan pelatihan serta
penelitian di bidang Hematologi dan Bank Darah.
7. Membimbing dan mengembangan penelitian di bidang
Hematologi dan Bank Darah.
Dan berwewenang:
1. Meminta fasilitas yang diperlukan untuk pelaksanaan
pelayanan di bidang Hematologi dan Bank Darah.
2. Mengusulkan perbaikan/penggantian sarana atau alat
yang dianggap bermasalah.
3. Mengusulkan pengadaan alat/metode baru untuk tes
Hematologi dan Bank Darah sesuai kebutuhan
pengguna jasa.
Dan bertanggung jawab:
1. Bertanggung jawab kepada kepala lab.atas kelancaran
dan kualitas hasil pelayanan laboratirum di bidang
Hematologi dan Bank Darah.
2. Bertanggung jawab atas pendidikan dan pelatihan serta
penelitian di bidang Hematologi dan Bank Darah.
VI. Alur Kerja
Alur kerja adalah tata kerja antara sub unit dengan beberapa unit
lainnya. Beberapa contoh tugas dan alur kerja
I.

Sub Unit Pelayanan, Pemeliharaan dan Sumber Daya


Manusia.:
a. Produktivitas pelayanan di seluruh lab. klinik.
b. Penyiapan form paket check up setelah disepakati oleh
unit fungsional diseragamkan dan diteruskan ke sub unit
administrasi.
c. Penyiapan form paket tiap penyakit yang diperlukan
pengguna jasa setelah disepakati oleh unit fungsional
diseragamkan dan diteruskan ke sub unit administrasi.
d. Penyiapan paket pelatihan dan pendidikan.
i. Manajemen umum lab. maupun khusus misalnya
keuangan.
ii. Teknik tes lab. misalnya untuk keperluan analis
medis, kepaniteraan, dan lain-lain.
Setelah disepakati oleh sub unit fungsional diteruskan

e.
f.
g.
h.
i.

ke kepala lab. untuk keputusan.


Menyiapkan
fasilitas
untuk
penelitian
dengan
persetujuan sub unit fungsional dan kepala lab. serta
mengatur hingga tak menganggu fungsi lain.
Pemeliharaan prasarana, dan sarana.
Mengatur mutasi staf intra lab.secara berkala.
Meneruskan permohonan cuti staf kepada kepala lab.
Memberikan teguran pertama lisan dan kedua tertulis
kepada staf yang tidak disiplin.

II.

Sub Unit Administrasi, Keuangan dan Logistik


a. Pengadaan form permintaan dan jawaban yang telah
disetujui kepala unit.
b. Pengadaan fasilitas pelatihan yang telah disetujui kepala
lab.
c. Fasilitasi penelitian yang telah disetujui kepala lab.
d. Pelaksanaan pelaporan administrasi dan keuangan pada
akhir minggu I tiap bulan.
e. Penyediaan logistik dengan mengusahakan tidak boleh
kadaluwarsa.
f. Pengadaan alat baru sesuai permintaan sub unit/seksi
dan pengguna serta persetujuan kepala lab.
g. Pembayaran honorarium paling lambat pada akhir
minggu 3 tiap bulan.
h. Memberikan teguran pertama lisan dan kedua tertulis
kepada stafnya yang tidak disiplin.
i. Penyiapan sangsi bagi karyawan yang tak disiplin
setelah disetujui kepala lab..
j. Penyiapan penghargaan bagi yang berjasa besar setelah
disetujui kepala lab..

III.

Sub Unit Rekam Medik, Infromasi dan Pemasaran


a. Menyiapkan pelaksanaan komputerisasi sistim informasi
lab. tentang:
i. hasil tes laboratorium untuk efektivitas pelayanan.
ii. administrasi, keuangan dan logistik untuk
pengawasan dan pengendalian.
b. Melaksanakan rekam medik dan analisis:
i. jumlah tes tiap bulan untuk evaluasi pelayanan
dan permintaan.
ii. jumlah 3 tes terbanyak dan 3 tes paling sedikit
tiap bulan untuk pertimbangan keputusan.
c. Strategi promosi dan pemasaran tes sesuai paket check
up dan targetnya.
d. Pemasaran tes sesuai paket penyakit dan targetnya.
i. internal ke unit pelayanan, komite medik/siang
klinik, unit pelayanan dan lain-lain.
ii. eksternal ke instansi lain, pertemuan ilmiah dan
lain-lain.

e. Pemasaran paket pelatihan dan targetnya.


i. Manajemen lab. klinik sesuai kebutuhan pengguna
jasa.
ii. Teknis tes lab. sesuai kebutuhan pengguna jasa.
f. Penyebaran lab. info dan dampaknya ke unit lain,
komitemedik, lain-lain dan follow up serta targetnya.
g. Memberikan teguran pertama lisan dan kedua tertulis
kepada staf yang tidak disiplin.
Tiap seksi/sub unit tersebut bertanggung jawab atas kegiatan praanalitik, analitik, dan pasca-analitik, pemantapan mutu internal,
eksternal serta tetap ada partisipasi antar seksi. Secara garis besar
tata kerja di lab. klinik dalam rangka good governance dapat
digambarkan seperti berikut:

Bersadarkan peraturan menteri kesehatan nomor 411/MENKES/PER7III/2010,


laboratorium klinik adalah laboratorium kesehatan yang melaksanakan pemeriksaan
spesimen klinik, untuk mendapatkan informasi tentang kesehatan perorangan
terutama untuk menunjang upaya diagnosis penyakit, penyembuhan penyakit, dan
pemulihan kesehatan. Spesimen klinik adalah bahan yang beasal dan/atau diambil dari
seluruh tubuh manusia untuk tujuan diagnosis, penelitian, pengembangan, pendidikan,
dan/atau analisis lainnya, termasuk new emerging dan re-emerging, dan penyakit
infeksi berpotensi pandemic.
Berdasarkan teknik yang digunakan, pemeriksaan laboratorium dibagi menjadi dua
jenis. Pemeriksaan teknik sederhana dan pemeriksaan teknik automatik.

Pemeriksaan teknik sederhana adalah pemeriksaan laboratorium menggunakan alat


fotometer, carik celup, pemeriksaan metode rapid, dan/atau mikroskopik sederhana
yang memenuhi standar sesuai ketentuan yang berlaku.
Pemeriksaan teknik automatik adalah pemeriksaan laboratorium menggunakan alat
automatic yang memenuhi standar sesuai ketentuan yang berlaku mulai dari tahap
melakukan pengukuran sampel sampai dengan pembacaan hasil.
Menteri adalah Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bldang
kesehatan.
Oleh karena itu, dengan adanya pemenuhan kebutuhan alat uji laboratorium klinik
yang terstandar akan meningkatkan mutu dan standar pelayanan laboratorium klinik.
Laboratorium klinik berdasarkan jenis pelayanannya terbagi menjadi:
a. Laboratorium klinik umum
merupakan laboratorium yang melaksanakan pelayanan pemeriksaan spesimen klinik
di bidang hematologi, kimia klinik, mikrobiologi klinik, parasitologi klinik. dan
imunologi klinik.
Laboratorium klinik umum sebagaimana dimaksud dalam diklasifikasikan menjadi:
1. laboratorium klinik umum pratama
a merupakan laboratorium yang melaksanakan pelayanan pemeriksaan
spesimen klinik dengan kemampuan pemeriksaan terbatas dengan teknik
sederhana.

2. laboratorium klinik umum madya


laboratorium yang melaksanakan pelayanan pemeriksaan spesimen klinik
dengan kemampuan pemeriksaan tingkat laboratorium klinik umum
pratama dan pemeriksaan imunologi dengan teknik sederhana.
3. laboratorium klinik umum utama
merupakan laboratorium yang melaksanakan pelayanan pemeriksaan
spesimen klinik dengan kemampuan pemeriksaan lebih lengkap dari
laboratorium klinik umum madya dengan teknik automatik.

b. Laboratorium klinik khusus


merupakan laboratorium yang melaksanakan pelayanan pemeriksaan spesimen klinik
pada satu bidang pemeriksaan khusus dengan kemampuan tertentu.
Laboratorium klinik khusus terdiri atas:
1. laboratorium mikrobiologi klinik
melaksanakan pemeriksaan mikroskopis, biakan, identifikasi bakteri.
jamur, virus, dan uji kepekaan.

2. laboratorium parasitologi klinik


melaksanakan identifikasi parasit atau stadium dari parasit baik secara
mikroskopis dengan atau tanpa pulasan. biakan atau imunoesai
3. laboratorium patologi anatomik
melaksanakan pembuatan preparat histopatologi, pulasan khusus
sederhana, pembuatan preparat sitologi, dan pembuatan preparat dengan
teknik potong beku.
Laboratorium klinik dapat diselenggarakan oleh pemerintah, pemerintah daerah, atau
swasta.
Laboratorium klinik yang diselenggarakan oleh pemerintah atau pemerintah daerah
berbentuk unit pelaksana teknis di bidang kesehatan, instansi pemerintah, atau
lembaga teknis daerah.
Laboratorium klinik yang diselenggarakan oleh swasta harus berbadan hukum.
Laboratorium klinik harus memasang papan nama yang memuat nama, klasifikasi,
alamat, dan nomor izin sesuai ketentuan yang berlaku.
Laboratorium klinik mempunyai kewajiban:
1. melaksanakan pemantapan mutu internal dan mengikuti kegiatan
pemantapan mutu eksternal yang diakui oleh pemerintah,
2. mengikuti akreditasi laboratorium yang diselenggarakan oleh Komite
Akreditasi Laboratorium Kesehatan (KALK) setiap 5 (lima) tahun;
3. menyelenggarakan upaya keselamatan dan keamanan laboratorium;
4. memperhatikan fungsi sosial;
5. membantu program pemerintah di bidang pelayanan kesehatan kepada
rnasyarakat; dan
6. berperan serta secara aktrf dalam asosiasi
7. laboratorium kesehatan.
Laboratorium klinik hanya dapat melakukan peiayanan pemeriksaan spesimen klinik
atas permintaan tertulis dari:
1. fasilttas peiayanan kesehatan pemerintah atau swasta;
2. dokter;

3. dokter gigi untuk pemeriksaan keperluan kesehatan gigi dan mulut;


4. bidan untuk pemeriksaan kehamilan dan kesehatan ibu; atau
5. instansi pemerintah untuk kepentingan penegakan hukum.
Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku untuk laboratorium
patologi anatomik.
Laboratorium patologi anatomik hanya dapat melakukan pemeriksaan laboratorium
atas permintaan tertulis dari dokter spesialis patologi anatomi.
Laboratorium klinik harus memenuhi persyaratan lokasi, bangunan, prasarana,
peralatan, kemampuan pemeriksaan spesimen klinik, dan ketenagaan sesuai dengan
klasifikasinya.
Lokasi
Persyaratan lokasi harus memenuhi ketentuan mengenai kesehatan lingkungan dan
tata ruang.
Ketentuan mengenai kesehatan lingkungan mencakup upaya pemantauan
lingkungan, upaya pengelolaan lingkungan, dan/atau analisis dampak
lingkungan sesuai ketentuan peraturan perundang- undangan.
Ketentuan mengenai tata sesuai dengan peruntukkan lokasi yang diatur dalam
rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota, rencana tata ruang kawasan
perkotaan, dan/atau rencana tata bangunan dan lingkungan.
Bangunan, Prasarana, Peralatan dan Kemampuan Pemeriksaan
Laboratorium klinik harus mempunyai persyaratan minimal yang meliputi bangunan.
prasarana. peralatan. dan kemampuan pemeriksaan spesimen klinik sesuai dengan
klasifikasinya.

II. PERSYARATAN MINIMAL PERALATAN

III. PERSYRATAN MINIMAL KEMAMPUAN PEMERIKSAAN

Ketenagaan
Laboratorium klinik harus memenuhi ketentuan ketenagaan meliputi:
a. laboratorium klinik umum pratama:
1) penanggung jawab teknis sekurang-kurangnya seorang dokter dengan serttfikat
pelatihan teknis dan manajemen laboratorium kesehatan sekurang-kurangnya 3 (tiga)
bulan, yang dilaksanakan oleh organisasi profesi patologi klinik dan institusi
pendidikan kesehatan bekerjasama dengan kementerian kesehatan; dan
2) tenaga teknis dan administrasi, sekurang-kurangnya 2 (dua) orang analrs kesehatan
serta 1 (satu) orang tenaga administrasi.
b. laboratorium klinik umum madya :
1) penanggung jawab teknis sekurang-kurangnya seorang dokter spesialis patologi
klinik; dan
2) tenaga teknis dan administrasi, sekurang-kurangnya 4 (empat) orang analis
kesehatan dan 1 (satu) orang perawat serta 2 (dua) orang tenaga administrasi.
c. laboratorium klinik umum utama :

1) penanggung jawab teknis sekurang-kurangnya seorang dokter spesialis patologi


klinik; dan
2) tenaga teknis dan administrasi, sekurang-kurangnya 1 (satu) orang dokter spesialis
patologi klinik, 6 (enam) orang tenaga analis kesehatan dan 2 (dua) orang diantaranya
memiliki sertrflkat pelatihan khusus mikrobiologi, 1 (satu) orang perawat, dan 3 (tiga)
orang tenaga administrasi.
d. laboratorium mikrobiologi klinik:
1) penanggung jawab teknis sekurang-kurangnya seorang dokter spesialis
mikrobiologi klinik; dan
2) tenaga teknis dan administrasi, sekurang-kurangnya 1 (satu) orang dokter spesialis
mikrobiologi klinik, 2 (dua) orang analis kesehatan yang telah mendapat sertrfikasi
pelatihan di bidang mikrobiologi klinik, 1 (satu) orang perawat, dan 1 (satu) orang
tenaga administrasi.
e. laboratorium parasitologi klinik:
1) penanggung jawab teknis sekurang-kurangnya seorang dokter spesialis parasitologi
klinik; dan
2) tenaga teknis dan administrasi, sekurang-kurangnya 1 (satu) orang dokter spesialis
parasitologi klinik, 2 (dua) orang analis kesehatan yang telah mendapat sertrfikasi
pelatihan di bidang parasitologi klinik, 1 (satu) orang perawat ,dan 1 (satu) orang
tenaga administrasi.
f. laboratorium patologi anatomik:
1) penanggung jawab teknis sekurang-kurangnya seorang dokter spesialis patologi
anatomi; dan
2) tenaga teknis dan administrasi, sekurang-kurangnya 1 (satu) orang teknisi patologi
anatomi/analis/sarjana biologi, dan 1 (satu) orang tenaga administrasi.

Dokter penanggung jawab teknis laboratorium klinik umum pratama hanya


diperbolehkan menjadi penanggung jawab teknis pada 1 (satu) laboratorium klinik.
Dokter spesialis penanggung jawab teknis laboratorium klinik diperbolehkan menjadi
penanggung jawab teknis paling banyak 3 (tiga) laboratorium klinik.
Penanggung jawab teknis dapat merangkap sebagai tenaga teknis pada laboratorium
yang dlpimpinnya:

(1) Penanggung jawab teknis laboratorium klinik mempunyai tugas dan tanggung
jawab:
.

menyusun rencana kerja dan kebijaksanaan teknis laboratorium;

menentukan pola dan tata cara kerja;

memimpin pelaksanaan kegiatan teknis laboratorium;

melaksanakan pengawasan. pengendalian dan evaluasi kegiatan laboratorium;

merencanakan, melaksanakan dan mengawasi kegiatan pemantapan mutu;

memberikan pendapat terhadap hasil pemeriksaan laboratorium;

memberikan konsultasi atas dasar hasil pemeriksaan laboratorium; dan

memberikan masukan kepada manajemen laboratorium mengenai pelaksanaan


kegiatan laboratorium.

(2) Apabila penanggung jawab teknis laboratorium klinik tidak berada di tempat
secara terus menerus lebih dari 1 (satu) bulan tapi kurang dari 1 (satu) tahun, maka
laboratorium klinik bersangkutan harus memiliki penanggung jawab teknis sementara
yang memenuhi persyaratan dan melaporkan kepada instansi pemberi izin.

(3) Apabila penanggung jawab teknis tidak berada di tempat secara terus menerus
lebih dari 1 (satu) tahun, maka laboratorium yang bersangkutan harus mengganti
penanggung jawab teknis yang memenuhi persyaratan.
Dokter spesialis dan/atau dokter selaku tenaga teknis laboratorium klinik mempunyai
tugas dan tanggung jawab:

melaksanakan kegiatan teknis dan pembinaan tenaga analis kesehatan sesuai dengan
kompetensinya;

mengkoordinir kegiatan pemantapan mutu, pencatatan dan pelaporan;


c.

mengkoordinir dan melaksanakan kegiatan keamanan dan keselamatan kerja


laboratorium;

d.

melakukan komunikasi/konsultasi medis dengan tenaga medis lain.

Tenaga analis kesehatan dan tenaga teknis yang setingkat mempunyai tugas dan
tanggung jawab:
1

melaksanakan pengambilan dan penanganan bahan pemeriksaan laboratorium


sesuai stand a r pelayanan dan standar operasional p rosed ur;

melaksanakan kegiatan pemantapan mutu, pencatatan dan pelaporan;

melaksanakan kegiatan keamanan dan keselamatan kerja laboratorium; dan

melakukan konsultasi dengan penanggung jawab teknis laboratorium atau


tenaga teknis lain.

Perawat mempunyai tugas dan tanggung jawab :


a.
b.
c.
d.

melakukan tindakan untuk pengambilan spesimen klinik;


melakukan pertolongan pertama terhadap pasien;
melaksanakan kegiatan keamanan dan keselamatan kerja laboratorium;
melakukan konsultasi dengan penanggung jawab teknis laboratorium atau
tenaga teknis lain.

PERIZINAN
Setiap penyelenggaraan laboratorium ktinik harus memiliki izin.
(1) Izin penyelenggaraan laboratorium klinik umum pratama diberikan oleh Kepala
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
(2) Izin penyelenggaraan laboratorium klinik umum madya diberikan oleh Kepala
Dinas Kesehatan Provinsi atas rekomendasi Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota.
(3) Izin penyelenggaraan laboratorium klinik umum utama diberikan oleh Direktur
Jenderal Bina Pelayanan Medik atas rekomendasi Kepala Dinas Kesehatan Provinsi.
(4) Izin penyelenggaraan laboratorium klinik khusus diberikan oleh Direktur Jenderal
Bina Pelayanan Medik atas rekomendasi Kepala Dinas Kesehatan Provinsi.
Izin penyelenggaraan diberikan untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan dapat
diperpanjang untuk jangka waktu 5 (lima) tahun berikutnya dengan ketentuan
sepanjang memenuhi persyaratan.
Dalam hal hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), laboratorium klinik
yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan dalam Peraturan ini dapat dikenakan
tindakan administratif mulai dari teguran lisan sampai dengan pencabutan izin.
RUJUKAN
(1) Laboratorium klinik yang tidak dapat melaksanakan pemeriksaan di atas
kemampuan minimal pelayanan laboratorium yang telah ditentukan, harus merujuk ke
laboratorium klinik yang lebih mampu.
(2) Rujukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa rujukan sampel,
rujukan tenaga maupun rujukan alat.
(3) Laboratorium klinik rujukan harus melakukan pemeriksaan dan mengirimkan
hasilnya rangkap 2 (dua) kepada laboratorium pengirim/yang melakukan rujukan.
(4) Laboratorium klinik pengirim/yang melakukan rujukan harus mencantumkan
nama laboratorium rujukan pada hasil pemeriksaan dan menyimpan hasil pemeriksaan
rujukan asli.
(5) Laboratorium klinik yang melakukan rujukan sampel dari dan ke luar negeri
harus dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
PENCATATAN DAN PELAPORAN
(1) Setiap laboratorium klinik wajib melaksanakan pencatatan pelaksanaan kegiatan

laboratorium dan menyimpan arsip mengenai:


surat permintaan pemeriksaan;
hasil pemeriksaan;
hasil pemantapan mutu; dan
hasil rujukan.
(2) Setiap laboratorium klinik wajib memberikan laporan secara berkala setiap 3
(tiga) bulan kepada instansi pemberi izin mengenai kegiatan pelayanan sesuai
kebutuhan.
(3) Setiap laboratorium klinik wajib segera melaporkan hasil pemeriksaan
laboratorium untuk penyakit yang berpotensi wabah dan kejadian luar biasa kepada
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dalam waktu kurang dari 24 jam sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan.
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
(1) Menteri, Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, sesuai
dengan kewenangan masing-masing melakukan pembinaan dan pengawasan
penyelenggaraan laboratorium klinik dengan mengikutsertakan tenaga yang kompeten
dari Balai Besar Laboratorium Kesehatan atau Balai Laboratorium Kesehatan,
organisasi profesi, dan asosiasi laboratorium kesehatan.
(2) Dalam rangka pembinaan dan pengawasan. Menteri, Dinas Kesehatan Provinsi,
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangan masing-masing dapat
mengambil tindakan administrate.
(3) Tindakan administrate sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa:
teguran lisan;
teguran tertulis; atau
pencabutan izin.

References:
1. http://www.depkes.go.id
2. http://www.hukor.depkes.go.id
3. Hardjoeno, Organisasi dan Tata Kerja Laboratorium Klinik
Rumah Sakit, www.pdspatklin.or.id
4. Kuncoro, T., et. al., 1997, Manajemen Proses di Laboratorium
Klinik Menuju Produk yang Bermutu, Dalam : Sianipar, O. (ed),
1997, Prinsip-prinsip Manajemen Untuk Peningkatan Mutu

Pelayanan Laboratorium Patologi Klinik Rumah Sakit, Magister


Manajemen Rumah Sakit, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
5. Lewandrovsky, Kent, 2002, Clinical Chemistry : Laboratory
Management and Clinical Corellations, Lippincot William &
Wilkins, Philadelphia, USA.
6. Mulyadi, Bagus, et. al., 2001, Petunjuk Pelaksanaan Indikator
Mutu Pelayanan Rumah Sakit, Worl Health Organization
Direktorat Jendral Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI,
Jakarta.