Anda di halaman 1dari 11

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Subhanahu Wataala, semoga shalawat dan


salam-Nya terlimpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi
Wasallam. Dan seluruh kerabatnya, sahabat, serta orang-orang yang
mengikuti jejaknya hingga akhir zaman.
Makalah ini diajukan sebagai pemenuhan tugas terstruktur demi
tercapainya sebuah mata kuliah Fiqih Ibadah yang membahas tentang
Wudhu.
Dan kami ucapkan terimakasih kepada Ibu Siti Rakhmah, S.HI.
Sebagai dosen mata kuliah Fiqih Ibadah dan semua pihak yang telah
mendukung dalam pembuatan makalah ini, atas doa dan dukungan yang
memberikan semangat dan kekuatan, sehingga makalah ini dapat
terselesaikan tepat pada waktunya.
Makalah ini tentunya masih sangat jauh dari kesempurnaan yang
semestinya. Karena pengetahuan yang kami miliki sangat terbatas. Oleh
karena itu, kami sangat berharap kritik dan saran yang sangat konstruktif
demi kesempurnaan makalah-makalah kami yang lainnya.

DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR ..............................................................................................
DAFTAR
ISI ............................................................................................................
BAB I :
PENDAHULUAN .......................................................................................
1.1 Latar
Belakang ......................................................................................................
1.2 Rumusan Masalah
1.3
Tujuan ......................................................................................................
BAB II :
PEMBAHASAN ........................................................................................
2.1
Wudhu.....................................................................................................
BAB III : PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2
Saran .......................................................................................................
DAFTAR
PUSTAKA ...............................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam hukum islam, soal bersuci dan segala seluk-beluknya adalah
amalan yang sangat penting, karena rukun islam yang kedua ialah shalat,
shalat tidak sah kecuali dengan thoharoh, yakni wudhu. Seorang muslim
wajib mengetahui hal tersebut, Mulai dari hukum, syarat-syarat, serta tata
cara pelaksanaannya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan wudhu secara bahasa dan istilah?
2. Apa saja syarat, rukun, dan sunnah wudhu?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui dan memahami pengertian wudhu secara bahasa


dan istilah.
2. untuk mengetahui syarat, rukun, dan sunnah wudhu.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Wudhu
Menurut lughat, wudhu adalah perbuatan, menggunakan air pada

anggota tubuh tertentu disertai dengan niat maupun tidak. Kata ini
berasal dari wadhaah yang berarti baik, dan bersih. Dalam istilah syara
wudhu ialah perbuatan tertentu yang dimulai dengan niat tertentu.1
Menurut hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, wudhu
diwajibkan sebelum hijrah, pada malam Isra Miraj, bersamaan dengan
kewajiban sholat lima waktu. Mula-mula wudhu itu diwajibkan setiap
hendak melakukan sholat, tetapi kemudian kewajiban itu dikaitkan dengan
1 Abbas Arfan Lc, Fiqih Ibadah Praktis, hlm. 15

keadaan berhadast.Ijma ulama dalam hal ini belum ada sekali pendapat
yang mengatakan wudhu tidak wajib. Allah Subhanahu Wa Taala
berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan


shalat,maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan
sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki.
Jika kamu junub maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam
perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh
perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, bertayammumlah
dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan
debu itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak
membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar
kamu bersyukur (al-Maidah:6)
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:











Allah tidak menerima salat seseorang kamu bila ia berhadats, sampai ia
berwudhu. (HR. Baihaqi, Abu Daud dan Tirmizi).
A. Syarat Fardhu Wudhu
1. Islam, karena wudhu itu termasuk ibadah, maka tentu saja ia
tidak sah kecuali dilakukan oleh orang muslim,

2. Mumayyiz, karena wudhu itu merupakan ibadat yang wajib


diniati, sedangkan orang yang tidak beragama islam dan orang yang
belum mumayyiz tidak diberi hak untuk berniat
3. Air mutlaq
4. Tidak yang menghalangi sampainya air ke kulit, seperti getah dan
sebagainya
5. Tidak berhadast besar
6. Masuk waktu sholat (khusus bagi orang yang hadastnya
berkepanjangan).
7. Tahu akan kefardhuan wudhu
8. Tidak mengiktikadkan fardhunya wudhu sebagai hal yang sunnat
9. Di anggotanya tidak terdapat sesuatu yang bisa merubah air.
10. Terus menerus bagi orang yang tidak pernah berhenti
hadastnya.
B. Fardhu (rukun) wudhu
1. Niat
Niat artinya menyengaja (qashd) sesuatu serentak dengan
melakukanya. Tempat dan pelaku niat itu adalah hati, namun sunnah
menyertainya dengan ucapan lisan untuk membantu pernyataan sengaja
yang didalam hati. Sedangkan menurut syara adalah berkehendak atas
sesuatu disertai dengan tindakan.2
Niat berfungsi membedakan antara :
a. Pebuatan ibadah dengan bukan ibadah

2 Abdul Aziz Muhammad Azam, Abdul Wahhab Sayyed Hawwas, Fiqih Ibadah.
Hlm. 35

b. Tingkatan-tingkatan ibadah, yakni antara fardhu dengan yang


sunnah,
2. Membasuh Muka
Berdasarkan Q.S Al Maidah:6, batas muka yang wajib dibasuh ialah
dari tempat tumbuh rambut kepala sebelah atas sampai kedua tulang
dagu bagian bawah: lintangnya, dari telinga ke telinga: seluruh bagian
muka yang tersebut wajib dibasuh, tidak boleh tertinggal sedikitpun,
bahkan wajib dilebihkan sedikit agar kita terbasuh semuanya.
Bulu-bulu yang terdapat pada wajah terbagi dua macam:
a. Bulu yang menurut biasanya adalah tipis setipis alis mata, ini
wajib dibasuh luar dan dalamnya walaupun pada kenyataanya bulu itu
tebal
b. Bulu yang biasanya tebal, seperti janggut. Bila tipis wajib dibasuh
luar dan dalam, akan tetapi, jika tebal cukuplah membasuh bagian
luarnya saja. Ini didasarkan kepada hadist, bahwa rasulullah berwudhu
dan membasuh muka beliau dengan sedikit ciduk (ghurfah) saja.
3. Membasuh tangan sampai siku
Maksudnya, basuhan itu meliputi keseluruhan tangan dari ujung-ujung jari
sampai dengan kedua siku. Kedua siku termasuk bagian yang wajib
dibasuh.
4. Mengusap sebagian kepala
Walaupun hanya sebagia kecil, sebaiknya tidak kurang dari selebar ubunubun, baik yang disapu itu kulit kepala ataupun rambut.
5. Membasuh dua telapak kaki sampai mata kaki
Maksudnya, dua mata kaki wajib juga dibasuh. Seperti pada basuhan
lainya disini air mesti mencapai seluruh bagian dari kaki. Jika dikaki itu
terdapat sesuatu yang dapat menghalangi air, misalnya kotoran kuku,

maka wajib membuangnya terlebih dahulu agar ia benar-benar sampai


keseluruh kaki.
6. Tertib(berurutan)

C. Sunat Wudhu
1. Membaca basmalah pada permulaan wudhu
2. Membasuh kedua telapak tangan sampai pada pergelangan
tangan
3. Berkumur-kumur (madmadah)
4. Istinsyaq yakni memasukan air ke hidung kemudian
membuangnya
5. Meratakan sapuan keseluruh kepala
6. Menyapu kedua telinga luar dan dalam
7.Menyela-nyela janggut dengan jari
8. Mendahulukan yang kanan daripada yang kiri
9. Membasuh setiap anggota tiga kali
10.Muwalah yaitu berturut-turut antara anggota. Yang dimaksudkan
dengan berturut-turut disini ialah sebelum kering anggota pertama,
anggota kedua sudah dibasuh, dan sebelum kering anggota
kedua,anggota tiga sudah dibasuh pula, dan seterusnya.
11. Menghadap kiblat
12. Menggosok-gosok anggota wudhu,khususnya bagian tumit

13. Menggunakan air dengan hemat, tidak berlebih-lebihan


D. Hal-hal yang Membatalkan Wudhu
1. Keluarnya sesuatu dari qubul atau dubur, baik berupa zat atau
angin, yang biasa ataupun tidak biasa, seperti darah,baik yang keluar itu
najis ataupun suci, seperti ulat
2. Hilang akal, sebab mabuk atau gila
3. Tidur, kecuali dalam keadaan duduk yang pintu keluar anginya
tertutup dengan keadaan duduk yang tetap, maka tidak membatalkan
wudhu
4. Bersentuhan kulit laki-laki dengan kulit perempuan
Oleh karena itu dibatasi pada sentuhan :
Antara kulit dengan kulit
Laki-laki dan perempuan yang telah mencapai usia syahwat
Diantara mereka tidak ada hubungan mahram
Sentuhan langsung tanpa alas atau pengalang
5. Menyentuh kemaluan atau pintu dubur dengan telapak tangan
tanpa alas

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Setelah mempelajari makalah ini, dapat disimpulkan bahwa pengertian
wudhu adalah membasuh beberapa anggota tubuh tertentu dengan niat
mensucikan diri dari hadats kecil. Syarat wudhu ada beberapa yaitu Islam,
Air mutlaq, Tidak yang menghalangi sampainya air ke kulit, seperti getah
dan sebagainya, Tidak berhadast besar, Masuk waktu sholat, Tahu akan
kefardhuan wudhu, Tidak mengiktikadkan fardhunya wudhu sebagai hal
yang sunnat, Di anggotanya tidak terdapat sesuatu yang bisa merubah
air, Terus menerus bagi orang yang tidak pernah berhenti hadatsnya.
Fardhu wudhu ada beberapa hal, diantaranya niat, membasuh muka,
membasuh kedua lengan sampai dengan siku siku, membasuh sebagian
kepala, membasuh telapak kaki sampai mata kaki, dan tertib atau
berurutan.

DAFTAR PUSTAKA
Arfan, Abbas. (2011). Fiqih Ibadah Praktis. Malang: UIN-Maliki Press.
Azzam, Abdul Aziz Muhammad., Abdul Wahhab Sayyed Hawwas.
2015. Fiqih Ibadah. Jakarta: Amzah.