Anda di halaman 1dari 6

BAB V PERTANGGUNG JAWABAN PIDANA

5.1 Pengertian Pertanggung jawaban pidana dalam bahasa asing disebut sebagai “toerekenbaarheid” (Bld) “criminal responsibility” atau “Criminal Liability” (Ingg.). pertanggung jawaban pidana dimaksudkan untuk menentukan apakah seseorang terdakwa dipertanggungjawabkan atas suatu tindak pidana yang terjadi atau tidak. Apabila ternyata tindakkannya bersifat melawan hukum dan terdakwa mampu bertanggungjawab maka dipidana. Kemampuan bertanggung jawab tersebut memperlihatkan ksalahan dari petindak berbentuk kesengajaan ataukah kealpaan. Selanjutnya apakah tindakan terdakwa ada alasan pembenar atau pemaafannya atau tidak. Untuk dapat menentukan pemidanaan kepada pelaku tindak pidana haruslah dibuktikan unsur sebagai berikut:

a. Subyek harus sesuai dengan perumusan Undang-Undang

b. Terdapat kesalahan pada pelaku

c. Tindakannya bersifat melawan hukum

d. Tindakan itu dilarang dan diancam dengan pidana oleh undang-undang (dalam arti luas)

e. Sesuai dengan tempat, waktu dan keadaan lainnya yang ditentukan oleh undang-undang.

5.2 Non Compos Mentis Pasal 44 KUHP menentukan tindak dipidana seseorang yang melakukan suatu tindakan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kepadanya (non compos mentis), karena:

- Jiwanya cacat dalam pertumbuhannya (gagu, idiot, imbecile dan sebagainya) - Jiwanya terganggu karena penyakit (gila) terus-menerus atau temporaire.

Hukum Pidana – Endah Lestari D.,SH,MH.

1

Fakultas Hukum – Univ. Narotama Surabaya

Pembuat undang-Undang bertolak pangkal bahwa setiap orang bertanggung Jawab, karena setiap orang dianggap mempunyai jiwa yang sehat. Pasal 44 dirumuskan sebagai perkecualian dari hal tersebut.

5.3 Usia Belum Dewasa Pasal 45 KUHP menentukan batas usia dewasa bagi anak pelaku tindak pidana adalah 16 tahun, sebelum usia tersebut seseorang anak yang melakukan tindak pidana akan dijatuhi pidana yang berbeda dengan orang dewasa (pasal 45, 46 dan 47 KUHP yang dengan adanya UU no. 3 Tahun 1997 dinyatakan tidak beraku). Undang-undang menganggap setiap anak mampu bertanggung jawab asal jiwanya sehat. Namun ada pemahaman tentang kemungkinan untuk tidak memidana seorang anak karena alasan masih sangat muda sehingga belum dapat menginsafi tindakannya yang tercela.

5.4 Daya Paksa (overmacht) Pasal 48 KUHP mengatur mengenai tidak dipidananya seseorang bila melakukan tindakan karena didorongkan oleh daya paksa. Daya paksa terdiri dari 3 bentuk, yaitu:

1. Paksaan Mutlak (absolute dwang, physieke dwang, vis absolute) Si

terpaksa tidak dapat berbuat lain, selain dari pada apa yang dipaksakan kepadanya, yang berupa paksaan badaniah atau rohaniah. Contoh:

a. Seorang wanita yang diangkat oleh orang kuat dan dilemparkan kearah anak kecil hingga anak tersebut luka-luka

b. Seorang yang dihipnotisir untuk melakukan perbuatan yang melawan

hukum. 2. Paksaan relatief (relatieve dwang, vis compulsive) Dalam paksaan relatif seakan ada pilihan, namun pilihan tersebut sama- sama merupakan pilihan si pemaksa.

Hukum Pidana – Endah Lestari D.,SH,MH.

2

Fakultas Hukum – Univ. Narotama Surabaya

Contoh: seorang bankir yang ditodong oleh perampok dengan pistol supaya menyerahkan uang yang ada di kas. Secara teoritis dapat

dibayangkan masih ada pilihan bagi bankir tersebut antara menyerahkan uang atau membiarkan dirinya untuk ditembak. Tapi pilihan tersebut sama- sama pilihan yang tidak menguntungkan bankir tersebut.

3. Keadaan darurat (noodtoestand) Kejadian yang berhubungan dengan keadaan darurat sering dijumpai sebagai dalih pasal 48 KUHP untuk tidak dipidananya seseorang petindak (si terpaksa). Bila dibandingkan dengan paksaan relatief pada keadaan darurat siterpaksa memilih sendiri pilihan antara 2 tindakan atau lebih yang akan dilakukannya. (pada paksaan relatief lebih dipaksakan oleh si pemaksa). Contoh keadaan darurat pada kejadian-kejadian sebagai berikut:

1. Adanya dua kepentingan hukum yang bertentangan, dua orang yang terdampar, saling berebut sebilah papah pengapung yang hanya cukup untuk satu orang saja, salah satu mendorong lepas lainnya untuk menyelamatkan diri.

2. Adanya suatu kepentingan hukum bersamaan dengan kewajiban hukum yang lainnya yang saling bertentangan, seorang penjaga rel kereta api yang akan menutup palang pintu kereta, terpaksa lari untuk menyelamatkan diri dari serangan harimau, sehingga mengakibatkan terjadinya kecelakaan.

3. Adanya dua kewajiban hukum yang bertentangan dengan, seseorang pada saat yang sama harus menghadap ke pengadilan di dua kota yang berbeda, sehingga dia hanya menghadiri salah satu saja. Dia harus menentukan yang terpenting.

5.5 Pembelaan Paksa Pasal 49 KUHP mengatur mengenai pembelaan paksa. Sepanjang upaya pembelaan itu memenuhi unsur-unsur sebagai berikut:

1. Ada serangan yang bersifat melawan hukum dan kala itu

Hukum Pidana – Endah Lestari D.,SH,MH.

3

Fakultas Hukum – Univ. Narotama Surabaya

2. Ada pembelaan yang terpaksa dan diperkenankan yang dilakukan untuk diri atau kehormatan atau harta benda baik sendiri maupun orang lain. Objek serangan dan pembelaan, secara limitative ditentukan dalam pasal ini, unsur pokok serangan yang didahulukan sesuai dengan urutan kejadian. Tindakan serangan yang lebih dahulu terjadi dari pada pembelaan. Antara tindakan dan serangan dengan tindakan pembelaan harus ada hubungan sebab-akibat. Pembelaan haruslah ketika serangan atau ancaman serangan tengah berlangsung, apabila serangan telah berhenti maka pembelaan sudah tidak diperlukan lagi. Dalam hal serangan harus bersifat melawan hukum, apabila serangan penyidik menangkap seorang yang sedang melakukan kejahatan (tertangkap tangan), maka serangan (penangkapan) itu tidak bersifat melawan hukum. Contoh lain adalah serangan yang dilakukan oleh anjing pelacak polisi atas perintah tuannya untuk menyerang penjahat, bukan merupakan serangan yang bersifat melawan hukum.

5.6 Ketentuan Undang-Undang dan Perintah Jabatan Pada pasal 50 KUHP diatur mengenai peniadaan pidana bagi petindak yang berkaitan dengan ketentuan undang-undang. Tindakan yang apabila tidak diatur dengan ketentuan pasal 50 KUHP merupakan kejahatan. Tidak dibenarkan melakukan suatu tindakan berdasarkan hukum belaka. Contoh:

seorang yang berpiutang sebesar nilai dari piutangnya, walaupun ia berhak menagih atau berusaha supaya piutang-piutangnya dibayar oleh siberhutang.

5.7 Tindakan Berdasarkan Perintah Jabatan Pasal 51 berbunyi : tidak dipidana, berangsiapa melakukan suatu tindakan pelaksanaan perintah jabatan yang diberikan oleh penguasa yang berwenang untuk itu. Antara pemberi perintah dan pelaksana perintah harus ada hubungan dalam rangka perintah jabatan. Hubungan itu harus menurut hukum publik.

Hukum Pidana – Endah Lestari D.,SH,MH.

4

Fakultas Hukum – Univ. Narotama Surabaya

Posisi pemberi perintah harus didasarkan kepada ketentuan-ketentuan dari hukum publik, lebih tinggi dari pada posisi penerima perintah. Syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam perintah-jabatan, yaitu:

1. Ada hubungan antara pemberi perintah dengan pelaksana perintah yang didasarkan pada hukum publik. 2. Kewenangan pemberi perintah harus sesuai dengan jabatannya berdasarkan hukum publik tersebut. 3. Bahwa perintah yang diberikan itu termasuk dalam lingkungan kewenangan jabatannya. Contoh dari pasal ini adalah seorang jaksa yang memerintahkan regu penembak untuk menembak terpidana yang telah disetujui oleh Presiden pelaksanaan pidana matinya. Atau seorang kepala polisi lalu lintas, memerintahkan bawahannya untuk menahan dan membawa ke kantor polisi semua kendaraan yang tidak mempunyai surat-surat kendaraan.

5.8 Pengurangan dan penambahan pidana Dasar-dasar pengurangan pidana secara umum ditentukan dalam pasal 47 KUHP yang didasarkan pada usia belum dewasa. Mirip dengan hal itu ditemukan dalam pasal 53 (percobaan terhadap kejahatan) dan pasal 57 (pembantuan kejahatan), yang sebenarnya bukan pengurangan pidana dalam arti yang sebenarnya karena sesuatu hal tertentu. Pada buku III KUHP dan Undang-undang Hukum Pidana di luar KUHP, dasar pengurangan pidana pada pasal 305 dan 306 jo 308 KUHP didasarkan pada perasaan takut seorang ibu akan diketahui orang tentang kelahiran anaknya, mengurangi maksimum pidana separuhnya. Bandingkan dengan pasal 338 dan 340 KUHP.

5.9 Penambahan pidana di dalam dan di luar KUHP Asas umum untuk penambahan pidana dalam Bab III buku I KUHP ada 2 macam, yang diatur dalam pasal 52 dan 52a KUHP sebagai berikut:

Hukum Pidana – Endah Lestari D.,SH,MH.

5

Fakultas Hukum – Univ. Narotama Surabaya

a. Seorang pegawai negeri jabatannya, dan

b. Waktu melakukan kejahatan, menggunakan bendera kebangsaan Republik Indonesia

dari

penambahan pidana sebagai berikut:

a. Karena pengulangan (residiv)

b. Karena perbarengan atau gabungan (same loop)

c. Karena beberapa keadaan tertentu lainnya yang secara khusus ditentukan dalam beberapa pasal tindak pidana

d. Karena beberapa keadaan yang juga menjadi asas umum bagi suatu ketentuan hukum pidana khusus.

Selain

dari

melanggar

suatu

kewajiban

khusus

itu

dikenal

pula

beberapa

keadaan

yang

menjadi

dasar

Hukum Pidana – Endah Lestari D.,SH,MH.

6

Fakultas Hukum – Univ. Narotama Surabaya