Anda di halaman 1dari 25

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

2.1

Tinjauan Pustaka

2.1.1

Angkutan Sedimen

Termini, 2014 menyatakan bahwa perhitungan angkutan sedimen pada sungai alluvial kesulitan dalam mensimulasi program. Kesulitan dalam mensimulasi disebabkan initial condition sedimen yang tidak seragam. initial condition tersebut disesuaikan koefisien pada daerah yang diinginkan. Hasil simulasi program 1-D menunjukan hasil yang wajar. Hasil tersebut dapat digunakan sebagai aplikasi yang praktis dalam analisa angkutan sedimen.

Sungai Xiaobeiganliu mengalami pendangkalan akibat adanya ukuran sedimen melayang yang memiliki partikel besar dengan jumlah yang banyak. Hal ini akan mengurangi kemampuan transportasi sedimen pada daerah tersebut (Zheng, 2011).

Model numerik yang digunakan pada Sungai Yellow River Delta untuk mengetahui morfologi sungai akibat adanya angkutan sedimen yang berbentuk bed load adalah transport model (DIVASTSED). Analisa pada Sungai Yellow River Delta menggunakan perbandingan data tahun 1992 dengan 1995. Morfologi Sungai Yellow River Delta menunjukkan adanya perubahan pada muara sungai dengan rata-rata 2,5 km per tahun. Hasilnya menunjukkan adanya pergerakan ke arah laut (Chen, 2010).

Dalam menghitung angkutan sedimen, erosi, pengendapan digunakan model numerik HEC-RAS. Initial condition yang diisikan adalah hidrograf sedimen maupun grain size. HEC-RAS merupakan pengembangan dari model numerik Hec-1, hec-2 dan Unet (Stanfort, 2006).

Nur hidayah, 2013, menyatakan bahwa untuk mengetahui metode yang tepat memperkirakan besarnya angkutan sedimen di Sungai Bengawan Solo

6

(Jurug Serenan) dengan membandingkan hasil langsung uji dilapangan dan beberapa metode diantaranya Acker-White, Englund-Hunsen, Laursen, Meyer Peter Muller, Toffaleti dan Yang. Metode pendekatan yang mendekati dengan kondisi sungai di Jurug-Serenan adalah metode Meyer Peter Muller .

Menurut Junaedi, 2012, menyatakan bahwa besarnya angkutan sedimen tak berdimensi dapat digunakan persamaan Einstein. Persamaan Einstein berdasarkan pendekatan probabilistik pada sungai alluvial. Dalam memilih persamaan angkutan sedimen di lapangan berdasarkan karakterisrik sungai dan tingkat akurasi yang diharapkan dibutuhkan metode pendekatan. Metode pendekatan menggunakan berdasarkan penyebaran data-data pada grafik terhadap garis diagonal (line of perfect agreement) dan besarnya prosentase data pada rentang nilai discrepancy ratio. Metode yang digunakan antara lain; Graf & Suszka, Julien, Brown, Parker, Engelund et Fredsoe Meyer-Peter & Mueller, dan Recking Hasil yang mendekati hitungan Einstein adalah metode Graf & Suszka.

Perhitungan volume pengangkutan sedimen menggunakan rumus pendekatan Schocklitsch. Rumus tersebut memasukkan faktor kecepatan aliran (U) yang sangat berpengaruh pada terjadinya volume pengangkutan sedimen. Kecepatan aliran (U) semakin besar maka semakin besar pula angkutan sedimentasinya (Subary, 2005).

Feirani, 2011, menyatakan bahwa dalam mengatasi persoalan sedimen yang ada di muara Sungai Bang adalah dengan memanfaatkan bangunan jeti panjang dan mulut sungai selalu terbuka. Bangunan tersebut didasarkan pada pertimbangan kemudahan operasional dan pemeliharaan (O&P) dan analisis dampak lingkungan (amdal).

Penanganan sedimen yang ada di Bendung Colo dilakukan dengan analisa uji model hidraulik fisik (UMH fisik). UMH fisik pada Bendung Colo dilakukan dengan tinjauan morfologi sedimen. UMH fisik tersebut dilakukan berbagai modifikasi bangunan. Bangunan paling efektif adalah dengan menambahkan bangunan kantong lumpur (Jaji, 2006).

7

Dalam kajian ini yang membedakan dengan penelitian yang sudah dilakukan adalah pada kasus angkutan sedimen. Nilai angkutan sedimen Bendung Colo dilakukan adanya penggelontoran sedimen dari WPS.

2.1.2 Nilai kondisi fisik Intake Bendung

Penilaian kondisi fisik jaringan irigasi di Kali Jilu sebesar 78,09 % (baik) berdasarkan penerapan pola tata tanam dan penilaian pemberian air yang sesuai standar dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air tahun 2003. Pedoman tersebut menjelaskan apabila penilaian kondisi fisik > 70 % maka kondisi fisik Kali Jilu secara keseluruhan baik (Rini Wahyu, 2012).

Menurut Victor, 2012, menyebutkan bahwa sistem polder Kota Lama dan Bandarharjo Semarang mempunyai nilai kondisi fisik sebesar 50,02%. Nilai ini termasuk kategori cukup (diantara 50%-79%) yang artinya sebagian infrastruktur dalam kondisi rusak sehingga tidak beroperasi secara maksimal.

Menurut Ruslan, 2011, perilaku sedimen yang dianalisa di laboratorium pada saluran irigasi primer, sekunder dan tersier di Jaringan Irigasi Waru-Turi mempengaruhi perubahan luas penampang saluran. Hal ini menyebabkan berkurangnya kinerja pada saluran primer menjadi 76,93 %, sekunder 94,2 % dan saluran tersier 91,47%.

Penilaian kondisi fisik diterapkan pada Waduk Lodan berdasarkan standar pedoman penilaian kondisi fisik tahun 2010 dengan menambahkan sub komponen gardu pandang dan papan duga muka air didapatkan hasil penilaian 91,11% dengan kategori dalam kondisi baik. Hasil penilaian tersebut menjelaskan bangunan pada waduk beroperasi secara optimal (Yullius, 2014).

Penilaian kondisi fisik Bendung Colo kaitannya dengan sedimentasi akan difokuskan pada bagian bendung antara lain intake, pintu penguras yang berkaitan langsung dengan kinerja bendung.

Dalam kajian ini yang membedakan dengan penelitian yang sudah dilakukan adalah pada kasus angkutan sedimen. Nilai angkutan sedimen Bendung Colo dilakukan adanya penggelontoran sedimen dari WPS.

8

2.1.3 Konsep Penanganan Bendung

Penentuan pola pengoperasian pintu pembilas terhadap laju sedimentasi

tahunan pada Bendung Sei Tibun, Riau sebesar 13.320,65 m 3 /tahun. Sedimentasi diperlukan pembilasan secara rutin dan berkala setiap 8 bulan sekali. Pengoperasian satu pintu pembilas tinggi minimum bukaan pintu setinggi 31,7

cm selama 6 jam. Pengoperasian dua pintu pembilas, maka tinggi minimum

bukaan pintu masing-masing 15 cm dengan durasi yang sama (Imam Suprayogi,

2013).

Bendungan Sungai Ular, Deli Serdang mengaliri irigasi seluas 1.081 km 2 . Permasalahan yang terjadi adanya sedimentasi area pertanian. Hal ini menyebabkan tertutupnya 8 free intake dalam mensuplei air. Untuk mengetahui sedimen yang terjadi pada intake maupun salurannya maka dilakukan analisa dimensi saluran yang terdiri dari kedalaman air maupun koefisien kekasaran pada saluran. Koefisien kekasaran dari persamaan Manning 0,012 dan Stickler 42,5 yang mengakibatkan kecepatan aliran yang cukup kecil dan terjadi endapan sedimen pada intake (Jimmy, 2013).

Pengoperasian penggelontoran Waduk Penampung Sedimen (WPS) di Waduk Wonogiri dapat menurunkan besarnya deposisi netto sedimen yang terjadi pada waduk tersebut sebesar kurang lebih 30.41% bila dibandingkan dengan kondisi sebelum adanya WPS tersebut (Sardi, 2008).

Adanya perubahan kondisi Bendung Gerak Tirtonadi yang dipengaruhi oleh kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) mengakibatkan adanya sedimentasi

di hilir Bendung Tirtonadi. Perubahan kondisi tersebut menyebabkan kecepatan

aliran rata-rata 0,39 m/dt yang relatif rendah. Kecepatan aliran yang rendah

menyebabkan angkutan sedimen mengendap di hilir bendung. Untuk mengurangi sedimentasi tersebut diperlukan adanya penambahan kecepatan aliran dengan

melakukan penyempitan alur sungai di bagian hulu tubuh bendung. Penyempitan

alur sungai menjadi lebar 70 m, yang bisa mencapai kecepatan minimum sekitar

9

Hari Krisetyana, 2008, dalam menjaga Waduk Panglima Besar Soedirman dilakukan penggelontoran sedimen. Penggelontoran sedimen waduk tersebut menggunakan flushing time efficiency. Flushing time efficiency volume air yang mampu menggelontorkan sedimen di depan intake draw dawn culvert merupakan pintu penguras. Kajian ini mendapatkan waktu efektif dalam penggelontoran ±15 menit dilakukan pada bulan pebruari, april, oktober maupun pada bulan hujan (basah) pada 2 (dua) pintu intake.

2.1.4 Ringkasan Telaah Pustaka

Kajian pustaka dari penelitian yang memiliki konsep dasar yang sama, namun beda dalam pengunaan metode dan hasilnya dibandingkan dengan penelitian ini. Perbedaan tersebut membuktikan bahwa penelitian ini merupakan penelitian yang baru, seperti ditunjukan pada Tabel 2.1.

No.

Peneliti

Materi Penelitian

Metode

     

Metode yang digunakan adalah hec-1D dengan koefisien penyesuaian

1.

Termini, 2014

Menghitung angkutan sedimen pada sungai alluvial

Mekanisme kemampuan transport sedimen di sungai Kuning rendah dikarenakan profil penampang sempit dan dalam, ukuran sedimen melayang

2.

Jin Hai Zheng, 2011

Pendangkalan di Sungai Xiaobeiganliu

sedimen melayang yang memiliki partikel besar dengan jumlah yang banyak

3.

Chen, 2010

Analisa morfologi sungai di Sungai Yellow River Delta

mengetahui morfologi sungai akibat adanya angkutan sedimen yang berbentuk bed load adalah transport model (DIVASTSED)

4.

Stanfort Gibson, 2006

sedimen, erosi, pengendapan

menghitung angkutan sedimen, erosi, pengendapan digunakan model numerik HEC-RAS

10
10

5.

Nur Hidayah, 2013

Angkutan sedimen di Jurug- Serenan Sungai Bengawan Solo

Menggunakan metode Acker- White, Englund-Hunsen, Laursen, Meyer Peter Muller, Toffaleti dan Yang dibandingkan dengan hitungan di lapangan. Metode yang mendekati dengan kondisi sungai di Jurug- Serenan adalah metode Meyer Peter Muller

   

Membandingkan rumus angkutan

Metode yang digunakan antara lain; Graf & Suszka, Julien, Brown, Parker, Engelund et Fredsoe Meyer- Peter & Mueller, dan Recking Hasil yang mendekati hitungan Einstein adalah metode Graf & Suszka

6.

Junaedi, 2012

sedimen tak berdimensi dengan persamaan Einstein

     

Hasil penelitia dilakukan di Laboratorium Uji Model Hidrolika Universitas Brawijaya.

Analisa angkutan sedimen

Volume pengangkutan sedimen yang terjadi adalah akibat adanya pengaruh kecepatan aliran, dimana kecepatan aliran bertambah besar maka volume pengangkutan sedimennya semakin besar pula.

7.

Subary Adinegara, 2005

menggunakan rumus pendekatan Schocklitsch

     

Angkutan sedimen pada muara Sungai Bang Metode Engelund 15.370 m 3 /th dan Hansen 23.118 m 3 /th.

8.

Feirani Vironita, 2011

Angkutan sedimen pada muara Sungai Bang

Muara Sungai Bang memiliki mulut sungai yang tidak stabil dan sangat sering tertutup karena nilai S < 20.

     

Peninjauan morfologi sungai dengan UMH Fisik di Laboratorium Balai Sungai

9.

Jaji Abdurrosyid, 2006

Meninjau morfologi sungai di Bendung Colo

Morfologi yang diakibatkan oleh sedimentasi yang cukup besar

Bangunan paling efektif adalah dengan menambahkan bangunan kantong lumpur

11
11

10.

   

Nilai kondisi fisik irigasi di Kali Jilu sebesar 78,09 % (baik)

Rini Wahyu, 2012

Penilaian kondisi fisik jaringan irigasi di Kali Jilu

Pedoman penilaian menggunakan penerapan pola tata tanam dan penilaian pemberian air yang sesuai standar dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air tahun 2003

   

Penilaian kondisi fisik sistem

Sistem polder Kota Lama dan Bandarharjo Semarang mempunyai nilai kondisi fisik sebesar 50,02% (cukup)

Sebagian infrastruktur dalam kondisi rusak sehingga tidak beroperasi secara maksimal

11.

Victor Tri K, 2012

polder Kota Lama dan Bandarharjo Semarang

12.

Ruslan, 2011

Perilaku sedimen

Perilaku sedimen yang dianalisa di laboratorium pada saluran irigasi primer, sekunder dan tersier di Jaringan Irigasi Waru-Turi

Berkurangnya kinerja pada saluran primer menjadi 76,93 %, sekunder 94,2 % dan saluran tersier 91,47%.

     

standar pedoman penilaian kondisi fisik tahun 2010

13.

Yullius heryant, 2014

Penilaian kondisi fisik Waduk Lodan

menambahkan sub komponen gardu pandang dan papan duga muka air

Penilaian kondisi fisik Waduk Lodan 91,11% (baik)

     

laju sedimentasi tahunan pada Bendung Sei Tibun, Riau sebesar 13.320,65 m3 /tahun

Penentuan pola pengoperasian

14.

Imam Suprayogi, 2013

pintu pembilas terhadap laju sedimentasi

pembilasan secara rutin dan berkala setiap 8 bulan sekali

Pengoperasian satu pintu pembilas tinggi minimum bukaan pintu setinggi 31,7 cm selama 6 jam

12
12

15.

   

Terjadi adanya sedimentasi area pertanian menyebabkan tertutupnya 8 free intake dalam mensuplei air

Jimmy Rafael, 2013

Pengendalian sedimentasi di Sungai Ular, Deli Serdang

Koefisien kekasaran dari persamaan Manning 0,012 dan Stickler 42,5 yang mengakibatkan kecepatan aliran yang cukup kecil dan terjadi endapan sedimen pada intake

     

Dibangunnya Waduk Penampung Sedimen (WPS) di Waduk Wonogiri

16.

Sardi, 2008

Penanganan sedimentasi di Waduk Wonogiri

WPS dapat menurunkan besarnya deposisi netto sedimen yang terjadi pada waduk tersebut sebesar kurang lebih 30.41%

     

kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) mengakibatkan adanya sedimentasi di hilir Bendung Tirtonadi

Perubahan kondisi tersebut menyebabkan kecepatan aliran rata-rata 0,39 m/dt yang relatif rendah

17.

Wahyana, 2009

perubahan kondisi Bendung Gerak Tirtonadi

Untuk mengurangi sedimentasi tersebut diperlukan adanya penambahan kecepatan aliran dengan melakukan penyempitan alur sungai di bagian hulu tubuh bendung

Penyempitan alur sungai menjadi lebar 70 m, yang bisa mencapai kecepatan minimum sekitar 1, 54 m/dt

13
13

18.

   

Penggelontoran sedimen waduk tersebut menggunakan flushing time efficiency

Hari Krisetyana, 2008

penggelontoran sedimen

waktu efektif dalam penggelontoran ±15 menit dilakukan pada bulan pebruari, april, oktober maupun pada bulan hujan (basah) pada 2 (dua) pintu intake

   

angkutan sedimen dengan metode Meyer Peter Muller di Bendung Colo akibat penggelontoran sedimen dari WPS

Angkutan sedimen berdasarkan metode Meyer Peter Muller sebelum penggelontoran sedimen dari WPS di Bendung Colo sebesar 3.991,16 m3/hari dan sesudah penggelontoran di Bendung Colo sebesar 4.299,89 m3/hari, ini menunjukkan adanya peningkatan sedimen sebesar 7,74%.

Nilai kondisi fisik Bendung Colo berdasarkan estimasi sedimen setelah adanya penggelontoran sedimentasi dari WPS yaitu 82,70% >

70%

19.

Indah Sri Amini, 2015

nilai kondisi fisik intake Bendung Colo akibat penggelontoran sedimen dari WPS

konsep penanganan Bendung Colo

pengurasan sedimen di dekat intake sesudah penggelontoran sedimen dari WPS adalah 31 hari

2.2

Landasan Teori

2.2.1

Angkutan Sedimen

1.

Gerakan Butiran Sedimen

Perpindahan tempat bahan sedimen granular (non kohesif/terlepas satu sama lain) oleh air yang sedang mengalir pada suatu tampang aliran secara umum bergerak searah aliran. Banyaknya angkutan sedimen (T) dapat ditentukan dari perpindahan tempat suatu sedimen melalui suatu tampang lintang selama periode

14

waktu yang cukup. Menurut ukuran butirnya angkutan sedimen dapat terjadi

dengan 2 cara (Cahyono Ikhsan, 2007):

1. Bed load

Perpindahan butir di dasar saluran secara menggelinding (rolling),

menggeser (sliding), meloncat (jumping).

2. Suspended load

Gerak butir di atas dasar saluran, dimana berat butir secara terus menerus

dikompensasi oleh gerak turbulen aliran atau oleh aksi difusi medan aliran

turbulen.

Gaya-gaya yang bekerja pada suatu butiran sedimen non-kohesif dalam

aliran air dapat dilihat pada Gambar 2.1.

1. Gaya berat (gravity force)

2. Gaya apung (buoyancy force)

3. Gaya angkat (hydrodynamic lift force)

4. Gaya seret (hydrodynamic drag force)

lift force ) 4. Gaya seret ( hydrodynamic drag force ) Sumber: Ferdian, 2010 Gambar 2.1

Sumber: Ferdian, 2010

Gambar 2.1 Gaya gaya yang bekerja pada butiran sedimen

Keterangan gambar:

F

F

f = sudut kemiringan dasar,

q

a

a

D

g

1

2

= gaya seret, = gaya berat di dalam air,

= sudut gesek (longsor) alam (the angle of repose), = jarak antara pusat berat (CG) sampai titik guling (point of support), = jarak antara pusat gaya seret (drag) sampai titik guling.

Menurut Graf, 1998 skematisasi terjadinya sedimentasi ditunjukan pada

15

Butiran wash load Q Butiran suspended load qss Butiran bed load qsb Sumber: Graf, W.H,
Butiran wash load
Q
Butiran suspended load
qss
Butiran bed load
qsb
Sumber: Graf, W.H, 1998

Gambar 2.2 Skematisasi terjadinya sedimen

Transpor sedimen, dalam hal ini erosi dasar sungai atau saluran, terjadi

manakala tegangan geser dasar sungai/saluran mencapai atau melebihi tegangan

geser kritis. Perbandingan antara bed load dengan suspended load menunjukan

variasi yang besar, tergantung sifat bahan dan alirannya. Pembedaan cara

transport sedimen, antara transport sedimen dasar dan transport sedimen suspensi,

tidaklah mudah dilakukan. Salah satu cara pembedaan antara kedua cara transport

tersebut adalah dengan memperhatikan nilai perbandingan antara kecepatan geser

(shear velocity) aliran (u ) dan kecepatan endap butir sedimen (v ss ).

(transport sedimen dasar/Bed load ) Bed load)

2.1

(transport sedimen suspense/ Suspended load) Suspended load)

2.2

Salah satu yang mampu menggerakkan butir sedimen pada awal geraknya

adalah kecepatan. Kecepatan efektif untuk menggerakan butiran dapat ditulis

dalam rumus:

2.3

2.3

dengan:

U *

= kecepatan geser (m/dt),

g

= gravitasi (m/dt 2 ),

R

= jari-jari hidraulik (m),

S

= kemiringan dasar saluran.

Dengan mendapatkan hasil kecepatan geser (U * ) tersebut

akan dilanjutkan

dengan analisa untuk menentukan bilangan Reynolds dibawah ini.

16

16 dengan: R e U D υ = viskositas (m 2 /dt). = bilangan Reynolds, =

dengan:

R e

U

D

υ = viskositas (m 2 /dt).

= bilangan Reynolds, = kecepatan geser (m/dt), = diameter butiran sedimen (m),

*

s

2.4

Bilangan Reynolds (R e ) tersebut dimasukan kedalam grafik shield pada

Gambar 2.3 yang digunakan untuk menentukan dimensi tegangan geser (F * ) untuk

menentukan tegangan geser kritisnya (τc).

(F * ) untuk menentukan tegangan geser kritisnya (τc). dengan: F * = dimensi tegangan geser,

dengan:

F * = dimensi tegangan geser, τc = tegangan geser kritis (kg/m 2 ), γ s = berat jenis butiran sedimen (kg/m 3 ),

γ = berat jenis air (kg/m 3 ), D s = diameter butiran sedimen (m).

2.5

(kg/m 3 ), D s = diameter butiran sedimen (m). 2.5 Sumber: Mardjikoen , 1987 Gambar

Sumber: Mardjikoen , 1987

Gambar 2.3 Grafik shield

Sedangkan persamaan yang digunakan untuk menentukan tegangan geser

dirumuskan sebagai berikut:

untuk menentukan tegangan geser dirumuskan sebagai berikut: dengan: = dimensi tegangan geser (kg/m 2 ), τ

dengan:

= dimensi tegangan geser (kg/m 2 ),

τ

g = gravitasi (m/dt 2 ),

0

2.6

17

= massa jenis air (kg/m 3 ),

ρ

R = jari-jari hidraulik (m),

S = kemiringan dasar saluran.

w

Dari hasil yang didapat maka untuk mengetahui gerak atau tidaknya butiran

sedimen dilakukan perbandingan antara τ 0 dan τc dengan ketentuan sebagai

berikut, apabila:

τ 0 > τc maka butiran bergerak

τ 0 = τc maka butiran mulai bergerak (kondisi kritis)

τ 0 < τc maka butiran diam

2. Sifat-sifat bahan yang diangkut

Karakteristik bahan-bahan sedimen:

a. Ukuran (size)

b. Bentuk (shape)

c. Rapat massa (density)

d. Kecepatan jatuh (fall velocity)

e. Porositas sesudah mengendap.

Karakteristik-karakteristik tersebut sulit untuk memperoleh hasil yang

representatif sesuai dengan yang ada dilapangan dibutuhkan analisa kesesuaian

metode statistik.

a. Ukuran (shape)

Skala butiran sedimen menurut sub-comite therminologi sedimen para ahli

hidraulika (American Geophysical Union) AGU adalah sebagai berikut:

Boulders = 4,000.00 250.00 mm

Cobbles = 250.00 64.00 mm

Gravel = 64.00 2.00 mm

Sand = 2,000.00 62.00 µm

Silt = 62.00 4.00 µm

Clay = 4.000.24 µm

Penentuan ukuran butiran sedimen berdasarkan pengukuran langsung maupun

menggunakan saringan, mikroskopis berdasarkan ukuran butiran.

18

b. Bentuk (shape)

Variasi bentuk sedimen alam adalah tidak terbatas. Pengaruh bentuk terhadap

karakteristik hidraulis dari butiran yaitu kecepatan jatuh yang tergantung dari

angka reynold. Parameter-parameter untuk bentuk adalah perbandingan

sumbu-sumbu utama roundness, luas permukaan dibandingkan terhadap

volumen massa.

1) Diameter nominal (d n ) merupakan diameter bola dengan massa dan isi

sama dengan butiran.

Volume butiran =

dengan massa dan isi sama dengan butiran. Volume butiran = 2) Diameter sedimen (d s )

2) Diameter sedimen (d s ) yaitu diameter bola kwarts dengan kecepatan jatuh

yang sama dengan butiran.

c. Rapat massa (density)

Sedimen umumnya berasal dari disintegrasi atau dekomposisi dari batu-

batuan. Rapat massa butiran sedimen yang umum (< 4cm) dan biasanya

kwarts terdapat paling banyak pada sedimen dimana ρ s = 2650 kg/m 3 . Atau

dinyatakan sebagai specific gravity (s).

kg/m 3 . Atau dinyatakan sebagai specific gravity (s). 2.7 d. Kecepatan jatuh Kecepatan jatuh sangat

2.7

d. Kecepatan jatuh

Kecepatan jatuh sangat penting untuk sedimentasi rervoir dan proses

pengendapan yang merupakan parameter arus yang diperlukan untuk

menggerakan butiran sepanjang sungai. Gaya yang dialami butiran dalam

gerak relatif dalam air adalah:

yang dialami butiran dalam gerak relatif dalam air adalah: dengan: w = berat butir diudara, F

dengan:

w

= berat butir diudara,

F

= gaya hambatan,

A

A

=

=

rapat massa air,

luas arah gerak,

C d

= drag coeefisient.

2.8

19

e. Porositas sesudah mengendap

Untuk menaksir suatu berat sedimen ke reservoir harus diubah dalam bentuk

volume. Untuk itu perlu ditaksir berat kering udara 12002000 kg/m 3 dan

yang terndam air antara 5001000 kg/m 3 . Porositas (α) adalah volume rongga

dengan bahan padat yang dikalikan 100%.

3. Perhitungan Angkutan Sedimen

Intensitas angkutan sedime pada saluran maupun sungai adalah banyaknya

sedimen yang lewat pada penampang tersebut per satuan waktu.

Untuk memperoleh nilai kecepatan aliran digunakan persamaan Manning

sebagai berikut:

aliran digunakan persamaan Manning sebagai berikut: dengan: V = kecepatan aliran (m/det), n = angka

dengan:

V

= kecepatan aliran (m/det),

n

= angka kekasaran Manning,

R

= Jari jari hidrolik (m),

I

= kemiringan penampang (m/m).

2.9

Nilai kekasaran Manning berdasarkan bahan material yang digunakan dapat

dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Nilai n untuk aliran

No

Penggunaan dasar permukaan

N Manning

Nilai yang direkomondasikan

1

Beton

0.010

- 0.013

0.011

2

Aspal

0.010

- 0.015

0.012

3

Tanah terbuka

0.010

- 0.016

0.010

4

Tanah berkerikil

0.012

- 0.030

0.012

5

Tanah lempung berlanau dan terbuka (mudah tererosi)

0.012

- 0.033

0.012

6

Tanah tandus

0.020

- 0.016

0.050

7

Tanah yang diolah

0.020

- 0.100

0.060

8

Semacam lapangan tembak/golf (alami)

0.010

- 0.320

0.130

9

Semacam lapangan tembak/golf yang Dipangkas

0.020

- 0.240

0.080

10

Padang rumput pendek

0.100

- 0.200

0.150

20

11

Rerumputan yang tebal

0.170 - 0.300

0.240

Sumber: Chow dkk, 1988

Dalam penelitian ini, proses angkutan sedimen difokuskan pada angkutan

sedimen dasar. Pengaruh dari sedimen tersuspensi yang mengendap terhadap

seluruh endapan sangat kecil, sehingga dapat diabaikan. Analisis angkutan

sedimen yang digunakan adalah metode Meyer Peter Muller. Berdasarkan kajian

pustaka dari Nur Hidayah, 2013 menyatakan untuk lokasi Serenan Sungai

Bengawan Solo yang paling mendekati nilai angkutan sedimen dilapangan adalah

metode Meyer Peter Muller.

Metode Meyer-Peter dan Muller

Fungsi angkutan sedimen bed load Meyer-Peter Muller ini didasarkan pada

data hasil eksperimen yang diuji sesuai dengan kondisi sungai yang memiliki jenis

sedimen yang relatif kasar dengan persamaan seperti berikut ini.

yang relatif kasar dengan persamaan seperti berikut ini. dengan: w γ γ g d m s
yang relatif kasar dengan persamaan seperti berikut ini. dengan: w γ γ g d m s

dengan:

w

γ

γ

g

d m

s

= berat jenis air (kg/m 3 ), = berat jenis butiran sedimen (kg/m 3 ),

= percepatan grafitasi (m/s 2 ),

= diameter partikel rata-rata efektif d 50 d 60 (mm),

2.10

= faktor koreksi berhubungan bentuk penampang sungai,

= faktor koreksi berhubungan bentuk penampang sungai,

R

= kedalaman tampang basah (m),

µ

= harga ripple factor,

I

= kemiringan lereng,

T b = berat butiran per satuan lebar (m 3 /m detik).

2.2.2 Nilai kondisi fisik Intake Bendung

1. Komponen dan pembobotan

Mengacu pada Pedoman Penilaian Kondisi Fisik Jaringan Irigasi Subdit

SDA 1999 meliputi Penilaian kondisi jaringan irigasi dengan menghitung kondisi

bangunan utama, saluran pembawa, bangunan bagi, bangunan bagi-sadap, saluran

pembuang, dan bangunan sepanjang saluran pembuang. Untuk komponen maupun

sub komponen apa saja yang perlu dinilai adalah sebagai berikut:

21

a. Bangunan utama, dengan bagian-bagian yang merupakan sub komponen dari bangunan tersebut yaitu:

1) Bangunan pengambilan 2) Bangunan penguras 3) Tubuh bendung 4) Sayap 5) Bangunan pelengkap

b. Saluran pembawa dengan sub komponen sebagai berikut:

1) Erosi dan sedimentasi 2) Profil saluran 3) Bocoran

c. Bangunan sadap dan bagi dengan bagian sub komponen yaitu:

1) Pintu sadap dan bagi 2) Bangunan pengukur debit 3) Tubuh bangunan

d. Saluran pembuang dengan bagian sub komponen yaitu:

1) Erosi dan sedimentasi 2) Profil saluran

e. Bangunan pada saluran dengan bagian sub komponen yaitu:

1) Profil pengatur 2) Tubuh bangunan Setiap sub komponen yang ada akan dijadikan detail lagi dan akan dinilai berdasarkan kondisi di lapangan yang akan memberikan kontribusi penilaian pada jaringan irigasi. Pembobotan komponen maupun sub komponen kondisi fisik jaringan irigasi merupakan acuan dalam menghitung indeks nilai pada jaringan irigasi yang memiliki perbedaan dalam pembobotan. Pengaruh bobot pada bangunan didasarkan pada fungsi pelayanan dan pertimbangan terhadap kegagalan operasional bangunan. Pembobotan pada koponen maupun sub komponen berdasarkan pedoman penilaian kondisi fisik jaringan irigasi, Subdit 1999 dapat dilihat pada Tabel 2.2.

22

Tabel 2.2 Bobot komponen utama jaringan irigasi

No

Komponen

Bobot (%)

1

Bangunan utama

35

a

Bangunan pengambilan

12

 

Pintu/ pintu banjir

5

 

Endapan/ lumpur

3

 

Pengukur debit

3

 

Papan eksploitasi

1

b

Bangunan penguras

6

 

Pintu

4

 

Endapan/ lumpur

2

c

Tubuh bendung

10

 

Mercu

5

 

Ruang olakan

4

 

Papan skala

1

d

sayap

4

 

Sayap

2

 

Koperan

2

e

Bangunan pelengkap

3

2

Saluran pembawa

25

a

Erosi dan sedimentasi

5

b

Profil saluran

12

c

bocoran

8

3

Bangunan bagi/sadap

25

a

Pintu sadap dan bagi

12

b

Bangunan pengukur debit

5

Tabel 2.2 Bobot komponen utama jaringan irigasi (lanjutan)

No

Komponen

Bobot (%)

c

Tubuh bangunan

8

4

Saluran pembuang

10

a

Erosi dan sedimentasi

6

b

Profil saluran

4

5

Bangunan sepanjang sal.pembuang

5

a

Profil saluran

2

b

Tubuh bangunan

3

 

Jumlah

100

Sumber: Ditjen Air, 1999

23

Bobot untuk setiap komponen utama tersebut merupakan gabungan dari

masing masing komponen penyusunnya, dan distribusi bobot baik untuk

komponen utama maupun komponen penyusunnya (komponen yang lebih kecil)

untuk lebih jelasnya akan dibahas pada kajian selanjutnya.

2. Metode perhitungan

Penilaian kondisi jaringan irigasi keseluruhan dilakukan dengan menghitung

kondisi bangunan utama, saluran pembawa, bangunan bagi, bangunan bagi-sadap,

saluran pembuang, dan bangunan sepanjang saluran pembuang, dengan metode

perhitungan sebagai berikut:

K = K ms + K to + K cc + K dc + K sd

dengan:

K

K

K

K

K

K

ms

to

cc

dc

sd

= kondisi Jaringan (%), = kondisi bangunan utama (%), = kondisi bangunan bagi atau sadap (%), = kondisi saluran pembawa (%), = kondisi saluran pembuang (%), = kondisi bangunan sepanjang saluran pembuang (%).

2. 11

Sedangkan metode perhitungan tiap-tiap kondisi dapat dihitung

menggunakan rumus-rumus di bawah ini:

a. Kondisi bangunan utama

rumus-rumus di bawah ini: a. Kondisi bangunan utama 2.12 dengan: K N K N K N

2.12

dengan:

K

N

K

N

K

N

K

ms

1

ms1

2

ms2

3

ms3

= kondisi bangunan utama (%), = jumlah bangunan utama yang berkondisi baik, = kondisi rata-rata bangunan utama yang baik (%), = jumlah bangunan utama yang berkondisi cukup, = kondisi rata-rata bangunan utama yang berkondisi cukup (%), = jumlah bangunan utama yang berkondisi rusak, = kondisi rata-rata bangunan utama yang berkondisi buruk (%).

b. Kondisi bangunan bagi

utama yang berkondisi buruk (%). b. Kondisi bangunan bagi 2.13 dengan: K N t o 1

2.13

dengan:

K

N

to

1

= kondisi bangunan bagi/sadap (%), = jumlah bangunan bagi/sadap yang berkondisi baik,

24

K

N

K

N

K

to1

2

to2

3

to3

= kondisi rata-rata bangunan bagi/sadap yang baik (%), = jumlah bangunan bagi/sadp yang berkondisi cukup, = kond. rata-rata bangunan bagi/sadap yang berkondisi cukup (%), = jumlah bangunan bagi/sadap yang berkondisi rusak, = kondisi rata-rata bangunan bagi/sadap berkondisi rusak (%).

c. Kondisi saluran pembawa

bagi/sadap berkondisi rusak (%). c. Kondisi saluran pembawa 2.14 dengan: K N K N K N

2.14

dengan:

K

N

K

N

K

N

K

cc

1

cc1

2

cc2

3

cc3

= kondisi saluran pembawa (%), = jumlah saluran pembawa yang berkondisi baik, = kondisi rata-rata saluran pembawa yang baik (%), = jumlah saluran pembawa yang berkondisi cukupbaik, = kondisi rata-rata saluran pembawa yang berkondisi cukup (%), = jumlah saluran pembawa yang berkondisi rusak, = kondisi rata-rata saluran pembawa yang berkondisi rusak (%).

d. Kondisi saluran pembuang

yang berkondisi rusak (%). d. Kondisi saluran pembuang 2.15 dengan: K N K N K N

2.15

dengan:

K

N

K

N

K

N

K

dc

1

dc1

2

dc2

3

dc3

= kondisi saluran pembuang (%), = jumlah saluran pembuang yang berkondisi baik, = kondisi rata-rata saluran pembawa yang berkondisi baik (%), = jumlah saluran pembuang yang berkondisi cukup, = kondisi rata-rata saluran pembuang yang berkondisi cukup (%), = jumlah saluran pembuang yang berkondisi rusak, = kondisi rata-rata saluran pembuang yang berkondisi rusak (%).

e. Kondisi saluran pembuang

yang berkondisi rusak (%). e. Kondisi saluran pembuang 2.16 dengan: K N K N K s

2.16

dengan:

K

N

K

N

K

sd

1

sd1

2

sd2

= kondisi bangunan pembuang (%), = jumlah bangunan pembuang yang berkondisi baik, = kondisi rata-rata bangunan pembuang yang berkondisi baik (%), = jumlah bangunan pembuang yang berkondisi cukup, = kondisi rata-rata bang. pembuang yang berkondisi cukup (%),

25

N

K

3

sd3

= jumlah bangunan pembuang yang berkondisi rusak, = kondisi rata-rata bangunan pembuang yang berkondisi rusak (%).

2.2.3 Konsep penanganan Bendung

Konsep penanganan akan dilaksanakan berdasarkan dari hasil analisa nilai

kondisi fisik dari bangunan Bendung Colo dengan standar nilai.

a. Apabila nilai kondisi fisik >70 % maka tidak perlu adanya rehabilitasi

cukup dilakukan pemeliharaan pencegahan.

b. Apabila nilai kondisi fisik <70 % maka perlu adanya rehabilitasi pada

bangunan tersebut pemeliharaan darurat atau pemeliharaan korektif.

Berdasarkan Pedoman Pemeliharaan Bangunan Persungaian

Pd-T-11-2004-A dijelaskan bahwa, konsep usulan program pemeliharaan adalah:

a. Pencegahan terjadinya permasalahan (kerusakan) walaupun kerusakan

belum terlihat.

b. Perbaikan kerusakan yang tidak diharapkan segera setalah kejadian

sehingga kerusakan yang lebih parah tidak terjadi.

Jadi pemeliharaan merupakan pencegahan dan koreksi, baik yang bersifat

permanen maupun yang dilaksanakan untuk sementara (darurat). Sedangkan jenis

pemeliharaan adalah sebagai berikut:

a. Pemeliharaan Pencegahan

Pemeliharaan pencegahan adalah kegiatan yang dilakukan untuk

memelihara fungsi bangunan persuangaian (termasuk bendung) agar tetap

optimal. Kegiatan tersebut termasuk pekerjaan yang bersifat rutin.

Pemeliharaan pencegahan juga termasuk pemeliharaan berkala yang

dilakukan dengan interval yang terputus-putus dengan tujuan untuk

melestarikan fungsi dari bangunan. Selain itu, pekerjaan perbaikan yang

kecil pada bangunan bendung dan bagian bendung bertujuan untuk

mengembalikan bangunan itu sesuai dengan kapasitas semula.

Pemeliharaan pencegahan meliputi; pengecatan pintu, pengurasan rutin,

pengerukan dll. Sistem pengopersian pintu-pintu di Bendung Colo

26

26 Sumber: PJT 1 Surakarta, 2010 Gambar 2.4 Letak pintu Bendung Colo Tabel 2.3 Petunjuk pengoperasian

Sumber: PJT 1 Surakarta, 2010

Gambar 2.4 Letak pintu Bendung Colo Tabel 2.3 Petunjuk pengoperasian pintu Bendung Colo

 

NAMA

PENGOPERA

 

NOTASI

PINTU/FUNGSI

 

SIAN

KONDISI MUSIM HUJAN

 

A

Pintu Intake Lama Bendung

dibuka dibuka/ditutup untuk pengurasan dibuka/ditutup untuk pengurasan dibuka/diatur dibuka dibuka/ditutup untuk pengurasan dibuka/diatur

B

Pintu Penguras Bendung

 

C

Penguras Kantong Pasir

D

Pintu Penerus

 

E

Pintu Intake Baru Bendung

F

Penguras Kantong Pasir

 

G

Pintu Penerus

 

KONDISI HUJAN LEBAT/BANJIR

 

A

Pintu Intake Lama Bendung

ditutup

B

Pintu Penguras Bendung

 

dibuka

C

Penguras Kantong Pasir

ditutup

D

Pintu Penerus

 

ditutup

E

Pintu Intake Baru Bendung

ditutup

F

Penguras Kantong Pasir

 

ditutup

G

Pintu Penerus

 

ditutup

KONDISI MUSIM KEMARAU

 

A

Pintu Intake Lama Bendung

dibuka ditutup dibuka/ditutup untuk pengurasan dibuka/diatur dibuka dibuka/ditutup untuk pengurasan dibuka/diatur

B

Pintu Penguras Bendung

 

C

Penguras Kantong Pasir

D

Pintu Penerus

 

E

Pintu Intake Baru Bendung

F

Penguras Kantong Pasir

 

G

Pintu Penerus

 

Sumber: PJT 1 Surakarta, 2010

27

b. Pemeliharaan Darurat Pemeliharaan darurat adalah pemeliharaan pencegahan yang harus segera dilaksanakan untuk melindungi keutuhan dan kekuatan bangunan (dalam skala besar) yag akan atau telah mengalami kerusakan sehingga kerusakan bangunan tidak menjadi lebih parah dan dapat mengancam fungsi dari bangunan tersebut. Pekerjaan pemeliharaan darurat bisa bersifat pemeliharaan pencegahan atau pemeliharaan korektif yang berskala besar, tetapi pelaksanaannya bersifat sementara.

c. Pemeliharaan Korektif Pemeliharaan korektif adalah pemeliharaan yang mencoba untuk mengembalikan ke fungsi semula bangunan persungaian yang rusak atau terkena pengaruh aliran sungai atau akibat ulah manusia. Pemeliharaan korektif ini biasanya terdiri dari beberapa pekerjaan penting. Pemeliharaan korektif dibagi dalam tiga kategori, yaitu pemeliharaan khusus, rehabilitasi dan rektifikasi. 1) Pemeliharaan khusus adalah, pekerjaan pemeliharaan dengan cara memperbaiaki kerusakan yang saat itu fungsinya antara 70% sampai dengan 50% dari desain aslinya.

2)

Rehabilitasi adalah, pekerjaan perbaikan untuk mengembalikan fungsi bangunan persungaian yang telah turun sampai kurang dari 50% dari desain asli.

3)

Rektifikasi adalah, merupakan kegiatan pemeliharaan bangunan sungai yang mengalami kerusakan atau belum rusak tetapi kondisinya sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, sistemnya harus diperbaiki secara keseluruhan dengan menggunakan perencanaan baru yang menyeluruh dan terpadu.

Pemeliharaan korektif akan dilakukan berdasarkan hasil penilaian dilapangan. Tindakan pemeliharaan korektif apabila diperlukan pada kajian ini adalah analisa dimensi bangunan pada bangunan intake, penguras maupun mercu bendung, dengan rumusan sebagai berikut:

28

1. Bangunan intake

Pintu intake harus mampu mengalirkan air minimal Q = 0,40 m 3 /dt.

kapasitas pengambilan harus sekurang-kurangnya 120% dari kebutuhan

pengambilan guna menambah fleksibilitas dan memenuhi kebutuhan yang cukup

selama umur layan. Adapun persamaannya adalah:

yang cukup selama umur layan. Adapun persamaannya adalah: 2. 17 dengan: Q n = debit rencana

2. 17

dengan:

Q n

= debit rencana (m 3 /dt),

µ

= koefisien debit = 0,8 (untuk bukaan dibawah permukaan air dengan kehilangan energi),

a

= tinggi bukaan,

b

= lebar bukaan,

z

= kehilangan energi pada bukaan, antara 0,15 - 0,30,

g

= percepatan gravitasi 9,81 m/dt 2 .

2. Bangunan Penguras

Pelaksanaan penguras ini diadakan pada kondisi; pintu dibuka setinggi

under sluice atau pintu dibuka setinggi mercu. Adapun dimensi-dimensi dasar dari

bangunan penguras adalah:

a. tinggi saluran bawah hendaknya lebih besar 1,5 kali diameter butir

sedimen dasar sungai.

b. tinggi saluran pembilas bawah sekurang-kurangnya 1,0 meter.

c. tinggi sebaiknya diambil 1/3 sampai ¼ dari kedalaman air didepan pintu

pengambilan selama debit normal.

d. 5 sampai 20 meter untuk panjang saluran penguras bawah.

e. 1 sampai 2 meter untuk tinggi saluran penguras bawah.

f. 0,20 sampai 0,35 tebal untuk beton bertulang.

a. Pada pintu dibuka setinggi undersluice.

beton bertulang. a. Pada pintu dibuka setinggi undersluice. dengan: 2.18 Q = debit yang mengalir pada

dengan:

a. Pada pintu dibuka setinggi undersluice. dengan: 2.18 Q = debit yang mengalir pada pintu (m

2.18

Q = debit yang mengalir pada pintu (m 3 /dt),

b

= lebar pintu penguras,

y

= tinggi under sluice,

p

= tinggi mercu,

g

= gravitasi,

V c

= Q/F.

29

diameter yang dapat dikuras sebagai berikut

 
  2.19

2.19

dengan:

 
 

V c

= kecepatan kritis yang diperlukan untuk menguras,

C

= koefisien sedimen antara 3,2 - 5,5,

d

= diameter butiran yang dapat dikuras.

b.

Pada pintu dibuka setinggi undersluice.

 
2.20

2.20

dengan:

Q

= debit yang mengalir pada pintu (m 3 /dt),

b

= lebar pintu penguras,

h

= tinggi mercu,

g

= gravitasi,

z

= 1/3 h, µ

= 0,75.

3. Mercu Bendung

Lebar bendung yaitu jarak antara pangkal (abutment) dengan lebar total

yang stabil.

Sedangkan aliran per satuan lebar hendaknya dibatasi sekitar 12-14m 3 /det/m.

Dengan persamaan lebar efektif bendung.

bendung antara 1,0-1,2 dari lebar rata-rata sungai pada ruas

bendung antara 1,0-1,2 dari lebar rata-rata sungai pada ruas dengan: B e B = lebar bendung

dengan:

B e

B = lebar bendung (lebar total - lebar pilar),

n

K

K

H1 = tinggi energi.

= lebar efektif bending,

= jumlah pilar, = Koef. kontraksi pilar, = Koef. kontraksi pangkal bending,

p

a

2.21