Anda di halaman 1dari 11

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Kalimat
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang
mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam wujud lisan, kalimat diucapkan dengan suara naik
turun keras lemut, disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi yang diikuti oleh kesenyapan
yang mencegah terjadinya perpaduan ataupun asimilasi bunyi ataupun fonologis lainya.
Dalam wujud tulisan berhuruf latin, kalimat dimulai dengan huruf kapital. Dan di akhiri
dengan tanda titik (.), tanda Tanya (?), atau tanda seru (!); sementara itu, didalamnya
disertakan pula berbagai tanda baca seperti koma (,), titik dua (:), tanda pisah (-), dan spasi.
Tanda titik, tanda Tanya, dan tanda seru sepadan Intonasi akhir, sedangkan tanda baca lain
sepadan dengan jeda. Spasi yang diikuti tanda titik, tanda Tanya dan tanda seru
melambangkan kesenyapan.
Kalimat merupakan satuan dasar wacana. Artinya, wacana hanya akan terbentuk jika
ada kalimat jika ada dua kalimat, atau lebih, yang letaknya berurutan dan berdasarkan kaidah
kewacanaan. Dengan demikian, setiap tuturan, beruapa kata atau untaian kata, yang memiliki
ciri-ciri disebutkan di atas pada suatu wacana atau teks, bersetatus kalimat, berikut ini adalah
kutipan sebuah wacana (teks) yang terdiri atas satu paragraph.
(1) Yoko Ono sendiri masih tercekam rasa berdosa atas tewasnya John Lenon.
Apakah sekarang ia harus mengulangi melamar Yakamada? Apa akal? Ia tidak
dapat menipu diri sendiri. Ia membutuhkan teman hidup. Teman bertimbang.
Teman di tempat tidur. Ternyata tidak banyak manusia yang mampu tinggal
dalam kesendirian.
Teks (1) itu terdiri atas delapan kalimat. Dua di antaranya diakhiri dengan Tanya dan
selebihnya dikahiri dengan tanda titik. Kedelapan kalimat yang membentuk paragraph itu di
tulis kembali sebagai contoh (2a-2h) di bawah ini.

b.
c.
d.
f.
g.
h.

(2). a. Yoko ono sendiri masih tercekam rasa berdosa atas tewasnya John Lenon.
Apakah sekarang ia harus mengulangi melamar Yakamada?
Apa akal?
Ia tidak dapat menipu diri sendiri.
e. Ia membutuhkan teman hidup.
Teman bertimbang.
Teman di tempat tidur.
Ternyata tidak banyak manusia yang mampu tinggal dalam kesendirian.
Seperti tampak pada cotoh (2) di atas, panjang kalimat beragam. Kalimat (2a) dan (2h),
misalnya, terdiri atas Sembilan kata, sedangkan kalimat (2c) hanya terdiri atas 2 kata. Tentu
saja banyak kalimat yang lebih panjang daripada (2a,2h) itu dan lebih pendek daripada (2c),
yaitu hanya terdiri atas satu kata, kalimat (2b) dan (2c) lazim disebut kalimat Tanya atau
kalimat introgatif dan yang lain disebut kalimat berita atau kalimat deklaratif. Kalimat (2f)
dan (2g) itu disebut kalimat taklengkap atau kalimat minor.
2

2.2

Jenis jenis kalimat


2.2.1 Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri atas satu klausa. Hal iti berarti
bahwa kontistuen untuk tiap unsure kalimat, seperti subjek dan predikat hanyalah
satu atau merupakan satu kesatuan. Dalam kalimat tungal tentu saja terdapat semua
unsur wajib yang diperlukan, Di samping itu, tidak mustahil ada pula unsure
manasuka seperti keterangan tempat, waktu, dan alat, dengan demikian, kalimat
tunggal tidak selalu dalam wujud yang pendek, tetapi juga dapat panjang seperti
terlihat pada contoh berikut:
a. Dia akan pergi.
b. Kami mahasiswa STKIP-PGRI.
c. Mereka akan membentuk kelompok belajar.
d. Guru matematika kami akan dikirim ke luar negri.
2.2.1.1
Kalimat Berpredikat Verbal
Ada macam-macam kalimat verba yang masingnya mempergaruhi macam
kalimatnya yang menggunakanya seperti :
A. Kalimat Taktransitif
Kalimat yang tak berobjek dan tak berpelengkap hanya memilik dua unsur
fungsi wajib, yakni subjek dan predikat pada umumnya, urutan katanya adalah
subjek-predikat. Kalimat tak berobjek dan tak berpelengkap juga dapat di
iringi oleh unsure tak wajib seperti keterangan tempat, waktu, cara dan alat.
Berikut adalah beberapa contoh kalimat verbal yang tak berobjek dan tak
berpelengkap dengan dengan unsur takwajib diletak dalam tanda kurung
Contoh :
a. Bu Camat sedang berbelanja..
b. Pak Halim belum datang.
c. Mereka mendarat (di tanah yang tidak datar).
d. Dia berjalan (dengan tongkat).
Ada pula verba taktransitif yang diikuti oleh nomina, tetapi nomina itu
merupakan bagian dari paduan verba tersebut, perhatikan contoh yang berikut.
a. Dia biasa berjalan kaki.
b. Pak Ahmad akan naik haji.
c. Guntur selalu naik sepeda ke sekolah.
B. Kalimat Ekatransitif
Kalimat yang berobjek dan tidak berpelengkap mempunyai tiga unsur
wajib yakni subjek, predikat, dan objek, predikat dalam kalimat ekatransitif
verba. Semua verba ekatransitif memiliki makna inheren perbuatan. Seperti
contohnya
memasok,
merestui,
menentukan,mempersempit,
dan
memberangkatkan.

Contoh :
a. Pemerintah akan memasok semua kebutuhan Lebaran.
b. Presiden merestui pembentukan Panitia Pemilihan Umum.
c. Nilai ujian Murni menentukan nasib para siswa.
d. Banyaknya para pensiunan yang dipekerjakan kembali
mempersempit lapangan kerja bagi kaum muda.
e. Dia memberangkatkan kertea api itu terlalu cepat.
C. Kalimat Dwitransitif
Verba transitif dalam bahasa Indonesia yang secara semantic
mengungkapkan hubungan tiga maujud. Dalam bentuk aktif, maujud itu
masing-masing merupan subjek, objek, dan pelengkap verba itu dinamakan
Verba dwitransitif yang umumnya dinamakan makna peruntungan atau
benefaktif.
Contoh :
a. Anne sedang mencari pekerjaan.
b. Anne sedang mencarikan pekerjaan.
c. Anne sedang mencarikan adiknya pekerjaan.
D. Kalimat Pasif
Pemasifan dalam bahsa Indonesia dilakukan dengan dua cara: (1)
menggunakan verba berprefiks di- dan (2) tanpa prefix di-. Jika kita
gunakan symbol S-P-O maka kaidah umum untuk pembentukan kalimat
pasif dari kalimat aktif dalam bahasa sebagai berikut
Cara Pertama :
(1) Pertukarkanlah S dan O
(2) Gantialah prefiks meng- dengan di- pada P
(3) Tambahkan kata oleh di muka unsure yang tadinya S
Contoh :
Pak toha mengangkat seorang asisten baru.
a. *Seorang asisten baru mengangkat Pak Toha.
b. Seorang asisten baru diangkat Pak Toha.
c. Seorang asisten baru diangkat oleh Pak Toha.
Cara Kedua :
(1) Pindahkan O ke awal kalimat
(2) Tinggalkan prefiks meng- pada P
(3) Pindahkan S ke tempat yang tepat sebelum verba
Contoh :
Saya sudah mencuci mobil itu.
a. *Mobil itu saya sudah mencuci.
b. *Mobil itu saya sudah cuci.
c. *Mobil itu sudah saya cuci.

2.2.1.2
Kalimat Berpredikat Adjektival
Kalimat yang predikatnya adjektiva sering juga dinamakan Kalimat statif.
Kalimat ini memanfaatkan verba adalah untuk memisahkan subjek dari
predikatnya,kadang juga diikuti oleh kata frasa lain.
Contoh :
a. Pernyataan ketua gabungan Koperasi itu adalah tidak benar.
b. Warna bajunya biru laut.
c. Saya takut akan kekuasaan Tuhan.
Jika kalimat statif kita bandingkan dengan kalimat ekuatif. Kalimat ekuatif
diingkari dengan kata penginkar bukan, sedangkan kalimat statif dengan
pengingkar tidak.
Contoh :
a. Pak lenon bukan guru saya
b. Pak lenon tidak dating
2.2.1.3 Kalimat berpredikat nominal
Dalam bahasa Indonesia ada macam kalimat yang predikatnya terdidiri atas
nomina (termasuk pronomina) atau frasa nomina. Dengan dememikian, kedua
nomina atau frasa nominal yang dijejerkan dapat membentuk kalimat asalkan syarat
untuk subjek dan predikatnya terpenuhi.
Kalimat yang predikatnyta nominal sering pula dinamakan kalimat
persamaan atau kalimat ekuatif. Kalimat persamaan oleh sebagian ahli bahasa juga
diartikan kalimat yang subjek dan predikatnya tergolong kategori yang sama. Pada
kalimat ekuatif nominal frasa nominal yang pertama itu subjek, sedangkan yang
kedua predikat. Akan tetapi, jika frsa nominal pertama dibubuhi partikel lah frsa
nominal pertama itu menjadi predikat, sedangkan frasa nominal kedua menjadi
subjek,
Contoh :
a. Dia guru saya.
b. Dialah guru saya.
Seperti halnya dengan kalimat statif, kalimat berpredikat nominal kadangkadang memanfaatkan adalah untuk memisahkan subjek atau predikat, adalah pada
umumnya digunakan jika subjek, predikatnya, atau kedua-duanya panjang.
Contoh :
a. Ini adalah masalah keluarga.
b. Pemberentian seorang kariawan adalah masalah biasa
2.2.1.4 Kalimat Berpredikat Numeral
Predikat yang berupa frasa numeral (kata bilangan) taktentu (banyak dan
sedikit) tidak dapat diikuti kata pegolong, sedangkan predikat yang berupa nurmelia
tentu dapat di ikuti penggolong. Seperti jumlah, dan jarak
Contoh :
Tidak diikuti ponggolongan :
a. Anaknya banyak.
b. Uangnya hanya sedikit.
5

Diikuti penggolongan:
a. Istrinya dua (orang).
b. Lebar sungai itu lebih dari dua ratus meter.
2.2.1.5
Kalimat Berpredikat Frasa Preposisional
Predikat kalimat dalam bahasa Indonesia dapat pula berupa frasa preposisional
kalimat ini memanfaatkan verba ke, di, dari, untuk, dan.
Contoh :
a. Ibu sedang ke pasar.
b. Anak itu sedang di sekolah.
c. Surat ini untuk saya.
d. Rumah saya di antara rumah Pak Ali dan Pak Rahman.
2.2.2 Kalimat Dilihat dari Bentuk Sintaksis
2.2.2.1
Kalimat Deklaratif
Kalimat ini juga sering dikenal dengan nama kalimat berita. Kalimat ini
umumnya digunakan oleh pembicara/penulis untuk membuat pernyataan sehingga
isinya merupakan berita bagi pendengar atau pembacanya.
Contoh :
a. Tadi pagi ada tabrakan mobil di dekat Monas.
b. Saya lihat ada bus masuk Ciliwung tadi pagi.
c. Waktu ke kantor, saya lihat ada jeep menabrak becak sampai hancur.
2.2.2.2
Kalimat Imperatif
Kalimat impratif bertujuan untuk memberikan perintah kepada seseorang untuk
melakukan sesuatu. Kalimat perintah dalam bentuk lisan biasanya diakhiri dengan
intonasi yang tinggi, sedangkan pada bentuk tulisan kalimat ini akan diakhiri dengan
tanda seru (!).
A. Kalimat imperatif Taktransitif
Kalimat impratif taktransitif dibentuk dari kalimat deklaratif (taktransitif) yang
dapat berpredikat verba dasar, frasa adjektival, dan frasa verbal yang berprefiks beratau meng- ataupun frasa preposisioanal.
Contoh :
a. Engkau masuk. (masuk!)
b. Masuk, Narko!
c. Berliburlah ke tempat nenekmu!
d. Menyebranglh dengan hati-hati!
B. Kalimat Imperatif Transitif
kalimat impratif yang berpredikat verba transitif, mirip dengan kalimat
deklaratif pasif ialah kenyataan bahwa lawan bicara yang dalam kalimat deklaratif
berfungsi sebagai subjek pelaku menjadi pelengkap pelaku, sedangkan objek sasaran
dalam kalimat deklatif menjadi subjek sasaran dalam kalimat impratif. (a) kalimat
berita (b) kalimat printah.
6

Contoh 1 :
a. Engkau mencari pekerjaaan apa saja.
b. Carilah pekerjaan apa saja!
Contoh 2 :
a. Kamu membelikan adikmu sepatu baru.
b. Belikanlah adikmu sepatu baru!
C. Kalimat Imperatif Halus
Bahasa Indonesia juga memiliki sejumlah kata yang dipakai untuk
menghaluskan isi kalimat imperatif. Seperti kata tolong, coba, silakan, sudilah, dan
kiranya. Partikel lah juga dapat diletakan pada kata penghalus atau pada verbanya
Contoh :
a. Tolong kirimkan kontrak ini.
b. Tolonglah kirimkan kontrak ini.
c. Coba panggil kepala bagian umum.
d. Cobalah panggil kepala bagian umum.
e. Silakan masuk, Bu.
f. Sudilah Bapak mengunjungi pameran kami.
g. Kiranya anda tidak keberetan.
D. Kalimat Imperatif Permintaan
Kalimat ini digunakan untuk mengungkapkan permintaan. Kalimat seperti itu
ditandai oleh kata minta atau mohon.
Contoh :
a. Minta perhatian, Saudara-saudara!
b. Mohon diterima dengan baik.
E. Kalimat Imperatif Ajakan dan Harapan
Kalimat ini biasanya didahului kata ayo(lah), Mari(lah), harap, dan hendaknya.
Contoh :
a. Ayolah, masuk!
b. Ayo, cepat!
c. Marilah kita bersatu.
d. Mari kita makan.
e. Harap duduk dengan tenang.
f. Hendaknya anda pulang saja.
F. Kalimat Imperatif Permintaan
Kalimat ini bersifat larangan dengan adanya kata jangan(lah).
Contoh :
a. Jangan duduki bantal ini.
b. Janganlah membaca di tempat gelap.
c. Jangan (kamu) marah.
7

2.2.2.3 Kalimat Interogatif


Kalimat introgatif, yang juga di kenal dengan nama kalimat Tanya, secara
formal ditandai oleh kehadiran kata tanya seperti apa, siapa berapa, kapan, dan
bagaimana dengan atau tanpa partikel kah sebagai penegas,kalimat introgatif
diakhiri dengan tanda Tanya (?) pada bahasa tuli dan pada bahasa lisan dengan suara
naik. Biasanya meminta jawaban ya atau tidak, atau untuk mendapatkan suatu
informasi.
Contoh :
a. Apa dia istiri Pak Bambang?
b. Apakah suaminya di tangkap minggu lalu?
Cara kedua untuk membentuk kalimat Tanya adalah dengan mengubah urutan
kata dari kalimat deklaratif.
1. Jika dalam kalimat deklaratif terdapat kata seperti dapat, bisa, harus,
sudah, dan mau, kata itu dapat dipindahkan keawal kalimat dan
ditambahkan partikel kah.
Contoh 1 :
a. Dia dapat pergi sekarang.
b. Dapatkah dia pergi sekarang?
Contoh 2 :
a. Narti harus segara kawin.
b. Haruskah Narti segera kawin?
2. Dalam kalimat yang predikatnya nomina atau adjektiva, urutan
predikatnya dapat di balikan dan kemudian partikel kah di
tambahkan pada frasa yang telah dipindahkan ke muka
Contoh 1 :
a. Masalah ini urusan Pak Ali.
b. Urusan Pak Alikah masalah ini?
Contoh 2 :
a. Kakaknya sedang sakit.
b. Sedang sakitkah kakaknya?
3. Jika predikat kalimat adalah verba tatransitif, ekatransitif, atau
semitransitif verba beserta objek atau pelengkapnya dapa dipindahkan
ke awal kalimat dan kemudian ditambahkan partikel kah
Contoh 1 :
a. Dia menangis kemarin.
b. Menangiskah dia kemarin?
Contoh 2 :
a. Dia mencuri uang itu.
b. Mencuri uang itukah dia?
Perlu dicatat disini bahwa meskipun kalimat-kalimat di atas terdapat dalam
bahasa kita, kalimat yang berobjek dan berpelengkap seperti ini lebih umum di
ubah menjadi kalimat tanya dengan memakai partikel apa(kah) : Apa(kah) dia
mencuri uang itu?
8

Cara ketiga untuk membentuk kalimat interogatif adalah dengan menempatkan


kata bukan/bukankah, (apa/atau) belum atau tidak.
Contoh 1 :
a. Dia sakit.
b. Dia sakit, bukan?
c. Bukankah dia sakit?
Contoh 2 :
a. Para peserta sudah datang.
b. Para peserta sudah datang, (apa/atau) belum?
c. Apa para peserta sudah pada datang atau belum?
Contoh 3 :
a. Kamu mengerti soal ini.
b. Kamu mengerti soal ini, (apa/atau) tidak?
c. Apa kamu mengerti soal ini atau tidak?
Cara keempat yang dipakai untuk membentuk kalimat interogatif dengan
mempertahankan urutan kalimatnya seperti urutan kalimat deklaretif, tetapi dengan
intonasi yang berbeda, yakni intonasi yang naik. Maka berbahuhlah menjadi
kalimat introgratif.
Contoh :
a. Jawabanya sudah diterima?
b. Dia jadi pergi ke Medan?
Cara terakhir untuk membentuk kalimat introgatif dengan memakai kata tanya
seperti apa, berapa, siapa, kapan, dan mengapa.
Contoh 1 :
a. Dia mencari Pak Achmad.
b. Dia mencari siapa?
Contoh 2 :
a. Pak Tarigan membaca buku.
b. Pak Tarigan membaca apa?
Contoh 3 :
a. Keluarga Daryanto akan pindah ke Surabaya.
b. Keluarga Daryanto akan pindah ke mana?
letak sebagian besar kata tanya itu dapat berpindah tanpa mengakibatkan
perubahan apapun. Dengan demikian, kalimat Keluarga Daryanto akan pindah ke
mana? Dapat diubah menjadi Ke mana Keluarga Daryanto akan pindah? tapi
berbeda dengan kata tanya bagaimana, mempunyai letak tegar, yakni di awal
kalimat. Jadi kalimatnya tidak dapat diubah.
Kalimat introgatif yang memakai kata Tanya siapa atau apa dalam kalimat
mengakibatkan perubahan struktur kalimat jika dipindahkan ke bagian depan.

Contoh 1 :
a. Dia mencari siapa?
b. Siapa yang dia cari?
Contoh 2 :
a. Pak Tarigan membaca apa?
b. Apa yang dibaca pak tarigan?
Penempatan siapa dan apa di awal kalimat Mengakibatkan dua hal : (1) kata
sambung relatife yang harus muncul dan (2) kalimat sesudah kata sambung itu
harus dalam bentuk pasif. Sebagai akibat dari perpindahan itu, urutannya menjadi
predikat dan subjek.
Contoh :
Siapa yang dia cari?
P
S
Apa yang dibaca pak tarigan?
P
S
Kata Tanya siapa dan apa pada contoh di atas menggantikan objek kalimat
yang kemudian dipindakan ke depan. Ada pula pemakaian lain dari kedua kata itu,
yakni untuk menggantikan subjek kalimat.
Contoh 1 :
a. Dian memenangi pertandingan itu.
b. Siapa yang memenangi pertandingan itu?
Contoh 2 :
a. Angin Topan menghancurkan desa mereka.
b. Apa yang menghancurkan desa mereka?
2.2.2.4
Kalimat Eksklamatif
Kalimat eksklamatif, yang juga dikenal dengan nama kalimat seru, secara
formal ditandai oleh kata alangkah, betapa, atau bukan main pada kalimat
berpredikat adjectival. Kalimat eksklamatif ini, yang juga dinamakan kalimat
interakasi biasa digunakan untuk menyatakan perasaan kagum atau heran.
Cara pembentukan kalimat eksklamatif dari kalimat deklaratif mengikuti
langkah berikut.
a. Balikan urutan unsure kalimat dari S-P menjadi P-S.
b. Tambahkan partikel nya pada (adjektiva) P.
c. Tambahkan kata (seru) alangkah, bukan main, atau betapa di muka P
jika dianggap perlu.
Contoh :
a. Pergaulan mereka bebas.
b. *bebas pergaulan mereka.
c. Bebasnya pergaulan mereka!
d. Alangkah bebasnya pergaulan mereka!
e. Bukan main bebasnya pergaulan mereka!
f. Betapa bebasnya pergaulan mereka!
10

2.2.3Kalimat Taklengkap
Kalimat Taklengkap. Yang disebut juga kalimat minor. Kalimat tak lengkap
pada dasarnaya adalah kalimat yang tidak ada subjek dan/atau predikatnya. Hal itu
biasa terjadi dalam wacana karena unsure yang tidak muncul itu sudah diketahui atau
disebutkan sebelumnya. Perhatikan penggalan percakapan berikut.
Amir : kamu tinggal di mana, Min?
Amin : Di Kampung Melayu.
Bentuk Di Kampong Melayu sebenarnya merupan bagian dari kalimat lengkap
Saya tingal di Kampung Melayu. Di luar konteks wacana, kalimat taklengkap sering
juga diguanakan dalam iklan, papan petunjuk, slogan
Contoh Slogan :
a. Merdeka atau mati.
b. Kita merdeka atau kita mati.
Contoh iklan :
a. Menerima pegawai baru untuk di tempatkan di luar Jakarta.
b. Kami Menerima pegawai baru untuk di tempatkan di luar Jakarta.
Contoh papan petunjuk :
a. Belok kiri boleh lansung.
b. Yang akan berbelok ke kiri, boleh lansung membelok

a.
b.

2.2.4
Kalimat inversi
Kalimat inversi , yakni kalimat yang urutannya terbalik, urutan fungsi dalam
bahasa Indonesia boleh dikatan pola: (a) subjek, (b) predikat, (c) objek (jika ada), dan
pelengkap (jika ada). Akan tetapi ada satu pola kalimat dalam bahasa Indonesia yang
predikatnya dahului subjek. Perhatikan kalimat yang berikut.
a. Ada tamu, pak.
b. Ada seorang yang mencari Anda.
Dari contoh di atas kita lihat bahwa verba ada terletak di muka nomina,
dengan kata lain, urutan pertama adalah predikat dahulu, baru kemudian subjek.
Disamping urutan P-S, kalimat inversi mensyratkan pula subjek yang takdefinit.
Contohnya :
a.
*Ada tamu itu, Bu
b.
*Ada maling ini tadi malam
Kalimat inversi di sini dibedakan dari kalimat permutasi. Kalimat permutasi
hanyalah merupakan salah satu gaya yang dapat di pilih dari urutan yang baku.
Contoh 1 :
Kita harus mencari tambahan penghasilan.
Harus mencari tambahan penghasilan /kita/.
Contoh 2 :
a. Kemarin dia menangis.
b. Menangis/dia/kemarin.

11

Dalam bahasa tulis, khususnya yang formal dan baku, pembalikan ururutan
seperti dicontohkan di atas akn membingungkan sehingga perlu dihindari.
Verba ada dalam kalimat inversi yang subjeknya berupa frasa nominal yang
abstraknya dapat digantikan dengan verba terdapat dengan makna yang boleh
dikatakan sama.
Contoh :
a. Ada perbedaan penilaiana antara dia dan saya.
b. Terdapat perbedaan penilaiana antara dia dan saya.
Dalam kaitanya dengan uraian di atas perlu ditambahkan bahwa kontruksi
inversi dengan verba adalah sering digunakan dalam wacana untuk memperkenalkan
topik. Dalam konteks tertentu adalah dapat diganti dengan verba tersebutlah.
Contoh 1 :
a. Adalah sebuah kisah tentang seorang raja yang sangat termasyur pada
masa itu.
b. Tersebutlah sebuah kisah tentang seorang raja yang sangat termasyur
pada masa itu.
Contoh 2 :
a. Adalah seorang raja yang termasyur pada masa itu.
b. ? Tersebutlah seorang raja yang termasyur pada masa itu.
Pengertian adalah dengan tersebutalah pada (1) terasa wajar, tetapi pada (2)
terasa jangggal.

12