Anda di halaman 1dari 2

No

1.

2.

3.

Kelemahan
Tidak ada dokumen yang
menunjukkan bahwa pelanggan
telah melakukan pemesanan dan
juga menjelaskan pesanan
pelanggan secara rinci.

Tidak ada pengecekan credit


history, credit limit, dan credit due
oleh perusahaan untuk penjualan
yang dilakukan secara kredit.

Tidak ada divisi khusus yang


bertanggung jawab terhadap arus
keluar masuk sediaan

Akibat
Apabila ada komplain dari
pelanggan, tidak ada bukti
yang dapat menunjukkan
bahwa pelanggan telah
melakukan pemesanan dan
juga rincian dari pesanan
pelanggan.

Solusi

Membuat dokumen bukti


pemesanan berupa Sales
Order.

1. Menetapkan credit limit


(jumlah maksimal dari
piutang pelanggan) dan
credit due ( batas waktu
maksimal bagi
Risiko terjadinya piutang tak
pelanggan untuk
tertagih yang pada akhirnya
melakukan pembayaran).
akan mengurangi profitabilitas 2. Memeriksa credit history
perusahaan.
(sejarah kredit
pelanggan) sebelum
menyetujui penjualan
kredit.
3. Menunjuk seorang credit
manager.
Resiko kehilangan inventory
Membuat divisi gudang
yang akan sulit untuk ditelusuri
yang bertanggung jawab
dan merugikan perusahaan.
atas barang di gudang dan
membuat stock card untuk
mencatat stok barang yang
ada di gudang.

Keterangan
Sales order berisi identitas
pelanggan, tanggal pemesanan,
identitas karyawan yang menerima
pesanan, kuantitas dan jenis barang
yang dipesan, serta berbagai
informasi lain yang terkait dengan
pemesanan barang.
1. Pelanggan yang sudah mencapai
credit limit dan credit due tidak
diizinkan untuk melakukan
pembelian kredit.
2. Pelanggan yang memiliki credit
history yang buruk tidak
diizinkan untuk melakukan
pembelian kredit.
3. Credit manager ditugasi untuk
memeriksa credit limit, credit
due dan credit history dan
memberikan otorisasi bagi setiap
penjualan kredit yang diterima
perusahaan.
Gudang bertanggung jawab atas
seluruh barang yang ada di gudang
termasuk barang yang keluar atau
masuk ke gudang dan juga atas stock
card sebagai dokumentasi dari arus
keluar masuk barang dari gudang

4.

5.

6.

Tidak ada dokumen yang menjadi


acuan pengeluaran barang dari
gudang

Tidak ada pemisahan


tanggungjawab antara pengiriman
dan penagihan

Membuat dokumen acuan


pengeluaran barang berupa
picking ticket.
Risiko gagal mendapatkan
tagihan dari pelanggan, risiko
hasil penagihan disimpan
sendiri oleh bagian pengiriman

Memisahkan
tanggungjawab pengiriman
dan penagihan dengan
membuat divisi penagihan
Memisahkan
tanggungjawab
penyimpanan, pencatatan,
dan pengotorisasian arus
keluar masuk kas dengan
membuat divisi Keuangan
yang mambawahi kasir

Tidak ada pemisahan


tanggungjawab antara yang
menyimpan, mencatat, dan
mengotorisasi arus keluar masuk
kas dari perusahaan

Resiko pencurian kas


perusahaan
7.

Tidak ada dokumentasi arus masuk


kas perusahaan

membuat dokumen Cash


Receipt untuk
mendokumentasikan arus
masuk kas perusahaan

Picking ticket diserahkan ke bagian


gudang oleh bagian pengiriman.
Picking ticket berfungsi sebagai
dokumen yang membuktikan bahwa
ada barang keluar dari gudang
Pengiriman bertugas untuk
memastikan bahwa barang telah
sampai ke tangan pelanggan.
Sementara penagihan bertugas untuk
menagih pembayaran dari pelanggan
Kasir bertanggungjawab untuk
menerima atau mengeluarkan, serta
menyimpan kas. Sedangkan
pengotorisasiannya dilakukan oleh
bagian keuangan.
1. Cash receipt berisi data seperti
tanggal penerimaan kas, nomor
invoice, jumlah penerimaan, dan
berbagai informasi lain yang
terkait dengan penerimaan kas
2. Cash receipt dibuat sebanyak 2
rangkap, Cash receipt
ditandatangani oleh kasir sebagai
pembuat dan diotorisasi oleh
bagian keuangan