Anda di halaman 1dari 28

BAB 1

PENDAHULUAN
Menurut WHO, Emerging infectious diseases (EID) adalah penyakit yang
pertama kali muncul dalam suatu populasi, atau penyakit yang telah ada sebelumnya
tetapi mengalami peningkatan insidendsi atau area geografis dengan cepat. Emerging
infectious diseases merupakan penyakit infeksi yang kejadiannya pada manusia
meningkat dalam dua dasawarsa/ dekade terakhir atau cendedrung akan meningkat di
masa mendatang.
Kemunculan penyakit New Emerging Disease diantaranya ditandai dengan
merebaknya Avian Flu mulai bulan Juni 2005 yang lalu, hingga tanggal 18 Maret
2007 telah mendekati ribuan Kasus dan sebanyak 86 orang diantaranya Positif Avian
flu serta meninggal 65 orang. Case Fatality Rate (CFR) atau angka kematian kasus
Avian flu pada manusia di Indonesia kini adalah 75,6 persen. Penyakit infeksi yang
baru muncul (New Emerging Diseases) dan mengancam saat ini sebagian besar adalah
penyakit bersumber binatang, misalnya SARS, Avian flu, Hanta-virus Pulmonary
Syndrome, Hanta-virus infection with renal involvement, Japanese Encephalitis,
Nipah diseases, West Nile Fever dan E. Coli.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 EMERGING DISEASE
Pengertian Emerging Infectious Disease
Emerging infectious diseases adalah penyakit dengan insidensi yang
meningkat atau yang diperkirakan akan meningkat dalam suatu periode waktu atau
lokasi. Menurut WHO, Emerging infectious diseases (EID) adalah penyakit yang

pertama kali muncul dalam suatu populasi, atau penyakit yang telah ada sebelumnya
tetapi mengalami peningkatan insidensi atau area geografis dengan cepat.
Emerging infectious diseases merupakan penyakit infeksi yang kejadiannya
pada manusia meningkat dalam dua dasawarsa/dekade terakhir atau cenderung akan
meningkat di masa mendatang. Secara umum EID dapat dibagi dalam tiga kelompok
penyakit, yaitu:
a) Penyakit menular baru (New Emerging Infectious Diseases)
b) Penyakit menular lama yang cenderung meningkat (Emerging Infectious
Diseases)
c) Penyakit menular lama yang menimbulkan masalah baru (Re-Emerging
Infectious Diseases)
Emerging infectious diseases dapat terjadi karena:
a.
b.
c.
d.

Mikroorganisme dapat terus berubah/ mutasi atau timbul yang baru


Kepadatan penduduk
Faktor sosial ekonomi
Faktor lingkungan
Emerging infectious diseases sebagian besar (tidak semua) berhubungan

dengan zoonosis (penyakit yang berhubungan dengan hewan) dan mempunyai


dampak internasional karena dapat terjadi PHBEIC (Public Health Emergency Of
International Concern), suatu keadaan gangguan kesehatan (bisa penyakit, atau
dampak kimia/ radiasi, dll) yang menjadi perhatian internasional yang dapat
menyebar antar negara.
Faktor Predisposisi

Ada beberapa faktor yang menyebabkan dua permasalahan ini selalu muncul
hampir disetiap tahunnya,yaitu: Evolusi dari microbial agent seperti variasi

genetik, rekombinasi, mutasi dan adaptasi


Hubungan microbial agent dengan hewan perantara (zoonotic encounter)
Perubahan iklim dan lingkungan
Perubahan perilaku manusia seperti penggunaan pestisida, penggunaan obat
antimikrobial yang bisa menyebabkan resistensi dan penurunan penggunaan

vaksin.
Perkembangan industri dan ekonomi

Perpindahan secara massal yang membawa serta wabah penyakit tertentu

(travel diseases)
Perang seperti ancaman penggunaan bioterorisme atau senjata biologis.
Beberapa faktor, termasuk pengembangan ekonomi dan penggunaan lahan,

demografi dan perilaku manusia, dan perjalan internasional dan perdagangan,


memberikan kontribusi pada penyakit emergence dan re-emergence.
Banyak microbial agent (virus, bakteri, jamur) yang telah terindikasi
menyebabkan wabah penyakit bagi manunsia dan juga memiliki karakteristik untuk
mengubah pola penyakit tersebut sehingga menyebabkan wabah penyakit yang baru.
Seperti yang dirilis dalam National Institute of Allergy and Infectious Disease
(NIAID) yang membagi menjadi 3 kelompok besar, yaitu :
Grup I : Pathogen baru yang diakui dalam 2 dekade terakhir
Grup II : Re-emerging pathogen
Grup III : Pathogen yang berpontesial sebagai bioterorisme

Epidemiologi Emerging Infectious Diseases


Penyakit-penyait infeksi terus menjadi tantangan utama di daerah Asia
Tenggara. Diperkirakan bahwa penyakit bertanggung jawab atas sekitar 40% dari 14
juta kematian setiap tahun di region Asia Tenggara dan sekitar 28% merupakan
penyakit infeksi yang menjadi permasalahan global.
Sedangkan kemunculan penyakit new emerging disease diantaranya ditandai
dengan merebaknya Avian Flu mulai bulan Juni 2005 yang lalu, hingga tanggal 18
Maret 2007 telah mendekati ribuan Kasus dan sebanyak 86 orang diantaranya Positif
Avian flu serta meninggal 65 orang. Case Fatality Rate (CFR) atau angka kematian
kasus Avian flu pada manusia di Indonesia kini adalah 75,6 persen. Penyakit infeksi
yang baru muncul (New Emerging Diseases) dan mengancam saat ini sebagian besar
adalah penyakit bersumber binatang, misalnya SARS, Avian flu, Hanta-virus
Pulmonary Syndrome, Hanta-virus infection with renal involvement, Japanese
Encephalitis, Nipah diseases, West Nile Fever, dan E. Coli.

Gambar 1.Masalah Pandemik Emerging and Re-emerging Disease

Berikut adalah penjelasan dari beberapa Emerging Infectious Diseases yang


pernah terjadi didunia:
a. SARS merupakan penyakit infeksi pada jaringan paru manusia, pertama kali
ditemukan di Cina pada tahun 2003 yang disebabkan oleh Corona Virus
Pnemunia yang bermutasi hingga terjadi pandemi. SARS memiliki angka
penularan yang tinggi dan pada tahun 2003 WHO menetapkan SARS merupakan
ancaman kesehatan global. Penularan infeksi melalui inhalasi pernapasan dari
pasien yang menderita pada saat batuk atau bersin, atau kontaminasi tangan
penderita.
b. Influenza A baru disebabkan oleh virus influenza tipe H1N1. WHO
mengumumkan pandemi global pada tahun 2009. Meskipun influenza yang
ditimbulkan termasuk ringan, tetapi penyebarannya sangat mudah dari manusia ke
manusia menyebabkan tingginya tingkat kesakitan karena virus influenza ini.
Hingga sekarang karakteristik virus H1N1 masih tetap sama dengan karakteristik
virus pertama yang terjadi di Meksiko, tetapi ada kekhawatiran perubahan atau
mutasi genetik dari virus influenza A baru (H1N1) menjadi lebih berat daripada
saat ini.

c. Infeksi virus hanta adalah penyakit infeksi paru yang jarang tapi serius, sering
fatal, disebabkan oleh virus hanta tipe Sin Nombre, sedangkan tipe lain
menyerang ginjal. Virus hanta ditemukan pada rodent, terutama di amerika utara.
Tertular bila menghisap debu terkontaminasi liur, kencing, cairan tubuh virus yang
terinfeksi. Dilaporkan beberapa jenis tikus tertentu di beberapa pelabuhan laut
menunjukkan tes serologi positif terhadap virus hanta.
d. Infeksi virus Ebola pertama kali ditemukan di Sudan dan Aire 1976. Kejadian
Luar Biasa (KLB) berikutnya 1995, 2000-2001. Sampai Desember 2003 masih
terjadi KLB di beberapa negara Afrika. Angka kematian 50-90%. Cara terinfeksi
kontak langsung dengan darah, sekret, organ, dan cairan tubuh penderita/binatang
terinfeksi. Reservoir alami adalah primata dan kelalawar. Dilaporkan bahwa tes
serologi pada kera di Jawa Barat dan Lampung menunjukkan positif terhadap
virus Ebola.
e. Avian influenza disebabkan oleh virus influenza H5N1, terjadi KLB pada tahun
1997 dan 2003. Penyakit disebabkan oleh virus influenza yang menyerang unggas,
burung, ayam. Menular dari unggas ke unggas, ke hewan lain dan ke manusia.
Penularan dari manusia ke manusia kemungkinannya kecil tetapi potensial terjadi
terutama bila terjadi mutasi. Secara kumulatif kasus avian influenza pada tahun
2007 mencapai 118 orang dan 95 diantaranya meninggal. Februari 2008 jumlah
kasus 126 orang dan 103 meninggal dunia. Angka kematian mencapai 80,5%.
Tabel 1. Contoh penyakit New Emerging Disease dan Re-emerging Disease

New Emerging Disease

Re-emerging Disease

MERS
Avian Flu (H5N1)
Swine Influenza (Flu Babi)
Hanta Virus
SARS
Ebola

Tuberkulosis
Malaria
DBD
Demam Typhoid & Salmonellosis
Yellow Fever
HIV-AIDS
Anthrax
Pes
Rabies
Filariasis
Lepra
Kolera
Varicella / cacar air

2.2 MERS (Middle East Respiratory Syndrome)


A. DEFINISI
MERS adalah penyakit sindrom pernapasan yang disebabkan oleh virus
Corona yang menyerang saluran pernapasan dan menimbulkan gejala mulai dari
ringan hingga berat. Middle East Respiratory Syndrome (MERS) adalah penyakit
respiratori akibat virus (viral respiratory illness) yang pertama kali dilaporkan pada
tahun 2012 di 6egat 6egati. Penyakit tersebut disebabkan oleh coronavirus yang
disebut MERS-CoV. Kebanyakan orang yang terinfeksi MERS-CoV berlanjut
menjadi penyakit respiratori akut yang parah(severe acute respiratory illness).
Gejalanya berupa demam, batuk, sesak napas. Lebih dari 30% yang terinfeksi virus
tersebut meninggal.
B. EPIDEMIOLOGI
Sejak bulan April 2012, telah dicatat oleh WHO terdapat 206 kasus yang
terinfeksi MERS-CoV, termasuk 86 orang yang meninggal.

Distribusi penyakit MERS terdapat kasus primer dan sekunder. Kasus primer
merupakan orang yang terinfeksi langsung oleh virus tersebut bukan dari orang lain,
lebih banyak menginfeksi orang yang lebih tua dan ber jenis kelamin laki-laki
dibanding kasus sekunder. Kasus sekunder merupakan orang yang terinfeksi MERSCoV dari orang lain yang terinfeksi virus tersebut.
6

Sejauh ini, kasus primer hanya ditemukan di negara timur tengah yaitu
Jordan, Kuwait, Oman, Qatar, Saudia Arabia, dan United Arab Emirates (UAE).
Selain itu, negara lain yang terinfeksi MERS-CoV adalah Perancis, Jerman, Itali,
United Kingdom, Tunisia, Afrika Utara yang kebanyakan merupakan kasus sekunder
dari transmisi negara timur tengah.

Virus mers menyebar ke Indonesia melalui Jemaah haji atau umroh yang
pulang dari arab Saudi, namun pemerintah telah melakukan pemeriksaan kepada para
Jemaah haji atau umroh yang pulang dengan gejala demam dan batuk, dan sampai
saat ini didapatkan hasil negatif, sepanjang Januari hingga April, pasien dengan
suspek MERS dinyatakan negatif setelah dilakukan pemeriksaan polymerase charin
reaction (PCR).
C. ETIOLOGI
Middle East Respiratory Syndrome (MERS) disebabkan oleh beta coronavirus
yang disebut MERS-CoV atau novel coronavirus.

D. PATOFISIOLOGI
Coronavirus sebagai penyebab MERS, yang dinamakan MERS Coronavirus,
menginfeksi dari reservoir nya yaitu hewan ternak, seperti unta, domba, kambing serta
7

dapat berkembang biak di tubuh anjing dan kucing.Hal ini dikarenakan hewan-hewan
tersebut memiliki RNA yang dapat memfasilitasi pembentukan virion-virion baru dari
virus ini. Analisis peneliti di dunia sampai dengan saat ini menyimpulkan bahwa virus
corona yang menjadi penyebab MERS memiliki hubungan spesies dengan
coronavirus penyebab SARS. Perbedaannya adalah virus SARS berkembang biak di
dalam kelelawar tanpa menimbulkan antibody di dalam kelelawar, sedangkan MERS
coronavirus mengaktifkan antibody pada hewan reservoirnya. Oleh karena itu, dapat
dikatakan bahwa MERS Coronavirus memiliki jalur transmisi dari animals to
animals, man to man, dan animals to man.
Virus ini kabarnya menular melalui binatang kelelawar dan onta. Dan dapat
menular antar manusia secara terbatas tidak terdapat transmisi penularan antar
manusia yang berkelanjutan. Dideteksi kemungkinan penularannya dapat melalui :

Langsung : melalui percikan dahak (droplet) pada saat pasien batu atau bersin.
Tidak Langsung : melalui kontak dengan benda yang terkontaminasi virus.

E. KLASIFIKASI

1. Kasus Penyelidikan ( Suspek )

Pasien dengan ISPA, yaitu demam atau riwayat demam, batuk dan pneumonia
atau dengan ARDS atau pada pasien Immunocompromised mempunyai gejala
dan tanda yang tidak jelas, disertai SALAH SATU tanda berikut :
a. Riwayat perjalanan ke Timur Tengah atau 9egati terjangkit dalam waktu
14 hari sebelum mulainya gejala.

DAN pneumonia yang bukan

disebabkan oleh infeksi lainnya.


Penyakit muncul dalam satu cluster yang terjadi dalam waktu 14 hari,
tanpa memperhatikan tempat tinggal atau riwayat bepergian, kecuali

ditemukan etiologi lain.


Penyakit terjadi pada petugas kesehatan yang bekerja di RS/layanan
kesehatan yang merawat pasien dengan ISPA berat (SARI), terutama
pasien yang memerlukan perawatan intensif, tanpa memperhatikan
tempat tinggal atau riwayat bepergian, kecuali ditemukan etiologi lain.

b. Seseorang yang memiliki riwayat perjalanan ke Timur Tengah atau 9egati


terjangkit dalam waktu 14 hari sebelum mulai sakit selain ISPA ( pada
pasien dengan gangguan kekebalan tubuh kemungkinan tanda dan gejala
tidak jelas )
c. Seseorang dengan penyakit pernapasan akut dengan berbagai tingkat
keparahan ( ringan-berat ) yang dalam waktu 14 hari sebelum mulai sakit,
memiliki riwayat kontak erat dengan kasus konfirmasi atau kasus probable
infeksi MERS-CoV yang sedang sakit.
2. Kasus Probable
Yaitu pasien investigasi, dengan bukti klinis, radiologis, atau histopatologis
parenkim paru (Pneumonia atau ARDS) tetapi tidak ada kemungkinan untuk
mendapatkan konfirmasi secara laboratorik disebabkan pasien atau sampel
yang tidak ada atau tes yang tidak tersedia untuk memeriksa infeksi saluran
pernafasan lainnya. Disertai riwayat berikut :
a. Kontak erat dengan pasien terkonfirmasi secara laboratorik
b. 2.Belum dapat ditentukan jenis infeksi atau etiologi lainnya, termasuk
setelah dilakukannya semua tes dengan indikasi klinis untuk CAP
(Community Acquired Pneumonia)
c. Tidak terdapat pemeriksaan untuk MERS-CoV atau pada satu kali
pemeriksaa specimen yang tidak adekuat hasilnya negative atau hasil

pemeriksaan MERS- CoV tidak meyakinkan.


3. Kasus Konfirmasi
Jika seseorang menderita infeksi MERS-CoV dengan konfirmasi laboratorium.
F. TANDA DAN GEJALA
Gejala : Demam > 380C, batuk. Sesak, riwayat bepergian ke negara timur tengah
14 hari sebelum gejala. Pemeriksaan Fisik : Sesuai dengan gambaran pneumonia.
Hasil Radiologi: Foto thorax dapat ditemukan infiltrate, konsolidasi, sampai
gambaran ARDS
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang untuk mendukung diagnosis MERS adalah pemeriksaan
laboratorium dengan sediaan :
1. Spesimen dari saluran napas atas ( hidung, nasofaring, dan/atau swab
tenggorokan )
2. Spesimen saluran napas bagian bawah ( sputum, cairan endotracheal tube,
bilasan bronchoalveolar)
Jenis pemeriksaan yang dapat membantu menegakkan diagnosis adalah :
- Kultur mikroorganisme
- Pemeriksaan virus Influenza A subtype H1, H3, dan H5, RSV,
Parainfluenza, Rhinoviruses, Adenoviruses, Metapneumoviruses, dan
Coronavirus. Untuk pemeriksaan coronavirus, perlu dilakukan dengan
menggunakan Reverse transcriptase polymerase chain reaction ( T-PCR)
H. PENATALAKSANAAN
Terapi oksigen pada pasien ISPA berat /SARI

Berikan terapi oksigen pada pasien dengan tanda depresi napas berat,

hipoksemia ( SpO2 <90%) atau syok.


Mulai terapi oksigen dengan 5 L / menit lalu titrasi sampai SpO2 90% pada

orang dewasa yang tidak hamil dan SpO2 92-95% pada pasien hamil.
Pulse oximetri, oksigen, selang oksigen dan masker harus tersedia di semua
tempat yang merawat pasien ISPA berat/SARI .

Berikan antibiotik empirik untuk mengobati Pneumonia


Pada pasien pneumonia komuniti (CAP) dan diduga terinfeksi MERS CoV, dapat

10

diberikan antibiotik secara empirik secepat mungkin sampai tegak diagnosis,


kemudian disesuaikan berdasarkan hasil uji kepekaan.
I. PENCEGAHAN
Belum ada vaksin yang tersedia. Pengobatan anti viral yang bersifat spesifik
belum ada, dan pengobatan yang dilakukan sangat tergantung dari kondisi pasien.
Pasien hanya ditempatkan di ventilator dan diberikan antibiotik untuk mencegah
infeksi bakteri sekunder, dengan harapan sistem kekebalan tubuh pasien perlahan
lahan akan mengalahkan virus tersebut. Pencegahan dengan cara pola hidup bersih
dan sehat, menghindari kontak erat dengan penderita, menggunakan masker,
menjaga kebersihan tangan dengan sering mencuci tangan menggunakan sabun dan
menerapkan etika batuk (menutup mulut) ketika sakit.
Himbauan Bagi Yang Hendak Berpergian ke Negara Negara Arab
Kita tetap bisa melakukan perjalanan atau berkunjung ke negara negara
Arabia Peninsula dan sekitarnya, karena World Health Organization (WHO) dan
Center for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat tidak akan
mengeluarkan surat travel warning tentang kesehatan kepada negara negara yang
terkait dengan MERS-Cov. Namun, hal yang perlu diantisipasi oleh masyarakat yang
akan berpergian ke negara negara tersebut, yaitu jika terdapat demam dan gejala sakit
pada saluran pernapasan bagian bawah, seperti halnya: batuk atau sesak napas dalam
kurun waktu 14 hari sesudah perjalanan, maka sangat disarankan untuk segera periksa
ke dokter.
Untuk melindungi diri dari kejadian penyakit saluran pernapasan, hendaknya
lakukan beberapa langkah pencegahan sebagai berikut:

Tutuplah hidung dan mulut dengan tisu ketika batuk ataupun bersin dan segera

buang tisu tersebut ke tempat sampah


Hindari menyentuh mata, hidung dan mulut dengan tangan yang belum dicuci
Hindari kontak secara dekat dengan orang yang sedang menderita sakit, misalnya

ciuman atau penggunaan alat makan dan minum bersama


Bersihkan menggunakan desinfektan untuk membersihkan barang-barang yang
sering disentuh.

2.3 Flu Babi (H1N1)

11

A. Definisi
Flu babi adalah penyakit saluran pernafasan akut pada babi yang

disebabkan oleh virus influenza tipe A.


Kasus flu babi yang terjadi pada manusia saat ini sudah bersifat
pandemic (penyakit sudah tersebar kemancanegara). Menurut situs
Center for Control and Prefention (CDC) AS, normalnya virus flu babi
hanya berjangkit pada babi dengan kematian rendah. Namun secara
sporadic terjadi infeksi pada manusia.Varian baru ini dikenal dengan
nama virus H1N1 yang merupakan singkatan dari dua antigenutama
virus yaitu hemagglutinin tipe 1 dan neuraminidase tipe 1.

B. Etiologi
Penyebab flu babi adalah virus influenza tipe A subtype H1N1 dari familia
orthomyxoviridae.
Flu atau influenza ada 2 type :
Type A : Menular pada unggas (ayam, itik, dan burung)
Type B dan type C : Menular pada manusia
Virus influenza tipe A yang termasuk family orthomyxoviridae, erat kaitannya
dengan penyabab swine flu, equine flu, dan avian influenza (fowl plaque).
Ukuran virus tersebut berdiameter 80120 nm. Selain influenza A, terdapat
influenza B dan influenza C yang juga sudah dapat di isolasi dari babi. Sedangkan 2
tipe influenza pada manusia adalah tipe A dan B,kedua tipe ini diketahui sangat
progresif dalam perubahan antigenic yang sangat dramatic sekali (antigenik shift).
C. Epidemiologi
Penyebaran virus influensa dari babi ke babi dapat melalui:
Kontak moncong babi
Udara atau droplet.
Faktor cuaca dan stres akan mempercepat penularan. Virus tidak akantahan
lama di udara terbuka. Penyakit bisa saja bertahan lama pada babi breeder atau babi
anakan. Penyebabnya adalah virus influensa tipe A, subtipe: H1N1 (H1N2, H3N1,
H3N2).
Identifikasi pertama kali pada tahun 1931. Kasus infeksi sudah
dilaporkan pada pekerja dikandang babi di Eropa dan di Amerika Utara.Pada spesies
babi memiliki kemampuan sangat menular dengan angka kesakitan tinggi danangka
kematian 1-4%. Insiden penyakit ini terjadi sepanjang tahun, puncaknya pada
musimgugur dan dingin.

12

Flu babi pertama kali diidentifikasi di Indonesia pada 15 April 2009 dan
dinyatakan pandemi: 11Juni 2009 denagn Case Fatality Rate, sampai dengan 11 Juni
2009 sebesar 0,5%. Gejala klinis yang terjadi sebagian besar ringan, yaitu demam
(87-94%), Batuk (87-92%), Sakit tenggorokan (48-82% ), Gangguan pencernaan
(25%).
D. Klasifikasi
Klasifikasi flu babi berdasarkan derajat keparahannya flu babi dibedakan
menjadi yaitu:
a) Ringan
ILI(influenza like illness).
Tidak Sesak.
Tidak nyeri dada .
Tidak ada pneumonia .
Tidak termasuk kelompok risiko tinggi (Asma, DM, PPOK,
Obesitas, kurangGizi,
Penyakit kronis lainnya) .
Usia muda.
b) Sedang
ILI(influenza like illness) dengan komorbid.
Sesak napas.
Pneumonia.
Usia tua.
Hamil.
Keluhan mengganggu: diare, muntah-muntah.
c) Berat
Pneumonia luas.
Gagal napas.
Sepsis.
Syok.
Kesadaran menurun.
ARDS.
Gagal multiorgan
E. Tanda dan Gejala
Pada Manusia
Center for Disease Control and Prevention(CDC), manifestasi flu babi sama
dengan influenza musiman. Klien datang dengan gejala penyakit respirasi akut,
termasuk minimal 2 dari gejala berikut :
Demam, dapat hingga menggigil.

13

Batuk .
Nyeri tenggorokan.
Sakit kepala.
Rasa lemas dan letih.
Diare dan muntah (mungkin dapat terjadi)
Oleh karena gejala-gejala ini tidak spesifik untuk flu babi, diagnosis banding

dari kemungkinan flu babi tidak hanya dari gejala namun juga kecenderungan
tinggi flu babi tersebut berdasarkan riwayat klien saat ini.
Pada Babi
Apatis.
Sangat lemah.
Enggan bergerak atau bangun karena gangguan kekakuan otot dan nyeri otot.
Eritema pada kulit.
Anoreksia.
Demam sampai 41,8 C.
Batuk sangat sering terjadi apabila penyakit cukup hebat dibarengi dengan
muntah eksudat lendir.
Bersin.
Dispneu diikuti kemerahan pada mata dan terlihat adanya cairan mata.
Beberapa babi akan terlihat depresi dan terhambat pertumbuhannya.

F. Pemeriksaan Penunjang
a) Umum
Laboratorium: pemeriksaan darah rutin (Hb, leukosit, trombosit, hitung
jenisleukosit), spesimen serum.
Pemeriksaan apusan (aspirasi nasofaring atau bilasan/ aspirasi hidung).
Kalau tidak bisa dengan cara di atas maka dengan kombinasi apusan
hidung dan orofaring.
Pada pasien dengan intubasi dapat diambil secara aspirasi endotrakeal.
Pemeriksaan kimia darah: albumin, globulin, SGOT, SGPT, ureum,
kreatinin,analisis gas darah.
Pemeriksaan radiologik: PA dan lateral.
Pemerikaan CT-Scan toraks (bila diperlukan)
b) Khusus
Pemeriksaan laboratorium virologi.
Untuk mendiagnosis konfirmasi influenza A (H1N1) dengan cara :
Real time(RT) PCR.
Kultur virus.
Peningkatan 4 kali antibodi spesifik influenza A
14

G. Penatalaksanaan
TERAPI
1) Pasien dengan ILI (Influenza Like illness) akan dievaluasi apakah
termasuk kelompok dengan gejala klinis ringan, sedang atau berat.
2) Kelompok dengan gejala klinis ringan dipulangkan dengan diberi obat
simptomatis dan KIE untuk waktu istirahat di rumah.
3) Kelompok gejala klinis sedang dirawat di ruang isolasi dan mendapat
oseltamivir 2 x 75mg.
4) Untuk kelompok dengan gejala klinis berat dirawat di ICU.
5) Pemeriksaan laboratorium sesuai jadwal yang sudah ditentukan.
6) Di ruang rawat inap : dilakukan evaluasi keadaan umum, kesadaran,
tanda vital, pantausaturasi oksigen.
7) Terapi suportif.
INDIKASI
1) Terapi influenza (khususnya influenza A) pada anak usia satu tahun keatas
yangmenderita gejala influenza. Efikasi ditunjukkan jika terapi diberikan
dalam 2 hari gejala.
2) Pencegahan influenza pada dewasa dan dewasa muda 13 tahun keatas setelah
kontak dengan penderita influenza ketika influenza telah menyebar.
3) Tamiflu tidak dapat menggantikan vaksinasi influenza.
DOSIS
1) Terapi influenza
Dewasa dan dewasa muda 13 tahun ke atas: 75 mg oseltamivir 2 kali sehari
selama 5hari.
Anak di atas 1 tahun sampai 13 tahun dapat digunakan Tamiflu suspensi dua
kali sehari
selama 5 hari dengan dosis sesuai berat badan sebagai berikut:
5 kg 30 mg
15- 23 kg 45 mg
> 23 kg sampai 40 kg 60 mg
> 40 kg, dapat diberikan dosis dewasa 75 mg
2) Pencegahan influenza
a) Dewasa dan dewasa muda 13 tahun keatas 75 mg sekali sehari selama
7 hari. Terapi diberikan sesegera mungkin setelah terpapar secara
individual.
b) Selama terjadi epidemi influenza: 75 mg sehari sampai dengan 6
minggu.
c) Keamanan dan efektifitas oseltamivir pada anak usia dibawah 12 tahun
belum dapat dibuktikan.
3) Pada gangguan fungsi hati tidak ada penyesuaian dosis.
15

4) Pada gangguan fungsi ginjal.


Dosis terapi:
Penderita dengan creatinin clearens 10 - 30 ml/menit : 75 mg tiap 2

hari.
Tidak dianjurkan pada penderita dengan creatinin clearens 10 ml/menit

dan pasiendialisa.
Dosis pencegahan:
Pada creatinin clearens 10 30 ml/ menit: 75 mg tiap 2 hari atau 30 mg

suspensi sekalisehari.
Tidak dianjurkan pada penderita dengan creatinin clearens 10 ml/menit

dan pasienyang mengalami dialisa.


5) Manula tidak ada penyesuaian dosis kecuali jika ada kerusakan ginjal parah.
H. Pencegahan
1) Jagalah kesehatan dengan pola makan yang seimbang, jika perlu dapat
mengkonsumsi multi vitamin A, C, D, E, Zink dan suplemen
imunomodulator (contoh: stimuno, imunos)untuk meningkatkan
kekebalan tubuh.
2) Jagalah kebersihan

diri

dan

lingkungan

sekitar.Cuci

tangan

menggunakan air mengalir dan sabun sesering mungkin, terutama


setelah batuk, bersin dan memegang sarana umum.
3) Minimalkan kontak dengan orang sakit atau orang yang baru bepergian
dari Negara terjangkit. Jika rencana pergi ke luar negri, cek kesehatan
ke dokter (jika perlu anda dapatdivaksinasi influenza, atas permintaan
atau dilakukan tindakan khusus dengan pemberianobat.)
4) Etiket saat Batuk
Pada saat batuk atau bersin gunakanlah tissue atau masker penutup
mulut di tempelkan ke mulut atau hidung, dan jangan batuk atau bersin
kearah orang lain.
Bila ada gejala batuk dan bersin kenakanlah masker penutup mulut.
Bila waktu batuk dan bersin tutuplah mulut dengan tissue dan lain

lainnya.
Bila waktu batuk dan bersin jangan langsung berhadapan

muka/wajah
denganorang-orang sekeliling anda.
5) Pencegahan juga dilakukan melalui sosialisasi intensif ke sejumlah
puskesmas di Ibu Kota.Pengenalan flu babi sejak dini diharap akan
meningkatkan kewaspadaanmasyarakat terhadap bentuk penularannya.

16

Masyarakat dianjurkan untuk melakukan pencegahan guna


mengantisipasi penularan virusflu babi, yaitu dengan memperhatikan
beberapa hal berikut:
Gunakan pelindung (Masker, kacamata renang, sarung tangan)
setiap berhubungan dengan bahan yang berasal dari saluran

cerna babi.
Setiap hal yang berasal dari saluran cerna babi seperti sekresi
harus

ditanam/dibakar

supaya

tidak

menular

kepada

peternakan

dengan

lingkungan sekitar.
Cuci alat yang digunakan

desinfektan.
Kandang dan Sekresi babi tidak boleh dikeluarkan dari lokasi

peternakan.
Memasak daging babi dengan benar

dalam

2.4 Pelaporan Kejadian Luar Biasa (KLB)


1) Sistem Pelaporan Kejadian Luar Biasa
Standar baku surveilence KLB bagi instansi pemerintah dalam bidang kesehatan
yaitu:
1. Laporan Kewaspadaan (Dilaporkan dalam waktu 24 jam)
Laporan kewaspadaan adalah laporan adanya penderita, atau tersangka
penderita penyakit yang dapat menimbulkan wabah. Yang diharuskan
menyampaikan laporan kewaspadaan adalah :
a. Orang tua penderita atau tersangka penderita/orang dewasa yang tinggal
serumah dengan penderita tau tersangka penderita/ kepala keluarga/ ketua
RT/ RW/kepala dusun.
b. Dokter, petugas kesehatan yang memeriksa penderita/dokter hewan yang
memeriksa hewan tersangka penderita.
c. Kepala stasiun kereta api, kepala terminal kendaraan bermotor, kepala
asrama, kepala sekolah/ pimpinan perusahaan, kepala unit kesehatan
pemerintah atau swasta.
d. Nahkoda kendaraan air dan udara
Laporan kewaspadaan disampaikan kepada Kepala Lurah atau Kepala
Desa dan atau Unit Kesehatan terdekat selambat-lambatnya 24 jam sejak
mengetahui adanya penderita atau tersangka penderita KLB/ baik dengan

17

cara lisan, maupun tertulis. Kemudian laporan kewaspadaan tersebut harus


diteruskan kepada laporan kepala Puskesmas setempat.
Isi laporan kewaspadaan tersebut adalah :
Nama penderita hidup atau telah meninggal
Golongan umur
Tempat dan alamat kejadian
Waktu kejadian
Jumlah yang sakit dan meninggal
ALUR LAPORAN KEWASPADAAN

2. Laporan Kejadian Luar Biasa (W1) Dilaporkan Dalam Waktu 1 x 24


jam
Merupakan salah satu laporan kewaspadaan yang dibuat oleh unit kesehatan,
segera setelah mengetahui adanya KLB penyakit tertentu/keracunan
makanan. Laporan ini digunakan untuk melaporkan KLB atau wabah, sebagai
laporan peringatan dini kepada pihak-pihak yang menerijma laporan akan
adanya KLB penyakit tertentu di suatu wilayah tertentu. Laporan KLB ini
harus memperhatikan asas dini, cepat, dapat dipercaya dan bertanggung
jawab yang dapat dilakukan dengan lisan atau tertulis.
Laporan KLB (W1) ini harus diikuti dengan laporan Hasil Penyidikan KLB
dan Rencana Penanggulangannya.

18

Unit kesehatan yang membuat laporan KLB (W1) adalah Puskesmas, Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota dan Propinsi, dengan berpedoman pada format
Laporan KLB (W1).
Formulir Laporan KLB (W1) adalah sama untuk Puskesmas, Kab/Kota dan
Propinsi, dengan Kode berbeda. Berisi nama daerah KLB (desa, kecamatan,
kabupaten/kota dan nama puskesmas), jumlah penderita dan meninggal pada
saat laporan, nama penyakit, dan langkah-langkah yang sedang dilakukan.
Satu formulir W1 berlaku untuk 1 jenis penyakit saja.
ALUR LAPORAN KLB (W1)

Menteri Kesehatan (Dirjen


PPM&PL)

Gubernu
r

Dinas
Kesehatan
Propinsi

Bupati/waliko
ta

Dinas
Kesehatan
kab/kota
Camat

Laporan KLB Puskesmas (W1PU) :


Rumah
Laporan KLB Puskesmas (W1Pu) dibuat oleh Puskesmas kepada camat dan
sakit

Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

Puskesmas

Laporan KLB Rumah Sakit (KD/RS) :


Laporan adanya penyakit KLB di RS dibuat oleh Rumah sakit dikirim ke
Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
Laporan KLB Kabupaten/Kota (W1Ka) :
Laporan KLB Kabupaten/Kota (W1Ka) dibuat oleh dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota Kepada Bupati/Walikota dan Dinas Kesehatan Propinsi.
Laporan KLB Propinsi (W1Pr):
Laporan KLB Propinsi (W1Pr) dibuat oleh Dinas Kesehatan Propinsi kepada
Gubernur dan Departemen Kesehatan, ub. Direktorat Jenderal yang
menangani KLB Penyakit (Dirjen PPM&PL)
3. Laporan Penyelidikan Epidemiologi KLB dan Rencana Penanggulangan
KLB

19

Setelah diterbitkan laporan KLB (W1), maka pelapor segera melakukan


penyelidikan epidemiologi KLB yang dimaksud, dan segera membuat
laporan hasil penyelidikan KLB. Laporan penyelidikan epidemiologi KLB
berguna untuk memberikan pedoman pada berbagai pihak yang menerima
laporan untuk memberikan kewaspadaan yang tepat, dan apabila diperlukan
dapat memberikan dukungan yang efektif dan efisien.
Disamping itu, laporan penyelidikan epidemiologi KLB, dapat dimanfaatkan
oleh Bupati, Gubernur dan Departemen Kesehatan untuk menjelaskan kepada
masyarakat tentang adantya KLB penyakit dari langkah-langkah yang sedang
dan akan dilakukan, sekaligus mendorong sikap tanggap masyarakat terhadap
kejadian tersebut.
Laporan Penyelidikan Epidemiologi KLB dan Rencana Penangulangan KLB
berisi:
a. Kebenaran terjadinya KLB penyakit tertentu.
b. Daerah yang terserang, desa, kecamatan, kabupaten dan puskesmas yang
bertanggung jawab terhadap wilayah kejadian KLB.
c. Penjelasan diagnosis penyebab KLB dan sumber-sumber penularan atau
pencemaran yang sudah dapat diidentifikasi, termasuk bukti-bukti
laboratorium.
d. Waktu dimulainya kejadian KLB dan keadaan pada saat penyelidikan
epidemiologi KLB sedang dilakukan.
e. Kelompok penduduk terserang beserta jumlah kesakitan dan kematian
karena KLB (kurva epidemi, angka serangan dan angka kematian karena
penyakit/CFR).
f. Keadaan yang memperberat keadaan KLB, misalnya status Gizi, musim
kemarau, banjir dsb.
g. Upaya penanggulangan yang sedang dan akan dilakukan.
h. Apabila diperlukan adanya jenis dan jumlah bantuan yang dibutuhkan
i. Tim penyelidikan Epidmiologi KLB.
j. Tanggal penyelidikan Epidemiologi dilaksanakan.
Laporan penyelidikan Epidemiologi KLB dan rencana penggulangan KLB
diikuti dengan LAPORAN BERKALA PERKEMBANGAN KLB dengan isi
laporan yang sama tetapi disesuaikan dengan keadaan terakhir, ditambah
denagn perkembangan KLB.
4. Laporan Penaggulangan KLB

20

Berbeda dengan Laporan KLB (W1) dan Laporan Penyelidikan dan Rencana
Penanggulangan KLB yang dibuat pada awal kejadian KLB, maka Laporan
Penanggulangan KLB dibuat setelah KLB berakhir.
Laporan penanggulangan KLB berguna untuk menjelaskan data epidemiologi
KLB, sumber daya yang telah dimanfaatkan dan kkemungkinan terjadinya
KLB lanjutan atau KLB dimasa yang akan datang, serta kemungkinan
terjadinya peyebaran kedaerah lain.
Isi laporan Penanggulangan KLB hampir sama dengan laporan penyelidikan
epidemiologi dan rencana pemnanggulangan KLB, sebagai berikut:
a. Kebenaran terjadinya KLB penyakit tertentu.
b. Daerah yang terserang, desa, kecamatan, kabupaten, dan puskesmas yang
bertanggung jawqab terhadap wilayah kejadian KLB.
c. Penjelasan diagnosis penyebab KLB dan sumber-sumber penularan atau
pencemaran yang sudah dapat diidentifikasi, termasuk bukti-bukti
laboratorium.
d. Waktu dimulainya KLB dan berakhirnya KLB (periode serangan KLB).
e. Kelompok penduduk yang terserang beserta jumlah kesakitan dan
kematian karena KLB (kurva epidemi, angka serangan dan angka
kematian karena penyakit/CFR).
f. Keadaan yang memperberat keadaan KLB, misal, status gizi, musim
kemarau, banjir dsb.
g. Upaya penanggulangan yang telah dilakukan.
h. Upaya pencegahan dan kesiapsiagaan terhadap KLB dimasa yang akan
datang.
i. Tim Penanggulangan KLB.
j. Tanggal Laporan dibuat
Laporan ini merupakan sumber data epidemiologi yang sangat penting
untuk merumuskan kebijakan dan rencana kerja program penanggulangan
KLB dimasa akan datang.
5. Laporan Mingguan Wabah (W2)
Laporan Mingguan Wabah (W2) merupakan bagian dari sistem Kewaspadaan
Dini KLB yang dilaksanakan oleh unit kesehatan terdepan (Puskesmas).
Sumber data laporan mingguan Wabah (W2) adalah data rawat jalan dan
rawat inap dari puskesmas, puskesmas pembantu, puskesmas keliling,
posyandu, masyarakat dan Rumah Sakit pemerintah maupun Swasta. Setiap
daerah Kabupaten/Kota atau Propinsi memiliki beberapa penyakit potensial
KLB yang perlu diwaspadai dan deteksi dini. Sikap waspada terhadap
penyakit potensial KLB ini juga diikuti dengan sikap tim profesional, logistik
21

dan tata cara penanggulangannya, termasuk sarana administrasi, komunikasi


dan transportasi.
Secara nasional penyakit yang wajib diwaspadai adalah diare dan polio/AFP
ditambah dengan penyakit potensial KLB spesifik lokal misal DBD, Malaria
dan lain-lain, baik Propinsi maupun Kabupaten/Kota. Penyakit ini yang
dimasukkan dalam Laporan Mingguan Wabah (W2) ini, Puskesmas dan
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota membuat kurva Mingguan Wabah untuk
setiap jenis penyakit potensial KLB, sebagai alat deteksi respon dini KLB.
ALUR PELAPORAN MINGGUAN WABAH(W2) dan
PEMANFAATANNYA

3. Membuat kurva
mingguan kab/kota
dan tabel mingguan
perPuskesmas
setiap penyakit
potensial KLB

Dinas
Kesehatan
kab/kota
Rumah Sakit

4. Analisis deteksi dini


KLB
1. Membuat kurva
mingguan Puskesmas
dan tabel mingguan
per desa setiap
penyakit potensial KLB

Puskesmas

2. Analisis deteksi dini


KLB
Praktek
swasta

Masyarak
at

Masyaraka
t

Bidan
desa

Puskesm
as
pembant
u

Poliklinik
Puskesm
as

2) Faktor yang mempengaruhi tingginya angka Zoonosis di Indonesia


Peningkatan interaksi antara hewan domestik, satwa liar dan manusia adalah
faktor kritis dan penting secara progresif dalam dinamika kemunculan
22

penyakit dan penularan patogen zoonosis. Suatu model konvergensi yang


disajikan dibawah ini membantu untuk mengkonseptualisasikan bagaimana
faktor-faktor yang mendorong kemunculan penyakit baru dan penyakit lama
yang muncul kembali bergabung satu sama lain dan menyatu serta merubah
keterkaitan antara hewan-manusia-mikroba, sehingga kemudian mampu
memproduksi dan menularkan penyakit.
Faktor yang berpengaruh adalah :
a. Faktor manusia yang berkontribusi terhadap kemunculan zoonosis
mencakup elemen seperti perilaku dan gaya hidup, mobilitas (perjalanan
dan keimigrasian), serta kondisi kehidupan ekonomi dan teknologi. Skala
populasi manusia dan kepadatan habitat juga mempengaruhi kemunculan
zoonosis.
b. Faktor hewan meliputi keragaman geografis, perdagangan legal dan
ilegal hewan domestik dan satwa liar, biodiversitas, keseimbangan
predator/pemangsa hewan lain, habitat dan kesehatan hewan.
c. Faktor lingkungan beragam mulai dari tanah dan vegetasi, cuaca dan
musim, perubahan iklim jangka panjang, serta kondisi lokal seperti
ketinggian tempat, temperatur, kelembaban yang mempengaruhi populasi
hewan dan vektor.

Gambar 2: Matriks dan interaksi antara faktor-faktor pendorong dengan


patogen yang berkontribusi terhadap kemunculan zoonosis baru dan yang
muncul kembali.
d. Globalisasi, pertumbuhan dan pergerakan populasi orang dan hewan;
urbanisasi yang cepat; ekspansi perdagangan hewan dan produk hewan;
meningkatnya kecanggihan teknologi dan praktek budidaya ternak;

23

interaksi yang lebih dekat dan lebih intensif antara ternak dan satwa liar;
meningkatnya perubahan ekosistem, perubahan ekologi vektor dan
reservoir; perubahan pemanfaatan lahan, termasuk perambahan hutan;
dan perubahan pola perburuan dan konsumsi satwa liar. Tidak dapat
dihindarkan bahwa orang, hewan, dan produk secara global bergerak lebih
cepat dari masa inkubasi hampir setiap patogen yang pernah dikenal
sampai saat ini.
3) Kelemahan Sistem Dalam Penanggulangan New Emerging Disease
Faktor yang Berperan
Berbagai faktor dapat berperan dalam timbulnya penyakit lingkungan berbasis
wilayah seperti water born diseases, air born diseases, vector born diseases, food born
diseases, antara lain dukungan ekosistem sebagai habitat dari berbagai vektor,
peningkatan iklim global (global warming) yang meningkatkan akselerasi
perkembangbiakan nyamuk, peningkatan kepadatan populasi penduduk yang
dijadikan hamparan kultur biakan bagi berbagai macam penyakit serta dijadikan
persemaian subur bagi virus sekaligus sarana eksperimen rekayasa genetika.
Mobilisasi penduduk yang memungkinkan ekspor-import penyakit yang
tidak lagi mengenal batas administrasi wilayah, Kemampuan mikroba patogen untuk
mengubah sifat dirinya dari waktu ke waktu, misalnya mutasi yang menimbulkan
perubahan sifat, resistensi terhadap obat obatan dan lain sebagainya, kurangnya
kesadaran masyarakat dalam membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat atau
perubahan perilaku yang mendukung aksesbilitas agent menginfeksi host serta
pencemaran lingkungan yang cukup intens sebagai konsekuensi oleh eksplorasi,
manipulasi, dan eksploitasi terhadap lingkungan biologis, kimiawi, fisis dan sosial.
Berbagai kegiatan pembangunan manusia yang dikerjakan secara sendiri-sendiri
berkelompok maupun yang diprogramkan karena kepentingan negara, bahkan dunia
sekalipun akan menimbulkan dampak, faktor-faktor ini bisa menyebabkan kerentanan
terhadap kemampuan tubuh dalam menangkal penyakit sehingga melahirkan berbagai
penyakit menular berbasis lingkungan yang melengkapi koleksi penyakit di tanah air.
Pada kejadian suatu penyakit, berbagai variabel lingkungan dan kependudukan
termasuk didalamnya perilaku hidup sehat adalah dua faktor risiko utama penyakit.
Penyehatan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat merupakan upaya utama
pengendalian berbagai faktor risiko penyakit dalam satu wilayah. Manajemen
penyakit lingkungan berbasis wilayah, dapat dilakukan melalui manajemen kasus

24

(case

management)

dan

manajemen

kesehatan

masyarakat

(public

health

management).
1.

Manajemen Kasus (case management)


Merupakan bagian penting dari manajemen penyakit infeksi baru maupun
penyakit infeksi lama yang muncul kembali, penerapan teknik dan kemampuan
diagnosis, pemeriksaan laboratorium, pengobatan, perawatan dan rehabilitasi
serta pencegahan agar tidak menular kepada orang lain. Manajemen kasus yang
berhasil, merupakan upaya pencegahan yang efektif agar penyakit tidak
menyebar, dan tidak menjadi sumber penularan. Surveilans kasus, yang dilakukan
dengan baik, sampai menimbulkan aksi, merupakan salah satu item penting
yang perlu dilakukan. Surveilans terpadu adalah kegiatan pengumpulan data, baik
faktor risiko maupun kejadian penyakit yang dilakukan secara simultan,
sistematik, periodik, berkesinambungan dan terencana, yang diikuti oleh analisis
data untuk mendapatkan informasi yang digunakan dalam pengambilan
keputusan (manajemen).

2.

Manajemen Kesehatan Masyarakat (Public Health Management)


Manajemen penyakit berbasis lingkungan tidak bisa dilaksanakan secara sendiri.
Oleh sebab itu, kemitraan dan Networking adalah salah satu kunci utama. Global
Networking dilakukan antarnegara, misalnya ASEAN, ASEAN + 3 negara
(Japan, China, Korea). Dalam pola baru ini disamping digunakan cara klasifikasi
gejala penyakit yang praktis dan sederhana dengan teknologi tepat guna, juga
dipisahkan antara tatalaksana penyakit Pneumonia dan tatalaksana penderita
penyakit infeksi akut telinga dan tenggorok.

National Networking
Di Indonesia networking antara Pusat dengan Dinas Kesehatan, dengan laboratorium
baik di Rumah Sakit maupun Laboratorium Kesehatan Masyarakat seperti seperti
Balai

Teknik

Kesehatan

Lingkungan

dan

Penyelidikan

Penyakit

Menular

(BTKLP2M). Demikian pula dengan unit vertikal lainnya seperti Kantor Kesehatan
Pelabuhan serta dengan LSM yang bergerak di bidang kesehatan yang relevan.
Networking juga harus dilakukan dengan semua pelaku kesehatan dan tentu saja
masyarakat itu sendiri, melalui berbagai media.
Kerja Sama Lintas Sektor
Sesuai dengan kasus yang berkembang, maka kerjasama dengan berbagai instansi
lintas sektor diperlukan, koordinasi dengan Departemen Pertanian beserta UPT
25

Dinasnya di daerah dalam menangani KLB Flu burung oleh Virus Influenza A subtype
H5N1.
Kerja sama dengan Dinas Pariwisata ketika terjadi wabah SARS dan lain sebagainya.
Untuk keberhasilan program dalam skala massal dan berkesinambungan perlu
diterapkan pendekatan kesehatan berbasis masyarakat. Pembentukan kemampuan
diagnosis dini dan respon dini secara proaktif di level desa, dalam rangka
pengendalian yang cepat dan tepat sasaran berdasarkan spesifik wilayah, yang
memiliki potensi risiko yang berbeda.
Lembaga pendidikan kesehatan sebagai institusi yang memiliki tugas tridharma
perguruan tinggi perlu melakukan rekonstruksi kurikulum pendidikan kesehatan
masyarakat yang berbasis kompetensi, boleh jadi diarahkan dari subject based
knowledge ke problem based learning yang antara lain didasari oleh SPICES (Student
center,

Problem

based,

Integrated

learning,

Community

oriented,

Early

clinical/exposure environmental epidemiological serta Systematic) tema skenario


yang diangkat berdasarkan berbagai masalah penyakit infeksi baru yang memiliki
evidenced based, penyebaran (global dan local epidemiologi), teknik penyelidikan
epidemiologi serta manajemen penyakit infeksi baru tersebut.
Di satu sisi, penanggulangan eksposure lingkungan antara lain upaya pencemaran
lingkungan merupakan tanggung jawab semua pelaku pembangunan. Departemen
Kesehatan tidak mungkin dapat mewujudkan kesehatan masyarakat, tanpa komitmen
pelaku pembangunan, mulai dari aspek perundang-undangan termasuk PERDA,
penerapan strategi, adanya perioritas kebijakan dan program pelaksanaan dan evaluasi
di masing-masing instansi, untuk mewujudkan lingkungan yang sehat dan bersih.
Kesimpulan
Masalah penyakit lingkungan berbasis wilayah meliputi penyakit New
Emerging Infectious Disease (NEID) dan Re Emerging Infectious Disease
(REID) merupakan ancaman kesehatan masyarakat yang harus diantisipasi,
karena berpotensi terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB), menyebar dalam
tempo singkat dan menimbulkan dampak luar biasa terhadap kehidupan
masyarakat serta merupakan salah satu ancaman serius di masa mendatang.
Untuk itu dibutuhkan kolaborasi lintas sektor, lintas program maupun lintas
negara dalam manajemen penanggulangannya, termasuk keterlibatan aktif
lembaga pendidikan kesehatan.

26

Weak Surveillance System; tidak bisa dipungkiri untuk negara berkembang


terutama di Indonesia sendiri sistem pencatatan dan pelaporannya pun masih
minim dan jauh dari nilai-nilai efektifitas misalnya dalam hal surveilans
epidemiologi pun masih sangat lemah dan banyak kekeliruan ditambah lagi
masih ada sebagian besar yang menggunakan sistem manual.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Emerging diseases adalah wabah penyakit menular yang tidak diketahui
sebelumnya atau penyakit menular baru yang insidennya meningkat signifikan dalam
dua dekade terakhir, contohnya H1N1 (Flu Babi) & MERS. H1N1 adalah penyakit
saluran pernafasan akut pada babi yang disebabkan oleh virus influensa tipe A yang
merupakan singkatan dari dua antigenutama virus yaitu hemagglutinin tipe 1 dan
neuraminidase tipe 1. MERS adalah penyakit sindrom pernapasan yang disebabkan
oleh virus Corona yang menyerang saluran pernapasan dan menimbulkan gejala mulai
dari ringan hingga berat. MERS pertama kali dilaporkan pada tahun 2012 di Saudi
Arabia.
Masalah penyakit lingkungan berbasis wilayah meliputi penyakit New
Emerging Infectious Disease (NEID) dan Re Emerging Infectious Disease (REID)
merupakan ancaman kesehatan masyarakat yang harus diantisipasi, karena berpotensi
terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB), menyebar dalam tempo singkat dan
menimbulkan dampak luar biasa terhadap kehidupan masyarakat serta merupakan
salah satu ancaman serius di masa mendatang. Untuk itu dibutuhkan kolaborasi lintas
sektor, lintas program maupun lintas negara dalam manajemen penanggulangannya,
termasuk keterlibatan aktif lembaga pendidikan kesehatan.

27

DAFTAR PUSTAKA
Alsagaff, Hood dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru. GRAMIK FK UNAIR. 2004
Budiarto. Eko. Dewi Anggraeni. 2003. Pengantar Epidemiologi. Jakarta; EGC.
Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat. 2006. Laporan Kajian Kebijakan Penanggulangan (Wabah)
Penyakit Menular. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Tahun 2006 Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional Tahun 2006.
Dorland, W.A. Newman. Kamus Kedokteran Dorland ed. 29. Jakarta: EGC, 2002
E. Jewetz. Mikrobiologi Untuk Profesi Kesehatan edisi 16 Jakarta: EGC, 2004
Efendy. Nasrul.1998. Dasar-dasar Kesehatan Masyarakat. Jakarta; EGC.
Fineberg H.V. and Wilson M.E. (2010). Emerging Infectious Diseases. Paper accompanies the International
Risk Governance Council (IRGC) report The Emergence of Risks: Contributing Factors.
Guyton Arthur C, John E Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Ed. 11. Jakarta : EGC
Kemenkes RI., 2013. Pedoman Umum Kesiapsiagaan Menghadapai Middle East Respiratory
Syndrome-Corona Virus (MERS-CoV). Jakarta.
King L.J. (2004). Emerging and re-emerging zoonotic diseases: Challenges and opportunities. OIE document 72
SG/9. 72nd OIE General Session, Paris, 23-28 May 2004.
http://www.aclu.org/pdfs/privacy/pemic_report.pdf
http://www.niaid.nih.gov/topics/emerging/Pages/list.aspx
http://www.niaid.nih.gov/topics/Flu/understandingFlu/Pages/definitionsOverview.aspx
http://www.who.int/csr/disease/coronavirus_infections/MERS_CoV_Update_27_March_2014
.pdf?ua=1
http://www.who.int/csr/disease/influenza/pandemic/en/
http://www.who.int/csr/disease/influenza/pipguidance2009/en/index.html

28