Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Fisiologi tumbuhan adalah ilmu tentang proses-proses faal/fungsi fisiologis tumbuhan.
Ada banyak pembahasan dalam fisiologi tumbuhan, salah satu diantaranya adalah potensial
ari jaringan tumbuhan. Air merupakan salah satu zat yang sangat penting bagi reaksi biosfer
yang terjadi di atmosfer, termasuk reaksi internal dalam jaringan tumbuhan. air pada jaringan
tumbuhan memiliki potensial.
Proses difusi dan osmosis sangat erat kaitannya dengan pengukurna potensial air
jaringan tumbuhan. difusi merupakan perpindahan zat terlarut, dari konsentrasi yang lebih
tinggi menuju ke konsentrasi yang lebih rendah. Osmosis merupakan difusi air melalui
membran semipermeabel. Mekanisme difusi osmosis berguna dalam transpor zat dan
osmoregulasi, dalam hal ini kesetimbangan zat-zat (konsentrasi) di dalam sel dan di luar sel.
Pada mekanisme osmosis, terjadi perbedaan konsentrasi garam-garaman pada dua ruang, ini
adalah mekanisme sel mempertahankan keseimbangan garam-garaman tersebut, dengan jalan
melewatkan/melalui air, menuju ke ruang yang memiliki konsentrasi garam-garaman yang
lebih banyak, karena garam-garaman tersbut tidak mampu melalui membran sel yang semi
permeabel. Hanya air dan ion garam-garaman tertentu yang dapat melalui membran sel.
Tumbuhan akan berkembang secara normal dan tumbuh subur serta aktif apabila selselnya dipenuhi dengan air, berhubung air berfungsi sebagai medium berbagai reaksi kimiawi
sel. Suatu ketika apabila waktu perkembangannya, tumbuhan kekurangan suplai air, maka
kandungan air dalam tumbuhan menurun dan laju perkembangannya yang ditentukan oleh
laju semua fungsi-fungsi yang juga menurun. Jika keadaan kekeringan ini berlangsung lama,
maka dapat mematikan tumbuhan.
Oleh karena difusi dan osmosis merupakan pokok bahasan yang sangat mendasar dan
penting dalam fisiologi tumbuhan, sehingga maka perlu diadakan praktikum khusus
mengenai difusi dan osmosis, utamanya mengenai potensial air jaringan tumbuhan unit 1
praktikum fisiologi tumbuhan.
B. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan praktikum ini adalah untuk mengukur nilai potensial air jaringan umbi
kentang.
C. Manfaat Praktikum
Manfaat dari praktikum ini diantaranya menambah keterampilan prkatikum
mahasiswa dan wawasan mahasiswa, khususnya mengenai cara mengukur nilai potensial air
jaringan umbi kentang berdasarkan hasil pengamatan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Dinding sel dan membran sel tumbuhan merupakan ciri khas yang membedakan sel
tumbuhan dengan sel hewan. Membran sel dapat dilalui zat-zat terlarut dengan mudah,
sedangkan dinding sel yang bahan penyusunnya bersifat kaku mengakibatkan terjadinya
tekanan pada sel (Muhammadiah, 2010).
Struktur dinding sel dan membran sel berbeda. Membran memungkinkan molekul air
melintas lebih cepat daripada unsur terlarut; dinding sel primer biasanya sangat permeable
terhadap keduanya. Memang membran sel tumbuhan memungkinkan berlangsungnya
osmosis, tapi dinding sel yang tegar itulah yang menimbulkan tekanan. Sel hewan tidak
mempunyai dinding, sehingga bila timbul tekanan didalamnya, sel tersebut sering pecah,
seperti yang terjadi saat sel darah merah dimasukkan dalam air. Sel yang turgid banyak
berperan dalam menegakkan tumbuhan yang tidak berkayu (Salisbury, 1995).
Sifat air. Air mempunyai sejumlah sifat yang unik atau tidak lazim sehingga
memungkinkan terlaksananya banyak peranan khusus dalam biosfer. Pada suhu rendah air
berbentuk padat, pada suhu normal air berbentuk cair, sedang pada suhu tinggi air dalam
wujud gas. Keberadaan air dalam sel tumbuhan, menyebabkan terjadinya difusi ataupun
osmosis ketika terjadi ketidaksetimbangan zat-zat terlarut dalam ruang-ruang sel tumbuhan
(Kimball, 1983).
Osmosis sangat ditentukan oleh potensial kimia air atau potensial air, yang
menggambarkan kemampuan molekul air untuk dapat melakukan difusi. Sejumlah besar
volume air akan memiliki kelebihan energi bebas daripada volume yang sedikit, dibawah
kondisi yang sama. Energi bebas suatu zat per unit jumlah, terutama per berat gram molekul
(energi bebas mol-1) disebut potensial kimia.potensial kimia zat terlarut kurang lebih
sebanding dengan konsentrasi zat terlarutnya. Zat terlarut yang berdifusi cenderung untuk
bergerak dari daerah yang berpotensi kimia lebih tinggi menuju daerah yang potensial
kimianya lebih kecil (Sasmitamihardja, 1996).
Potensial air merupakan alat diagnosis yang memungkinkan penentuan secara tepat
keadaan status air dalam sel atau jaringan tumbuhan. Semkain rendah potensial dari suatu sel
atau jaringan tumbuhan, maka semakin besar kemampuan tanaman untuk menyerap air dari
dalam tanah. Sebaliknya, semakin tinggi potensial air, semakin besar kemampuan jaringan
untuk memberikan air kepada sel yang mempunyai kandungan air lebih rendah (Basahona,
2011).
Huruf yunani psi (), digunakan untuk menyatakan potensial air dari suatu sistem,
apakah system itu berupa sampel tanah tempat tumbuhan, atau berupa suatu larutan. Potensial
air dinyatakan dalam bar. Pada umumnya nilai potensial air dalam tumbuhan mempunyai

nilai yang lebih kecil dari 0 bar, sehingga mempunyai nilai yang negative. Nilai potensial
air di dalam sel dan nilainya di sekitar sel akan mempengaruhi difusi air
dari dan ke dalam sel tumbuhan. Dalam sel tumbuhan ada tiga faktor
yang menetukan nilai potensial airnya, yaitu matriks sel, larutan dalam
vakuola dan tekanan hidrostatik dalam isi sel. Hal ini menyebabkan
potensial air dalam sel tumbuhan dapat dibagi menjadi 3 komponen yaitu
potensial matriks, potensial osmotik dan potensial tekanan (Basahona,
2011).
Potensial kimia air atau biasanya dinyatakan sebagai potensial air, PA (, psi) penting
untuk diketahui agar dapat dimengerti pergerakan air di dalam sistem tumbuhan, tanah dan
udara. Potensial air biasanya dinyatakan dalam satuan bar, atm, seperti satuan tekanan. Air
akan bergerak dari PA tinggi ke PA yang lebih rendah. Jadi difusi termasuk osmosis, terjadi
sebagai akibat adanya gradient dalam energi bebas dari partikel-partikel yang berdifusi
(Ismail, 2011).
Potensial air adalah suatu pernyataan dari status energi bebas air, suatu ukuran datat
yang menyebabkan air bergerak ke dalam suatu sistem, seperti jaringan tumbuhan, tanah atau
atmosfir, atau dari suatu bagian ke bagian lain dalam suatu sistem. Potensial air mungkin
merupakan parameter yang paling bermanfaat untuk diukur dalam hubungannya dengan
sistem tanah, tanaman dan atmosfir (Ismail,..2011).
Komponen-komponen potensial air atau jaringan adalah sebagai berikut :
w = s + p + m
Dimana

(PA = PO + PT + PM)
w = potensial air suatu tumbuhan
s = potensial osmotik
p = potensial tekanan atau turgor

m = potensial matriks (Ismail, 2011)


Menurut Ismail 2011, potensial osmotik adalah potensial yang disebabkan oleh zat-zat
terlarut. Tandanya selalui negatif. Potensial tekanan adalah potensial yang disebabkan oleh
tekanan hidrostatik isi sel pada dinding sel. Nilainya ditandai dengan bilangan positif, nol,
atau dapat juga negatif. Penambahan tekanan (terbentuknya tekanan turgor) mengakibatkan
potensial tekanan lebih positif. Potensial matriks disebabkan oleh ikatan air pada koloid
protoplasma dan permukaan (dinding sel). Potensial matriks bertanda negatif, tetapi pada
umumnya pada sel-sel bervakuola, nilainya dapat diabaikan. Oleh karena itu, persamaan
diatas dapat disederhanakan menjadi :
w = s + p (PA = PO + PT)
Potensial air jaringan ditentukan dengan cara merendam potongan jaringan dalam
suatu seri larutan sukrosa atau manmitol (non-elektrolit) yang diketahui konsentrasinya
(Ismail, 2011).

Analisis kuantitatif potensial air. Pengaruh gabungan dari tekanan dan konsentrasi zat
terlarut ini terhadap potensial air ditulis dalam persamaan berikut ini :
= p + s
dimana p adalah potensial tekanan (tekanan fisik suatu larutan) dan s adalah potensial zatzat terlarut, yang sebanding dengan konsentrasi zat-zat terlarut dari suatu larutan. (s juga
disebut potensial osmotik.) Tekanan pada suatu larutan (p) bisa berupa suatu bilangan yang
positif atau negatif (tegangan, suatu tekanan negatif). Sebaliknya, potensial zat-terlarut dari
suatu larutan (s) selalu negatif, dan semakin besar konsentrasi zat-zat terlarut, semakin
tinggi nilai s (Campbell, 2004).

BAB III

METODOLOGI PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Hari / Tanggal

B.

: Senin / 2 Mei 2011

Waktu

: Pukul 09.10 s.d 10.40 WITA

Tempat

: Laboratorium Biologi Lantai II Barat FMIPA UNM

Alat dan Bahan

1. Alat
a. Bor sumbat gabus berdiameter 0,8 cm 1 buah
b. Silet
c. Neraca Ohaus
d. Cawan Petri 9 buah
e. Kertas saring
f. Pinset
2.

Bahan

a. Bahan tumbuhan
b. Bahan kimia

: umbi kentang (Solanum tuberosum)


: Larutan sukrosa : 0,1 M, 0,2 M, 0,3 M, 0,4 M, 0,5 M, 0,6 M, 0,7 M,

0,8 M, dan aquadest.


c. Label dari kertas tempel (berperekat)
C. Prosedur Kerja
1.

Menyiapkan semua alat dan bahan yang dibutuhkan.

2.

Mengambil 9 buah cawan petri, kemudian mengisi tiap-tiap cawan petri dengan larutan
sukrosa dengan konsntrasi yang berbeda, mulai dari aquadest, sukrosa 0,1 M hingga sukrosa

0,8 M.
3. Membuat beberapa silinder umbi kentang dengan menggunakan bor sumbat gabus berserta
alat penusuknya.
4. Memotong masing-masing silinder umbi kentang dengan pisau silet. Masing-masing ukuran
potongan + 2 mm.
5.

Mengambil 10 buah potongan silinder umbi kentang dengan ketebalan + 2 mm, kemudian
menimbangnya dengan menggunakan neraca ohaus. Hasil penimbangan di masukkan ke
dalam table laporan sementara sebagai W1.

6.

Memasukkan sekitar 10 buah potongan silinder umbi kentang + 2 mm ke dalam masingmasing cawan petri yang berisi larutan dengan beda konsentrasi, dengan jeda waktu

pemasukan tiap-tiap cawan petri adalah 5 menit.


7. Mengangkat potongan umbi kentang yang telah direndam selama 5 menit, dengan
menggunakan pinset, meletakkannya ke dalam kertas saring, untuk memastikan air dalam
cawan petri tidak melekat di sekitar potongan umbi kentang.

8.

Menimbang potongan umbi kentang tadi sebagai W2. Memasukkan data hasil pengamatan

ke dalam tabal laporan sementara.


9. Melakukan perlakuan 5-8 kepada masing-masing potongan umbi kentang ke dalam masingmasing cawan petri, dengan jeda waktu masing-masing 5 menit, kemudian memasukkan nilai
neraca (data) ke dalam laporan sementara.
10. Menghitung rumus berikut perubahan berat, dengan menggunakan rumus :
11. Kemudian membuat grafik dan plotkan persen perubahan berat pada ordinat dan konsentrasi
larutan sukrosa (dalam molar) pada absis.
12. Potensial air jaringan dapat diperoleh setelah terlebih dahulu menghitung potensial osmotik
untuk masing-masing konsentrasi larutan sukrosa, dengan menggunakan rumus berikut:
-s = MiRT
Dimana

M = molaritas dari larutan sukrosa


I = konstanta ionisasi, untuk sukrosa = 1
R= konstanta gas (0,0831 bar/ derajat mol)
T= suhu absolute= ( C + 273)

Rumus diatas cukup digunakan untuk menghitung potensial osmotik satu larutan sukrosa.
Selanjutnya, potensial dari larutan-larutan lainnya dapat ditentukan dengan menggunakan
rumus berikut:
13. Kemudian menentukan dengan menginterpolasikan dari grafik, konsentrasi sukrosa yang
tidak menghasilkan perubahan berat. Dan menghitung s dari larutan ini. Nilai s tersebut
sebanding dengan potensial air (w) jaringan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
1. Tabel hasil pengamatan
Tabel hubungan konsentrasi dengan perubahan tinggi permukaan cairan
Larutan
Berat
Perubahan
berat (gr)
Awal (W1) Akhir (W2)
Aquadest
Sukrosa 0,1M
Sukrosa 0,2M
Sukrosa 0,3M
Sukrosa 0,4M
Sukrosa 0,5M
Sukrosa 0,6M
Sukrosa 0,7M

1,3
1,2
0,9
1,1
1,2
1
0,9
0,8

1,3
1,2
1,1
1,1
0,95
0,95
1,0
0,9

0
0
0,2
0
-0,25
-0.05
0,1
0,1

Persentase perubahan
berat (%)
0
0
22,22
0
-20,83
-5
11,11
12,5

Sukrosa 0,8M

0,8

0,9

0,1

12,5

B. Analisis Data
Rumus:
1. Aquades
2. Larutan Sukrosa 0,1 M
3. Larutan Sukrosa 0,2 M
4. Larutan Sukrosa 0,3 M
5. Larutan Sukrosa 0,4 M
6. Larutan Sukrosa 0,5 M
7. Larutan Sukrosa 0,6 M
8. Larutan Sukrosa 0,7 M
9. Larutan Sukrosa 0,8 M
Rumus yang digunakan untu menghitung potensial osmotik yaitu: s = -MiRT,
Untuk sadalah potensial osmotik; M = molaritas larutan; i = konstanta ionisasi; R =
konstanta gas; T = temperature absolute. Rumus pehitungan osmotic yang lain; M1/ s1 =
M2/ s2
1. Aquades
s = -MiRT
s = -0 x 1 x 0,0831 x 300
s = 0 bar
2. Larutan Sukrosa 0,1 M
s = -MiRT
s = -0,1 x 1 x 0,0831 x 300
s = -2,493 bar
3. Larutan Sukrosa 0,2 M

bar
4. Larutan Sukrosa 0,3 M

bar
5. Larutan Sukrosa 0,4 M

bar
6. Larutan Sukrosa 0,5 M

bar
7. Larutan Sukrosa 0,6 M

bar
8. Larutan Sukrosa 0,7 M

bar
9. Larutan Sukrosa 0,8 M

bar
GRAFIK % PERUBAHAN BERAT
C. Pembahasan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah menentukan mol potensial air pada jaringan
umbi kentang (Solanum tuberosum). Dengan proses yaitu dengan melakukan
perendaman terhadap umbi kentang yang sudah terpotong-potong sesuai prosedur kerja dan
dimasukan kedalam larutan sukrosa dengan konsentrasi serta dalam aquades sebagai variabel
konntrol. Setelah itu merendam umbi kentang kedalam larutan sukrosa selama masingmasing selama 5 menit.
Berdasarkan dari tabel hasil pengamatan laporan sementara, aquades, larutan sukrosa
konsentrasi 0,1 M dan 0,3 M tidak memiliki nilai perubahan berat dan % perubahan berat.
Namun pada konsentrasi sukrosa 0,2 M, 0,4 M sampai 0,8 M, terjadi perubahan berat.
Larutan sukrosa 0,2 M, 0,6 M, 0,7 M dan 0,8 M nilainya positif. Nilai positif ini diperoleh
dari berat akhir kentang yang lebih besar dari berat awal kentang, akibat terjadinya
penambahan berat jaringan oleh air dari larutan sukrosa. Umbi pada larutan sukrosa 0,4 M
dan 0,5 M memliki nilai perubahan berat negtif. Nilai ini diperoleh dari berat akhir kentang
yang lebih kecil dari berat awal kentang. Pergerakan air dari larutan sukrosa menuju sel
kentang menunjukkan bahwa konsentrasi air dalam larutan sukrosa lebih tinggi daripada
dalam sel kentang. Dengan demikian larutan sukrosa 0,2 M, 0,6 M, 0,7 M dan 0,8 M disebut
larutan hipotonis (larutan dengan kandungan solute yang lebih rendah dari larutan lain). Nilai
negative perubahan dan % perubahan berat akhir yang terjadi pada konsentrasi sukrosa 0,4 M
dan 0,5 M diperoleh dari berat akhir kentang yang lebih kecil dari berat awalnya, akibat
terjadi penyusutan berat jaringan karena air keluar dari sel menuju larutan sukrosa sehingga

dapat disimpulkan merupakan larutan hipertonis (kandungan solutenya lebih tinggi daripada
sekelilingnya). Hal ini berarti telah sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa air bergerak
dari potensial air tinggi ke potensial air yang rendah. Perpindahan atau pergerakan molekul
air dari potensial air yang tinggi kepotensial air yang rendah disebut dengan osmosis.
Pada praktikum kali ini terdapat jaringan kentang yang tidak mengalami penambahan
maupun pengeluaran air atau tidak ada pergerakan molekul air, disebut larutan isotonis.

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum ini adalah bahwa osmosis merupakan difusi air,
hal ini karena terdapat ruang terpisah satu sama lain oleh membran selektif permeabel.
Apabila konsentrasi larutan tinggi dari jaringan, maka air keluar jaringan sehingga berat
jaringan berkurang, disebut jaringan dalam kondisi hipertonis. begitu pula sebaliknya
(kondisi hipotonik). Sedangkan larutan isotonis tidak terjadi perpindahan molekul air
sehingga berat jaringan tetap.
B. Saran
1. Sebaiknya praktikan lebih teliti dalam melakukan praktikum agar hasil yang di peroleh
sesuai dengan tujuan yang diharapkan dan meningkatkan kerjasama antara sesama anggota
kelompok.
2. Sebaiknya kakak asisten membimbing sepenuh hati, dengan memberikan penjalasanpenjelas yang berhubungan dengan kegiatan praktikum, menjelaskan langkah-langkah
praktikum yang salah sehingga perlu diperbaiki, guna memperoleh data praktikum sesuai
yang diinginkan.
3. Sebaiknya laboran memperbarui alat-alat praktikum, misalnya mikroskop atau alat bedah,
karena sudah banyak yang rusak (tak layak pakai) serta menambah alat-alat praktikum
lainnya, guna kelancaran kegiatan praktikum.

DAFTAR PUSTAKA
Basahona, Sumanto. 2011. Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan Pengukuran
Potensial Air Jaringan Tumbuhan. http://basahona.blogspot.com/2010/12 /laporanpraktikum-fisiologi-tumbuhan.html.
Campbell, Neil A, Jane B Reece, dan Lawrence G Mitchel. 2004. Biologi Edisi ke 5 jilid II.
Penerbit Erlangga, Jakarta.

Ismail dan Abd Muis. 2011. Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Jurusan Biologi
Universitas Negeri Makassar, Makassar.
Kimball, John W. 1983. Biologi. Penerbit Erlangga, Jakarta.
Muhammadiah, Asia dan Hilda Karim. 2010. Anatomi Tumbuhan. Jurusan Biologi Universitas
Negeri Makassar, Makassar.
Salisbury, Frank B. dan Clean W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. ITB, Bandung.
Sasmitamihardja, Dardjat, dan Arbayah Siregar. 1996. Fisiologi Tumbuhan. Jurusan
Biologi ITB, Bandung

Laporan Praktikum: Pengaruh Suhu Terhadap Laju Rrespirasi


Aerob
Respirasi merupakan proses katabolisme atau penguraian senyawa
organik menjadi senyawa anorganik. Respirasi sebagai proses oksidasi bahan
organik yang terjadi didalam sel dan berlangsung secara aerobik maupun
anaerobik. Dalam respirasi aerob diperlukan oksigen dan dihasilkan
karbondioksida serta energi. Sedangkan dalam respirasi anaerob dimana
oksigen tidak atau kurang tersedia dan dihasilkan senyawa selain
karbondiokasida, seperti alkohol, asetaldehida atau asam asetat dan sedikit
energi (Lovelles, 1997).
Respirasi aerob ialah suatu proses pernafasan yang membutuhkan
oksigen dari udara. Kalau fotosintesis merupakan proses penyususnan
(anabolisme) maka pernafasan merupakan proses pembongkaran (katabolisme),
dimana
energy
yang
tersimpan
tadi
ditimbulkan
kembali
untuk
menyelenggarakan proses-proses kehidupan. Jika gula heksosa diambil sebagai
bahan bakar dan pembakaran itu merupakan oksigen bebas, maka reaksi
keseluruhannya dapat dituliskan sebagai berikut : C 6H12O6 + 6 O2 6CO2 +
6H2O + 675 kal (Dwidjoseputro, 1980).
Reaksi respirasi termasuk dalam reaksi katabolisme yang memecah
molekul-molekul gula menjadi molekul-molekul anorganik berupa CO 2 dan H2O.
Respirasi atau pernafasan berfungsi untuk mendapatkan energi dari bahanbahan organik melalui proses pemecahan gula yang disebut dengan proses
glikolisis. Senyawa gula pada tanaman didapatkan dari proses fotosintesis.
Butiran amilum yang tersimpan dalam berbagai jaringan dan organ penyimpan
cadangan makanan akan diubah kembali dalam bentuk glukosa fosfat didalam
sitoplasma sel. Akhirnya senyawa glukosa fosfat tersebut akan dipecah menjadi
piruvat dan masuk dalam siklus krebs. Selama glikolisis berlangsung dan dalam
siklus krebs akan dihasilkan gas CO 2 yang akan dikeluarkan dari sel. Gas
tersebut akan berdifusi dan terkumpul dalam rongga-rongga antar sel dan bila
tekanan telah cukup akan dikeluarkan. Reaksinya adalah sebagai berikut :
C6H12O6 + 6O2 6H2O + 6CO2 + ATP

Pengukuran CO2 per satuan waktu per berat basah kecambah yang dihasilkan
selama proses respirasi, dapat diukur secara asidimetri pada larutan NaOH yang
diletakkan dalam ruang tertutup bersama biji yang sedang aktif berkecambah
(Anonim, 2009).
Respirasi pada tumbuhan, sebagaimana pada semua organisme hidup,
adalah sangat esensial sebagai sumber energi metabolisme dan sumber karbon
untuk pertumbuhan dan pemeliharaan. Oleh karena itu, respirasi merupakan
peristiwa esensial dalam tubuh tumbuhann sebagai pabrik penghasil karbon.
Berdasarkan spesies dan kondisi lingkungan, respirasi menggunakan 25-75%
dari keseluruhan karbohidrat yang dihasilkan dalam fotosintesis terlebih lagi pada
laju pertumbuhan yang lambat. Respirasi dalam tubuh tumbuhan tidak hanya
berperan sebagai sumber penyusun karbon juga sumber energi metabolisme
tetapi juga memanaskannya (Lambers dan Carbo, 2007).
Pengaruh suhu terhadap pertumbuhan tanaman dikenal sebagai suhu
kardinal yaitu meliputi suhu optimum (pada kondisi ini tanaman dapat tumbuh
baik), suhu minimum (pada suhu di bawahnya tanaman tidak dapat tumbuh),
serta suhu maksimum (pada suhu yang lebih tinggi tanaman tidak dapat
tumbuh). Suhu kardinal untuk setiap jenis tanaman memang bervariasi satu
dengan lainnya. Pengaruh suhu terhadap pertumbuhan dan perkembangan
tanaman dibedakan sebagai berikut : (1) Batas suhu yang membantu
pertumbuhan dan perkembangan tanaman, dan (2) Batas suhu yang tidak
membantu pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Batas suhu yang
membantu pertumbuhan dan perkembangan tanaman diketahui sebagai batas
suhu optimum. Pada batas ini semua proses dasar seperti : fotosintesis,
respirasi, penyerapan air, transpirasi, pembelahan sel, perpanjangan sel dan
perubahan fungsi sel akan berlangsung baik dan tentu saja akan diperoleh
produksi tanaman yang tertinggi. Batas suhu optimum tidak sama untuk semua
tanaman, sebagai contoh : apel, kentang, sugar-beet menghendaki suhu yang
lebih rendah dibandingkan : tanaman jeruk, ketela rambat atau gardenia (Sunu
dan Wartoyo, 2006).
Konduktan stomata yang rendah menyebabkan suhu daun meningkat
sebab transpirasi rendah melalui permukaan daun. Naiknya suhu daun, misalnya
sangat banyak menaikkan penguapan dan sedikit difusi kemungkinan
menyebabkan stomata menutup atau membuka lebih lebar, tergantung pada
spesies atau faktor lain. Stomata membuka karena meningkatnya pencahayaan
(dalam batas tertentu) dan peningkatan cahaya menaikkan suhu daun sehingga

air menguap lebih cepat naiknya suhu membuat udara mampu membawa lebih
banyak kelembaban sehingga transpirasi meningkat dan akan mempengaruhi
bukaan stomata (Nasarudin et. a.l., 2006).
Penyimpanan dalam suhu rendah mampu memepertahankan kualitas
tanaman memperpanjang masa simpan hasil pertanian, karena dapat m
enurunkan proses respirasi, memperkecil transisi, menghambat perkembangan
mikrobia (Tugwel dan Dahlenburg, 2000). Tetapi penyimapanan pada suhu
rendah tidak menekan seluruh aspek metabolisme pada tingkat yang sama
(Darsana, et. al., 2003).
sumber:
Anonim. 2009. Respirasi. <http://id.wikipedia.org/>. Diakses tanggal 16 Maret 2009.
Darsana, L., Wartoyo, Wahyuti, T., 2003. Pengaruh saat Panen dan Suhu Penyimpanan terhadap Umur Simpan dan Kualitas Mentimum
Jepang (Cucumis sativus). Agrosains 5 (1): 12-20.
Dwidjoseputro, D. 1980. Pengantar
Brawijaya.Gramedia. Jakarta.

Fisiologi

Tumbuhan.

Fakultas

Pertanian,

fakultas

Peternakan

dan

Perikanan

Universitas

Lambers, H dan M. R. carbo. 2007. Plant respiration: from cell to ecosystem (advances in photosynthesis and respiration. Journal of Plant
Physiology 164(6):
Lovelles. A. R. 1997. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk daerah Tropik. PT Gramedia, Jakarta.
Nasaruddin, Musa, Y., dan Kuruseng, M. A. Aktifitas Beberapa Proses Fisiologi Tanaman Kakao Muda di Lapang Pada Beberapa Naungan
Buatan. Jurnal Agrisistem (2)1 : 31-32.

Sunu, P dan Wartoyo. 2006. Buku Ajar Dasar Hartikultura. Program Studi Agronomi, Fakultas Pertanian, UNS.