Anda di halaman 1dari 33

BAB 1

LAPORAN PENDAHULUAN CA RECTUM


I.
Konsep dasar medis
a) Pengertian
Ca. Recti adalah keganasan jaringan epitel pada daerah rektum.
Karsinoma Recti merupakan salah satu dari keganasan pada kolon dan rektum yang
khusus menyerang bagian Recti yang terjadi akibat angguan proliferasi sel epitel yang tidak
terkendali.
Karsinoma rekti merupakan keganasan visera yang sering terjadi yang biasanya berasal
dari kelenjar sekretorik lapisan mukosa sebagian besar kanker kolostomy berawal dari polip
yang sudah ada sebelumnya.
Karsinoma Rektum merupakan tumor ganas yang berupa massa polipoid besar, yang
tumbuh ke dalam lumen dan dapat dengan cepat meluas ke sekitar usus sebagai cincin
anular (Price and Wilson, 1994, hal 419).
b) etiologi
Penyebab nyata dari kanker kolon dan rektal tidak diketahui, tetapi faktor risiko telah
teridentifikasi termasuk riwayat kanker kolon atau polip pada keluarga, riwayat penyakit usus
inflamasi kronis dan diet tinggi lemak protein dan daging serta rendah serat.
( Brunner & Suddarth,buku ajar keperawatan medikal bedah,hal. 1123 ).

Polip di usus (Colorectal polyps): Polip adalah pertumbuhan pada dinding dalam kolon atau
rektum, dan sering terjadi pada orang berusia 50 tahun ke atas. Sebagian besar polip bersifat

jinak (bukan kanker), tapi beberapa polip (adenoma) dapat menjadi kanker.
Colitis Ulcerativa atau penyakit Crohn: Orang dengan kondisi yang menyebabkan
peradangan pada kolon (misalnya colitis ulcerativa atau penyakit Crohn) selama bertahun-

tahun memiliki risiko yang lebih besar.


Riwayat kanker pribadi: Orang yang sudah pernah terkena kanker colorectal dapat terkena
kanker colorectal untuk kedua kalinya. Selain itu, wanita dengan riwayat kanker di indung
telur, uterus (endometrium) atau payudara mempunyai tingkat risiko yang lebih tinggi untuk

terkena kanker colorectal.


Riwayat kanker colorectal pada keluarga: Jika Anda mempunyai riwayat kanker colorectal
pada keluarga, maka kemungkinan Anda terkena penyakit ini lebih besar, khususnya jika
saudara Anda terkena kanker pada usia muda.

Faktor gaya hidup: Orang yang merokok, atau menjalani pola makan yang tinggi lemak dan
sedikit buah-buahan dan sayuran memiliki tingkat risiko yang lebih besar terkena kanker

colorectal.
Usia di atas 50: Kanker colorectal biasa terjadi pada mereka yang berusia lebih tua. Lebih

dari 90 persen orang yang menderita penyakit ini didiagnosis setelah usia 50 tahun ke atas.
c) gejala klinis
Perubahan kebiasaan buang air besar (diare atau sembelit/konstipasi)
Usus besar terasa tidak kosong seluruhnya
Ada darah (baik merah terang atau kehitaman) di kotoran
Kotoran lebih sempit dari biasanya
Sering kembung atau keram perut, atau merasa kekenyangan
Kehilangan berat badan tanpa alasan
Selalu merasa sangat letih
Mual atau muntah-muntah.
d) faktor resiko
Kanker yang ditemukan pada kolon dan rektum 16 % di antaranya menyerang recti terutama
terjadi di negara-negara maju dan lebih tinggi pada laki-laki daripada wanita. Beberapa faktor
risiko telah diidentifikasi sebagai berikut:
Kebiasaan diet rendah serat.
Mengkonsumsi diet tinggi lemak dan rendah serat.
Menahan tinja / defekasi yang sering.
Faktor genetik.
e) klasifikasi
Stadium 0: Kanker ditemukan hanya pada lapisan terdalam di kolon atau
rektum. Carcinoma in situ adalah nama lain untuk kanker colorectal
Stadium 0.
Stadium I: Tumor telah tumbuh ke dinding dalam kolon atau rektum. Tumor belum tumbuh
menembus dinding.
Stadium II: Tumor telah berkembang lebih dalam atau menembus dinding kolon atau
rektum. Kanker ini mungkin telah menyerang jaringan di sekitarnya,
tapi sel-

sel kanker belum menyebar ke kelenjar getah bening,

Stadium III: Kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening di sekitarnya, tapi belum
menyebar ke bagian tubuh yang lain.
Stadium IV: Kanker telah menyebar ke bagian tubuh yang lain, misalnya hati atau paruparu.

f)

patofisiologi
Brunner dan Suddart (2002), menjelaskan patofisiologi terjadinya karsinoma rektum

sebagai berikut :
Polip jinak pada kolon atau rectum
|
menjadi ganas
|
menyusup serta merusak jaringan normal kolon
|
meluas ke dalam struktur sekitarnya
|
bermetastatis dan dapat terlepas dari tumor primer
g)

pemeriksaan diagnostik
Dengan "RECTAL TOUCHER"
Tonus sfingterani keras/lembek.
Mukosa kasar,kaku biasanya tidak dapat digeser.
Ampula rektum kolaps/kembung terisi feses atau tumor yang dapat teraba ataupun tidak.

h) komplikasi
Komplikasi karsinoma rektum menurut Schrock (1991) adalah:

obstruksi usus parsial


Obstruksi usus adalah penyumbatan parsial atau lengkap dari usus yang menyebabkan
kegagalan dari isi usus untuk melewati usus.

Perforasi atau perlobangan


Perdarahan
Syok
Syok merupakan keadaan gagalnya sirkulasi darah secara tiba-tiba akibat gangguan
peredaran darah atau hilangnya cairan tubuh secara berlebihan.
ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN CA REKTUM

Pengkajian
Riwayat kesehatan diambil untuk mendapatkan informasi tentang :
a) Perasaan lelah
b) Nyeri abdomen atau rectal dan karakternya ( lokasi, frekuensi, durasi, berhubungan dengan
makan atau defekasi )
c) Pola eliminasi terdahulu dan saat ini
d) Deskripsi tentang warna, bau dan konsistensi feses, mencakup adanya darah atau mucus.
e) Riwayat penyakit usus inflamasi kronis atau polip kolorektal
f)

Riwayat keluarga dari penyakit kolorektal dan terapi obat saat ini
Kebiasaan diet ( masukan lemak, serat & konsumsi alcohol ) juga riwayat

g) penurunan BB.
Pengkajian objekif meliputi :
a) Auskultasi abdomen terhadap bising usus
b) Palpasi abdomen untuk area nyeri tekan, distensi, dan massa padat
Inspeksi specimen terhadap karakter dan adanya darah
Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan semua data pengkajian, diagnosa keperawatan utama yang mencakup, adalah
sebagai berikut :
a) Konstipasi b/d lesi obstruksi
b) Nyeri b/d kompresi jaringan sekunder akibat obstruksi
c) Keletihan b/d anemia dan anoreksia
d) Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh b/d mual dan anoreksia
Resiko kekurangan volume cairan b/d muntah dan dehidrasi
Ansietas b/d rencana pembedahan dan diagnosis kanker
Kurang pengetahuan mengenai diagnosa, prosedur pembedahan, dan perawatan diri setelah
pulang
e) Kerusakan integritas kulit b/d insisi bedah ( abdominoperineal ), pembentukan stoma, dan
kontaminasi fekal terhadap kulit periostomal
f)

Gangguan citra rubuh b/d kolostomi.


Perencanaan & Implementasi

Tujuan
Tujuan utama dapat mencakup eliminasi produk sisa tubuh yang adekuat; reduksi / penghilangan
nyeri; peningkatan toleransi aktivitas; mendapatkan tingkat nutrisi optimal; mempertahankan
keseimbangan cairan & elektrolit; penurunan ansietas; memahami tentang diagnosis, prosedur
pembedahan dan perawatan diri setelah pulang; mempertahankan penyembuhan jaringan
optimal; perlindungan kulit periostomal yang adekuat; penggalian dan pengungkapan perasaan
dan masalah tentang kolostomi dan pengaruhnya pada diri sendiri;
Intervensi Keperawatan PraOperatif
1.Mempertahankan eliminasi
Frekuensi dan konsistensi defekasi dipantau
Laksatif dan enema diberikan sesuai resep
Pasien yang menunjukkan tanda perkembangan ke arah obstruksi total disiapkan untuk mejalani
pembedahan.
2.Menghilangkan Nyeri
Analgesic diberikan sesuai resep
Lingkungan dibuat kondusif untuk relaksasi dengan meredupkan lampu, mematikan TV atau
radio, dan membatasi pengunjung dan telepon bila diinginkan oleh pasien
Tindakan kenyamanan tambahan ditawarkan : perubahan posisi, gosokan punggung, dan teknik
relaksasi.
3.Meningkatkan Toleransi Aktivitas
Kaji tingkat toleransi aktivitas pasien
Ubah dan jadwalkan aktivitas untuk memungkinkan periode tirah baring yang adekuat dalam
upaya untuk menurunkan keletihn pasien.
Terapi komponendarah diberikan sesuai resep bila pasien menderita anemia berat.
Apabila transfusi darah diberikan, pedoman keamanan umum dan kebijakan institusi mengenai
tindakan pengamanan harus diikuti.
Aktivitas post op ditingkatkan dan toleransi dipantau.

4.Memberikan Tindakan Nutrisional


Bila kondisi pasien memungkinkan, diet tinggi kalori, protein, karbohidrat serta rendah residu
diberikan pada pra op selama bberapa hari untuk memberikan nutrisi adekuat dan meminimalkan
kram dengan menurunkan peristaltic berlebih.
Diet cair penuh 24 jam pra op, untuk menggantikan penipisan nutrient, vitamin dan mineral.
Penimbangan BB harian dicatat, dan dokter diberitahu bila terdapat penurunan BB pada saat
menerima nutrisi parenteral.
5.Mempertahankan Keseimbangan Cairan & Elektrolit
Catat masukan dan haluaran, mencakup muntah, yang akan menyediakan data akurat tentang
keseimbangan cairan
Batasi masukan maknan oral dan cairan untuk mencegah muntah.
Berikan antiemetik sesuai indikasi
Pasang selang nasogastrik pada periode pra op untuk mengalirkan akumulasi cairan dan
mencegah distensi abdomen
Pasang kateter indwelling untuk memantau haluaran urin setiap jam. Haluaran kurang dari 30
ml / jam dilaporkan sehingga terapi cairan intravena dapat disesuaikan.
Pantau pemberian cairan IV dan elktrolit, terutama kadar serum untuk mendeteksi hipokalemia
dan hiponatremia, yang terjadi akibat kehilangan cairan gastrointestinal.
Kaji TTV untuk mendeteksi hipovolemia : takikardi, hipotensi dan penurunan jumlah denyut.
Kaji status hidrasi, penurunan turgor kulit, membrane mukosa kering, urine pekat, serta
peningkatan berat jenis urine dilaporakan.
6.Menurunkan Ansietas
Kaji tingkat ansietas pasien serta mekanisme koping yang digunakan
Upaya pemberian dukungan, mencakup pemberian privasi bila diinginkan dan menginstruksikan
pasien untuk latihan relaksasi.
Luangkan waktu untuk mendengarkan ungkapan, kesedihan atau pertanyaan yang diajukan oleh
pasien.
Atur pertemuan dengan rohaniawan bila pasien menginginkannya, dengan dokter bila pasien
mengharapkan diskusi pengobatan atau prognosis.

Penderita stoma lain dapat diminta untuk berkunjung bila pasien mengungkapkan minat untuk
berbicara dengan mereka.
Untuk meningkatkan kenyamanan pasien, perawat harus mengutamakan relaksasi dan perilaku
empati.
Jawab pertanyaan pasien dengan jujur dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami.
Setiap informasi dari dokter harus dijelaskan, bila perlu. Kadang kadang kecemasan berkurang,
bila pasien mengetahui persiapan fisik yang diperlukan selama periode pra op dan mengetahui
kemungkinan post op. beberapa pasien akan lebih senang jika diperbolehkan untuk melihat hasil
pemeriksaan, sementara yang lain memilih untuk tidak mengetahuinya.
7.Mencegah Infeksi
Berikan antibiotic seperti kanamisin sulfat ( Kantrex ), eritromisin (Erythromycin), dan
Neomisin Sulfat sesuai resep, untuk mengurangi bakteri usus dalam rangka persiapan
pembedahan usus. Preparat diberikan per oral untuk mengurangi kandungan bakteri kolon dan
melunakkan serta menurunkan bulk dari isi kolon.
Selian itu, usus juga dapat dibersihkan dengan enema, atau irigasi kolon.
8.Pendidikan Pasien Pra Operatif
Kaji tingkat kebutuhan pasien tentang diagnosis, prognosis, prosedur bedah, dan tingkat fungsi
yang diinginkan pasca op.
Informasi yang diperlukan pasien tentang persiapan fisik untuk pembedahan, penampilan dan
perawatan yang diharapkan dari luka pasca op, teknik perawatan kolostomi, pembatasan diet,
control nyeri, dan penatalaksanaan obat dimsukkan ke dalam materi penyuluhan.
Intervensi Keperawatan Pasca Operatif
1.Perawatan Luka
Luka abdomen diperiksa dngan sering dalam 24 jam pertama, untuk meyakinkan bahwa luka
akan sembuh tanpa komplikasi ( infeksi, dehidens, emoragik, edema berlebihan ).
Ganti balutan sesuai kebutuhan untuk mencegah infeksi.
Bantu pasien untuk membebat insisi abdomen selama batuk dan napas dalam untuk mengurangi
tegangan pada tepi insisi.

Pantau adanya peningkatan TTV yang mengindikasikan adanya proses infeksi.


Periksa stoma terhadap edema ( edema ringan akibat manipulasi bedah adalah normal ), warna
( stoma sehat adalah mera jambu ), rabas ( rembesan berjumlah sedikit adalah normal ), dan
perdarahan ( tanda abnormal ).
Bersihkan kulit peristoma dengan perlahan serta keringkan untuk mencegah iritasi, berikan
pelindung kulit sebelum meletakkan kantung drainase.
Apabila malignansi telah diangkat dengan rute perineal, luka diobservasi dengan cermat untuk
tanda hemoragik. Luka dapat mengandung drain atau tampon yang diangkat secara bertahap.
Mungkin terdapat jaringan yang terkelupas selama beberapa minggu. Proses ini juga dipercepat
dengan irigasi mekanis luka atau rendam duduk yang dilakukan dua atau tiga kali sehari.
Dokumentasikan kondisi luka perineal, adanya perdarahan, infeksi atau nekrosis.
2.Citra Tubuh Positif
Dorong pasien untuk mengungkapkan masalah yang dialami serta mendiskusikan tentang
pembedahan dan stoma ( bila telah dibuat ).
Ajarkan pasien mengenai perawatan kolostomi dan pasien sudah harus ulai untuk memasukkan
perawatan stoma dalam kehidupan sehari hari.
Berikan lingkungan yang kondusif bagi pasien serta berikan dukungan dalam meningkatkan
adaptasi pasien terhadap perubahan yang terjadi akibat pembedahan.
15.

ASPEK LEGAL ETIS

Autonomy (penentu pilihan)


Perawat yang mengikuti prinsip autonomi menghargai hak klien untuk mengambil keputusan
sendiri. Dengan menghargai hak autonomi berarti perawat menyadari keunikan induvidu secara
holistik.
Non Maleficence (do no harm)
Non Maleficence berarti tugas yang dilakukan perawat tidak menyebabkan bahaya bagi kliennya.
Prinsip ini adalah prinsip dasar sebagaian besar kode etik keperawatan. Bahaya dapat berarti
dengan sengaja membahayakan, resiko membahayakan, dan bahaya yang tidak disengaja.
Beneficence (do good)

Beneficence berarti melakukan yang baik. Perawat memiliki kewajiban untuk melakukan dengan
baik, yaitu, mengimplemtasikan tindakan yang mengutungkan klien dan keluarga.
Justice (perlakuan adil)
Perawat sering mengambil keputusan dengan menggunakan rasa keadilan.
Fidelity (setia)
Fidelity berarti setia terhadap kesepakatan dan tanggung jawab yang dimikili oleh seseorang.
Veracity (kebenaran)
Veracity mengacu pada mengatakan kebenaran. Sebagian besar anak-anak diajarkan untuk selalu
berkata jujur, tetapi bagi orang dewasa, pilihannya sering kali kurang jelas.
16.

PENDKES
SATUAN ACARA PENYULUHAN
(SAP)

Tema

: Penyakit carsinoma rektum


Sub Tema

: Perawatan carsinoma rektum

Sasaran

: Ny. E

Tempat

: Bangsal Di rumah sakit

Hari/Tanggal

: Rabu, 14 Oktober 2011

Waktu

: 20 Menit

A. Tujuan Instruksional Umum


Setelah mengikuti penyuluhan selama 20 menit, diharapkan Ny. E dapat menjelaskan carsinoma
rektum.
B. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mengikuti penyuluhan selama 20 menit, diharapkan Klien Dapat:

Menjelaskan pengertian penyakit carsinoma rektum dengan benar


Menjelaskan patofisiologi carsinoma rektum
Menyebutkan faktor penyebab yang dapat menimbulkan penyakit carsinoma rektum
Menyebutkan tanda/gejala dari penyakit carsinoma rektum
Menjelaskan penatalaksanaan carsinoma rektum

C.
1.
2.
3.
4.
5.

Materi
Pengertian carsinoma rektum
Patofisiologi penyakit carsinoma rektum
Faktor penyebab dari carsinoma rektum
Tanda/gejala penyakit carsinoma rektum
Penatalaksanaan penyakit carsinoma rektum

D. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab
E. Kegiatan Penyuluhan
No

Kegiatan

Penyuluh

1.

Pembukaan

Salam pembuka
Menyampaikan tujuan

Peserta

penyuluhan

Waktu

Menjawab salam
Menyimak,
Mendengarkan, menjawab 5 Menit
pertanyaan

2.

Kerja/ isi

Penjelasan pengertian,

Mendengarkan dengan

penuh perhatian
Menanyakan hal-hal yang

belum jelas
Memperhatikan jawaban

dari penceramah
Menjawab pertanyaan

penyebab, gejala,
penatalaksanaan dan
patofisiologi penyakit
carsinoma rektum
Memberi kesempatan
peserta untuk bertanya
Menjawab pertanyaan
Evaluasi
3.

Penutup

Menyimpulkan
Salam penutup

F. Media
1. Leaflet : Tentang penyakit carsinoma rektum

Mendengarkan
Menjawab salam

10 menit

5 Menit

2. Poster tentang penyakit carsinoma rektum


G.
a.
b.
c.
d.

Sumber/Referensi
Doenges, E. Marilynn. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Ed. 3. EGC : Jakarta.
Dorland, W. A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran. EGC : Jakarta.
FKUI. 1999. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid 1. FKUI : Jakarta.
Griffith. 1994. Buku Pintar Kesehatan. Arcan : Jakarta.

H. Evaluasi
Formatif

Klien dapat menjelaskan pengertian carsinoma rektum

Klien mampu menjelaskan faktor penyebab dari penyakit carsinoma rektum

Klien dapat menjelaskan tanda/gejala penyakit carsinoma rektum

Klien mampu menjelaskan penatalaksanaan carsinoma rektum

Sumatif
:
Klien dapat memahami penyakit carsinoma rektum

Yogyakarta, Rabu 13 Oktober 2011


`

Pembimbing

(Ignatia Yunita S,.Kep. Ns)

Penyuluh

(Windayona Hadi Prasetya)

DAFTAR PUSTAKA:
a) Smeltzer, Suzanne C. & Bare, Brenda G., Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddarth Vol. 2, Edisi 8, EGC, Jakarta, 2002.
b) Gale, Danielle & Charette, Jane, Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi, EGC, Jakarta, 2000.
c) Price, Sylvia A., & Wilson, Lorraine M., Patofisiologi ; Konsep Klinis ProsesProses Penyakit
Vol. 1, Edisi 4, EGC, Jakarta, 1995.

d) Schrock, Theodore R. MD. 1999. Ilmu Bedah ( Hand Book of Surgery ) Edisi 7. Penerbit : EGC,
Jakarta.
e) Doengoes, Marilynn. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan . Edisi 3. Penerbit : EGC, Jakarta.
f)

http://www.scribd.com/doc/56979340/karsinoma-rektum

g) Carpenito (2000), Diagnosa Keperawatan-Aplikasi pada Praktik Klinis, Ed.6, EGC, Jakarta
h) Doenges at al (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Ed.3, EGC, Jakarta
i)

Price & Wilson (1995), Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Ed.4, EGC, Jakarta

j)

Soeparman & Waspadji (1990), Ilmu Penyakit Dalam, Jld.II, BP FKUI, Jakarta.
http://prasetya92metro.blogspot.com/2011/11/makalah-individu-sistem-pencernaan_29.html

TINJAUAN TEORITIS
A. DEFINISI
Ca. Recti adalah keganasan jaringan epitel pada daerah rektum.
Kanker colorectal berasal dari jaringan kolon (bagian terpanjang di usus besar) atau jaringan
rektum (beberapa inci terakhir di usus besar sebelum anus). Sebagian besar kanker colorectal
adalah adenocarcinoma (kanker yang dimulai di sel-sel yang membuat serta melepaskan lendir
dan cairan lainnya).
( Parkwaycancercentre.com )
B. ETIOLOGI
Penyebab nyata dari kanker kolon dan rektal tidak diketahui, tetapi faktor risiko telah
teridentifikasi termasuk riwayat kanker kolon atau polip pada keluarga, riwayat penyakit usus
inflamasi kronis dan diet tinggi lemak protein dan daging serta rendah serat.
( Brunner & Suddarth,buku ajar keperawatan medikal bedah,hal. 1123 ).
Polip di usus (Colorectal polyps): Polip adalah pertumbuhan pada dinding dalam kolon atau
rektum, dan sering terjadi pada orang berusia 50 tahun ke atas. Sebagian besar polip bersifat
jinak (bukan kanker), tapi beberapa polip (adenoma) dapat menjadi kanker.
Colitis Ulcerativa atau penyakit Crohn: Orang dengan kondisi yang menyebabkan peradangan
pada kolon (misalnya colitis ulcerativa atau penyakit Crohn) selama bertahun-tahun memiliki
risiko yang lebih besar
Riwayat kanker pribadi: Orang yang sudah pernah terkena kanker colorectal dapat terkena
kanker colorectal untuk kedua kalinya. Selain itu, wanita dengan riwayat kanker di indung telur,
uterus (endometrium) atau payudara mempunyai tingkat risiko yang lebih tinggi untuk terkena
kanker colorectal.
Riwayat kanker colorectal pada keluarga: Jika Anda mempunyai riwayat kanker colorectal pada
keluarga, maka kemungkinan Anda terkena penyakit ini lebih besar, khususnya jika saudara
Anda terkena kanker pada usia muda.
Faktor gaya hidup: Orang yang merokok, atau menjalani pola makan yang tinggi lemak dan
sedikit buah-buahan dan sayuran memiliki tingkat risiko yang lebih besar terkena kanker
colorectal.
Usia di atas 50: Kanker colorectal biasa terjadi pada mereka yang berusia lebih tua. Lebih dari
90 persen orang yang menderita penyakit ini didiagnosis setelah usia 50 tahun ke atas
C. JENIS KLASIFIKASI
Dokter membagi kanker rektum berdasarkan stadium berikut:
a. Stadium 0: Kanker ditemukan hanya pada lapisan terdalam di kolon atau rektum. Carcinoma
in situ adalah nama lain untuk kanker colorectal Stadium 0.
b. Stadium I: Tumor telah tumbuh ke dinding dalam kolon atau rektum. Tumor belum tumbuh
menembus dinding.
c. Stadium II: Tumor telah berkembang lebih dalam atau menembus dinding kolon atau rektum.
Kanker ini mungkin telah menyerang jaringan di sekitarnya, tapi sel-sel kanker belum menyebar
ke kelenjar getah bening,
d. Stadium III: Kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening di sekitarnya, tapi belum
menyebar ke bagian tubuh yang lain.
e. Stadium IV: Kanker telah menyebar ke bagian tubuh yang lain, misalnya hati atau paru-paru.
f. Kambuh: Kanker ini merupakan kanker yang sudah diobati tapi kambuh kembali setelah
periode tertentu, karena kanker itu tidak terdeteksi. Penyakit ini dapat kambuh kembali dalam

kolon atau rektum, atau di bagian tubuh yang lain.


Menurut klasifikasi duke berdasarkan atas penyebaran sel karsinoma dibagi menjadi :
Kelas A : Tumor dibatasi mukosa dan submukosa.
Kelas B : Penetrasi atau penyebaran melalui dinding usus.
Kelas C : Invasi kedalam sistem limfe yang mengalir regional.
Kelas D : Metastasis regional tahap lanjut dan penyebaran yang luas.
( Brunner & Suddarth,buku ajar keperawatan medikal bedah,hal. 1126 ).
D. PATOFISIOLOGI
Kanker kolon dan rektum terutama ( 95 % ) adenokarsinoma ( muncul dari lapisan epitel usus).
Di mulai sebagai polip jinak (dapat diakibatkan pola diet rendah serat) tetapi dapat menjadi
ganas karena faktor mutasi (sesuai dengan teori seleksi sel,dr. Jan tambayong,patofisiologi hal.
69) dan menyusup serta merusak jaringan normal serta meluas kedalam struktur sekitarnya, sel
kanker dapat terlepas dari tumor dan menyebar ke bagian tubuh yang lain terutama yang paling
sering ke hati. Melalui proses invasi dengan cara tumbuh menyebar keluar lokasi asalnya,
dilanjutkan pemisahan sel dengan menembus pembuluh darah,kemudian menetap pada
endotelium yang disebut proses diseminasi akhirnya sel kanker ini menetap pada area baru dan
menyasuaikan diri untuk pertumbuhan selanjutnya yang disebut proliferasi.
Sumber : Patofisiologi untuk keperawatan hal.67-72 (dr. Jan tambayong) dan brunner &
sudarth,hal. 1136.
polip jinak
menjadi ganas karena faktor mutasi
menyusup serta merusak jaringan normal
meluas kedalam struktur sekitarnya
sel kanker terlepas dari tumor
menyebar ke bagian tubuh yang lain terutama yang paling sering ke hati.
pemisahan sel dengan menembus pembuluh darah
menetap pada endotelium
(proses diseminasi)
sel kanker ini menetap pada area baru
menyasuaikan diri untuk pertumbuhan
(proliferasi)
E. DAMPAK PADA BERBAGAI SISTEM TUBUH
Ca. Recti dapat bermetastasis ke organ lain seperti hati, paru-paru, limfe hal ini dapat
menyebabkan gangguan atau kerusakan fungsi organ tersebut.
F. MANIFESTASI KLINIS
Perubahan kebiasaan buang air besar (diare atau sembelit/konstipasi)
Usus besar Anda terasa tidak kosong seluruhnya
Ada darah (baik merah terang atau kehitaman) di kotoran Anda
Kotoran Anda lebih sempit dari biasanya
Sering kembung atau keram perut, atau merasa kekenyangan
Kehilangan berat badan tanpa alasan
memasukkan jari dengan sarung tangan yang telah dilumasi ke dalam rektum, untuk merasakan
ketidaknormalan.
G. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan medis :
Penghisapan nasogastrik

Jika didapati pasien dengan obstruksi usus dan terjadi perdarahan yang cukup berarti.
Terapi komponen darah (Endoskopi, Ultrasonografi, Laparoskopi)
Dilakukan pada periode pre operatif.
Terapi ajufan
1. Kemoterapi
2. Terapi radiasi
3. Imunotropi
Dilakukan/dapat digunakan pada periode pre operatif,intraoperatif dan post operatif.
Alat radiasi intrakovitas
Digunakan pasca operasi untuk mengurangi resiko kekambuhan tumor dengan cara
diimplantasikan.
Metode pentahapan yang sering digunakan secara luas adalah klasifikasi duke :
Kelas A : Tumor dibatasi mukosa dan submukosa.
Kelas B : Penetrasi atau penyebaran melalui dinding usus.
Kelas C : Invasi kedalam sistem limfe yang mengalir regional.
Kelas D : Metastasis regional tahap lanjut dan penyebaran yang luas
( Brunner & Suddarth,buku ajar keperawatan medikal bedah,hal. 1126 ).
Penatalaksanaan bedah :
Kolonoskopi
Untuk kanker yang terbatas pada satu sisi.
Polipektomi
Metode dalam kolostomi laparoskopik agar dapat meminimalkan area pembedahan pada
beberapa usus.
Laser Nd:YAG
Efektif untuk lesi A,B dan C
Tipe pembedahan tergantung pada lokasi dan besarnya tumor. Pemilihan prosedur pembedahan
tumor sebagai berikut (menurut Duoghty & Jackson,1993)
1. Reseksi segmental : anastomosis ( pengngkatan tumor dan porsi usus pada sisi
pertumbuhan,pembuluh darah dan nodus limfatik.
2. Reseksi abdominoperineal dengan kolostomi sigmoid permanen (pengangkatan tumor dan
persi sigmoid dan semua rektum dan sfingter anal).
3. Kolostomi sementara dengan reseksi segmental dan anastomosis serta reanastomosis lanjut
dari kolostomi (memungkinkan dekompresi usus awal dan persiapan usus sebelum reseksi).
4. Kolostmi permanen atau ileostomi (untuk menyembuhkan lesi obstruksi yang tidak dapat
direseksi).
(Brunner & suddarth,buku ajar keperawatan medikal bedah ed.8,hal. 1127).
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. Z DENGAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN
AKIBAT CA REKTUM DIRUANG X RSUD GUNUNG JATI CIREBON
A. PENGKAJIAN
1. Identitas pasien.
Nama : Tn.Z
Umur : 52 tahun
Pendidikan : SMA
Agama : islam
Pekerjaan : wiraswasta
Alamat : blok kisen ds. Cangkring kec. Plered

Cirebon
Tanggal masuk : 25-september-2011
Tanggal pengkajian : 25-september-2011
No. medrec : 105053
Dx medic : ca rektum
2. Identitas penanggung jawab.
Nama : Ny.Z
Umur : 48 tahun
Pendidikan : SMP
Agama : islam
Pekerjaan : IRT
Alamat : blok kisen ds. Cangkring kec. Plered
cirebon
Hub dgn klien : istri
B. KELUHAN UTAMA
Nyeri abdomen / rektum.
Konsultasi feses terdapat darah merah segar.
Konsultasi adanya kecemasan kehilangan anggota tubuh dan perubahan fungsi tubuh.
C. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Klien mengatakan nyeri (skala 3, 0-10) pada daerah rectum saat BAB seperti di tusuk jarum,
disertai darah segar dan klien mengatakan ada benjolan di daerah rectum. Klien juga mengatakan
cemas karena ketidaktahuan tentang penyakitnya. Klien juga mengatakan tidak nafsu makan
D. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Klien tidak memiliki riwayat penyakit apapun
E. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Pasien mengatakan tidak ada keluarga yang menderita penyakit serupa.
F. KEBUTUHAN DASAR
1. Aktivitas/istirahat:
Gejala:
- Kelemahan, kelelahan/keletihan
- Perubahan pola istirahat/tidur malam hari; adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur
misalnya nyeri, ansietas dan berkeringat malam hari.
- Pekerjaan atau profesi dengan pemajanan karsinogen lingkungan, tingkat stres tinggi.
2. Sirkulasi:
Gejala:
- Palpitasi, nyeri dada pada aktivitas
Tanda:
- Dapat terjadi perubahan denyut nadi dan tekanan darah.
3. Integritas ego:
Gejala:
- Faktor stres (keuangan, pekerjaan, perubahan peran) dan cara mengatasi stres (merokok,
minum alkohol, menunda pengobatan, keyakinan religius/spiritual)
- Masalah terhadap perubahan penampilan (alopesia, lesi cacat, pembedahan)
- Menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, putus asa, tidak mampu, tidak bermakna, rasa
bersalah, kehilangan kontrol, depresi.
Tanda:

- Menyangkal, menarik diri, marah.


4. Eliminasi:
Gejala:
- Perubahan pola defekasi, darah pada feses, nyeri pada defekasi
Tanda:
- Perubahan bising usus, distensi abdomen
- Teraba massa pada abdomen kuadran kanan bawah
5. Makanan/cairan:
Gejala:
- Riwayat kebiasaan diet buruk (rendah serat, tinggi lemak, pemakaian zat aditif dan bahan
pengawet)
- Anoreksia, mual, muntah
- Intoleransi makanan
Tanda:
- Penurunan berat badan, berkurangnya massa otot
6 .Nyeri/ketidaknyamanan:
Gejala:
- Gejala nyeri bervariasi dari tidak ada, ringan sampai berat tergantung proses penyakit
7.Keamanan:
Gejala:
- Komplikasi pembedahan dan atau efek sitostika.
Tanda:
- Demam, lekopenia, trombositopenia, anemia
8.Interaksi social
Gejala:
- Lemahnya sistem pendukung (keluarga, kerabat, lingkungan)
- Masalah perubahan peran sosial yang berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
G. PEMERIKSAAN FISIK
A. Status generalis
Keadaan umun : baik
Kesadaran : composmentis
TTV : TD : 117/72 mmHg
Nadi : 76x/menit
Respirasi : 24x/menit
Suhu : 36,60C
Kulit : Anemia (-), sianosis (-), ikterik (-)
Kepala : Hematom (-), tidak ada tanda-tanda trauma atau luka.
Mata : conjungtiva anemis (+), sklera ikterik (-), udem
palpebra (-), reflek cahaya +/+
Hidung : tidak ada tanda-tanda trauma, tidak ada deviasi, tidak
ada penyumbatan, tidak ada perdarahan
Mulut : bibir tidak kering, faring tidak hiperemis, tonsil tidak membesar
Telinga : tidak ada kelainan bentuk, tidak ada tanda-tanda trauma, tidak ada discharge
Leher : tidak ada benjolan, tidak ada tanda-tanda trauma, tidak ada pembesaran kelenjar
limfonodi, tidak ada tanda peradangan
Thorax : inspeksi : simetris, tidak retraksi, tidak ketinggalan gerak, iktus cordis tidak tampak

Palpasi : tidak ada benjolan, vokal fremitus sama kiri-kanan


Perkusi : sonor seluruh lapang paru
Auskultasi : suara dasar paru vesikuler, tidak ada ronkhi basah, denyut jantung teratur
Jantung : inspeksi : iktus cordis tidak tampak
Palpasi : iktus cordis tidak kuat angkat
Perkusi : tidak ada perbesaran jantung
Auskultasi : S1>S2 reguler, murmur (-)
Abdomen : inspeksi : distensi (-), tidak ada tanda trauma
Auskultasi : bising usus normal
Perkusi : timpani
Palpasi : defans muskular (-), nyeri tekan (+) < regio epigastrium,
massa pada abdomen (-).
B. Status lokalis regio anorectal dengan pemeriksaan rectal touche.
Tonus musculus spinchter ani agak kurang kuat mencengkeram, mucosa recti teraba benjolan
multiple di arah jam 7, 9 dengan diameter kurang lebih 2-3mm dan arah jam 11 kurang lebih 11,5cm. Saat keluar tidak ditemukan lendir darah pada sarung tangan.
H. PROSEDUR DIAGNOSTIK
Tes darah samar pada feses/kotoran : mengeluarkan darah, dan FOBT (Fecal Occult Blood
Test).
Sigmoidoskopi : ditemukan polip
Kolonoskopi : ditemukan polip
Enema barium kontras ganda (Double-contrast barium enema) : terdapat polip
Pemeriksaan rektal : terdapat benjolan pada rektum
I. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan hematologi:
Hasil pemeriksaan normal
L : 6,7 x103/L (4,5-11,0)
E : 2,93 x106/L (4-5) (Turun)
Hemoglobin : 7 g/dL (12-16) (Turun)
Hematokrit : 21,7 % (38-47) (Turun)
MCV : 73,8 FL (85-100) (Turun)
MCH : 24 Pg (28-31) (Turun)
MCHC : 32,5 g/dL (30-35)
T : 310 x103/L (150-450)
GDS : 81 mg/dl (<144)
Ureum : 34 mg/dl (10-50)
Creatinin : 0,7 mg/dl (1,1)
SGOT : 12 u/e (<31)
SGPT : 17 u/e (<32)
HBsAg : J. ANALISA DATA
NO DATA ETIOLOGI MASALAH
1 DS :
DO :
klien mengeluh nyeri pada daerah rectal (skala 3, 0-10)
klien mengatakan ada benjolan pada daerah rektum

klien tampak meringis menahan sakit.


klien tampak lemah
skala nyeri 3 (0-10)
TTV
TD : 117/72 mmhg
Nadi : 76x/menit
Respirasi : 24x/menit
Suhu : 36,60C
Ca. Recti
Mendesak jaringan disekitarnya
mengeluarkan zat neurotransmiter
Medulla spinalis
Medulla oblongata
Korteks serebri
Nyeri
Nyeri b/d andanya kanker pd rectum
2 DS :
DO : Klien mengatakan takut untuk operasi karena resiko kematian
Klien merasa gelisah karena ketidaktahuan tentang penyakitnya
klien tampak cemas
klien gelisah
wajah klien tampak murung Ca. Recti
Takut mati, takut perubahan pada kehidupan sosial
Gangguan rasa aman
Cemas Gangguan rasa aman b/d cemas
3 DS :
DO : Klien mengatakan badannya terasa lemah
Klien mengatakan tidak nafsu makan
klien tampak lemah
klien tampak pucat
BB klien turun 2 kg ( BB awal 68)
Klien anoreksia
Ca. Recti
Metastasis
hipermetabolik dan asupan nutrisi tetap
nutrisi tubuh kurang dari kebutuhan nutrisi tubuh kurang dari kebutuhan
K. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri sehubungan dengan adanya kanker pada daerah rektal.
2. Ganguan rasa aman : cemas sehubungan dengan kurangnya pengetahuan dan rasa takut karena
resiko kematian.
3. Nutrisi kurang dari kebutuhan sehubungan dengan anoreksia
L. PERENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
Nama : Tn. Z
No medrec : 105053
Diagnose medis : ca rektum
Tanggal masuk : 25 september 2011

Tgl pengkajian : 25 september 2011


NO DX TUJUAN INTERVENSI RASIONAL
1 Nyeri sehubungan dengan adanya kanker pada daerah rektal.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri yang dirasakan oleh klien hilang atau
tidak dirasakan lagi. 1. Kaji tingkat nyeri. Skala 3(1-10)
2. Berikan tehnik distraksi (mendengarkan music/lagu yang disukai klien : tarling) dan relaksasi
(ganti alat temun : seprai)
3. Berikan lingkungan yang nyaman (jauh dari kebisingan) pada klien.
4. Berikan analgetik sesuai prosedur/instruksi dokter. 1. Untuk mengetahui seberapa dalam nyeri
yang dirasakan.
2. Agar membantu mengurangi rasa sakit.
3. Meningkatkan relaksasi dan membantu memfokuskan kembali perhatian.
4. Nyeri adalah komplikasi serng pada kanker,dengan memberi analgetik dapat mengurangi rasa
nyeri.
2 Ganguan rasa aman : cemas sehubungan dengan kurangnya pengetahuan dan rasa takut karena
resiko kematian.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien dapat informasi yang diperukan dan
dapat mengembalikan kepercayaan diri seperti semula. 1. Kaji klien/orang terdekat terhadap
cemas yang dialami. Jelaskan sesuai kebutuhan.
2. Perkirakan syok awal dan ketidak yakinan setelah diagnosis kanker dan/atau prosedur yang
menimbulkan trauma.
3. Diskusikan informasi (tentang penyakit pasien) yang diperlukan klien
4. Dorong pengungkapan pikiran/masalah dan penerimaan ekspresi kesedihan,marah dan
penolakan 1. Pengetahuan tentang proses cemas memperkuat normalitas perasaan/reaksi
terhadap apa yang dialami dan dapat membantu pasien menghadapi lebih efektif dengan mereka.
2. Sedikit pasien yang benar-benar siap untuk realita perubahan yang dapat terjadi.
3. Untuk menyampaikan informasi yang dibutuhkan oleh pasien.
4. Pasien merasa terdukung mengekspresikan perasaan dengan memahami bahwa konflik emosi
yang dalam dan sering adalah normal dan dapat dialami oleh orang lain dalam situasi sulit.
3 Nutrisi kurang dari kebutuhan sehubungan denga anoreksia.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan BB stabil dan pemahaman pengaruh
individual pada masukan adekuat dan pasien dapat berpartisipasi dalam intervensi spesifik untuk
merangsang nafsu makan. 1. Pantau masukan makanan tiap hari, biarkan pasien menyimpan
buku harian tentang makanan sesuai indikasi.
2. Dorong pasien untuk makan diet tinggi kalori kaya nutrien dengan masukan cairan adekuat
dan dorong penggunaan suplemen dan makan sering/lebih sedikit dibagi-bagi selama 3X sehari.
3. Ciptakan suasana makan yang menyenangkan (makan dengan dtemani keluarga). Dorong
pasien untuk berbagi makanan dengan keluarga/teman.
4. Dorong komunikasi terbuka mengenai masalah anoreksia klien.
1. Mengidentifikasi kekuatan/defisiensi kekuatan.
2. Kebutuhan jaringan metabolik ditingkatkan begitu juga cairan (untuk menghilangkan produk
sisa) dan suplemen dapat memainkan peran penting dalam mempertahankan maskan kalori da
protein adekuat.
3. Membuat waktu makan lebih menyenangkan,yang dapat meningkatkan masukan
4. Sering sebagai sumber distres emosi khususna untuk orang terdekat yang menginginkan untuk
memberi makan pasien dengan sering. Bila pasien menolak orang terdekat dapat merasa

ditolak/frustasi.
M. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
Nama : Tn. Z
No medrec : 105053
Diagnose medis : ca rektum
Tanggal masuk : 25 september 2011
Tgl pengkajian : 25 september 2011
No. TGL/JAM DX IMPLEMENTASI EVALUASI
1 25 September 2011
09.00 I T1 : mengkaji tingkat nyeri.
R1 : skala 3 (0-10)
T2 : memberikan tehnik distraksi (mendengarkan music/lagu yang disukai klien : tarling) dan
relaksasi (ganti alat temun : seprai)
R2 : klien merasa berkurang rasa nyerinya dan nyaman
T3 : memberikan lingkungan yang nyaman (menjauhkan dari kebisingan) pada klien.
R3 : klien mengatakan merasa lebih nyaman
T4 : memberikan analgetik (Fentanyl) sesuai prosedur/instruksi dokter.
R4 : nama obt Fentanyl, dberikan secra IM,
Tgl : 26-09-2011
Jam : 10.00
S : klien mengatakan nyeri berkurang (skala 1, 0-10), klien mengatakan benjolan pada
rektumnya masih ada
O : klien tidk meringis kesakitan, klien tampak tidak lemah, TTV
TD : 120/75 mmhg
Nadi : 80x/menit
Respirasi : 24x/menit
Suhu : 36,60C
A : masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan tindakan
memberikan tehnik distraksi dan relaksasi
memberikan lingkungan yang nyaman pada klien
memberikan analgetik sesuai prosedur/instruksi dokter.
2 26 september 2011
07.00 II T1 : mengkaji klien/orang terdekat terhadap cemas yang dialami. Jelaskan sesuai
kebutuhan tentang penyakit yang di derita klien.
R1 : klien mengatakan kini mengerti tentang penyakitnya
T2 : memperkirakan syok awal dan ketidak yakinan setelah diagnosis kanker dan/atau prosedur
yang menimbulkan trauma.
R2 : T3 : mendiskusikan informasi (tentang penyakit yang di derita klien) yang diperlukan dengan
klien
R3 : klien mau mendiskusikan masalah penyakitnya
T4 : mendorong pengungkapan pikiran/masalah dan penerimaan ekspresi kesedihan/marah/
penolakan
R4 : klien mau mengungkapkan perasaannya (kesedihan tentang penyakit yang di deritanya)
Tgl : 26-09-2011

Jam : 09.00
S : klien mengatakan bsa lbih tenang dan tidak tkt lagi, klien mengatakan sudah tidak cemas lagi
tentang penyakitnya
O : klien tidak gelisah, klien tampak tenang dan sedikit ceria, klien tidak cemas lagi
A : masalah teratasi sebagian
P : pertahankan tindakan
mengkaji klien/orang terdekat terhadap cemas yang dialami. Jelaskan sesuai kebutuhan
mendiskusikan informasi yang diperlukan dengan klien
mendorong pengungkapan pikiran/masalah dan penerimaan ekspresi kesedihan,marah dan
penolakan
3 26 september 2011
17.00 III T1 : memantau asupan makanan tiap hari, biarkan pasien menyimpan buku harian
tentang makanan sesuai indikasi.
R1 : T2 : mendorong pasien untuk makan diet tinggi kalori kaya nutrien dengan masukan cairan
adekuat dan dorong penggunaan suplemen dan makan sering/lebih sedikit dibagi-bagi selama 3X
sehari.
R2 : klien mau mengikuti diit tersebut
T3 : menciptakan suasana makan yang menyenangkan. Dorong pasien untuk berbagi makanan
dengan keluarga/teman.
R3 : klien makan dengan wajah berseri
T4 : mendorong komunikasi terbuka mengenai masalah anoreksia klien.
R4 : klien mau mengungkapkan knp klien tdk nafsu makan
Tgl : 27-09-2011
Jam : 18.30
S : klien mengatakan tidak lemas lagi, klien mengatakan masih tidak nafsu makan
O : klien tdk anoreksia, klien tdk pucat dan tidak lemas, BB klien masih tetap 66 kg
A : masalah teratasi sebagian
P : pertahankan tindakan
memantau masukan makanan tiap hari
mendorong pasien untuk makan diet tinggi kalori kaya nutrien dengan masukan cairan adekuat
dan dorong penggunaan suplemen dan makan sering/lebih sedikit dibagi-bagi selama sehari.
menciptakan suasana makan malam yang menyenangkan
N. DAFTAR PUSTAKA
Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Jakarta : EGC.
Potter, Patricia A Perry, Anne Griffin. 2005. Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC.
Tambayong, Jan. 2000. Patofisiologi Untuk Keperawatan. Jakarta : EGC.
Doenges, Marlynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC.
Ramali, Ahmad. 2003. Kamus Kedokteran : Arti dan keterangan Istilah. Jakarta : EGC.
www.google.com//kanker rectum/PCC (Parkway Cancer Centre).
http://teguhnasrulkederkenangaskep.wordpress.com/2011/10/18/askep-ca-rektum/

Karsinoma Rektal (Um)

Written by Muthia Cenderadewi


Saturday, 17 September 2011 02:22
LAPORAN KASUS
I. Identitas

Nama Pasien : NY. N


Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 46 tahun
Agama : Islam
Suku Bangsa : Sasak
Alamat : Dasan Tapen - Gerung
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
No RM : 103989
Tanggal Pemeriksaan : 18 Januari 2010
II. Anamnesa

A.
Keluhan Utama
BAB mengandung lendir dan darah
B.
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan BAB mengandung lendir dan darah sejak 1 tahun yang lalu, frekwensi BAB 5-6x
Pasien mengaku sejak 1 tahun lalu merasakan nyeri pada daerah lubang pantat tiap BAB.
Pasien mengaku tidak pernah meraba ada benjolan keluar dari lubang pantat.

Nyeri pada bagian perut (-). Perut terasa kembung(-). Mual-muntah (-). Benjolan pada perut (-)
BAK (+) lancar.

Pasien mengeluh tubuh terasa cepat lelah dan kepala sering terasa pusing berputar sejak sekitar 6 bulan lalu. Na
C.
Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat menderita gejala serupa sebelumnya (-). Riwayat menderita polip rektum sebelumnya (-). Riwayat kenc
D.
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat keluarga menderita gejala serupa (-). Riwayat keluarga menderita karsinoma rektal/polip rektum (-).
E.
Riwayat Alergi
Riwayat alergi makanan (-), riwayat alergi obat (-).
III. Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum : lemah


Kesadaran/GCS : Composmentis/ E4V5M6
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
Nadi : 88x/menit, reguler, kuat angkat
Respirasi : 20x/menit
Suhu : 36.9 C
Pemeriksaan Fisik Umum :

Kepala
Bentuk kepala simetris
Mata : konjungtiva anemis +/+, sklera ikterik -/Telinga : otorrhea -/-

Hidung : bentuk simetris, rhinorrhea -/Mulut : faring hiperemis (-). Tonsil : ukuran eutrofi, hiperemis-/-

Leher
Pembesaran kelenjar getah bening leher (-)

Toraks
Inspeksi : gerakan nafas dinding dada kiri-kanan simetris, iktus kordis tidak tampak, massa (-)

Palpasi : gerakan nafas dinding dada kiri-kanan simetris, iktus kordis teraba pada linea midklavikularis ICS 5 kir

Perkusi : sonor di kedua lapang paru, batas kiri jantung pada linea midklavikularis ICS 5 kiri, batas kanan jantun
Auskultasi : Paru : vesikuler +/+, rhonkhi -/-, wheezing -/-.
Jantung : S1S2 tunggal reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen
Inspeksi : distensi (-), warna kulit dalam batas normal, massa (-)
Auskultasi : bising usus (+) normal

Palpasi : supel, defans muskuler (-), nyeri tekan (-),massa (-), hepar tidak teraba, lien tidak teraba, pemeriksaan b
Perkusi : timpani di keempat kuadran abdomen

Inguinal
Inguinal kiri : Pembesaran kelenjar getah bening (-)
Inguinal kanan : Pembesaran kelenjar getah bening (-)

Uro-genital
Ginjal : tidak teraba

Anal-perianal
Rectal Toucher :

Tonus sphincter ani normal

Teraba massa pada mukosa rektum, arah pukul 4-6, konsistensi padat, permukaan berdungkul-dungkul, terfiksir.

Sarung tangan : feses, lendir, darah

Ekstremitas
Edema ektremitas (-). Akral hangat (+). Pembesaran kelenjar getah bening aksila (-).
Pemeriksaan Fisik Status Lokalis (Anorektal) :
Rectal Toucher :

Tonus sphincter ani normal

Teraba massa pada mukosa rektum, arah pukul 4-6, konsistensi padat, permukaan berdungkul-dungkul, terfiksir.

Sarung tangan : feses, lendir, darah


IV. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium pada tanggal 71/2010 :


Hb : 6,2 g%
Leukosit : 16.500/mm3
Trombosit: 968.000/mm3
Ht : 22,5%
GDS : 168

Pemeriksaan kolonoskopi tanggal 18/1/2010:


Tampak massa rapuh berdarah pada kedalaman 5-25 cm dari anus.
Kesan : Ca Recti
V. Resume

Perempuan, 46 tahun, datang dengan keluhan BAB mengandung lendir dan darah sejak 1 tahun yang lalu, 5-6x s

Tubuh terasa cepat lelah dan pusing berputar sejak sekitar 6 bulan lalu. Nafsu makan dirasakan menurun, dan tub
Keadaan Umum : lemah
Kesadaran/GCS : Composmentis/ E4V5M6
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
Nadi : 84x/menit, reguler, kuat angkat
Respirasi : 20x/menit
Suhu : 36.9 C
Rectal Toucher :

Tonus sphincter ani normal

Teraba massa pada mukosa rektum, arah pukul 4-6, konsistensi padat, permukaan berdungkul-dungkul, terfiksir.

Sarung tangan : feses, lendir, darah


VI. Diagnosis Kerja

Suspek Karsinoma Rektal + Anemia Sedang


VII. Usulan Pemeriksaan Penunjang :

Diagnosis : PA, Barium Enema, apusan darah tepi


Terapi : BT, CT, RFT, LFT

USG abdomen, Ro thorax AP


VIII. Rencana Terapi

1)
Pro transfusi PRC 4 kolf
2)
Infus RL 30 tetes/menit
3)
Injeksi Cefotaxime 1 gram/12 jam
4)
Pro reseksi anterior
IX. Prognosis

Dubia ad malam
TINJAUAN PUSTAKA

Karsinoma kolorektal merupakan penyakit keganasan dengan insidensi yang cukup tinggi di berbagai negara, ter

Rektum terletak di anterior sakrum and koksigis, panjangnya kira kira 15 cm. Rectosigmoid junction terleta

Kanalis analis dan kulit sekitarnya kaya akan persarafan sensoris somatik dan peka terhadap rangsangan nyeri, se
EPIDEMIOLOGI

Insidensi karsinoma kolorektal sedikit lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan, dengan rasio sebesar
ETIOLOGI

Etiologi karsinoma kolorektal belum diketahui secara pasti, namun diperkirakan bahwa karsinoma kolorektal m

Hereditary Nonpolyposis Colorectal Cancer (HNPCC) sebesar 4-7% dari keseluruhan kasus dan Fami
KLASIFIKASI TUMOR

Derajat keganasan karsinoma kolorektal berdasarkan gambaran histopatologik dibagi menurut Klasifikasi Dukes

Dukes

Dalamnya Infiltrasi

Terbatas di dinding usus

Menembus lapisan muskularis mukosa

Metastase kelenjar limfe

C1

Beberapa kelenjar limfe dekat tumor primer

C2

Dalam kelenjar limfe jauh

Metastase jauh

Karsinoma kolorektal mulai berkembang pada mukosa dan bertumbuh sambil menembus dinding dan meluas sec
GAMBARAN KLINIS

Gejala dan tanda dini karsinoma kolorektal tidak ada. Karsinoma kolon kiri dan rektum menyebabkan perubahan

Nyeri pada kolon kiri lebih nyata daripada kolon kanan. Tempat yang dirasakan sakit berbeda karena asal embrio
PEMERIKSAAN

Tumor kecil pada tahap dini tidak teraba pada palpasi perut. Bila teraba menunjukkan keadaan sudah lanjut. Mas

Diagnosis karsinoma kolorektal ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan colok dubur, dan rekt
PENATALAKSANAAN

Satu-satunya kemungkinan terapi kuratif adalah tindakan bedah. Tujuan utama tindakan bedah adalah memperla

Pada karsinoma rektum, tehnik pembedahan yang dipilih tergantung dari letaknya, khususnya jarak bawah kars

dipertanggungjawabkan. Pada pembedahan abdominoperineal menurut Quenu-Miles, rektum dan sigmoid denga
PROGNOSIS

Prognosis tergantung ada tidaknya metastasis jauh, yaitu klasifikasi penyebaran tumor dan tingkat keganasan sel
Dukes

Dalamnya Infiltrasi

5 Year Survival
Rate

Terbatas di dinding usus

97%

Menembus lapisan muskularis mukosa

80%

Metastase kelenjar limfe

65%

C1

Beberapa kelenjar limfe dekat tumor primer

35%

C2

Dalam kelenjar limfe jauh

<5%

Metastase jauh

DAFTAR PUSTAKA
Cagir, Burt

& Trostle, Douglas R, 2009. Rectal Cancer. Retrieved from : http://emedicine.medscape.com/article/281237-trea

Isaac, 2009. Rectal Carcinoma. Retrieved from : http://emedicine.medscape.com/article/373324-imaging. Access

Warren J. & Sabiston, David C., 1994. Sabiston Buku Ajar Bedah. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Meyerhard

t, Jeffrey A., 1994. Systemic Therapy for Colorectal Cancer. Retrieved from : http://content.nejm.org/cgi/content
Pfeninger,

John & Zainea, Georgia, 2001. Common Anorectal Conditions . Retrieved from : http://www.aafp.org/afp/2001/0

Thomas E. & Kodner, Iraj, 2009. Colorectal cancer : Risk Factor and Recomendations for Early Detection. Retri

David D. & Zdon, Michael, 2000. Update on Colorectal Cancer. Retrieved from : http://www.aafp.org/afp/20000
Sjamsuhid
ajat, R. & de Jong, Wim, 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.

http://bedah-mataram.org/index.php?option=com_content&view=article&id=152:karsinoma-rektal-um&catid=3
Arikel lain

A. Pengertian

Karsinoma Recti merupakan salah satu dari keganasan pada kolon dan rektum yang khusus menyerang bagian R
B .Insidens dan Faktor Risiko
Kanker yang ditemukan pada kolon dan rektum 16 % di antaranya menyerang Recti terutama terjadi di negara
1.Kebiasaan diet rendah serat.
2.Polyposis familial
3.Ulcerasi colitis
4.Deversi colitis
C. Patofisiologi
Penyebab kanker pada saluran cerna bagian bawah tidak diketahui secara pasti. Polip dan ulserasi colitis kronis d
Tumor-tumor pada Recti dan kolon asendens merupakan lesi yang pada umumnya berkembang dari polip yang m
Menurut P. Deyle perkembangan karsinoma kolorektal dibagi atas 3 fase. Fase pertama ialah fase karsinogen yan
D.Gambaran Klinis
Semua karsinoma kolorektal dapat menyebabkan ulserasi, perdarahan, obstruksi bila membesar atau invasi men
Tumor pada Recti dan kolon asendens dapat tumbuh sampai besar sebelum menimbulkan tanda-tanda obstruksi
E.Diagnosis Banding
1.Kolitis ulserosa
2.Penyakit Chron
3.Kolitis karena amuba atau shigella
4.Kolitis iskemik pada lansia
5.Divertikel kolon
F.Prosedur Diagnostik
Untuk menegakkan diagnosa yang tepat diperlukan:
1.Anamnesis yang teliti, meliputi:
?Perubahan pola/kebiasaan defekasi baik berupa diare maupun konstipasi (change of bowel habit)
?Perdarahan per anum
?Penurunan berat badan
?Faktor predisposisi:
o Riwayat kanker dalam keluarga
o Riwayat polip usus
o Riwayat kolitis ulserosa
o Riwayat kanker pada organ lain (payudara/ovarium)
o Uretero-sigmoidostomi
o Kebiasaan makan (tinggi lemak rendah serat)
2.Pemeriksaan fisik dengan perhatian pada:
? Status gizi
? Anemia
? Benjolan/massa di abdomen
? Nyeri tekan
? Pembesaran kelenjar limfe
? Pembesaran hati/limpa
? Colok rektum(rectal toucher)
3.Pemeriksaan laboratorium
4.Pemeriksaan radiologis
5.Endoskopi dan biopsi
6.Ultrasonografi
Uraian tentang prosedur diagostik dijelaskan lebih lanjut dalam fokus pengkajian keperawatan.

G.Pengobatan
Pengobatan pada stadium dini memberikan hasil yang baik.
1.Pilihan utama adalah pembedahan
2.Radiasi pasca bedah diberikan jika:
a.sel karsinoma telah menembus tunika muskularis propria
b.ada metastasis ke kelenjar limfe regional
c.masih ada sisa-sisa sel karsinoma yang tertinggal tetapi belum ada metastasis jauh.
(Radiasi pra bedah hanya diberikan pada karsinoma rektum).
3.Obat sitostatika diberikan bila:
a.inoperabel
b.operabel tetapi ada metastasis ke kelenjar limfe regional, telah menembus tunika muskularis propria atau telah
Obat yang dianjurkan pada penderita yang operabel pasca bedah adalah:
1.Fluoro-Uracil 13,5 mg/kg BB/hari intravena selama 5 hari berturut-turut. Pemberian berikutnya pada hari ke-36
2.Futraful 3-4 kali 200 mg/hari per os selama 6 bulan
3.Terapi kombinasi (Vincristin + FU + Mthyl CCNU)
Pada penderita inoperabel pemberian sitostatika sama dengan kasus operabel hanya lamanya pemberian tidak ter
II.FOKUS PENGKAJIAN KEPERAWATAN (ASUHAN KEPERAWATAN)
A.Riwayat Keperawatan dan Pengkajian Fisik:
Berdasarkan klasifikasi Doenges dkk. (2000) riwayat keperawatan yang perlu dikaji adalah:
1.Aktivitas/istirahat:
Gejala:
- Kelemahan, kelelahan/keletihan
- Perubahan pola istirahat/tidur malam hari; adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur misalnya nyeri, ansie
- Pekerjaan atau profesi dengan pemajanan karsinogen lingkungan, tingkat stres tinggi.
2.Sirkulasi:
Gejala:
- Palpitasi, nyeri dada pada aktivitas
Tanda:
- Dapat terjadi perubahan denyut nadi dan tekanan darah.
3.Integritas ego:
Gejala:
- Faktor stres (keuangan, pekerjaan, perubahan peran) dan cara mengatasi stres (merokok, minum alkohol, menu
- Masalah terhadap perubahan penampilan (alopesia, lesi cacat, pembedahan)
- Menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, putus asa, tidak mampu, tidak bermakna, rasa bersalah, kehilan
Tanda:
- Menyangkal, menarik diri, marah.
4.Eliminasi:
Gejala:
- Perubahan pola defekasi, darah pada feses, nyeri pada defekasi
Tanda:
- Perubahan bising usus, distensi abdomen
- Teraba massa pada abdomen kuadran kanan bawah
5.Makanan/cairan:
Gejala:
- Riwayat kebiasaan diet buruk (rendah serat, tinggi lemak, pemakaian zat aditif dan bahan pengawet)
- Anoreksia, mual, muntah

- Intoleransi makanan
Tanda:
- Penurunan berat badan, berkurangnya massa otot
6.Nyeri/ketidaknyamanan:
Gejala:
- Gejala nyeri bervariasi dari tidak ada, ringan sampai berat tergantung proses penyakit
7.Keamanan:
Gejala:
- Komplikasi pembedahan dan atau efek sitostika.
Tanda:
- Demam, lekopenia, trombositopenia, anemia
8.Interaksi sosial
Gejala:
- Lemahnya sistem pendukung (keluarga, kerabat, lingkungan)
- Masalah perubahan peran sosial yang berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
9.Penyuluhan/pembelajaran:
- Riwayat kanker dalam keluarga
- Masalah metastase penyakit dan gejala-gejalanya
- Kebutuhan terapi pembedahan, radiasi dan sitostatika.
- Masalah pemenuhan kebutuhan/aktivitas sehari-hari
http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-kanker-kolon-dan-rektum-carcinoma-recti.html