Anda di halaman 1dari 13

DAMPAK LIBERALISASI PERDAGANGAN TERHADAP NERACA PERDAGANGAN NEGARA BERKEMBANG (The Impact of Liberalization on Trade Balances of the Developing Countries Economy)

Haryadi1

Abstract

This research intends to explore the impact of liberalization on trade balances of Developing Countries Economy. The GTAP model was used as the main tool of analysis. The findings show that international trade flow is still dominated by developed countries. The elimination of trade protection results an increase in trade competition and decrease in most of the output experienced domestic support elimination.it also results in a decrease in export of products experiencing elimination of export subsidy, and increase import of countries that applied tariff imports before simulation.

Keywords: WTO, international trade, GTAP model

1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN

Liberalisasi perdagangan telah menjadi suatu istilah yang populer sejak dua dasa warsa terakhir. Keberhasilan negara-negara barat terutama Amerika Serikat dan Uni Eropa di dalam meningkat kinerja ekonomi mereka telah mendorong negara berkembang untuk mengikuti dan mencontoh kebijakan liberalisasi yang diterapkan oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa. Saat ini hampir semua negara telah menerapkan liberalisasi perdagangan. Kebijakan tersebut dapat dilihat dari rasio ekspor terhadap PDB negara-negara di dunia. Dari 160 negara, hanya dua negara yang memiliki rasio ekspor terhadap PDB dibawah 10 persen (World Bank, 2008). Komitmen negara-negara berkembang untuk melakukan liberalisasi perdagangan ditunjukkan oleh banyaknya negara berkembang yang masuk sebagai anggota organisasi perdagangan dunia atau World Trade Organization (WTO). WTO

yang berdiri sejah Januari 1995 saat ini telah memiliki anggota 160 negara. Dari sejumlah tersebut, lebih dari 80 persen diantaranya adalah negara berkembang (WTO,2006). Berdasarkan hasil Konferensi Tingkat Menteri (KTM) WTO ke-enam di Hong Kong, ketiga pilar negosiasi sektor pertanian yaitu: dukungan domestik (domestic support), subsidi ekspor (export subsidy), dan akses pasar (market access) sudah harus dihapuskan pada 2013. Hasil yang diharapkan dari pengimplementasian kesepakatan tersebut adalah liberalisasi yang menciptakan suatu kawasan perdagangan bebas dunia. Liberalisasi yang ditandai dengan penghapusan dukungan domestik, subsidi ekspor dan pembukaan akses pasar yang seluas-luasnya dapat memunculkan peluang sekaligus tantangan. Liberalisasi ini diperkirakan akan merubah peta kekuatan perdagangan produk-produk yang terkait di dalamnya. Perubahan ini selanjutnya akan berdampak pada kinerja ekonomi terutama sektor pertanian di setiap negara. Indonesia adalah salah satu negara yang akan terimbas dari dampak ini, mengingat sektor

1 Doktor Dalam bidang ilmu ekonomi dan dosen Fakultas Ekonomi Universitas Jambi

2

pertanian masih menjadi salah satu sektor kunci dalam perekonomian Indonesia. Siapkan negara-negara termasuk Indonesia menerima dampak tersebut?

1.2.

Tujuan Penelitian

1.

Mengetahui karaktersitik perekonomian Negara maju dan berkembang.

2. Menganalisis dampak penghapusan semua hambatan perdagangan yang dicanangkan WTO terhadap kinerja PDB, ekspor, impor, dan produksi dalam negeri negara-negara maju dan berkembang.

II. TINJAUAN PUSTAKA Terdapat beberapa peneliti yang sudah mengkaji dan menganalisis dampak liberalisasi terhadap kinerja perekonomian termasuk di sektor pertanian baik dalam konteks suatu negara maupun dalam konteks yang lebih luas. Secara umum temuan- temuan mereka dapat dikelompokkan menjadi dua. Di satu pihak ada yang menemukan bahwa liberalisasi perdagangan berdampak negatif (Heller and Porter, 1978; Lopez, 2003; Paulino, 2004; Sarkar, 2005). Namun di pihak lain ada pula yang menemukan bahwa liberalisasi berdampak positif atau minimal tidak merugikan suatu negara (Oktaviani, 2000; Hakim 2004; McKibbin dan Woo (2003), Morley dan Piñeiro (2004), dan Walsh at.al. (2005). Semua peneliti tersebut sampai pada kesimpulan bahwa liberalisasi perdagangan berdampak positif pada perekonomian negara-negara anggota secara keseluruhan.

III. kerangka Teori

3.1. Beberapa Studi Dampak Liberalisasi Perdagangan

Teori perdagangan internasional menjelaskan bahwa suatu negara akan cenderung untuk mengekspor produk yang biaya produksinya relatif lebih murah dan selanjutnya akan mengimpor produk yang biaya produksinya relatif lebih mahal ketimbang diproduksi di dalam negeri. Oleh karena itu jika setiap negara dapat mempertukarkan barang atau produk yang berbeda, kedua negara yang berdagang akan memperoleh manfaat berupa gain from trade (Krugman dan Obstfeld, 2000; dan Salvatore, 2000). Analisis tentang perdagangan internasional bisa dilakukan dengan menggunakan dua pendekatan yaitu: Pertama, melalui pendekatan keseimbangan parsial. Kedua, melalui pendekatan keseimbangan umum. Pendekatan keseimbangan parsial menganalisis segala bentuk kebijakan perdagangan yang mendistorsi pasar di suatu pasar tertentu tanpa secara eksplisit memperhitungkan konsekuensi-konsekuaensi terhadap pasar-pasar lainnya. Sementara itu, analisis melalui pendekatan keseimbangan umum melihat pasar sebagai suatu sistem.

3.2. Teori Keseimbangan Umum

Formulasi teoretik keseimbangan umum sebenarnya telah dimulai sejak pertengahan abad ke-19, antara lain rumusan yang dilakukan (Gossen, 1854; Jevons,

1871; Walras, 1874 dan Menger, 1871 dalam Soedarsono, 1985). Teori ini melihat perekonomian sebagai suatu sistem yang komplit (Dixon at.al., 1992). Teori keseimbangan umum dinilai lebih unggul dari teori keseimbangan parsial, karena analisisnya didasarkan atas teori ekonomi mikro, namun konstruksi model keseimbangan umum dapat menjembatani ekonomimikro dan ekonomimakro

3

(Oktaviani, 2000). Teori keseimbangan umum menjelaskan pasar sebagai suatu system. Sistem pasar terdiri dari beberapa macam pasar yang saling terkait antara satu pasar dengan pasar lainnya. Keseimbangan umum terjadi jika permintaan dan penawaran pada masing-masing pasar dalam sistem tersebut berada dalam kondisi keseimbangan secara simultan. Apabila dalam kondisi keseimbangan terjadi gangguan yang mengakibatkan ketidakseimbangan (disequilibrium) pada suatu pasar secara parsial, akan segera dikuti oleh penyesuaian di pasar yang bersangkutan dan selanjutnya terjadi proses penyesuaian di pasar lainnya (simultanneous adjusment) yang membawa perekonomian kembali pada kondisi keseimbangan yang baru secara keseluruhan.

Model General Trade Analysis Project Model GTAP adalah suatu model yang menggunakan CGE sebagai alat analisis dan secara gamblang dijelaskan oleh Hertel dan Tsigas (1997) dan Oktaviani (2008). Pada dasarnya model GTAP sama saja dengan model CGE nasional. Baik model GTAP ataupun model CGE sama-sama menggunakan konsep-konsep dasar arus pengeluaran dan pembelian antar pelaku ekonomi. Keduanya merupakan model struktural yang dibangun dengan dasar teori-teori mikroekonomi yang menjelaskan lebih detil perilaku-perilaku di masing-masing agen ekonomi (behavioral equations).

Perbedaan utama antara model CGE nasional dan model GTAP terletak pada cakupan wilayah. Pada model CGE, interaksi antara agen-agen yang berbeda berlangsung hanya dalam satu negara atau wilayah, sedangkan di dalam model GTAP interaksi antara agen-agen berlangsung antar negara/wilayah. Selain itu, GTAP juga mencakup transportasi global dan mobilitas investasi. Dengan demikian, model GTAP mampu menjelaskan dampak kebijakan antar negara, sementara dalam model CGE terbatas hanya dalam satu wilayah atau negara saja.

IV. METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan data sekunder yang sebagian besar berasal dari database General Trade Alayisis Project (GTAP) versi 6.2. Alat analisis utama yang digunakan adalah CGE dengan model multinegara. Keunggulan utama dari model ini adalah karena ia bisa digunakan untuk melihat dampak dari suatu kebijakan terhadap perekonomian banyak negara secara sekaligus dan secara lebih rinci. Untuk menyederhanakan pembahasan dilakukan pengelompokan dan pemisahan terhadap negara/wilayah dan sektor yang dikenal dengan istilah disagregasi dan agregasi. Dalam penelitian ini negara diagregasi menjadi tiga belas, empat wilayah merepresentasikan negara maju yaitu Australia & Selandia Baru, Jepang, Amerika Serikat, dan Uni Eropa dan sembilan wilayah merepresentasikan negara berkembang. Sementara itu, komoditi diagregasi menjadi tujuh bela sektor komoditi. Simulasi kebijakan dilakukan sebagai berikut: : Pertama, dengan cara menghapus segala tarif dan subsidi ekspor serta dukungan domestik yang selama ini diberlakukan oleh negara maju dan berkembang. Kedua Pemberlakuan tarif untuk produk khusus dan berbeda (SP&D) dengan ambang batas tertinggi yang telah disepakati oleh Indonesia dan WTO.

4

Proses Program Data GTAP 6.2 GTAP Agg agregasi dan disagregasi negara & sektor Data Main
Proses
Program
Data GTAP 6.2
GTAP Agg
agregasi dan disagregasi
negara & sektor
Data
Main
Experiment
Cek Persentase
Dasar
Mode File
(.EXP)
RunGTAP
(.TAB)
(.HAR)
dukungan
d
tik
Penghapusan
subsidi
semua
Buat
k
hambatan
Sh
k
perdagangan
Studi
akses
literatur
k hambatan Sh k perdagangan Studi akses literatur PDB rill Eksekusi Hasil Simulasi Keragaan t t
k hambatan Sh k perdagangan Studi akses literatur PDB rill Eksekusi Hasil Simulasi Keragaan t t
PDB rill
PDB rill
Eksekusi

Eksekusi

k perdagangan Studi akses literatur PDB rill Eksekusi Hasil Simulasi Keragaan t t Keragaan i Keragaan

Hasil Simulasi

Studi akses literatur PDB rill Eksekusi Hasil Simulasi Keragaan t t Keragaan i Keragaan k Gambar
Keragaan t t
Keragaan
t
t
Keragaan i
Keragaan
i
Keragaan k
Keragaan
k

Gambar 1. Diagram Alur Penelitian

V. HASIL PENELITIAN

5.1. Peta Perdagangan Negara-Negara Di Dunia

Perekonomian dunia masih dikuasai oleh negara maju dengan tiga pelaku utama yaitu Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang. Amerika Serikat adalah pasar potensial bagi sebagian besar negara-negara/wilayah di dunia. Indikasi ini terlihat dari posisi negara itu sebagai negara tujuan utama ekspor oleh 7 dari 13 wilayah penelitian. Negara-negara tersebut adalah Cina, Jepang, Malaysia, Philipina, negara-negara ASEAN diluar ASEAN5, Uni Eropa, dan ROW. Namun demikian ternyata Amerika Serikat bukanlah pemasok utama kebutuhan dunia. Dari 13 agregasi sektor, tujuh negara/wilayah ternyata mengimpor sebagian besar kebutuhan mereka dari Uni Eropa. Negara-negara tersebut adalah Australia & Selandia Baru, Jepang, Cina, Indonesia, Vietnam, G33, dan ROW. Kondisi ini terjadi karena Uni Eropa memiliki pangsa pasar yang besar, penduduk yang banyak, dan merupakan suatu wilayah yang terdiri dari banyak negara. Jika dirinci berdasarkan negara maka pemasok kebutuhan dunia terbesar adalah Jepang yang diindikasikan oleh terdapatnya 6 dari 13 negara yang memasok sebagian besar impornya dari Jepang. Peta aliran pedagangan juga menunjukkan bahwa sebagian besar komoditi pertanian diekspor oleh negara maju. Dua besar negara yang mendominasi perekonomian dunia berturut- turut adalah Uni Eropa dan Amerika Serikat. Indikasi ini ternyata bertolak belakang dengan pandangan yang selama ini menyatakan bahwa negara berkembang adalah mengekspor komoditi pertanian. Faktor penyebabnya adalah masih tingginya dukungan domestik dan subsidi oleh negara maju terhadap produk mereka.

Tabel 1. Kontribusi Ekspor Negara/wilayah di Dunia Dirinci Berdasarkan Kelompok Komoditi

VXMD

           

Pertanian dan Olahan

16 Mnfcs

 

17 Svces

 

Total

 

ANZ

40503,76

4,86

32916,56

0,68

17549,41

1,41

90969,73

1,32

5

Cina

21247,03

2,55

335763,22

6,97

22457,54

1,80

379467,81

5,50

Jepang

3819,99

0,46

409410,78

8,50

39791,49

3,19

453022,25

6,57

ASEAN

56226,94

6,75

327090,24

6,79

63354,07

5,08

446671,28

6,48

USA

64918,30

7,79

603715,50

12,53

220242,27

17,65

888876,06

12,89

Uni Eropa

200633,16

24,07

1803232,25

37,44

510694,03

40,93

2514559,50

36,46

G33

35317,15

4,24

247149,22

5,13

48261,78

3,87

330728,16

4,79

ROW

410793,52

49,29

1057055,75

21,95

325491,13

26,08

1793340,38

26,00

Total

833459,89

100,00

4816333,50

100,00

1247841,75

100,00

6897635,00

100,0

0

Sumber: Database GTAP 6.2 (diolah)

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa hanya Uni Eropa yang melangsungkan sebagian besar aktivitas perdagangannya dalam wilayah regional mereka, sedangkan wilayah lainnya sebagian besar aktivitas perdagangannya berlangsung di luar wilayah regional.

Tabel 2. Kontribusi Perdagangan di Dalam dan di Luar Wilayah

Negara

ASEAN

ANZ

othNAFTA

EastAsia

Jepang

6 USA

UE

ROW

ASEAN

18,29

2,12

2,20

16,01

12,40

19,13

19,06

10,79

ANZ

9,68

5,78

2,91

17,72

17,12

12,24

18,66

15,89

othNAFTA

1,03

0,45

1,95

2,81

2,43

76,02

8,81

6,51

EastAsia

7,75

1,59

3,18

19,30

11,97

25,72

18,53

11,97

Japan

12,84

2,06

3,27

25,24

0,00

27,49

18,00

11,11

USA

5,81

1,81

26,52

10,32

8,18

0,00

29,32

18,04

EU15

2,48

0,90

2,36

4,30

3,10

11,52

54,49

20,87

ROW

3,36

0,65

2,20

7,02

5,45

16,46

38,31

26,54

Total

5,40

1,24

5,53

9,56

5,78

18,21

35,99

18,28

Sumber: Database GTAP 6.2 (diolah)

5.2. Dampak Penghapusan Hambatan Perdagangan Dampak penghapusan hambatan perdagangan disajikan pada Tabel 3 sampai dengan Tabel 7. Seperti terlihat pada Tabel 3, hampir semua negara yang sebelumnya menerapkan dukungan domestik mengalami penurunan output. Hal yang sama juga terlihat pada negara yang mengenakan subsidi ekspor, setelah subsidi dihapus maka ekspor komoditi tersebut mengalami penurunan. Dampak yang sama juga terlihat pada negara yang sebelumnya mengenakan tarif impor. Semua komoditi yang sebelumnya dikenakan tarif impor mengalami peningkatan setelah tarif tersebut dihapus. Tidak menurunnya produksi jagung dan ternak Amerika Serikat dikarenakan adanya permintaan impor yang cukup besar dari beberapa negara partner dagang utamanya. Peningkatan produksi jagung Amerika Serikat 2,01 persen (Tabel 4) bukan disebabkan oleh adanya peningkatan permintaan di dalam negeri, tapi diperkirakan disebabkan oleh adanya peningkatan impor yang cukup besar dari negara-negara partner dagang seperti EU yang produksi dalam negerinya menurun 6,23 persen sehingga impor mereka meningkat sebesar 0,02 persen, Cina 37,86 persen, Thailand 94,09 persen, Australia dan Selandia Baru 15,84 persen dan permintaan dari negara Asean yang rata-rata meningkat diatas 10 persen. Demikian juga produksi ternak Amerika yang mengalami peningkatan output yang meningkat 1,96 persen, diperkirakan untuk memenuhi permintaan dari Jepang, Cina, dan negara-negara ASEAN. Sementara itu impor gandum Amerika Serikat yang menurun diperkirakan disebabkan oleh karena kebutuhan dalam negerinya dipenuhi dari output dalam negeri dan ekspor mereka juga menurun. Kenaikan ekspor G33 yang terjadi meskipun subsidi ekspornya dihapus, diperkirakan karena subsidi ekspor mereka yang kecil tidak terlalu terlalu berdampak pada komoditi itu, apalagi negara maju mengalami penghapusan subsidi yang jauh lebih besar.

6

Tabel 3. Dampak Penghapusan Hambatan Perdagangan Terhadap Output, Ekspor, dan Impor

 

Sebelum Kebijakan

Setelah Kebijakan

 

Negara

Dukungan

Subsidi

Tarif

Output

Ekspor

Impor

Domestik

ekspor

impor

turun

turun

naik

Australia &

Gandum

Tidak ada

Semua

naik

turun

semua

Selandia Baru

Cina

Tidak ada

Tidak ada

Semua

Ya

 

Kecuali

padi dan

kapas

Jepang

Padi

Tidak ada

Semua

Ya

 

Kecuali

jagung

dan horti

Indonesia

Tidak ada

Tidak ada

Semua

   

Semua

Malaysia

Tidak ada

Tidak ada

Semua

   

Semua

Philipina

Tidak ada

Tidak ada

Semua

   

Semua

Thailand

Tidak ada

Tidak ada

Semua

   

Semua

Vietnam

Tidak ada

Tdk ada

Semua

   

Kecuali

gandum

ASEAN

Tidak ada

Tidak ada

Semua

   

Semua

lainnya

Amerika

Padi,

Susu

Semua

Ya

Ya

Semua

Serikat

gandum,

(kecuali

jagung,

jagung

horti,

dan

kedele,

ternak)

gula,

kapas,

ternak,

susu

Uni Eropa

Gandum,

Padi,

Semua

Ya

Padi,

Ya

jagung,

gandum,

jagung,

(kecuali

horti,

jagung,

horti,

gandum)

kedele,gula

horti, gula,

gula,

, kapas,

ternak,

ternak,

ternak,

susu

susu

susu

Kelompok G33

Padi,

Horti, gula,

Semua

Ya

Tidak

Semua

gandum,

ternak,

Kecuali

jagung,

minyak

kapas

horti,

nabati, dan

kedele,

makanan

kapas

Negara-negara

Padi,

 

Semua

Ya

 

Semua

di luar

gandum,

kelompok

jagung

diatas

Walau ada sektor yang meningkat meski dukungan domestiknya dihapus, namun peningkatan itu diduga karena dukungan domestik yang diberikan oleh negara nilainya relatif lebih kecil bila dibandingkan dengan dukungan domestik yang dilakukan oleh negara lain. Sebagai contoh, output gandum Australia dan New Zealand tetap meningkat walaupun

7

dukungan domestik terhadap sektor ini dihapus oleh kedua negara ini. Bila dilihat dari nilai dukungan domestik yang diberikan oleh kedua negara ini, nilainya jauh lebih kecil bila dibandingkan yang diberikan oleh negara maju lainnya.

Berdasarkan gambaran tersebut maka dapat diduga bahwa meskipun Australia dan New Zealand juga menghapus dukungan domestik, namun penghapusan tersebut tidak menurunkan gairah petani gandum mereka karena negara maju lainnya juga menghapus dukungan domestik dengan nilai yang relatif lebih besar. Kejadian yang sama diduga juga berlaku untuk sektor hortikultura di Jepang yang outputnya tetap meningkat walaupun dukungan domestik untuk sektor ini dihapus, begitu pula yang terjadi di negara/wilayah lain.

Pembuktian terhadap dampak negatif dari penghapusan hambatan perdagangan terhadap output domestik dapat juga dilihat pada negara/wilayah Uni Eropa. Dari 8 sektor yang subsidi outputnya dihapus oleh Uni Eropa, semuanya menunjukkan perubahan output yang negatif. Keadaan yang sama juga terjadi pada negara Amerika Serikat (kecuali pada sektor jagung).

Secara rinci berikut ini akan diuraikan dampak penghapusan hambatan perdagangan terhadap nilai output domestik di masing-masing negara. Berdasarkan Tabel ini dapat dijelaskan bahwa Uni Eropa merupakan Negara yang nilai outputnya mengalami penurunan hampir di semua sektor. Dari 17 sektor, sebanyak 13 sektor nilai outputnya menurun. Penurunan nilai output terbesar pada Uni Eropa terjadi pada sektor padi 71,35%, diikuti oleh penurunan output pada sektor gula dan sektor kapas masing-masing 36,39% dan 33,65%. Selain sektor diatas, kedelai juga merupakan sektor yang outputnya menurun cukup besar yaitu 2,98%. Dari hasil simulasi dapat dilihat bahwa ada 4 sektor yang menunjukkan peningkatan output meski secara persentase peningkatannya relatif kecil bahkan dibawah 1%.

Jepang adalah negara maju terbesar kedua yang mengalami penurunan output baik dilihat dari persentase maupun dari jumlah sektor yang mengalami penurunan. Sektor yang mengalami penurunan terbesar adalah gandumpadi 100,69%, diikuti oleh jagung 29,34%, ternak 24,06%, dan gula 20,06%.

Amerika Serikat juga termasuk negara maju yang mengalami penurunan output pada sebagian besar sektor. Dari 17 sektor, 12 diantaranya mengalami penurunan output dengan penurunan terbesar terjadi pada sektor padi 17,35%, Kedele 5,96%, gula 3,07% dan minyak nabati 2,05%. Beberapa sektor lainnya walaupun outputnya menurun namun masih berada dibawah 2%. Dari 17 sektor tersebut, terdapat juga sektor yang mengalami peningkatan output yaitu jagung 2,01%, ternak 1,96% serta perikanan 0,01%.

Australia dan New Zealand adalah negara yang paling banyak mengalami peningkatan output setelah penghapusan hambatan perdagangan. Dari 17 sektor agregasi, hanya ada 3 sektor yang outputnya menurun dan itupun bukan produk pertanian. Ketiga sektor yang outputnya menurun tersebut adalah manufaktur, kehutanan, dan sektor primer lainnya, sementara sektor yang outputnya meningkat paling besar adalah susu 39,14%, gula 13,17%, jagung 8,74% serta padi 8,54%.

Penurunan output juga terjadi pada negara berkembang. Cina memperlihatkan penurunan output di 14 sektor dan hanya 3 sektor yang menunjukkan peningkatan output yakni padi dan perikanan masing-masing 7,15% dan 1,68%. Penurunan output terbesar terjadi pada sektor kedele 29,62% dan sektor pertanian lainnya 13,01%.

Di kawasan Asean, hampir semua negara mengalami penurunan output komoditi pertanian. Indonesia mengalami penurunan output pada sektor padi 3,17% dan gula 2,78%, sektor pertanian lainnya 2,50%, kehutanan 2,25% serta sektor primer lainnya sementara sektor lainnya 2,37%. Namun demikian, penurunan disektor tersebut diatas dimbangi pula oleh kenaikan output di sektor gandum, kedelai, dan minyak nabati. Secara persentase kenaikan output terbesar terjadi pada sektor kedelai 16,94%. Peningkatan ini cukup menguntungkan

8

mengingat kedelai adalah bahan utama industri produk makanan dan seringkali langka di pasar karena permintaan yang cenderung meningkat. Sektor kedua yang juga cukup signifinan meningkat outputnya adalah gandum 12,03%, diikuti oleh minyak nabati 11,74%. Peningkatan ini cukup baik mengingat Indonesia adalah salah satu negara yang mengkonsumsi gandum dalam jumlah yang cukup besar untuk kebutuhan industri makanan. Indonesia juga merupakan produsen minyak nabati terbesar di dunia yaitu produk-produk yang berasal dari minyak sawit.

Negara Asean yang menunjukkan kenaikan output pada sebagian besar sektornya adalah Malaysia. Dari 17 sektor agregasi, 11 sektor outputnya meningkat dan hanya 6 sektor yang menurun. Sektor yang outputnya meningkat paling besar adalah Gandum 194,93%. Sektor kedua yang meningkat sangat signifikan adalah minyak nabati 84,3%. Sebaliknya, penurunan output di Malaysia tersebar di banyak sektor yang antara lain adalah hortikultura 5,88%, sektor primer lainnya 8,18% dan makanan 7,73% serta selebihnya adalah sektor pertanian lainnya .

Thailand adalah negara yang cukup banyak mengalami penurunan output sebagai dampak dari penghapusan hambatan perdagangan yakni sebanyak 9 sektor. Namun demikian, sektor padi yang selama ini juga merupakan sektor yang selalu memberikan kontribusi dari ekspor mengalami peningkatan 16,63%. Sektor lain yang menunjukkan peningkatan adalah sektor susu dan ternak masing-masing sebesar 7,44% dan 0,93%. Dari 9 sektor yang outputnya menurun, sektor gandum dan kapas adalah sektor pertanian yang paling besar persentase penurunannya di Thailand yakni masing-masing 16,11% dan 13,89%.

Vietnam adalah negara yang mengalami perubahan nilai output yang cukup beragam sebagai dampak dari penghapusan hambatan perdagangan. Negara ini mengalami penurunan output terbesar pada sektor minyak nabati 32,81%. Penurunan output pada sektor pertanian lainnya terjadi pada, susu 13,48%, kedelai 10,59%, dan selebihnya adalah sektor pertanian lainnya.

Tidak jauh berbeda dengan negara/wilayah lain, Output G33 juga menurun pada sebagian sektor ekonominya. Dari 17 agregasi sektor, 9 sektor yang outputnya menurun dan hanya 8 sektor yang meningkat. Namun demikian bila dilihat dari persentase, angka peningkatan output jauh lebih kecil dibanding angka penurunan output. Seperti terlihat pada tabel 5.2, penurunan output terbesar terjadi pada sektor padi 54,95%. Output sektor lainnya yang juga menunjukkan penurunan adalah kedelai 52,44%, minyak nabati 25,50% dan sektor primer lainnya 22,48%.

5.4. Dampak Penghapusan Hambatan Perdagangan Terhadap Ekspor

Hasil simulasi (Tabel 5) menjawab pertanyaan tentang dampak penghapusan hambatan perdagangan terhadap keragaan ekspor negara/wilayah. Hampir semua sektor yang mengalami penghapusan hambatan perdagangan berupa subsidi ekspor berdampak pada menurunnya ekspor negara yang bersangkutan. Walau ada sektor yang meningkat meski subsidi ekspornya dihapus, namun subsidi ekspor tersebut nilainya relatif kecil dan bahkan jauh relatif lebih kecil dibandingkan dengan subsidi ekspor yang diberikan oleh negara-negara lainnya. Sebagai contoh ekspor gula oleh G33 tetap saja mengalami peningkatan meski subsidi ekspor ini dihapus oleh negara/wilayah tersebut.

Tabel 5. Dampak Penghapusan Hambatan Perdagangan terhadap Ekspor (%)

Sektor/Negara

ANZ

Chn

Jpn

Idn

Mys

Phl

Tha

Vnm

Xse

USA

EU

G33

Padi

66,38

1458,1

32,31

-246,19

78,33

-208,11

91,95

71,19

6,72

-18,9

-91,2

241,81

Gandum

-15,69

2,59

-285,52

-7,2

508,3

89,17

-24,89

28,94

66,02

-1,73

20,77

27,96

Jagung

42,74

98,68

62,17

1,82

28,72

3,29

-3,65

-5,08

-10,17

13,92

-8,97

7,78

Horti

2,72

78,12

73,31

34,88

8,46

4,44

7,65

22,13

29,4

-7,59

-8,49

12,05

Kedelai

8,35

582,96

-34,13

46,84

24,27

39,86

30,88

70,47

16,98

6

-41,91

209,54

Gula

111,4

56,02

996,23

40,11

-22,65

211,37

131,84

761,98

38,93

-0,24

-83,51

97,85

9

Kapas

-0,19

8,4

99,34

16,64

1,25

22,05

27,54

30,01

1,52

-0,23

-48,64

25,57

Ternak

5,68

-12,89

77,98

166,26

65,72

47,61

27,23

-5,17

12,79

65,17

-22,49

230,13

Susu

156,3

51,68

249,59

86,61

67,6

100,47

188,41

441,48

1574,37

105,26

-27,86

189,15

OthAgr

-36,86

9,68

123,19

-5,43

2,79

60,77

-6,78

-6,35

-6,07

34,75

11,82

69,8

Kehutanan

-3,2

6,95

15,98

19,69

2,31

8,73

7,83

23,23

4,87

0,77

1,92

1,29

Perikanan

2,13

7,15

17,59

7,34

-0,77

1,2

14,05

11,42

9,82

3,47

-0,67

6,77

MykNab

35,25

29,09

9,57

93,1

107,91

15,2

38,27

147

19,14

-37,95

-18

625,75

Food

10,73

12,73

29,36

2,41

28,54

17,67

16,05

-0,85

40,22

17,46

5,59

34,31

OthPrim

2,08

3,18

22,89

2,01

11,91

15,16

10,33

1,84

-0,35

-2,49

1,03

35,83

Mnfcs

-11,74

-2,35

2,02

-3,37

-4,02

1,81

-3,98

0,36

-2,35

-0,68

1,1

1,54

Svces

-6,97

-0,68

2,36

-1,39

-2,18

1,41

-2,41

1,28

-0,53

0,08

1,41

0,67

Beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab tidak terpengaruhnya ekspor G33 antara lain adalah: Pertama, nilai subsidi ekspor yang sebelumnya pernah diberikan oleh negara tersebut relatif lebih kecil dibanding subsidi ekspor yang diberikan oleh negara lain terhadap produk yang sama (Tabel 6), sehingga penghapusan subsidi ekspor oleh G33 tidak terlalu berdampak terhadap penurunan daya saing sektor bersangkutan di pasar internasional. Kedua, G33 adalah wilayah yang terdiri dari banyak negara. Oleh karena itu, penurunan ekspor diantara salah satu anggota G33 ditutupi oleh peningkatan ekspor yang lebih besar dari negara G33 yang lain.

Tabel 6. Dampak Penghapusan Hambatan Perdagangan terhadap Ekspor Negara G33 (%)

Sektor/Negara

turki

peru

ASEAN

Ugan

Lka

India

Madag

Korea

EU

G33

ROW

Total

1 Padi

0

0

0

0

0

0

0

0

562,35

0

0

562,35

2 Gandum

0

0

0

0

0

0

0

0

112,2

0

0

112,2

3 Jagung

0

0

0

0

0

0

0

0

434,1

0

0,02

434,11

4 Horti

4,32

0

0

0

0

0

0

96,11

30

0

2,38

132,81

5 Kedelai

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

6 Gula

18,68

0

0

0

0

0

0

0

777,45

0

0,4

796,54

7 Kapas

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

3,23

3,23

8 Ternak

0

0

0

0

0

0

0

0

947,68

0

1,23

948,91

9 Unggas

3,85

0

0

0

0

0

0

3,36

48,18

0

0,42

55,82

10 Susu

-3

1,41

0

0

6,6

0

0

0

394,56

0

31,55

431,11

11 OthAgric

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0,23

0,23

12 MykNab

27,52

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

27,52

13 Food

18,62

0

0

0

0

0

0

0

29,22

0

0,9

48,74

14 OthPrim

-9,61

-28,37

-0,1

2,52

65,23

0

0

0

0

-7,74

-3,83

18,11

15 Mnfcs

-20,45

-23,34

-2,57

0,33

-39,05

-3,98

-2,45

-1,3

0

-4,76

-2,9

-100,47

16 Svces

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Total

39,93

-50,3

-2,67

2,85

32,78

-3,98

-2,45

98,16

3335,75

-12,5

33,62

3471,2

Berikut ini akan diuraikan secara lebih rinci mengenai dampak penghapusan perdagangan terhadap keragaan ekspor di setiap negara/wilayah. Tabel 5 memperlihatkan bahwa semua sektor (kecuali gandum) yang sebelumnya diberikan subsidi ekspor oleh Uni Eropa menunjukkan penurunan ekspor. Sektor-sektor yang mengalami penurunan ekspor di negara/wilayah tersebut masing masing padi 91,2%, jagung 8,97%, horti 8,49%, kedelai 41,91%, gula 83,51%, kapas 48,64%, ternak 22,49%, dan susu 27,86%. Namun demikian kondisi ini tidak terjadi pada Amerika Serikat. Meskipun negara ini sebelumnya mengenakan subsidi ekspor terhadap produk susunya, penghapusan subsdidi ekspor dan hambatan perdagangan lainnya ternyata justru meningkatkan ekspor susunya ke negara lain. Hasil simulasi ini sekaligus mempertegas dugaan bahwa subsidi ekspor yang sebelumnya diberikan oleh suatu negara/wilayah namun bila relatif lebih kecil dibandingkan yang diberikan oleh

10

negara/wilayah lain ternyata tidak selalu berdampak negatif terhadap sektor ekspor yang sebelumnya bersubisidi tersebut. Berdasarkan data, subsidi ekspor yang diberikan oleh Amerika Serikat terhadap sektor susu mereka memang relatif lebih kecil dibandingkan dengan subsidi ekspor yang diberikan oleh Uni Eropa terhadap sektor yang sama. Atas dasar ini maka sektor susu Amerika Serikat tetap meningkat walaupun subsidi ekspornya dihapus.

5.5. Dampak Penghapusan Hambatan Perdagangan Terhadap Impor

Hasil simulasi (Tabel 7) menjawab pertanyaan tentang dampak penghapusan hambatan perdagangan berupa penghapusan tarif impor oleh semua negara/wilayah terhadap impor masing-masing negara/wilayah. Sebagaimana ditampilkan pada Tabel 6 bahwa hampir semua sektor yang mengalami penghapusan hambatan perdagangan berupa penghapusan tarif impor (sebagai proksi dari pembukaan akses pasar) mengalami peningkatan volume impor. Hasil simulasi ini membuktikan teori perdagangan yang menyatakan bahwa penghapusan tarif akan berdampak terhadap peningkatan impor oleh negara yang melakukan penghapusan tarif tersebut.

Tabel 7. Dampak Penghapusan Hambatan Perdagangan terhadap Impor (%)

viwcif

ANZ

Chn

Jpn

Idn

Mys

Phl

Tha

Vnm

Xse

USA

EU

G33

ROW

Padi

14,27

-14,53

1391,21

94,95

4,55

181,47

147,36

60,77

12,03

122,43

41,01

2884,55

35,35

Gandum

13,48

6,7

6,99

2,41

23,31

3,51

4,55

-5,75

6,77

10,31

-0,72

40,24

28,49

Jagung

15,84

37,86

-2,95

2

13,08

26,91

69,35

4,84

8,4

9,36

0,22

84,31

16,6

Horti

10,66

50,23

-13,83

9,64

9,42

11,07

94,09

40,95

10,06

5,61

4,51

74,99

15,26

Kedelai

17,53

60,7

8,84

9,86

40,02

8,74

18,38

22,84

9,99

73,86

22,13

742,31

3,67

Gula

28,67

24,79

218,69

46,64

11,99

118,41

107,9

79,44

10,44

74,89

177,07

18,68

68,34

Kapas

9,2

-1,24

0,89

0,51

18,75

1,34

1,33

3,65

5,57

7,8

3,7

2,78

1,73

Ternak

7,28

36,03

62,96

17,86

19,09

44,59

16,71

18,41

4,25

5,12

15,81

30,4

39,47

Susu

16,4

52,93

171,53

6,22

15,78

7,85

21,87

10

57,54

35,71

13,22

45,81

43,13

OthAgr

12,87

24,5

-25,95

15,42

4,67

18,62

91,54

9,31

1,22

8,32

1,07

69,79

31,14

Kehutanan

2,36

0,82

0,65

-0,4

-3,19

2,09

-0,31

2,55

1,04

-0,13

-0,42

12,75

5,46

Perikanan

5,02

21,49

5,05

4,81

22,1

5,26

64,42

-0,94

5,44

0,98

-0,07

25,41

3,59

MykNab

9,65

6,11

19,58

19,02

71,29

20,96

61,36

26,02

11,56

30,29

27,23

87,6

38,26

Food

13

38,56

10,05

16,46

17,88

7,17

44,92

51,43

13,65

5,21

1,85

19,34

22,78

OthPrim

11,81

-0,87

0,84

0,23

14,33

4,29

-3,17

32,06

-1,88

-0,38

0,66

15,31

6,3

Mnfcs

3,61

0,54

-0,8

-0,35

-0,86

0,93

-0,73

0

-0,72

0,15

-0,2

0,97

0,05

Svces

5,61

0,78

-0,58

0,67

1,42

-0,1

1,64

-0,7

0,8

0,17

-0,5

1,88

0,2

Walaupun ada beberapa sektor di beberapa negara yang mengalami penurunan impor, namun penurunan tersebut diduga disebabkan oleh output dalam negerinya meningkat. Contoh sektor yang mengalami penurunan impor adalah padi di Cina. Penurunan impor yang terjadi pada sektor padi di Cina ini karena konsumsi domestik dapat dipenuhi oleh output yang dihasilkan oleh Cina sendiri. Seperti terlihat pada Tabel 4, produksi padi di Cina meningkat sebesar 7,15% sebagai dampak penghapusan perdagangan. Cina bahkan mengekspor sebagian dari padi yang di produksi domestik ke luar negeri yang terlihat dengan peningkatan ekspor padi Cina, demikian juga yang terjadi untuk sektor kapas (Tabel 5).

Kasus yang sama juga terjadi untuk sektor gandum yang tidak mengalami peningkatan impor di Vietnam meskipun tarif impor adalah nol. Penurunan impor juga dikarenakan output

11

dalam negerinya yang meningkat sehingga sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Kasus yang berbeda terjadi untuk negara/wilayah Eropa. Seperti ditunjukkan pada Tabel 5 yang impor sektor gandumnya menurun walaupun produksi dalam negeri atau outputnya menurun. Penurunan impor ini dikarenakan Eropa menurunkan ekspor gandumnya untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri/domestik.

Berikut ini akan diuraikan secara lebih rinci mengenai dampak penghapusan perdagangan terhadap keragaan impor di setiap negara/wilayah. Tabel 7 memperlihatkan bahwa semua sektor (kecuali gandum) yang sebelumnya dikenakan tarif impor mengalami peningkatan impor setelah tarif impornya dihapus.

Australia dan New Zealand mengalami peningkatan impor pada seluruh sektor. Peningkatan terbesar terjadi pada sektor gula 28,67%, dikuti oleh kedele, jagung, dan gandum masing-masing 17,53%, 15,84%, dan 13,48%. Sekilas nampak bahwa penghapusan hambatan perdagangan telah menyebabkan pasar domestik negara ini mengalami serbuan impor.

Serbuan impor ini setidak-tidaknya bisa terjadi dikarenakan dua faktor. Pertama, produk sejenis yang diproduksi dalam negeri kalah bersaing dengan produk yang masuk dari luar negeri. Kedua, produk yang diimpor tersebut berbeda baik dari segi kualitas, jenis, maupun rasa, sehingga produk tersebut diimpor dari luar negeri. Dengan demikian suatu negara bisa saja menjadi pengimpor sekaligus pengekspor produk yang sama namun dengan motif, bentuk, jenis dan rasa yang berbeda.

Berpijak dari argumen tersebut diatas, maka dapat dimaknai bahwa peningkatan impor untuk kasus-kasus tertentu tidak sepenuhnya disebabkan oleh penurunan daya saing produk dalam negeri. Peningkatan impor bisa juga disebabkan oleh karena permintaan dalam negeri yang beraneka ragam dan kebutuhan tersebut bisa didatangkan dari luar negeri.

5.6. Dampak Penghapusan Hambatan Perdagangan Terhadap PDB

Dampak penghapusan hambatan perdagangan terhadap PDB dapat dilihat pada Tabel 8. Berdasarkan tabel tersebut terlihat bahwa dari 13 negara/wilayah, hanya Australia & Selandia Baru dan Indonesia yang PDB Riil-nya menurun namun dengan angka yang relatif tidak signifikan (dibawah 0,05 persen).

Tabel 8.

Dampak Penghapusan Hambatan Perdagangan Terhadap PDB

Negara

PDB Riil(%)

ANZ

-0,03

Chn

0,02

Jpn

0,6

Idn

-0,03

Mys

0,35

Phl

0,33

Tha

0,16

Vnm

0,46

Xse

0,12

USA

0

EU

0,12

G33

1,76

ROW

0,06

12

VI. KESIMPULAN

6.1. Kesimpulan

1. Tingkat ketergantungan negara-negara terhadap tiga negara maju terutama Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang masih tinggi yang ditandai oleh sebagian besar negara melakukan aktifitas perdagangan dengan negara/wilayah ini dan relatif kecilnya aktivitas perdagangan dalam wilayah regional masing-masing.

2. Liberalisasi perdagangan dengan cara menghapus semua hambatan perdagangan berdampak kinerja beberapa indikator ekonomi negara anggota.

3. Indonesia adalah satu diantara dua negara yang mengalami penurunan PDB sebagai akibat dari penghapusan semua hambatan perdagangan.

6.2. Saran

1. Diperlukan upaya dan terobosan dari negara berkembang untuk meningkatkan daya saingnya sehingga komoditi negara berkembang juga mampu bersaing dengan negara maju. Kebijakan tersebut bisa dilakukan antara lain dengan menuntut akses pasar yang lebih besar bagi komoditi mereka untuk memasuki pasar negara maju.

2. Mengingat penghapusan hambatan perdagangan dapat berdampak positif kepada hampir semua negara, maka diperlukan upaya untuk mendesak negara maju agar dapat mempercepat proses penghapusan semua dukungan baik itu dukungan domestik maupun subsidi ekspor, sehinga perdagangan internasional bisa berjalan secara fair.

3. Indonesia perlu berkosentrasi pada produk-produk yang memiliki daya saing dan berdampak positif ketika semua hambatan perdagangan dihapuskan.

DAFTAR PUSTAKA Hakim, D.B. 2004. The Implication of the ASEAN Free Trade Area (AFTA) on Agricultural Trade: A Recursive Dynamic General Equilibrium Analysis. PhD Dissertation. Institut fur Agroeconomic Georg-August-Universitat Gottingen, Gottingen. Heller, P.S. and M. Porter. 1978. Exports and Growth: An Empirical Reinvestigation. Journal of Development Economics, 5 (7): 191-193. Hertel, T.W. and M.E. Tsigas, 1997. Structure of GTAP. In Global Trade Analysis:

Modeling and Applications. (Hertel, T.W Edited). Cambridge University Press, Cambridge. Krugman, P. R. and M. Obstfeld. 2000. International Economics: Theory and Policy. Fifth Edition. Addison-Wesley Publishing Company, Boston. López, C. and P. Penélope. 2005. The Impact of Trade Liberalisation on Exports, Imports, the Balance of Payments and Growth: the Case of Mexico. Department of Economics, University of Kent, Canterbury. McKibbin, W.J. and W.T. Woo. 2003. The Consequences of China’s WTO Accession on its Neighbors, Working Paper No. 2003/17. Division of Economics. Research School of Pacific and Asian Studies. The Australian National University, Canbera. Oktaviani, R. 2000. The Impact of Trade Liberalization on Indonesian Economy and Its Agricultural Sector. PhD Thesis. Department of Agricultural Economics, University of Sydney, Sydney.

, dan E. PuspitaT, Model GTAP dan Aplikasinya, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

13

Paulino A.S. and A.P. Thirlwall. 2004. The Impact of Trade Liberalisation On Exports, Imports and The Balance of Payments of Developing Countries. The Economic Journal, 114 (02): F50F72. Salvatore, D. 1996. International Economics. Fifth Edition, Prentice Hall, New Jersey. Sarkar, P. 2005. Is There Any Impact of Trade Liberalisation on Growth? Experiences of India and Korea. Economics Department. Jadavpur University, Kolkata. Soedarsono. 1985. Pengantar Ekonomi Mikro. Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerangan Ekonomi (LP3ES), Jakarta. Walsh, K., M. Brockmeier and A. Matthews. 2005. Implications of Domestic Support Disciplines for Further Agricultural Trade Liberalization. IIIS Discussion Paper 99 (10) : 102-138. World Bank. 2006. World Development Indicator Base, Washington, D.C.

IIIS Discussion Paper 99 (10) : 102-138. World Bank. 2006. World Development Indicator Base , Washington,