Anda di halaman 1dari 28

Laporan penentuan viskositas

Tujuan Percobaan : Menentukan viskositas (kekentalan) relative suatu zat cair dengan
menggunakan viscometer brookfield
Teori dasar

Viscositas adalah suatu cara untuk menyatakan berapa daya tahan dari aliran yang diberikan
oleh suatu cairan. Kebanyakan viscometer mengukur kecepatan dari suatu cairan mengalir
melalui pipa gelas (gelas kapiler), bila cairan itu mengalir cepat maka berarti viskositas dari
cairan itu rendah (misalnya air). Dan bila cairan itu mengalir lambat, maka dikatakan cairan
itu viskositas tinggi. Viskositas dapat diukur dengan mengukur laju aliran cairan yang melalui
tabung silinder. Cara ini merupakan salah satu cara yang paling mudah dan dapat digunakan
baik untuk cairan maupun gas. Menurut poiseulle, jumlah volume cairan yang mengalir
melalui pipa per satuan waktu. Macam- macam viskositas
menurut Lewis (1987):
1. Viskositas dinamik, yaitu rasio antara shear, stress, dan shear rate. Viskositas dinamik
disebut juga koefisien viskositas.
2. Viskositas kinematik, yaitu viskositas dinamik dibagi dengan densitasnya. Viskositas ini
dinyatakan dalam satuan stoke (St) pada cgs dan m/s pada SI.
3. Viskositas relatif dan spesifik, pada pengukuran viskositas suatu emulsi atau suspensi
biasanya dilakukan dengan membandingkannya dengan larutan murni.
Untuk mengukur besarnya viskositas menggunakan alat viskometer. Berbagai tipe viskometer
dikelompokkan menurut prinsip kerjanya (Bourne,1982):
Viskometer Brookfield
Pada viscometer ini nilai viskositas didapatkan dengan mengukur gaya puntir sebuah rotor
silinder (spindle) yang dicelupkan ke dalam sample. Viskometer Brookfield memungkinkan
untuk mengukur viskositas dengan menggunakan teknik dalam viscometry. Alat ukur
kekentalan (yang juga dapat disebut viscosimeters) dapatmengukur viskositas melalui kondisi
aliran berbagai bahan sampel yang diuji. Untuk dapat mengukur viskositas sampel dalam
viskometer Brookfield, bahan harus diam didalam wadah sementara poros bergerak sambil
direndam dalam cairan.
Pada metode ini sebuah spindle dicelupkan ke dalam cairan yang akan diukur viskositasnya.
Gaya gesek antara permukaan spindle dengan cairan akan menentukan tingkat viskositas
cairan.

Seperti tampak pada gambar di atas, sebuah spindle dimasukkan ke dalam cairan dan diputar
dengan kecepatan tertentu. Bentuk dari spindle dan kecepatan putarnya inilah yang
menentukan Shear Rate. Oleh karena itu untuk membuat sebuah hasil viskositas dengan
methode pengukuran Rotational harus dipenuhi beberapa hal sbb. :

Jenis Spindle

Kecepatan putar Spindle

Type Viscometer

Suhu sample

Shear Rate (bila diketahui)

Lama waktu pengukuran (bila jenis sample-nya Time Dependent)

Viskometer Brookfield merupakan salah satu viscometer yang menggunakan gasing atau
kumparan yang dicelupkan kedalam zat uji dan mengukur tahanan gerak dari bagian yang
berputar. Tersedia kumparan yang berbeda untuk rentang kekentalan tertentu, dan umumnya
dilengkapi dengan kecepatan rotasi. (FI IV,1038). Prinsip kerja dari viscometer Brookfield ini
adalah semakin kuat putaran semakin tinggi viskositasnya sehingga hambatannya semakin
besar. Adapun beberapa viscometer yang sering digunakan untuk mengatur viskositas suatu
larutan, yaitu:
1. Viskometer Oswald : Pada viscometer ini yang diukur adalah waktu yang dibutuhkan
oleh sejumlah cairan tertentu untuk mengalir melalui pipa kapiler dengan gaya yang
disebabkan oleh berat cairan itu sendiri. Didalam percobaan diukur waktu aliran untuk
volume V (antara tanda a dan b) melalui pipa kapiler yang vertical. Jumlah tekanan
(P) dalam hokum Poiseuille adalah perbedaan tekanan antara permukaan cairan, dan
berbanding lurus dengan r.
2. Viskometer Hoppler : Yang diukur adalah waktu yang diperlukan oleh sebuah bola
untuk melewati cairan pada jarak atau tinggi tertentu. Karena adanya gravitasi benda
yang jatuh melalui medium yang berviskositas dengan kecepatan yang semakin besar
sampai mencapai kecepatan maksimum. Kecepatan maksimum akan dicapai jika gaya
gravitasi (g) sama dengan gaya tahan medium (f) besarnya gaya tahan (frictional
resistance) untuk benda yang berbentuk bola stokes.
3. Viskometer Cup dan Bob : Prinsip kerjanya sample digeser dalam ruangan
antaradinding luar dari bob dan dinding dalam dari cup dimana bob masuk persis
ditengah-tengah. Kelemahan viscometer ini adalah terjadinya aliran sumbat yang
disebabkan geseran yang tinggi di sepanjangkeliling bagian tube sehingga
menyebabkan penurunan konsentrasi. Penurunan konsentras ini menyebabkab bagian
tengah zat yang ditekan keluar memadat. Hal ini disebut aliran sumbat
(Moechtar,1990)
4. Viskometer Cone dan Plate : Cara pemakaiannya adalah sampel ditempatkan
ditengah-tengah papan, kemudian dinaikkan hingga posisi di bawah kerucut. Kerucut
digerakkan oleh motor dengan bermacam kecepatan dan sampelnya digeser di dalam
ruang semitransparan yang diam dan kemudian kerucut yang berputar
(Moechtar,1990).
Pembahasan

Pada percobaan ini, dilakukan pengukuran viskositas dari air gula dari berbagai konsentrasi
yaitu 20%, 40%, 60% menggunakan viscometer Brookfield dalam suhu yang tetap. Pada
viskometer digital, viskositas air gula di tentukan dengan cara mengaduk larutan air gula
dengan pengaduk yang telah ada pada alat tersebut, semakin kental suatu larutan maka
semakin kecil ukuran pengaduk yang digunakan. Semakin kental suatu zat cair, maka
semakin sulit dilakukan pengadukan. Sehingga bila semakin kental suatu zat, maka harus
digunakkan ukuran pengadukan yang kecil. Hal ini dikarenakan, pada larutan yang memiliki
viskositas yang tinggi, bila diaduk menggunakan pengaduk dengan ukuran besar maka akan
dibutuhkan gaya yang lebih besar pula. Hal ini akan menyebabkan sulitnya pengaduk untuk
berputar sehingga tidak terbacanya nilai viskositas suatu zat cait pada alat. Sehingga
pengaduk ukuran besar digunakan untuk mengukur viskositas cairan yang memiliki
viskositas yang kecil, sedangkan pengaduk ukuran kecil digunakan untuk mengukur
viskositas yang besar. Viskositas cairan yang diukur pada percobaan, ditentukan dengan cara
mengkalikan hasil pembacaan viskometer digital dengan faktor findernya, yang dipengaruhi
oleh ukuran pengaduk yang digunakan dan kecepatan pengadukan, faktor finder tersebut
telah tersedia didalam buku panduan alat viskometer digital tersebut.
Ada dua macam viskositas, yaitu viskositas kinematik dan viskositas dinamik. Viskositas
Kinematik adalah perbandingan viskositas dinaik terhadap kerapatan (density) massa jenis
dari fluida tersebut. Nilai viskositas kinematik air pada temperatur standar (27oC) adalah 8,7
x 10-7 m2/s. Satuan untuk Viskositas Kinematik adalah Stoke (m2/s). Sedangkan Viskositas
dinamik adalah perbandingan tegangan geser dengan laju perubahannya, besarnya nilai
viskositas dinamik tergantung dari factor-faktor konsentrasi, bentuk partikel, dll., untuk
viskositas dinamik air pada temperature standar lingkungan (27oC) adalah 8,6 x 10-4 kg/m.s .
Dari percobaan ini, air gula diukur menggunakan visksometer brookfield. Dari hasil
pengukuran ini, hasil viskositas dari ketiga air gula yang diukur, viskositas semakin menigkat
seiring bertambahnya konsentrasi. Dari hasil percobaan, didapat viskositas air gula 20%
adalah sebesar 9,6, viskositas air gula 40% adalah sebesar 12,6 sedangkan viskositas air gula
60% adalah sebesar 15,4. Hal ini sesuai dengan teori bahwa semakin meningkatnya suhu,
maka viskositas semakin meningkat.
Tujuan Percobaan
Menentukan viskositas zat cair dengan viscometer Oswald
Landasan Teori
Pengertian viskositas fluida (zat cair) adalah gesekan yang ditimbulkan oleh fluida yang
bergerak, atau benda padat yang bergerak didalam fluida. Besarnya gesekan ini biasa juga
disebut sebagai derajat kekentalan zat cair. Jadi semakin besar viskositas zat cair, maka
semakin susah benda padat bergerak didalam zat cair tersebut. Viskositas dalam zat cair, yang
berperan adalah gaya kohesi antar partikel zat cair (Anonim, 2009).
Viskositas dapat dinyatakan sebagai tahanan aliaran fluida yang merupakan gesekan antara
molekul molekul cairan satu dengan yang lain. Suatu jenis cairan yang mudah mengalir,
dapat dikatakan memiliki viskositas yang rendah, dan sebaliknya bahan-bahan yang sulit
mengalir dikatakan memiliki viskositas yang tinggi (Anonim, 2009).
Viskositas suatu fluida adalah sifat yang menunjukkan besar dan kecilnya tahan dalam fluida

terhadap gesekan. Fluida yang mempunyai viskositas rendah, misalnya air mempunyai
tahanan dalam terhadap gesekan yang lebih kecil dibandingkan dengan fluida yang
mempunyai viskositas yang lebih besar (Anonim, 2010).
Gejala ini dapat dianalisis dengan mengintrodusir suatu besaran yang disebut kekentalan atau
viskositas (viscosity). Oleh karena itu, viskositas berkaitan dengan gerak relatif antar bagianbagian fluida, maka besaran ini dapat dipandang sebagai ukuran tingkat kesulitan aliran
fluida tersebut. Makin besar kekentalan suatu fluida makin sulit fluida itu mengalir (Anonim,
2010).
Adanya zat terlarut makromolekul akan menaikkan viskositas larutan. Bahkan pada
konsentrasi rendahpun, efeknya besar karena molekul besar mempengaruhi aliran fluida pada
jarak yang jauh. Viskositas intrinsik ] merupakan analog dari koefisien virial (dan mempunyai
dimensi[ 1/konsentrasi), (Atkins, 1996: 242).
Viskositas suatu cairan murni atau larutan merupakan indeks hambatan alir cairan. Viskositas
dapat diukur dengan mengukur laju aliran cairan yang melalui tabung berbentuk silinder.
Cara ini merupakan salah satu cara yang paling mudah dan dapat digunakan baik untuk cairan
maupun gas (Bird, 1987: 57).
Aliran cairan dapat dikelompokkan ke dalam dua tipe. Yang pertama adalah aliran laminar
atau aliran kental, yang secara umum menggambarkan laju aliran kecil melalui sebuah pipa
dengan garis tengah kecil. Aliran yang lain adalah aliran turbulen, yang menggambarkan
laju aliran yang besar melalui pipa dengan diameter yang lebih besar (Dogra, 1990: 209).
Koefisien viskositas secara umum diukur dengan dua metode, yaitu viskometer Oswald :
waktu yang dibutuhkan untuk mengalirnya sejumlah dihitung dengan
hubungantertentucairan dicatat, dan
" = (" (P) R^4 t)/8Vl
Umumnya koefisien viskositas dihitung dengan membandingkan laju cairan dengan laju
aliran yang koefisien viskositasnya diketahui. Hubungan itu adalah
_2 = (d_1 t_1)/(d_2 t_2 )_1/
(Dogra, 1990: 211).
Viskositas diukur dengan beberapa cara. Dalam viskometer Oswald, waktu yang diperlukan
oleh larutan untuk melewati pipa dicatat, dan dibandingkan dengan sampel standar. Metode
ini cocok untuk penentuan ), karena perbandingan viskositas larutan dan pelarut murni,
sebanding( dengan waktu pengaliran t dan t* setelah dikoreksi untuk perbedaan rapatan
dan *
= t/t^*/ x /^*
(Atkins, 1996: 242).
Dalam menafsirkan pengukuran viskositas, banyak terdapat kerumitan.kebanyakan
pengukuran (tidak semuanya) didasarkan pada pengamatan empiris, dan penentuan massa
molar biasanya didasarkan pada pembandingan dengan sampel standar (Atkins, 1996: 242).
Salah satu kerumitan dalam pengukuran dalam pengukuran intensitas adalah: dalam beberapa
kasus, ternyata fluida itu bersifat non-Newtonian, yaitu viskositasnya berubah saat laju aliran
bertambah. Penurunan viskositas dengan bertambahnya laju aliran menunjukkan adanya
molekul seperti batang panjang, yang terorientasi oleh aliran itu, sehingga saling meluncur

melewati satu sama lain dengan lebih bebas. Dalam beberapa kasus, tekanan yang disebabkan
oleh aliran menjadi sangat besar, sehingga molekul panjang terputus-putus. Ini membawa
konsekuensi lebih lanjut pada viskositas (Atkins, 1996: 242).
Pada viskometer Oswald, yang diukur adalah waktu yang dibutuhkan oleh sejumlah tertentu
cairan untuk mengalir melalui pipa kapiler dengan gaya yang disebabkan oleh berat cairan itu
sendiri. Pada percobaan sebenarnya, sejumlah tertentu cairan (misalnya 10 cm3, bergantung
pada ukuran viskometer) dipipet ke dalam viskometer. Cairan kemudian diisap melalui labu
pengukur dari viskometer sampai permukaan cairan lebih tinggi dari batas a. Cairan
kemudian dibiarkan turun. Ketika permukaan cairan turun melewati batas a, stopwatch
mulai dinyalakan dan ketika cairan melewati batas b, stopwatch dimatikan. Jadi waktu
yang dibutuhkan cairan untuk melalui jarak antara a dan b dapat ditentukan. Tekanan P
merupakan perbedaan tekanan antara kedua ujung pipa U dan besarnya diasumsikan
sebanding dengan berat jenis cairan (Bird, 1987: 57).
Menurut Anonim (2010), alat yang dipakai untuk menentukan Viskositas
dinamakanViskometer. Ada beberapa jenis viskometer, yaitu :
Viscometer Ostwald
Viscometer Lehman
Viscometer bola jatuh dari Stokes
Nilai viscositas Lehman didasarkan pada waktu kecepatan alir cairan yang akan diuji atau
dihitung nilai viscositasnya berbanding terbalik dengan waktu kecepatan alir cairan
pembanding, dimana cairan pembanding yang digunakan adalah air (Anonim, 2010).
Menurut Anonim (2010), Viscometer bola jatuhStokes. Terhadap sebuah benda yang
bergerak jatuh didalam fluida bekerja tiga macam gaya, yaitu :
Gaya gravitasi atau gaya berat (W). gaya inilah yang menyebabkan benda bergerak ke bawah
dengan suatu percepatan.
Gaya apung (buoyant force) atau gaya Archimedes (B). arah gaya ini keatas dan besarnya
sama dengan berat fluida yang dipindahkan oleh benda itu.
Gaya gesek (Frictional force) Fg, arahnya keatas dan besarnya
Alat dan Bahan
Alat
Piknometer 50 mL 1 buah
Piknometer 100 mL 1 buah
Neraca analitik 1 buah
Eksikator 1 buah
Viskometer Oswald 3 buah
Gelas kimia 250 mL 1 buah
Gelas kimia 1000 mL 1 buah
Thermometer 0-100oC 1 buah
Labu semprot 1 buah
Ball pipet 1 buah
Kaki tiga dan kasa asbes 1 buah
Lampu spiritus 1 buah

Klem kayu 1 buah


Stopwatch 3 buah
Statif dan klem 1 buah
Pipet tetes
Bahan
Aquades
Methanol (CH3OH)
Etanol (C2H5OH)
Es batu
Korek api
Tissue
Cara Kerja
Penentuan massa jenis zat
Mengukur berat piknometer kosong
Memasukkan aquades dengan suhu 20oC ke dalam piknometer
Mengusahakan agar tidak ada gelembung pada piknometer
Mengukur berat piknometer yang telah diisi dengan aquades 20oC
Mengulangi pengukuran dengan aquades 40o dan 60oC, etanol 20o, 40o, dan 60o C, serta
methanol 20o, 40o, dan 60o C
Pengukuran viskositas
Mengisi viskometer dengan aquades melalui pipa sebelah kanan
Mengusahakan permukaan lebih rendah dari tanda b
Memasukkan viskometer Oswald ke dalam penangas air yang dilengkapi thermometer untuk
mengukur suhunya. Suhu air dalam viskometer harus sama dengan suhu percobaan
Menghisap zat cair melalui pipa kiri agar zat cair masuk ke dalam B pada suhu yang
ditetapkan dalam percobaan
Membiarkan zat cair mengalir melalui pipa kapiler kembali ke A
Mencatat waktu yang diperlukan untuk mengalir dari tanda a ke tanda b
Melakukan hal yang sama dengan mengganti air dengan etanol dan methanol
Melakukan pengukuran pada suhu 20o, 40o, dan 60o C
Menghitung koefisien zat cair dengan rumus
_2 = (_1 t_1)/(_2 t_2 )_1/
Hasil Pengamatan
Pengukuran massa jenis
Massa piknometer kosong (50 mL) = 28,705 gram (Air dan etanol)
Massa piknometer kosong (100 mL) = 35,101 gram (metanol)
Jenis Zat Massa piknometer + zat
Suhu 20oC Suhu 40oC Suhu 60oC

Aquades 78,996 gram 78,961 gram 78,226 gram


Etanol 69,063 gram 67,965 gram 67,324 gram
Methanol 111,483 gram 111,241 gram 110,298 gram
Pengukuran viskositas
Jenis Zat Waktu (t) dalam viskometer
Suhu 20oC Suhu 40oC Suhu 60oC
Aquades 224 s 201 s 173 s
Etanol 340 s 331 s 301 s
Methanol 181 s 179 s 170 s
Analisis Data
Pengukuran massa jenis
Rumus umum = ((massa piknometer + zat)- (massa piknometer kosong))/(volume
piknometer)
Untuk Air
20oC, =(78,996 gram-28,705 gram)/(50 mL)
=(50,291 gram)/(50 mL)
= 1,006 gram/mL
40oC, =(78,961 gram-28,705 gram)/(50 mL)
=(50,256 gram)/(50 mL)
= 1,005 gram/mL
60oC, =(78,226 gram-28,705 gram)/(50 mL)
=(49,521 gram)/(50 mL)
= 0,990 gram/mL
Untuk Etanol
20oC, =(69,063 gram-28,705 gram)/(50 mL)
=(40,358 gram)/(50 mL)
= 0,807 gram/mL
40oC, =(67,956 gram-28,705 gram)/(50 mL)
=(39,260 gram)/(50 mL)
= 0,785 gram/mL
60oC, =(67,324 gram-28,705 gram)/(50 mL)
=(38,619 gram)/(50 mL)
= 0,772 gram/mL
Untuk Metanol
20oC, =(111,483 gram-35,101 gram)/(100 mL)
=(76,382 gram)/(100 mL)
= 0,764 gram/mL
40oC, =(111,241 gram-35,101 gram)/(100 mL)
=(76,140 gram)/(100 mL)
= 0,761 gram/mL
60oC, =(110,298 gram-35,101 gram)/(100 mL)

=(75,197 gram)/(100 mL)


= 0,752 gram/mL
Pengukuran viskositas
Etanol 20oC
Dik : t1 (etanol) = 340 s
t2 (air) = 224 s
_1 (etanol) = 0,807 gram/mL
_2 (air) = 1,006 gram/mL
2 (air) = 1,009 Cp
1 (etanol) ..?Dit :
1Peny : _2 _1 t_1)/(_2 t_2 )=(
=((1,009 Cp)(0,807 gram/mL)(340 s))/((1,006 gram/mL)(224 s))
=(276,849 Cp)/225,334 = 1,228 Cp
Etanol 40oC
Dik : t1 (etanol) = 331 s
t2 (air) = 201 s
_1 (etanol) = 0,785 gram/mL
_2 (air) = 1,005 gram/mL
2 (air) = 0,654 Cp
1 (etanol) ..?Dit :
1Peny : _2 _1 t_1)/(_2 t_2 )=(
=((0,654 Cp)(0,785 gram/mL)(331 s))/((1,005 gram/mL)(201 s))
=(169,932 Cp)/202,005 = 0,841 Cp
Etanol 60oC
Dik : t1 (etanol) = 301 s
t2 (air) = 173 s
_1 (etanol) = 0,772 gram/mL
_2 (air) = 0,990 gram/mL
2 (air) = 0,470 Cp
1 (etanol) ..?Dit :
1Peny : _2 _1 t_1)/(_2 t_2 )=(
=((0,470 Cp)(0,772 gram/mL)(301 s))/((0,990 gram/mL)(173 s))
=(109,215 Cp)/171,270 = 0,638 Cp
Metanol 20oC
Dik : t1 (metanol) = 181 s
t2 (air) = 224 s
_1 (metanol) = 0,764 gram/mL
_2 (air) = 1,006 gram/mL
2 (air) = 1,009 Cp
1 (metanol) ..?Dit :
1Peny : _2 _1 t_1)/(_2 t_2 )=(

=((1,009 Cp)(0,764 gram/mL)(181 s))/((1,006 gram/mL)(224 s))


=(139,528 Cp)/225,334 = 0,619 Cp
Metanol 40oC
Dik : t1 (metanol) = 179 s
t2 (air) = 201 s
_1 (metanol) = 0,761 gram/mL
_2 (air) = 1,005 gram/mL
2 (air) = 0,654 Cp
1 (metanol) ..?Dit :
1Peny : _2 _1 t_1)/(_2 t_2 )=(
=((0,654 Cp)(0,761 gram/mL)(179 s))/((1,005 gram/mL)(201 s))
=(89,087 Cp)/202,005 = 0,441 Cp
Metanol 60oC
Dik : t1 (metanol) = 170 s
t2 (air) = 173 s
_1 (metanol) = 0,752 gram/mL
_2 (air) = 0,990 gram/mL
2 (air) = 0,470 Cp
1 (metanol) ..?Dit :
1Peny : _2 _1 t_1)/(_2 t_2 )=(
=((0,470 Cp)(0,752 gram/mL)(170 s))/((0,990 gram/mL)(173 s))
=(60,085 Cp)/171,270 = 0,351 Cp
Pembahasan
Pada percobaan ini pertama-tama dilakukan pengukuran massa jenismasing-masing zat yang
akan dicobakan, yaitu aquades, etanol, dan methanol dengan suhu 20oC, 40oC, dan 60oC.
Percobaan ini dilakukan dengan memanaskan piknometer yang bertujuan untuk
menghilangkan air dan zat-zat lain yang mungkin terdapat dalam piknometer. Setelah itu
didinginkan dalam eksikator dan ditimbang sebagai berat piknometer kosong. Saat pengisian
ke dalam piknometer tidak boleh terdapat gelembung karena akan mempengaruhi hasil
penimbangan. Dari hasil percobaan ini diperoleh massa jenis air 20oC sebesar 1,006 g/mL;
40oC sebesar 1,005 g/mL; dan 60oC sebesar 0,990 g/mL. Untuk etanol 20oC sebesar 0,807
g/mL; 40oC sebesar 0,785 g/mL; dan 60oC sebesar 0,772 g/mL. Untuk methanol 20oC
sebesar 0,764 g/mL; 40oC sebesar 0,761 g/mL; dan 60oC sebesar 0,752 g/mL.
Dari hasil diketahui bahwa suhu berbanding terbalik dengan massa jenis zat. Semakin tinggi
suhu maka semakin kecil massa jenis zat-nya. Hal ini disebabkan karena ketika suhu
mengingkat, molekul pada zat cair akan bergerak cepat diakibatkan oleh tumbukan antar
molekul, akibatnya molekul dalam zat cair akan meregang dan massa jenis akan semakin
kecil.
Pada percobaan selanjutnya, zat cair yang telah ditentukan massa jenisnya dimasukkan ke
dalam viskometer dengan mengusahakan agar tidak ada gelembung dalam viskometer. Hal ini
bertujuan agar aliran laminar tidak terganggu oleh adanya gelembung yang akan

mengakibatkan waktu yang diperoleh tidak sesuai dengan waktu yang seharusnya.
Pada percobaan ini digunakan tiga jenis larutan dengan suhu yang berbeda yaitu aquades
20oC, 40oC, dan 60oC; etanol 20oC, 40oC, dan 60oC; serta methanol 20oC, 40oC, dan
60oC. Hal ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap viskositas zat cair.
Setelah diperoleh waktu pada percobaan, koefisien viskositas dapat dihitung dengan rumus :
_2 = (_1 t_1)/(_2 t_2 )_1/
Dari hasil analisis data diperoleh viskositas etanol 20oC, 40oC, dan 60oC secara berturutturut adalah 1,228 Cp; 0,841 Cp; dan 0,638 Cp. Sedangkan viskositas methanol 20oC, 40oC,
dan 60oC secara berturut-turut adalah 0,619 Cp; 0,441 Cp; dan 0,351 Cp.
Dari hasil analisis di atas, diperoleh bahwa methanol memiliki koefisien viskositas lebih
rendah debandingkan etanol. Selain itu dapat pula diketahui bahwa semakin tinggi suhu
larutan, maka koefisien viskositas semakin menurun. Hal ini karena pada suhu tinggi,
gerakan partikel dalam larutan lebih cepat sehingga viskositasnya menurun.
Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
Dari hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa suhu berbanding terbalik dengan viskositas
Viskositas etanol lebih tinggi dibandingkan methanol
Koefisien viskositas etanol 20oC, 40oC, dan 60oC secara berturut-turut adalah 1,228 Cp;
0,841 Cp; dan 0,638 Cp
Koefisien viskositas methanol 20oC, 40oC, dan 60oC secara berturut-turut adalah 0,619 Cp;
0,441 Cp; dan 0,351 Cp
Saran
Sebaiknya saat praktikum, lebih teliti memperhatikan ada atau tidaknya gelembung pada
viskometer karena dapat mempengaruhi hasil percobaan
Daftar Pustaka
Anonim. 2009. Viscositas. http://www.ccitonline.com/mekanikal/viskositas/ diakses pada 27
November 2010.
Anonim. 2010. Fluida dan Viscositas. http://www.scribd.com/doc/13762740/Viscositas/
diakses pada 27 November 2010.
Atkins, P.W. 1996. Kimia Fisik Jilid II Edisi IV. Jakarta : Erlangga.
Bird, Tony. 1987. Kimia Fisik Untuk Universitas. Jakarta : PT Gramedia.
Dogra. 1990. Kimia Fisik dan Soal-Soal. Malang : Jakarta : UI-Press
Laporan Kimia Fisika Viskositas Zat Cair

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Kekentalan adalah sifat dari suatu zat cair (fluida) disebabkan adanya
gesekan antara molekul-molekul zat cair dengan gaya kohesi pada zat cair
tersebut. Gesekan-gesekan inilah yang menghambat aliran zat cair. Besarnya
kekentalan zat cair (viskositas) dinyatakan dengan suatu bilangan yang
menentukan kekentalan suatu zat cair. Hukum viskositas Newton menyatakan
bahwa untuk laju perubahan bentuk sudut fluida yang tertentu maka tegangan
geser

berbanding

lurus

dengan

viskositas.

Suatu zat memiliki kemampuan tertentu sehingga suatu padatan yang


dimasukkan kedalamnya mendapat gaya tekanan yang diakibatkan peristiwa
gesekan antara permukaan padatan tersebut dengan zat cair. Sebagai contoh,
apabila kita memasukkan sebuah bola kecil kedalam zat cair, terlihatlah batu
tersebut mula-mula turun dengan cepat kemudian melambat hingga akhirnya
sampai didasar zat cair. Bola kecil tersebut pada saat tertentu mengalami
sejumlah perlambatan hingga mencapai gerak lurus beraturan. Gerakan bola
kecil menjelaskan bahwa adanya suatu kemampuan yang dimiliki suatu zat cair
sehingga kecepatan bola berubah. Mula-mula akan mengalami percepatan yang
dikarenakan gaya beratnya tetapi dengan sifat kekentalan cairan maka besarnya
percepatannya akan semakin berkurang dan akhirnya nol. Pada saat tersebut
kecepatan bola tetap dan disebut kecepatan terminal. Hambatan-hambatan
dinamakan sebagai kekentalan (viskositas). Akibaat viskositas zat cair itulah
yang

menyebabkan

terjadinya

perubahan

yang

cukup

drastic

terhadap

kecepatan batu.
Aliran viskos, dalam berbagai masalah keteknikan pengaruh viskositas pada
aliran adaalh kecil, dan dengan demikian diabaikan. Cairan kemudian dinyatakan
sebagai tidak kental (invicid) atau seringkali ideal dan diambil sebesar nol. Tetapi
jika istilah aliran viskos dipakai, ini berarti bahwa viskositas tidak diabaikan.
Untuk benda homoogen yang dicelupkan kedalam zat cair ada tiga
kemungkinan yaitu, tenggelam, melayang, dan terapung.
Oleh kaarena itu percobaan ini dilakukan agar praktikan dapat mengukur

viskositas berbagai jenis zat cair. Karena semakin besar nilai viskositas dari
larutan maka tingkat kekentalan larutan tersebut semakin besar pula.

1.2
-

Tujuan
Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi viskositas
Mengetahui macam-macam metode pengukuran viskositas
Mempelajari kegunaan dari alat viskometer Ostwald dan piknometer

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Viskositas suatu zat cairan murni atau larutan merupakan indeks


hambatan aliran cairan. Viskositas dapat diukur dengan mengukur laju aliran
cairan, yang melalui tabung berbentuk silinder. Cara ini merupakan salah satu
cara yang paling mudah dan dapat digunakan baik untuk cairan maupun gas
(Bird, 1993).
Viskositas adalah indeks hambatan aliran cairan. Viskositas dapat diukur
dengan mengukur laju aliran cairan yang melalui tabung berbentuk silinder.
Viskositas ini juga disebut sebagai kekentalan suatu zat. Jumlah volume cairan
yang mengalir melalui pipa per satuan waktu.

= viskositas cairan

= total volume cairan

= waktu yang dibutuhkan untuk mencair

= tekanan yang bekerja pada cairan

= panjang pipa (Bird, 1993).

Makin kental suatu cairan, makin besar gaya yang dibutuhkan untuk
membuatnya mengalir pada kecepatan tertentu. Viskositas disperse koloid
dipengaruhi oleh bentuk partikel dari fase disperse dengan viskositas rendah,
sedang system disperse yang mengandung koloid-koloid linier viskositasnya
lebih tinggi. Hubungan antara bentuk dan viskositas merupakan refleksi derajat
solvasi dari partikel (Respati, 1981).
Bila viskositas gas meningkat dengan naiknya temperature, maka
viskositas cairan justru akan menurun jika temperature dinaikkan. Fluiditas dari
suatu cairan yang merupakan kelebihan dari viskositas akan meningkat dengan
makin tingginya temperature (Bird,1993).

Cara-cara penentuan viskositas


a.

Pada viscometer Ostwald yang diukur adalah waktu yang dibutuhkan oleh
sejumlah tertentu cairan untuk mengalir melalui pipa kapiler dengan gaya yang
disebabkan oleh berat cairan itu sendiri. Pada percobaan sebenarnya, sejumlah
tertentu cairan (misalnya 10 cm3, bergantung pada ukuran viscometer) dipipet
kedalam viscometer. Cairan kemudian dihisap melalui labu pengukur dari
viscometer sampai permukaan cairan lebih tinggi daripada batas a. cairan
kemudian dibiarkan turun ketika permukaan cairan turun melewati batas a,
stopwatch mulai dinyalakan dan ketika cairan melewati tanda batas b, stopwatch
dimatikan. Jadi waktu yang dibutuhkan cairan untuk melalui jarak antara a dan b
dapat ditentukan. Tekanan merupakan perbedaan antara kedua ujung pipa U
dan besarnya disesuaikan sebanding dengan berat jenis cairan (Respati,1981).
Berdasarkan hokum Heagen Poisuille :

Dimana :

p
r
t

= tekanan hidrostatis
= jari-jari kapiler
= waktu aliran zat cair sebanyak volume V dengan beda

= panjang kapiler

tinggi h

Untuk air :

air = r4 . ta . pa.g.h / ( 8VL)


Secara umum berlaku :
x = r4 . tx . px.g.h / ( 8VL)
Jika air digunakan sebagai pembanding, maka :
x / air = tx.x / taa
(Respati,1981).
b.

Viskometer hoppler
Pada viscometer ini yang diukur adalah waktu yang dibutuhkan oleh
sebuah bola logam untuk melewati cairan setinggi tertentu. Suatu benda karena
adanya gravitasi akan jatuh melalui medium yang berviskositas (seperti cairan
misalnya), dengan kecepatan yang semakin besar sampai mencapai kecepatan
maksimum. Kecepatan maksimum akan tercapai bila gravitasi sama dengan
fictional resistance medium (Bird,1993).
Berdasarkan hokum stokes pada kecepatan bola maksimum, terjadi
keseimbangan sehingga : gaya gesek = gaya berat, gaya Archimedes :
6rVmax = 4/3 r3 (bola cair) g
= { 2/g r3 (bola cair) g } / Vmax
Vmax = h / t
Dimana : t = waktu jatuh bola pada ketinggian h
Dalam percobaan ini dipakai cara relative terhadap air, harganya :
a = [ 2/g r2 (a 1) g ta ] / h
x = [ 2/g r2 (x 1) g tx ] / h
x/ a = [ (x 1) g tx ] / [ (a 1) g ta ]

c.

Viscometer cup dan Bob


Prinsip kerjanya sampel digeser dalam ruangan antara dinding luar
Bob dan dinding dalam dari cup dimana bob masuk persis ditengan-tengah.
Kelemahan viscometer ini adalah terjadinya aliran sumbat yang disebabkan
gesekan yang tinggi disepanjang keliling bagian tube sehingga menyebabkan
penemuan konsentrasi. Penurunan konsentrasi ini menyebebkan bagian tengah
zat yang ditekan keluar memadat. Hal ini disebut aliran sumbat (Bird, 1993).

d.

Viskometer Cone dan Plate


Cara pemakaiannya adalah sampek yang ditempatkan di tengah-tengah
papan, kemudian dinaikkan hingga posisi dibawah kerucut. Kerucut digerakkan
oleh motor dengan bermacam kecepatan dan sampelnya digeser didalam ruang
sempit antara papan yang diam dan kemudian kerucut yang berputar (Bird,
1993).

Konsep Viskositas
Fluida, baik zat cair maupun zat gas yang jenisnya berbeda memiliki
tingkat kekentalan yang berbeda. Viskositas alias kekentalan sebenarnya

merupakan gaya gesekan antara molekul-molekul yang menyusun suatu fluida.


Jadi molekul-molekul yang membentuk suatu fluida saling gesek-menggesek
ketika fluida fluida tersebut mengalir. Pada zat cair, viskositas disebabkan karena
adanya gaya kohesi (gaya tarik menarik antara molekul sejenis). Sedangkan
dalam zat gas, viskositas disebabkan oleh tumbukan antara molekul (Bird, 1993).
Fluida yang lebih cair biasanya lebih mudah mengalir, contohnya air.
Sebaliknya, fluida yang lebih kental biasanya lebih sulit mengalir, contohnya
minyak goreng, oli, madu, dan lain-lain. Hal ini bias dibuktikan dengan
menuangkan air dan minyak goreng diatas lanyai yang permukaannya miring.
Pasti hasilnya air lebih cepat mengalir dari pada minya goreng atau oli. Tingkat
kekentalan suatu fluida juga bergantung pada suhu. Semakin tinggi suhu zat
cair, semakin kurang kental zat cair tersebut. Misalnya ketika ibu menggoreng
ikan di dapur, minyak goreng yang awalnya kental, berubah menjadi lebih cair
ketika dipanaskan. Sebaliknya, semakin tinggi suhu suatu zat gas, semakin
kental zat gas tersebut.
Perlu diketahui bahwa viskositas atau kekentalan hanya ada pada fluida
rill (rill = nyata). Fluida rill / nyata adalah fluida yang kita jumpai dalam
kehidupan sehari-hari, seperti air sirup, oli, asap knalpot, dan lainnya. Fluida rill
berbeda dengan fluida ideal. Fluida ideal sebenarnya tidak ada dalam kehidupan
sehari-hari. Fluida ideal hanya model yang digunakan untuk membantu kita
dalam menganalisis aliran fluida (fluida ideal ini yang kita pakai dalam pokok
bahasan fluida dinamis) (Bird, 1993).
Satuan system internasional (SI) untuk koifisien viskositas adalah Ns/m 2 =
Pa.S (pascal sekon). Satuan CGS (centimeter gram sekon) untuk SI koifisien
viskositas adalah dyn.s/cm2 = poise (p). Viskositas juga sering dinyatakan dalam
sentipolse (cp). 1 cp = 1/1000 p. satuan poise digunakan untuk mengenang
seorang Ilmuwan Prancis, almarhum Jean Louis Marie Poiseuille.
1 poise = 1 dyn. s/cm2 = 10-1 N.s/m2
Fluida adalah gugusan molukel yang jarak pisahnya besar, dan kecil
untuk zat cair. Jarak antar molukelnya itu besar jika dibandingkan dengan garis
tengah molukel itu. Molekul-molekul itu tidak terikat pada suatu kisi, melainkan
saling bergerak bebas terhadap satu sama lain. Jadi kecepatan fluida atau
massanya kecapatan volume tidak mempunyai makna yang tepat sebab jumlah
molekul yang menempati volume tertentu terus menerus berubah (while, 1988).

Fluida dapat digolongkan kedalam cairan atau gas. Perbedaan-perbedaan


utama antara cair dan gas adalah :
a.

Cairan praktis tidak kompersible, sedangkan gas kompersible dan seringkali

b.

harus diperlakukan demikian.


Cairan mengisi volume tertentu dan mempunyai permukaan-permukaan bebas,
sedangkan agar dengan massa tertentu mengembang sampai mengisi seluruh
bagian wadah tempatnya (While, 1988).

Definisi Piknometer
Piknometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur nilai massa jenis
atau densitas dari fluida. Berbagai macam fluida yang diukur massa jenisnya,
biasanya dalam praktikum yang diukur adalah massa jenis oli, minyak goreng,
dan lain-lain. Piknometer itu terdiri dari 3 bagian, yaitu tutup pikno, lubang, gelas
atau tabung ukur. Cara menghitung massa fluida yaitu dengan mengurangkan
massa pikno berisi fluida dengan massa pikno kosong. Kemudian di dapat data
massa dan volume fluida, sehingga tinggal menentukan nilai cho/massa jenis ()
fluida dengan persamaan = cho () = m/v (Whille, 1988).
Faktor-faktor yang mempengaruhi viskositas :
1.

Suhu
Viskositas berbanding terbalik dengan suhu. Jika suhu naik maka viskositas akan
turun, dan begitu sebaliknya. Hal ini disebabkan karena adanya gerakan partikelpartikel cairan yang semakin cepat apabila suhu ditingkatkan dan menurun
kekentalannya.

2.

Konsentrasi larutan
Viskositas berbanding lurus dengan konsentrasi larutan. Suatu larutan dengan
konsentrasi tinggi akan memiliki viskositas yang tinggi pula, karena konsentrasi
larutan menyatakan banyaknya partikel zat yang terlarut tiap satuan volume.
Semakin banyak partikel yang terlarut, gesekan antar partikrl semakin tinggi dan

3.

viskositasnya semakin tinggi pula.


Berat molekul solute
Viskositas berbanding lurus dengan berat molekul solute. Karena dengan adanya
solute yang berat akan menghambat atau member beban yang berat pada

4.

cairan sehingga manaikkan viskositas.


Tekanan
Semakin tinggi tekanan maka semakin besar viskositas suatu cairan.

BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1
3.1.1

Alat dan Bahan


Alat-alat
- viscometer Ostwald
- piknometer
- stopwatch
- Neraca analitik
- thermometer
- beker gelas

3.1.2

bahan-bahan
- aquades
- alcohol
- minyak goring
- bensin
- tissue

3.2

Prosedur percobaan

3.2.1

Pengukuran densitas
- dibilas piknometer dan viskositas hingga bersih dan kering anginkan
- ditimbang piknometer dalam keadaan kosong

- diisi piknometer secara bertahap dengan aquades, minyak goring, alcohol dan
bensin serta ditimbang pula saat piknometer dalam keadaan terisi
- dibilas kembali piknometer hingga bersih dengan sabun cair.

3.2.2

Pengukuran suhu fluida/larutan

- dimasukkan thermometer kedalam masing-masing larutan, aquades, etanol,


minyal goring, dan bensin
- diukur masing-masing suhu larutan
- Dicatat

3.2.3

Pengukuran viskositas

- dimasukkan keempat jenis larutan kedalam viscometer secara bertahap,


sebelum itu diukur suhunya masing-masing
- dihubungkan mulut pipa kapiler viscometer lainnya dengan memompa gas
manual
- dituang secukupnya cairan yang akan diukur, kemudian pompa cairan tersebut
hanya melewati tanda batas A
- Ditutup lubang atau mulut pipa kapiler viscometer yang terbuka degan
menggunakan jari dan lepaskan pemompa gas manual
- Dinyalakan stopwatch sesaat setelah jari dilepaskan sehingga cairan turun
melewati batas A dan matikan stopwatch sesaat setelah melewati tanda batas B
- dilakukan tiga kali perlakuan yang sama untuk setiap jenis larutan yang akan
diukur.

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
4.1.1

Hasil Pengamatan
Hasil pengukuran viskositas
N
o

Larutan

Waktu

Suhu ( C )

t1

t2

t3

1.

Aquades

1,42

1,23

1,16

300

2.

Alcohol

1,89

1,91

1,89

290

3.

Bensin

0,98

0,99

0,97

290

4.

Minyak

51,45

50,90

48,01

290

goreng

4.1.2

Hasil pengukuran densitas


No

Larutan

Massa piknometer + larutan

Massa
larutan

4.2
4.2.1

1.

Aquades

25,64 gr

10,19 gr

2.

Alcohol

24,50 gr

9,05 gr

3.

Bensin

23,20 gr

7,75 gr

4.

Minyak goreng

24,75 gr

9,3 gr

Perhitungan
Perhitungan waktu rata-rata

4.2.1.1 Perhitungan waktu rata-rata Ostwald


t

= t1 + t2 + t3

3
= 1,42 + 1,23 + 1,16
3
= 1,27
4.2.1.2 Perhitungan waktu rata-rata alcohol
t

= t1 + t 2 + t 3

3
= 1,89 + 1,91 + 1,89
3
= 1,89
4.2.1.3 Perhitungan waktu rata-rata bensin
t

= t1 + t 2 + t 3

3
= 0,98+ 0,99 + 0,97
3
= 0,98

4.2.1.4 Perhitungan waktu rata-rata minyak goreng


t

= t1 + t 2 + t 3

3
= 51,54+ 50,90 + 48,02
3

= 50,12
4.2.2

Pengukuran Densitas Larutan

4.2.2.1 Pengukuran densitas larutan aquades


1

= W1 W k
V
= 25,64 15,45
10

= 1,019
4.2.2.2 Pengukuran densitas larutan alkohol
1

= W1 W k
V
= 24,50 15,45
10

= 0,905
4.2.2.3 Pengukuran densitas larutan bensin
1

= W1 W k
V
= 23,20 15,45
10

= 0,775
4.2.2.4 Pengukuran densitas larutan alkohol
1

= W1 W k
V
= 24,75 15,45

10
= 0,93
4.2.3

Pengukuran viskositas secara teori


Diketahui :

1 = 0,0080 , T1 = 30oC H2O

1 = 0,0100 , T1 = 30oC etanol/alcohol


1 = 0,0056 , T1 = 30oC minyak goreng
1 = 0,0316 , T1 = 30oC bensin
4.2.3.1 Pengukuran viskositas aquades
2 =

1 . T1

2 =

0,0080 . 30oC

T2

30oC
=

0,0080

4.2.3.2 Pengukuran viskositas alkohol


2 =

1 . T1

T2

2 =

0,0100 .

30oC

29oC
=

0,0103

4.2.3.3 Pengukuran viskositas bensin


2 =

1 . T1

2 =

0,0056 . 30oC

T2

29oC
5,793x10-3

4.2.3.4 Pengukuran viskositas minyak goreng


2 =

1 . T1

2 =

0,0316 . 30oC

T2

29oC
=
4.2.4

0,0327

Pengukuran viakositas secara praktik

4.2.4.1 Pengukuran viskositas alcohol


1
2

2t2

1(t)

= 2 = 1 . 2t2

1t1
=

0,0080 . 0,0905 . 1,89

1,019 . 1,27
= 0,0106
4.2.4.2 Pengukuran viskositas bensin
1
2

2t2

1t1

= 2 = 1 . 2t2

1t1
=

0,0080 . 0,775 . 0,98


1,019 . 1,27

= 0,00469
4.2.4.3 Pengukuran viskositas minyak goreng
1
2

2t2

1t1

1t1

= 2 = 1 . 2t2

0,0080 . 0,93 . 50,12

1,019 . 1,27
= 0,2881
4.3

Pembahasan
Viskositas diartikan sebagai resistensi atau ketidakmauan suatu bahan

untuk mengalir yang disebabkan karena adanya gesekan atau perlawanan suatu
bahan terhadap deformasi atau perubahan bentuk apabila bahan tersebut
dikenai gaya tertentu.
Viskositas secara umum dapat juga diartikan sebagai suhu tendensi
untuk melawan aliran cairan karena

internal friction untuk resistensi suatu

bahan untuk mengalami deformasi bila bahan tersebut dikenai suatu gaya.
Semakin besar resistensi zat cair untuk mengalir, maka semakin besar pula
viskositasnya. Viskositas pertama kali diselidiki oleh Newton, yaitu dengan
mensimulasikan zat cair dalam bentuk tumpukan kartu. Zat cair diasumsikan
terdiri dari lapisan-lapisan molekul yang sejajar satu sama lain. Lapisan terbawah
tetap diam, sedangkan lapisan atasnya bergerak, dengan cepatan konstan
sehingga setiap lapisan memiliki kecepatan gerak yang berbanding langsung
dengan jaraknya terhadap lapisan terbawah. Perbedaan kecepatan dv antara
dua lapisan yang dipisahkan dengan jarak sebesar dx adalah dv/dx atau
kecepatan gesek. Gaya per satuan luas yang diperlukan untuk mengalirkan zat
cair tersebut F/A atau tekanan geser.
Viskositas suatu bahan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu suhu,
viskositas berbanding terbalik dengan suhu. Jika suhu naik maka viskositas akan
turun dan begitu pula sebaliknya. Hal ini disebabkan karena adanya gerakan
partikel-partikel cairan yang semakin cepat apabila suhu ditingkatkan dan
menurunkan kekentalannya. Konsentrasi larutan, viskositas berbanding lurus
dengan konsentrasi larutan. Suatu larutan dengan konsentrasi tinggi akan
memiliki viskositas yang tinggi pula, karena konsentrasi larutan menyatakan
banyaknya partikel zat yang terlarut tiap satuan volume. Semakin banyak
partikel yang terlarut, gesekan antar partikel semakin tinggi dan viskositasnya
semakin tinggi pula. Berat molekul solute, viskositas berbanding lurus dengan
berat

molukel

solute,

karena

dengan

adanya

solute

yang

berat

akan

menghambat atau memberi beban yang berat pada cairan sehingga menaikkan

viskositasnya. Tekanan, akan bertambah jika nilai dari viskositas itu bertambah.
Semakin tinggi tekanan maka semakin besar viskositas suatu zat cair.
Pada viscometer Ostwald yang diukur adalah waktu yang dibutuhkan oleh
sejumlah tertentu cairn untuk mengalir melalui pipa kapiler dengan gaya yang
disebabkan oleh berat cairan itu sendiri. Berdasarkan hokum Heagen Poiseuille :
= cpr4t/(8VL) P = pgh = pr4pgh/(8VL). Dimana p = tekanan hidrostatis, r =
jari-jari kapiler, t= waktu alir zat cair sebanyak volume V dengan beda tinggi h, L
= panjang kapiler. Untuk air : air = pr 4 ta. Pa.g.h / (8VL) secara umum berlaku
x = pr4txpxgh / (8VL). Jika air digunakan sebagai pembanding maka x/ air =
txpx/tapa (Tim Kimia Fisik, 2010 )
Berdasarkan hokum stokes dengan mengamati jatuhnya benda melalui
medium zat cair yang mempunyai gaya gesek yang makin besar bila kecepatan
benda jatuh makin besar = 2r.2d dm.g.9.s.t (1+2, 4rR). Ketererangan cairan,
g = gaya gravitasi, s = jarak jatuh (a ob), t = waktu bola jatuh, r = jari-jari
tabung viskosimeter (Anekcheiftein,2010)
Persamaan Navier-stokes (dinamakan dari daude Louis Navier dan Gorge
Gabriel Stokes), adalah serangkaian persamaan yang menjelaskan pergerakan
dari suatu fluida seperti cairan dan gas. Persamaan-persamaan ini menyatakan
bahwa perubahan dalam momentum (percepatan) partikel-partikel fluida yang
bergantung hanya kepada gaya viskos tekanan eksternal yang bekerja pada
fluida. Kita dapat mengembangkan persamaan gerakan untuk fluida, nyata
dengan memperhatikan gaya-gaya yang bekerja pada suatu elemen kecil fluida.
Penurunan persamaan ini, yang disebut persamaan Navier-stokes (Streeter,
1996).
Hukum Poiseville berlaku hanya pada aliran fluida laminar dengan
viskositas konstan yang tidak bergantung pada kecepatan fluida. Bila aliran
fluida cukup besar, aliran laminar rusak dan mengalami turbulensi. Kecepatan
kritis yang diatasnya dari tabung, jika fluida mengalir lewat sebuah pipa panjang
horizontal berpenampang konstan yang sempit tekanan sepanjang akan konstan.
Cara penentuan harga kekuatan dalam percobaan ini menggunakan
metode

Ostwald

yang

mana

prinsip

kerjanya

berdasarkan

waktu

yang

dibutuhkan oleh sejumlah tertentu cairan untuk mengalir melalui pipa kapiler
dengan gaya yang disebabkan oleh berat cairan itu sendiri. Alat yang digunakan
untuk mengukur viskositas disebut viscometer.

Piknometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur massa jenis


atau densitas dari fluida. Piknometer terdiri dari 3 bagian, yaitu : tutup pikno,
lubang, dan gelas atau tabung ukur. Satuan yang digunakan, biasanya massa
dalam satuan gram, volume dalam satuan mL = cm 3. Jadii satuan P adalah dalam
g / cm3.
Metode pengukuran viskositas terdiri dari viknometer kapiler / Ostwald
pada

metode

ini

viskositas

ditetntukan

dengan

mengukur

waktu

yang

dibutuhkan bagi cairan uji untuk lewat antara dua tanda ketika ia mengalir
karena gravitasi, melalui satuan tabung kapiler vertical. Waktu alir dari cairan
yang diuji, dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan bagi suatu cairan yang
viskositasnya sudah diketahui, biasanya air, untuk lewat antara dua tanda
tersebut. Jika 1 dan 2 maing-masing adalah viskositas dari cairan yg tidak
diketahui dan cairan standar, p1 dan p2 adalah kerapatan dari masing-masing
cairan, t1 dan t2 masing-masing adalah waktu alir dalam detik. Viskosimeter
Hoppler, pada viskositas ini yang diukur adalah waktu yang dibutuhkan oleh
sebuah bola logam untuk melewati cairan setinggi tertentu. Suatu benda karena
adanya gravitasi akan jatuh melalui medium yang berviskositas dengan
kecepatan yang semakin besar sampai mencapai kecepatan maksimum.
Kecepatan maksimum akan tercapai bila gravitasi sama dengan frictional
resistance medium. Viscometer cup dan Bob, prinsip kerjanya sampel digeser
dalam ruangan antara dinding luar dari bob dan dinding dalam dari cup dimana
bob masuk persis ditengah-tengah. Kelemahan viscometer ini adalah terjadinya
aliran sumbat yang disebabkan geseran yang tinggi disepanjangkeliling bagian
tube sehingga menyebabkan penemuan konsentrasi. Penurunan konsentrasi ini
menyebabkan bagian tengah zat yang ditekan keluar memadat. Hal ini disebut
aliran summbat. Viscometer corner dan plate, cara pemakaiannya adalah sampel
ditempatkan ditengah-tengah papan, kemudian dinaikkan hingga posisi dibawah
kerucut-kerucut digerakkan oleh motor dengan bermacam kecepatan dan
sampelnya digeser didalam ruang sempit antara papan yang diam dan kemudian
kerucut yang berputar.
Dari percobaan pengukuran viskositas zat cair didapatkan nilai rata-rata
aquades 1,27, alcohol 1,89, bensin 0,98, dan minyak goring 50,12. Selain itu
didapatkan juga hasil pengukuran densitas larutan aquades sebesar 1,019,
alcohol 0,905, bensin 0,775, dan minyak goring 0,93. Pengukuran viskositas
secara teori pada aquades sebesar 0,0080 p, alcohol 0,0103 p, bensin 0,005793

P, minyak goring 0,0327 p. Pengukuran viskositas secara praktik pada alcohol


0,010, bensin 0,00469, dan minyak goring sebesar 0,2881. Jelas terlihat bahwa
viskositas yang tertinggi terdapat pada minyak goreng yang terkecil terdapat
pada bensin. Artinya minyak goreng merupakan larutan yang paling kental.
Dalam percobaan terdapat beberapa bahan yang digunakan yaitu
alcohol, nama lainnya adalah etanol, senyawa ini merupakan liquid yang tidak
berwarna dan mudah menguap pada suhu rendah serta mudah terbakar pada
suhu tinggi. Alcohol memiliki rumus molekul CH 3OH. Alcohol memiliki kerapatan
0,79 g/cm3, titik didih : 78oC (3,5 K). alcohol dapat bercampur dengan pelarut
organic. Air, rumus molekulnya H2O, densitasnya 1000 kg m-3, liquid (4oC), 917
kg m-3, solid, titik didih 100oC, 212oF (373,15oK), viskositasnya 0,001 pa/s t 20 o.
merupakan jenis senyawa liquid yang tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak
berbau pada keadaan standar. Bensin (gasoline) yang memiliki rumus kimia C5C12, mudah terbakar. Minyak goreng, memiliki titik didih tinggi, viskositas tinggi,
bersifat polar, dan pada suhu kamar bentuknya cair.
Dalam percobaan ini terdapat beberapa faktor kesalahan yaitu alat-alat
yang kurang bersih, sehingga didapatkan hasil yang kurang maksimal, begitu
juga dalam menggunakan stopwatch yang kurang tepat, sehingga hasilnya pun
kurang maksimal.
Aplikasi viskositas dalam kehidupan sehari-hari adalah :
-

Mengalirnya darah dalam pembuluh darah vena


Proses penggorengan ikan (semakin tinggi suhunya, maka semakin kecil
viskositas minyak goreng)
Mengalirnya air dalam pompa PDAM yang mengalir kerumah-rumah kita
Tingkat kekentalan oli pelumas

BAB 5
PENUTUP
5.1

Kesimpulan

- Faktor-faktor yang mempengaruhi viskositas yaitu suhu, tekanan, konsentrasi


larutan, dan berat molekul solute.
- Metode pengukuran viskositas yaitu viscometer kapiler/Ostwald, viscometer
Hoppler, viscometer cup dan bob, dan viscometer cone dan plate.
- Kegunaan dari viscometer Ostwald adalah alat yang digunakan untuk mengukur
waktu yang dibutuhkan bagi cairan tersebut untuk lewat 2 tanda ketika mengalir
karena gravitasi melalui pipa kapiler viscometer Ostwald. Dan kegunaan
piknometer adalah suatu alat yang digunakan untuk nilai massa jenis atau
densitas fluida
5.2

Saran
Pada percobaan viskositas zat cair, terdapat berbagai macam metode.

Seperti viscometer Hoppler, viscometer cup dan Bob, dan viscometer cone dan
plate. Jadi hendaknya asisten tidak hanya menggunakan metode viscometer
Ostwald saja, tetapi metode yang lain juga. Agar pengetahuan praktikan
bertambah.

DAFTAR PUSTAKA
Bird, Tony. 1993. Kimia Fisik Untuk Universitas. Jakarta : PT Gramedia
Dudgale. 1986. Mekanika Fluida Edisi 3. Jakarta : Erlangga
Respati, H. 1981. Kimia Dasar Terapan Modern. Jakarta : Erlangga
Streeter, Victol L dan E. Benjamin While. 1996. Mekanika Fluida Edisi Delapan jilid I.
Jakarta : Erlangga
While, Frank.M. 1988. Mekanika Fluida edisi ke-2 jilid I. Jakarta : Erlangga