Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN DHF

Latar Belakang
Infeksi virus Dengue telah menjadi masalah kesehatan yang serius pada banyak
Negara tropis dan sub tropis. Semakin tahun penderita DHF (Dengue Haemorragik Fever)
semakin bertambah. Antara tahun 1975-1995 DHF (Dengue Haemorragic Fever) / DBD
(Demam Berdarah Dengue) terdeteksi keberadaannya di 102 negara dari 5 wilayah WHO
yaitu: 20 negara Afrika, 42 negara Amerika, 7 negara Asia Tenggara, 4 negara Mediterania
timur, 29 negara Pasifik Barat. Seluruh wilayah tropis di dunia saat ini telah menjadi
hiperendemis dengan ke-4 serotipe virus secara bersama-sama di wilayah Amerika, Thailand,
Asia Pasifik dan Afrika, Indonesia.
Tahun 2006 DHF kembali merebak dengan jumlah kasus yang cukup banyak. Hal ini
mengakibatkan sejumlah RS menjadi kewalahan dalam menerima pasien DHF. Sejak Januari
sampai 5 Maret 2006 total kasus DHF di seluruh propinsi di Indonesia sudah mencapai
26.015 orang, dengan jumlah kematian 389 orang . Kasus tertinggi terdapat di propinsi DKI
Jakarta (11.534 orang), sedangkan di propinsi NTT (3,96 %).
DHF dapat menyerang mulai dari anak-anak, dewasa, orang tua, tetapi anak-anak
merupakan yang paling rentan terhadap serangan DHF (Dengue Haemorragik Fever). Kasus
kematian akibat DHF (Dengue Haemorragik Fever) sering terjadi pada anak-anak, hal ini di
sebabkan selain karena kondisi daya tahan anak-anak tidak sebagus dewasa, juga karena
sistem imun anak-anak belum sempurna. Penyakit DHF (Dengue Haemorragik Fever) jika
tidak mendapat perawatan yang memadai dapat mengalami perdarahan yang hebat, syok dan
dapat menyebabkan kematian. Oleh karena itu, semua kasus DHF (Dengue Haemorragik
Fever) sesuai dengan kriteria WHO harus mendapat perawatan di tempat pelayanan
kesehatan/rumah sakit
A. Pengertian
Demam berdarah dengue adalah infeksi akut yang disebabkan oleh arbovirus
(Arthropadborn Virus) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aides (Aides albopictus
dan Aedes Aegepty) (Ngastiyah, 2005). Demam berdarah dengue adalah penyakit
demam akut dengan ciri-ciri demam manifestasi perdarahan dan bertendensi
mengakibatkan renjatan yang dapat menyebabkan kematian (Arief Mansjoer, 2000).
Dengue hemoragic fever (DHF) adalah penyakit yang terdapat pada anak dan dewasa
dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi yang disertai leukopenia, dengan /

tanpa ruam (rash) dan limfadenopati. Thrombocytopenia ringan dan bintik-bintik


perdarahan (Noer Syaifullah, 2000).
Jadi demam berdarah dengue adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh
virus dengue dengan menifestasi klinis demam disertai gejala perdarahan dan bila
timbul renjatan dapat menyebabkan kematian.
B. Klasifikasi Dengue Hemoragic Fever (DHF)
Mengingat derajat beratnya penyakit bervariasi dan sangat erat kaitanya dengan
pengelolaan dan prognosis, WHO (1975) membagi DBD dalam 4 derajat setelah
kriteria laboratorik terpenuhi yaitu :
1. Derajat I
Demam mendadak 2-7 hari disertai gejala tidak khas, dan satu-satunya
manifestasi perdarahan adalah tes toniquet positif
2. Derajat II
Derajat I dan disertai perdarahan spontan pada kulit atau perdarahan lain.
3. Derajat III
Ditemukan kegagalan sirkulasi ringan yaitu nadi cepat dan lemah tekanan
darah rendah, gelisah, sianosis mulut, hidung dan ujung jari.
4. Derajat IV
Syok hebat dengan tekanan darah atau nadi tidak terdeteksi.
Renjatan berat (DSS) dengan nadi tak teraba dan tekanan darah tak dapat
diukur.
Dengue Shock Syndrome ( DSS )
Dengue shock syndrome ( DSS ) adalah sindroma syok yang terjadi pada
penderita Dengue Hemorrhagic Fever ( DHF ) atau demam berdarah dengue.
Dengue syok sindrom bukan saja merupakan suatu permasalahan kesehatan
masyarakat yang menyebar dengan luas atau tiba tiba, tetapi juga merupakan
suatu permasalahan klinis, karena 30 50 % penderita demam berdarah
dengue akan mengalami renjatan dan berakhir dengan demam suatu kematian
terutama bila tidak ditangani secara dini dan adekuat.
WHO, 1986 mengklasifikasikan DHF menurut derajat penyakitnya menjadi 4
golongan, yaitu :
a. Derajat I
Demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan. Panas 2-7
hari, Uji tourniquet positif, trombositipenia, dan hemokonsentrasi.
b. Derajat II
Sama dengan derajat I, ditambah dengan gejala-gejala perdarahan spontan
seperti petekie, ekimosis, hematemesis, melena, perdarahan gusi.
c. Derajat III

Ditandai oleh gejala kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah dan
cepat (>120x/mnt ) tekanan nadi sempit ( 120 mmHg ), tekanan darah
menurun, (120/80 120/100 120/110 90/70 80/70 80/0 0/0 )
d. Derajat IV
Nadi tidak teraba, tekanan darah tidak teatur (denyut jantung 140x/mnt)
anggota gerak teraba dingin, berkeringat dan kulit tampak biru.
Derajat (WHO 1997):
a. Derajat I : Demam dengan test rumple leed positif.
b. Derajat II : Derajat I disertai dengan perdarahan spontan dikulit atau
perdarahan
lain.
c. Derajat III : Ditemukan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah,
tekanan nadi menurun/ hipotensi disertai dengan kulit dingin lembab dan
pasien menjadi gelisah.
d. Derajat IV
: Syock berat dengan nadi yang tidak teraba dan tekanan
darah tidak dapat diukur.
C. Etiologi
Penyebab penyakit Dengue Hemorragic Fever (DHF) atau demam berdarah adalah
Virus Dengue, di indonesia virus tersebut sampai saat ini telah di isolsi menjadi 4
serotipe virus Dengue yang termasuk dalam grup B dalam Arthropedi bone viruses
(arbu viruses), yaitu DEN-1,DEN -2,DEN-3, dan DEN-4.Ternyata DEN-2 dan DEN3 merupakan serotipe yang menjadi penyebab terbanyak.Di Thailand, di laporka
bahwa serotipe DEN-2 adalah dominan.sementara di Indnesia, yang terutama domian
adalah DEN-3, tetapi akhhir-akhir ini ada kecenderungan doinansi DEN-2. Infeksi
oleh salah satu serotipe meninbulkan anti badi seumur hidup terhadap serotipe
bersangkutan, tetapi tidak ada perlindungan terhadap serotipe lain.Virus dengue
terutama di tularkan melalui vektor nyamuk aedes aegypti.nyamuk aedes albopictus,
aedes poly nesiensis, dan beberapa spesies lain kurang berperan. Jenis nyamuk ini
terdapat hampir di seluruh indonesia kecuali di ketinggian lebi dari 1000 m di atas
permukaan laut.
Mekanisme sebenarnya mengenai patofisiologi,hemodinamika,dan biokimia DHF
hingga kini belum di ketahi secara pasti. Sebagian besar sarjana masih menganut
The Secondary Heterologous Infection Hyphotesis ata The Sequential Infection
Hyphotesis dari Halsteel yang menyatakan bahwa DHF dapat terjadi bila seorang
seteleh terinfeksi degue untuk pertamakalinya mendapat infeksi berulang dengan tipe
virus dengue yang berbeda (Nursalam, 2005).

D. Tanda dan Gejala


Tanda dan gejala yang timbul bervariasi berdasarkan derajat DHF, dengan masa
inkubasi antara 13-15 hari menurut WHO (1975) sebagai berikut
a. Demam tinggi mendadak dan terus menerus 2-7 hari
b. Manifestasi perdarahan, paling tidak terdapat uji tourniquet positif,
seperti perdarahan

pada

kulit

(petekie,

ekimosis.

Epistaksis,

Hematemesis,Hematuri, dan melena)


c. Pembesaran hati (sudah dapat diraba sejak permulaan sakit)
d. Syok yang ditandai dengan nadi lemah, cepat disertai tekanan darah menurun
(tekanan sistolik menjadi 80 mmHg atau kurang dan diastolik 20 mmHg atau
kurang) disertai kulit yang teraba dingin dan lembab terutama pada ujung
hidung, jari dan kaki, penderita gelisah timbul sianosis disekitar mulut.
Selain timbul demam, perdarahan yang merupakan ciri khas DHF gambaran klinis
lain yang tidak khas dan biasa dijumpai pada penderita DHF adalah:
a. Keluhan pada saluran pernafasan seperti batuk, pilek, sakit waktu menelan.
b. Keluhan pada saluran pencernaan: mual, muntah, anoreksia, diare, konstipasi
c. Keluhan sistem tubuh yang lain: nyeri atau sakit kepala, nyeri pada otot,
tulang dan sendi, nyeri otot abdomen, nyeri ulu hati, pegal-pegal pada saluran
tubuh dll.
d. Temuan-temuan laboratorium yang mendukung adalah thrombocytopenia
(kurang atau sama dengan 100.000 mm3) dan hemokonsentrasi (peningkatan
hematokrit lebih atau sama dengan 20 %)
E. Pathway

Virus Dengue masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk terjadi viremia,
yang ditandai dengan demam mendadak tanpa penyebab yang jelas disertai gejala lain
seperti sakit kepala, mual, muntah, nyeri otot, pegal di seluruh tubuh, nafsu makan
berkurang dan sakit perut, bintik-bintik merah pada kulit. Selain itu kelainan dapat
terjadi pada sistem retikulo endotel atau seperti pembesaran kelenjar-kelenjar getah
bening, hati dan limpa. Pelepasan zat anafilaktoksin, histamin dan serotonin serta
aktivitas dari sistem kalikrein menyebabkan peningkatan permeabilitas dinding
kapiler/vaskuler sehingga cairan dari intravaskuler keluar ke ekstravaskuler atau
terjadinya perembesaran plasma akibatnya terjadi pengurangan volume plasma yang
terjadi hipovolemia, penurunan tekanan darah, hemokonsentrasi, hipoproteinemia,
efusi dan renjatan. Selain itu sistem reikulo endotel bisa terganggu sehingga
menyebabkan reaksi antigen anti body yang akhirnya bisa menyebabkan Anaphylaxia.
Akibat lain dari virus dengue dalam peredaran darah akan menyebabkan depresi
sumsum tulang sehingga akan terjadi trombositopenia yang berlanjut akan
menyebabkan perdarahan karena gangguan trombosit dan kelainan koagulasi dan

akhirnya sampai pada perdarahan kelenjar adrenalin. Plasma merembas sejak


permulaan demam dan mencapai puncaknya saat renjatan. Pada pasien dengan
renjatan berat, volume plasma dapat berkurang sampai 30% atau lebih. Bila renjatan
hipovolemik yang terjadi akibat kehilangan plasma yang tidak dengan segera diatasi
maka akan terjadi anoksia jaringan, asidosis metabolik dan kematian. Terjadinya
renjatan ini biasanya pada hari ke-3 dan ke-7.
Reaksi lainnya yaitu terjadi perdarahan yang diakibatkan adanya gangguan pada
hemostasis yang mencakup perubahan vaskuler, trombositopenia (trombosit <
100.000/mm3), menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagulasi
(protrombin, faktor V, IX, X dan fibrinogen). Pembekuan yang meluas pada
intravaskuler (DIC) juga bisa terjadi saat renjatan. Perdarahan yang terjadi seperti
petekie, ekimosis, purpura, epistaksis, perdarahan gusi, sampai perdarahan hebat pada
traktus gastrointestinal (Rampengan, 1997).
F. Manifestasi Klinik
Kasus DHF di tandai oleh manifestasi klinis, yaitu : demam tinggi dan mendadak
yang dapat mencapa 40 C atau lebih dan terkadang di sertai dengan
kejang demam, sakit

kepala, anoreksia,

muntah-muntah (vomiting), epigastric,

discomfort, nyeri perut kana atas atau seluruh bagian perut; dan perdarahan,
terutama perdarahan kulit,walaupun hanya berupa uji tuorniquet poistif. Selain itu,
perdarahan kulit dapat terwujud memar atau dapat juga dapat berupa perdarahan
spontan mulai dari ptechiae (muncul pada hari-hari pertama demam dan berlangsung
selama 3-6 hari) pada extremitas, tubuh, dan muka, sampai epistaksis dan perdarahan
gusi. Sementara perdarahan gastrointestinal masif lebih jarang terjadi dan biasanya
hanya terjadi pada kasus dengan syok yang berkepanjangan atau setelah syok yang
tidak dapat teratasi. Perdarahan lain seperti perdarahan sub konjungtiva terkadang
juga di temukan. Pada masa konvalisen sering kali di temukan eritema pada telapak
tangan dan kaki dan hepatomegali. Hepatomegali pada umumnya dapat diraba pada
permulaan penyakit dan pembesaran hati ini tidak sejajar dengan beratanya penyakit.
Nyeri tekan seringkali di temukan tanpa ikterus maupun kegagalan peredaran darah
(circulatory failure) (Nursalam, 2005).
G. Pemeriksaan Dan Diagnosa
Untuk mendiagnosis Dengue Haemoragic Fever (DHF) dapat dilakukan pemeriksaan
dan didapatkan gejala seperti yang telah dijelaskan sebelumnya juga dapat ditegakan
dengan pemeriksaan laboratorium yakni :
Trombositopenia (< 100.000 / mm3) , Hb dan PCV meningkat (> 20%) leukopenia
(mungkin normal atau leukositosis), isolasi virus, serologis (UPF IKA, 1994).

Pemeriksaan serologik yaitu titer CF (complement fixation) dan anti bodi HI


(Haemaglutination ingibition) (Who, 1998 ; 69), yang hasilnya adalah Pada infeksi
pertama dalam fase akut titer antibodi HI adalah kurang dari 1/20 dan akan meningkat
sampai < 1/1280 pada stadium rekovalensensi pada infeksi kedua atau selanjutnya,
titer antibodi HI dalam fase akut > 1/20 dan akan meningkat dalam stadium
rekovalensi sampai lebih dari pada 1/2560. Apabila titer HI pada fase akut > 1/1280
maka kadang titernya dalam stadium rekonvalensi tidak naik lagi. (UPF IKA, 1994 ;
202)
Pada renjatan yang berat maka diperiksa : Hb, PCV berulangkali (setiap jam atau 4-6
jam apabila sudah menunjukan tanda perbaikan) faal haemostasis x-foto dada, elektro
kardio gram, kreatinin serum.
Dasar diagnosis Dengue Haemoragic Fever (DHF)WHO tahun 1997:
Klinis:
Demam tinggi dengan mendadak dan terus menerus selama 2-7 hari.
Menifestasi perdarahan petikie, melena, hematemesis (test rumple leed).
Pembesaran hepar.
Syock yang ditandai dengan nadi lemah, cepat, tekanan darah menurun, akral
dingin dan sianosis, dan gelisah.
Laboratorium:
Trombositopenia (< 100.000/ uL) dan terjadi hemokonsentrasi lebih dari 20%.
H. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium
1. Pada pemeriksaan darah pasien DHF akan di jumpai
2. Ig.G dengue positif
3. Trombositopenia
4. Hemoglobin meningkat
5. Hemokonsentrasi ( hematokrit meningkat)
Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan
hipoproteinemia
hiponatremia dan
hipokalemia
Pada hari kedua dan ketiga terjadi lekopenia, netropenia, aneosinophilia, peningkatan
limposit, monosit dan basofil
SGOT atau SGPT darah mungkin meningkat
Ureum dan Ph darah mungkin meningkat
Waktu pendarahan memanjang
Pada pemeriksaan analisa gas darah arteri menunjukkan asidosis metabolik:
PCO2 < 35 40 mm Hg, HCO3 rendah
Pemeriksaan serologi

Pada pemeriksaan ini di lakukan pengukuran literantibodi pasien dengan cara


haemaglutination nibitron test (HIT test) atau dengan uji peningkatan komplemen
pada
pemeriksaan serologi di butuhkan dua bahan pemeriksaan yaitu pada masa akut
atau
demam dan masa penyembuhan ( 104 minggu setelah awal gejala penyakit ) untuk
pemeriksaan serologi ini di ambil darah vena 2 5 ml.
Pemeriksaan sianosis yang menunjang antara lain foto thorak mungkin di jumpai
pleural
effusion, pemeriksaan USG hepatomegali dan splenomegali.
I. Penatalaksaaan
a. Medis
Pada dasarnya pengoobatan pasien DHF bersifat simtomatis dan suportif
1. DHF tanpa renjatan
Demam tinggi, anoreksia dan sering muntah menyebabkan pasien dehidrasi
dan haus. Pada pasien ini perlu diberi banyak minum, yaitu 1,5 sampai 2 liter
dalam 24 jam. Dapat diberikan teh manis, sirup, susu, dan bila mau lebih
baik oralit. Cara memberikan minum sedikit demi sedikit dan orang tua yang
menunggu dilibatkan dalam kegiatan ini. Jika anak tidak mau minum sesuai
yang dianjurkan tidak dibenarkan pemasangan sonde karena merangsang
resiko terjadi perdarahan.
Keadaan hiperpireksia diatasi dengan obat anti piretik dan kompres dingin.
Jika terjadi kejang diberi luminal atau anti konfulsan lainnya. Luminal
diberikan dengan dosis : anak umur kurang 1 tahun 50 mg IM, anak lebih 1
tahun 75 mg. Jika 15 menit kejang belum berhenti lminal diberikan lagi
dengan dosis 3 mg/kg BB. Anak diatas 1 tahun diveri 50 mg, dan dibawah 1
tahun 30 mg, dengan memperhatikan adanya depresi fungsi vital.
Infus diberikan pada pasien DHF tanpa renjatan apabila :
1)
Pasien terus-menerus muntah, tidak dapat diberikan minum sehingga
mengancam terjadinya dehidrasi.
2)
Hematokrit yang cenderung meningkat.Hematokrit mencerminkan
kebocoran plasma dan biasanya mendahului mnculnya secara klinik
perubahan fungsi vital (hipotensi, penurunan tekanan nadi), sedangkan
turunya nilai trombosit biasanya mendahului naiknya hematokrit. Oleh
karena itu, pada pasien yang diduga menderita DHF harus diperiksa Hb, Ht
dan trombosit setiap hari mlai hari ke-3 sakit sampai demam telah turun 1-2

hari. Nilai hematokrit itlah yang menentukan apabila pasien perlu dipasang
infus atau tidak.
b. DHF disertai renjatan (DSS)
Pasien yang mengalami renjatan (syok) harus segera sipasang infus sebagai
penganti cairan yang hilang akibat kebocoran plasma. Caiaran yang diberikan
bisanya Ringer Laktat. Jika pemberian cairan tidak ada respon diberikan plasma
atau plasma ekspander, banyaknya 20-30 ml/kgBB. Pada pasien dengan renjatan
berat diberikan infs harus diguyur dengan cara membuka klem infus. Apabila
renjatan telah teratasi, nadi sudah jelas teraba, amplitudo nadi besar, tekanan
sistolik 80 mmHg /lebih, kecepatan tetesan dikurangi 10 l/kgBB/jam. Mengingat
kebocoran plasma 24-48 jam, maka pemberian infus dipertahankan sampai 1-2
hari lagi walaupn tanda-tanda vital telah baik.
Pada pasien renjatan berat atau renjaan berulang perlu dipasang CVP (Central
Venous Pressure) untuk mengukur tekanan vena sentral melalui vena magna atau
vena jugularis, dan biasanya pasien dirawat di ICU.Trafusi darah diberikan pada
pasien dengan perdarahan gastrointestinal yang berat. Kadang-kadang perdarahan
gastrointestinal berat dapat diduga apabila nilai hemoglobin dan hematokrit
menutun sedangkan perdarahanna sedikit tidak kelihatan. Dengan memperhatikan
evaluasi klinik yang telah disebut, maka engan keadaan ini dianjurka pemberian
darah.
2. Keperawatan
Masalah pasien yang perlu diperhatikan ialah bahaya kegagalan sirkulasi
darah, resiko terjadi pendarahan, gangguan suhu tubuh, akibat infeksi virus
dengue, gangguan rasa aman dan nyaman, kurangnya pengetahuan orang tua
mengenai penyakit.
a. Kegagalan sirkulasi darah
Dengan adanya kebocoran plasma dari pembuluh darah ke dalam jaringan
ekstrovaskular, yang puncaknya terjadi pada saat renjatan akan terlihat pada
tubuh pasien menjadi sembab (edema) dan darah menjadi kental.
Pengawasan tanda vital (nadi, TD, suhu dan pernafasan) perlu dilakukan
secara kontinyu, bila perlu setiap jam. Pemeriksaan Ht, Hb dan trombosit
sesuai permintaan dokter setiap 4 jam. Perhatikan apakah pasien ada kencing /
tidak. Bila dijumpai kelainan dan sebagainya segera hubungi dokter.
b. Resiko terjadi pendarahan
Adanya thrombocytopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya
faktor koagulasi merupakan faktor penyebab terjadinya pendarahan utama
pada traktus gastrointestinal. Pendarahan grastointestinal didahului oleh

adanya rasa sakit perut yang hebat (Febie, 1966) atau daerah retrosternal (Lim,
dkk.1966).
Bila pasien muntah bercampur darah atau semua darah perlu diukur. Karena
melihat seberapa banyak darah yang keluar perlu tindakan secepatnya. Makan
dan minum pasien perlu dihentikan. Bila pasien sebelumnya tidak dipasang
infuse segera dipasang. Formulir permintaan darah disediakan.
Perawatan selanjutnya seperti pasien yang menderita syok. Bila terjadi
pendarahan (melena, hematesis) harus dicatat banyaknya / warnanya serta
waktu terjadinya pendarahan. Pasien yang mengalami pendarahan gastro
intestinal biasanya dipasang NGT untuk membantu mengeluarkan darah dari
lambung.
c. Gangguan suhu tubuh
Gangguan suhu tubuh biasanya terjadi pada permulaan sakit atau hari ke-2-ke7 dan tidak jarang terjadi hyperpyrexia yang dapat menyebabkan pasien
kejang. Peningkatan suhu tubuh akibat infeksi virus dengue maka
pengobatannya dengan pemberian antipiretika dan anti konvulsan. Untuk
membantu penurunan suhu dan mencegah agar tidak meningkat dapat
diberikan kompres dingin, yang perlu diperhatikan, bila terjadi penurunan
suhu yang mendadak disertai berkeringat banyak sehingga tubuh teraba dingin
dan lembab, nadi lembut halus waspada karena gejala renjatan. Kontrol TD
dan nadi harus lebih sering dan dicatat secara baik dan memberitahu dokter.
d. gangguan rasa aman dan nyaman
Gangguan rasa aman dan nyaman dirasakan pasien karena penyakitnya dan
akibat tindakan selama dirawat. Hanya pada pasien DHF menderita lebih
karena pemeriksaan darah Ht, trombosit, Hb secara periodic (stp 4 jam) dan
mudah terjadi hematom, serta ukurannya mencari vena jika sudah stadium
II. Untuk megurangi penderitaan diusahakan bekerja dengan tenang yakinkan
dahulu vena baru ditusukan jarumnya. Jika terjadi hematum segera oleskan
trombophub gel / kompres dengan alkohol. Bila pasien datang sudah kolaps
sebaiknya dipasang venaseksi agar tidak terjadi coba-coba mencari vena dan
meninggalkan bekas hematom di beberapa tempat. jika sudah musim banyak
pasien DHF sebaiknya selalu tersedia set venaseksi yang telah seteril.
J. Komplikasi
Dalam penyakit DHF atau demam berdarah jika tidak segera di tangani akan
menimbulkan kompikisi adalah sebagai berikut :
1. Perdarahan

Perdarahan pada DHF disebabkan adanya perubahan vaskuler, penurunan


jumlah trombosit (trombositopenia) <100.000 /mm dan koagulopati,
trombositopenia, dihubungkan dengan meningkatnya megakoriosit muda
dalam sumsum tulang dan pendeknya masa hidup trombosit. Tendensi
perdarahan terlihat pada uji tourniquet positif, petechi, purpura, ekimosis, dan
perdarahan saluran cerna, hematemesis dan melena.
2. Kegagalan sirkulasi
DSS (Dengue Syok Sindrom) biasanya terjadi sesudah hari ke 2 7,
disebabkan oleh peningkatan permeabilitas vaskuler sehingga terjadi
kebocoran plasma, efusi cairan serosa ke rongga pleura dan peritoneum,
hipoproteinemia, hemokonsentrasi dan hipovolemi yang mengakibatkan
berkurangnya aliran balik vena (venous return), prelod, miokardium volume
sekuncup dan curah jantung, sehingga terjadi disfungsi atau kegagalan
sirkulasi dan penurunan sirkulasi jaringan. DSS juga disertai dengan kegagalan
hemostasis mengakibatkan aktivity dan integritas system kardiovaskur, perfusi
miokard dan curah jantung menurun, sirkulasi darah terganggu dan terjadi
iskemia jaringan dan kerusakan fungsi sel secara progresif dan irreversibel,
terjadi kerusakan sel dan organ sehingga pasien akan meninggal dalam 12-24
jam.
3. Hepatomegali
Hati umumnya membesar dengan perlemakan yang berhubungan dengan
nekrosis karena perdarahan, yang terjadi pada lobulus hati dan sel sel kapiler.
Terkadang tampak sel netrofil dan limposit yang lebih besar dan lebih banyak
dikarenakan adanya reaksi atau kompleks virus antibody.
4. Efusi pleura
Efusi pleura karena adanya kebocoran plasma yang mengakibatkan
ekstravasasi aliran intravaskuler sel hal tersebut dapat dibuktikan dengan
adanya cairan dalam rongga pleura bila terjadi efusi pleura akan terjadi
dispnea, sesak napas.
K. Pencegahan Dan Pemberantasan
Pemberantasan Dengue Haemoragic Fever (DHF) seperti juga penyakit menular laibn
didasarkan atas meutusan rantai penularan, terdiri dari virus, aedes dan manusia.
Karena sampai saat ini belum terdapat vaksin yang efektif terdapat virus itu maka
pemberantasan ditujukan pada manusia terutama pada vektornya. (Soemarmo, 1998 ;
56)
Prinsip tepat dalam pencegahan DHF (Sumarmo, 1998 ; 57)

1)manfaatkan perubahan keadaan nyamuk akibat pengaruh alamiah dengan


melaksanakan pemberantasan pada saat hsedikit terdapatnya DHF / DSS
2)memutuskan lingkaran penularan dengan menahan kepadatan vektor pada tingkat
sangat rendah untuk memberikan kesempatan penderita veremia.
3)Mengusahakan pemberantasan vektor di pusat daerah pengambaran yaitu sekolah
dan RS, termasuk pula daerah penyangga sekitarnya.
4)Mengusahakan pemberantasan vektor di semua daerah berpotensi penularan
tinggi
Menurut Rezeki S, 1998 : 22,
Pemberantasan penyakit Dengue Haemoragic Fever (DHF) ini yang paling penting
adalah upaya membasmi jentik nyamuk penularan ditempat perindukannya dengan
melakukan 3M yaitu
1)

Menguras tempat tampet penampungan air secara teratur sekurang


kurangnya seminggu sekali atau menaburkan bubuk abate ke dalamnya

2)

Menutup rapat rapat tempat penampung air

3)

Menguburkan / menyingkirkan barang kaleng bekas yang dapat menampung


air hujan

DAFTAR PUSTAKA
Doenges, Marilynn E, dkk, 2000. Penerapan Proses Keperawatan dan Diagnosa
Keperawatan. Jakarta : EGC
Hendrayanto. 2004. Ilmu Penyakait Dalam. Jilid 1. Jakarta : FKUIM
Mansjoer, Arif dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Jakarta
Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.
Edisi 8. Volume 1. Penerbit Buku Kedokteran : EGC
Soegijarto, Soegeng. 2006. Demam Berdarah Dengue. edisi 2. Surabaya : Aerlangga
Widyastuti, Palupi. 2004. Pencegahan, Pengendalian Dengue Dan Demam Berdarah. Jakarta :
EGC