Anda di halaman 1dari 6

EPIDEMIOLOGI KANKER PAYUDARA

Ira Marti Ayu

1. Latar Belakang
Kanker payudara dikenal sebagai salah satu kanker yang paling sering menyerang
kaum wanita. Selain kecenderungan peningkatan prevalensi yang tidak dapat dihindari.
Ditambah lagi kematian karena kanker payudara masih tinggi, terutama pada-negara-negara
sedang berkembang, karena keterlambatan diagnosis, yang berarti juga keterlambatan
pengobatan. Semua ini pada gilirannya menyebabkan masalah kanker sebagai suatu masalah
kesehatan yang membawa biaya yang mahal.
Kanker payudara merupakan kanker terbanyak kedua di dunia, yang paling banyak
ditemukan pada wanita. Diestimasikan 1,67 juta kasus baru didiagnosis pada tahun 2012
(25% dari seluruh kanker) dengan incidence rate 38 per 100.000 perempuan. Kanker banyak
ditemukan dinegara maju maupun dinegara yang sedang berkembang. Selain itu merupakan
penyebab ke-5 terbesar untuk menimbulkan kematian dari keseluruhan kanker (522.000
kematian) di seluruh dunia. (Globocan/IARC 2012).
Estimasi insidens kanker payudara di Indonesia sebesar 40 per 100.000 perempuan. Angka
ini meningkat dari tahun 2002, dengan insidens kanker payudara 26 per 100.000 perempuan
dan kanker leher rahim 16 per 100.000 perempuan (Globocan/IARC 2012). Jenis kanker
tertinggi pada pasien rawat inap di rumah sakit seluruh Indonesia tahun 2010 adalah kanker
payudara (28,7%), disusul kanker leher rahim (12,8%). Kanker payudara dan kanker leher
rahim merupakan jenis kanker tertinggi pada perempuan di Indonesia. Berdasarkan Estimasi
jumlah penderita kanker serviks dan kanker payudara di Indonesia pada tahun 2013,
diketahui bahwa Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat memiliki estimasi
jumlah penderita kanker serviks dan kanker payudara terbesar, sementara itu Provinsi
Gorontalo dan Papua Barat memiliki estimasi jumlah penderita terkecil dari seluruh provinsi.

2. Patofisiologi
a. Distribusi anatomi
Payudara manusia tersusun dari elemen stromal dan epithelial. Elemen stromal
payudara terdiri jaringan lemak, jaringan penghubung, pembuluh darah dan pembuluh
limfatik dan memberikan payudara strukturnya. Elemen epithelial mewakili unit fungsi
dari kelenjar susu dan tersusun dari sejumlah cabang pembuluh, yang mana berhubungan
dengan lobula ke puting susu.

Pada saat lahir, kelenjar susu hanya terdiri dari cabang dasar, yang tumbuh dan
membelah perlahan sampai pubertas. Pada awal mentruasi, pertumbuhan dan percabangan
pembuluh meningkat dan akhirnya pembuluh mulai mencapai lobulus. Selama siklus
menstruasi, pembelahan dan penyusutan epitel dan stroma terjadi dalam suatu siklus.
Pembentukan lobulus terus berlanjut dari menstruasi dan meningkat sampai usia 25 tahun.
Proses pembelahan yang sempurna dari jaringan lobula terjadi hanya melalui kehamilan
dan laktasi.

b. Histopatology
Lebih dari 95% kanker payudara berasal dari elemen epitel dari kelenjar susu dan
diklasifikasikan sebagai adenokarsinoma. Ada 2 klasifikasi utama dari malignansi
payudara : kanker in situ atau noninvasif dan kanker invasif. Kanker payudara insitu
secara morfologis mirip dengan kanker invasif tetapi masih hanya sebatas pada pembuluh
(ductal carcinoma in situ, DCIS) atau lobula (lobular carcinoma in situ, LCIS) dan tidak
ada data yang menunjukkan inflitrasi disekeliling stroma.
Kanker invasif merupakan sekelompok lesi heterogen yang ditandai dengan sel-sel
tumor yang menginvasi stroma payudara. 75-80% kanker invasif menginfiltrasi karsinoma
ductal., sementara infiltrasi karsinoma lobula merupakan penyebab kedua terbanyak
kanker invasif (5-10%). Tipe lainnya dari kanker payudara termasuk pada medula, adenoid
cystic, mucinous dan tubular; jenis tumor ini memeliki proporsi yang kecil terhadap
kanker payudara dan biasanya memiliki prognosis yang baik.

c. Gejala-gejala Kanker Payudara


Pada tahap awal kanker payudara, biasanya kita tidak merasakan sakit atau tidak
adanya tanda-tanda sama sekali. Namun tumor semakin membesar, gejala-gejala
dibawah ini mungkin muncul :
-

Benjolan yang tidak hilang atau permanen, biasanya tidak sakit dan terasa keras
bila disentuh atau penebalan pada kulit payudara atau di sekitar ketiak

Perubahan bentuk dan kulit payudara

Kerutan pada kulit payudara

Keluarnya cairan dari payudara, umumnya berupa darah

Pembengkakan atau adanya tarikan pada puting susu

Sebagai warning sign kanker payudara :


-

Keluhan ada benjolan pada payudara, atau terasa ada lump (benjolan) atau
penebalan (thickening) payudara

Perubahan ukuran atau bentuk, tidak ada sebelumnya, terlebih benjolan


pembengkakan yang merah dan panas/ perih

Keluarnya cairan/ sekret dari payudara, khususnya puting susu

Perubahan warna atau rasa kulit payudara, khususnya jika seperti kulit jeruk (peau
dorange)

Ditemukan pembengkakan (kelenjar) di ketiak

d. Diagnosis Kanker Payudara


-

Anamnesis : mengenai keluham-keluhan, perjalanan penyakit, keluhan tambahan,


faktor risiko tinggi, tanda-tanda umum yang berhubungan dengan berat badan dan
nafsu makan

Pemeriksaan fisik : sadari

Pemeriksaan khusus : biopsi, mamografi, ultrasonografi

e. Stadium
Berdasarkan stadium klinis
Stadium I :

tumor < 2 cm diameternya

limfa nodi teraba tetapi tidak berisi jaringan metastase

tidak ada metastase yang jauh

crude- 5 year- survival 85%

Stadium II :

tumor diameternya 2-5 cm

limfa nodi bila teraba tidak fixed (mudah digerakkan)

metastase yang jauh belum ada

crude-5-year survival 65%

Stadium III

tumor lebih dari 5 cm atau tumor dengan segala ukuran,

bersifat invasive ke kulit dan melekat pada dinding dada

limfanodi supraclaviculer teraba

tanpa metastase yang jauh

crude 5-year-survival 41%

Stadium IV

telah ada metastase yang jauh

crude-5-year-survival 10%

3. Epidemiologi deskriptif
Risiko kanker payudara meningkat dengan bertambahnya umur, tetapi rate meningkat
dengan lambat setelah menopause, penurunan risiko bersamaan dengan penurunan
sirkulasi estrogen. Di inggris karsinoma payudara sangat jarang ditemukan pada wanita
usia dibawah 30 tahun, incidence rate meningkat pesat setelah usia diatas 40 tahun,
terutama pada usia 45-49 tahun Ada perbedaan insidens di negara-negara timur dan barat
terutama untuk kasus-kasus karsinoma payudara setelah menopause Di Inggris,
Yugoslavia, Amerika insidens karsinoma payudara tetap meningkat pada usia setelah
menopause Di Jepang setelah menopause insidens karsinoma payudara menurun setelah
menopause.
Angka kematian juga meningkat dengan bertambahnya umur, 54 % kematian kanker
payudara terjadi diantara wanita 65 tahun. usia menstruasi pertama terlalu cepat dan usia
menopause yang terlambat mempertinggi risiko kanker payudara. Orang dengan status
sosio ekonomi lebih tinggi memiliki risiko tinggi untuk berkembangnya kanker payudara.
Kematian karena kanker payudara di Amerika secara umum lebih tinggi di bagian
utara dan lebih rendah dibagian selatan. Daerah Delware memiliki angka kematian
(mortality rate) tertinggi dan Hawaii terendah. Penduduk perkotaan cenderung memiliki
rate yang lebih tinggi. Angka kejadian Kanker payudara juga menunjukkan variasi
internasional yang luas, dengan rate tertinggi di Amerika Utara dan Eropa barat.
Incidence kanker payudara meningkat dari waktu ke waktu, walaupun terjadi juga
penurunan mortality rate di beberapa negara. Hal ini dikarenakan adanya hasil diagnosis
yang berkembang pada stadium dini sehingga survivalnya menjadi lebih tinggi. Selain itu
penurunan yang terjadi berhubungan dengan diperkenalkannya program skrining untuk
kanker payudara yang mengiringi peningkatan yang cepat dalam incidence demikian juga
prevalens penyakit.
4. Faktor risiko

5. Pencegahan
a. Pencegahan primer yaitu pencegahan yang yang ditujukan pada pada populasi yang
rentan yang bertujuan untuk menurunkan incidence penyakit.
Hal yang dapat dilakukan yaitu dengan mencegah faktor risiko penyakitnya seperti :
-

Promosi kesehatan dalam deteksi dini seperti pengetahuan sadari

Tidak terlambat menikah sehingga tidak terlambat dalam melahirkan pertama kali

Aktifitas fisik yang cukup, makanan yang rendah lemak sehingga dapat
menurunkan obesitas

Menyusui

Memiliki cukup anak (2 anak cukup)

b. Pencegahan sekunder yaitu pencegahan yang ditujukan pada populasi yang


asimptomatik (tidak memiliki gejala) tetapi sudah terjadi perubahan biologis yang
nantinya dapat menimbulkan penyakit. Tujuannya untuk menurunkan prevalensi/
akibatnya dengan cara deteksi dini seperti skrining
Upaya diagnosis dini dengan melakukan berbagai jenis pemeriksaan payudara :
a. Sadari (pemeriksaan payudara sendiri atau BSE (Breast Self Examination)
b. Saranis (Pemeriksaan payudara klinis) oleh dokter atau bidan
c. Biopsi aspirasi Jarum Halus (Bajah)
d. Breast imaging, seperti ultrasound atau MRI scanning

Untuk mendapatkan secara dini adanya kelainan payudara perlu pemeriksaan yng tepat
baik waktu maupun teknik pemeriksaannya. Sebagai pedoman dapat dipakai sebagai
berikut
a. Mulai umur 20 tahun : Pemeriksaan sadari setiap bulan
b. Umur 20-40 tahun : Saranis tiap 3 tahun dan mamografi awal (usia 35-40 tahun)
c. Usia 40-50 tahun : mamografi tiap 1-2 tahun, Saranis tiap tahun (tentang riwayat
kesehatan dan ajuran dokter)
d. Usia lebih 50 tahun : Mamografi tahunan dan Saranis tahunan

c. Pencegahan

tersierdiarahkan

untuk

pada

populasi

symptomatik

(sudah

menimbulkan gejala penyakit) yang bertujuan untuk menurunkan komplikasi atau


kecacatan.
Jika telah terdiagnosis maka penanganan atau tindakan-tindakan yabg dapat dilakukan
adalah pengobatan medis yang meliputi :
1. Terapi hormonal
Dasar pengobatan hormonal adalah ada bukti bahwa estrogen merangsang
proliferasi sel kanker payudara. Contoh : Tamoxifen
2. Kemoterafi
3. Pengobatan ajuvan
Pengobatan untuk membuat regresi tumor sebelum operasi terhadap suatu tumor
besar yang masih operabel
4. Pengobatan paliatif
Pengobatan paliatif merupakan pengobatan alternatif terakhir untuk mendukung
kehidupan penderita. Bentuk utama pengobatan paliatif adalah pengobatan
nyeri. Sekitar 60% penderita kanker menderita nyeri