Anda di halaman 1dari 10

Anggaran Perencanaan dan Belanja Negara (APBN)

PENDAHULUAN
Anggaran negara pada suatu tahun secara sederhana bisa dibaratkan dengan anggaran
perusahaan yang memiliki dua sisi, yaitu sisi penerimaan dan sisi pengeluaran. Sisi penerimaan
anggaran perusahaan banyak ditentukan oleh hasil penerimaan dari penjualan produk, yang
dipengaruhi oleh daya beli masyarakat sebagai cerminan pertumbuhan ekonomi. Adapun sisi
pengeluaran anggaran perusahaan dipengaruhi antara lain oleh perubahan harga bahan baku, tarif
listrik dan bahan bakar minyak (BBM), perubahan ketentuan upah, yang secara umum mengikuti
perubahan tingkat harga secara umum. Ketidakpastian yang dihadapi perusahaan dalam
menyusun anggaran juga dihadapi oleh para perencana anggaran negara yang bertanggungjawab
dalam penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN). Setidaknya
terdapat enam sumber ketidakpastian yang berpengaruh besar dalam penentuan volume APBN
yakni harga minyak bumi di pasar internasional, kuota produksi minyak mentah yang ditentukan
OPEC, pertumbuhan ekonomi, inflasi, suku bunga; dan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar
Amerika (USD). Penetapan angka-angka keenam unsur diatas memegang peranan yang sangat
penting dalam penyusunan APBN. Hasil penetapannya disebut sebagai asum-asumsi dasar
penyusunan RAPBN.
Dalam Pasal 1 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 dijelaskan pengertian keuangan
Negara yaitu Keuangan Negara adalah semua hak dan kewajiban Negara yang dapat dinilai
dengan uang, serta segala sesuau baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan
milik Negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. (Undang-undang
No.17 tahun 2003)
Penganggaran disektor pemerintahan merupakan suatu proses yang kompleks dan
panjang serta tidak dapat dilepaskan dari sector politis. Kompleksitas disebabkan karena belum
adanya kesempatan yang dapat diterima semua pihak tentang bagaimana pengalokasian sumber
dana pemerintah secara tertib. Ketidaksepakatan tersebut antara lain disebabkan masalah politis,
adanya nilai-nilai kepemimpinan yang berbeda diantara pengambil keputusan, serta adanya
perdebatan tentang bagaimana suatu system penganggaran dapat memuaskan semua pihak yang
terkait maka alokasi anggaran sekarang didasarkan kepada target kinerja.

ISI
Pengertian APBN
Anggaran pendapat dan belanja Negara (APBN) adalah rencana keuangan tahunan
pemerintahan Negara Indonesia yang disetujui oleh dewan perwakilan Rakyat. APBN berisi
daftar sistematis dan terperinci yang memuat rencana pemerintahan dan pengeluaran Negara
selama satu tahun anggaran (1 Januari 31 Desember). APBN, perubahan APBN, dan
pertanggung jawaban APBN setiap tahun ditetapkan dengan Undang-Undang .
Tahapan penyusunan APBN
Pemerintah mengajukan Rancangan APBN dalam bentuk RUU tentang kepada DPR.
Setelah melalui pembahasan, DPR menetapkan Undang Undang tentang APBN selambatlambatnya 2 bulan sebelum tahun anggaran dilaksanakan. Ada 3 cara dalam penyusunan APBN
yaitu:

1) TOP DOWN (dari atas ke bawah)


Cara ini pemerintahan pusat sudah menghitung setinggi-tingginya anggaran sesuai
rencana kegiatan dan program yang akan dilaksanakan tahun berjalan.
Kelebihan :
Karena sudah diatur dan ditetapkan oleh pemerintahan pusat maka pelaksanaannya
kemungkinaan besar bisa lebih efesien karena mau tidak mau masing-masing departemen harus
menggunakan anggaran sebaik-baiknya sesuai yang diberikan pemerintah pusat.
Selain itu waktu dan proses penyelenggaran perencanaan juga lebih singkat/cepat karena tidak
menunggu pendapat/usulan dari departemen yang bawah.
Anggaran juga lebih bisa di tekan atau lebih sedikit karena yang memperkirakan pemerintah
pusat.
Prosesnya tidak begitu rumit karena tidak banyak hierarki dalam menetapkan anggaran.
Kelemahan :
Departement yang dibawah tidak bisa menaikkan perencanaan atau usulan karena sudah di
tetapkan oleh pemerintah pusat dan bisa terjadi kemungkinan pelaksanaan anggaran tidak sesuai
dengan hasilnya.
Biayanya terkadang lebih tinggi karena antara kenyataan pelaksanaan dengan anggaran berbeda.
Prosesnya terkesan otoriter karena keputusan diambil pihak pemerintah pusat pusat saja.
Terkadang anggaran kurang merata sampai ke tingkat paling bawah dan kecil.
2) BOTTOM UP (dari bawah ke atas)
Cara ini masing-masing satuan unit paling bawah dalam suatu lembaga/departemen
diatasnya, menyusun anggarannya dan selanjutnya dinaikan keatasnya secara hierarki sampai ke
lembaga/departemen (Ketua/Menteri), dan ke menteri keuangan/Bapenas untuk di susun RAPBN
secara keseluruhan diseluruh lembaga/departemen yang ada.
Kelebihan :
Karena penyusunannya hierarki dari departemen bawah kemudian dinaikan keatasnya maka
dalam pelaksanaan dan penetapan anggaran lebih tepat sesuai kebutuhan masing-masing
departement.
Lebih bersifat kapital karena mempertimbangkan usulan dari departement bawah dalam
penyusunan anggaran dengan usulan setinggi-tingginya sesuai kebutuhan.
Lebih teliti dalam menetapkan anggaran karena banyak tingkatan yang dilalui dalam menaikan
usulan anggaran yang di ajukan departemen bawah.
Anggaran bisa lebih merata ke tingkat paling bawah karena mempertimbangkan usulan paling
bawah dalam penyusunan.
Kelemahan :
Proses pembuatan/penyusunan memakan waktu dan biaya yang lama karena harus menunggu
usulan departemen yang kemudian ke atasnya secara hierarki sehigga biaya yang dibutuhkan
juga semakin mahal dan menetukan anggaran juga lebih rumit.
Kemungkanan usulan anggaran yang diajukan departemen bawah lebih besar / terlampau tinggi
Jika pengawasannya tidak teliti bisa terjadi penyelewengan.
3) MIXING (campuran)
Cara ini dimana pemerintah atasan (Bapennas dan atau Menteri Keuangan) sudah
mempunyai anggaran setinggi-tingginya, akan tetapi sebelum menyusun rancangan APBN masih
menunggu usulan anggaran dari lembaga dan departemen atau unit-unit dibawahnya.
Kebaikan :

Lebih bersifat demokratis karena dalam menyusun anggaran meskipun pemeritah mempunyai
anggaran tapi masih menunggu usulan/departemen bawah.
Terpenuhi kebutuhan anggaran setiap departemen bawah sehingga lebih merata dan adil karena
anggaran yang ditentukan pemerintah sesuai usulan yang di ajukan departemen bawah sehigga
lebih efektif biayanya.
Perhitungan kemungkinan bisa balance karena ada kesempatan antara perencanaan anggaran
dengan usulan.
Kelemahan :
Prosesnya lebih rumit karena perlu menyesuaikan antara usulan departemen dengan anggaran
yang dipunyai pemerintah.
Butuh waktu yang lama agar terjadi kesesuaian karena menunggu usulan unit-unit yang dibawah.
Terkadang Usulan yang diajukan unit bawah melebihi anggaran yang di berikan pemerintah.

Pelaksanaan APBN
Setelah APBN ditetapkan dengan Undang-undang, pelaksanaan APBN dituangkan lebih
lanjut dengan Peraturan Presiden. Berdasarkan perkembangan, ditengah-tengah berjalannya
tahun anggaran, APBN dapat mengalami revisi/perubahan. Untuk melakukan revisi APBN
pemeritah harus mengajukan RUU perubahan APBN untuk mendapatkan persetujuan DPR.
Perubahan APBN dilakukan paling lambat akhir maret, setelah pembahasan dengan Badan
anggaran DPR. Dalam keadaan darurat (misalnya terjdi bencana alam), Pemerintah dapat
melakukan pengeluaran yang belum tersedia anggarannya.
Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBN
Selambatnya 6 bulan setelah anggaran berakhir, Presiden menyampaikan RUU tentang
Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBN kepada DPR berupa Laporan keuangan yang telah
diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan.
Sumber Penerimaan APBN
Penerimaan APBN diperoleh dari berbagai sumber yaitu:
1) Penerimaan pajak yang meliputi,
Pajak Penghasilan (PPh)
Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) & Cukai
Pajak lainnya seperti pajak perdagangan (Bea masuk dan Pajak/pungutan ekspor)
2) Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) meliputi,
Penerimaan dari sumber daya alam
Setoran laba BUMN
Penerimaan bukan pajak lainnya
F. Struktur APBN
Belanja Negara terdiri atas dua jenis :
1) Belanja Pemerintah Pusat, adalah belanja yang digunakan untuk membiayai kegiatan
pembangunan pemerintah pusat, baik yang dilaksanakan dipusat maupun didaerah. Belanja
pemerintah pusat dapat dikelompokkan menjadi: Belanja pegawai, belanja barang, belanja
modal, pembiayaan bunga utang, subsidi BBM dan subsidi non-BBM, belanja hibah, belanja
social (termasuk penanggulangan bencana) dan belanja lainnya.

2) Belanja Daerah, adalah belanja yang dibagi-bagi ke Pemerintah Daerah, untuk kemudian
masuk dalam pendapatan APBD daerah yang bersangkutan. Belanja Daerah meliputi:
Dana Bagi Hasil
Dana Alokasi Umum
Dana Alokasi Khusus
G. Asumsi APBN
Dalam penyusunan APBN, pemerintah menggunakan indikator-indikator perekonomian
makro, yaitu :
1) Produk Domestik Bruto (PDB) dalam rupiah
2) Pertumbuhan ekonomi tahunan (%)
3) Inflasi (%)
4) Nilai tukar rupiah per USD
5) Suku bunga SBI per 3 bulanan (%)
6) Harga minyak Indonesia (USD/barel)
7) Produksi minyak Indonesia (barel/hari)
H. Fungsi APBN
APBN merupakan instrument utuk mengatur pengeluaran dan pendapatan Negara dalam
rangka membiayai pelaksanaan kegiatan pemerintahan dan pembangunan, mencapai
pertumbuhan ekonomi, meningkatkan pendapatan nasional, mencapai stabilitas perekonomian,
dan menentukan arah serta prioritas pembangunan secara umum.
Semua penerimaan yang menjadi hak dan pengeluaran yang menjadi kewajiban Negara
dalam suatu tahun anggaran harus dimasukkan dalam APBN. Surplus penerimaan Negara dapat
digunakan untuk membiayai pengeluaran negara tahun anggaran berikutnya.
APBN mempunyai fungsi otorisasi, perencanaan, pengawasan, alokasi, distribusi, dan
stabilisasi.
1) Fungsi otorisasi, mengandung arti bahwa anggaran Negara menjadi dasar untuk melaksanakan
pendapatan dan belanja pada tahun yang besangkutan. Dengan demikian pembelanjaan atau
pendapatan dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat.
2) Fungsi perencanaan, mengandung arti bahwa anggaran Negara dapat menjadi pedoman bagi
Negara untuk merencanakan kegiatan pada tahun tersebut. Apabila suatu pembelanjaan telah
direncanakan sebelumnya, maka Negara dapat membuat rencana-rencana untuk mendukung
pembelanjaan tersebut. Misalnya telah membangun proyek pembangunan jalan dengan nilai
sekian miliar. Maka pemerintah direncanakan dan dianggarkan akan dapat mengambil tindakan
untuk mempersiapkan proyek tersebut agar bisa berjalan dengan lancar.
3) Fungsi pengawasan, berarti anggaran Negara harus menjadi pedoman untuk menilai apakah
kegiatan penyelenggaraan pemerintah Negara sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
Dengan demikian akan mudah bagi rakyat untuk menilai apakah tindakan pemerintah
menggunakan uang Negara untuk keperluan tertentu itu dibenarkan atau tidak.
4) Fungsi alokasi, berarti bahwa anggaran negara harus diarahkan untuk mengurangi pengangguran
dan pemborosan sumber daya serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas perekonomian.
5) Fungsi distribusi, berarti bahwa kebijakan anggaran Negara harus memperhatikan rasa keadilan
dan kepatutan.
6) Fungsi stabilisasi, memiliki makna bahwa anggaran pemerintah menjadi alat untuk memelihara
dan mengupayakan keseimbangan fundamental perekonomian.
I. Prinsip penyusunan APBN
Berdasarkan aspek pendapatan, prinsip penyusunan APBN ada tiga, yaitu :

1) Intensifikasi penerimaan anggaran dalam jumlah dan kecepatan penyetoran


2) Intensifikasi penagihan dan pemungutan piutang Negara
3) Penuntutan ganti rugi atas kerugian yang diderita oleh Negara dan penuntutan denda.
Sedangkan berdasarkan aspek pengeluaran, prinsip penyusunan APBN yaitu :
1) Hemat, efesien, dan sesuai dengan kebutuhan
2) Terarah, terkendali, sesuai dengan rencana program atau kegiatan
3) Semaksimal mungkin menggunakan hasil produksi dalam negeri dengan memperhatikan
kemampuan atau potensi nasional.
J. Azas penyusunan APBN
APBN disusun dengan berdasarkan azas-azas:
1) Kemandirian, yaitu meningkatkan sumber penerimaan dalam negeri
2) Penghematan atau peningkatan efisiensi dan produktivitas
3) Penajaman prioritas pembangunan
4) Menitikberatkan pada azas-azas dan undang-undang Negara
K. Komponen-komponen Anggaran Pemdapatan Belanja Negara (APBN)
Komponen-komponen APBN terdiri dari :
1) Penerimaan Negara dan Hibah, yang meliputi penerimaan pajak, penerimaan bukan pajak,
dan hibah.
2) Pengeluaran/Belanja Negara, yang digunakan untuk keperluan penyelenggaraan tugas
pemerintahan pusat dan pelaksanaan perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah.
3) Pembiayaan Defisit (Pembiayaan Anggaran), yaitu setiap penerimaan yang perlu dibayar
kembali dan atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang
bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya.

L. Kebijakan Anggaran Pendapatan Belanja Negara


Kebijakan anggaran / politik anggaran yaitu ;
Anggaran Defisit (Defisit Budget) / Kebijakan Fiskal Ekspansif
Anggaran defisit adalah kebijakan pemerintah untuk membuat pengeluaran lebih besar dari
pemasukan Negara guna member stimulus pada perekonomian. Umumnya sangat baik
digunakan jika keadaan ekonomi sedang resesif.
Anggaran Surplus (Surplus Budget) / Kebijakan Fiskal Kontraktif
Anggaran surplus adalah kebijakan pemerintah untuk membuat pemasukan lebih besar daripada
pengeluarannya. Baiknya politik anggaran surplus dilaksanakan ketika perekonomian pada
kondisi yang ekspansi yang mulai memanas (overheating) untuk menurunkan tekanan
permintaan.
Anggaran Berimbang (Balanced Budget)
Anggaran berimbang terjadi ketika pemerintah menetapkan pengeluaran sama besar dengan
pemasukan. Tujuan politik anggaran berimbang yakni terjadinya kepastian anggaran serta
meningkatkan disiplin.

M. Kelebihan dan Kekurangan dari Kebijakan Anggaran Defisit, Surplus, dan Berimbang
Kelebihan dari anggaran defisit adalah :
1) Mendukung ekspansi fiskal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi ditengah
situasi perekonomian global yang tengah dalam proses pemulihan.

2) Menjaga kesinambungan fiskal


3) Mendorong pertumbuhan ekonomi karena melakukan efisiensi jenis belanja tertentu untuk
mengurangi tekanan fiskal.
Kekurangan dari anggaran defisit adalah :
1) Pengangguran besar-besaran
2) Lapangan kerja sulit didapatkan
Kelebihan dari anggaran surplus adalah :
1) Pengangguran berkurang
2) Lapangan kerja terpenuhi
3) Kehidupan makmur
Kekurangan dari anggaran surplus adalah :
1) Adanya kesenjangan social jika tidak merata
2) Menjajah Negara lain yang mengalami masalah keuangan
Kelebihan dari anggaran berimbang adalah :
1) Keuangan selalu stabil dalam penilaian statistic
2) Selalu mengalami kecukupan dalam setiap periode
Kekurangan dari anggaran berimbang adalah :
1) Anggaran yang selalu stagnan
2) Sulit berkembang
N. Negara-negara yang mengalami kebijakan anggaran defisit, surplus, dan berimbang
Negara yang mengalami anggaran defisit adalah :
1) Portugal
2) Irlandia
3) Yunani
4) Spanyol
5) Indonesia
Negara-negara yang mengalami anggaran surplus adalah :
1) Inggris
2) Jerman
3) Perancis
4) Jepang
Negara-negara yang mengalami anggaran berimbang adalah :
1) Cina
2)
Arab
Saudi

PENUTUP
A. Kesimpulan
Penyusunan anggaran senantiasa dihadapkan pada ketidakpastian pada kedua sisi.
Misalnya, sisi penerimaan anggaran rumah tangga akan sangat tergantung pada ada atau tidaknya
perubahan gaji/upah bagi rumah tangga yang memilikinya. Demikian pula sisi pengeluaran
anggaran rumah tangga, banyak dipengaruhi perubahan harga barang dan jasa yang dikonsumsi.
Sisi penerimaan anggaran perusahaan banyak ditentukan oleh hasil penerimaan dari penjualan

produk, yang dipengaruhi oleh daya beli masyarakat sebagai cerminan pertumbuhan ekonomi.
Adapun sisi pengeluaran anggaran perusahaan dipengaruhi antara lain oleh perubahan harga
bahan baku, tarif listrik dan bahan bakar minyak (BBM), perubahan ketentuan upah, yang secara
umum mengikuti perubahan tingkat harga secara umum. Ketidakpastian yang dihadapi rumah
tangga dan perusahaan dalam menyusun anggaran juga dihadapi oleh para perencana anggaran
negara yang bertanggungjawab dalam penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara (RAPBN). Setidaknya terdapat enam sumber ketidakpastian yang berpengaruh besar
dalam penentuan volume APBN yakni (i) harga minyak bumi di pasar internasional; (ii) kuota
produksi minyak mentah yang ditentukan OPEC; (iii) pertumbuhan ekonomi; (iv) inflasi; (v)
suku bunga; dan (vi) nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika (USD). Penetapan angka-angka
keenam unsure diatas memegang peranan yang sangat penting dalam penyusunan APBN. Hasil
penetapannya disebut sebagai asum-asumsi dasar penyusunan RAPBN. Penerimaan dan
pengeluaran untuk anggaran negara lazim disebut pendapatan dan belanja.
B. Saran
Sebagai saran, kami ingin menegaskan kembali bahwa APBN bukanlah tujuan itu sendiri,
tetapi instrument untuk mencapai tujuan dan sasaran pembangunan. Kita ikut bertanggung jawab
untuk menggunakan instrument anggaran dengan sebaik-baiknya.
Selanjutnya untuk kesempurnaan makalah ini kami mengharapkan kritik dan saran
pembaca ke alamat e-mail puput_tiwi@yahoo.com. Diharapkan kritik dan saran yang sifatnya
membangun dan buka memojokkan.

Kebijakan Anggaran Berimbang, Tidak Berimbang, Dinamis, Defisit, dan Surplus, Ekonomi Kebijakan anggaran ialah kebijakan yang digunakan perintah untuk mengelola/mengarahkan
perekonomian ke kondisi yang lebih baik atau yang diinginkan dengan cara mengubah
penerimaan dan pengeluaran pemerintah. Kebijakan anggaran ini lebih dikenal dengan nama
kebijakan fiskal. Di Indonesia, kebijakan ini berkaitan dengan APBN di tingkat pusat dan APBD
di tingkat daerah. Pemerintah menggunakan kebijakan anggaran untuk mengendalikan dan
mencatat hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan kebijakan fiskal.
Pada dasarnya kebijakan anggaran terbagi atas dua macam, yaitu kebijakan anggaran berimbang
dan kebijakan anggaran tidak berimbang.
1. Kebijakan Anggaran Berimbang
Kebijakan anggaran berimbang ialah kebijakan anggaran yang jumlah penerimaan (dari sektor
migas, nonmigas, dan pajak) dengan pengeluaran pemerintah sama besarnya. Indonesia selama
Pembangunan Jangka Panjang tahap I/PJP I (1969/19701994/1995) menerapkan anggaran
berimbang dinamis.
Berimbang berarti jumlah keseluruhan pengeluaran negara selalu sama dengan penerimaan
negara.
Dengan kata lain, keadaan berimbang berarti besarnya penerimaan (A+B) tetap diusahakan sama
dengan pengeluaran (C+D). Jika terjadi perubahan pada salah satu dari empat komponen APBN,
komponen lainnya harus ikut disesuaikan agar (A+B) selalu sama dengan (C+D). Lihat struktur
dasar APBN.
Sisi Penerimaan
A. Penerimaan dalam negeri
B. Penerimaan pembangunan

Sisi Pengeluaran
C. Pengeluaran rutin
D. Pengeluaran pembangunan

Dalam kebijakan anggaran berimbang dinamis, biasanya disertai dengan peningkatan nilai
APBN dalam setiap perubahan tahun anggaran.
Dinamis berarti bahwa dalam penerimaan lebih mudah dari yang direncanakan semula,
pemerintah akan menyesuaikan pengeluaran agar tetap terjaga keseimbangannya. Demikian pula
dalam hal penerimaan negara melebihi dari yang direncanakan, masih memungkinkan
dibentuknya cadangan yang akan dimanfaatkan pada saat penerimaan negara tidak cukup untuk
mendukung program yang direncanakan.
2. Kebijakan Anggaran Tidak Berimbang

Anggaran tidak berimbang dibedakan atas anggaran defisit (deficit budget) dan anggaran surplus
(surplus budget). Pada tahun tertentu, pemerintah pada umumnya mengalami surplus atau defisit
dalam anggarannya. Defisit anggaran terjadi jika pengeluaran melebihi penerimaan dari pajak
dan migas. Kebijakan anggaran defisit ditempuh jika pemerintah ingin meningkatkan
pertumbuhan ekonomi. Hal ini dilakukan jika perekonomian dalam keadaan resesi. Defisit
anggaran bukan hal yang baru dalam kebijakan fiskal suatu negara. Pengoperasian anggaran
defisit merupakan alat kebijakan fiskal yang memungkinkan pemerintah memengaruhi
permintaan agregat dan lapangan kerja suatu perekonomian.
Kebalikan dari anggaran defisit adalah anggaran surplus. Surplus anggaran terjadi jika seluruh
penerimaan pajak dan penerimaan-penerimaan lainnya melebihi pengeluaran pemerintah.
Kebijakan anggaran surplus dilakukan jika perekonomian sedang berada dalam tahap ekspansi
dan terus memanas (overheating) sehingga inflasi naik. Melalui anggaran surplus, pemerintah
menghemat pengeluarannya untuk menurunkan tekanan permintaan atau mengurangi daya beli
masyarakat dengan cara menaikkan pajak.
Tabel 1. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada 2003 (dalam miliar rupiah)

Melalui kebijakan anggaran berimbangnya, APBN Indonesia disusun sedemikian rupa sehingga
secara akuntansi besarnya pengeluaran negara selalu sama dengan penerimaan negara. Padahal,
secara ekonomi anggaran belanja Indonesia selalu defisit, dalam arti besarnya pengeluaran
negara selalu lebih besar daripada penerimaan negara. Sejak tahun 2000, prinsip anggaran
berimbang Indonesia diubah menjadi anggaran defisit yang dibiayai oleh sumber-sumber
pembiayaan dari dalam dan luar negeri.

Dalam format APBN sekarang ini, terjadi perubahan dalam periode APBN dari AprilMaret
menjadi JanuariDesember yang akan memudahkan para pengamat ekonomi untuk melihat dan
mengevaluasi dampak APBN terhadap perekonomian. Format APBN baru yang terdiri atas satu
lajur ini juga akan memberikan informasi yang lebih transparan tentang kebijakan anggaran yang
ditempuh pemerintah. Selain itu, format APBN yang ada pada saat ini menyiratkan bahwa
pemerintah semakin memerhatikan aspek demokrasi dan desentralisasi. Hal ini ditujukan untuk
memberikan wewenang keuangan kepada pemerintah daerah dengan memperhatikan
kepentingan daerah dan nasional yang terlihat dari adanya pos dana perimbangan.
3. Kebijakan Anggaran Anggaran Dinamis [1]
Anggaran dinamis adalah anggaran yang selalu meningkat dibandingkan anggaran tahun
sebelumnya. Selain itu diusahakan meningkatkan pendapatan dan penghematan dalam
pengeluarannya, sehingga dapat meningkatkan tabungan pemerintah/negara untuk kemakmuran
masyarakat.
4. Kebijakan Anggaran Anggaran Defisit [1]
Anggaran defisit adalah anggaran dengan pengeluaran negara lebih besar daripada penerimaan
negara. Intinya, penerimaan rutin dan penerimaan pembangunan tidak mencukupi untuk
membiayai seluruh pengeluaran pemerintah. Dengan kata lain, defisit APBN terjadi apabila
pemerintah harus meminjam dari bank sentral atau harus mencetak uang baru untuk membiayai
pembangunannya.
5. Kebijakan Anggaran Anggaran Surplus [1]
Anggaran surplus adalah anggaran dengan penerimaan negara lebih besar daripada pengeluaran.
Kebijakan ini dijalankan bila keadaan ekonomi sedang dilanda inflasi (kenaikan harga secara
terus-menerus), sehingga anggaran harus menyesuaikan kenaikan harga barang atau jasa.
Anda sekarang sudah mengetahui Kebijakan Anggaran. Terima kasih anda sudah berkunjung ke
Perpustakaan Cyber.