Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

KEWARGANEGARAAN

KASUS PELANGGARAN HAM MARSINAH

DISUSUN OLEH :

MUHAMMAD RIDWAN SISWANTO


(2013320008)

FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN


TEKNIK SISTEM PERKAPALAN
MATA KULIAH : KEWARGANEGARAAN

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan
Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan
penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat
sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu
acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam mempelajari
mengenai HAM di Indonesia.
Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk
maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang
saya miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para
pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun
untuk kesempurnaan makalah ini.

Bekasi, oktober 2014

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Hak Asasi Manusia merupakan unsur normatif yang melekat pada diri setiap manusia sejak
manusia masih dalam kandungan sampai akhir kematiannya sebagai anugrah Tuhan. Di
dalamnya tidak jarang menimbulkan gesekan-gesekan antar individu dalam upaya pemenuhan
HAM pada dirinya sendiri. Hal inilah yang kemudian bisa memunculkan pelanggaran HAM
seorang individu terhadap individu lain, kelompok terhadap individu, ataupun sebaliknya.
Memperbincangkan marutnya dinamika hak asasi manusia, khususnya perburuhan selama
dekade terakhir nampaknya cukup mengingatkan pada nama ini: Marsinah. Terdapat alasan pasti
untuk menghadirkan kembali ingatan tentang orang tersebut: misteri kematiannya yang tidak
pernah terungkap hingga sekarang. Tidak pernah diketahui secara pasti oleh siapa ia dianiaya dan
dibunuh, kapan dan di mana ia mati pun tak dapat diketahui dengan jelas, apakah pada Rabu
malam 5 Mei 1993 atau beberapa hari sesudahnya. Liputan pers, pencarian fakta, penyidikan
polisi, pengadilan sekalipun nyatanya belum mampu mengungkap kasusnya secara tuntas dan
memuaskan. Kendati hakim telah memvonis siapa yang bersalah dan dihukum, orang tak percaya
begitu saja; sementara kunci kematiannya tetap gelap sampai kini, lebih dari satu dasawarsa
berselang.
Barangkali memang bukan fakta-fakta pembunuhan itu yang menjadi penting di sini, melainkan
jalinan citra yang lantas tersaji melalui serangkaian representasi media yang rumit. Para
pembunuh mengesankan Marsinah diperkosa. Segenap aktivis menyanjungnya sebagai teladan
kaum pejuang buruh. Para aparat pusat dibantu aparat setempat konon merekayasa penyidikan
sekaligus membuat skenario pengadilan, termasuk dilibatkannya tersangka palsu dalam
rangkaian pengungkapan kasus tersebut. Tak ketinggalan, para aktivis hak asasi manusia

menganugerahi Yap Thiam Hien Award bagi kegigihannya. Termasuk para seniman yang
mengabadikannya dalam monumen, patung, lukisan, panggaung teater dan seni rupa instalasi;
para feminis mengagungkannya sebagai korban kekerasan terhadap perempuan dan khalayak
awam yang prihatin dan simpati memberi sumbangan bagi keluarganya.
Pada aras citra inilah tulisan ini kemudian mengambil pijakan. Mungkin orang tak akan banyak
tahu siapa Marsinah seandainya ia tidak dibunuh dan kasusnya tidak gencar diberitakan oleh
media massa. Ia tidak hanya dianggap mewakili nasib malang jutaan buruh perempuan yang
menggantungkan masa depannya pada pabrik-pabrik padat berupah rendah, berkondisi kerja
buruk sekaligus tak terlindungi hukum. Lebih dari itu, mediasi dan artikulasi pembunuhannya
menyediakan arena diskursif bagi pertarungan berbagai kepentingan dan hubungan kuasa: buruhburuh, pengusaha, serikat buruh, lembaga swadaya masyarakat, birokrasi militer, kepolisian dan
sistem peradilan.
Setelah reformasi tahun 1998, Indonesia mulai mengalami kemajuan dalam bidang penegakan
HAM bagi seluruh warganya. Instrumen-instrumen HAM pun didirikan sebagai upaya
menunjang komitmen penegakan HAM yang lebih optimal. Namun seiring dengan kemajuan ini,
pelanggaran HAM kemudian juga sering terjadi di sekitar kita karena semakin egoisnya manusia
dalam pemenuhan hak masing-masing. Untuk itulah kami menyusun makalah yang berjudul
Kasus Pelanggaran Hak Asasi Manusia Di Indonesia Marsinah, untuk memberikan informasi
mengenai apa itu pelanggaran HAM diikuti seluk beluk kasus Marsinah.

Rumusan Masalah

Sesuai dengan judul makalah ini Kasus Pelanggaran Hak Asasi Manusia Marsinah, maka
masalah yang dapat diidentifikasi sebagai berikut :

Bagaimana tanggapan serta upaya penyelesaian kasus pelanggaran HAM Marsinah dari
pihak berwenang ?

Tujuan

Tujuan kami mengangkat materi ini tentang kasus hak asasi manusia di Indonesia yaitu :

Mengetahui lebih dalam mengenai terjadinya kasus Marsinah.


Upaya pemerintah dalam penyelesaian pelanggaran HAM khususnya kasus Marsinah.

Manfaat

Hasil pembelajaran ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi penulis dan pembaca.
-

Manfaat bagi penulis, pengkajian ini memberikan pengetahuan tentang pelanggaran hak asasi

manusia di Indonesia.
-

Manfaat dari pembaca, pengkajian ini dapat digunakan sebagai bahan kajian atau referensi

tambahan bagi ilmu kenegaraan serta memperkaya informasi.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Pelanggaran Hak Asasi Manusia
Menurut Pasal 1 Angka 6 UU No. 39 Tahun 1999 yang dimaksud dengan pelanggaran hak asasi
manusia adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara, baik
disengaja maupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara hukum mengurangi, menghalangi,
membatasi dan atau mencabut hak asasi manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin
oleh undang-undang dan tidak mendapatkan atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh
penyesalan hukum yang adil dan benar berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku.
Menurut UU no 26 Tahun 2000 tentang pengadilan HAM, Pelanggaran HAM adalah setiap
perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara baik disengaja atau kelalaian
yang secara hukum mengurangi, menghalangi, membatasi, dan atau mencabut Hak Asasi
Manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh Undang-Undang ini, dan tidak
didapatkan, atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar,
berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku.
Dengan demikian pelanggaran HAM merupakan tindakan pelanggaran kemanusiaan baik
dilakukan oleh individu maupun oleh institusi negara atau institusi lainnya terhadap hak asasi
individu lain tanpa ada dasar atau alasan yuridis dan alasan rasional yang menjadi pijakannya.
2.2 Klasifikasi Pelanggaran HAM di Indonesia
Pelanggaran HAM dikategorikan dalam dua jenis, yaitu :
Kasus pelanggaran HAM yang bersifat berat, meliputi :
1. Pembunuhan massal (genosida)

Genosida adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau
memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras, etnis, dan agama dengan cara
melakukan tindakan kekerasan. (UUD No.26/2000 Tentang Pengadilan HAM).
2. Kejahatan Kemanusiaan
Kejahatan kemanusiaan adalah suatu perbuatan yang dilakukan berupa serangan yang ditujukan
secara langsung terhadap penduduk sipil seperti pengusiran penduduk secara paksa,
pembunuhan,penyiksaan, perbudakkan dll.
Kasus pelanggaran HAM yang biasa, meliputi :
1. Pemukulan
2. Penganiayaan
3. Pencemaran nama baik
4. Menghalangi orang untuk mengekspresikan pendapatnya
5. Menghilangkan nyawa orang lain
2.3 Contoh Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Indonesia
Kasus Marsinah (1993)
Kasus tersebut berawal dari unjuk rasa buruh yang dipicu surat edaran gubernur setempat
mengenai penaikan UMR. Namun PT. CPS, perusahaan tempat Marsinah bekerja memilih
bergeming. Kondisi ini memicu geram para buruh.
Senin 3 Mei 1993, sebagian besar karyawan PT. CPS berunjuk rasa dengan mogok kerja hingga
esok hari. Ternyata menjelang selasa siang, manajemen perusahaan dan pekerja berdialog dan
menyepakati perjanjian. Intinya mengenai pengabulan permintaan karyawan dengan membayar
upah sesuai UMR. Sampai di sini sepertinya permasalahan antara perusahaan dan pekerja telah
beres.

Namun esoknya 13 buruh yang dianggap menghasut unjuk rasa digiring ke Komando Distrik
Militer (Kodim) Sidoarjo untuk diminta mengundurkan diri dari CPS. Marsinah marah dan tidak
terima, ia berjanji akan menyelesaikan persoalan tersebut ke pengadilan. Beberapa hari
kemudian, Marsinah dikabarkan tewas secara tidak wajar. Mayat Marsinah ditemukan di gubuk
petani dekat hutan Wilangan, Nganjuk tanggal 9 Mei 1993. Posisi mayat ditemukan tergeletak
dalam posisi melintang dengan kondisi sekujur tubuh penuh luka memar bekas pukulan benda
keras, kedua pergelangannya lecet-lecet, tulang panggul hancur karena pukulan benda keras
berkali-kali, pada sela-sela paha terdapat bercak-bercak darah, diduga karena penganiayaan
dengan benda tumpul dan pada bagian yang sama menempel kain putih yang berlumuran darah.
Secara resmi, Tim Terpadu telah menangkap dan memeriksa 10 orang yang diduga terlibat
pembunuhan terhadap Marsinah. Salah seorang dari 10 orang yang diduga terlibat pembunuhan
tersebut adalah Anggota TNI. Hasil penyidikan polisi ketika menyebutkan, Suprapto (pekerja di
bagian control CPS) menjemput Marsinah dengan motornya di dekat rumah kos Marsinah. Dia
dibawa ke pabrik, lalu dibawa lagi dengan Suzuki Carry putih ke rumah Yudi Susanto di Jalan
Puspita, Surabaya. Setelah tiga hari Marsinah disekap, Suwono (satpam CPS) mengeksekusinya.
Di pengadilan, Yudi Susanto divonis 17 tahun penjara, sedangkan sejumlah stafnya yang lain itu
dihukum berkisar empat hingga 12 tahun, namun mereka naik banding ke Pengadilan Tinggi dan
Yudi Susanto dinyatakan bebas. Dalam proses selanjutnya pada tingkat kasasi, Mahkamah
Agung Republik Indonesia membebaskan para terdakwa dari segala dakwaan (bebas murni).
Putusan Mahkamah Agung RI tersebut, setidaknya telah menimbulkan ketidakpuasan sejumlah
pihak sehingga muncul tuduhan bahwa penyelidikan kasus ini adalah direkayasa.
Kasus kematian Marsinah menjadi misteri selama bertahun-tahun hingga akhirnya kasusnya
kadaluarsa tepat tahun ini, tahun 2014. Mereka yang tertuduh dan dijadikan kambing hitam
dalam kasus ini pun akhirnya dibebaskan oleh Mahkamah Agung. Di zaman Orde Baru, atas
nama stabilitas keamanan dan politik, Negara telah berubah wujud menjadi sosok yang
menyeramkan, siap menculik, mengintimidasi dan bahkan menghilangkan secara paksa siapa
saja yang berani berteriak atas nama kebebasan menyuarakan aspirasi.
Upaya Pemajuan Hak Asasi Manusia di Indonesia

1) Periode tahun 1945 1950 Di periode ini, pemikiran HAM masih menekankan pada hak
merdeka, hak bebas berserikat, serta hak bebas menyampaikan pendapat. Pemikiran HAM telah
mendapat pengakuan secara formal karena telah memperoleh pengaturan dan masuk ke dalam
hukum dasar negara, yaitu UUD 1945. Komitmen terhadap HAM pada periode awal kerdekaan
ditunjullam dalam Maklumat Pemerintah tanggal 1 November 1945. Di periode ini (1945-1950)
memberikan keleluasaan terhadap rakyat untuk mendirikan partai politik sebagaimana yang telah
tertera pada Maklumat Pemerintah pada tanggal 3 November 1945 :
1. Pemerintah menyukai timbulnya partai-partai politik karena segala aliran paham yang ada
dalam masyarakat dapat dipimpin ke jalan yang teratur dengan adanya partai-partai
tersebut.
2. Pemerintah berharap partai-partai itu telah tersusun sebelum dilangsukannya pemilihan
anggota badan perwakilan rakyat pada Januari 1946. Hal ini berkaitan dengan adanya
perubahan yang signifikan terhadap sistem pemerintahan dari presidensial menjadi sistem
parlementer.
2) Periode tahun 1950 1959 Periode ini dalam perjalanan, Indonesia dikenal dengan sebutan
Periode Demokrasi Parlementer dimana pemikiran HAM pada periode ini mendapatkan
momentum yang membanggakan. Indikator tentang pemikiran HAM pada periode ini mengalami
pasang, menurut ahli hukum tata negara memiliki 5 aspek :
1. Semakin banyak tumbuh partai-partai politik dengan beragam ideologinya masingmasing.
2. Kebebasan pers sebagai salah satu pilar demokrasi, betul- betul menikmati kebebasannya.
3. Pemilu sebagai pilar lain dari demokrasi harus bertanggung jawab dalam suasana
kebebasan, fair (adil) dan demokratis.
4. Parlemen/dewan perwakilan rakyat sebagai wakil rakyat semakin efektif mengontrol
terhadapt kinerja eksekutif.
5. Wacana & pemikiran tentang HAM mendapatkan iklim yang kondusif, sejalan dengan
tumbuhnya kekuasaan yang memberikan ruang kebebasan.

3) Periode tahun 1959 1966 Pada periode ini, sistem pemerintahan Indonesia adala sistem
demokrasi terpimpin diamana kekuasaan terpusat dan berada di tangan presiden. Dalam
kaitannya dengan HAM yaitu telah terjadinya sikap restriktif (pembatasan yang ketat oleh
kekuasaan) terhadap hak sipil dan hak politik warga negara.
4) Periode tahun 1966 1998 Pada awal masa periode ini telah diadakan beberapa seminar
tentang HAM. Salah satu seminar dilaksanakan pada tahun 1967 yang merekomendasikan
gagasan tentang perlunya pembentukan pengadilan HAM, Komisi, dan pengadilan HAM di
wilayah Asia. Pada tahun 1968 diadakan Seminar Hukum Nasional II yang merekomendasikan
perlunya hak uji materiil guna melindungi HAM. Fungsi dari hak uji materiil itu sendiri dalam
rangka pelaksanaan TAP MPRS XIV/MPRS/1996. Namun, pada tahun 1970-an sampai akhir
1980-an, HAM mengalami kemunduran. Dalam hal ini, upaya masyarakat dilakukan melalui
pembentukan jaringan dan lobi internasional terkait dengan pelanggaran HAM yang terjadi
seperti kasus Tanjung Priok, kasus Kedung Ombo, kasus DOM di Aceh, dan lain sebagainya.
Menjelang periode 1990-an, upaya masyarakat nampaknya memperoleh hasil yang mengesankan
karena terjadi pergeseran strategi pemerintahan, dari Represif dan Defensif menjadi Akomodatif.
Salah sau sikap akomodatif pemerintah terhadap tuntutan penegakan HAM yaitu dibentuknya
KOMNAS HAM berdasarkan KEPRES Nomor 50 tahun 1993 pada tanggal 7 Juni 1993, dimana
KOMNAS HAM memiliki tugas:
1. Memantau & menyelidiki pelaksanaan HAM & memberi saran serta pendapat kepada
pemerintah perihal HAM.
2. Membantu pengembangan kondisi-kondisi yang kodusif bagi pelaksanaan HAM sesuai
pancasila dan UUD 1945 (termasuk hasil amandemen UUD NKRI 1945), Piagam PBB,
Deklarasi Universal HAM dan deklarasi atau perundang-undangan lainnya yang terkait
dengan penegakan HAM.
5) Periode tahun 1998 sekarang Pada saat ini dilakukan pengkajian terhadap beberapa
kebijakan pemerintah pada masa orde baru yang berlawanan dnegan pemajuan dan perlindungan
HAM. Kemudian, dilakukan penyusunan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan
pemberlakuan HAM dalam kehidupan ketatanegaraan dan kemasyarakatan di indonesia, serta

pengkajian dan ratifikasi terhadap instrumen HAM internasional semakin ditingkatkan. Strategi
pada periode ini dilakukan melalui 2 tahap, yaitu:
1. Tahap status penentuan (prescriptive Status) Pada tahap ini telah ditetapkan beberapa
ketentuan perundang-undangan tentang HAM, seperti UUD 1945, TAP MPR, UU, dan
peraturan pemerintah dan ketentuan perundang-undangan lainnya.
2. Tahap penataan aturan secara konsisten ( rule consistent behavior ) Ditandai dengan
pemghormatan dan pemajuan HAM dengan dikeluarkannya

TAP MPR No.

XVII/MPR/1998 tentang HAM dan disahkannya sejumlah konvensi HAM. Selain itu
juga dirancangkan program Rencana Aksi Nasional HAM (RANHAM) pada tanggal 15
Agustus 1998 yang didasarkan kepada :
3. Persiapan pengesahan perangkat Internasional di bidang HAM
4. Desiminasi informasi dan pendidikan tentang HAM 3. Penentuan skala prioritas
pelaksanaan HAM 4. Pelaksanaan isi perangkat internasional di bidang HAM yang telah
diratifikasikan melalui perundang-undangan nasional. Untuk lebih melindungi HAM di
Indonesia, pemerintah telah membuat UU HAM No. 39 tahun 1999 serta UU No. 26
tahun 2000 tentang pengadilan HAM. Melalui keputusan Presiden No. 40 tahun 2004,
Pemerintah telah mengesahlan RANHAM kedua diamana merupakan kelanjutan
RANHAM Indonesia yang pertama tahun 1998-2003. RANHAM disusun untuk
menjamin peningkatan penghormatan, pemajuan, pemenuhan, dan perlindungan HAM di
Indinesia dengan mempertimbangkan nilai-nilai agama, adat-istiadat, dan budaya bangsa
indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Faktor Penyebab Kasus Pelanggaran Hak Asasi Manusia
Faktor penyebab dari kasus Marsinah yang pertama adalah perussahaan CPS yang tidak
mengikuti himbauan gubernur setempat untuk menaikkan UMR. Walaupun kebijakan kenaikan
UMR tersebut sudah dikeluarkan, CPS tetap bergeming. Kondisi ini memicu geram para
pekerjanya sehingga menyebabkan mereka melakukan aksi unjuk rasa dan mogok kerja.

Lalu faktor penyebab kedua, adalah manajemen perusahaan CPS yang telah menyepakati
perjanjian penaikan UMR namun rupanya diikuti dengan memberhentikan 13 pekerjanya dengan
cara mencari-cari kesalahan pasca tuntutan kenaikan UMR. Hal ini menjadikan Marsinah penuh
amarah.
Fakor yang lain dapat diuraikan sebagai berikut :
Dari segi ekonomi :
1. Terjadi kredit macet
2. Jatuhnya nilai tukar rupiah terhadap dollar
3. Banyak perusahaan yang tidak dapat membayar hutangnya
Dari segi politik :
1. Pemimpian saat itu telah kehilangan kepercayaan dari rakyatnya
2. Terjadi kekacauan dan kerusuhan di mana-mana
3. Terjadi perpecahan dalam kubu kabinet Soeharto

Solusi Kasus Pelanggaran Hak Asasi Manusia


Terkait kasus Marsinah, solusi dari pemerintah sendiri, pemerintah semestinya segera mengusut
tuntas kasus pembunuhan Marsinah sampai selesai hingga mendapatkan hasil yang nyata, dan
menegakkan tiang keadilan dan ketegasan dalam kerapuhan hukum di Indonesia sehingga rakyat
dapat kembali mempercayai peranan dari pemerintah dan aparat penegak hukum dalam
penegakan HAM di Indonesia.
Sementara solusi dari hasil rangkuman saya, adalah adanya kepastian hukum dalam menjamin
keamanan setiap orang. Setiap orang perlu menghargai hak-haknya sendiri dan hak orang lain.

BAB III PENUTUP


Kesimpulan
HAM adalah hak-hak dasar yang dimiliki oleh manusia sesuai dengan kiprahnya. Setiap
individu mempunyai keinginan agar HAM-nya terpenuhi, tapi satu hal yang perlu kita ingat
bahwa jangan pernah melanggar atau menindas HAM orang lain. Dalam kehidupan bernegara
HAM diatur dan dilindungi oleh perundang-undangan RI, dimana setiap bentuk pelanggaran
HAM baik yang dilakukan oleh seseorang, kelompok atau suatu instansi atau bahkan suatu
Negara akan diadili dalam pelaksanaan peradilan HAM, pengadilan HAM menempuh proses
pengadilan melalui hukum acara peradilan HAM sebagaimana terdapat dalam Undang-Undang
pengadilan HAM. Sementara menyangkut Kasus Marsinah yang merupakan dikategorikan
sebagai pelanggaran HAM berat, karena merupakan kasus penghilangan seseorang secara paksa.
Marsinah adalah tumbal dari apa yang namanya penindasan atas nama stabilitas keamanan dan
politik pada zaman Orde Baru. Penindasan kepada Marsinah adalah bentuk ketakutan negara
pada sosok-sosok yang berani berjuang dan mengobarkan semangat kebebasan, kesejahteraan
dan kesetaraan. Negara menciptakan teror ketakutan kepada siapa saja yang ingin melakukan
aksi perlawanan. Negara juga telah mengabaikan kasus ini, membiarkannya menjadi misteri
yang tak terpecahkan selama bertahun-bertahun. Ini jelas sebuah anomali dan paradoks jika kita
komparasikan dengan tujuan pembentukan dan kewajiban negara ini. Marsinah hanyalah satu
dari ribuan potret buruh perempuan di Indonesia yang seringkali harus dihadapkan dengan
berbagai persoalan pelik yang mendasar. persoalan kesejahteraan, kekerasan,eksploitasi dan
diskriminasi seolah terus menjadi pekerjaan rumah yang menumpuk bagi pemerintah untuk
diselesaikan. Realitas kekinian memperlihatkan bahwa sampai hari ini begitu banyak buruh
perempuan di Indonesia yang masih ambil bagian dalam rangka pemenuhan kebutuhan rumah
tangga. Menguak kasus Marsinah berarti harus mengurai banyak benang kusut, benang kusut

yang mungkin hanya dapat terurai dari tangan mereka yang benar-benar peduli untuk
mengurainya. Betapa lemahnya lembaga-lembaga peradlan di negeri ini, untuk menangani kasus
sekala kecil/ perorangan saja tidak mampu, bahkan untuk kurun waktu yang cukup lama, 5
pergantian presiden mencoba membuka kejanggalan pada kasus ini, namun apa? Hanya terlupa
atau dilupakan saja yang terjadi pada kasus ini, seolah-olah pemerintah ingin menghilangkan
jejak kasus marsinah, bahkan ketika kasus ini belum terungkap terdapat masa kadaluwarsa tahun
2014 era presiden SBY yang akhirnya kasus ini pun ditutup. Indonesia dikenal Negara
berpancasila atas ketuhanan di no 1, namun Indonesia pada tahun 2013 dicap/termasuk Negara
urutan 30 yang memiliki riwayat terburuk untuk kasus penyelesaian pelanggaran HAM. Bahkan
jika 1000 lembaga peradilan diadakan jika hokum masih terkait tangan-tangan politik, tidak
heran akan banyak kasus kasus yang lebih parah terlewat begitu saja dan kadaluwarsa layaknya
bongkahan makanan kecil yang memiliki masa experied

Saran
Sebagai makhluk sosial kita selayaknya mampu mempertahankan dan memperjuangkan
hak kita sendiri. Di samping itu kita juga harus bisa menghormati dan menjaga hak orang lain
jangan sampai kita melakukan pelanggaran HAM. Dan Jangan sampai pula HAM kita dilanggar
dan dinjak-injak oleh orang lain. Menurut pandangan saya, Hal ini telah bertentangan dengan
Pancasila, yaitu sila kedua. Karena setiap kegiatan yang merugikan dan mengancam nyawa
seseorang merupakan hal yang tidak beradab. Setiap manusia diberi kesempatan hidup. Jadi
apakah kita pantas untuk mengakhiri sebuah kehidupan?
Sudah saatnya pemerintah membuka mata lebar-lebar akan kasus Marsinah dan kasuskasus yang dialami oleh buruh saat ini. Pemerintah sebaiknya berani membuka ulang kasus
Marsinah atas nama demokrasi dan HAM. Hilang dan matinya Marsinah sudah barang tentu
adalah sesuatu yang direkayasa sehingga sampai saat ini kasusnya tidak pernah menemui titik
terang. Padahal keadilan yang tertinggi adalah keadilan terhadap Hak Asasi Manusia.sikap
menunda-nunda kasus harus di hilangkan, usut sampai tuntas barulah beristirahat, tangani kasus
skala perorangan saja tidak mampu itupun dalam 5 periode pergantian pemimpin, apa yang
salah?? Jangankan untuk menyelesaikan ,untuk mencari tahu siapa? Bagaimana? Kapan tepatnya
pun belum bisa hingga saat ini. Kita Negara besar dengan rakyat yang besar pula, pelanggaran

diluar dalam skala instansi atau pun kelompok banyak namun jika untuk skala individu saja tidak
mampu, saya akui Indonesia ini lemah hokum, nyatanya bahkan pemerintahan takut akan orangorang yang mampu beraspirasi, dan mereka akan melakukan terror untuk menghilangkan orangorang seperti ini.
DAFTAR PUSTAKA

http://www.omahmunir.com/pages-10-kasus-marsinah.html
http://buser.liputan6.com/read/52757/marsinah-dan-misteri-kematiannya
http://fuad-myers.blogspot.com/2011/11/analisa-kasus-pelanggaran-ham-berat.html
http://sarubanglahaping.blogspot.com/2013/10/analisis-kasus-pembunuhan-marsinah.html
Http://www.Yudhe.Com/8-Kasus-Besar-Yang-Tetap-Menjadi-Misteri-Di-Indonesia/
http://ubpeacemaker.blogspot.com/2011/11/memahami-ham-marsinah-pahlawan-kaum.html
http://abunavis.wordpress.com/2007/12/11/marsinah-dalam-representasi-media-analisissemiotika-berita-kasus-marsinah-pada-majalah-tempo-1993-1994/
http://hukum.kompasiana.com/2014/05/01/refleksi-21-tahun-kasus-marsinah-650551.html
http://www.tempo.co/read/news/2012/05/08/173402558/Kasus-Marsinah-Sulit-Diungkap-Lagi
http://www.arahjuang.com/2014/05/08/marsinah-dan-perjuangan-buruh-sepanjang-masa/

Anda mungkin juga menyukai