Anda di halaman 1dari 25

PENDAHULUAN

Rheumatoid arthritis (RA) telah dikaitkan


dengan beberapa autoantibodi, termasuk
faktor-faktor rheumatoid (RF), antiperinuklear faktor (APF), anti-keratin antibody
(AKA) dan antibodi anti-filaggrin (AFA).
Untuk mendeteksi autoantibodi ini,
Schellekens et al. mengembangkan metode
ELISA yang menggunakan varian dari
peptida CCP yang berasal dari filaggrin
manusia sebagai antigen

Tes antibodi anti-CCP kemudian


menjadi tersedia secara komersial
(Euro Diagnostica, Arnhem, Belanda)
dan akurasi diagnostiknya telah
dibandingkan dengan hasil tes RF
Namun, kinerja tes ini dalam
mendiagnosis RA masih belum jelas,
karena kepekaannya bervariasi mulai
dari 41% hingga 68%

Tujuan.
Untuk menguji nilai anti-CCP antibody,antikeratin antibodi (AKA) dan IgM RF dalam
membedakan antara rheumatoid arthritis (RA)
dan penyakit rematik lainnya, dan untuk
menentukan apakah manifestasi klinis atau
keparahan erosi pada RA berhubungan dengan
anti-CCP positif.
Metode.
Dalam sebuah studi cross-sectional, kami
menentukan konsentrasi atau titer dari ketiga
penanda tersebut pada 179 pasien RA dan 50
pasien kontrol.Erosi yang terjadi diukur
menggunakan skor Larsen pada 129 pasien.

PASIEN DAN METODE


179 pasien yang telah didiagnosis dengan
RA sesuai dengan kriteria yang telah oleh
American College of Rheumatology (ACR).
Kami kemudian meminta rontgen tangan
yang terbaru (diperoleh kurang dari 2 tahun)
dari semua pasien. Kerusakan progresif
dinilai dengan standar skor Larsen untuk
menentukan durasi penyakit pada saat X-ray
diambil.
Sinar-X dianalisis secara buta dengan hanya
memperhatikan data klinis dan laboratorium,
oleh rheumatologis yang sama.

Pada kedua tangan: Pergelangan tangan, sendi


metacarpophalangeal 2-5 dan sendi
interphalange proksimal 2-5 dinilai pada skala
berikut:
0 = tidak ada kelainan,
1 = sedikit kelainan (penyempitan atau
osteoporosis)
2 = erosi kecil yang nyata
3 = erosi keparahan menengah;
4= kelainan berat
5 = hancur.
Skor untuk pergelangan tangan kemudian
dikalikan 2, sehingga total skor berkisar dari 0
sampai 100.

Pasien kontrol non-RA terdiri atas 50 pasien


yang direkrut di klinik rawat dari
Universitas Rumah Sakit Geneva :
arthritis akibat kristal (n = 21), penyakit
jaringan ikat (n = 9), spondyloarthropathies
seronegatif (n = 7), penyakit inflamasi
lainnya, termasuk penyakit Crohn,
polymyalgia rheumatica dan sarkoidosis (n
= 7), osteoarthritis (n = 6) ).
Sampel serum diambil dari masing-masing
pasien,dan disimpan pada -80 C sampai
digunakan.

PENENTUAN ANTI-CCP
ANTIBODI
ELISA kit digunakan untuk mendeteksi
antibodi IgG anti-CCP yang dibeli dari EuroDiagnostica.Tes dilakukan menurut protokol
pabrik.
Kemudian, tes yang berbeda dilakukan untuk
mengevaluasi kinerja kit
tersebut.Kemampuan rata-rata adalah 94%
antibodi anti-CCP melonjak 3 level pada
serum dengan koefisien variasi intra-assay
(CV) adalah 4-10% dan antar-assay CV nya
adalah 6-20%.

PENENTUAN AKA
Dengan immunofluorescence indirek.
Tes dilakukan seperti yang dijelaskan
sebelumnya. Sera positif dititrasi dan
dilusi. S
Serum terbesar yang menunjukkan
bukti fluoresensi, dianggap sebagai
titrasi titik akhir atau hasil.

PENENTUAN IgM RF
Piringan sumur (Immunoplate I,
Nunc Life Technologies, Basel,
Switzerland) dilapisi dengan IgG Fc
fragmen manusia (5g/ml)
Situs pengikat non-spesifik diblokir
dengan serum janin anak sapi 1 %
(Gibco, Life Teknologi, Basel, Swiss)

Dilusi serum yang tepat (biasanya


1/25, 1/50 dan 1/100 untuk pasien
dan 13 seri pengenceran dua kali
lipat dari 1/20 untuk standar serum)
diinkubasi selama 90 menit pada 37
C
Ikatan IgM RF terdeteksi dengan
menggunakan fragmen alkali
fosfatase berlabel F(ab) poliklonal
dari kambing.

Kepadatan optik (OD) pada 410 nm


ditentukan dengan Dynatech MR
5000. Microplate reader (Dynatech,
Alexandria, VA, USA) dihubungkan
ke komputer Macintosh yang
menjalankan Biocalc Program
(Dynatech).OD net diubah secara
otomatis ke unit internasional
dengan menggunakan kurva
pengenceran standar.

ANALISIS IMMUNOGENETIC
HLA DR generik typing dan DRB1 *
01 dan DRB1 * 04 subtyping
dilakukan seperti yang dijelaskan

ANALISIS STATISTIK
Kami menentukan cut-off nilai positif
dari tes antibodi anti-CCP
berdasarkan kurva ROC, dan dihitung
daerah di bawah kurva ROC.
Sensitivitas dan spesifisitas dihitung
untuk masing-masing dari tiga tes
tersebut, dengan interval
kepercayaan 95% (CI);perbedaan
diuji dengan Uji McNemar

Juga dihitung statistic kappa untuk


memeriksa apakah tes-tes tersebut
cenderung mengidentifikasi pasien dengan
hasil positif dan negative yang sama.
Nilai 0 berarti tidak ada kecocokan, dan
nilai 1 menyiratkan kecocokan yang
sempurna.
Nilai kurang dari 0,4 ditafsirkan sebagai
kurang cocok; 0,4-0,75 sebagai kecocokan
menengah dan dan > 0,75 kecocokan
yang kuat.
semua tes dan statistik yang dihitung
dengan menggunakan algoritma StatXact

HASIL
Untuk tes antibodi antiCCP, kurva ROC
dicapai dengan baik antara pasien RA dan
kontrol, dengan area di bawah kurva ROC
adalah 0,91 (95% CI 0,88-0,95).
Kami kemudian membandingkan dua nilai
cut-off yang masuk akal untuk
mendefinisikan makna tes positif: 1500 u/ml
(sensitivitas 63%, spesifisitas 98%) dan
1000 u/ml (sensitivitas 68%, spesifisitas
96%).Atas dasar analisis ini, kami memilih
cut off 1000 u/ml untuk menentukan tes
positif untuk semua analisis lebih lanjut.

Sensitivitas untuk RA paling baik pada tes


IgM RF, diikuti oleh antibodi dan AKA tes
anti-CCP (Tabel 1).Tes AKA secara
signifikan kurang sensitive dari dua tes
lainnya.Kecocokan diantara ketiga tes ini
dalam kemampuannya untuk mendeteksi
pasien RA cukup rendah (k <0,4).
Kedua tes antibodi anti-CCP dan AKA
memiliki spesifisitas melebihi
90%.Perbedaan antarakeduanya tidak
signifikan, dan keduanya secara signifikan
lebih baik dari tes IgM RF.

Perbedaan uji sensitivitas antara lakilaki dan perempuan dan di kelompok


secara statitstik tidak signifikan.
Tidak ada perbedaan dalam
sensitivitas tes untuk durasi penyakit
tertentu atau berapa kriteria ACR RA
(selain RF positif) yang terpenuhi.
Pada tes IgM RF secara signifikan
lebih sering ditemukan di antara
pasien yang memiliki nodul subkutan
(86,7 vs 70,9%, P <0,05), sicca
Sindrom (91,4 vs 70,8%, P <0,05)
atau deformitas sendi (86,8 vs

Di antara pasien RA, karier epitop HLADRB1 secara signifikan lebih mungkin
ditemukan positif daripada AKA:
72 (74,2%) dari 97 AKA-negatif
ditemukan positif untuk HLA-DRB1
epitop vs 72 (87,8%) dari 82 pasien
AKA-positif (Uji eksak Fisher, P =
0,024).
Tidak ada hubungan yang signifikan
diamati antara HLA-DRB1 dan
parameter keparahan penyakit

Rata-rata Skor Larsen adalah 36,5


(SD.21,4, kisaran 0-100). Skor Larsen
dikaitkan dengan durasi penyakit:
kurang dari 3 tahun, rata-rata skor
Larsenadalah 22.1,
3-12 tahun, skor nya 36,0
melebihi 12 tahun skornya 50,4
setiap tahun perjalanan penyakit
dikaitkan dengan peningkatan 1,2 poin
pada Skor Larsen (95% CI 0,9-1,5).

DISKUSI
Penelitian ini menetapkan nilai antibodi antiCCP dalam diagnosis RA dan keunggulan tes
ini dibandingan dengan AKA dan tes RF IgM
Menggunakan threshold 1000 u/ml,
sensitivitas anti-CCP antibodi (68%) tidak
secara signifikan berbeda dari yang
diperoleh untuk IgM RF (75%) tapi jauh lebih
tinggi dari yang diperoleh untuk AKA (45%).
Spesifisitas dari tes antibodi anti-CCP (96%)
secara signifikan lebih tinggi dari yang
diperoleh untuk IgM RF (74%).

Anti-CCP antibodi memiliki sensitivitas


yang moderat dan spesifisitas yang
sangat baik , tes AKA memiliki
sensitivitas yang buruk tetapi
spesifisitas yang sangat baik, dan tes
IgM RF memiliki sensitivitas dan
spesifisitas moderat.Jadi, sementara
tak satu pun dari tes ini yang jika
hasilnya negatif, dapat mengekslusikan
diagnosis RA, sedangkan hasil positif
pada antibodi-CCP atau AKA praktis
menetapkan diagnosis ini.

Oleh karena itu,meskipun tes antibodi antiCCP dan AKA tidak selalu lebih baik
daripada tes IgM RF, tetapi dapat digunakan
untuk membantu dalam praktek klinis untuk
kasus tertentu.Dalam hal ini, tes antibodi
anti-CCP tampil lebih menjanjikan
Namun demikian, ketidakcocokan di antara
tes ini, baik mengenai positif sejati antara
pasien RA dan positif palsu di antara
kontrol, menunjukkan bahwa ada ruang
untuk perbaikan dalam diagnosis serologis
RA

Schellekens et al. mengamati antata


antibodi anti-CCP dan IgM RF , jika
dilakukan pada kunjungan pertama,
memiliki kemampuan yang sama untuk
memprediksi penyakit erosif pada durasi
penyakit 2 tahun.
Dalam analisis regresi, Kroot et al.
mengamati bahwa kerusakan radiologi
setelah 6 tahun follow up secara signifikan
diprediksi oleh IgM RF dan status anti-CCP
saat penerimaan pasien.Prediktor
terkuat adalah IgM RF dan nilai prediktif
tambahan anti-CCP positif adalah moderat

Dalam praktek klinis, baik IgM RF dan


antibodi anti-CCP mungkin berguna,
IgM RF untuk sensitivitas yang baik
dan sebagai marker keparahan
penyakit dan anti-CCP antibodi untuk
spesifisitas tinggi dan kehadirannya
pada beberapa pasien RAseronegatif.