Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Pentingnya penggunaan generator sinkron tiga fase dalam dunia industri, termasuk
industri perkapalan merupakan hal yang paling mendasar yang melatar belakangi adanya
praktikum ini. Perkembangan teknologi yang semakin pesat menuntut adanya inovasiinovasi baru yang harus dikembangkan dan tentu harus mempelajari dasar dari
pengembangan inovasi tersebut. Generator merupakan alat yang berfungsi mengubah
kerja mekanis menjadi listrik. Prinsip kerja generator yaitu dengan memberikan gaya
mekanis pada rotor sehingga rotor dapat berputar. Ketika rotor berputar maka lilitan
kawat akan memotong gaya-gaya magnet pada kutub, sehingga terjadi perbedaan
tegangan. Hal itu menimbulkan arus listrik, arus melalui kabel yang kedua ujungnya
dihubungkan dengan cincin geser. Cincin tersebut yang berfungsi sebagai terminal
penghubung keluar arus listrik tersebut.
Di dunia industr maritim generator digunakan sebagai pembangkit daya pada
kapal dan bangunan lepas pantai. Generator ini juga banyak digunakan sebagai
pembangkit listrik menggunakan energi laut sebagai energi terbarukan. Dari adanya latar
belakang ini maka pada laporan praktikum ini akan dibahas secara spesifik tentang
penggunaan generator sinkron tiga fase. Pada laporan ini akan dianalisa antara teori
generator tiga fase dibanding dengan kenyataan yang ada ketika dalam praktik.

1.2. Tujuan praktikum


1.2.1 Percobaan generator sinkron beban nol
a. Menentukan hanya arus medan magnet penguat generator pada beban nol
sebagai fungsi tegangan.
b. Menentukan karakteristik generator beban nol pada putaran nominal
1.2.2 Percobaan generator sinkron berbeban
a. Menetukan arus magnetisasi pada generator berbeban.
b. Menentukan karakteristik generator berbeban saat terpasang kapasitor.
1.3. Rumusan masalah
1. Jelaskan karakteristik generator sinkron berbeban?

BAB II

29

DASAR TEORI
2.1.

Tegangan
Tegangan listrik adalah perbedaan potensial listrik antara dua titik dalam
rangkaian listrik, dan dinyatakan dalam satuan volt. Besaran ini mengukur energi
potensial dari sebuah medan listrik yang mengakibatkan adanya aliran listrik dalam
sebuah konduktor listrik. Tergantung pada perbedaan potensial listriknya, suatu
tegangan listrik dapat dikatakan sebagai ekstra rendah, rendah, tinggi atau ekstra
tinggi. Secara definisi tegangan listrik menyebabkan obyek bermuatan listrik negatif
tertarik dari tempat bertegangan rendah menuju tempat bertegangan lebih tinggi.
Sehingga arah arus listrik konvensional di dalam suatu konduktor mengalir dari
tegangan tinggi menuju tegangan rendah.Secara matematis, tegangan dapat
dirumuskan sebagai berikut :

dimana :

V = tegangan,
w = usaha yang dilakukan elektron,
t = waktu yang diperlukan oleh elektron untuk berpindah

dimana :

V = tegangan,
I = arus listrik,
R = hambatan listrik

2.1.1

Tegangan AC
Tegangan AC adalah tegangan yang dihasilkan oleh generator di
pembangkit yang mempunyai sistem perputaran dan mempunyai nilai
frekuensi...di Indonesia frekuensi yang ditetapkan 50 Hz 60 Hz.
Cara yang paling mudah untuk menyelidiki perbedaan arus AC dan arus
DC adalah dengan menggunakan osiloskop atau disebut juga CRO (Cathode
Ray Oscilloscop). Osiloskop adalah alat yang digunakan untuk menyelidiki
sinyal listrik. Alat ini dapat digunakan untuk menentukan frekuensi,
amplitudo, dan tegangan sinyal listrik dengan menghitung skala yang terlihat
pada layar.
Ketika sebuah sumber tegangan dihubungkan dengan osiloskop, pada
layar osiloskop akan tampak grafik tegangan terhadap waktu. Jika yang

29

dihubungkan merupakan sumber tegangan searah, grafk yang muncul pada


layar berupa garis lurus, seperti tampak pada gambar tegangan berikut.

Gambar 1. Tegangan AC
(Sumber : http://ekoryanti.blogspot.co.id/2013/10/rangkaian-arus-bolakbalik.html)

2.1.2

Tegangan DC
Tegangan DC adalah tegangan yang dihasilkan oleh sumber tegangan
searah seperti baterai & aki. Gambar tegangan DC memberikan arti bahwa
nilai tegangan DC tidak tergantung waktu. Artinya, tegangan DC selalu tetap
setiap saat. Sementara pada gambar tegangan AC, nilai tegangan AC berbentuk
sinusoida. Artinya, nliai tegangan AC berubah-ubah setiap waktu. Dengan
membaca jarak grafik dan titik nol, kemudian membandingkan dengan skala
yang digunakan, kita dapat mengetahui nilai tegangan yang diberikan.

Gambar 2. Grafik tegangan DC


(Sumber : http://fiskadiana.blogspot.co.id/2015/05/perbedaan-tegangan-dc-dan-ac-dalam.html)

2.1.3

Tegangan Fasa

29

Tegangan fasa adalah tegangan yang terdapat pada tiap-tiap posisi/fase


pada suatu rangkaian.

Vfasa =

Vline....................................... Hubungan Wye

Vline = 3Vfasa............................................ Hubungan Delta

Gambar 3. Tegangan Fasa dan Tegangan Line pada rangkaian Y dan


(Sumber : http://smakita.net)

2.1.4

Tegangan Line
Tegangan line adalah tegangan yang terdapat dalam rangkaian /arus yang
berjalan dalam rangkaian.
Vline = Vfasa................................... Hubungan Delta
Vline = 3 Vfasa...................................Hubungan Wye

Gambar 4. Tegangan Fasa dan Tegangan Line pada rangkaian Y dan


(Sumber : http://smakita.net)

2.2

Arus
Arus listrik adalah banyaknya jumlah elektron yang mengalir tiap satuan waktu. Arus

listrik dapat diukur dalam satuan Coulomb/detik atau Ampere.

29

2.2.1

Arus Listrik AC (Alternating Current)


Arus listrik AC (alternating current), merupakan listrik yang besarnya
dan arah arusnya selalu berubah-ubah dan bolak-balik. Arus listrik AC akan
membentuk suatu gelombang yang dinamakan dengan gelombang sinus atau
lebih lengkapnya sinusoida.

(Sumber

2.2.2

Grafik 1. Arus AC
: http://rumushitung.com)

Arus Listrik DC (direct current)


Arus listrik DC (Direct current) merupakan arus listrik searah. Pada
awalnya aliran arus pada listrik DC dikatakan mengalir dari ujung positif
menuju ujung negatif. Semakin kesini pengamatan-pengamatan yang
dilakukan oleh para ahli menunjukkan bahwa pada arus searah merupakan arus
yang alirannya dari negatif (elektron) menuju kutub positif.

Grafik 2. Arus DC
Sumber: http://profil.widodoonline.com

2.2.3

Arus Fasa
Arus fasa merupakan arus yang timbul akibat sebuah tegangan yang
dihubungkan dengan titik fasa dengan titik netral, Pada 3 fasa yang dikenal
sebagai arus fasa adalah R-N; S-N; dan T-N.

Iline = Ifasa......................................... Hubungan Wye


Ifasa =

Iline...................................... Hubungan Delta

29

2.2.4

Arus Line
Arus line adalah arus antar fasa. Pada 3 fasa yang dikenal sebagai arus
line adalah R-S; S-T; dan R-T.
Iline = Ifasa......................................... Hubungan Wye
Iline = 3 Ifasa.................................. Hubungan Delta

2.3

Generator
Generator merupakan alat yang digunakan untuk pembangkit listrik dengan
cara mengubah tenaga mekanik menjadi tenaga listrik dengan menggunakan induksi
elektromagnetik. Tenaga mekanis disini digunakan untuk memutar kumparan kawat
penghantar dalam medan magnet ataupun sebaliknya memutar magnet diantara
kumparan kawat penghantar. Penggerak mekanis pada generator biasanya dilakukan
oleh turbin melalui uap ( tekanan ), air, atau angin. Bahan bakar untuk generator juga
bermacam macam, yaitu panas bumi, batubara, minyak, gas, air, dan nuklir.
generator sangat penting untuk saat ini karena dapat menciptakan tenaga listrik yang
kita butuhkan untuk keperluan sehari hari.

Gambar 5. Generator
Sumber: www.harborfreight.com
2.3.1 Prinsip kerja generator pada percobaan generator tiga phase ini adalah:
1. Motor memberikan energi mekanik yang didapatkan olehnya melalui sumber listrik
AC, ke generator yang kemudian diterima oleh rotor. Rotor di dalam generator pun
bergerak.
2. Regulator yang memiliki arus AC melewati rectifier terlebih dahulu agar arus yang
dimiliki diubah terlebih dahulu menjadi arus DC. Tujuan diubah seperti itu adalah
29

agar arus tersebut dapat mengaktifkan arus medan magnet yang ada pada generator
(fero magnet).
3. Pada generator, terjadi putaran rotor yang kemudian memotong garis-garis medan
magnet yang terjadi pada stator, sehingga terbentuk gaya gerak listrik, yang
kemudian listrik tersebutlah yang disalurkan ke output.

2.3.2

Bagian bagian Generator


Generator terdiri dari dua bagian yang paling utama, yaitu:
1. Bagian yang diam (stator).
Bagian diam (stator), terdiri dari beberapa bagian yaitu :
1. Inti stator. Bentuk dari inti stator berupa cincin laminasi-laminasi yang diikat
serapat mungkin untuk menghindari rugi-rugi arus eddy. Pada inti ini terdapat
slot-slot untuk menempatkan konduktor untuk mengatur arus medan magnet.
2. Belitan stator. Bagian stator yang terdiri dari beberapa batang konduktor yang
terdapat di dalam slot dan ujung-ujung kumparan. Masing-masing slot
dihubungkan untuk mendapat tegangan induksi.
3. Alur stator. Bagian stator yang berperan sebagai tempat belitan stator
ditempatkan.
4. Rumah stator. Umumnya terbuat dari besi tuang yang berbentuk silinder.
Bagian belakang rumah stator biasanya memiliki sirip sebgai alat bantu dalam
proses pendinginan.

Gambar 6. Stator
Sumber: http://reddit.com

2. Bagian yang bergerak (rotor).


Antara rotor dan stator dipisahkan oleh celah udara. Rotor terdiri dari dua bagian
umum, yaitu :

29

1. Inti kutub
Pada bagian inti kutub terdapat poros dari inti rotor yang memiliki fungsi
sebagai jalan atau jalur fluks magnet yang dibangkitkan oleh kumparan medan.
2. Kumparan medan. Pada bagian inti kutub terdapat poros dan inti rotor yang
memiliki fungsi sebagai jalur fluks magnet yang dibangkitkan oleh kumparan
medan. Pada kumparan medan ini juga terdapat dua bagian yaitu penghantar
sebagai jalur untuk arus pemacuan dan bagian yang diisolasi. Isolasi pada
bagian ini harus benar-benar baik dalam hal kekuatan mekanis, ketahanan akan
suhu tinggi, dan ketahanannya tehadap gaya sentrifugal yang besar.
3. Slip ring merupakan cincin logam yang melingkari poros rotor tetapi
dipisahkan oleh isolasi tertentu. Terminal kumparan rotor dipasangkan ke slip
ring ini kemudian dihubungkan ke sumber arus searah melalui sikat (brush)
yang letaknya menempel pada slip ring.

Gambar 7. Rotor
(Sumber: www.shutterstock.com)
4. Exciter Field
Exciter field merupakan bagian penting dari sistem generator. exciter field
memberikan dorongan untuk energi medan magnet berputar rotor dan menyediakan
fungsi mengatur tegangan untuk gulungan utama.
Bidang exciter terdiri dari kapasitor yang terhubung ke gulungan kumparan
tambahan diatur dalam sebuah loop tertutup. Belitan kumparan medan tambahan
ditempatkan di slot stator bersama dengan gulungan keluaran utama. Gulungan
tambahan 90 derajat listrik keluar dari fase dengan gulungan utama.
Dalam modus exciter-nya gulungan tambahan menerima aliran arus listrik sangat
sedikit dari magnet sisa massa rotor - yang menjadi magnet "jump start" dari exciter
field selama pembuatan generator- - seperti rotor mulai berubah . Semakin cepat rpm
rotor, semakin besar tegangan induksi dan arus dari exciter.
Medan magnet yang berfluktuasi dari exciter memotong gulungan medan berputar
sebagai rotor berputar. Medan magnet berputar menjadi jauh lebih besar dari bidang
eksitasi kecil, dan medan putar ini memotong gulungan gulungan utama dalam stator.
Gulungan utama pada gilirannya menghasilkan tegangan bolak-balik yang
menghasilkan arus bolak-balik ketika beban listrik diterapkan ke terminal output.
Dalam modus mengatur nya kapasitor dan kumparan gulungan medan exciter
mencegah tegangan berliku utama dari mengantar ketika beban listrik diterapkan.

29

Tegangan ini menstabilkan efek disebut "Power Assist" dan fitur desain eksklusif dari
generator.

Gambar 8. Exciter Field


(Sumber: http://weldmart.com)

5. Dioda
Dioda adalah penyearah Arus Tegangan yang dihasilkan oleh Exciter Field,
dimana tegangan searah ini yang menciptakan medan magnet didalam kumparan
penghantar
Main Rotor.

Gambar 9. Dioda
(Sumber: http://komponenelektronika.biz)
6. AVR (Automatic Voltage Regulator)
Berfungsi menstabilkan tegangan listrik yang dihasilkan oleh Exciter Field,
sehingga tegangan listrik yang dikeluarkan oleh Generator tetap terjaga dikisaran
400/240VAC.

29

Gambar 9. AVR (Automatic Voltage Regulator)


Sumber: http://mchomedepot,com
2.4 Macam Macam Generator
2.4.1

Berdasarkan Pole
1. Internal Pole : medan magnet dibangkitkan oleh kutub rotor dan tegangan
AC dibangkitkan pada stator.

Gambar 10. Internal pole


(Sumber: http://nzdl.org)
2. Exsternal Pole : energi listrik dibangkitkan pada kumparan motor.

29

Gambar 11. External pole


(Sumber: http://fastonline.org)
2.4.2

Berdasarkan arus yang dihasilkan


1. Generator Arus Bolak-Balik (AC)
Generator arus bolak-balik yaitu generator dimana tegangan yang
dihasilkan (tegangan out put ) berupa tegangan bolak-balik.

Gambar 12. Generator Arus Bolak-Balik


(Sumber: http://blogs.itb.ac.id)
2. Generator Arus Searah (DC)
Generator arus searah yaitu generator dimana tegangan yang dihasilkan
(tegangan out put) berupa tegangan searah, karena didalamnya terdapat
sistem penyearahan yang dilakukan bisa berupa oleh komutator atau
menggunakan dioda.

29

Gambar 13. Generator Arus Searah


(Sumber: http://blogs.its.ac.id)
2.4.3 Berdasarkan Fasa
1. Generator 1 fasa
Generator yang dimana dalam sistem melilitnya hanya terdiri dari satu
kumpulan kumparan yang hanya dilukiskan dengan satu garis dan dalam
hal ini tidak diperhatikan banyaknya lilitan. Ujung kumparan atau fasa yang
satu dijelaskan dengan huruf besar X dan ujung yang satu lagi dengan huruf
U.

Gambar 14. Generator 1 Fasa


(Sumber: www.upwenangs.co.id)
2. Generator 3 fasa
Generator yang dimana dalam sistem melilitnya terdiri dari tiga
kumpulan kumparan yang mana kumparan tersebut masing-masing
dinamakan lilitan fasa. Jadi pada statornya ada lilitan fasa yang ke satu
ujungnya diberi tanda U X; lilitan fasa yang ke dua ujungnya diberi tanda
dengan huruf V Y dan akhirnya ujung lilitan fasa yang ke tiga diberi tanda
dengan huruf W Z.

29

Gambar 15. Generator 3 Fasa


(Sumber: http://dunialistrikelektron.blogspot.com)
2.4.4

Berasarkan bentuk rotor


Rotor pada Generator adalah elemen yang berputar, pada rotor terdapat
kutub-kutub magnet dengan lilitan-lilitan kawatnya dialiri oleh arus searah.
Kutub magnet rotor terdiri dua jenis yaitu :
1. Rotor kutub menonjol (salient), adalah tipe yang dipakai untuk generatorgenerator kecepatan rendah dan menengah. Pada jenis salient pole, kutub
magnet menonjol dari permukaan rotor. Belitan-belitan medannya
dihubungkan secara seri. Ketika belitan medan ini disuplai oleh eksiter,
maka kutub yang berdekatan akan membentuk kutub berlawanan. Rotor
jenis ini biasanya digunakan pada generator dengan kecepatan putar rendah
dan sedang (120-400 rpm).

Gambar 16. Jenis Salient Pole


(Sumber : http://fr.slideshare.net/mebees36/salient-pole-vs-nonsalientpole)
2. Rotor kutub tidak menonjol atau rotor silinder digunakan untuk generatorgenerator turbo atau generator kecepatan tinggi. Pada jenis non salient
pole, konstruksi kutub magnet rata dengan permukaan rotor. Jenis ini
terbuat dari baja tempa halus yang berbentuk silinder yang mempunyai
alur-alur terbuat di sisi luarnya. Belitan-belitan medan dipasang pada aluralur di sisi luarnya dan terhubung seri yang disuplai oleh eksiter. Rotor
silinder pada umumnya digunakan pada generator dengan kecepatan putar
tinggi (1500-3000 rpm).

29

Gambar 17. Jenis Non Salient Pole


(Sumber : http://fr.slideshare.net/mebees36/salient-pole-vs-nonsalientpole)
2.4.5

Berdasarkan system eksitasi


1. Sistem Eksitasi dengan sikat
Pada Sistem Eksitasi menggunakan sikat, sumber tenaga listriknya berasal
dari generator arus searah (DC) atau generator arus bolak balik (AC) yang
disearahkan terlebih dahulu dengan menggunakan rectifier.
Jika menggunakan sumber listrik listrik yang berasal dari generator AC
atau menggunakan Permanent Magnet Generator (PMG) medan magnetnya
adalah magnet permanent. Dalam lemari penyearah, tegangan listrik arus
bolak balik diubah atau disearahkan menjadi tegangan arus searah untuk
mengontrol kumparan medan eksiter utama (main exciter). Untuk
mengalirkan arus Eksitasi dari main exciter ke rotor generator menggunakan
slip ring dan sikat arang, demikian juga penyaluran arus yang berasal dari
pilot exciter ke main exciter.

Gambar 18. Sistem Eksitasi dengan sikat (Brush Excitation)


(Sumber : https://modalholong.wordpress.com/2011/02/13/sistem-eksitasi/)
2. Sistem Eksitasi tanpa sikat (brushless excitation)
Penggunaan sikat atau slip ring untuk menyalurkan arus excitasi ke rotor
generator mempunyai kelemahan karena besarnya arus yang mampu
dialirkan pada sikat arang relatif kecil. Untuk mengatasi keterbatasan sikat
arang, digunakan sistem eksitasi tanpa menggunakan sikat (brushless
excitation).

29

Gambar 19. Sistem Eksitasi Tanpa Sikat


Sumber: http://elkasebelas.blogspot.co.id
3. Separately-Excited System
Ini adalah generator yang medan magnetnya diberikan energi oleh
beberapa sumber dc eksternal seperti baterai. Sebuah diagram rangkaian
eksitasi secara terpisah Generator DC ditunjukkan pada Gambar dibawah ini :

Gambar 20. Sistem separately-excited sydtem


Sumber: http://elkasebelas.blogspot.co.id
Ia = Armature current
IL = Load current
V = Terminal voltage
Eg = Generated emf

4. Self-Excited System
Ini adalah generator yang medan magnetnya diberi energi oleh arus yang
disuplai sendiri. Dalam jenis ini kumparan medan yang terhubung secara
internal dengan armature. Karena sisa beberapa fluks magnet selalu hadir di
kutub. Ketika angker diputar beberapa emf diinduksi. Oleh karena itu
beberapa arus induksi yang dihasilkan. saat kecil ini mengalir melalui
kumparan medan serta beban dan dengan demikian memperkuat pole fluks.
Sebagai pole fluks diperkuat, itu akan menghasilkan angker emf secara
berlebih, yang menyebabkan peningkatan lebih lanjut dari arus melalui
medan. peningkatan arus medan ini selanjutnya menimbulkan emf angker
dan fenomena kumulatif terus sampai eksitasi mencapai ke nilai bertingkat.

29

Menurut posisi kumparan lapangan Self-bersemangat DC generator dapat


diklasifikasikan sebagai:
Series wound generators

Shunt wound generators

Compound wound generators

29

2.5

Daya
Daya listrik didefinisikan sebagai laju hantaran energi listrik dalam sirkuit
listrik. Satuan SI daya listrik adalah watt yang menyatakan banyaknya tenaga
listrik yang mengalir per satuan waktu(joule/detik).
2.5.1 Segitiga Daya
Merupakan suatu konsep agar lebih mudah memahami hubungan antara
tegangan, arus dan hambatan pada listrik. Besarnya arus I berubah sebanding
dengan tegangan V dan berbanding terbalik dengan beban sehingga
dapat
disimpulkan dengan :

29

Gambar 21. Segitiga Daya


Sumber: http://artikel-teknologi.com

2.5.2 Faktor daya (Pf)

= Cos

Faktor daya yang dinotasikan sebagai cos didefinisikan sebagai


perbandingan antara arus yang dapat menghasilkan kerja didalam suatu
rangkaian terhadap arus total yang masuk kedalam rangkaian atau dapat
dikatakan sebagai perbandingan daya aktif (kW) dan daya semu (kVA). Daya
reaktif yang tinggi akan meningkatkan sudut ini dan sebagai hasilnya faktor
daya akan menjadi lebih rendah. Faktor daya selalu lebih kecil atau sama
dengan satu.
Dalam sistem tenaga listrik dikenal 3 jenis faktor daya yaitu faktor daya
unity, faktor daya terbelakang (lagging) dan faktor daya terdahulu (leading)
yang ditentukan oleh jenis beban yang ada pada sistem.
1. Faktor Daya Unity
Faktor daya unity adalah keadaan saat nilai cos adalah satu dan
tegangan sephasa dengan arus. Faktor daya Unity akan terjadi bila jenis
beban adalah resistif murni

Gambar 22 Arus Sephasa Dengan Tegangan


(Sumber : Dokumen Sendiri)
Pada Gambar terlihat nilai cos sama dengan 1, yang menyebabkan
jumlah daya nyata yang dikonsumsi beban sama dengan daya semu.
2.

Faktor Daya Terbelakang (Lagging)


Faktor daya terbelakang (lagging) adalah keadaan faktor daya saat
memiliki kondisi-kondisi sebagai berikut :
o Beban/ peralatan listrik memerlukan daya reaktif dari sistem atau beban
bersifat induktif.
o Arus (I ) terbelakang dari tegangan (V), V mendahului I dengan sudut

Gambar 23. Arus tertinggal dari tegangan sebesar sudut


(Sumber : Dokumen Sendiri)
Dari Gambar terlihat bahwa arus tertinggal dari tegangan maka
daya reaktif mendahului daya semu, berarti beban membutuhkan atau
menerima daya reaktif dari sistem.

29

3. Faktor Daya Mendahului (Leading)


Faktor daya mendahului (leading) adalah keadaan faktor daya saat memiliki
kondisi-kondisi sebagai berikut :
o Beban/ peralatan listrik memberikan daya reaktif dari sistem atau beban
bersifat kapasitif.
o Arus mendahului tegangan, V terbelakang dari I dengan sudut

Gambar 24. Arus Mendahului Tegangan Sebesar Sudut


(Sumber : Dokumen Sendiri)
Dari Gambar terlihat bahwa arus mendahului tegangan maka daya reaktif tertinggal
dari daya semu, berarti beban memberikan daya reaktif kepada sistem
2.5.3 Macam macam daya
a. Daya nyata
Didefinisikan sebagai daya listrik yang digunakan untuk keperluan
menggerakkan mesin-mesin listrik atau peralatan lainnya.
Rumus :
P = V x I x Cos (1 phase)
P = 3 x V x I x Cos (3 phase)
Ket :
P = Daya Nyata (Watt)
V = Tegangan (Volt)
I = Arus yang mengalir pada penghantar (Ampere)
Cos = Faktor Daya
b. Daya Semu (S)
Daya semu merupakan daya listrik yang melalui suatu penghantar transmisi
atau distribusi. Daya ini merupakan hasil perkalian antara tegangan dan arus yang
melalui penghantar.
Rumus :
S=VxI
(1 phase)
S = 3 x V x I (3 phase)
Ket :
S = Daya semu (VA)
V = Tegangan (Volt)
I = Arus yang mengalir pada penghantar (Amper)
c. Daya Reaktif (Q)
Daya reaktif merupakan selisih antara daya semu yang masuk pada
penghantar dengan daya aktif pada penghantar itu sendiri, dimana daya ini terpakai
untuk daya mekanik dan panas. Daya reaktif ini adalah hasil kali antara besarnya arus
dan tegangan yang dipengaruhi oleh faktor daya.

29

Rumus :
Q = V x I x Sin
Q = 3 x V x I x Sin
Ket :
Q = Daya reaktif (VAR)
V = Tegangan (Volt)
I = Arus (Amper)
Sin = Faktor Daya

2.6

Beban
Dalam sistem listrik arus bolak-balik, jenis beban dapat diklasifikasikan menjadi 3 macam,
yaitu :

Beban resistif (R)


Beban induktif (L)
Beban kapasitif (C)

2.6.1 Beban Resistif (R)


Beban resistif (R) yaitu beban yang terdiri dari komponen tahanan ohm saja
(resistance), seperti elemen pemanas (heating element) dan lampu pijar. Beban jenis ini
hanya mengkonsumsi beban aktif saja dan mempunyai faktor daya sama dengan satu.
Tegangan dan arus sefasa. Persamaan daya sebagai berikut :
P = VI
Dengan :
P = daya aktif yang diserap beban (watt)
V = tegangan yang mencatu beban (volt)
I = arus yang mengalir pada beban (A)

Gambar 25. Rangkaian Resistif Gelombang AC


(Sumber: http://saranabelajar.wordpress.com)

Grafik Arus dan Tegangan Pada Beban Resistif

2.6.2 Beban Induktif (L)

29

Beban induktif (L) yaitu beban yang terdiri dari kumparat kawat yang dililitkan pada
suatu inti, seperti coil, transformator, dan solenoida. Beban ini dapat mengakibatkan
pergeseran fasa (phase shift) pada arus sehingga bersifat lagging. Hal ini disebabkan oleh
energi yang tersimpan berupa medan magnetis akan mengakibatkan fasa arus bergeser
menjadi tertinggal terhadap tegangan. Beban jenis ini menyerap daya aktif dan daya
reaktif. Persamaan daya aktif untuk beban induktif adalah sebagai berikut :
P = VI cos
Dengan :
P = daya aktif yang diserap beban (watt)
V = tegangan yang mencatu beban (volt)
I = arus yang mengalir pada beban (A)
= sudut antara arus dan tegangan

Gambar 26. Rangkaian Induktif Gelombang AC


Sumber: http://saranabelajar.wordpress.com

Grafik Arus dan Tegangan Pada Beban Induktif

Untuk menghitung besarnya rektansi induktif (XL), dapat digunakan rumus:

Dengan :
XL = reaktansi induktif
F = frekuensi (Hz)
L = induktansi (Henry)
2.6.3 Beban Kapasitif (C)
Beban kapasitif (C) yaitu beban yang memiliki kemampuan kapasitansi atau kemampuan
untuk menyimpan energi yang berasal dari pengisian elektrik (electrical discharge) pada

29

suatu sirkuit. Komponen ini dapat menyebabkan arus leading terhadap tegangan. Beban
jenis ini menyerap daya aktif dan mengeluarkan daya reaktif. Persamaan daya aktif untuk
beban induktif adalah sebagai berikut :
P = VI cos

Dengan :
P = daya aktif yang diserap beban (watt)
V= tegangan yang mencatu beban (volt)
I = arus yang mengalir pada beban (A)
= sudut antara arus dan tegangan

Gambar 27. Rangkaian Kapasitif Gelombang AC


Sumber: http://saranabelajar.wordpress.com

Grafik Arus dan Tegangan Pada Beban Kapasitif


Untuk menghitung besarnya rektansi kapasitif (XC), dapat digunakan rumus:

2.7

Karakteristik Generator
2.7.1

Generator Tanpa Beban


Jika poros generator diputar dengan kecepatan sinkron dan rotor diberi
arus medan If, maka tegangan E0 akan terinduksi pada kumparan jangkar
stator sebesar :
E0 = cn

29

dimana :
c = konstanta mesin
n = putaran sinkron
= fluks yang dihasilkan oleh If
Generator arus bolak-balik yang dioperasikan tanpa beban, arus jangkarnya
akan nol (Ia = 0) sehingga tegangan terminal Vt = Va = Vo. Karena besar ggl
induksi merupakan fungsi dari fluks magnet, maka ggl induksi dapat dirumuskan:
Ea = f (), yang berarti pengaturan arus medan sampai kondisi tertentu akan
mengakibatkan ggl induksi tanpa beban dalam keadaan saturasi.

Gambar 28. Kurva Dan RangkaianTanpa Berbeban.


(Sumber: http://dunia-listrik.blogspot.com)
2.7.2 Generator Berbeban
Tiga macam sifat beban jika dihubungkan dengan generator, yaitu
beban resistif, beban induktif, dan beban kapasitif. Akibat pembeban ini
akan berpengaruh terhadap tegangan beban dan faktor dayanya. Dalam
keadaan berbeban arus jangkar akan mengalir dan mengakibatkan
terjadinya reaksi jangkar. Reaksi jangkar bersifat reaktif karena itu
dinyatakan sebagai reaktan dan disebut sebagai reaktan pemagnet (Xm).
Reaktan pemagnet ini bersama sama dengan reaktan fluks bocor (Xa)
dikenal sebagai reaktan sinkron (Xs).Pada saat generator dibebani akan
terjadi drop tegangan sebelum terminal outputnya. Besarnya drop tegangan
ini sangat tergantung pada kondisi beban yang ada.
Adapun macam macam drop tegangan tersebut yakni :
1.Drop tegangan akibat tahanan jangkar (IRa)
2.Drop teganagn akibat reaktansi jangkar (IXa)
3.Drop tegangan Flux bocor (IXl)
Seperti telah dibahas, maka beban AC dapat digolongkan dalam 3
kondisi yaitu :
1.

Beban Cos = 1

29

Beban Resistif adalah jumlah daya yang diperlukan untuk


pembentukan medan magnet. Sifat beban resistif adalah arus beban
resistif sefase dengan tegangannya atau faktor daya atau cos = 1.
Efek beban ini terhadap generator adalah putaran generator turun dan
tegangan generator juga turun. Contoh dari beban resistif adalah lampu
pijar dan alat pemanas

Gambar 29. segitiga daya


beban
resistif
(Sumber:
http://masdodod.files.wordpress.com/2009/03/bab-13-generator-sinkron.pdf)
E0 =

(V + I Ra)2 + (I (Xa + Xl)2)

Keterangan :
Ea = Tegangan yang terangkat pada kumparan jangkar (tegangan beban
nol)
E = Emf induksi beban
V = Tegangan terminal
2.

Cos = Lagging
Beban Induktif adalah beban yang mengandung kumparan kawat yang
dililitkan pada sebuah inti besi. Sifat beban induktif adalah arus beban induktif
900 ketinggalan terhadap tegangannya atau faktor daya : cos = 0. Bila Cos
= 0 maka Sin = 1 dan daya aktif menjadi nol daya reaktif maksimum.
Efek beban ini terhadap generator adalah tegangan stator turun putaran tetap.
Contoh dari beban induktif adalah kumparan, motor-motor listrik, dan lampu
TL.

Gambar 30. segitiga daya beban induktif

29

(Sumber: http://masdodod.files.wordpress.com/2009/03/bab-13generator-sinkron.pdf)
E0 =

3.

(V cos + I Ra)2 + (Vsin + I(Xa + Xl) )2

Cos = leading
Beban AC pada kondisi segitiga daya beban kapasitif.Beban
Kapasitif adalah beban yang mengandung suatu rangkaian kapasitor.
Sifat beban kapasitif adalah arus beban kapasitif 900 mendahului
terhadap tegangannya atau faktor daya : cos = 0.
Efek beban ini terhadap generator adalah akibatnya tegangan stator naik
putaran tetap. Contoh dari beban kapasitif adalah kapasitor/kondensator.

Gambar

30. segitiga daya

beban

kapasitif

(Sumber
:
http://masdodod.files.wordpress.com/2009/03/bab-13-generator-sinkron.pdf)

E0 =

2.7.3

(V cos + IRa )2 + (V sin Ixs)2

Generator beban tidak seimbang

Sifat terpenting dari pembebanan yang seimbang adalah jumlah


phasor dari ketiga tegangan adalah sama dengan nol, begitupula dengan
jumlah phasor dari arus pada ketiga fase juga sama dengan nol. Jika
impedansi beban dari ketiga fase tidak sama, maka jumlah phasor dan arus
netralnya (In) tidak sama dengan nol dan beban dikatakan tidak seimbang.

29

Ketidakseimbangan beban ini dapat saja terjadi karena hubung singkat atau
hubung terbuka pada beban.
Dalam sistem 3 fase ada 2 jenis ketidakseimbangan, yaitu:
1. Ketidakseimbangan pada beban.
2. ketidakseimbangan pada sumber listrik (sumber daya)
Kombinasi dari kedua ketidakseimbangan sangatlah rumit untuk
mencari pemecahan permasalahannya, oleh karena itu kami hanya akan
membahas mengenai ketidakseimbangan beban dengan sumber listrik yang
seimbang.

2.8

Aplikasi di kapal :
1.

Main Generator
Main Generator merupakan generator 3 phase sinkron yang terhubung
dengan engine atau motor penggerak. Generator kapal merupakan alat bantu
kapal yang berguna untuk memenuhikebutuhan listrik diatas kapal. Dalam
penentuan kapasitas generator kapal yang akan digunakan untuk melayani
kebutuhan listrik diatas kapal maka analisa beban dibuat untuk menentukan
jumlah daya yang dibutuhkan dan variasi pemakaian untuk kondisi
operasional seperti manuver, berlayar, berlabuh atau bersandar serta beberapa
kondisi lainnya.

Sumber: http://www.railtasmania.com

DIESEL GENERATOR ENGINE


Engine Type : C 9
POWER : 217 BHP 162 BkW at 1500 RPM
Manufacture : CATERPILLAR

ELECTRICAL GENERATOR
Engine Type : LSA M 46 2M5
RPM
: 1500

29

2.

Volt / KW : 380 / 150


Hz / PHASE: 50 / 3
WEIGHT
: 360 Kg
Manufacture : LEROY SUMER
DATE
: 2014

Harbour Generator

Sumber: http://www.railtasmania.com

Harbour generator digunakan untuk mensuplai listrik saat kapal sandar


di pelabuhan, atau bisa juga menggunakan shore connection dari pelabuhan,
tempatnya juga di kamar mesin.
HARBOUR DIESEL ENGINE

Engine Type
Output and Revolution
Power
Maker

: C4.4DIT
: 1500
: 76 HP
: CATERPILLAR

HARBOUR ELECTRICAL DIESEL ENGINE

3.

Engine Type : LSA M 43.2 L8 C6/4


Serial No.
: H.125 : 31167/3
RPM
: 1500
VOLT
: 380
KW
: 51.5
PHASE
: 3
HZ
: 50
MAKER
: LEROY SOMER

Emergency Generator

29

Sumber: http://www.railtasmania.com

Emergency generator digunakaan saat kapal sedang black out/main


generator gagal, sehingga emergency generator otomatis hidup untuk
mensuplai listrik buat peralatan navigasi dan komunikasi.
EMERGENCY DIESEL ENGINE

Engine Type
: Perkins 1104A-44TG2
Output and Revolution : 1500
Maker
: OLYMPIAN

EMERGENCY ELECTRICAL DIESEL ENGINE

Engine Type
RPM
VOLT
KW
PHASE
HZ

:
:
:
:
:
:

LL2014L
1500
380
70.4 kW
3
50

29

29