Anda di halaman 1dari 4

4.1.

Sejarah imunologi
Pada mulanya imunologi merupakan cabang mikrobiologi yang mempelajari respons
tubuh, terutama respons kekebalan terhadap penyakit infeksi. Pada tahun 1546, Girolamo
Fracastoro mengajukan teori kontagion yang menyatakan bahwa pada penyakit infeksi
terdapat suatu zat yang dapat memindahkan penyakit tersebut dari satu individu ke
individu lain, tetapi zat tersebut sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat dengan mata dan
pada waktu itu belum dapat diidentifikasi.
Pada tahun 1798, Edward Jenner mengamati bahwa seseorang dapat terhindar dari
infeksi variola secara alamiah, bila ia telah terkontaminasi sebelumnya dengan cacar sapi
(cow pox). Sejak saat itu, mulai dipakailah vaksin cacar.Dengan ditemukannya mkroskop
maka kemajuan dalam bidang makrobiologi meningkat dan mulai dapat ditelusuri
penyebab penyakit infeksi.Selain itu peneliti Perancis, Charles Richet dan Paul Portier
(1901) menemukan bahwa reaksi kekebalan yang diharapkan timbul dengan
menyuntikkan zat toksin pada anjing tidak terjadi, bahkan yang terjadi adalah keadaan
sebaliknya yaitu kematian sehingga dinamakan dengan istilah anafilaksis (tanpa
pencegahan).
Pada tahun 1873 Charles Blackley mempelajari penyakit hay fever, yaitu penyakit
dengan gejala klinis konjungtivitis dan rinitis, serta melihat bahwa ada hubungan antara
penyakit ini dengan serbuk sari Lalu pada tahun 1911-1914, Noon dan Freeman mencoba
mengobati penyakit hay fever dengan cara terapi imun yaitu menyuntikkan serbuk sari
subkutan sedikit demi sedikit. Sejak itu cara tersebut masih dipakai untuk mengobati
penyakit alergi terhadap antigen tertentu yang dikenal dengan caradesensitisasi.
Pada tahun 1923, Cooke dan Coca mengajukan konsep atopi (strange disease)
terhadap sekumpulan penyakit alergi yang secara klinis mempunyai manifestasi
sebagai hay fever, asma, dermatitis, dan mempunyai predisposisi diturunkan. Dan mulai
saat itu ilmu alergi-imunologi diterapkan dalam kelainan dan penelitian di bidang alergi
klinis.
Landsteiner (1900) menemukan golongan darah ABO, dan disusul dengan golongan
darah rhesus oleh Levine dan Stenson (1940) , maka kelainan klinis berdasarkan reaksi
imun semakin dikenal. Pada masa itu, fenomena imun yang terjadi baru dapat dijabarkan
dengan istilahimunologi saja. Baru pada tahun 1939, 141 tahun setelah penemuan Jenner,
Tiselius dan Kabat menemukan secara elektroforesis bahwa antibodi terletak dalam
spektrum globulin gama yang kemudian dinamakanimunoglobulin (Ig). Dengan cara
imunoelektroforesis diketahui bahwa imunoglobulin terdiri atas 5 kelas yang diberi nama
IgA, IgG, IgM, IgD dan IgE (WHO, 1964).
4.2.Pengertian imunologi

Imunologi adalah ilmu yang mencakup kajian mengenai semua aspeksistem


imun (kekebalan) pada semua organisme. Imunologi memiliki berbagai penerapan pada
berbagai disiplin ilmu dan karenanya dipecah menjadi beberapa subdisiplin seperti :
malfungsi
sistem
imun
pada
gangguan
imunologi
(penyakit
autoimun, hipersensitivitas, defisiensi imun, penolakan allograft); karakteristik fisik,
kimiawi, dan fisiologis komponen-komponen sistem imun. Imunologi juga di katakan
sebagai suatu bidang ilmu yang luas yang meliputi penelitian dasar dan penerapan klinis ,
membahas masalah antigen, antibodi, dan fungsi fungsi berperantara sel terutama yang
berhubungan dengan imunitas terhadap penyakit , reaksi biologik yang bersifat
hipersensitif, alergi dan penoloakan jaringan asing.
4.3.Sistem imun
Sistem Imun adalah semua mekanisme yang digunakan badan untuk
mempertahankan keutuhan tubuh sebagai perlindungan terhadap bahaya yang dapat di
timbulkan berbagai bahan dalam lingkungan hidup.Imunitas atau kekebalan adalah
sistem
mekanisme
pada organisme yang
melindungi
tubuh
terhadap
pengaruh biologis luar dengan mengidentifikasi dan membunuh patogen serta sel tumor.
imunitas atauSistem imun tubuh manusia terdiri dari imunitas alami atau system imunnon
spesifik dan imunitas adaptif atau system imun spesifik.
Sistem imun non-spesifik yang alami dan sistem imun spesifik.Sistem imun nonspesifik telah berfungsi sejak lahir, merupakan tentara terdepan dalam sistem imun,
meliputi level fisik yaitu pada kulit, selaput lendir, dan silia, kemudian level larut seperti
pada asam lambung atau enzim.
Sistem imun spesifik ini meliputi sel B yang membentuk antibodi dan sel T yang
terdiri dari sel T helper, sel T sitotoksik, sel T supresor, dan sel T delayed hypersensitivity. Salah satu cara untuk mempertahankan sistem imun berada dalam kondisi optimal adalah dengan asupan gizi yang baik dan seimbang.Kedua sistem imun ini bekerja
sama dengan saling melengkapi secara humoral, seluler, dan sitokin dalam mekanisme
yang kompleks dan rumit.
4.3.1. Imunitas Alami atau Non spesifik
Sistem imun alami atau sistem imun nonspesifik adalah respon pertahanan inheren
yang secara nonselektif mempertahankan tubuh dari invasi benda asing atau abnormal
dari jenis apapun dan imunitas ini tidak diperoleh melalui kontak dengan suatu antigen.
Sistem ini disebut nonspesifik karena tidak ditujukan terhadap mikroorganisme tertentu.
Selain itu sistem imun ini memiliki respon yang cepat terhadap serangan agen patogen
atau asing, tidak memiliki memori immunologik, dan umumnya memiliki durasi yang
singkat.
Sistem imun nonspesifik terdiri atas pertahanan fisik/mekanik seperti kulit, selaput
lendir, dan silia saluran napas yang dapat mencegah masuknya berbagai kuman patogen

kedalam tubuh; sejumlah komponen serum yang disekresikan tubuh, seperti sistem
komplemen, sitokin tertentu, dan antibody alamiah; serta komponen seluler,seperti sel
natural killer (NK),.
1. Sistem Komplemen adalah komponen immunitas bawaan lainnya yang penting.
Aktivasi sistem komplemen mengasilkan suatu reaksi biokimia yang akan
melisiskan dan merusak sel asing atau sel tak berguna. Tanpa aktivasi, komponen
dari sistem komplemen bertindak sebagai proenzim dalam cairan tubuh.
2. Sitokin dan Kemokin (Cytokine and chemokine) adalah polipeptida yang memiliki
fungsi penting dalam regulasi semua fungsi sistem imun. Sitokin dan kemokin
menghasilkan hubungan kompleks yang dapat mengaktifkan atau menekan respon
inflamasi. Contoh sitokin yang berperan penting dalam merespon infeksi bakteri
yaitu :Interleukin-1 (IL-1) dan tumor necrosis factor-a (TNF-a).
3. Antibodi alamiah (immunoglobulin) didefinisikan sebagai antibodi pada individu
normal dan sehat yang belum distimulasi oleh antigen eksogen.Antibodi alamiah
berperan penting sebagai pertahanan lini pertama terhadap patogen dan beberapa
tipe sel, termasuk prakanker, kanker, sisa pecahan sel, dan beberapa antigen.
4. Natural Killer Cells (Sel Natural Killer) diketahui secara morfologi mirip dengan
limfosit ukuran besar dan dikenal sebagai limfosit granular besar. Sekitar 1015%
limfosit yang beredar pembuluh darah tepi adalah sel NK. Sel NK berperan penting
pada respon dan pengaturan imun bawaan. Sel NK mengenal dan melisiskan sel
terinfeksi patogen dan sel kanker. Sel NK melisiskan sel dengan melepaskan
sejumlah granul sitolitik di sisi interaksi dengan target. Komponen utama granul
sitolitik adalah perforin. Sel NK juga menghasilkan sitokin dan kemokin yang
digunakan untuk membunuh sel target, termasuk IFN-, TNF-a, IL-5, dan IL-13.
Sistem imun yang ada pada tubuh dapat kita lihat dari sel darah kita.untuk
mengetahui berbagai bentuk sel darah akan di tunjukan pada gambar 1.
Gambar 1. Darah yang mengandung darah merah dan darah putih beserta bagian
bagiannya.
4.3.2. Sistem Imun Adaptif (adaptive immunity system)
Imunitas ini terjadi setelah pamaparan terhadap suatu penyakit infeksi, bersifat
khusus dan diperantarai oleh oleh antibody atau sel limfoid. Imunitas ini bisa bersifat pasif
dan aktif.
1. Imunitas pasif, diperoleh dari antibody yang telah terbentuk sebelumnya dalam
inang lain.

2. Imunitas aktif, resistensi yang di induksi setelah kontak yang efektif denga antigen
asing yang dapat berupa infeksi klinis atau subklinis, imunisasi, pemaparan
terhadap produk mikroba atau transplantasi se lasing.
Sistem Imun Adaptif atau sistem imun nonspesifik mempunyai kemampaun untuk
mengenal benda yang dianggap asing bagi dirinya. Sistem imun adaptif memiliki beberapa
karakteristik, meliputi kemampuan untuk merespon berbagai antigen, masing-masing
dengan pola yang spesifik; kemampuan untuk membedakan antara antigen asing dan
antigen sendiri; dan kemampuan untuk merespon antigen yang ditemukan sebelumnya
dengan memulai respon memori yang kuat. Terdapat dua kelas respon imun spesifik :
1) Imunitas humoral (Humoral immunity), Imunitas humoral ditengahi oleh
sekelompok limfosit yang berdiferiensasi di sumsum tulang, jaringan limfoid
sekunder yaitu meliputi limfonodus, limpa dan nodulus limfatikus yang terletak di
sepanjang saluran pernafasan, pencernaan dan urogenital.
2) Imunitas selular (cellular immunity), Sel T mengalami perkembangan dan
pematangan dalam organ timus. Dalam timus, sel T mulai berdiferensiasi dan
memperoleh kemampuan untuk menjalankan fungsi farmakologi tertentu.
Berdasarkan perbedaan fungsi dan kerjanya, sel T dibagi dalam beberapa
subpopulasi, yaitu sel T sitotoksik (Tc), sel T penindas atau supresor (Ts) dan sel T
penolong (Th). Perbedaan ini tampak pula pada permukaan sel-sel tersebut.Untuk
mengetahui cara kerja sel T penindas atau sel T pembunhuh dapat kita lihat pada
gambar 2.