Anda di halaman 1dari 13

BAB I

TINJAUAN TEORI

A. Defenisi
Pneumothoraks adalah pengumpulan udara dalam ruang potensial
antara pleural visceral dan parietal.
Pneumothoraks terjadi bila udara masuk kedalam rongga pleura,
akibatnya jaringan paru terdesak seperti halnya rongga pleura kemasukan
cairan. Lebih tepat kalau dikatakan paru kolaps (jaringan paru elastis).
Pneumothoraks adalah udara atau gas dalam kavum pleura yang
memisahkan pleura viseralis dan pleura parietalis sehingga jaringan paru
tertekan. Pneumothorak dapat terjadi sekunder akibat asma, bronchitis kronis,
emfisema. Pneumothoraks adalah kolapsnya sebagian atau seluruh paru yang
terjadi sewaktu udara atau gas lain masuk ke ruang pleura yang mengelilingi
paru.
Pneumothoraks merupakan keadaan emergensi yang disebabkan oleh
akumulasi udara dalam rongga pleura, sebagai akibat dari proses penyakit
atau cedera.
Pneumothoraks adalah adanya udara dalam rongga pleura, dapat terjadi
spontan atau karena trauma.
Kolaps paru-paru / Pneumothorak adalah penimbunan udara atau gas
dalam rongga pleura yang terletak diantara selaput yang melapisi paru-paru
dan rongga dada.
Kolaps paru-paru / pneumothoraks adalah penimbunan udara atau gas
didalam rongga pleura yang dapat mengakibatkan tekanan udara meningkat

dan menurunnya kapasitas vital paru-paru sehingga akan menyebabkan


kegagalan pernapasan.
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pneumothoraks adalah
pengumpulan udara didalam rongga pleura yang mengakibatkan gagal napas
yang dapat terjadi secara spontan atau karena trauma.

B. Etiologi
Masuknya udara ke dalam rongga dapat melalui luka pada dinding
dada, atau meluasnya radang paru-paru. Pada sapi bisa terjadi melalui
diafragma, hal ini akibat tusukan benda tajam. Terdapat beberapa jenis
pneumothorax yang dikelompokan berdasarkan penyebabnya :
1. Pneumothoraks Spontan
Terjadi tanpa penyebab yang jelas. Pneumothorax spontan primer
terjadi jika pada penderita tidak ditemukan penykait paru-paru.
Pneumothoraks ini diduga disebabkan pecahnya kantong kecil berisi udara

di dalam paru-paru yang disebut bleb atau bulla. Pneumothorak spontan


sekunder merupakan komplikasi dari penyakit paru-paru (misalnya
penyakit paru obstruktif menahun, asma, fibrosis kistik, tuberkulosis,
batuk rejan).
2. Pneumothoraks Traumatik
Terjadi akibat cedera traumatik pada dada. Traumanya bisa bersifat
menembus (luka tusuk) atau tumpul (benturan pada kecelakaan).
Pneumothoraks juga bisa merupakan komplikasi dari tindakan medis
tertentu (misalnya torakosentesis). Bila akibat jatuh atau patah rusuk,
sering akan kita temukan emfisema subkutan, karena pleura perietalnya
juga mengalami kerusakan (robek).
3. Ketegangan Pneumothoraks
Pneumothoraks

progresif

menyebabkan

kenaikan

tekanan

intrapleural ketingkat yang menjadi positif sepanjang siklus pernafasan


dan menutup paru-paru, pergeseran mediastinum, dan merusak vena
kembali kejantung. Air terus masuk kedalam rongga pleura tetapi tidak
dapat keluar.
4. Pneumothoraks Iatiogenik
Disebabkan oleh intervensi medis, termasuk jarum trausthoracic
aspirasi, thoracentesis, penempatan kateter vena pusat, pentilasi mekanik
dan resusitasi cardiopulmonari.

C. Patofisiologi
Meningkatnya tekanan intra pleural sehingga akan menyebabkan
kemampuan dilatasi alveoli menurun dan lama-kelamaan mengakibatkan
atelektasis (layuhnya paru-paru). Apabila luka pada dinding dada tertutup dan

klien masih mampu bertahan, udara yang berlebihan dapat diserap hingga
tekanan udara di dalam rongga pleura akan kembali normal.
Karena adanya luka terbuka atau oleh pecahnya dinding paru-paru,
kuman dapat terhisap dan berkoloni di dalam pleura hingga terjadi inspeksi
pleuritis. Jenis kuman penyebab radang yang terbanyak adalah F
nechrophorum, chorinebacterium Spp, dan streptococcus spp. Oleh radang
akan terbentuk exudat yang bersifat pnukopurulent, purulent akan
serosanguineus yang disertai pembentukan jonjot-jonjot fibrin.
Pada luka tembus dada, bunyi aliran udara terdengar pada area luka
tembus. Yang selanjutnya disebut sucking chest wound (luka dada
menghisap). Jika tidak ditangani maka hipoksia mengakibatkan kehilangan
kesadaran dan koma. Selanjutnya pergeseran mediastinum ke arah
berlawanan dari area cedera dapat menyebabkan penyumbatan aliran vena
kaca superior dan inferior yang dapat mengurangi cardiac preload dan
menurunkan cardiac output. Jika ini tidak ditangani, pneumothoraks makin
berat dapat menyebabkan kematian dalam beberapa menit. Beberapa
pneumothoraks spontan disebabkan pecahnya blebs, semacam struktur
gelembung pada permukaan paru yang pecah menyebabkan udara masuk ke
dalam kavum pleura.

D. Manifestasi Klinik
Gejala dan tandanya sangat bervariasi, tergantung kepada jumlah udara
yang masuk ke dalam rongga pleura dan luasnya paru-paru yang mengalami
kolaps. Gejalanya bisa berupa :
1. Nyeri dada kejam yang timbul secara tiba-tiba dan semakin nyeri jika
penderita menarik nafas dalam atau terbatuk.
2. Sesak nafas
3. Dada terasa sempit
4. Mudah lelah
5. Denyut jantung cepat
6. Warna kulit menjadi kebiruan akibat kekurangan oksigen.

Gejala-gejala tersebut mungkin timbul pada saat istirahat akan tidur.


Gejala lain yang mungkin ditemukan :
1. Hidung tampak kemerahan
2. Cemas, stress, tegang
3. Tekanan darah rendah (hipotensi)
E. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan fisik dengan bantuan sketoskop menunjukkan adanya
penurunan suara
2. Gas darah arteri untuk mengkaji PaO2 dan PaCO2
3. Pemeriksaan EKG
4. Sinar X dada, menyatakan akumulasi udara / cairan pada area pleural,
dapat menunjukan penyimpangan struktur mediastinal (jantung)
5. Torasentensis ; menyatakan darah / cairan serosanguinosa
6. Pemeriksaan darah vena untuk pemeriksaan darah lengkap dan elektrolit.
Hb : mungkin menurun, menunjukkan kehilangan darah
7. Pengkajian tingkat kesadaran dengan menggunakan pendekatan AVPU
8. Pulse Oximeter : pertahankan saturasi > 92 %
F. Penatalaksanaan
1. Chest wound/sucking chest wound
Luka tembus perlu segera ditutup dengan pembalut darurat atau
balutan tekan dibuat kedap udara dengan petroleum jelly atau plastik
bersih. Pembalut plastik yang steril merupan alat yang baik, namun plastik
pembalut kotak rokok (selofan) dapat juga digunakan. Pita selofan
dibentuk

segitiga

salah

satu

ujungnya

dibiarkan

tebuka

untuk

memungkinkan udara yang terhisap dapat dikeluarkan. Hal ini untuk

mencegah terjadinya tension pneumothoraks. Celah kecil dibiarkan


terbuka sebagai katup agar udara dapat keluar dan paru-paru akan
mengembang.
2. Blast injury or tention
Jika udara masuk kerongga pleura disebabkan oleh robekan jaringan
paru, perlu penanganan segera. Sebuah tusukan jarum halus dapat
dilakukan untuk mengurangi tekanan agar paru dapat mengembang
kembali.
3. Penatalaksanaan WSD ( Water Sealed Drainage )
4. Perawatan Per-hospital
Beberapa paramedis mampu melakukan needle thoracosentesis
untuk mengurangi tekanan intrapleura. Jika dikehendaki intubasi dapat
segera dilakukan jika keadaan pasien makin memburuk. Perwatan medis
lebih lanjut dan evaluasi sangat dianjurkan segera dilakukan. Termasuk
dukungan ventilasi mekanik.
5. Pendekatan melalui torakotomi anterior, torakomi poskerolateral dan
skernotomi mediana, selanjutnya dilakukan diseksi bleb, bulektonomi,
subtotal pleurektomi. Parietalis dan Aberasi pleura melalui Video Assisted
Thoracoscopic Surgery (VATS).
G. Komplikasi
1. Tension pneumathoraks dapat menyebabkan pembuluh darah kolaps,
akibatnya pengisian jantung menurun sehingga tekanan darah menurun.
Paru yang sehat juga dapat terkena dampaknya.
2. Pneumothoraks dapat menyebabkan hipoksia dan dispnea berat. Kematian
menjadi akhir dari pneumothoraks jika tidak ditangani dengan cepat.

3. Gambaran ancaman terhadap kehidupan pada pasien ekstrim yaitu


pertimbangan

tension

pneumothoraks,

nafas

pendek,

hypotensi,

tachykardy, trachea berubah.


Diagnose banding :
a. Acute myocardial infarction
b. Emphysema
H. Prognosis
Spontaneus pneumothoraks mempengaruhi kira-kira 9.000 orang-orang
setiap tahun di Amerika yang tidak mempunyai sejarah dari penyakit paru.
Tipe dari pneumothoraks ini adalah paling umum pada pria-pria yang
berumur antara 20 dan 40 tahun, terutama pada pria-pria yang tinggi dan
kurus. Merokok lebih ditunjukan meningkatkan resiko dari pneumothoraks.
Hasil dari pneumothoraks tergantung pada luasnya dan tipe dari
pneumothoraks spontaneus. Pneumothoraks akan umumnya hilang dengan
sendirinya tanpa perawatan. Bahkan ketika kecil jauh lebih serius dan
membawa angka kematian sebesar 15%. Secondary pneumothoraks
memerlukan perawatan darurat dan segera mempunyai satu pneumothoraks
meningkatkan resiko terulang kembali. Angka kekambuhannya adalah kirakira 40%. Kebanyakan kekambuhan terjadi dalam waktu 1,5 sampai 2 tahun.

BAB II
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian

1. Aktivitas / Istirahat
Gejala : Dispnea dengan aktivitas ataupun istirahat
2. Sirkulasi
Tanda : Takikardia, frekuensi tak teratur/disritmia, irama jantung gallop.
Nadi apical berpindah, hipertensi, hipotensi.
3. Integritas Ego
Tanda : Ketakutan, gelisah, bingung, ansietas
4. Makanan / Cairan
Tanda : Adanya pemasangan IV vena sentral / infuse tekanan
5. Nyeri / Kenyamanan
Gejala : Nyeri dada unilateral, meningkat karena pernapasan, batuk, tibatiba gejala sementara batuk atau regangan. Tajam dan nyeri,
menusuk yang diperberat oleh napas dalam.
Tanda : Berhati-hati pada area yang sakit, perilaku distraksi, mengerutkan
wajah
6. Pernapasan
Gejala : Kesulitan bernapas, lapar napas, batuk, iwayat bedah dada/trauma,
inflamasi/infeksi paru, pneumothorak spontan sebelumnya,
PPOM
Tanda : Takipnea, bunyi napas menurun atau tidak ada, peningkatan kerja
napas, fremitus menurun, Hiperresonan (udara), bunyi pekak
(cairan), Gerakan dada tidak sama

Kulit : pucat, sianosis, berkeringat, krepitasi subkutan, terapi PEEP


7. Keamanan
Gejala : Adanya trauma dada, Radiasi / kemoterapi untuk keganasan
8. Penyuluhan / pembelajaran
Gejala : Riwayat faktor risiko keluarga : TBC, Kanker, bukti kegagalan
membaik.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan penurunan ekspansi paru
(akumulasi cairan / udara), gangguan musculoskeletal, inflamasi nyeri.
2. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpajan pada informasi,
berulangnya masalah.
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, penurunan
akan ketahanan nyeri.
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia.
C. Intervensi Keperawatan
1. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan penurunan ekspansi paru
(akumulasi cairan / udara), gangguan musculoskeletal, inflamasi nyeri.
Intervensi :
a. Identifikasi etiologi / faktor penentu
R/ : Pemahaman penyebab kolaps perlu untuk pemasangan selang dada
yang tepat.
b. Evaluasi fungsi pernapasan, observasi TTV
R/ : Distres pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi
sebagai akibat stress fisiologi dan nyeri.

c. Awasi kesesuian pola napas


R/ : Kesulitan bernapas dengan ventilator dan/atau peningkatan tekanan
jalan napas diduga memburuknya komplikasi.
d. Kaji premitus
R/ : Suara ataau taktil premitus menurun pada jaringan yang terisi
cairan / konsolidasi.
e. Pertahankan posisi nyaman
R/ : Meningkatkan inspirasi maksimal
f. Berikan oksigen kanul / masker sesuai indikasi
R/: Meningkatkan penghilangan distress respirasi dan sianosis.
2. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpajan pada informasi,
berulangnya masalah.
Intervensi :
a. Kaji patologi masalah individu
R/ : Informasi menurunkan takut karena ketidaktahuan.
b. Kaji ulang tanda dan gejala
R/ : Menurunkan / mencegah potensial komplikasi
c. Kaji ulang praktik kesehatan yang baik, contoh nutrisi baik, istirahat,
latihan
R/: Mempertahankan kesehatan umum, meningkatkan penyembuhan
dan dapat mencegah kekambuhan.
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, penurunan
akan ketahanan nyeri.
Intervensi :
a. Tingkatkan tirah baring atau duduk, jaga lingkungan tenang
R/ : meningkatkan istirahat dan ketenangan

b. Tingkatkan aktivitas sesuai toleransi


R/ : Tirah baring lama nenurunkan kemampuan
c. Bantu melakukan rentang gerak sendi pasif/aktif
R/ : Membantu meregangkan persendian
d. Berikan obat sesuai indikasi, sedative, agen anti ansietas
R/ : Membantu dalam manajemen keterbukaan / kebutuhan tidur.
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia.
Intervensi :
a. Awasi perawatan diet. Beri makan sedikit tapi sering
R/ : Makan banyak sulit untuk mengatur bila pasien anorexia
b. Berikan perawatan mulut sebelum makan
R/ : Menghilangkan rasa tidak enak, meningkatkan nafsu makan
c. Anjurkan makan pada posisi tegak
R/ : Menurunkan rasa penuh pada abdomen
d. Konsul dengan ahli diet, sesuai kebutuhan klien
R/ : Berguna untuk membuat program diet klien
e. Berikan obat sesuai indikasi, antiemetic
R/ : Dapat menurunkan dan meningkatkan toleransi makanan

DAFTAR PUSTAKA

Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofiologi Edisi Revisi 3. Jakarta : EGC
Doenges, Marylinn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk
Hinchliff, Sue. 1999. Kamus Keperawatan edisi 17. Jakarta : EGC.
http://analis-untag.blogspot.com/2016/05/kolaps-paru-paru-pneumothorax.html
http://nursingspirit.blgspot.com/2016/05/asuhan-keperawatan-gawat-darurat
pada_8918.html
http://whedacaine.wordpress.com/2016/05/08/pneumothorax
Mansjoer, Arif. dkk . 2008. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2 Edisi 3. Jakarta.
Media Aesculapius FKUI
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta : EGC
Syaifuddin, H . 2006 . anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan Edisi 3.
Jakarta : EGC.
Tambayong, Jan . 2000. Patofisiologi untuk Keperawatan. Jakarta : EGC.
Website yang diakses di Banjarmasin, pada tanggal 8 mei 2016 jam 07.45 pm.