Anda di halaman 1dari 15

RANGK.

MODUL 3 BLOK 6

gerakan
circumduksi.
biGerakannya
bersamaan
dengan gerakan articulatio
acromioclavicularis
membentuk gerakan pada
cingulum
exstremitas
superior(shoulder girdle).

1. Arthrologi & Kinesiologi Ekstr. Superior


(smw
2. Sist. Saraf Sensoris 2,3
3. Mam2 reseptor 1,2,3
4. Menjelaskan tentang mekanisme
penjalaran impuls dari reseptor sampai ke
Sistem Saraf Pusat 1,3

2.

Articulatio Acromioclavicularis
Type
: arthodial joint
Tulang
: antara
pars
acromialis
clavicula dengan tepi medial processus
acromialis scapula

5. Mek. Refleks fisiologis

Ligament :

Capsula articularis
Lig.acromioclaviculare
superior
dan inferior

Discus articularis

Lig.coracoclaviculare
Gerakan : gliding dan gerakan rotasi
scapula pada clavicula

ARTHROLOGI & KINESIOLOGI EKSTR.


SUPERIOR
Persendian Pada Ekstremitas
Superior
Persendian pada exstremitas
superior, meliputi:

Articulatio
sternoclavicularis
dan
Articulatio
Acromioclavicularis
membentuk shoulder girdle. Adapun
otot-otot penggerak dari shoulder
girdle, yaitu :

1. Articulatio sternoclavicularis
2. Articulatio acromioclavicularis
3. Articulatio humeri
4. Articulatio cubiti
5. Articulatio radioulnaris
6. Articulatio radiocarpea
7. Articulatio intercapalia
8. Articulatio carpometacarpalia
9. Articulatio intermetacarpalia
10.Articulatio
metacarpophalangealis
11.Articulatio interphalangealis
1.

Elevasi

M. upper trapezius

M. levator scapulae

M. sternocleidomstoideus

M. rhomboids
Depressi
M. Subclavius
M. pectoralis minor
M. lower trapezius
Protraksi
M. serratus anterior
M. pectoralis minor
Retraksi
M. Rhomboids
M. Middle & lower trapezius
Up
M. upper-lower trapezius
M. serratus anterior
Down
M. levator scapulae
M. rhomboids
M. pectoralis mayor
M. pectoralis minor
M. latissimus dorsi

Articulatio sternoclavicularis
Type
: arthrodial joint ganda
Tulang
: dibentuk oleh pars sternalis
clavicula yang berarticulasi dengan
cartilago
costa
1
dan
manubrium
sterni
pada
incisura
clavicularis
Ligament :
Capsula articularis
Lig.sternoclaviculare anterior
Lig.sternoclaviculare posterior
Lig.Interclaviculare
Lig.costoclaviculare
Discus articularis
Gerakan : merupakan gerakan dinding
yang sangat terbatas ke
arah cranial, caudal, ventral
dan
dorsal
membentuk

3.

Articulatio Humeri (Shoulder


Joint)
Type
: sendi yang besar dari jenis
enarthrodial joint (ball & socket joint)


M. deltoideus

M. supraspinatus

Tulang
: dibentuk oleh caput humeri
dan cavitas glenoidale sehingga
disebut juga glenohumeral
joint
Gerakan :

Adduksi

M. pectoralis major

M. latissimus dorsi

M. teres major

M. subscapularis

M. triceps caput long

Rotasi Medial

M. pectoralis major

M. latissimus dorsi

M. teres major

M. subscapularis

M. deltoideus

Lateral rotasi

M. Infraspina

M. teres minor

M. deltoideus

sendi ini mempunyai 3 buah


sumbu
gerak
sehingga
mampu melakukan gerakan
fleksi,
extensi,
abduksi,
adduksi dan rotasi.

Ligament :

Capsula articularis

Lig. Coracohumerale

Lig. Glenohumerale

Lig. humeri transverses

Labrum glenoidale
Membrana Synovial :meliputi
interior
dalam
cavitas
articularis
dan
tendo
origo
m.biceps
brachii
caput longum yang
membentuk
intertubercular
synovial sheath.
Bursae

4.

Bursae
subscapularis
(terletak
diantara tendon m.subscapularis dan
capsula
articularis
berhubungan
dengan cavitas articulare melalui
lubang pada bagian depan capsula
articularis)

Bursae
subdeltoidea
(terletak
diantara m.deltoideus dan capsula
articularis, tidak berhubungan dengan
cavitas articulare, melebar dibawah
lig.coracoacromialis dan acromion)
Otot-Otot penggerak :

M.
M.
M.
M.

Extensi
M.

Tulang

M. teres

trochlea humeri dengan incisura


semilunaris ulnae

capitulum humeri dengan fovea


capitulum radii
Gerakan : flexi dan extensi
Ligament :

M.
deltoideus

M.
triceps caput long
A

bduksi

Flexi

mayor

Otot-Otot Penggerak :

latissimus dorsi

Cubiti (Elbow Joint)


Type
: ginglymus/hinge

capsula articulare

Lig. collaterale ulnare

Lig.collaterale radiale
Membran Synovial : meliputi interior
dalam
dari
cavitas
articularis

Flexi
pectoralis mayor
deltiodeus
coracobrachialis
biceps caput long

Articulatio

M. Biceps
M. brachialis
M. brachioradialis
M. pronator teres
M. flexor carpi & ulnaris
M.
flexor
digitorum
superficialis
extensi

M. triceps
M. anconeus
M. extensor carpi radialis longus
dan brevis
M. extensor digitorum & carpi
ulnaris
M. supinator

Articulatio Radio Ulnaris


Dibentuk oleh os radius dan os ulna,
membentuk 3 buah persendian, yaitu:
a.
b.
c.
5.

Articulatio radioulnaris proximalis


Articulatio radioulnaris medius
Articulatio radioulnaris distalis
Articulatio
Radioulnaris proximalis
Type
: persendian uniaxial
pivot atau trochoid

jenis

Tulang
: dibentuk oleh caput radii
yaitu pada circumferentia articularis
capituli
radii
dengan
ulna pada incisura radialis ulnae
Gerakan Sendi : berupa rotasi yang
meliputi gerakan pronasi dan supinasi
Ligament :

Tulang
:
dibentuk oleh extremitas
caudalis dari radius dan iscus articularis
disisi superior dengan deretan
proximal dari ossa carpalia disisi
inferior. Facies articularis radii dan
permukaan inferior dari discus articularis
secara
bersama-sama
membentuk
permukaan yang
transversal berbentuk concave &
ellips. Sedangkan permukaan superior
dari os naviculare manus, lunatum dan
triquetrum
membentuk permukaan
convex yang halus.
Gerakan : persendian biaxial sehingga
mampu melakukan gerakan flexi,
extensi, abduksi & adduksi.
Ligament :

capsula articularis

Lig.radiocarpeum volare

Lig.radiocarpeum dorsale

Lig.collaterale carpi ulnare

Lig.collateale carpi radiale


Otot-Otot penggerak :

Lig.annulare, Lig.quadratum

Otot-otot penggerak :
Supinasi
M.

6.

M.
supinator

biceps brachii

M.
extensor untuk pollex
Pronasi
M. pronator teres
M. quadratus

Articulatio
radiocarpea (Wrist joint)
Type
: persendiaan type condyloid

flexi

M. flex.carpi uln &


carpi rad
M. palm.long
M. flex.digit.superf &
prof
extensi
M. ext.carpi rad.long & brev
M. ext.carpi uln & digit comm
abduksi
M. flex carpi rad
M. ext.carpi rad long & brev
M. ext.poll.long & brev
adduksi
M. flex carpi uln
M. ext carpi uln & indicis prop

SISTEM SARAF SENSORIS


Impuls yang terlibat dalam pengindraan melalui jaras yang amat pasti, yang
semuanya memiliki bagian berikut :
1.

Reseptor
Mendeteksi perubahan (stimulus) dan menghsilkan impul. Reseptor biasanya sangat
spefisik dalam merespons jenis perubahan yang timbul. Reseptor yang terdapat di retina
mendeteksi sinar, reseptor di rongga hidung mendeteksi bau, dan sebagainya. Namun,
pada saat stimulus tertentu mempengaruhi reseptor, semua reseptor tersebut berespon
dengan cara yang sama, yaitu dengan menghasilkan impuls saraf listrik.

2.

Neuron sensorik
Menghantar impuls dari reseptor menuju sistem saraf pusat. Neuron sensorik ini
ditemukan baik pada saraf spinal maupun saraf kranial, tetapi masing masing membawa
impuls hanya dari satu tipe reseptor.

3.

Jaras sensorik
Substansia alfa dalam medula spinallis atau otak yang menghantar impuls menuju
bagian spesifik di otak.

4.

Area sensorik
Sebagian besar terdapat di korteks serebri. Area ini merasakan dan mengintepretasi
sensasi. Tanpa sadar, manusia telah belajar menginterpretasi sensasi sejak masih bayi, dan
hal ini berlangsung terus selama hidup

MACAM2 RESEPTOR

Masukan ke dalam sistem saraf dapat timbul


karena adanya reseptor sensorik yang
mengenali bermacam-macam rangsangan
sensorik, misalnya raba, suara, cahaya,
nyeri, dingin, dan hangat. Reseptor-reseptor
ini untuk mengubah rangsangan sensorik
menjadi sinyal saraf yang lalu akan
disampaikan dan diproses dalam sistem
saraf pusat.
Klasifikasi jenis reseptor sensorik
yang ada dalam tubuh dan rangsangan
sensorik yang dapat dikenalinya, yaitu:
A. Sumber (Lokasi) Sensasi

Eksteroseptor,
sensitif
terhadap
stimulus eksternal terhadap tubuh
dan terletak pada atau di dekat
permukaan
tubuh,
misalnya
sentuhan, tekanan, nyeri pada kulit
dan suhu, penciuman, penglihatan,
serta pendengaran.
Proprioseptor, terletak pada tubuh
dalam otot, tendon, dan persendian,
juga mencakup reseptor ekuilibrium
pada area telinga dalam. Jika
distimulasi, bagian tersebut akan
menyampaikan kesadaran akan posisi
bagian tubuh, besarnya tonus otot,
dan ekulibrium.
Interoseptor
(viserareseptor),
dipengaruhi oleh stimulus yang
muncul dalam organ viseral dan
pembuluh
darah
yang
memiliki
inervasi motorik dari SSO. Contohnya
adalah stimulus yang terjadi akibat
perubahan selama proses digesti,
ekskresi, dan sirkulasi.

B. Jenis Sensasi yang Terdeteksi

Mekanoreseptor, yang
mengenali
kompresi
mekanis
atau
peregangangan pada reseptor atau
jaringan yang terletak berdekatan
dengan reseptor.
a. Kepekaan taktil kulit (epidermis dan
dermis)
Ujung saraf bebas
Ujung akhir yang meluas

Diskus Merkel

Ditambah
dengan
beberapa variasi lainnya
Ujung menyebar (spray endings)
Ujung Ruffini
Ujung berselaput (Encapsulated endings)
Badan Meissner
Badan Krause
Organ ujung rambut (Hair end-organs)
b. Kepekaan jaringan dalam
Ujung saraf bebas
Ujung akhir yang meluas
Ujung menyebar
Ujung Ruffini
Ujung berselaput
Badan Pacini
Ditambah dengan beberapa
variasi lainnya
Ujung otot
Kumparan otot
Reseptor tendon golgi
c. Pendengaran
Reseptor suara pada koklea
d. Keseimbangan (ekulibrium)
Reseptor vestibular
e. Tekanan arteri
Baroreseptor pada sinus karotikus
dan aorta

Termoreseptor,
dipakai
untuk
mengenali
perubahan-perubahan
suhu, beberapa reseptor mengenali
suhu dingin dan lainnya suhu panas.
a. Dingin
Reseptor dingin
b.Hangat
Reseptor hangat
Nosiseptor (reseptor nyeri), dipakai
untuk mengenali kerusakan jaringan
yang terjadi, baik kerusukan fisik
maupun kerusakan kimiawi.
a. Rasa sakit
Ujung saraf bebas
Reseptor
elektromagnetik
(fotoreseptor),
dipakai
untuk
mengenali cahaya yang sampai
pada retina mata.
a. Penglihatan
Sel-sel batang
Sel-sel kerucut
Kemoreseptor, yang dipakai untuk
mengenali rasa atau pengecapan
dalam mulut, bau-bauan dalam
hidung, kadar oksigen dalam darah
arteri, osmolalitas cairan tubuh,
konsentrasi karbon dioksida, dan
mungkinjuga faktor-faktor lainnya
yang menyusun keadaan kimiawi
tubuh.
a. Pengecap
Reseptor-reseptor pada taste buds
b.Penghidu
Reseptor pada epitel olfaktorius
c. Oksigen dalam arteri
Reseptor pada aorta dan badan
karotis
d. Osmolalitas
Neuron-neuron di dalam atau di
dekat nuklei supraoptikus
e. CO2 dalam darah
Reseptor-reseptor yang terletak
di dalam atau pada permukaan
medula dan dalam aorta dan
badan karotis
f. Kadar glukosa, asam amino, asam lemak
Reseptor-reseptor
dalam
hipotalamus
C. Distribusi Reseptor

Penginderaan
umum,
mengacu
pada
informasi dari tubuh sebagai satu kesatuan.
`Penginderaan khusus, mengacu pada
organ indera yang terletak dalam kepala.
D. Ujung Reseptor Sensorik

Ujung saraf bebas, tidak memiliki


lapisan selular dan terdapat dalam
kulit, jaringan ikat, dan pembuluh
darah. Saraf ini merasakan nyeri,
sentuhan ringan, dan suhu.
Ujung saraf berkapsul, terbungkus
dalam bermacam jenis kapsul dan
terletak di kulit, otot, tendon,
persendian,
dan
organ
tubuh.
Reseptor ini berkapsul:
a. Korpuskel Pacinian
Mendeteksi stimulus dan tekanan
vibratori. Korpuskel ini banyak
terdapat
pada
jari
tangan,
genitalia eksternal, dan payudara.
b. Korpuskel Meissner dan diskus
Merkle
Reseptor ini dapat mendeteksi
sentuhan
c. Korpuskel Ruffini
Responsif terhadap tegangan di
sekitar
jaringan
ikat
dan
memantau tekanan. Korpuskel ini
ditemukan
terutama
pada
permukaan plantar kaki.
d. Ujung bulbus Krause
Ujung bulbus Krause ini tipis
berkapsul
dan
dipercaya
berkonstribusi terhadap tekanan
sentuhan, kesadaran akan posisi
dan kesadaran akan gerakan.
e. Spindel neuromuskular
Memantau tonus otot (regangan
dan tegangan) dalam otot.
f.

Organ tendon Golgi


Memantau
tegangan
tendon.

dalam

Macam-macam reseptor sensorik di


atas dapat mengenali rangsangan sensorik
yang
berbeda-beda
dengan
adanya
perbedaan kepekaan. Jadi, setiap macam
reseptor sangat peka terhadap salah satu
macam
rangsangan
yang
dirancang
untuknya, dan hampir tidak memberi
respons terhadap rangsangan sensorik jenis
lain.

MEKANISME PENJALARAN IMPULS DARI RESEPTOR KE SSP KE EFEKTOR


Penjalaran impuls sensorik ke SSP
Jaras sensoris untuk menjalarkan sinyal somatik kesistem pusat terbagi menjadi dua
sistem pengiriman, pembagian ini berdasarkan jenis sensorik apa yang dijalarkan pada
sistem jaras ini, yaitu:
a. Sistem kolumna dorsalis-lemniskus medialis, merupakan informasi sensorik yang
harus dijalarkan dengan cepat dalam dalam waktu yang singkat, contohnya:
- sensasi raba membutuhkan rangsangan dengan derajat lokalisasi tinggi
- sensasi raba membutuhkan penjalaran impuls dengan intensitas gradasi halus
- sensasi fasik, misalnya: sensasi getaran
- sensasi terhadap sinyal gerakan pada kulit
- sensasi posisi tubuh terhadap persendian
- sensasi tekan yang berkaitan dengan derajat penentuan intensitas tekanan
Jarasnya:
Sinyal kemedula otak
Terjadi sinaps dan menyilang kesisi berlawanan dari dalam medula

Naik melalui lemnikus medianus ( batang otak)

Thalamus
b. Sistem antero-lateral, merupakan penjalaran impuls yang tak perlu dijalarkan dengan
cepat dan dengan tempo yang lama, contohnya:
- rasa nyeri
- sensasi termal, meliputi sensai hangat dan dingin
- sensasi raba dan tekan kasar yang mampu menentukan tempat perabaan
kasar pada tempat penekanan tubuh
- sensasi geli dan gatal
- sensasi seksual

Jarasnya:
Medula spinalis

Sinaps kedalam koru dorsalis substansiagrisea medulla spinalis

Dan menyilang kesisi berlawanan

Lalu naik melalui substansia alba anterior dan lateral medulla spinalis

Dan berakhir pada tingkat batang otak yang lebih rendah dan juga di thalamus

Penjalaran impuls dari SSP keneuron Motorik


Penjalaran impulsnya kebagain neuron somatik atau untuk otot rangka, penjalaran
impuls ini dipengaruhi oleh prasinaps konvergen, atau eksitatorik atau inhibitorik ,
jarasnya berasal dari jalur refleks spinal yang berasal dari reseptor perifer dan sebagian
juga berasal dari jalur-jalur ascendens dari otak ( yang mengontrol gerakan otot rangka).
Mekanisme umum penjalaran
keluaran motoriknya

impuls

dari

masukan

sensoriknya

hingga

REFLEKS FISIOLOGIS
Merupakan suatu reaksi yang bersifat otomatis atau tanpa disadari. Impuls saraf
pada gerak refleks melalui alur impuls pendek. Alur impuls dimulai dari reseptor sebagai
penerima rangsangan, kemudian dibawa oleh neuron ke sumsum tulang belakang, tanpa
diolah oleh pusat saraf. Kemudian tanggapan dikirim oleh saraf motorik menuju ke efektor.
Alur impuls pada gerak refleks disebut lengkung refleks.
Ada dua macam gerak refleks yaitu:
1. Refleks otak , adalah gerak refleks yang melibatkan saraf perantara yang terletak di
otak, misalnya berkedipnya mata, refleks pupil mata karena rangsangan cahaya.
2. Refleks sumsum tulang belakang, adalah gerak refleks yang melibatkan saraf
perantara yang terletak di sumsum tulang belakang, misalnya sentakan lutut karena
kaki menginjak batu yang runcing.
Korda spinalis mengintregasikan aktivitas reflex antara masukan afferen &
keluaran efferent tanpa melalui Otak.
Terdapat dua jenis refleks :
1. Refleks dasar / sederhana (respon Built-in) :respon yang tidak perlu di pelajari seperti
menutup mata saat ada benda yang mendekati atau masuk ke mata.
2. Refleks terkondisi (karena belajar & berlatih) : seperti pemain piano yang menekan
tuts tertentu saat melihat nada di kertas partitur.dia melakukannya secara otomatis
namun setelah melakukan latihan yang cukup lama.
Lengkung refleks (jalur-jalur saraf yang berperan pada aktifitas refleks)
mencakup 5 komponen :
1

Reseptor berespon terhadap stimulusmembentuk potensial aksi yang di pancarkan oleh


jalur aferenmenuju 3pusat integrasi untuk di olahsetelah di olah lalu di salurkan
melalui 4jalur eferen ke 5efektor untuk menjalankan reseptor refleks.
2

Refleks spinal : refleks yang di integrasikan oleh korda spinalis (contoh : refleks
menarik / withdrawal refleks)
Macam-macam refleks :
Refleks menggaruk ( scratch reflex)
Refleks in di picu oleh sensasi gatal atau geli . refleks ini melibatkan dua macam
fungsi : (1) indra posisi yang akan memudahkann cakar / tangan untuk menemukan tempat
iritasi yang tepat di permukaan tubuh dan merupakan fungsi yang sangat berkembang
contohnya: bila ada kutu yang sedang merangkak di pundak seekor hewan spinal, cakar
kaki hewan spinal sering kali sering kali dapat menemukan tempat kutu itu ,meskipun 19
macam otot kaki harus berkontraksi secara bersamaan dan (2) gerakan menggaruk kian
kemari ( to and fro scratching movement ), sperti gerakan melangkah untuk bergerak ,
melibatkan sirkuit persarafan timbale balik yang menyebabkan osilasi.

Refleks menarik diri ( withdrawl reflex )


Bila

beberapa bagian tubuh selain salah satu anggota gerak di rangsang dengan rangsangan
yang sangat menyakitkan , maka bagian tersebut dengan pola yang serupa akan menarik
diri dari stimulus tersebut . pola menarik diri yang timbul sewaktu refleks fleksor
dirangsang bergantung pada saraf sensorik mana yang distimulasi. Stimulus nyeri pada
pada bagian dalam lengan tidak hanya menimbulkan kontraksi otot fleksor dilengan
,namun juga akan menimbulkan kontraksi otot-otot abductor untuk menarik lengan tadi
menjauh. Pusat integrasi dalam medulla menyebabkan otot-otot berkontraksi sehingga
secara sangant efektif dapat memindahkan bagian tubuh yang nyeri menjauhi suatu objek
yang menimbulkan nyeri tersebut.
Secara sadar refleks menarik dapat di hambat dengan mengirim IPSP lebih banyak
melewati jalur desendense ke neuron-neuron motorik yang mempersarafi bisep & EPSP ke
neuron yang mempersarafi trysep lebih sedikit dari IPSP, sehingga refleks menarik secara
sadar dapat di tekan.
Refleks medulla untuk menegakkan tubuh.
Refleks ini menggambarkan bahwa beberapa refleks kompleks yang berhubungan
dengan sikap tubuh diintegrasikan oleh medulla spinalis. Contohnya: seekor hewan yang
sudah sembuh dari tindakan transeksi medulla bagian torakal setinggi medulla untuk
persarafan anggota tubuh depan dan anggota tubuh dapat menegakkan tubuhnya secara
sempurna dari posisi berbaring bahkan berjalan dengan anggota tubuh belakangnya
selain anggota tubuh depannya

Refleks fleksor
Refleks fleksor dapat dicetuskan paling kuat dengan cara merangsang ujung-ujung
serabut nyeri ,misalnya dengan tusukan jarum atau rasa panas, atau suatu luka yang
dengan beberapa alasan seringkali disebut refleks nosiseptif , atau secara sedarhana
dengan sebutan refleks nyeri. Jaras hyang di pakai untuk menimbulkan refleks fleksor tidak
secara langsung melewati neuron motorik anterior,namun,mula-mula berjalan menuju
kumpulan interneuron medulla spinalis dan selanjutya ke neuron motorik.
Sirkuit terpendek yang memungkinkan adalah lengkungan yang hanya terdiri tiga
sampai empat jaras neuron .sinyal-sinyal refleks ini akan melintasi banyak neuron dan
mencakup jenis-jenis dasar dari sirkuit berikut: (1) sirkuit bercabang (diverging circuit)
untuk menyebarkan refleks ke otot-otot yang diperlukan untuk menarik diri,(2) sirkuit

untuk menghambat otot-otot antagonis , disebut


sirkuit penghambat timbale balik
(reciprocal inhibition circuit)
; dan (3) sirkuit yang menyebabkan afterdischarge
berlangsung selama milidetik
setelah stimulusnya sudah tidak ada. Peristiwa
afterdischarge yang timbul pada refleks fleksor hamper pasti berasal dari dua macam
sirkuit pengeluaran impuls yang beruntun.
Jadi refleks fleksor tersusun secara tepat untuk dapat menarik bagian tubuh yang
mengalami nyeri atau
teriritasi dari stimulius .selanjutnya ,karena ada peristiwa
afterdischarge ,refleks dapat menahan bagian tubuh yang teriritasi untuk menjauhi diri
dari stimulus selama 0,1 sampai 3 detik sesudah iritasi selesai.
Refleks extensor silang
Kira-kira 0,2 sampai 0,5 detik sesudah suatu stimulus menimbulkan refleks fleksor pada
salah satu anggota tubuh,anggota tubuh yang lain memanjang . keadaan ini disebut refleks
ekstensor silang (cross extensor reflex). Extensi yang terjadi pada anggota tubuh lain ini
dapat mendorong seluruh tubuh menjauhi objek yang menyebabkan stimulus nyeri pada
anggota tubuh yang menarik diri.

Stimulus untuk reflek ini paling sering berupa rasa nyeri, panas atau sesuatu yg
menyakitkan, shg disebut juga Reflex Nosiseptif.

Mekanisme seperti tampak pada gambar lintasan neural reflex tersebut. Adanya
sesuatu yang menyakitkan/panas pada tangan, otot-otot flexor lengan atas akan
terangsang dan berkontraksi, sehingga menarik tangan dari sesuatu yang
menyakitkan tersebut. Didalam medula spinalis sirkuit neural terbagi :

Sirkuit difergen tertuju pada motor neuron otot-otot yang


diperlukan untuk menarik diri (flexor).

Sirkuit untuk menghambat otot-otot antagonis (otot extensor).

Sirkuit untuk after discharge yang


(mempertahankan posisi menarik diri).

berlangsung

lama

Reflex flexor ini berlangsung pd extrimatas atas, sedang pd extrimitas bawah reflef
flexor ini dikombinasi dgn reflex ekstensor untuk tungkai yg lain (yg tdk terkena
rangsangan rasa sakit.)

Reflek ini merupakan kombinasi antara : reflek fleksor yang berlangsungsung pada
ekstrimitas (tungkai) yang terkena rangsangan sakit, sedang pada tungkai yang tidak

terkena rangsangan sakit akan


mempertahankan posisi tubuh.

terjadi

reflek

ekstensor

(menyilang)

untuk

Baik reflek fleksor dan reflek ekstensor yang berlangsung pada kaki kanan dan kaki
kiri, namun kedua macam reflek tersebut terjadi prinsip persarafan timbal balik
untuk kelompok otot agonis dan antagonis, yaitu saat tungkai kiri terjadi reflek
fleksor maka otot ekstensornya relaksasi. Pada saat yang sama tungkai kanan terjadi
reflek ekstensor maka otot-otot fleksornya akan relaksasi.

Refleks Monosinaptik : Refleks Regang

(Stretch reflex)

Bila otot kerangka dengan syaraf utuh diregangkan dengan mendadak maka akan
terjadi kontraksi otot yang bersangkutan respon tersebut yang disebut refleks regang.
Regangan yang membangkitkan refleks ini adalah regangan otot yang akan merangsang
organ sensorik otot tersebut berupa kumparan otot yang disebut pula (muscle spindle)
yang kemudian membangkitkan potensial generatornya dan bila dapat menyebabkan
depolarisasi yang mencapai firing level serabut afferent tipe 1a (serabut sensorik yang
berasal dari muscle spindle) ddan termasuk tipe cepat, maka kan terjadi aksi potensial .
Aksi potensial atau impuls syaraf tipe 1a akan melalui radiks dorsalis masuk medulla
spinalis langsung mengadakan sinap dengan alfa motor neuron. Kemudian menghasilkan
eksitasi dan terjadilah aksi potensial alfa motor neuron untuk otot yang bersangkutan
sehingga terjadi kontraksi otot tersebut.

Dengan ketokan pada tendon patella (tendon musculus quadriceps femoris) sesuai
dengan mekanisme refleks tersebut di atas akan terjadi kontraksi otot tersebut
berupa ekstensi tungkai.

Hal-hal yang serupa bisa dilakukan pada otot : M. biceps brachii, M. triceps brachii,
M. masseter maupun M. gastroenemius.

Terjadi fenomena timbal balik (reciprocal innervation) yaitu impuls pada serabut 1a
yang berasal dari otot pro agonis berpengaruh inhibisi pada post sinaptik motor
neuron otot-otot antagonis dan merupakan bisinaptik.

REFLEKS REGANG BERBALIK (INVERSE STRETCH REFLEX) = REFLEKS TENDO

Sampai batas tertentu otot diregangkan semakin kontraksi refleks. Tetapi bila
tegangan jadi cukup besar kontraksi mendadak berhenti dan otot melemas. Relaksasi
sbg jawaban thd regangan yg terlalu kuat & dinamakan reflek regang berbalik atau
hambatan antogen.

Contoh: Pada pertandingan panco, angkat berat dan tarik tambang bila
berlangsung dengan sungguh-sungguh (kontraksi maksimal), yang kalah / melepas
angkat berat terjadi mekanisme reflek ini.

Reseptor untuk reflek regang berbalik adalah dalam organ golgi, Gambar :

Organ golgi meneruskan impulsnya menuju serabut saraf sensorik Ib, bermielin &
menghantarkan scr cepat. Perangsangan pd serabut Ib ini menimbulkan PIPS pd motor
neuron yg mensyarafi otot dari mana serabut itu berasal. Serabut Ib di dalam medula
spinalis berakhir pd interneuron inhibisi & interneuron inhibisi berakhir langsung pd motor
neuron di otot yg bersangkutan. Akibat inhibisi berefek hiperpolarisasi thd motor neuron yg
sebelumnya mengalami aksi potensial, shg aksi potensial berhenti & otot Relaksasi. Regang
ini merupakan proteksi mencegah perobekan otot.
Lintasan yang bertanggung jawab untuk reflek regang dan reflek regang berbalik.
Peregangan merangsang kumparan otot dan impuls beredar mel serabut 1a untuk
merangsang motorneuron juga urat organ golgi, dan impuls yang melewati serabut 1b
membangkitkan interneuron utk melepaskan mediator penghambat. Dg peregangan yang
kuat, hiperpolarisasi yg dihasilkan pada motorneuron jadi demikian besar sehingga
menghentikan letupan

Nyeri
Adalah mekanisme protektif bagi tubuh ,timbul karena ada jaringan yang rusak atau mati.
Mekanisme nyeri terdiri dari:

1. Transduksi,yaituperubahan noxios stimuli menjadi aktivitas lisatrikpada saraf aferen


primer.
2. Transmisi, adalah penerusan rangsangan dari tempat transduksi ke spinal kord,lalu
ke thalamus dan korteks.
3. Modulasi, adalah pengontrolaktivitas transmisi nyeri.
Untuk merespon nyeri
murni
dan
persepsitidak
di
perlukan kortex. Dan
area
kortex
ini
diperlukan jika untuk
merespon
stimulus
yang
diskriminatif
,
eksaks,
dan
interpretasi
nyeri.
Organ-organ
untuk
nyeri adalah ujungujung saraf telanjang
yang dijumpai pada
hamper
semua
jaringan tubuh. Banyak
serat di aktifkan oleh
rangsangan
nyeri
berakhir
di
system
retikularis
,
yang
membentuk
proyeksi
ke garis tengah dan
inti inti proyeksi non
spesifik intralaminer di
daerah korteks,sedangkan yang lain menuju hipotalamus, dan sebagian berakhir di
substansia grisea perikuaduktus (suatu daerah yang sudah dikenal berkaitan dengan nyeri)

Dua jenis sensasi nyeri yaitu:


1. Nyeri cepat yaitu: nyeri yang timbul akibat stimulus
Disebabkan oleh mekanik, suhu dan kimia.

yang cepat dan singkat.

2. Nyeri lambat yaitu: nyeri yang timbul akibat stimulus yang lambat dalam waktu yang
lama,biasanya disebabkan oleh sel yang rusak atau mati.
Stimulus nyeri disalurkan oleh saraf nociseptoryang terdiri dari:
1. Fisik : dikulit (suhu,tekanan yang berlebihanserta listrik) dan kompresi saraf.
2. Kimia : rangsangan imflamasi, asam laktat dan Na-Urate
3. Intrinsic algogenik substance : HCl
Nyeri visceral ditentukan oleh propriceptors dimana terjadi suhu di bawah normal dan rasa
raba pada organ tertentu

Jalur sensasi nyeri menuju ke otak

Traktus neospinotalamikus (fast pain)

Menuju lamina 1 (marginalis) kornu dorsalis

Naik ke otak melalui kolumna anterolateralis

Berakhir pada korteks somato-sensorik

Neurotransmitternya terutama glutamat

Traktus paleospinotalamikus (slow pain)

Menuju lamina 2 dan 3 (subs gelatinosa) kornu dorsalis

Ke otak melaui kolumna anterolateral yang sama

Berakhir pada batang otak

Neurotransmitternya terutama Substansi P

Refleks
1. Fast pain membangkitkan withdrawal reflex (refleks penarikan diri) dan
respons simpatis
2. Slow pain menghasilkan
nausea, keringat yang banyak (profuse
sweating), penurunan tekanan darah, dan penirinan tonus otot rangka
secara umum

Tidak semua refleks melibatkan lengkung refleks yang jelas, walaupun prinsip
dasar respon otomatis terhadap perubahan yang bias terdeteksi masih tetap
ada.
Jalur-jalur untuk ketanggapan yang tanpa sadar menyimpang dari lengkung refleks
biasanya dalam dua hal umum, yaitu :
1. Respon yang di perantarai ( sebagian oleh hormone)
Respon lokal tanpa saraf atau hormone ( contoh : pembuluh darah pada otot yang
sedang bekerja berdilatasi karena perubahan metabolic lokal, sehingga meningkatkan
aliran darah untuk keseimbangan kebutuhan metabolic otot yang ak