Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Asalamualaikum wr...wb...
Puji syukur atas kehadiran allah serta selawat kepada nabi muhammdad saw. Yang
telah memberikan rahmad dan karuniayan sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah kami yang berjudul perjuangan pemuda .
Makalah ini kami buat se-sederhana mungkin sesuai ilmu dan sumber yang kami
peroleh , baik dari buku maupun internet , meski memiliki banyak kekurangan, isi
dari makalah ini di tujukan untuk memberikan pengetahuan kepada rekan pembaca
agar dapat memahami bagaimana proses perjuangan pemuda pada masa pergerakan
nasional .

DAFTAR ISI
Kata pengantar ..................................................................................................................................1
Daftar isi ............................................................................................................................................2
Rumusan masalah dan tujuan .........................................................................................................3
BAB I

A. Pendahuluan...........................................................................................................................4
BAB II
A. Pembahasan ..........................................................................................................................5

B. Organisasi pemuda ................................................................................................ 6

Boedi Oetomo ............................................................................................ 6

Try koro dharmo ....................................................................................... 7

Jong java .................................................................................................... 8

Jong sumatra bord ...................................................................................10

Jong cilibres .............................................................................................. 12

Jong paguyuban pasudan .........................................................................12

C. Sumpah pemuda ..................................................................................................... 13


Panitia kongres sumpah pemuda ........................................................................14
Peserta .................................................................................................................... 14
Isi sumpah pemuda ............................................................................................... 15
D. Peristiwa rengas dengklok...................................................................................15

Kronologi peristiwa rengasdengklok .....................................................16

Peristiwa rengas dengklok ......................................................................16

Akhir peristiwa rengas dengklok ...........................................................16

Kesimpulan ..........................................................................................................................................17
Penutup ...............................................................................................................................................18
Daftar pustaka .................................................................................................................................19

RUMUSAN MASALAH

Adapun rumusan yang dapat di pecahkan dalam makalah ini ialah ...

1. Apa saja nama organisasi pemuda pada saat itu ?

2. Bagai mana proses terjadi sumpah pemuda ?

3. Bagai mana proses peristiwa rengas dengklok ?

TUJUAN

1. Untuk mengetahui nama organisasi pemuda pada masa pergerakan nasional ...

2. Untuk mengetahui bagaimana proses terjadinya sumpah pemuda ...

3. Untuk mengetahui bagaimana proses terjadi nya peristiwa rengasdengklok ...

BAB I
PENDAHULUAN
Pada masa kolonial Belanda, rakyat Indonesia sangat menderita. Penderitaan rakyat
tersebut diakibatkan oleh kebijakan-kebijakan kolonial yang merugikan rakyat. Sebagai
rakyat kecil yang ditindas oleh penjajah, tentu rakyat Indonesia ingin memberontak,
demikian pula para mahasiswa dan pemuda masa itu. Khususnya mahasiswa STOVIA yang
berusaha mengadakan perlawanan dengan cara halus mengingat pertempuran fisik selalu
mengalami kegagalan. Berangkat dari kesadaran dan kemauan untuk melawan, maka mulai
muncul berbagai organisasi pergerakan.
Meskipun masing-masing organisasi memiliki asas dan cara perjuangan yang berbeda beda,
mereka tetap mempunyai satu tujuan yaitu mencapai kemerdekaan.
Kebulatan tekad para pemuda untuk bersatu mencapai puncaknya dengan dicetuskannya
Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Perasaan akan timbulnya nasionalisme bangsa Indonesia
telah tumbuh sejak lama, bukan secara tiba-tiba. Nasionalisme tersebut masih bersifat
kedaerahan, belum bersifat nasional. Penjajahan Belanda tidak lagi di lawan dengan
kekuatan senjata, tetapi dengan kekuatan politik. Disamping itu, dilakukan usaha memajukan
pendidikan, meningkatkan ekonomi rakyat, dan mempertahankan kebudayaan. Seluruh
rakyat diikutkan dalam perjuangan. Mereka berhimpun dalam berbagai organisasi. Masa
pergerakan nasional di Indonesia ditandai dengan berdirinya organisasi-organisasi
pergerakan.

BAB II

A. PEMBAHASAN
Peranan pemuda dalam perubahan selalu tercatat dalam sejarah setiap negeri. Termasuk
di Indonesia, peran dan semangat pemuda telah muncul bahkan ketika jaman penjajahan
Belanda. Ada banyak alasan yang melatar belakangi munculnya pergerakan melawan
Pemerintahan Hindia Belanda. Khususnya pergerakan pemuda pada masa Hindia Belanda
dalam melawan Pemerintahan Hindia Belanda yang menyiksa dan merampas hak rakyat
pribumi.
Tetapi menurut Sartono Kartodiharjo, yang melatar belakangi pergerakan pemuda
melawan pemerintah Hindia adalah fase atau masa Kolonial Belanda di Indonesia. Pertama,
fase kolonialisme VOC pada tahun 1602 sampai tahun 1799. Kedatangan Belanda di
Indonesia pada mulanya bukan untuk menjajah melainkan untuk berdagang/berniaga. Akan
tetapi pada tahun 1602, Belanda mendirikan organisasi perkumpulan kongsi dagang yang
berlayar di wilayah Hindia Belanda yang bernama Verenigde Oost Indische Compagnie
(VOC).
Kongsi dagang ini awalnya didirikan untuk menyaingi Portugis dan Spanyol yang telah
lebih dulu bercokol di nusantara. Namun, dengan hak octroi yang dimiliki VOC, lambat laun
VOC seolah menjadi Negara yang berdiri di bawah Negara induknya, Belanda. Hal ini
berimbas pada perilaku pemerintahan VOC yang semena-mena melakukan perluasan
kekuasaan dengan mengadu domba penguasa local. Kekuasaan VOC menjadi awal kolonialisme
di Indonesia.
Fase kedua, adalah kolonialisasi konservatif tahun 1800 sampai 1811. Kolonialisme
konservatif adalah masa setelah keruntuhan VOC, ketika pemerintahan diambil alih oleh
Belanda. Di masa ini kita mengenal istilah kerja rodi atau kerja paksa yang dipopulerkan
oleh pemerintahan Daendels. Proyek jalan Anyer Panarukan, menjadi saksi kekejaman
Belanda masa itu.
Fase ketiga, adalah masa tanam paksa antara tahun 1816 sampai 1869. System tanam
paksa merupakan system baru pemerintah Hindia Belanda untuk menutup kerugian financial
negeri Belanda yang luar biasa parah akibat perang. Pada masa ini Hindia Belanda dipimpin
oleh Ven Den Bosch. System tanam paksa merupakan ekspolitasi besar-besaran yang
dilakukan pemerintahan Hindia Belanda. Tanah mereka direbut secara paksa, rakyat jelata
ditekan untuk bekerja dengan upah yang minim, bahkan juga tanpa upah.
5

Terlebih untuk kegiatan ekspor, rakyat pula yang mendapat beban pajaknya. Fase
keempat, adalah system colonial liberal liberal yang diterapkan tahun 1870 sampai 1900. Di
masa ini muncul pemikiran Trias Van Deventer yang meningingkan adanya politik balas budi
untuk bangsa pribumi. Salah satu hal yang ditekankan adalah masalah pendidikan peribumi.
Mulai masa ini pribumi diijinkan mengeyam bangku pendidikan. Meski demikian, hanya orangorang tertentu saja yang mampu melanjutkan hingga ke tingkat yang lebih tinggi. Fase
kelima, adalah masa antara 1900 1942. Pada masa ini perusahaan-perusahaan di Indonesia
dengan bebas berkembang sehingga ada system administrasi yagn digagas untuk
pembangunan departemen-departemen. Dalam pemerintahan peran pejabat pribumi-pribumi
mengalami banyak peningkatan.
Fase-fase tersebut dinilai Sartono Kartodiharjo, menjadi latar belakang munculnya
pergerakan pemuda. Berawal dari kesadaran akan penderitaan rakyat selama tiga abad di
bawah kaki Belanda, kemudian munculnya kaum terpelajar, hingga pada abad ke-20 di
Indonesia mengalami keadaan yang disebut Zaman Kemajuan. Disebut demikian, karena
segala bidang yang ada mulai maju, terutama dalam bidang pendidikan. Sebagai contoh,
didirikan sekolah yang diperuntukkan bagi kaum wanita yang bernama Hoofdenschool,
kemudian Sekolah Dokter Jawa (STOVIA).

B. NAMA-NAMA ORGANISASI PEMUDA

Boedi Oetomo

Budi Utomo berdiri pada tahun 1908 yang pada awal mula berdirinya merupakan
organisasi pelajar yang ruang lingkupnya masih kedaerahan, namun pada perkembangannya
berubah menjadi organisasi perkumpulan pemuda nasional.
Budi Utomo lahir dari inspirasi yang dikemukakan oleh Wahidin Soediro Husodo disaat
beliau sedang berkeliling ke setiap sekolah untuk menyebarkan beasiswa, salah satunya
STOVIA. Sejak saat itu, mahasiswa STOVIA mulai terbuka pikirannya dan mereka mulai
mengadakan pertemuan-pertemuan dan diskusi yang sering dilakukan di perpustakaan
STOVIA oleh beberapa mahasiswa, antara lain Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo,
Goembrek, Saleh, dan Soeleman. Mereka memikirkan nasib bangsa yang sangat buruk dan
selalu dianggap bodoh dan tidak bermartabat oleh bangsa lain (Belanda), serta bagaimana
cara memperbaiki keadaan yang amat buruk dan tidak adil itu. Para pejabatpangreh praja
(sekarang pamong praja) kebanyakan hanya memikirkan kepentingan sendiri dan jabatan.
Dalam praktik mereka pun tampak menindas rakyat dan bangsa sendiri, misalnya dengan
menarik pajak sebanyak-banyaknya untuk menyenangkan hati atasan dan para penguasa
Belanda.
6

Para pemuda mahasiswa itu juga menyadari bahwa mereka membutuhkan sebuah
organisasi untuk mewadahi mereka, seperti halnya golongan-golongan lain yang mendirikan
perkumpulan hanya untuk golongan mereka seperti Tionh Hwa Hwee Kwan untuk orang
Tionghoa dan Indische Bond untuk orang Indo-Belanda. Pemerintah Hindia Belanda jelas
juga tidak bisa diharapkan mau menolong dan memperbaiki nasib rakyat kecil kaum Pribumi,
bahkan sebaliknya, merekalah yang selama ini menyengsarakan kaum pribumi dengan
mengeluarkan peraturan-peraturan yang sangat merugikan rakyat kecil.
Para pemuda itu akhirnya berkesimpulan bahwa merekalah yang harus mengambil
prakarsa menolong rakyatnya sendiri. Pada waktu itulah muncul gagasan Soetomo untuk
mendirikan sebuah perkumpulan yang akan mempersatukan semua orang Jawa, Sunda, dan
Madura yang diharapkan bisa dan bersedia memikirkan serta memperbaiki nasib bangsanya.
Perkumpulan ini tidak bersifat eksklusif tetapi terbuka untuk siapa saja tanpa melihat
kedudukan, kekayaan, atau pendidikannya.
Pada awalnya, para pemuda itu berjuang untuk penduduk yang tinggal di Pulau Jawa dan
Madura, yang untuk mudahnya disebut saja suku bangsa Jawa. Mereka mengakui bahwa
mereka belum mengetahui nasib, aspirasi, dan keinginan suku-suku bangsa lain di luar Pulau
Jawa, terutama Sumatera, Sulawesi, dan Maluku. Apa yang diketahui adalah bahwa Belanda
menguasai suatu wilayah yang disebut Hindia (Timur) Belanda (Nederlandsch Oost-Indie),
tetapi sejarah penjajahan dan nasib suku-suku bangsa yang ada di wilayah itu bermacammacam, begitu pula kebudayaannya. Dengan demikian, sekali lagi pada awalnya Budi Utomo
memang memusatkan perhatiannya pada penduduk yang mendiami Pulau Jawa dan Madura
saja karena, menurut anggapan para pemuda itu, penduduk Pulau Jawa dan Madura terikat
oleh kebudayaan yang sama.

Tri Koro Dharmo

Trikoro Dharmo adalah sebuah perkumpulan pemuda yang berasal dari Jawa pada tahun
1915 di gedung kebangkitan nasional. Organisasi ini kemudian mengubah nama menjadi Jong
Jawa pada kongres di Solo. Arti definisi / pengertian dari tri koro dharmo adalah Tiga
Tujuan Mulia.Para pelajar Jawa waktu itu diwajibkan mengenakan jarik (kain) dan udheng
(ikat kepala).Di atas udheng itu dikena-kan topi berlambang kedokteran.Suatu pemandangan
yang menggelikan, karenanya calon-calon dokter yang biasanya berasal dari kalangan priyayi
itu dicemoohkan orang sebagai "kondektur trem".Satiman berjuang agar para pelajar dapat
mengenakan "pakaian bebas".Dalam praktek itu berarti hak untuk berpakaian sebagai orang
Barat.Sesudah lama dipertim-bangkan, akhirnya direktur STOVIA memutuskan untuk
meluluskan permohonan itu, terutama karena ternyata pakaian Barat agak lebih murah
7

daripada pakaian Jawa. Dengan sendirinya waktu itulah kaum elit yang baru muncul dan
berpendidikan baik itu di masa studi dan sesudahnya mulai membedakan diri secara lahiriah
dari orang-orang setanah airnya dengan menggunakan gaya pakaian si penjajah. Para pelajar
STOVIA itu adalah orang-orang yang sadar akan kelas dan statusnya, dan antara sesamanya
mereka berbicara Belanda. Ini tidak berarti bahwa rnereka mencampakkan budaya
Jawa.Satiman justru ingin menghidupkan kembali budaya itu. Tang-gal 7 Maret 1915
bersama dengan Kadarman dan Soenardi ia mendirikan Tri Koro Dharmo (Tiga Tujuan Mulia)
yang menjadi pendahulu Jong Java. Yang menjadi anggota pertamanya adalah lima puluh
pelajar STOVIA, Kweekschool (Sekolah Guru) Gunung Sari (Weltevreden), dan Koningin
Wilhelmina School (KWS).

Organisasi Jong Java

Sejak Budi Utomo beralih tangan dari golongan muda ke golongan tua pad Kongresnya
yang pertama tanggal 5 oktober 1908, telah lahir rasa ketidakpuasan di kalangan generasi
muda. Ketidakpuasan itu didasarkan pada gerak langkah Budi Utomo yang cenderung
konservatif dan kurang menampung aspirasi pemuda. Atas dasar itu para pemuda ingin
memiliki perkumpulannya sendiri, tempat para pemuda dapat dididik secara pemuda untuk
memenuhi kewajibannya di kelak kemudian hari.
Sebagai realisasi dari keinginan mereka itu, pada tanggal 7 Maret 1915 sejumlah pemuda
berkumpul di Gedung Budi Utomo Gedung Stovia Jakarta. Mereka sepakat untuk mendirikan
suatu organisasi pemuda yang berfungsi sebagai tempat latihan bagi calon-calon pemimpin
bangsa atas dasar kecintaan pada tanah airnya. Dan memang akhirnya mereka berhasil
mendirikan sebuah perkumpulan pemuda yang diberi nama Tri Koro Dharmo yang berarti
Tiga Tujuan Mulia. Pada saat itu yang terpilih sebagai ketua utama adalah Satiman
Wiryosanjoyo dan Soenardi, yang kemudian dikenal sebagai Mr.Wongsonegoro menjadi wakil
ketua. Sementara itu pemuda Soetomo yang dahulu menjembatani lahirnya Budi Utomo
terpilih menjadi sekertaris. Anggota pengurus lainnya diantaranya adalah Muslich, Musodo
dan Abdul Rachman.
Meskipun Tri Koro Dharmo bersifat nasional, dalam arti bahwa organisasi ini memiliki
kesadaran Indonesia, anggotanya masih terbatas dalam etnisitasnya saja, yakni muridmurid sekolah menengah yang berasal dari Jawa Tengan dan Jawa Timur saja. Jadi
organisasi ini masih bersifat Jawasentris. Itulah sebabnya muncul reaksi dari para pemuda
yang berasal dari etnis lain,misalnya pemuda Sunda dan Bali. Mereka tidak mau masuk dalm
organisasi ini.

Dengan adanya reaksi demikian, Satiman Wiryosanjoyo memberikan penjelasan bahwa


organisasi Tri Koro Dharmo membatasi cakupan etnisitasnya hanyalah untuk sementara
waktu. Pada masa selanjutnya organisasi ini akan dapat dijadikan perkumpulan bagi pemudapemuda seluruh Indonesia. Tujuan kelahiran Tri Koro Dharmo adalah untuk mengikat tali
persaudaraan dengan suku-suku bangsa lainnya demi memperkokoh persatuan rakyat
Indonesia. Usaha itu dapat ditempuh melalui penyebaran pengetahuan masyarakat dan
memperdalam perhatian terhadap seni budaya.
Pada tanggal 12 Juni 1918 Tri Koro Dharmo mengadakan kongresnya di Solo. Pada saat
itu, Satiman Wiryosanjoyo sudah tidak menjadi ketua lagi, kerena sejak tahun 1917,
kedudukannya telah diganti oleh Sutardiaryodirejo. Satiamn kemudian diangkat menjadi
ketua kehormatan. Kongres ini menghasilkan dua keputusan penting yaitu tentang ruang
lingkup keanggotaan dan nam organisasi serta mengenai kepengurusan.
Nama organisasi Trikooro Dharmo diganti dengan Jong Java. Dengan perubahan nama
itu diharapkan pemuda Sunda, Madura, Bali, dan Lombok dapat ikut memasuki organisasi ini.
Tujuan organisasi diubah dengan hasrat membangun persatuan Jawa Raya. Hal itu bias
dicapai dengan jalan mengadakan suatu ikatan yang baik diantara murid-murid sekolah
menengah, berusaha meningkatkan kepandaian anggota dan menimbulakan cinta akan budaya
sendiri. Perubahan nama dari Trikoro Dharmo ke Jong Java ternyata tidak banyak
membawa perubahan wajah organisasi ini. Hal itu dikarenakan asas budaya Jawa Raya lebih
banyak di samakan dengan membangun budaya Jawa Tengah. Dalam kongres itu dipilih ketua
Sukiman Wiryosanjoyo, seorang tokoh muda yang kemudian terpilih sebagai Perhimpunan
Indonesia di negeri Belanda.
Sampai pada kongresnya yang terakhir di Semarang pada tanggal 23 Desember 1929,
Jong Java berhasil mengadakan kongres sebanyak sepuluh kali. Dalam kongres-kongresnya
itu telah berhasil diambil sejumlah keputusan penting yang bermanfaat bagi perjuangan
pemuda Indonesia pada masa selanjutnya. Keputusan-keputusan itu yaitu pertama,
disetujuinya seorang perempuan duduk dalam pengurus besar dan anggota redaksi dalam
majalah Jong Java, serta usaha untuk menerjemahkan surat-surat yang pernah di tulis oleh
Kartini. Keputusan itu merupakan indicator adanya pengakuan bahwa hak wanita sama
denagn pria sebagai kelanjutan usaha emansipasi wanita. Kedua, dalam kongresnya yang
ketiga, bahasa-bahasa daerah seperti Jawa, Sunda, Bali, dan Makasar dapat digunakan asal
disertai terjemahan dalam bahasa Belanda. Ketiga, adanya cita-cita untuk membangun Jawa
Raya, yakni dengan jalan membina persatuan diantara golongan-golongan di Jawa dan
Madura untuk mencapi kemakmuran bersama. Sekalipun masih terbatas pada Jawa, hal itu
merupakan bibit awal bagi terbentuknya integrasi bangsa. Ikatan-ikatan suku di Jawa mulai
dipersatukan dengan ikatan territorial, yaitu pulau Jawa.
9

Sejak berdirinya organisasinya ini, jika dilihat dari tujuan dan aktifitasnya organisasi ini
bukanlah organisasi politik. Ada juga keinginan beberapa anggotanya untuk memperluas
tujuan dan ruang gerak organisasi ini agar tidak hanya dalam masalah social budaya saja
melainkan juga bergerak dalam bidang politik. Namun demikian, dalam kongresnya pada
bulan Mei 1922 dan kongres luar biasa bulan Desember tahun yang sama dipertegaslah garis
perjuangannya, bahwa Jong Java tidak akan mencampuri aksi atau propaganda politik. Jong
Java hanya mengadakan hubungan antara murid-murid sekolah menengah, mempertinggi
perasaan untuk budaya sendiri, menambah pengetahuan umum dari anggotanya dan
menggiatkan olah raga.
Usul aktivitas Jong Java untuk bergerak dalam politik terlihat dalam Kongres IV di
Yogyakarta pada tahun 1924. Pada saat itu Agus Salim, seorang tokoh Serikat Islam
berpidato dengan judul Islam dan Jong Java. Disebabkan oleh pidato itu, ketua Jong Java
Samsurijal (Raden Sam) mengajukan dua usul penting yaitu agar anggota-anggota yang
berumur lebih dari 18 tahun diijinkan dalam aksi-aksi politik,dan perlu memasukkan program
memajukan Islam dalam organisasi Jong Java. Kedua usul tersebut ditolak,dan kongres
kemudian memutuskan Jong Java tetap tidak berpolitik dan netral terhadap agama. Akibat
ditolak usul-usulnya, Raden Sam kemudian menyatakan diri keluar dari Jong Java dan
mendirikan organisasi pemuda lain yakni Jong Islamiaeten Bond.
Setelah adanya kongres pemuda I tahun 1926, yang para anggota organisasi ini juga
ikut, paham persatuan dan kebangsaan Indonesia semakin meningkat dikalangan anggotanya.
Hal itu berakibat pada perubahan tujuan dan ruang gerak dari organisasi Jong Java ini pada
masa selanjutnya. Dalam kongres VII tanggal 27-31 Desember 1926 di Surakarta, dibawah
ketuanya Sunardi Djaksodipuro (Mr. Wongsonegoro) ditekankan mengenai perubahan tujuan
dan ruang gerak organisasi. Tujuan Jong Java seharusnya tidak hanya terbatas untuk
membangun cita-cita Jawa Raya saja, tetapi pada saatnya juga harus bercita-cita persatuan
dan Indonesia merdeka. Kongres kemudian mengambil keputusan bahwa anggotanya yang
berumur lebih dari 18 tahun boleh mengikuti rapat-rapat politik, sedangkan mereka yang
dibawah umur itu hanya boleh mengikuti kegiatan-kegiatan dalam seni, olah raga dan
kepanduan. Dengan demikian, sejak saat itu Jong Java telah memasuki babak baru, yakni
secara resmi memasuki gelanggang politik. Sikap Jong Java terhadap perlunya persatuan
khususnya dalam kalangan pemuda akan terlihat kemudian menjelang sumpah pemuda.

Jong Sumatra Bond

Jong Sumatranen Bond (JSB) adalah perkumpulan yang bertujuan untuk mempererat
hubungan di antara murid-murid yang berasal dari Sumatra, mendidik pemuda Sumatra
untuk menjadi pemimpin bangsa serta mempelajari dan mengembangkan budaya Sumatra.
10

Perkumpulan ini didirikan pada tanggal 9 Desember 1917 di Jakarta. JSB memiliki enam
cabang, empat di Jawa dan dua di Sumatra, yakni di Padang danBukittinggi. Beberapa tahun
kemudian, para pemuda Batak keluar dari perkumpulan ini dikarenakan dominasi pemuda
Minangkabau dalam kepengurusannya. Para pemuda Batak ini membentuk perkumpulan
sendiri, Jong Batak.
Kelahiran Jong Sumatera Bond pada mulanya banyak diragukan orang. Salah satu
diantaranya ialah redaktur surat kabar Tjaja Sumatra, Said Ali, yang mengatakan bahwa
Sumatra belum matang bagi sebuah politik dan umum. Tanpa menghiraukan suara-suara
miring itu, anak-anak Sumatra tetap mendirikan perkumpulan sendiri.Kaum tua di
Minangkabau menentang pergerakan yang dimotori oleh kaum muda ini.Mereka menganggap
gerakan modern Jong Sumatera Bond sebagai ancaman bagi adat Minang. Aktivis Jong
Sumatera Bond, Bahder Djohan menyorot perbedaan persepsi antara dua generasi ini pada
edisi perdana Jong Sumatra.
Surat kabar Jong Sumatra terbit pertama kali pada bulan Januari 1918. Dengan jargon
Organ van Den Jong Sumatranen Bond, surat kabar ini terbit secara berkala dan tidak
tetap, kadang bulanan, kadang triwulan, bahkan pernah terbit setahun sekali. Bahasa
Belandamerupakan bahasa mayoritas yang digunakan kendati ada juga artikel yang
memakaibahasa Melayu. Jong Sumatra dicetak di Weltevreden, Batavia, sekaligus pula
kantor redaksi dan administrasinya.
Mulanya, dewan redaksi Jong Sumatra juga merupakan pengurus (centraal hoofbestuur)
JSB. Mereka itu adalah Tengkoe Mansyur (ketua), A. Munir Nasution (wakil ketua),
Mohamad Anas (sekretaris I), Amir (sekretaris II), dan Marzoeki (bendahara), serta
dibantu beberapa nama lain. Keredaksian Jong Sumatra dipegang oleh Amir, sedangkan
administrasi ditangani Roeslie.Mereka ini rata-rata adalah siswa atau alumni STOVIAserta
sekolah pendidikan Belanda lainnya.Setelah beberapa edisi, keredaksian Jong Sumatra
dipisahkan dari kepengurusan Jong Sumatera Bond meski tetap ada garis koordinasi.
Pemimpin redaksi pertama adalah Mohammad Amir dan pemimpin perusahaan dijabat
Bahder Djohan.
Surat kabar Jong Sumatra memainkan peranan penting sebagai media yang
menjembatani segala bentuk reaksi atas konflik yang terjadi. Dalam Jong Sumatra edisi 12,
th 1, Desember 1918, seseorang berinisial Lematang mempertanyakan kepentingan kaum
adat. Sambutan positif juga datang dari Mohamad Anas, sekretaris Jong Sumatera
Bond.Anas mengatakan dengan lantang bahwa bangsa Sumatra sudah mulai bangkit dari
ketidurannya, dan sudah mulai memandang keperluan umum.

11

Sumatra memang dikenal banyak menghasilkan jago-jago pergerakan, dan banyak di


antaranya yang mengawali karier organisasinya melalui Jong Sumatera Bond,
sepertiMohammad Hatta dan Mohammad Yamin.Hatta adalah bendahara Jong Sumatera
Bond di Padang 1916-1918. Kemudian ia menjadi pengurus Jong Sumatera Bond Batavia pada
1919 dan mulai mengurusi Jong Sumatra sejak 1920 hingga 1921. Selama di Jong Sumatra
inilah Hatta banyak menuangkan segenap alam pikirannya, salah satunya lewat karangan
berjudul Hindiana yang dimuat di Jong Sumatra no 5, th 3, 1920.
Sedangkan Mohammad Yamin adalah salah satu putra Sumatra yang paling
dibanggakan.Karya-karyanya yang berupa esai ataupun sajak sempat merajai Jong
Sumatra.Ia memimpin Jong Sumatera Bond pada 1926-1928 dan dengan aktif mendorong
pemikiran tentang perlunya bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa persatuan.
Kepekaan Yamin meraba pentingnya bahasa identitas sudah mulai terlihat dalam tulisannya
di Jong Sumatra no 4, th 3, 1920. Jong Sumatra berperan penting dalam memperjuangkan
pemakaian bahasa nasional, dengan menjadi media yang pertama kali mempublikasikan
gagasan Yamin, mengenai bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan.

Jong Celebes

Jong Celebes adalah organisasi pemuda yang menghimpun para pemuda pelajar yang
berasal dari Selebes atau Pulau Sulawesi. Maksud dan tujuannya ialah mempererat rasa
persatuan dari tali persasudaraan di kalangan pemuda pelajar yang berasal dari Pulau
Sulawesi. Tokoh-tokohnya misalnya Arnlod Monotutu, Waworuntu, dan Magdalena
Mokoginta (yang kemudia dikenal dengan Ibu Sukanto, Kepala Kepolisian Wanita Negara RI
pertama).

Jong Paguyuban Pasundan

Paguyuban Pasundan adalah organisasibudayaSunda yang berdiri sejak tanggal 20 Juli


1913, sehingga menjadi salah satu organisasi tertua yang masih eksis sampai saat ini.
Selama keberadaannya, organisasi ini telah bergerak dalam bidang pendidikan, sosialbudaya,politik,ekonomi,kepemudaan, dan pemberdayaan perempuan. Paguyuban ini berupaya
untuk melestarikan budaya Sunda dengan melibatkan bukan hanya orang Sunda tapi semua
yang mempunyai kepedulian terhadap budaya Sunda.

12

C. SUMPAH PEMUDA
Berlanjut dari perjuangan para organisasi , pemuda di tanah air terud berjuang
untuk mempersatukan pemuda di tanah air dengan cara mengadakan rapat atau
perkumpulan yg di bentuk dalam suatu wadah yang bertujuan untuk kemjuan bersama
Peristiwa sejarah Soempah Pemoeda atau Sumpah Pemuda merupakan suatu
pengakuan dari Pemuda-Pemudi Indonesia yang mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa
dan satu bahasa. Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 hasil
rumusan dari Kerapatan Pemoeda-Pemoedi atau Kongres Pemuda II Indonesia yang
hingga kini setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda
Kongres Pemuda II dilaksanakan tiga sesi di tiga tempat berbeda oleh organisasi
Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) yang beranggotakan pelajar dari seluruh
wilayah Indonesia. Kongres tersebut dihadiri oleh berbagai wakil organisasi kepemudaan
yaitu Jong Java, Jong Batak, Jong, Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten
Bond, Jong Ambon, dsb serta pengamat dari pemuda tiong hoa seperti Kwee Thiam
Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie.
Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar
Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari
seluruh Indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang
berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat.
Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond
(KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng). Dalam sambutannya, ketua PPPI
Sugondo Djojopuspito berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan
dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Yamin
tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang
bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan,
dan kemauan
Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas
masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro,
berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada
keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara
demokratis.
Pada rapat penutup, di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106,
Sunario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan.
Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari
13

pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan
mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.

Adapun panitia Kongres Pemuda terdiri dari :

Ketua

:Soegondo Djojopoespito (PPPI)

Wakil Ketua

: R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)

Sekretaris

: Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond)

Bendahara

: Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)

Pembantu I

: Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond)

Pembantu II

: R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)

Pembantu III

: Senduk (Jong Celebes)

Pembantu IV

: Johanes Leimena (yong Ambon)

Pembantu V

: Rochjani Soe'oed (Pemoeda Kaoem Betawi)

Peserta :
Abdul Muthalib Sangadji , Purnama Wulan , Abdul Rachman , Raden Soeharto , Abu
Hanifah , Raden Soekamso , Adnan Kapau Gani , Ramelan , Amir (Dienaren van Indie) ,
Saerun (Keng Po) , Anta Permana , Sahardjo , Anwari , Sarbini , Arnold Manonutu ,
Sarmidi Mangunsarkoro , Assaat , Sartono , Bahder Djohan , S.M. Kartosoewirjo , Dali ,
Setiawan , Darsa , Sigit (Indonesische Studieclub) , Dien Pantouw , Siti Sundari ,
Djuanda , Sjahpuddin Latif , Dr.Pijper , Sjahrial (Adviseur voor inlandsch Zaken) , Emma
Puradiredja , Soejono Djoenoed Poeponegoro , Halim , R.M. Djoko Marsaid , Hamami,
Soekamto , Jo Tumbuhan , Soekmono , Joesoepadi , Soekowati (Volksraad), Jos Masdani
, Soemanang , Kadir , Soemarto , Karto Menggolo , Soenario (PAPI & INPO) , Kasman
Singodimedjo , Soerjadi , Koentjoro Poerbopranoto , Soewadji Prawirohardjo ,
Martakusuma , Soewirjo , Masmoen Rasid , Soeworo , Mohammad Ali Hanafiah , Suhara .
Mohammad Nazif , Sujono (Volksraad) , Mohammad Roem , Sulaeman , Mohammad
Tabrani , Suwarni , Mohammad Tamzil , Tjahija , Muhidin (Pasundan) , Van der Plaas
(Pemerintah Belanda) , Mukarno , Wilopo , Muwardi , Wage Rudolf Soepratman , Nona
Tumbel
14

Rumusan Sumpah Pemuda ditulis Moehammad Yamin pada sebuah kertas ketika Mr.
Sunario, sebagai utusan kepanduan tengah berpidato pada sesi terakhir kongres.
Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjanglebar oleh Yami
Isi Dari Sumpah Pemuda Hasil Kongres Pemuda Kedua adalah sebagai berikut :
PERTAMA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang
Satoe, Tanah Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah
Yang Satu, Tanah Indonesia).

KEDOEA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe,
Bangsa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa Yang Satu,
Bangsa Indonesia).

KETIGA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean,


Bahasa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan,
Bahasa Indonesia).

Dalam peristiwa sumpah pemuda yang bersejarah tersebut diperdengarkan lagu


kebangsaan Indonesia untuk yang pertama kali yang diciptakan oleh W.R. Soepratman.
Lagu Indonesia Raya dipublikasikan pertama kali pada tahun 1928 pada media cetak
surat kabar Sin Po dengan mencantumkan teks yang menegaskan bahwa lagu itu adalah
lagu kebangsaan. Lagu itu sempat dilarang oleh pemerintah kolonial hindia belanda,
namun para pemuda tetap terus menyanyikannya.
D. RENGASDENGKLOK
Tidak cukup dengan perkumpulan dan sompah pemuda , para pemuda indonesia
melanjutkan perjuangan lama yang telah mereka perjuangkan sia sia , peristiwa itu
sering di sebut renggas dengklok
Peristiwa Rengasdengklok terjadi dikarenakan adanya perbedaan pendapat antara
golongan muda dan tua tentang masalah kapan dilaksanakannya proklamasi kemerdekaan
Indonesia. Kejadian tersebut berlangsung tepatnya pada tanggal 16 Agustus 1945.
Golongan muda membawa Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta ke rengasdengklok dengan
15

tujuan untuk mengamankan keduanya dari intervensi pihak luar. Daaerah Rengasdengklok
dipilih karena menurut perhitungan militer, tempat tersebut jauh dari jalan raya
Jakarta-Cirebon. Di samping itu, mereka dengan mudah dapat mengawasi tentara
Jepang yang hendak datang ke Rengasdengklok dari arah Bandung maupun Jakarta.

Kronologi Peristiwa Rengasdengklok

Soekarno-Hatta berada di Rengasdengklok selama satu hari penuh. Usaha dan


rencana para pemuda untuk menekan kedua pemimpin bangsa Indonesia itu agar
cepat-cepat memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa campur tangan
tentara Jepang tidak dapat dilaksanakan. Dalam peristiwa Rengasdengklok tersebut
tampaknya kedua pemimpin itu mempunyai wibawa yang besar sehingga para pemuda
merasa segan untuk mendekatinya, apalagi melakukan penekanan. Namun, melalui
pembicaraan antara Shodanco Singgih dengan Soekarno, menyatakan bahwa
Soekarno bersedia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia setelah kembali ke
Jakarta.

Peristiwa Rengasdengklok

Berdasarkan pernyataan Soekarno itu, pada tengah hari Shodanco Singgih kembali
ke Jakarta untuk menyampaikan berita proklamasi kemerdekaan yang akan
disampaikan oleh Soekarno kepada kawan-kawannya dan para pemimpin pemuda.
Sementara itu, di Jakarta sedang terjadi perundingan antara Achmad Subardjo
(mewakili golongan tua) dengan Wikana (mewakili golongan muda). Dari perundingan
itu tercapai kata sepakat, bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia harus
dilaksanakan di Jakarta. Di samping itu, Laksamana Tadashi Maeda mengizinkan
rumah kediamannya dijadikan sebagai tempat perundingan dan bahkan ia bersedia
menjamin keselamatan para pemimpin bangsa Indonesia itu.

Akhir Peristiwa Rengasdengklok

Berdasarkan kesepakatan antara golongan pemuda dengan Laksamana Tadashi Maeda


itu, Jusuf Kunto bersedia mengantarkan Achmad Subardjo dan sekretaris
pribadinya pergi menjemput Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok. Sebelum
berangkat ke Rengasdengidok, Achmad Subardjo memberikan jaminan dengan
taruhan nyawanya bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia akan dilaksanakan pada
tanggal 17 Agustus 1945, selambat-lambatnya pukul 12.00 WIB. Dengan jaminan itu,
komandan kompi Peta Cudanco Subeno bersedia melepas Ir. Soekarno dan Drs. Moh.
Hatta beserta rombongan untuk kembali ke Jakarta. Rombongan tersebut tiba di
16

Jakarta pada pukul 17.30 WIB. Itulah sejarah singkat peristiwa Rengasdengklok
yang terjadi sebelum proklamasi kemerdekaan.

17

KESIMPULAN
Ide penyatuan dan pembentukan organisasi ini diprakarsai oleh organisasi Jong Java yang
mengundang beberapa wakil perkumpulan pemuda untuk rapat di Jl. Kramat No. 106 Batavia
(sekarang Gedung Sumpah Pemuda, Jakarta) tanggal 23 April 1929. Keputusan pertemuan
adalah mengadakan Kongres Pemuda di Solo antara tanggal 28 Desember 1930 dan 2
Januari 1931. Organisasi ini bertujuan memperkuat rasa persatuan di kalangan pemuda dan
pelajar di Hindia Belanda kala itu; sekaligus sebagai sebuah gerakan nasionalis untuk
membangun kesadaran bertanah air, berbangsa dan berbahasa Indonesia. Karena haluan
nasionalistik ini, Indonesia Moeda juga kala itu secara tegas mengakui Sumpah Pemuda, dan
menjunjung bahasa Indonesia dan lagu Indonesia Raya, dan bendera Merah Putih sebagai
identitas organisasi ini. Walaupun organisasi ini secara resmi tidak berkiprah dalam politik,
organisasi ini adalah salah satu gerakan yang mempelopori terciptanya Indonesia merdeka.
Tahun 1926 berdirilah organisasi Perhimpunan Pelajar -Pelajar Indonesia(PPPI).
Terbentuknya organisasi ini merupakan usaha untuk mendorong tumbuhnya persatuan
diantara organisasi pemuda di daerah. Atas prakarsa PPPI, diselenggarakan kongres pemuda
I di Jakarta. Kongres ini dihadiri oleh beberapa wakil organisasi pemuda di daerah. Kongres
Pemuda I menumbuhkan semangat persatuan dan kesatuan para pemuda untuk mencapai
Indonesia merdeka. Tokoh-tokoh Pemuda pada waktu Kongres Pemuda I adalah Muh. Yamin,
M. Tabrani, dan Sumarto.
Tujuan Kongres Pemuda I adalah memajukan paham persatuan dan kebangsaan, Serta
mempererat hubungan antara semua perkumpulan pemuda. Meskipun Kongres Pemuda I ini
belum berhasil membentuk suatu orgnisasi pemuda yang bersifat nasional, para pemuda
terus berusaha keras agar terbentuk organisasi yang bersifat nasional.
Keputusan Kongres I dan II
Kongres I (30 April - 2 Mei 1926)
-Menyiapkan pelaksanaan Kongres pemuda II.
-Menyerukan persatuan berbagai organisasi pemuda dalam satu organisasi pemuda
Indonesia.
Kongres II (27-28 Oktober 1928.)
-Dicetuskannya Sumpah Pemuda
-Lagu Indonesia Raya dinyanyikan untuk pertama kali

18

PENUTUP
Demikianlah penulisan makalah yang sesederhana , yang memilki banyak
kekurangan ini , kami harapkan kepada pembacara agar memberikan kritikan dan
saran yang kira nya berguna dan membagun para penulis
Karena sebagain manusia kita selalu memilki kesilapan , kesempurnaan
hanyalah milik pencipta
Akhiru kalam kami ucapkan assalamualiakum ...wr...wb .

19

DAFTAR PUSTAKA
http://www.agusnaghkuta.blogspot.com/2014/10/organisasi-pemuda.html
http://semangatpemuda-indonesia.blogspot.com/p/sejarah-sumpah-pemuda.html
http://jagosejarah.blogspot.com/2014/09/peristiwa-rengasdengklok.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Peristiwa_Rengasdengklok
https://id.wikipedia.org/wiki/Sumpah_Pemuda
https://id.wikipedia.org/wiki/Jong_Java
https://id.wikipedia.org/wiki/Jong_Sumatranen_Bond
https://id.wikipedia.org/wiki/Jong_Batak
https://id.wikipedia.org/wiki/Paguyuban_Pasundan

20