Anda di halaman 1dari 24

FARMAKOLOGI 1

OLEH :
DIKDIK ABDULAH SIDIK, S.Si., Apt.

Bahasan
Pengertian dalam Farmakologi
Farmakokinetik
Farmakodinamik

Pengertian dalam
Farmakologi
Farmakologi
Farmakognosi
Farmakologi Klinik
Farmakologi Terapi
Toksikologi

OBAT

Obat adalah bahan atau paduan bahan,


termasuk produk biologi yang digunakan
untuk mempengaruhi atau menyelidiki
sistem fisiologi atau keadaan patologi
dalam rangka penetapan diagnosis,
pencegahan, penyembuhan, pemulihan,
peningkatan kesehatan dan kontrasepsi
untuk manusia.

Farmakologi
Farmakologi

Pharmacon (Obat)
Logos (Ilmu)
Secara Harfiah :
Farmakologi atau ilmu khasiat obat adalah
ilmu yang mempelajari pengetahuan obat
dengan seluruh aspeknya, baik sifat kimiawi
maupun fisiknya, kegiatan fisiologi, resorpsi,
dan nasibnya dalam organisme hidup.

Farmakognosi

Farmakognosi, mempelajari pengetahuan dan pengenalan


obat yang berasal dari tanaman dan zat-zat aktifnya, begitu
pula yang berasal dari mineral dan hewan.
Pada zaman obat sintetis seperti sekarang ini, peranan ilmu
farmakognosi sudah sangat berkurang. Namun pada
dasawarsa terakhir peranannya sebagai sumber untuk obatobat baru berdasarkan penggunaannya secara empiris telah
menjadi semakin penting.
Banyak phytoterapeutika baru telah mulai digunakan lagi
(Yunani ; phyto = tanaman), misalnya tingtura echinaceae
(penguat daya tangkis), ekstrak Ginkoa biloba (penguat
memori), bawang putih (antikolesterol), tingtur hyperici
(antidepresi) dan ekstrak feverfew (Chrysantemum
parthenium) sebagai obat pencegah migrain.

Farmakologi Klinik

Farmakologi Klinik : Suatu Ilmu tentang


substansi yang digunakan untuk mencegah,
mendiagnosa, ataupun mengobati penyakit

Farmakologi Terapi
Farmakologi Terapi (Farmakoterapi) : Farmakoterapi
mempelajari penggunaan obat untuk mengobati
penyakit atau gejalanya.
Penggunaan ini berdasarkan atas pengetahuan tentang
hubungan antara khasiat obat dan sifat fisiologi atau
mikrobiologinya di satu pihak dan penyakit di pihak lain.
Adakalanya berdasarkan pula atas pengalaman yang
lama (dasar empiri). Phytoterapi menggunakan zat-zat
dari tanaman untuk mengobati penyakit.
Farmakoterapi tidak hanya meliputi pengetahuan aksi
dan interaksi obat tetapi berhubungan juga dengan cara
pemberian, penilaian pasien, dan keputusan klinik.

Toksikologi
Cabang Farmakologi yang menjelaskan efek yang
tidak diinginkan dari zat kimia terhadap sistem
kehidupan, mulai dari sel-sel tunggal sampai suatu
ekosistem yang majemuk
Toksikologi adalah pengetahuan tentang efek racun
dari obat terhadap tubuh dan sebetulnya termasuk
pula dalam kelompok farmakodinamika, karena efek
terapi obat berhubungan dengan efek toksisnya.
Pada hakikatnya setiap obat dalam dosis yang
cukup tinggi dapat bekerja sebagai racun dan
merusak organisme. (Sola dosis facit venenum :
hanya dosis membuat racun, Paracelsus

a) Ketersediaan farmasi (Farmaceutical Availability)


Adalah ukuran waktu yang diperlukan oleh obat untuk melepaskan
diri dari bentuk sediaannya dan siap untuk proses resorpsi.
Kecepatan melarut obat tergantung dari berbagai bentuk sediaan
dengan urutan sebagai berikut: Larutan suspensi emulsi
serbuk kapsul tablet
enterik coated long acting.
b) Ketersediaan hayati (Biological Availability)
Adalah prosentase obat yang diresorpsi tubuh dari suatu dosis yang
diberikan dan tersedia untuk melakukan efek terapeutiknya.
c) Kesetaraan terapuetik (Therapeutical Equivalent)
Adalah syarat yang harus dipenuhi oleh suatu obat paten yang
meliputi kecepatan melarut dan jumlah kadar zat berkhasiat
yang
harus dicapai di dalam darah. Kesetaraan terapeutik
dapat
terjadi pada pabrik yang berbeda atau pada batch yang berbeda
dari produksi suatu pabrik.
d) Bioassay dan standardisasi
Biassay adalah cara menentukan aktivitas obat dengan
menggunakan binatang percobaan seperti kelinci, tikus, kodok dan
lain-lain.

Farmakokinetik

Farmakokinetika adalah segala proses yang


dilakukan tubuh terhadap obat berupa
absorpsi, distribusi, metabolisme
(biotrans-formasi), dan ekskresi

Absorpsi
Absorpsi (Penyerapan)
Absorbsi dipengaruhi oleh beberapa faktor:
1. Kelarutan obat
2. Kemampuan difusi melintasi sel membran
3. Konsentrasi obat
4. Sirkulasi pada letak absorpsi
5. Luas permukaan kontak obat
6. Bentuk sediaan obat
7. Cara pemakaian obat.

Distribusi
Distribusi (Penyaluran)
Obat setelah diabsorpsi akan tersebar melalui
sirkulasi darah ke seluruh badan dan harus
melalui membran sel agar tercapai tepat pada
efek aksi.
Molekul obat yang mudah melintasi membran
sel akan mencapai semua cairan tubuh baik
intra maupun ekstra sel, sedangkan obat yang
sulit menembus membran sel maka
penyebarannya umumnya terbatas pada
cairan ekstra sel.

Metabolisme/Biotransform
asi

Tujuan biotransformasi obat adalah pengubahannya yang sedemikian


rupa hingga mudah diekskresi ginjal, dalam hal ini menjadikannya lebih
hidrofil.
Pada umumnya obat dimetabolisme olen enzim mikrosom di retikulum
endo-plasma sel hati.

Hal-hal yang dapat mempengaruhi metabolisme:


Fungsi hati, metabolisme dapat berlangsung lebih cepat atau lebih
lambat, sehingga efek obat menjadi lebih lemah atau lebih kuat dari
yang kita harapkan.
Usia, pada bayi metabolismenya lebih lambat.
Faktor genetik (turunan), ada orang yang memiliki faktor genetik
tertentu yang dapat menimbulkan perbedaan khasiat obat pada
pasien.
Adanya pemakaian obat lain secara bersamaan, dapat mempercepat
metabolisme (inhibisi enzim)

Ekskresi
Ekskresi (Pengeluaran)
Pengeluaran obat atau metabolitnya dari tubuh terutama dilakukan
oleh ginjal melalui air seni, dan dikeluarkan dalam bentuk metabolit
maupun bentuk asalnya.

Disamping ini ada pula beberapa cara lain, yaitu:


Kulit, bersama keringat.
Paru-paru, dengan pernafasan keluar, terutama berperan pada
anestesi umum, anestesi gas atau anestesi terbang.
Hati, melalui saluran empedu, terutama obat untuk infeksi saluran
empedu.
Air susu ibu, misalnya alkohol, obat tidur, nikotin dari rokok dan
alkaloid lain. Harus diperhatikan karena dapat menimbulkan efek
farmakologi atau toksis pada bayi.
Usus, misalnya sulfa dan preparat besi

Farmakodinamika

Farmakodinamika : Ilmu yang mempelajari


obat yang telah berinteraksi dengan sisi
reseptor dan siap memberikan efek.

Mekanisme Obat
Mekanisme kerja obat
Dikenal beberapa mekanisme kerja obat yang dapat
digolongkan sebagai berikut:
1) Secara fisika, contohnya anestetik terbang, lakansia
dan diuretik osmotis.
2) Secara kimia, misalnya antasida lambung dan zat-zat
khelasi (zat-zat yang dapat mengikat logam berat).
3) Proses metabolisme, misalnya antibiotika mengganggu
pembentukan dinding sel kuman, sintesis protein, dan
metabolisme asam nucleat.
4) Secara kompetisi atau saingan, dalam hal ini dapat
dibedakan dua jenis kompetisi yaitu untuk reseptor
spesifik dan enzym-enzym. Contoh: oba-obat Sulfonamida.

Reseptor & Transmisi Sinyal


Obat
Reseptor : Makromolekul (biopolimer) khas
atau bagiannya dalam organisme, yaitu
tempat aktif biologi, tempat obat terikat.
Reseptor Fisiologis : Protein seluler yang
secara normal berfungsi sebagai reseptor bagi
ligand endogen, terutama hormon
neurotransmitter.
Transmisi Sinyal Obat : Penghantar sinyal ialah
proses yang menyebabkan suatu substansi
ekstraseluler menimbulkan suatu respon
seluler secara fisiologis.

Interaksi obat - Reseptor


Persyaratan interkasi obat dengan reseptor
adalah pembentukan kompleks obatreseptor.
Bergantung pada afinitas obat terhadap
reseptor
Kemampuan suatu obat untuk menimbulkan
suatu rangsang dan dengan demikian efek,
setelah membentuk kompleks dengan
reseptor disebut aktivitas intrinsik

Efek Terapi
Tidak semua obat bersifat betul-betul menyebuhkan penyakit,
banyak diantaranya hanya meniadakan atau meringankan gejalagejalanya. Oleh karena itu dapat dibedakan tiga jenis pengobatan,
yaitu:
1) Terapi kausal, yaitu pengobatan dengan meniadakan atau
memusnah-kan penyebab penyakitnya, misalnya sulfonamid,
antibiotika, obat malaria dan sebagainya.
2) Terapi simptomatis, yaitu pengobatan untuk menghilangkan
atau meringankan gejala penyakit, sedangkan penyebab-nya
yang lebih mendalam tidak dipengaruhi, misalnya pemberian
analgetik pada reumatik atau sakit kepala.
3) Terapi substitusi, yaitu pengobatan dengan cara
menggantikan zat-zat yang seharusnya dibuat oleh organ tubuh
yang sakit, misalnya insulin pada penderita diabetes, oralit pada
penderita diare dan tiroksin pada penderita hipotiroid.

Antagonisme
Farmakodinamika
Antagonisme Fisiologik : antagonisme pada
sistem fisiologi yang sama, tetapi pada
sistem reseptor yang berlainan.
Antagonisme pada reseptor : antagonisme
pada atau melalui sistem reseptor yang
sama.

Kerja Obat yang Tidak


diperantai Reseptor
Efek non spesifik dan Gangguan pada
membran berdasarkan sifat osmotik.
Contoh : Obat Diuretik
Interaksi dengan molekul kecil atau ion,
Contoh : Penilsilamin
Inkorporasi dalam Makromolekul, Contoh :
Fenilalanin

THANK YOU