Anda di halaman 1dari 16

IDENTIFIKASI AIR TANAH MENGGUNAKAN METODE VES

(VERTIKAL ELECTRICAL SOUNDING) DI DAERAH CANDI UMBUL


DAN SEKITARNYA, DESA KARTOHARJO, GRABAG, KABUPATEN
MAGELANG, PROVINSI JAWA TENGAH

Lia

Ardiani1),

Oleh :
Ahmad Bishry Mustofa2), Nur Arasyi2), Hazqial Hafazhah3),

Muhammad Dwi Nurdiansyah4), Muhamad Ikhsan5), Rizqi Aula Lazuardian6),


Rizqi Amalia Hidayati1), Thava Yuniantari7), Asronj Bakkit Simanjuntak1).
(Email : thavayuniantari25@gmail.com)
1Universitas

Dipenegoro, Semarang 2Universitas Pembangunan Nasional,

Yogyakarta 3Universitas Brawijaya, Malang 4Institut Teknologi Sepuluh


Nopember, Surabaya 5Universitas Negri Semarang, Semarang 6Universitas
Sebelas Maret, Surakarta 7Universitas Islam Negri Yogyakarta, Yogyakarta.

ABSTRAK
Telah diakukan pengukuran dan interpretasi metode vertical elctrical
sounding (VES) untuk memperoleh informasi struktur bawah permukaan dan
lapisan air tanah di Daerah Candi Umbul dan sekitarnya, Desa Kartoharjo, Grabag,
Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Akuisisi data lapangan yang
diperoleh berupa beda potensial dan arus. Data tersebut digunakan untuk
menghitung nilai resistivitas semu. Setelah diperoleh nilai resistivitas semu
kemudian diolah dengan menggunakan program progress untuk mengetahui nilai
resistivitas setiap lapisan batuan. Dengan informasi geologi sebagai perbandingan.
Pada titik sounding 4 didapatkan lapisan akuifer pada kedalaman 13.31 m s/d 26.69
m dengan nilai resistivitas 14.7 ohm. m yang berada diatas batulempung. Dari
korelasi juga diapatkan kemenerusan lapisan batupasir dan batulempung.
Sedangkan pada titik sounding 5 terdapat lapisan akuifer pada lapisan ketiga dengan
kedalaman 2 m s/d 7 m dengan nilai resistivitas 17.64 ohm. m yang berada diatas
batulempung. Untuk titik sounding 6 terdapat lapisan akuifer pada lapisan ketiga
dengan kedalaman >41 m dengan nilai resistivitas 16.84 ohm yang berada diatas
batulempung.
Kata kunci : Akuifer, Resitivitas, VES.

PENDAHULUAN
Kawasan
Candi
Umbul
merupakan daerah wisata yang berada
pada sekitar gunung Telomoyo, Andong,
Ungaran dan Merbabu. Beberapa daerah
sekitar candi terutama pada Desa
Kartoharjo
Kecamatan
Grabag
Kabupaten Magelang merupakan daerah
yang rawan mengalami kekeringan pada
musim kemarau. Hal tersebut terjadi
akibat penggalian sumur warga yang
berkisar pada kedalaman 6-9 meter.
Menurut [1] Metode geolistrik
merupakan satu metode dalam geofisika
yang mempelajari sifat aliran listrik di
dalam bumi. Pendeteksian di atas
permukaan meliputi pengukuran medan
potensial, arus, dan elektromagnetik yang
terjadi baik secara alamiah maupun
akibat penginjeksian arus ke dalam bumi.
Metode Vertical Electrical Sounding
(VES) merupakan metode geolistrik
dengan
konfigurasi
Schlumberger
menggunakan
arus
listrik
yang
dimasukkan ke dalam tanah melalui dua

elektroda arus. Resistivitas ( ) adalah


parameter yang menunjukkan tingkat
hambatan terhadap arus listrik. Bahan
yang mempunyai resistivitas yang besar
akan sukar dialiri arus listrik. Dengan
menggunakan metode VES didapat
perlapisan
batuan
dengan
nilai
resistivitas yang beragam. Lapisan yang
mengandung air tanah mempunyai nilai
resistivitas rendah.
Dengan pengukuran menggunakan
metode Vertical electrical Sounding
(VES) diharapkan dapat memberikan
informasi lapisan kedalaman air tanah
dari
Desa
Kartoharjo.
Nantinya
kedalaman perlapisan yang mengandung
air tanah yang diketahui dapat dijadikan

referensi
warga
sekitar
menggalian air tanah.

dalam

DASAR TEORI
Metode VES
Metode geolistrik merupakan
metode geofisika dengan memanfaatkan
sifat kelistrikan bumi. Metode geolistrik
juga dapat digunakan dalam membantu
penginterpretasian hal-hal berikut [2]:
1. Keberadaan sumber panas;
2. Keberadaan sumber reservoar ;
3. Zona permeabel dan upflow.
Metode VES atau Vertical Electrical
Sounding merupakan salah satu bagian
dari metode geolistrik menggunakan
konfigurasi Schlumberger. Metode VES
merupakan salahsatu metode geofisika
aktif dengan menggunakan prinsip
respon batuan terhadap listrik yang
diinjeksikan ke dalam bumi. Metode ini
memanfaatkan sifat tahanan jenis batuan
untuk mengetahui struktur bawah
permukaan. Arus listrik diinjeksikan ke
dalam bumi melalui elektroda-elektrida
arus kemudian akan ditangkap oleh
elektroda potensial dan didapatkan nilai
perbedaan potensialnya.
Lalu diperoleh nilai hambatan
jenismya. Aris listrik diasumsikan
merambat melalui medium homogen
isotropis sehingga apabila arus yang
diinjeksikan besarnya sama sedangkan
nilai beda potensial yang didapatkan
berbeda, hal ini menunjukkan adanya
anomali tahanan jenis yang dimiliki
batuan di bawah permukaan dan dapat
menggambarkan keadaan geologinya.
Nilai hambatan jenis merupakan respon
batuan dari arus yang diinjeksikan,
sehingga nilai hambatan jenis yang
bervariasi
menunjukkan
adanya

perbedaan jenis batuandan perlapisan di


bawah permukaan. Untuk mendapatklan
struktur yang lebih dalam jarak elektroda
untuk
menginjeksikan
perlu
diperpanjang pula.
Pemasangan
elektroda
dalam
konfigurasi schlumberger yaitu dengan
elektroda arus memiliki jarak yang lebih
besar daripada elektroda potensial,
dengan bentangan elektroda potensial
berada di dalam bentangan elektroda
arus.
Konfigurasi
Schlumberger
memiliki keunggulan mudah untuk
dilakukan dan banyak digunakan untuk
survey geolistrik sounding.
Keunggulan lainnya adalah dapat
mendeteksi adanya nonhomogenitas
lapisan batuan dengan membandingkan
nilai reistivitas semu saat perpindahadn
jarak elektroda P1/P2. Nilai resistivitas
semu bergantung pada geometri sasunan
elektroda dan didefinisikan dengan faktor
geometri K= ((a2-b2) / 2b) dengan a
adalah jarak elektroda arus ke pusat dan
b adalah jarakpotensial ke pusat. Dengan
mengetahui harga V, I, dan k didapatkan
harga tahanan jenis yaitu =k(V/I)[1].
Geologi Regional
Daerah Candi Umbul terletak
diantara pegunungan vulkanik Gunung
Telomoyo, Gunung Andong, Gunung
Merbabu, Gunung Ungaran dan Gunung
Sumbing dimana kegiatan erupsi pda tiap
gunung tersebut akan memberikan
pengaruh terhadap tatanan geologi
daerah Candi Umbul. Gunungapi paling
dekat dengan Candi Umbul adalah
Gunung Telomoyo yang memiliki
ketinggian 1894 mdpl yang terletak pada
zona Pegunungan Serayu Utara dengan
batuan tertua adalah batuan sedimen
berumur
miosen
tengah
dengan
mekanisme pengendapan turbidit pada

lingkungan neritik yang kemudian


disusul oleh proses pengangkatan pada
kala Pliosen atas dan diikuti oleh erupsi
efusif Ungaran Tua pada kala Plistosen
Awal.
Selain itu kejadian geologi yang
mempengaruhi tatanan geologi daerah
Candi Umbul adalah aktiitas vulkanik
Telomoyo-1 yang menghasilkan endapan
piroklastik dan lava. Letusan besar
Telomoyo-1 menyebabkan terjadinya
runtuhan
yang
mengakibatkan
terbentuknya struktur caldera rim seluas
22 km dan memunculkan kembali
aktivitas vulkanik Telomoyo-2 yang
menghasilkan endapan piroklastik dan
lava. Aktifitas vulkanik Telomoyo-2
terus berlanjut hingga menghasilkan
kerucut skoria yang bersifat andesitbasaltik. Setelah gunung aktifitas
Gunung Telomoyo berkhir disusul oleh
aktifitas vulkanik Gunung Ungaran dan
Merbabu yang menghasilkan endapan
lava, piroklastik , lahar dan alluvium.
Geomorfologi
Bentuk rupa bumi daerah Candi Umbul
menunjukan suatu satuan geomorfologi
vulkanik dengan variasi lereng dengan
kemiringan berkisar 20 85 pada fasies
central dan perbukitan pada fasies
proksimal. Rentang variasi elevasi pada
daerah ini berkisar antara 200-1850
mdpl..
Stratigrafi
Dalam investigasi air tanah pada
daerah Candi Umbul ini, runtutan
stratigrafi memiliki peranan yang sangat
penting untuk mengetahui persebaran
reservoir air tanah yang pada umumnya
merupakan batuan yang permeable dan
poros.
Urutan stratigrafi daerah Candi
Umbul

Umur
Tua

Muda

Satuan Batuan
Lava Ungaran-1
Lva Telomoyo-1
Aliran
piroklastik
Telomoyo-1
Lava Telomoyo-2
Aliran
piroklastik
Telomoyo 2
Jatuhan
piroklastik
Telomoyo-2
Lava Andong
Lava Telomoyo
Lava Ungaran-2
Lava Merbabu-1
Aliran
piroklastik
Merbabu
Koluvium Telomoyo
Kerucut piroklastik
Lava Merbabu-2
Jatuhan
piroklastik
Merbabu
Lahar Merbabu
Aluvium

METODOLOGI
Dalam pengukuran VES yang
dilakukan
menggunakan
metode
Schlumberger. Pengukuran ini dilakukan
didaerah Candi Umbul dan Sekitarnya,
Desa Kartoharjo, Grabag, Kabupaten
Magelang.
Alat yang digunakan berupa Oyo
dan dua buah elektroda arus dan dua buah
elektrodan potensial. Akuisisi data
dilakukan dengan menggunakan 6 titik
dengan bentangan AB sejauh 250m dan
bentangan MN sejauh 30m. Data yang
didapat kemudian diolah dengan
software microcof excel dan progress
untuk mendapatkan model lapisan bawah
permukaan.
Setelah
itu
data
diinterpretasikan dengan membaca

informasi geologi, informasi pada saat


survei, dengan tujuan menemukan
gambaran tentang pelapisan batuan guna
mengetahui kedalaman air tanah.
Akuisisi data dilakukan dengan :
1. Menancapkan
elektrodaelektroda C dan P dengan
konfigurasi schlumberger pada
bentangan terpendek yang telah
direncanakan (eksentris 1/5).
Kemudian mencatat nilai kuat
arus listrik dan beda potensial
terukur pada resistivity meter
McOhm. Menghitung a dan
memplot hasilnya pada kertas
grafik skala bilog.
2. Memindahkan elektroda C dan P
seperti pada tebel (Log Sheet).
Mencatat I dan V yang terukur.
Menghitung dan plot a.
3. Mengulangi langkah pada point
2 sampai panjang lintasan yang
telah ditentukan, dan mencatat
pembacaan I dan V yang
terukur, kemudian menghitung
dan plot a.
4. Mengulangi langkah pada point
1 sampai 4 untuk titik
pengukuran berikutnya yang
telah ditentukan

Gambar 1. Diagram Alir pengambilan


data
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil akuisisi data
dan pengolahan data, diketahui bahwa
jumlah titik sounding sebanyak 6 buah
dengan panjang masing-masing lintasan
yaitu 250 m. Dengan titik sounding 1
sampai 4 berada dalam Formasi
Kaligetas, sedangkan pada titik sounding
5 dan 6 berada dalam satuan batuan
gunungapi tak terpisahkan. Pada
pengolahan
geolistrik
sounding
menggunakan Progress didapatkan
kurva hubungan antara apparent
resistivity dengan spasi elektroda,
tabulasi data hasil inversi dan profil
bawah permukaan bedasarkan perbedaan

nilai
resistivitas
batuan
bawah
permukaan. Pada grafik hubungan
tersebut terdapat garis dan titik, dimana
titik tersebut merupakan kumpulan nilai
resistivitas bawah permukaan dari setiap
kedalaman yang berbeda sedangkan garis
biru tersebut merupakan hasil inversi
untuk mendekati model dari data
lapangan, garis ungu tersebut sebaiknya
berhimpit dengan titik-titik pada nilai
resistivitas pada setiap spasi. Garis
berwarna b menunjukkan model
resistivitas dan ketebalan /kedalaman
yang dibuat. Pada
Dari
pembuatan
pemodelan
menggunakan software Progress, error
yang didapatkan dari pemodelan 1 D
yang telah dibuat adalah sebesar ... %.
Dimana penetrasi kedalaman maksimum
dari konfigurasi schlumberger ini adalah
1/5 dari panjang lintasannya pada setiap
titik soundingnya. Bedasarkan kurva
sounding log resistivitas ini didapatkan
bahwa pada titik sounding 1 terdapat 3
lapisan di bawah permukaan. Titik
pengukuran 1 pada lapisan pertama pada
kedalaman 1,6 m dengan nilai resistivitas
16.68 ohm. m, pada lapisan kedua pada
kedalaman 25.57 m dengan nilai
resistivitas 67 ohm. m, pada lapisan
ketiga pada kedalaman >25 m dengan
nilai resistivitas 28.21 ohm. m.
Interpretasi bedasarkan nilai resistivitas
batuan (Looke, 2004) pada lapisan
pertama dengan nilai resistivitas 16.68
ohm.m dikategorikan sebagai soil, pada
lapisan kedua dengan nilai resistivitas 67
ohm. m dikategorikan sebagai batupasir,
dan pada lapisan kedua dengan nilai
resistivitas 28.21 ohm. m dikategorikan
sebagai batulempung. Pada titik
sounding satu tidak ditemukan lapisan
akuifer air tanah.
Pada titik sounding kedua error
yang didapatkan dari pemodelan 1 D
yang telah dibuat adalah sebesar 8.347 %.
pada titik sounding 1 terdapat 4 lapisan di
bawah permukaan. Titik pengukuran 1
pada lapisan pertama pada kedalaman 0
s/d 2.17 m dengan nilai resistivitas 15.03

ohm. m, pada lapisan kedua pada


kedalaman 2.17 m s/d 20.12 m dengan
nilai resistivitas 99.71 ohm. m, pada
lapisan ketiga pada kedalaman 20.12 s/d
57.36 m dengan nilai resistivitas 17.64
ohm. m dan pada lapisan keempat pada
kedalaman >57.36 m dengan nilai
resistivitas 58.89 ohm. m. Interpretasi
bedasarkan nilai resistivitas batuan
(Looke, 2004) pada lapisan pertama
dengan nilai resistivitas 15.03 ohm.m
dikategorikan sebagai soil, pada lapisan
kedua dengan nilai resistivitas 99.71
ohm. m,dikategorikan sebagai batupasir,
pada lapisan ketiga dengan nilai
resistivitas 17.64 ohm. m, dikategorikan
sebagai batulempung, dan pada lapisan
keempat dengan nilai resistivitas 58.89
ohm. m dikategorikan sebagai batupasir.
Pada titik sounding satu tidak ditemukan
lapisan akuifer air tanah.
Pada titik sounding ketiga error
yang didapatkan dari pemodelan 1 D
yang telah dibuat adalah sebesar 7.59 %.
pada titik sounding 1 terdapat 4 lapisan di
bawah permukaan. Titik pengukuran 1
pada lapisan pertama pada kedalaman 0
s/d 0.78 m dengan nilai resistivitas 8.46
ohm. m, pada lapisan kedua pada
kedalaman 0.78 m s/d 12.72 m dengan
nilai resistivitas 34 ohm. m, pada lapisan
ketiga pada kedalaman 12.72 m s/d 56.31
m dengan nilai resistivitas 145.37 ohm. m
dan pada lapisan keempat pada
kedalaman >56.31 m dengan nilai
resistivitas 25.69 ohm. m. Interpretasi
bedasarkan nilai resistivitas batuan
(Looke, 2004) pada lapisan pertama
dengan nilai resistivitas 8.46 ohm. m
dikategorikan sebagai soil, pada lapisan
kedua dengan nilai resistivitas 34 ohm. m
dikategorikan sebagai batulempung, pada
lapisan ketiga dengan nilai resistivitas
17.64 ohm. m, dikategorikan sebagai
batupasir, dan pada lapisan keempat
dengan nilai resistivitas 25.69 ohm. m
dikategorikan sebagai batulempung.
Pada titik sounding satu tidak ditemukan
lapisan akuifer air tanah.

Pada titik sounding keempat error


yang didapatkan dari pemodelan 1 D
yang telah dibuat adalah sebesar 14.51 %.
pada titik sounding 1 terdapat 4 lapisan di
bawah permukaan. Titik pengukuran 1
pada lapisan pertama pada kedalaman 0
s/d 2.03 m dengan nilai resistivitas 38.25
ohm. m, pada lapisan kedua pada
kedalaman 2.03 m s/d 13.31 m dengan
nilai resistivitas 40.92 ohm. m, pada
lapisan ketiga pada kedalaman 13.31 m
s/d 26.69 m dengan nilai resistivitas 14.7
ohm. m dan pada lapisan keempat pada
kedalaman >40.57 m dengan nilai
resistivitas 60.24 ohm. m. Interpretasi
bedasarkan nilai resistivitas batuan
(Looke, 2004) pada lapisan pertama
dengan nilai resistivitas 38.25 ohm. m
dikategorikan sebagai soil, pada lapisan
kedua dengan nilai resistivitas 40.92
ohm.
m
dikategorikan
sebagai
batulempung, pada lapisan ketiga dengan
nilai resistivitas dikategorikan sebagai
akuifer air tanah, dan pada lapisan
keempat dengan nilai resistivitas 14.7
ohm. m dikategorikan sebagai akuifer air
tanah dan pada lapisan kelima dengan
resistivitas 60.24 ohm. m dikategorikan
sebagai batupasir. Pada titik sounding
lima ditemukan lapisan akuifer air tanah
yaitu pada lapisan ketiga.akuifer air tanah
pada lapisan ketiga.
Pada titik sounding kelima error
yang didapatkan dari pemodelan 1 D
yang telah dibuat adalah sebesar 9.90 %.
pada titik sounding 1 terdapat 5 lapisan di
bawah permukaan. Titik pengukuran 1
pada lapisan pertama pada kedalaman 0
s/d 0.71 m dengan nilai resistivitas 26.53
ohm. m, pada lapisan kedua pada
kedalaman 0.71 m s/d 2.83 m dengan
nilai resistivitas 60.82 ohm. m, pada
lapisan ketiga pada kedalaman 2.83 m s/d
7.13 m dengan nilai resistivitas 16.2 ohm.
m, pada lapisan keempat pada kedalaman
7.13 m s/d 25.55 m dengan nilai
resistivitas 56.16 ohm. m dan pada
lapisan kelima pada kedalaman >25.55 m
dengan nilai resistivitas 13.45 ohm. m.
Interpretasi bedasarkan nilai resistivitas

batuan (Looke, 2004) pada lapisan


pertama dengan nilai resistivitas 15.03
ohm.m dikategorikan sebagai soil, pada
lapisan kedua dengan nilai resistivitas
99.71 ohm. m dikategorikan sebagai
batulempung, pada lapisan ketiga dengan
nilai resistivitas 17.64 ohm. m,
dikategorikan sebagai akuifer air tanah,
dan pada lapisan keempat dengan nilai
resistivitas 58.89 ohm. m dikategorikan
sebagai batupasir dan pada lapisan
kelima dengan resistivitas dikategorikan
sebagai batulempung. Pada titik
sounding lima ditemukan lapisan akuifer
air tanah yaitu pada lapisan ketiga.
Pada titik sounding keenam error
yang didapatkan dari pemodelan 1 D
yang telah dibuat adalah sebesar 4. 754 %
pada titik sounding 1 terdapat 3 lapisan di
bawah permukaan. Titik pengukuran 1
pada lapisan pertama pada kedalaman 0
s/d 6 m dengan nilai resistivitas 22.72
ohm. m, pada lapisan kedua pada
kedalaman 6 m m s/d 41.27 m dengan
nilai resistivitas 46.53 ohm. m, pada
lapisan ketiga pada kedalaman > 41.27 m
dengan nilai resistivitas 16.84 ohm. m
Interpretasi bedasarkan nilai resistivitas
batuan (Looke, 2004) pada lapisan
pertama dengan nilai resistivitas 22.72
ohm. m dikategorikan sebagai soil, pada
lapisan kedua dengan nilai resistivitas
46.53 ohm. dikategorikan sebagai
batulempung, pada lapisan ketiga dengan
nilai resistivitas 16.84 ohm. m,
dikategorikan sebagai akuifer air tanah.
Pada titik sounding lima ditemukan
lapisan akuifer air tanah yaitu pada
lapisan ketiga.
Setelah melakukan pengolahan data
dan interpretasi, langkah selanjutnya
adalah melakukan korelasi. Kita dapat
mengkorelasikan titik-titik sounding
pada formasi yang sama dengan
kesamaan ciri litologi. Dari hasil korelasi
dari titik sounding antara titik sounding
1,2,3 dan 4. Kita dapat menghubungkan
titik-titik sama bedasarkan ciri litologi
yang sama. Pada titik sounding 1 sampai
empat dapat menarik garis pada litologi

batulempung dan batupasir seperti


gambar diatas, dengan kata lain terdapat
kemenerusan lapisan antar titik sounding
1 sampai 4. Sedangkan pada pada titik
sounding 5 dan 6 termasuk dalam satuan
batuan gunungapi tak terpisahkan,
dengan korelasi, diadpatkan bahwa
terdapat kesamaan litologi pada titik 5
dan 6 yaitu pada litologi batulempung
dan akuifer air tanah, akan tetapi pada
titik sounding 6 memiliki lapisan
batulempung yang tebal.

KESIMPULAN
Dari hasil akusisi data dan
pengolahan data didapatkan bahwa Pada
titik sounding 4 didapatkan lapisan
akuifer pada kedalaman 13.31 m s/d
26.69 m dengan nilai resistivitas 14.7
ohm. m yang berada diatas batulempung.
Dari
korelasi
juga
diapatkan
kemenerusan lapisan batupasir dan
batulempung. Sedangkan pada titik
sounding 5 terdapat lapisan akuifer pada
lapisan ketiga dengan kedalaman 2 m s/d
7 m dengan nilai resistivitas 17.64 ohm.
m yang berada diatas batulempung.
Untuk titik sounding 6 terdapat lapisan
akuifer pada lapisan ketiga dengan
kedalaman >41 m
dengan nilai
resistivitas 16.84 ohm yang berada diatas
batulempung.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih kami
ucapkan kepada rekan-rekan yang telah
memberikan masukan serta membantu
dalam mendapatkan data di lapangan.
Kepada para asisten yang telah berbagi
ilmu. Kepada HMGI regional III yang
telah memberikan fasilitas dalam
pelaksanaan fieldtrip geofisika 2016.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Putriutami, Elida Septiana, dkk. 2014.
Interpretasi Lapisan Bawah Permukaan
di Area Panas Bumi Gunung Telomoyo
Kabupaten Semarang Menggunakan
Metode
Geolistrik
Resistivity
Konfigurasi Schlumberger. Sumber
Jurnal Youngster Physics Journal
Volume 3 Nomor 2 2014.
[2] Gupta, H., Ray, S., 2007. An Outline
of The Geology of Indonesia, Jakarta
IAGA halaman 11-36.
[3] hermawa, D., dan Rezky, Y. 2011.
Delineasi Daerah Prospek Panas Bumi
Berdasarkan Analisis Kelurusan Citra
Landsat di Candi Umbul Telomoyo
Provinsi Jawa Tengah, Buletin Sumber
Daya Geologi. Volume 6 Nomor 1
2011.

LAMPIRAN

Gambar 1. Peta geologi candi umbul

Gambar 2. Grafik titik sounding 1

Gambar 3. Grafik titik sounding 2

Gambar 4. Grafik titik sounding 3

Gambar 5. Grafik titik sounding 4

Gambar 6. Grafik titik sounding 5

Gambar 7. Grafik titik sounding 6

Gambar 8. Korelasi antar titik sounding daerah candi umbul