Anda di halaman 1dari 11

I.

Memahami dan menjelaskan Fungsi Keluarga


1.1. Definisi, struktur, dan ciri-ciri keluarga
Definisi
Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan keterikatan
aturan, emosional, dan individu mempunyai peran masing-masing yang merupakan bagian
dari keluarga (Friedman, 1998)
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari suami istri dan anaknya, atau
ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya (Suprajitno, 2004)
Keluarga berasal dari bahasa Sansekerta "kulawarga". Kata kula berarti "ras" dan warga yang
berarti "anggota". Keluarga adalah lingkungan di mana terdapat beberapa orang yang masih
memiliki hubungan darah. Keluarga sebagai kelompok sosial terdiri dari sejumlah individu,
memiliki hubungan antar individu, terdapat ikatan, kewajiban, tanggung jawab di antara
individu tersebut. Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala
keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap
dalam keadaan saling ketergantungan.
Struktur keluarga
1. Dominasi jalur hubungan darah
a. Patrilineal
Keluarga yang dihubungkan atau disusun melalui jalur garis ayah. Suku-suku di
Indonesia rata-rata menggunakan struktur keluarga Patrilineal.
b. Matrilineal
Keluarga yang dihubungkan atau disusun melalui jalur garis ibu. Suku padang salah
satu suku yang menggunakan struktur keluarga matrilineal.
2. Dominasi keberadaan tempat tinggal
a. Patrilokal
Keberadaan tempat tinggal satu keluarga yang tinggal dengan keluarga sedarah dari
pihak suami.
b. Matrilokal
Keberadaan tempat tinggal satu keluarga yang tinggal dengan keluarga sedarah dari
istri.
3. Dominasi pengambilan keputusan
a. Patriakal
Dominasi pengambil keputusan ada pada pihak suami.
b. Matriakal
Dominasi pengambilan keputusan ada pada pihak istri.
Ciri-ciri struktur keluarga
1. Terorganisasi
Keluarga adalah cerminan sebuah organisasi, dimana masing-masing anggota keluarga
memiliki peran dan fungsinya masing-masing sehingga tujuan keluarga dapat tercapai.
Organisasi yang baik ditandai dengan adanya hubungan yang kuat antar anggota sebagai
bentuk saling ketergantungan dalam mencapai tujuan.
2. Keterbatasan
Dalam mencapai tujuan, setiap anggota keluarga memiliki peran dan tanggung jawabnya
masing-masing sehingga dalam berinteraksi setiap anggota tidak bisa semena-mena,
tetapi mempunyai keterbatasan yang dilandasi oleh tanggung jawab masing-masing oleh
anggota keluarga.
3. Perbedaan dan kekhususan
1 | Skenario 2 KEDKEL - R.A. Wita Ferani Kartika - 1102009229

Adanya peran yang beragam dalam keluarga menunjukan masing-masing anggota


keluarga mempunyai peran dan fungsi yang berbeda dan khas seperti halnya peran ayah
sebagai pencari nafkah utama, peran ibu yang merawat anak-anak.
(Friedman, M.M. 1998)
1.2. Peranan dan fungsi keluarga (biologis , psikologis, sosial, ekonomi, pendidikan)
Peranan Keluarga
Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal, sifat, kegiatan, yang
berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu. Peranan individu dalam
keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku dari keluarga, kelompok dan masyarakat.
Berbagai peranan yang terdapat di dalam keluarga adalah sebagai berikut :
1. Peranan ayah :
Ayah sebagai suami dari istri, berperanan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung,
dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok
sosialnya, serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya
2. Peranan ibu :
Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan untuk mengurus rumah
tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai salah satu
kelompok dari peranan sosialnya, serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya,
disamping itu juga dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya.
3. Peranan anak :
Anak-anak melaksanakan peranan psiko-sosial sesuai dengan tingkat perkembangannya,
baik fisik, mental, sosial dan spiritual.
Fungsi keluarga menurut WHO (1978)
1. Fungsi Biologis
a. Untuk meneruskan keturunan
b. Memelihara dan membesarkan anak
c. Memenuhi kebutuhan gizi keluarga
d. Memelihara dan merawat anggota keluarga
2. Fungsi Psikologis
a. Memberikan kasih sayang dan rasa aman
b. Memberikan perhatian diantara anggota keluarga
c. Membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga
d. Memberikan identitas keluarga
3. Fungsi Sosialisasi
a. Membina sosialisasi pada anak
b. Membina norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkah perkembangan anak
c. Meneruskan nilai nilai keluarga
4. Fungsi Ekonomi
a. Mencari sumber sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga
b. Pengaturan dan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan
keluarga
c. Menabung untuk memenuhi kebutuhan keluarga di masa yang akan datang, Misalnya:
Pendidikan anak , jaminan hari tua.
5. Fungsi Pendidikan
a. Menyekolahkan anak untuk memberikan pengetahuan, ketrampilan dan membentuk
prilaku anak sesuai dengan bakat dan minat yang dimiliki.
b. Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan datang dalam memenuhi
perannya sebagai orang dewasa.
c. Mendidik anak sesuai dengan tingkat-tingkat perkembangannya.
2 | Skenario 2 KEDKEL - R.A. Wita Ferani Kartika - 1102009229

Fungsi keluarga menurut Friedman (1998)


1. Fungsi Affective
a. Menciptakan lingkungan yang menyenangkan dan sehat secara mental saling
mengasuh, menghargai, terikat, dan berhubungan.
b. Mengenal identitas individu
c. Rasa aman
2. Fungsi Sosialisasi Peran
a. Proses perubahan dan perkembangan individu untuk menghasilkan interaksi sosial
dan belajar berperan,
b. Fungsi dan peran di masyarakat
c. Sasaran untuk kontak sosial di dalam atau di luar rumah
3. Fungsi Reproduksi
Menjamin kelangsungan generasi dan kelangsungan hidup masyarakat
4. Fungsi ekonomi
a. Memenuhi kebutuhan tiap anggota keluarga
b. Menambah penghasilan keluarga sampai dengan pengalokasian dana
c. Fungsi perawatan Kesehatan
d. Konsep sehat sakit keluarga
e. Pengetahuan dan keyakinan tentang sakit tujuan kesehatan keluarga keluarga
mandiri.
II. Memahami dan menjelaskan Genogram
Definisi genogram adalah suatu alat bantu berupa peta skema (visual map) dari silsilah
keluarga pasien yang berguna bagi pemberi layanan kesehatan untuk segera mendapatkan
informasi tentang nama anggota keluarga pasien, kualitas hubungan antar anggota keluarga.
Genogram adalah biopsikososial pohon keluarga, yang mencatat tentang siklus kehidupan
keluarga, riwayat sakit di dalam keluarga serta hubungan antar anggota keluarga.
Di dalam genogram berisi : nama, umur, status menikah, riwayat perkawinan, anak-anak,
keluarga satu rumah, penyakit-penyakit spesifik, tahun meninggal, dan pekerjaan. Juga
terdapat informasi tentang hubungan emosional, jarak atau konflik antar anggota keluarga,
hubungan penting dengan profesional yang lain serta informasi-informasi lain yang
relevan. Dengan genogram dapat digunakan juga untuk menyaring kemungkinan adanya
kekerasan (abuse) di dalam keluarga.
Genogram idealnya diisi sejak kunjungan pertama anggota keluarga, dan selalu
dilengkapi (update) setiap ada informasi baru tentang anggota keluarga pada kunjungankunjungan selanjutnya. Dalam teori sistem keluarga dinyatakan bahwa keluarga sebagai
sistem yang saling berinteraksi dalam suatu unit emosional. Setiap kejadian emosional
keluarga dapat mempengaruhi atau melibatkan sediktnya generasi keluarga. Sehingga
idealnya, genogram dibuat minimal untuk 3 generasi.
Dengan demikian, genogram dapat membantu dokter untuk :
1. Mendapat informasi dengan cepat tentang data yang terintegrasi antara kesehatan fisik
dan mental di dalam keluarga
2. Pola multigenerasi dari penyakit dan disfungsi
Fungsi Genogram
1. Bagaimana proses traingulasi terjadi dalam keluarga; mencari dimana komunikasi
mengalami masalah.
2. Memahami label/julukan apa saja yang pernah diungkapkan orangtua dan cukup
membentuk karakter diri kita sendiri.

3 | Skenario 2 KEDKEL - R.A. Wita Ferani Kartika - 1102009229

3. Memahami ikatan ganda yang pernah dilakukan orangtua yang mungkin membuat diri
sendiri tidak bisa mandiri melainkan takut berdiri sendiri tanpa bantaun (dukungan)
orangtua
Simbol-simbol yang digunakan dalam GENOGRAM

Bentuk-bentuk hubungan
4 | Skenario 2 KEDKEL - R.A. Wita Ferani Kartika - 1102009229

(Sloane PD dkk, 2002; McDaniel dkk. 2005. Gan LG dkk, 2004)


III.Memahami dan menjelaskan bentuk-bentuk keluarga
3.1. Bentuk keluarga traditional
1. Nuclear Family atau keluarga inti
Ayah, ibu, anak tinggal dalam satu rumah ditetapkan oleh sanksi-sanksi legal dalam suatu
ikatan perkawinan, satu atau keduanya dapat bekerja diluar rumah.
2. Reconstituted Nuclear
Pembentukan baru dari keluarga inti melalui perkawinan kembali suami atau istri. Tinggal
dalam satu rumah dengan anak-anaknya baik itu bawaan dari perkawinan lama maupun
hasil dari perkawinan baru.
3. Niddle Age atau Aging Couple
Suami sebagai pencari uang, istri di rumah atau kedua-duanya bekerja di rumah, anakanak sudah meninggalkan rumah karena sekolah atau perkawinan / meniti karier.
4. Keluarga Dyad / Dyadie Nuclear
Suami istri tanpa anak.
5. Single parent
Satu orang tua ( ayah atau ibu) dengan anak.
6. Dual carier
Suami istri / keluarga orang carier dan tanpa anak
7. Commuter Maried
Suami istri / keduanya orang karier dan tinggal terpisah pada jarak tertentu, keduanya
saling mencari pada waktu-waktu tertentu.
8. Single Adult
Orang dewasa hidup sendiri dan tidak ada keinganannya untuk kawin.
9. Extended Family
1,2,3 generasi bersama dalam satu rumah tangga
10. Keluarga Usila
Usila dengan atau tanpa pasangan , anak sudah pisah.
3.2. Bentuk keluarga non traditional
1. Commune Family
Beberapa keluarga hidup bersama dalam satu rumah, sumber yang sama, pengalaman
yang sama.
2. Cohibing Couple
5 | Skenario 2 KEDKEL - R.A. Wita Ferani Kartika - 1102009229

Dua orang / satu pasangan yang tinggal bersama tanpa kawin


3. Homosexual / Lesbi
Sama jenis hidup bersama sebagai suami istri.
4. Institusional
Anak-anak / orang orang dewasa tinggal dalam suatu panti-panti.
5. Keluarga orang tua (pasangan)yang tidak kawin dengan anak.
IV. Memahami dan menjelaskan faktor-faktor timbulnya penyakit dalam keluarga
Suatu penyakit timbul akibat dari beroperasinya berbagai faktor baik dari agen, induk semang
atau lingkungan. Pendapat ini tergambar di dalam istilah yang di kenal luas dewasa ini, yaitu
penyebab majemuk (multiple causation of disease) sebagai lawan penyebab tunggal (single
causation). Di dalam usaha ahli untuk mengumpulkan pengetahuan mengenai timbulnya
penyakit, mereka telah membuat model-model timbulnya penyakit dan atas dasar modelmodel tersebut di lakukan eksperimen terkendali untuk menguji sampai di mana kebenaran
dari mode-model tersebut.
Tiga model yang dikenal dewasa ini adalah
1. Segitiga epidemologi (the epidemologi triangle)

2. Jaringan-jaringan sebab akibat (the web of causation)

Menurut model ini perubahan dari salah satu faktor akan mengubah keseimbangan antara
mereka, yang berakibat bertambah atau berkurangnya penyakit yang berkurang.
Menurut model ini, suatu penyakit tidak bergantung pada satu sebab yang berdiri sendiri
melainkan sebagai akibat dari serangkaian proses sebab dan akibat. Dengan demikian
6 | Skenario 2 KEDKEL - R.A. Wita Ferani Kartika - 1102009229

maka timbulnya penyakit dapat dicegah atau dihentikan dengan memotong rantai pada
berbagai titik.
3. Roda (the wheel)

Seperti halnya dengan model jaringan-jaringan sebab akibat, model roda memerlukan
identifikasi dari berbagai beberapa faktor yang berperan dalam timbulnya penyakit
dengan tidak begitu menekankan pentingnya agent. Di sini di pentingkan hubungan antar
manusia dengan lingkungan hidupnya. Besarnya peranan dari masing-masing lingkungan
bergantung pada penyakit yang bersangkutan. Sebagai contoh, peranan lingkungan social
lebih besar dari yang lainnya pada stress mental, peranan lingkungan pisik lebih besar
dari yang lainnya pada sunburn peranan lingkungan biologis lebih besar dari yang
lainnya pada penyakit yang menularkannya melalui vector (vector home disease) dan
peranan inti genetic lebih besar dari yang lainnya pada penyakit keturunan.
Dengan model-model tersebut di atas hendaknya ditunjukkan bahwa pengetahuan yang
lengkap mengenai mekanisme-mekanisme terjadinya penyakit tidaklah diperlukan bagi
usaha-usaha pemberantasan yang efektif. Oleh karena banyaknya interaksi-interaksi ekolaogi
maka seringkali kita dapat mengubah penyebaran penyakit dengan mengubah aspek-aspek
tertentu dari interaksi manusia dengan lingkungan hidupnya, tanpa intervensi lagsung pada
penyebab penyakit.
Penyakit Menular
Penyakit menular adala penyakit yang dapat di tularkan (berpindah dari orang satu ke orang
yang lain, baik secara langsung maupun melalui perantara).
Penyakit menular adalah penyakit yang berpindah dari pejamu dengan cara kontak langsung
ataupun tak lansung melalui pakaian, kloset, tempat duduk, handuk alas kasur dan
sebagainya.
Penyakit menular ini ditandai dengan adanya (hadirnya) agent atau penyebab penyakit yang
hidup dan dapat berpindah.
Suatu penyakit dapat menular dari oareang yang stu kepada yang lain karena 3 faktor yaitu:
Agent (penyebab penyakit)
Host (induk semang)
Route of transmission (jalannya penularan)
Keadaan tersebut dapat dianalogikan seperti perkembangan suatu tanaman. Agent
diumpamakan sebagai biji, host sebagai tanah, dan raute of transmission sebagai iklim.
a. Agen-agen infeksi (penyebab infeksi)
Mahluk hidup sebagai pemegang peranan penting di dalam epidemologi yang merupakan
penyebab penyakit dapat dikelompokkan menjadi:
Golongan virus, misalnya influenza, trachoma, cacar dan sebagainya.
7 | Skenario 2 KEDKEL - R.A. Wita Ferani Kartika - 1102009229

Golongan riketsia, misalnya: tifus.


Golongan bakteri, misalnya: disentri.
Golongan protozoa, misalnya nalaria, filarial, schistosoma, dan sebagainya.
Golongan jamur yakni bermacam-macam panu, kurap, dan sebagainya
Golongan cacing, yakni bermacam-macam cacing perit seperti ascaris (cacing
gelang), cacing kremi, cacing pita, cacing tambang, dan sebagainya.
Agar agent atau penyebab penyakit menular tetap hidup (servive), maka perlu
persyaratan-persyaratan sebagai berikut:
1) Berkembang baik.
2) Begerak atau berpindah dari induk semang.
3) Mencapai induk semang baru.
4) Menginfeksi induk semang baru tersebut.
Kemampuan agent penyakit ini untuk tetap hidup pada lingkungan manusia adalah suatu
faktor penting dalam epidemologi infeksi. Setiap bibit penyakit (penyebab penyakit)
mempunyai habitat sendiri-sendiri, sehingga ia dapat tetap hidup. Dari sini timbul istilah
reservoir, yang diartikan
1) Habitat, tempat bibit penyakit tersebut hidup dan berkembang
2) Servisal, tempat bibit penyakit tersebut sangat tergantung pada habitat, sehingga ia
dapat tetap hidup.
3) Reservoir tersebut dapat berupa manusia, binatang atau benda-benda mati.
b. Sumber infeksi dan penyebab penyakit
Yang dimaksud sumber infeksi adalah semua benda, termasuk orang atau binatang yang
dapat melewatkan/menyebabkan penyakit pada orang. Sumber penyakit ini mencakup
juga reservoir seperti telah dijelaskan sebelumnya.
Macam-macam penularan (mode of transmission):
Mode penularan adalah suatu mekanisme dimana agent/penyebab penyakit tersebut
ditularkan dari orang ke orang lain, atau dari reservoir kepada induk semang baru.
Penularan ini melalui berbagai cara antara lain :
Kontak (contact)
Kontak disini dapat terjadi kontak langsung maupun kontak tidak langsung melalui
benda-benda yang terkontaminasi. Penyakit-penyakit yang ditularkan melalui kontak
langsung ini pada umumnya terjadi pada masyarakat yang hidup berjubel. Pleh karena
itu, lebih cenderung terjadi di kota daripada di desa yang penduduknya masih jarang.
Pernapasan (inhalation)
Yaitu penularan melalui udara/pernapasan. Oleh karena itu, ventilasi rumah yang
kurang, berjejalan (over crowding), dan tempat-tempat umum adalah faktor yang
sangat penting dalam epidemiologi penyakit ini. Penyakit yang ditularkan melalui
udara ini sering disebut air birne infection (penyakit yang ditularkan melalui udara)
Infeksi
Penularan melalui tangan, makanan atau minuman.
Penetrasi pada kulit
Hal ini dapat langsung oleh organisme itu sendiri. Penetrasi pada kulit misalnya
cacing tambang, melalui gigitan vector misalnya malaria atau melalui luka, misalnya
tetanus.
Infeksi melalui placenta
Yakni infeksi yang diperoleh melalui placenta dari ibu penderita penyakit pada waktu
mengandung, misalnya sifilis dan toxoplasmosis.
c. Faktor induk semang (host)
8 | Skenario 2 KEDKEL - R.A. Wita Ferani Kartika - 1102009229

Terjadinya suatu penyakit (infeksi) pada seseorang ditentukan oleh faktor-faktor yang ada
pada induk semang itu sendiri. Dengan kata lain penyakit-penyakit dapat terjadi pada
seseorang tergantung/ditentukan oleh kekebalan/resistensi orang yang bersangkutan.
Penyebab Terjadinya Penyakit
Terjadinya penyakit adalah akibat interaksi antar faktor: agen (penyebab penyakit), pejamu
(host) dan lingkungan (environment). Agen menyerang pejamu, terutama yang rentan. Maka
pada fase prepatogenesis, pejamu akan mengeluh gejala permulaaan penyakit bersangkutan.
Pada fase berikutnya, apabila pembentukan zat anti penjamu ternyata belum mampu melawan
serangan agen tersebut, maka dalam jangaka tertentu penjamu akan mengalami penyakit yang
lebih berat akibat kerusakan jaringan tubuh. Fase terakhir disebut fase patogen. Pada fase ini
ditemukan tanda-tanda klinis disamping gejala lainnya, misalnya kuman penyebab dalam
darah, kemih, dan sebagainya. Tanda tersebut dinyatakan dalam pemeriksaan tambahan
disamping dalam pemeriksaan rutin lainnya. Yang dimaksud dengan pemeriksaan tambahan
misalnya, pemeriksaan radiografi, serta pemeriksaan laboratorium lainnya.
Penyakit menular (contagious disease) adalah penyakit infeksi yang berpindah dari suatu
pejamu kepada pejamu lainnya, secara kontak langsung maupun tak langsung. Biasanya jenis
penyakit ini merupoakan penyakit kulit (varoila, infeksi bernanan dan sebagainya), penyakit
kelamin (gonore, sifilis dan sebagainya) yang termasuk penyakit menukar. Bila seorang
terkena penyakit dalam suatu wilayah hokum kesehatan, dapat kasus tersebut dilaporkan
berasal dari wilayah lainnya, penguasa kesehatan setempat berkuajiban mencatat laporan
tersebut, terutama bila penyakit tersebut di anggap memperlukan pemeriksaan material/bahan
yang ada hubungannya dengan penyakit tersebut. Beberapa penyakit tertentu memperlukan
laporan rutin berupa catatan kusus, yaitu penyakit epidemic dan wabah.
V. Memahami dan menjelaskan hak dan kewajiban pasien sakit terhadap keluarganya
serta hak dan kewajiban keluarga pasien terhadap anggota keluarganya yang sakit
Bagi Penderita
Wajib bersabar dan ikhlas terhadap cobaan (sakit) yang menimpanya, sedang bersabar
(dari cobaan itu) akan diberi pahala dan mendapatkan kebaikan di sisi Allah
Islam
memerintahkan
agar
berobat
pada
saat
ditimpa
penyakit.
Berobatlah, karena tiada satu penyakit yang diturunkan Allah, kecuali diturunkan pula
obat penangkalnya, selain dari satu penyakit, yaitu ketuaan (HR Abu Daud dan AtTirmidzi dari sahabat Nabi Usamah bin Syuraik).
Sesungungnya Allah tidak menurunkan penyakit melainkan menurunkan obatnya. Maka
jika didapatkan obat maka sembuhlah ia dengan izin Allah.
Bagi Keluarga, Kerabat, dan Orang lain
o Disyariatkan menjenguk setiap orang sakit
Diriwayatkan di dalam hadits sahih muttafaq 'alaih dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi
saw. Bersabda :
"Hak orang muslim atas orang muslim lainnya ada lima: menjawab salam, menjenguk
yang sakit, mengantarkan jenazahnya, mendatangi undangannya, dan mendoakannya
ketika bersin."
o Mendoakannya dengan ikhlas.
o Menimbulkan optimisme kepada si sakit.
o Menganjurkannya berlaku sabar, karena sabar itu besar pahalanya, dan melarangnya
berkeluh kesah, karena berkeluh-kesah itu dosa.
o Mendoakan si sakit
o Kesabaran bagi keluarga si sakit.
9 | Skenario 2 KEDKEL - R.A. Wita Ferani Kartika - 1102009229

Kesabaran keluarga dan kerabatnya dalam merawat dan mengusahakan


kesembuhannya tidak kalah besar pahalanya. Diantara orang yang paling wajib
bersabar apabila keluarganya ditimpa sakit ialah suami atas istrinya, atau istri atas
suaminya.
Yang lebih wajib lagi ialah kesabaran anak laki-laki terhadap penyakit kedua orang
tuanya. Sebab hak mereka adalah sesudah hak Allah Ta'ala, dan berbuat kebajikan
atau berbakti kepada mereka termasuk pokok keutamaan yang diajarkan oleh seluruh
risalah Ilahi. Karena itu Allah menyifati Nabi Yahya a.s. dengan firman-Nya :
"Dan banyak berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang
sombong lagi durhaka." (Maryam : 14)
Demikian juga dengan anak perempuan, bahkan dia lebih berhak memelihara dan
merawat kedua orang tuanya, dan lebih mampu melaksanakannya karena Allah telah
mengaruniainya rasa kasih dan sayang yang melimpah, yang tidak dapat ditandingi
oleh anak laki-laki.
Di dalam merawat orang sakit, orang yang mendampingi sedikit banyak harus
tahu :
- apa kebutuhannya, obat-obatannya, makanannya, dan sebagainya.
- Usahakanlah untuk terus berkomunikasi dengan orang sakit.
- Untuk bisa menumbuhkan kasih dalam merawat orang sakit, kita harus merawat
bukan sekedar melakukan tugas. Jadi dalam merawat itu harus ada kasih.
- Baik orang yang merawat maupun yang dirawat harus mempersiapkan hati
menghadapi apa yang akan terjadi di kemudian hari.
Diantara orang yang paling wajib bersabar apabila keluarganya ditimpa sakit ialah
suami atas istrinya, atau istri atas suaminya. Karena pada hakikatnya kehidupan
adalah bunga dan duri, hembusan angin sepoi dan angin panas, kelezatan dan
penderitaan, sehat dan sakit, perputaran dari satu kondisi ke kondisi lain. Oleh sebab
itu, janganlah orang yang beragama dan berakhlak hanya mau menikmati istrinya
ketika ia sehat tetapi merasa jenuh ketika ia menderita sakit. Ia hanya mau memakan
dagingnya untuk membuang tulangnya, menghisap sarinya ketika masih muda lalu
membuang kulitnya ketika lemah dan layu. Sikap seperti ini bukan sikap setia
tidak termasuk mempergauli istri dengan baik, bukan akhlak lelaki yang
bertanggung jawab, dan bukan perangai orang beriman.
Kondisi khusus atau pencapaian usia tertentu yang mengharuskan bakti dan perbuatan
baik seorang anak kepada orang tuanya semakin kokoh. Yaitu, ketika keduanya
telah lanjut usia, dan pada saat-saat seusia itu mereka amat sensitif terhadap setiap
perkataan yang keluar dari anak-anak mereka, yang sering rasakan sebagai
bentakan atau hardikan terhadap keberadaan mereka. Kata-kata yang mempunyai
konotasi buruk inilah yang dilarang dengan tegas oleh Al-Qur~an:
Selain itu, tanggung jawab keluarga terhadap si sakit bertambah berat apabila
ia tidak punya atau kehilangan kelayakan untuk berbuat sesuatu, misalnya anak
kecil apalagi belum sampai mumayiz-- atau seperti orang gila, yang masingmasing membutuhkan perawatan ekstra dan penanganan yang serius. Karena orang
yang mumayiz dan berpikiran normal dapat meminta apa saja yang ia inginkan
dapat menjelaskan apa yang ia butuhkan, dapat minta disegerakan kebutuhannya
bila terlambat, dan dapat memuaskan orang yang mengobati atau merawatnya.
(Qardhawi Y. 2012)
DAFTAR PUSTAKA

10 | Skenario 2 KEDKEL - R.A. Wita Ferani Kartika - 1102009229

Azwar A, 1995. Program Menjaga Mutu Pelayanan Kesehatan, Yayasan Penerbitan IDI,
Jakarta
Azwar A, Justam J dan Bustami Z S. 1983. Bunga rampai dokter keluarga, Kelompok Studi
Dokter Keluarga, Jakarta
Friedman, M.M. 1998. Family nursing 4th Ed. Stanford, Connecticut: Appleton & Lange.
Gan, L.G., Azwar, A., Wonodirekso, S. (Eds.) A primer on Family Medicine Practice.
Singapore: 2004
McDaniel, S., Campbell, T.L., Hepworth, J., & Lorenz, A. 2005. Family - Oriented Primary
Care 2nd Ed. New York: Springer. p.42
Qardhawi Y. 2012. Fatwa-fatwa Kontemporer. Jakarta: Gema Insani Press
Sloane, P.D., Slatt, L.M., Ebell, M.H., & Jacques, L.B. 2002. Essential ofFamily Medicine
4th Ed. Baltimore: Lippincott Williams & Wilkins. p.24
Usman H. 1998. Pengenalan epidemiologi, Jakarta

11 | Skenario 2 KEDKEL - R.A. Wita Ferani Kartika - 1102009229