Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Imunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan atau meningkatkan kekebalan
seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit. Imunisasi ini merupakan upaya
pencegahan primer yang diberikan sesuai dengan profil epidemiologis di Indonesia.
Imunisasi terdiri dari dua yaitu pasif dan aktif. Imunisasi pasif adalah pemberian atau
transfer antibodi ke dalam tubuh tanpa usaha tubuh untuk memproduksi antibodi tersebut.
Salah satu contoh imunisasi secara pasif adalah transfer antibodi dari ibu ke janin lewat
plasenta. Imunisasi aktif pula merupakan hasil dari reaksi imun tubuh terhadap suatu
antigen sehingga memproduksi antibodi terhadap antigen tersebut.1-3
Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 42 tahun
2013 tentang penyelenggaraan imunisasi, imunisasi dibedakan menjadi dua yaitu
imunisasi wajib dan pilihan. Imunisasi wajib terdiri atas: imunisasi rutin yaitu yang
dilakukan terus-menerus sesuai jadwal imunisasi, imunisasi tambahan yaitu yang
diberikan pada kelompok umur tertentu yang berisiko tinggi terinfeksi sesuai dengan
epidemiologi dan imunisasi khusus yaitu yang diberikan pada kondisi tertentu seperti
calon jemaah haji.Imunisasi rutin dibagi lagi menjadi imunisasi dasar dan lanjutan.
Imunisasi dasar merupakan vaksinasi yang diberikan pada bayi sebelum usia 1 tahun. 3
Adapun capaian indikator ini di Indonesia pada tahun 2014 sebesar 86.9%. Angka ini
belum mencapai target Renstra pada tahun 2014 yang sebesar 90%. Sedangkan menurut
provinsi, terdapat Sembilan provinsi 27.27% yang mencapai target Renstra tahun 2014.
Indikator lain yang diukur untuk menilai keberhasilan imunisasi yaitu Universal Child
Immunization(UCI) di desa/kelurahan. Dimana target Renstra Kementerian Kesehatan
untuk cakupan desa/kelurahan UCI pada tahun 2014 sebesar 100%. Sedangkan pada
tahun 2014 cakupan desa/kelurahan UCI sebesar 81.82% yang berarti belum mencapai
target yang telah ditetapkan.4
Sementara, berat badan lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 jam setelah
lahir, dimana Bayi baru lahir normal adalah bayi baru lahir dari kehamilan yang aterm
(37-42 minggu) dengan berat badan lahir 2500-4000 gram. Berat badan lahir merupakan

hasil interaksi dari berbagai faktor melalui suatu proses yang berlangsung selama berada
dalam kandungan. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi berat bayi lahir yaitu Faktor
lingkungan internal ( umur ibu, jarak kelahiran, paritas, kadar hemoglobin, status gizi ibu
hamil, pemeriksaan kehamilan, dan penyakit pada saat kehamilan),faktor lingkungan
eksternal(kondisi lingkungan, asupan zat gizi dan tingkat sosial ekonomi ibu hamil), dan
faktor penggunaan sarana kesehatan yang berhubungan frekuensi pemeriksaan kehamilan
atau antenatal care(ANC). Pada penelitin ditemukan Hasil Riskesdas tahun 2013
menyatakan bahwa presentase balita (0-59 bulan) dengan BBLR sebesar 10,2%.
Presentase BBLR tertinggi terdapat pada provinsi Sulawesi Tengah dengan 16.8% dan
terendah di Sumatera Utara dengan 7.2%.5-8
Oleh sebab itu Penelitian ini akan dilakukan diwilayah kerja Puskesmas kelurahan
Tanjung Duren Utara, kecamatan Grogol Petamburan untuk mengetahui hubungan antara
berat badan lahir dan faktor- faktor resiko lainnya dengan ketepatan imunisasi dasar pada
anak usia 1-2 tahun.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Indikator pemberian imunisasi dasar pada tahun 2014 sebesar 86,9% angka ini
belum mencapai target Renstra pada tahun 2014 sebesar 90%.
1.2.2 Menurut Riskesdas masih terdapat beberapa provinsi di Indonesia yang belum
mencapai target pemberian imunisasi dasar yaitu Papua Barat 44,95%, Papua 47,95%,
Dan Kalimantan Tengah sebesar 57,01% yang mencapai capaian terendah.
1.2.3 Indikator lain dari UCI pada tahun 2014 diharapakan dapat mencapai 100%,namun
cakupan desa/kelurahan sebesar UCI sebesar 81,82%.
1.2.4 Menurut Riskesdas tahun 2013 bahwa presentasi BBLR tertinggi terdapat pada
provinsi Sulawesi Tengah dengan 16,8% dan terendah pada provinsi Sumatera Utara
dengan 7,2%.
1.2.5 Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi BBL dan ketepatan imunisasi dasar
antara lain usia ibu,pengetahuan ibu,pendidikan ibu,pekerjaan ibu dan antenatal care ibu.

1.3 Hipotesis
Tidak ada hubungan antara berat badan lahir dan faktor lain yang mempengaruhi
ketepatan imunisasi dasar pada usia 1-2 tahun di Puskesmas Tanjung Duren Utara.
1.4 Tujuan Penelitian
1.4.1 Tujuan Umum
Diketahuinya hubungan antara berat badan lahir dan faktor lain yang mempengaruhi
ketepatan imunisasi dasar pada usia 1-2 tahun di Puskesmas Tanjung Duren Utara pada
bulan Mei 2016.
1.4.2 Tujuan Khusus
1.4.2.1 Diketahuinya hubungan antara berat badan lahir dengan ketepatan imunisasi
dasar pada anak usia 1-2 tahun di Puskesmas Tanjung Duren Utara pada bulan Mei 2016.
1.4.2.2 Diketahuinya hubungan antara usia ibu, pengetahuan ibu, pendidikan ibu,
pekerjaan dan antenatal care pada berat badan lahir di Puskesmas Tanjung Duren Utara
pada bulan Mei 2016.
1.4.2.3 Diketahuinya hubungan antara usia ibu, pengetahuan ibu, pendidikan
ibu,pekerjaan dan antenatal care dengan ketepatan imunisasi di Puskesmas Tanjung
Duren Utara pada bulan Mei 2016.
1.4.2.4 Diketahuinya ketepatan imunisasi dasar anak 1-2 tahun di Puskesmas Tanjung
Duren Utara pada bulan Mei 2016.
1.4.2.5 diketahui jumlah bayi dengan berat badan lahir tidak normal di Puskesmas
Tanjung Duren Utara pada bulan Mei 2016.
1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1

Bagi Peneliti
1.5.1.1 Menerapkan ilmu yang telah didapat di bangku kuliah untuk
merumuskan dan memecahkan masalah yang ada di masyarakat.
1.5.1.2 Diharapkan penelitian ini akan memberikan wawasan dan
pengetahuan baru tentang hubungan antara usia ibu, pengetahuan
ibu, pendidikan ibu, pekerjaan dan antenatal care pada berat badan
lahir dan ketepatan imunisasi dasar di Puskesmas Tanjung Duren

Utara pada bulan Mei 2016


1.5.1.3 Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan
informasi dan pengetahuan bagi peneliti selanjutnya.
1.5.1.4 Mengembangkan daya nalar, minat, dan kemampuan dalam bidang
penelitian.
1.5.1.5 Meningkatkan kemampuan berpikir analitis dan sistematis dalam
mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah kesehatan.
1.5.1.6 Meningkatkan kemampuan berkomunikasi langsung

dengan

masyarakat.
1.5.2

Bagi Perguruan Tinggi


1.5.2.1 Mewujudkan Universitas Kristen Krida Wacana sebagai universitas
riset dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan dan
meningkatkan

peran

pendidikan

dalam

menyampaikan

pengetahuan.
1.5.2.2 Merupakan salah satu perwujudan Tri Dharma Perguruan Tinggi
dalam melaksanakan fungsi atau tugas perguruan tinggi sebagai
lembaga yang menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan
pengertian bagi masyarakat.
1.5.2.3 Sebagai masukan dan acuan untuk penelitian-penelitian berikutnya
dan diharapkan dapat menjadi data dasar atau pembanding serta
masukan bagi peneliti yang lain berkaitan dengan hubungan berat
badan lahir dengan faktor lain yang mempengaruhi ketepatan
imunisasi dasar.
1.5.3

Bagi Puskesmas
1.5.3.1 Sebagai salah satu masukan sebagai bahan informasi bagi petugas
kesehatan khususnya dokter puskesmas dan perawat puskesmas.
1.5.3.2 Adanya dukungan pendidikan dan pengetahuan sehingga dapat
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat khususnya anak usia
1-2 tahun dengan ketepatan imunisasi dasar, khususnya di
Puskesmas Tanjung Duren Utara.
1.5.3.3 Hasil penelitian ini merupakan dasar bagi penelitian selanjutnya di
Puskesmas.

1.5.4

Bagi Masyarakat
1.5.4.1 Sebagai bahan pengetahuan

masyarakat

untuk mengetahui

hubungan berat badan lahir dengan ketepatan pemberian imunisasi


dasar.
1.5.4.2 Sebagai

informasi

untuk

masyarakat.

BAB II
Tinjauan Pustaka

meningkatkan

derajat

kesehatan

2.1 Imunisasi
Imunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan atau meningkatkan kekebalan
seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila suatu saat terpajan dengan
penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan.1
Imunisasi ini merupakan upaya pencegahan primer yang diberikan sesuai dengan
profil epidemiologis di Indonesia. Yang dimaksudkan dengan upaya pencegahan primer
adalah semua upaya untuk mengelak dari terkena penyakit atau suatu kejadian yang bisa
menyebabkan seseorang sakit, cedera atau cacat.2
Harus dibedakan antara istilah imunisasi dan vaksinasi. Imunisasi terdiri dari dua
yaitu pasif dan aktif. Imunisasi pasif adalah pemberian atau transfer antibodi ke dalam
tubuh tanpa usaha tubuh untuk memproduksi antibodi tersebut. Salah satu contoh
imunisasi secara pasif adalah transfer antibodi dari ibu ke janin lewat plasenta. Imunisasi
aktif pula merupakan hasil dari reaksi imun tubuh terhadap suatu antigen sehingga
memproduksi antibodi terhadap antigen tersebut. Antigen tersebut bisa masuk ke dalam
tubuh secara alami yaitu infeksi sehingga timbul penyakit, atau dengan cara yang didapat
yaitu vaksinasi. Vaksinasi dilakukan dengan cara memasukkan virus mati atau hidup ke
dalam tubuh, sehingga sistem imun tubuh bereaksi memproduksi antibodi terhadap virus
tersebut. Keuntungan dari imunisasi aktif adalah tahan lebih lama dibanding yang pasif.3
Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 42 tahun
2013 tentang penyelenggaraan imunisasi, imunisasi dibedakan menjadi dua yaitu
imunisasi wajib dan pilihan. Menurut peraturan ini, Pasal 3, imunisasi wajib sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) merupakan imunisasi yang diwajibkan oleh pemerintah untuk
seseorang sesuai dengan kebutuhannya dalam rangka melindungi yang bersangkutan dan
masyarakat sekitarnya dari penyakit menular tertentu. Imunisasi pilihan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) merupakan imunisasi yang dapat diberikan kepada seseorang
sesuai dengan kebutuhannya dalam rangka melindungi yang bersangkutan dari penyakit
menular tertentu.1
Imunisasi wajib terdiri atas: imunisasi rutin yaitu yang dilakukan terus-menerus
sesuai jadwal imunisasi, imunisasi tambahan yaitu yang diberikan pada kelompok umur

tertentu yang berisiko tinggi terinfeksi sesuai dengan epidemiologi dan imunisasi khusus
yaitu yang diberikan pada kondisi tertentu seperti calon jemaah haji.1,2
Imunisasi rutin dibagi lagi menjadi imunisasi dasar dan lanjutan. Imunisasi dasar
merupakan vaksinasi yang diberikan pada bayi sebelum usia 1 tahun. Vaksinasi yang
dimaksudnya adalah Bacillus Calmette Guerin(BCG), Diphtheria Pertusis Tetanus-Hepatitis B (DPT-HB) atau Diphtheria Pertusis Tetanus-Hepatitis B-Hemophilus
Influenza type B (DPT-HB-Hib), Hepatitis B pada bayi yang baru lahir, Polio dan
Campak.1,2
Imunisasi lanjutan merupakan imunisasi ulangan yang diberikan pada anak usia di
bawah tiga tahun, sekolah dasar dan wanita usia subur, dengan tujuan untuk
mempertahankan kekebalan tubuh dan memperpanjang waktu kekebalan. Selain itu,
terdapat imunisasi pilihan yaitu jenis vaksinansi yang bisa dipilih sendiri oleh orang tua
seperti Haemophillus Influenza tipe b, Pneumokokus, Rotavirus, Influenza Varisela,
Measles Mumps Rubella, Demam Tifoid, Hepatitis A, Human Papilloma Virus (HPV)
dan Japanese Encephalitis.1

Gambar 1. Jadwal Imunisasi Anak 20149

Tabel 1. Jadwal Imunisasi Dasar1


Umur
0 bulan

Jenis
Hepatitis BO

1 bulan
2 bulan
3 bulan
4 bulan
9 bulan

BCG, Polio 1
DPT-HB-Hib 1, Polio 2
DPT-HB-Hib 2, Polio 3
DPT-HB-Hib 3, Polio 4
Campak

Tabel 2. Jadwal Imunisasi Lanjutan pada Anak Bawah Tiga Tahun1


Usia
18 bulan
24 bulan

Jenis
DPT-HB-Hib
Campak

2.1.1 Program Imunisasi5


Di Indonesia program imunisasi telah dimulai sejak abad ke 19 untuk membasmi
penyakit cacar di Pulau Jawa. Pada tahun 1977 sampai dengan tahun 1980 mulai
diperkenalkan imunisasi BCG, DPT dan TT secara berturut-turut untuk memberikan
kekebalan terhadap penyakit TBC anak difteri pertussis dan tetanus neonatorum. Tahun
1981 dan 1982 berturut-turut mulai diperkenalkan antigen polio dan campak yang
dimulai di 55 buah kecamatan dan dikenal sebagai kecamatan pengembangan program
imunisasi. Pada tahun 1984, cakupan imunisasi di Indonesia secara nasional baru
mencapai 4. Pada tahun 1990 dibentuklah Universal Child Immunization (UCI).Dengan
harapan dapat meningkatkan imunisasi di Indonesia. Akhirnya lebih dari 80% bayi di
Indonesia mendapatkan imunisasi lengkap sebelum ulang tahun yang pertama.
Program imunisasi pada bayi mengharapkan agar setiap bayi mendapatkan
imunisasi dasar secara lengkap. Keberhasilan seorang bayi dalam mendapatkan imunisasi
dasar tersebut diukur mellaui indicator imunisasi dasar lengkap. Capaian indicator ini di
Indonesia pada tahun 2014 sebesar 86.9%. Angka ini belum mencapai target Renstra pada
tahun 2014 yang sebesar 90%. Sedangkan menurut provinsi, terdapat Sembilan provinsi
27.27% yang mencapai target Renstra tahun 2014.
Pada tahun 2014 terdapat lima provinsi yang memiliki capain sebesar 100% yang
berarti telah mencapai target Renstra tahun 2014, yaitu Lampung, Jambi, Kepulauan
Bangka Belitung, DI Yogyakarta, dan DKI Jakarta. Sedangkan Provinsi Papua memiliki
capaian terendah sebesar 13.66%, diikuti oleh Papua Barat sebesar 34.55%, dan
Kalimantan Tengah sebesesar 57.01%.

Gambar 2. Cakupan Imunisasi Dasar Lengkap pada Bayi Menurut Provinsi Tahun 20145
Dari gambar tersebut diketahui tiga provinsi dengan capaian imunisasi dasar lengkap
pada bayi yang tertinggi pada tahun 2014 yaitu Provinsi Kepulauan Riau, Lampung, dan
DKI Jakarta. Sedangkan tiga provinsi dengan capaian terendah yaitu Papua Barat sebesar
44.95% diikuti oleh Papua sebesar 47.95% dan Kalimantan Tengah sebesar 57.01%.
Indikator lain yang diukur untuk menilai keberhasilan imunisasi yaitu Universal
Child Immunization(UCI) desa/kelurahan. UCI desa/kelurahan adalah gambaran suatu
desa/kelurahan dimana >80% dari jumlah bayi(0-11 bulan) yang ada di desa/kelurahan
tersebut sudah mendapat imunisasi dasar lengkap. Target Renstra Kementerian Kesehatan
untuk cakupan desa/kelurahan UCI pada tahun 2014 sebesar 100%. Sedangkan pada
tahun 2014 cakupan desa/kelurahan UCI sebesar 81.82% yang berarti belum mencapai
target yang telah ditetapkan. Cakupan desa/kelurahan UCI menurut provinsi terdapat
pada gambar dibawah ini.

Gambar 3. Cakupan Desa/Kelurahan UCI menurut Provinsi Tahun 20145


2.1.2

Kontraindikasi imunisasi2,10

Tidak semua anak bisa diberikan imunisasi. Harus diperhatikan kontraindikasi yang
bisa ada pada anak sehingga imunisasi harus ditundah atas dasar ini. Disebabkan vaksin
yang sering dipakai adalah vaksin dengan virus atau bakteri yang hidup, maka semua
anak yang demam lebih dari 38C tidak bisa diberikan imunisasi. Selain itu, harus
diingatkan bahwa pemberian setiap vaksin yang sama harus diselang minimal 4 minggu.
Tabel 3. Kontraindikasi Pemberian Vaksin2,10
Vaksin
Hepatitis B

Kontraindikasi
Reaksi alergi berat (anafilaksis) setelah pemberian

(HepB)
Polio (IPV)

dosis sebelumnya.
Reaksi anafilaksis

terhadap

pemberian

dosis

sebelumnya.
Kehamilan.
Difteri, Tetanus, Pertusis

Sakit sedang atau berat dengan atau tanpa demam.


Reaksi anafilaksis terhadap pemberian dosis
sebelumnya.
Sakit sedang atau berat dengan atau tanpa demam.
Enselopati dalam 7 har pasca DTap/DTwP sebelumnya.
Perhatian khusus:

Demam>40,5 C, kolaps dan episode hipotonikhippresponsif dalam 48 jam pasca DTaP/DTwP tanpa
penyebab lain.
Kejang dalam 3 hari pasca DTaP/DTwP sebelumnya.
Menangis

terus>3

jam

dalam

48

jam

pasca

DTaP/DTwP sebelumnya
Sindroma Gullian-Barre dalam 6 minggu pasca
vaksinasi.
Haemophilus influenza type Reaksi
b (Hib)

anafilaksis

terhadap

pemberian

dosis

sebelumnya.
Usia kurang dari 6 minggu.
Sakit sedang atau berat dengan atau tanpa demam.

Selain dari kontraindikasi, harus di perhatikan juga hal yang bukan merupakan
kontraindikasi imunisasi. Antara nya adalah alergi atau asma yang bukan disebabkan oleh
vaksin, sakit ringan seperti infeksi saluran nafas dengan demam kurang dari 38C, dalam
pengobatan antibiotik dan pemberian air susu ibu(ASI).11
2.1.3

Kejadian ikutan pasca imunisasi2

Kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) adalah suatu kejadian medik yang
berhubungan dengan imunitas vaik berupa efek vaksin ataupun efek samping, toksisitas,
reaksi sensitivitas, efek farmakologis atau kesalahan program, koinsidensi, reaksi
suntikan, atau hubungan kausal yang tidak ditentukan. Namun, tidak semua KIPI itu
adalah benar dan tidak semua berhubungan dengan imunisasi. Pada tahun 1991, WHO
melalui Expanded Programme of Immunisation (EPI) telah menganjurkan setiap KIPI di
tiap negara harus dilaporkan.
KIPI dapat diketahui setelah dilakukan penilitian efikasi dan keamanan vaksin
melalui uji klinis yaitu fase 1, 2, 3 dan 4. Pada fase 1, uji klinis dilakukan pada binatang
percobaan, fase 2 dilakukan untuk tujuan mengetahui keamanan vaksin (reactogenecity
and safety), fase 3 dikenal juga sebagai uji efektivitas (imunnogenity) vaksin dan fase 4
dilakukan pada manusia. Sampel yang besar dibutuhkan untuk menilai KIPI pada fase 4

dan cara ini dikenal sebagai post marketing surveilance (PMS). PMS bertujuan untuk
mengetahui dan memonitor tingkat keamanan vaksin setelah dilakukan pada sampel yang
besar atau dalam arti lain, pemakaian yang luas seperti program imunisasi. Melalui PMS,
KIPI bisa diketahui dari laporan yang didapat saat PMS.
Terdapat lima penyebab KIPI yaitu kesalahan program, reaksi suntikan, reaksi
vaksin, koinsiden dan penyebab yang tidak diketahui.
2.1.3.1 Kesalahan program
Kesalahan dari program imunisasi adalah penyimpanan vaksin, pengelolahan vaksin
dan tatalaksana pemberian vaksin. Contoh dari kesalahan program adalah pemberian
dosis antigen yang terlalu banyak, lokasi dan cara menyuntik yang salah, alat dan jarum
suntik tidak steril seperti penggunaan jarum bekas, tindakan aseptik dan antiseptik yang
tidak benar, dan kontaminasi vaksin dan peralatan suntik, penyimpanan vaksin yang
salah, pemakaian sisa vaksin, jenis dan jumlah vaksin yang tidak sesuai, dan petugas
program tidak membaca atau memperhatikan prosedur yang benar sebelum melakukan
imunisasi.2
2.1.3.2 Reaksi suntikan
Tindakan menyuntik di tubuh merupakan tindakan yang invasif dan bisa
menyebabkan trauma pada bagian yang ditusuk. Trauma tersebut bisa menimbulkan
reaksi seperti hematom maupun bengkak. Terdapat reaksi langsung dari suntikan pada
bagian yang ditusuk seperti nyeri, bengkak dan kemerahan. Reaksi tidak langsung yaitu
reaksi yang tidak mempunyai hubungan dengan kansungan vaksin tetapi timbul dari
individu yang disuntik seperti rasa takut, pusing, mual maupun sinkop.2,12
2.1.3.3 Induksi atau reaksi vaksin
Secara umumnya, KIPI yang disbabkan oleh induksi atau reaksi vaksin sudah
diprediksi terlebih dahulu sebelum gejala tersebut terjadi. Faktor intrinsik dari vaksin
akan berpengaruh ke individual resipien. Misalnya, seorang anak menderita poliomielitis
setelah mendapat vaksin polio oral. Gejala yang timbul bisa diprediksi karena adanya uji
klinis sebelum suatu vaksin bisa dipakai. Petunjuk yang memuatkan kontraindikasi dan
efek samping dari vaksin dapat dibaca di bagian luar tempat vaksin tersebut dan

seharusnya ditanggapi dengan baik oleh petugas imunisasi.2,12


Antara efek samping yang sering ditemukan karena induksi vaksin adalah reaksi
lokal seperti rasa nyeri, bengkak kemerahan di lokasi tubuh yang disuntik dan scar pada
suntikan Bacillus Calmatte Guerin(BCG) yang terjadi minimal 2 minggu setelah disuntik.
Selain itu, terdapat juga reaksi sistemik seperti demam, iritabel, malaise, diare dan nyeri
otot. Pada reaksi vaksin berat, bisa terdapat kejang, trombositopenia, hypotonic
hyporesponsive episode(HHE), persistet inconsolable screaming yang bersifat selflimiting, anafilaksis dan enselopati.2
2.1.3.4 Faktor kebetulan
Berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia, koinsiden berarti terjadi dalam waktu
yang sama.13 Secara kebetulan atau koinsiden, kejadian tersebut timbul setelah pemberian
imunisasi. KIPI terjadi bersamaan dengan gejala penyakit lain yang sedang diderita,
contohnya, bayi yang menderita penyakit jantung bawaan mendadak sianosis setelah
diimunisasi.2
2.1.3.5 Penyebab tidak diketahui
Semua gejala KIPI yang timbul namun tidak bisa dimasukkan ke dalam empat
kategori yang lain. Pada negara berkembang hal yang paling penting adalah cara untuk
mengontrol vaksin dan menurunkan angka kesalahan program. Selain itu, turut ditekan
bahwa harus sentiasa diupayakan peningkata ketelitian pemberian imunisasi selama
program imunisasi berjalan agar angka KIPI bisa menurun.2

2.1.4

Cara pencegahan KIPI2

Cara pencegahan KIPI tergantung dengan kelompok penyebabnya. Pada kelompok


kesalahan program, yang harus dilakukan sebagai tindakan pencegahan adalah
memastikan alat suntik steril setiap suntikan, pelarut vaksin dengan jumlah yang benar
sudah disiapkan oleh produsen vaksin, membuang vaksin yang sudah dilarutkan selama 6
jam, pastikan lemari es hanya ada vaksin dan tidak ada obat yang lain, harus diberikan
pelatihan vaksin dan supervisi yang baik serta setiap kesalahan program harus lah dilacak

supaya tidak berulang kesalahan yang sama.


Selanjutnya, pada kelompok reaksi suntikan, program suntikan bisa dilakukan
ditempat yang tenang, memberi edukasi pada anak yang lebih besar agar tidak merasa
takut atau mengajak anak untuk bicara dengan tujuan mengalihkan perhatian anak
tersebut dan melakukan teknik penyuntikan yang benar.
Pencegahan agar reaksi vaksin tidak terjadi bisa adalah dengan memperhatikan
kontraindikasi vaksin, tidak memberikan vaksin hidup kepada anak dengan
imunodefisiensi, mengenal dan mampu menangani reaksi anafilaksis, memberikan obat
antipiretik setelah divaksin untuk menangani demam dan rasa nyeri serta mengedukasi
orang tua agar bisa menangani reaksi vaksin yang ringan.
Kelompok kebetulan tidak bisa dicegah karena terjadi tanpa bisa diprediksi.
2. 2 Pengertian berat badan lahir
Bayi baru lahir normal adalah bayi baru lahir dari kehamilan yang aterm (37-42
minggu) dengan berat badan lahir 2500-4000 gram. Berat lahir adalah berat bayi yang
ditimbang dalam 1 jam setelah lahir.5-8
2.3

Klasifikasi Bayi menurut Masa Gestasi dan Umur Kehamilan5-8


Klasifikasi bayi adalah bayi kurang bulan, bayi cukup bulan dan bayi lebih bulan.

Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam jangka waktu 1 jam pertama setelah
lahir. Klasifikasi menurut berat lahir adalah Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) yaitu berat
lahir < 2500 gram, bayi berat lahir normal dengan berat lahir 2500-4000 gram dan bayi
berat lahir lebih dengan berat badan > 4000 gram.
Klasifikasi bayi menurut umur kehamilan dibagi dalam 3 kelompok yaitu bayi
kurang bulan adalah bayi dengan masa kehamilan kurang dari 37 minggu (259 hari), bayi
cukup bulan adalah bayi dengan masa kehamilan dari 37 minggu sampai dengan 42
minggu (259 -293 hari), dan bayi lebih bulan adalah bayi dengan masa kehamilan mulai
42 minggu atau lebih. Dari pengertian di atas maka bayi dengan BBLR dapat dibagi
menjadi 2 golongan, yaitu :
1.

Bayi kurang bulan (Prematur Murni) yaitu bayi yang dilahirkan dengan umur

kehamilan kurang dari 37 minggu, dan mempunyai berat badan sesuai dengan berat
badan untuk masa kehamilan, atau biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai masa
kehamilan.
2.

Bayi kecil masa kehamilan (KMK) yaitu bayi yang dilahirkan dengan berat

badan lahir kurang dari presentil 10 kurva pertumbuhan janin. Sedangkan bayi dengan
berat lahir kurang dari 1500 gram disebut bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR). Bayi
berat lahir rendah merupakan masalah penting dalam pengelolaannya karena mempunyai
kecenderungan ke arah peningkatan terjadinya infeksi, kesukaran mengatur nafas tubuh
sehingga mudah untuk menderita hipotermia. Selain itu bayi dengan BBLR mudah
terserang komplikasi tertentu seperti ikterus, hipoglikemia yang dapat menyebabkan
kematian. Kelompok bayi berat lahir rendah yang dapat di istilahkan dengan kelompok
resiko tinggi, karena pada bayi berat lahir rendah menunjukan angka kematian dan
kesehatan yang lebih tinggi dengan berat bayi lahir cukup. WHO memperkirakan bahwa
prevalensi BBLR dinegara maju sebesar 3-7% dan di negara berkembang berkisar antara
13- 38%. Untuk Indonesia belum ada angka pesat secara keseluruhan, hanya perkiraan
WHO pada tahun 1990 adalah 14% dari seluruh koheren hidup.
2.4

Faktor yang mempengaruhi berat badan lahir


Berat badan lahir merupakan hasil interaksi dari berbagai faktor melalui suatu

proses yang berlangsung selama berada dalam kandungan. Faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi berat bayi lahir adalah sebagai berikut :5-8
1.

Faktor lingkungan internal yaitu meliputi umur ibu, jarak kelahiran, paritas,

kadar hemoglobin, status gizi ibu hamil, pemeriksaan kehamilan, dan penyakit pada
saat kehamilan.
2.

Faktor lingkungan eksternal yaitu meliputi kondisi lingkungan, asupan zat

gizi dan tingkat sosial ekonomi ibu hamil.


3.

Faktor penggunaan sarana kesehatan yang berhubungan frekuensi

pemeriksaan kehamilan atau antenatal care(ANC).


Hasil Riskesdas tahun 2013 menyatakan bahwa presentase balita (0-59 bulan)
dengan BBLR sebesar 10,2%. Presentase BBLR tertinggi terdapat pada provinsi Sulawesi

Tengah dengan 16.8% dan terendah di Sumatera Utara dengan 7.2%. Masalah BBLR
mempunyai kecendrungan kearah peningkatan terjadinya infeksi dan sudah terserang
berbagai macam komplikasi. Masalah pada BBLR yang sering terjadi adalah gangguan
pada sistem pernafasan. susunan saraf

pusat, kardiovaskuler, hematologi, gastro

intestinal, ginjal, dan termoregulasi. Hal ini sangatlah berpengaruh dalam pemberian
imunisasi pada bayi yang berakibat keterlambatan menerima imunisasi sesuai dengan
usia akibat penyakit yang diderita.5

Gambar 4. Presentase Berat Bayi Lahir Rendah menurut Provinsi Riskesdas 20135
2.6

Usia Ibu
Menurut kamus Bahasa Indonesia, usia berarti lama waktu hidup atau ada (sejak

dilahirkan atau diadakan).14 Umur kadang mempunyai hubungan dengan sikap dan
perilaku seseorang dan lebih lama seseorang hidup, tingkat pengetahuan nya lebih tinggi.
Kehamilan dibawah umur 16 tahun merupakan kehamilan berisiko tinggi, 2-4 kali lebih
tinggi di bandingkan dengan kehamilan pada wanita yang cukup umur. Pada umur yang
masih muda, perkembangan organ-organ reproduksi dan fungsi fisiologinya belum

optimal. Selain itu emosi dan kejiwaannya belum cukup matang, sehingga pada saat
kehamilan ibu tersebut belum dapat menanggapi kehamilannya secara sempurna dan
sering terjadi komplikasi. Selain itu semakin muda usia ibu hamil, maka akan terjadi
bahaya bayi lahir kurang bulan, perdarahan dan bayi lahir ringan.5-8,15
Meski kehamilan dibawah umur sangat beresiko tetapi kehamilan diatas usia 35
tahun juga tidak dianjurkan karena sangat berbahaya. Mengingat mulai usia ini sering
muncul penyakit seperti hipertensi, tumor jinak peranakan, organ kandungan sudah
menua dan jalan lahir telah kaku. Kesulitan dan bahaya yang akan terjadi pada kehamilan
diatas usia 35 tahun ini adalah preeklamsia, ketuban pecah dini, perdarahan, persalinan
tidak lancar dan berat bayi lahir rendah.8
Terdapat beberapa penelitian yang dilakukan di beberapa lokasi untuk mencari
hubungan antara usia ibu dan ketepatan imunisasi dasar. Berdasarkan penelitian di
wilayah kerja puskesmas Siantan Tengah Pontianak pada tahun 2014, didapatkan tabel:
Tabel 4. Pengaruh Usia terhadap Ketidakpatuhan Imunisasi16
Usia
18-20 tahun
21-25 tahun
26-45 tahun
Total

Status imunisasi
Lengkap
tidak lengkap
F
%
f
3
3,7
3
5
6,2
16
21
25,9
33
29
35,8
52

Total
%
3,7
19,7
40,8
64,2

F
6
21
54
81

%
7,4
25,9
66,7
100

Pada penelitian ini, didapatkan tidak ada hubungan yang bermakna antara usia ibu dan
ketidakpatuhan pelaksanaan imunisasi dasar (p=0,356).16
Selain itu, dari hubungan antara ketepatan imunisasi dan usia ibu juga diteliti di desa
Japanan Kecamatan Cawas kabupaten Klaten tahun 2012. Dilakukan uji statistik chi
square dan didapatkan hasil uji sebanyak p=0,82. Didapatkan bahwa status imunisasi
tidak lengkap banyak diperoleh pada usia muda yaitu 24 responden (57,1%) dan status
imunisasi lengkap juga banyak diperoleh pada usia muda yaitu 26 responden (61,9%).
Maka, dari hasil p tadi hipotesis awal bisa diterima yaitu tidak ada hubungan antara usia
ibu dengan status imunisasi.17
2.6 Pemeriksaan Kehamilan

Pemeriksaan kehamilan bertujuan untuk mengenal dan mengidentifikasi masalah


yang timbul selama kehamilan, sehingga kesehatan selama ibu hamil dapat terpelihara
dan yang terpenting ibu dan bayi dalam kandungan akan baik dan sehat sampai saat
persalinan. Pemeriksaan kehamilan dilakukan setelah terlambat haid sekurang-kurangnya
1 bulan, dan setelah kehamilan harus dilakukan pemeriksaan secara berkala, yaitu :
a)

Setiap 4 minggu sekali selama kehamilan 28 minggu

b)

Setiap 2 minggu sekali selama kehamilan 28-36 minggu

c) Setiap minggu atau satu kali seminggu selama kehamilan 36 minggu sampai
masa melahirkan. Selain dari waktu yang telah ditentukan di atas ibu harus
memeriksakan diri apabila terdapat keluhan lain yang merupakan kelainan yang
ditemukan.8
Telah dilakukan suatu penelitian dengan menggunakan populasi yang didapat dari
analisis lanjut data Riskesdas 2010 yaitu semua Rumah Tangga Sampel Riskesdas 2010
yang mempunyai bayi (umur < 12 bulan) di seluruh Indonesia. Sampel yang digunakan
dalam analisis lanjut ini adalah ibu dengan bayi (umur < 12 bulan) yang mempunyai data
berat badan lahir dan data identitas riwayat kehamilan dari ibunya. Hasil uji bivariat
menemukan variabel yang berpotensi menjadi variabel yang berhubungan dengan berat
badan lahir (p<0,05) yaitu kunjungan ANC, penjelasan tanda komplikasi saat ANC, dan
jarak lahir. Setelah dilakukan uji multivariate menunjukkan adanya hubungan yang
signifikan antara ANC dengan kejadian BBLR dengan OR 1.8 (CI 95%: 1.3 - 2.5).
Melalui hasil dari penelitian ini, dapat disimpulkan ibu yang melakukan kunjungan antenatal care lebih dari 4 kali mempunyai peluang untuk tidak melahirkan anak BBLR
sebesar 1,8 kali dibandingkan dengan ibu yang melakukan ante-natal care kurang dari 4
kali.18
Selain itu, dilakukan juga penelitian di India untuk mengetahui jika terdapat
hubungan antara pemeriksaan kehamilan dengan ketepatan imunisasi. Diambil populasi
sampel dari tujuh populasi yang berbeda dan didapatkan 9020 sampel, di mana 1730
tidak pernah mendapatkan pemeriksaan kehamilan atau antenatal care(ANC), 1921 ANC
sebanyak sekali hingga dua kali dan sebanyak 5369 mendapat ANC lebih dari tiga kali.
Hasil dari penelitian tersebut didapatkan adanya peningkatan imunisasi pada golongan

yang mendapat ANC dibanding yang tidak mendapat ANC. ANC merupakan suatu usaha
yang dilakukan untuk membantu ibu hamil untuk mengetahui komplikasi yang bisa
timbul saat sedang hamil atau penyakit yang bisa timbul saat hamil, contohnya
preeklampsia.19
Tabel 5. Matching Estimates Shows Impact Assessment of ANC Visits on Child
Immunization19

Bisa dilihat dari tabel, bahwa ibu yang mendapat ANC satu hingga dua kali
mempunyai kemungkinan 18 persen untuk memberikan imunisasi ke anaknya dibanding
ibu yang tidak mendapat ANC.

2.7 Pengetahuan ibu


Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan dapat melalui penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan
raba. Pengetahuan bisa berkembang luas sesuai dengan kemauan seseorang dan sumber
dari pengetahuan bisa dari pelbagai macam terutama zaman modern ini di mana hampir
semua hal bisa di cari melalui internet.20
Setiap orang harus mempunyai ilmu atau pengetahuan dalam memenuhi kebutuhan
gizi tubuh per hari. Pengetahuan yang kurang bisa menyebabkan terjadinya kesalahan
dalam menentukan kebutuhan gizi sehari-hari. Hal ini sama dengan ibu hamil. Ibu hamil

harus menyesuaikan kebutuhan gizi nya untuk pertumbuhan fetus di dalam kandungan
dan pertumbuhan organ ibu yang berfungsi sebagai pendukung selama hamil. Kebutuhan
kalori pada ibu hamil akan meningkat menjadi 300-350 kalori sehari. Kondisi dari status
gizi ibu ini akan berpengaruh dalam pertumbuhan fetus dalam kandungan ibu.
Kekurangan gizi ibu hamil bisa menyebabkan bayi berat lahir rendah, lahir prematur dan
kematian janin.21
Pada suatu penelitian di salah satu RSIA pada bulan Januari 2002 di temukan hasil
35,6% bayi yang lahir di lokasi penelitian mempunyai berat badan lahir kurang dari 3.000
gram dan 9,3% bayi lahir dengan berat badan lahir kurang dari 2.500 gram. Namun,
untuk angka bayi dengan berat badan lahir kurang dari 3.000 gram di Indonesia tidak
diketahui, mengingat data ter- baru dari Riset Kesehatan Dasar tahun 2010 tidak
mengategorikan berat badan lahir kurang dari 3.000 gram. Rata-rata berat badan lahir
bayi yang lahir di lokasi penelitian adalah 3.178 gram.22
Kurangnya pengetahuan dan salah konsepsi tentang kebutuhan pangan dan nilai
pangan adalah umum dijumpai setiap negara di dunia. Kemiskinan dan kekurangan
persediaan pangan yang bergizi merupakan faktor penting dalam masalah kurang gizi /
lain sebab yang penting dari gangguan gizi adalah kekurangan pengetahuan tentang gizi
atau kemampuan untuk menerapkan informasi tersebut dalamkehidupan sehari-hari.
Imunisasi merupakan suatu program pencegahan primer dan apabila program ini
ingin dilaksanakan dengan benar, masyarakat yang terkait harus diberikan pengetahuan
yang cukup dan harus dilakukan evaluasi perilaku kesehatan masyarakat. Dilakukan
penelitian di desa Japanan Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten tahun 2012 , didapatkan
responden yang berpengetahuan kurang tentang imunisasi ada 57 orang. Dari 57 orang
ini, dengan status imunisasi tidak lengkap lebih banyak yaitu 34 orang (81,0%).
Sedangkan responden dengan pengetahuan baik diketahui 27 orang, dengan status
imunisasi lengkap 19 orang (45,2%). Setelah dilakukan uji Chi square, hasilnya adalah
nilai p = 0,02. Hipotesis O tidak diterima berarti terdapat hubungan yang signifikan
antara pengetahuan dengan status imunisasi dasar bayi.17
Tabel 6. Hubungan antara Pengetahuan, Usia dan Pekerjaan Ibu dengan Status Imunisasi
Dasar Bayi di Desa Japana.17

Selain itu, dilakukan juga penelitian di wilayah kerja Puskesmas Kombos Kota
Manado, dan hasil dari penelitian, nilai p= 0,000 yang menyatakan bahwa terdapat
hubungan antara pengetahuan ibu tentang imunisasi dengan status imunisasi dasar anak
batita.23

Tabel 7. Hubungan Pendidikan dan Pengetahuan dengan Status Imunisasi23

Berdasarkan tabel ini, sebagian besar ibu yang memiliki pengetahuan baik tentang
imunisasi memiliki anak dengan status imunisasi dasar yang lengkap.
2.8 Pendidikan ibu24
Pendidikan seseorang merupakan salah satu proses perubahan tingkah laku, semakin
tinggi pendidikan seseorang maka dalam memilih tempat-tempat pelayanan kesehatan
semakin diperhitungkan. Sesuai dengan Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional (SPN), Pasal 1, Pendidikan adalah usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan
yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang
sistem pendidikan nasional, Pasal 13 ayat 1, jalur pendidikan terdiri atas pendidikan
formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Pasal
14 pula mengatakan bahwa jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar,
pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pasal 15: jenis pendidikan mencakup
pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus.
Pendidikan formal yaitu pendidikan dasar, berdasarkan Pasal 7 ayat 1, pendidikan

dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah,


ayat 2, pendidikan dasar berbentuk sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI)
atau bentuk lain yang sederajat serta sekolah menengah pertama (SMP) dan madrasah
tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan menengah pula
dijelaskan di Pasal 18, ayat 1 yaitu pendidikan menengah merupakan lanjutan
pendidikan dasar, ayat 2: pendidikan menengah terdiri atas pendidikan menengah
umum dan pendidikan menengah kejuruan dan ayat 3: pendidikan menengah berbentuk
sekolah menengah atas (SMA), madrasah aliyah (MA), sekolah menengah kejuruan
(SMK), dan madrasah aliyah kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat.
Pendidikan tinggi dijelaskan di Pasal 19 ayat 1yaitu Pendidikan tinggi merupakan
jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan
diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh pendidikan
tinggi.
Dilakukan penelitian di RSU PKU Muhammadiyah Bantul, didapatkan responden
paling banyak adalah dengan pendidikan tidak tinggi sebanyak 40 yaitu 43,5%. Hasil dari
penelitian tentang hubungan tingkat pendidikan dengan BBLR bisa di lihat dari tabel di
bawah:25
Tabel 8. Hubungan antara tingkat pendidikan dengan BBLR25

Dari tabel ini bisa dilihat bahwa nilai p=0,562, maka hipotesis awal diterima yaitu
tidak terdapat hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan berat badan lahir atau
sehingga terjadi BBLR.
Disamping itu tingkat pendidikan juga mempunyai hubungan yang eksponensial
dengan tingkat kesehatan. Semakin tinggi tingkat pendidikan semakin mudah menerima
konsep hidup sehat secara mandiri, kreatif dan berkesinambungan. Pada program
imunisasi, peran ibu sangat penting dan tingkat pendidikan mempengaruhi tingkat

pemahaman dan pengetahuan ibu mengenai program imunisasi. Fitriyanti Ismet telah
melakukan penelitian di Desa Botubarani Kecamatan Kabila Bone Kabupaten Bone
Bolango dan berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa dari 108 responden,
sebagian besar yakni 96 responden (88.9%) tingkat pendidikannya termasuk dalam
kategori pendidikan rendah. Namun, status imunisasi lengkap pada golongan
berpendidikan rendah ini lebih banyak dibanding dengan yang tidak lengkap yaitu
sebanyak Meskipun demikian jumlah 54 responden (56.3%). Hasil uji Chi Square
didapatkan nilai p=0,214 sehingga menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang
bermakna antara pendidikan ibu dengan imunisasi dasar lengkap pada balita. Melalui
penelitian, diketahui bahwa pengetahuan responden tentang pentingnya imunisasi dasar
tidak dipengaruhi oleh tingkat pendidikan responden karena pengetahuan responden
tentang imunisasi dasar diperoleh dari penyuluhan kesehatan yang diberikan oleh petugas
kesehatan setempat.26
Tabel 9. Hubungan pendidikan ibu dengan imunisasi dasar lengkap pada balita di Desa
Botubarani Kecamatan Kabila Bone Kabupaten Bone Bolango tahun 201326

2.9 Pekerjaan
Pekerjaan berarti suatu hal yang dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan uang. 27
Telah dilakukan penelitian di RSU PKU Muhammadiyah Bantul dan didapatkan
responded yang terbanyak adalah yang bekerja yaitu sebanyak 31 atau 33,7%. Namun,
didapatkan ibu yang paling banyak melahirkan bayi dengan berat lahir normal adalah ibu
yang tidak bekerja yaitu sebanyak 25 atau 27,2%. Melalui hasil tersebut, didapatkan nilai
p=0,035. Oleh itu dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat hubungan antara pekerjaan
ibu dengan kejadian BBLR.25

Berdasarkan penelitian status imunisasi di desa Japanan Kecamatan Cawas


kabupaten Klaten tahun 2012, didapatkan bayi dengan status imunisasi tidak lengkap,
paling banyak pada ibu yang bekerja yaitu 28 orang (66,7%) dibanding ibu yang tidak
bekerja. Pada ibu yang tidak bekerja, lebih banyak status imunisasi lengkap yaitu 24
orang (57,1%). Selanjutnya pada penelitian ini, dilakukan uji Chi square menunjukkan
nilai p=0,04, maka hipotesis O ditolak dan terdapat hubungan yang bermakna antara
pekerjaan ibu dengan kelengkapan status imunisasi dasar bayi. Selain itu, didapatkan nilai
OR = 2,66; (95%CI =1,09 - 6,46), yang berarti bahwa ibu yang bekerja memiliki risiko
status imunisasi bayinya tidak lengkap sebesar 2,68 kali lebih tinggi dibandingkan
dengan ibu yang tidak bekerja.17
2.10

Pengaruh berat badan lahir terhadap ketepatan imunisasi dasar


Bayi prematur sering mempunyai berat lahir rendah dan mempunyai risiko lebih

tinggi risiko lebih tinggi terkena komplikasi dari penyakit akibat vaksin, namun sering
tidak mendapat imunisasi tidak tepat waktu sesuai jadwal imunisasi. Pada bayi dengan
berat lahir kurang dari 2000 gram membutuhkan modifikasi waktu pemberian hepatitis B
immunoprofilaksis tergantung dengan status antigen Hepatitis B ibunya.28
Suatu penelitian dengan menggunakan data dari National Maternal and Infant Health
Survey 1988 yaitu data negara di Amerika Serikat, dibagi menjadi tiga kategori yaitu
normal birth weight, moderately low birth weight dan very low birth weight. Data ketiga
kategori berat badan lahir dibandingkan dengan ketepatan menerima imunisasi dasar pada
usia 12 bulan, 24 bulan dan 36 buln.29 Hasil yang didapat adalah:
Tabel 10. Crude Odds Ratio From Logistic Regressions of Birth Weight and
Immunization
Outcome

Status at Ages 12, 24, and 36 Months29


Birth
comparison

weight Crude odss ratio for P


birth weight (95%

Up-to-date 12 mo

CI)
VLBW and MLBW 0.714 (0.56-0.92)

0.08

Up-to-date 24 mo

vs NBW
MLBW vs NBW
0.749 (0.67-0.99)
VLBW vs NBW
0.556 (0.40-0.78)
VLBW and MLBW 0.718 (0.59-0.87)

0.41
0.01
0.01

Up-to-date 36 mo

vs NBW
MLBW vs NBW
0.785 (0.63-0.98)
VLBW vs NBW
0.439 (0.32-0.60)
VLBW and MLBW 0.705 (0.59-0.85)

0.029
<0.01
<0.01

vs NBW
MLBW vs NBW
VLBW vs NBW

0.11
<0.01

0.769 (0.63-0.94)
0.446 (0.34-0.58)

Dari tabel di atas dapat dilihat terdapat hubungan dari berat badan lahir sangat rendah
dengan ketepatan imunisasi dasar dengan nilai p=0.01 pada usia 12 bulan dan p=<0.01
pada usia 24 dan 36 bulan. Maka, bisa disimpulkan bahwa berat badan lahir
mempengaruhi ketepatan imunisasi.

Kerangka teori

Usia ibu

Ketepatan
imunisasi
Pengetahuan ibu

Pendidikan ibu

Berat badan lahir

Antenatal care
Pekerjaan ibu

Kerangka konsep

Ketepatan Imunisasi

Berat Badan Lahir

1. Pengetahuan ibu
2. Pendidikan ibu
3. Pekerjaan
4. Usia ibu
5. Antenatal care

Daftar pustaka
1.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 42 tahun 2013: Tentang

penyelenggaran imunisasi.

2.

Ranuh ING, Suyitno H, Hadinegoro SRS, Kartasasmita CB, Ismoedijanto,

Soedjatmiko. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Edisi-5. Jakarta: Badan Penerbit Ikatan


Dokter Anak Indonesia;2014.h.2-119.
3.

Immunity types. 19 Mei 2014. Diunduh dari:

http://www.cdc.gov/vaccines/vac-

gen/immunity-types.htm pada tanggal 3 Mei 2016.


4.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia 2014.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia:Jakarta;2015.h.108-21


5.

Septyo M, Putro G. Risiko terjadinya berat badan lahir rendah menurut determinan

sosial,

ekonomi.

Vol.12.No.2.

Departemen

Kesehatan

Republik

Indonesia:

Surabaya;April 2009.h.127-32
6.

Manuaba

IBG,

Manuaba

LAC,

Manuaba

F.

Pengantar

kuliah

obstetri.EGC:Jakarta;2007.h.421-6
7.

Kliegman RM, Stanton BF, Joseph W, Schor NF. Nelson textbook of pediatrics. Ed

20th. Philadelphia: Elsevier;2016.p.561-71


8.

Sarwono Prawirohardjo S. Ilmu kebidanan. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono

Prawirohardjo; 2013. h.696-700.


9.

Jadwal

imunisasi

IDAI

2014.

22

April

2014.

Diunduh

dari:

http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-idai-2014 pada tanggal 3


Mei 2016.
10. Chart of contraindications and precautions to commonly used vaccines. 6 Maret
2014. Diunduh dari: http://www.cdc.gov/vaccines/recs/vac-admin/contraindicationsvacc.htm pada tanggal 6 Mei 2016.
11. Probandari

AN,

Handayani

S,

Laksono

NJDN.

Keterampilan

imunisasi.

Surakarta;2013.
12. Hadinegoro SRS. Kejadian ikutan pasca imunisasi.Vol.2.No.1. Subbagian Infeksi dan
Pediatrik Tropis Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM: Jakarta; Juni 2000. h.2-10.
13. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Diunduh dari: http://kbbi.web.id/koinsiden pada
tanggal 3 Mei 2016.
14. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Diunduh dari: http://kbbi.web.id/umur pada tanggal
3 Mei 2016.
15. Bari

A,Saifuddin.

Pelayanan

kesehatan

maternal

dan

neonatal.

Bina

Pustaka:Jakarta;2000.h.337-403.
16. Pratiwi F. Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan ibu terhadap
pelaksanaan imunisasi dasar pada balita di wilayah kerja Puskesmas Siantan Tengah
Pontianak 2014: Pontianak;2015.
17. Nugroho PJ. Hubungan tingkat pengetahuan, usia, dan pekerjaan ibu dengan status
imunisasi dasar bayi di desa Japanan kecamatan Cawas kabupaten Klaten tahun 2012.
Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta;2012.
18. Ernawati F,Kartono D,Puspitasari DS. Hubungan antenatalcare dengan berat badan
lahir rendah di Indonesia.Jurnal Gizi Indonesia.34(1);2011.h.23-31.
19. Dixit P, Dwivedi LK, Ram F. Strategies to improve child immunization via antenatal
care visits in India: a propensity score matching analysis. Vol.8.No.6. Department of
Mathematical Demography and Statistics: Mumbai; June 2013.p.1-10.
20. Kumbara DD, Bakhtiar MR, Lubis SS. Faktor-faktor yang berhubungan dengan
kelengkapan imunisasi dasar bayi umur 12-24 bulan di Puskesmas Medan Kota:
Medan;2015.
21. Sediaoetama AD. Ilmu gizi. Jilid 1. Jakarta: Penerbit Dian Rakyat; 2008.h.241-2.
22. Karima K,Achadi EL.Status gizi ibu dan berat badan lahir bayi.Vol. 7.No.3. Jurnal
Kesehatan Masyarakat. Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia:
Jakarta;Oktober 2012.h.111-19.
23. Lumangkun K, Ratag BT, Tumbol RA. Faktor-faktor yang berhubungan dengan
status imunisasi dasar anak berumur 3 tahun di wilayah kerja puskesmas Kombus kota
Manado. Universitas Sam Ratulangi. Manado.
24. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003: tentang sistem
pendidikan nasional.
25. Puspitasari R. Hubungan tingkat pendidikan dan pekerjaan ibu dengan kejadian bayi
berat lahir rendah di RSU PKU Muhammadiyah Bantul. Yogyakarta; 2014.
26. Ismet F. Analisis faktor faktor yang berhubungan dengan imunisasi dasar lengkap
pada balita di desa Botubarani kecamatan Kabila Bone kabupaten Bone Bulango.
Gorontalo; 2013.
27. Cambridge

Dictionaries

Online.

Diunduh

http://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/job pada tanggal 3 Mei 2016.

dari:

28. Saari TN. Immunization of preterm and low birth weight infants. Vol.112.No.1.
American Academy of Pediatrics: America; July 2003.p.193-7.
29. Langkamp DL, Hoshaw SW, Boye ME, Lemeshow S. Delays in receipt of
immunization in low birth weight children. Department of Pediatrics: Columbus;
February 2001. Vol.155.p.167-72.