Anda di halaman 1dari 22

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Program Pemberantasan Penyakit Menular

Pengalaman menunjukan bahwa penyakit menular yang terdapat di dalam


wilayah kerja puskesmas di Indonesia dapat dikelompokan sesuai sifat
penyebarannya di dalam masyarakat wilayah tersebut, yaitu:
a. Penyakit menular yang secara endemik berada di dalam wilayah, yang
pada waktu tertentu dapat menimbulkan wabah, dan dikelompokan dalam
penyaki-penyakit menular potensial wabah, di antaranya: diare, demam
berdarah dengue, malaria (di daerah endemik tinggi), filariasis (di daerah
endemik tinggi).
b. Penyakit menular yang berada di dalam wilayah dengan edemisitas yang
cukup tinggi sehingga jika tidak diawasi dapat menjadi ancaman bagi
kesehatan masyarakat umum. Diantaranya: tuberkulosis paru, lepra
(Morbus Hansen), Patek (Framboesia), anjing gila (rabies), antraks.
c. Penyakit-penyakit menular lain yang walaupun endemisitasnya tidak
terlalu tinggi di dalam masyarakat, tetapi oleh karena sifat penyebarannya
dianggap sangat membahayakat masyarakat, maka penyakit-penyakit ini
perlu diawasi keberadaanya, misalnya sifilis (raja singa), gonorhoe
(kencing nanah), HIV/AIDS, hepatitis B, ISPA (Azwar, 1998).

Berbagai cara pencegahan dapat diterapkan salah satunya dengan


membangkitkan kekebalan pada masyarakat melalui pelayanan imunisasi
yang dalam pelaksanaanya diintegrasikan ke dalam program pelayanan
perorangan seperti KIA, UKS, dan kegiatan imunisasi di luar gedung
puskesmas (Azwar, 1998; Depkes RI, 2005).

1. Penyakit menular.
Penyakit menular ialah penyakit yang disebabkan oleh agent infeksi atau
toksinnya, yang berasal dari sumber penularan atau reservoir, yang
ditularkan atau ditrasmisikan kepada pejamu atau host yang rentan
(Notoatmjo, 2003).

2. Kejadian Luar Biasa.


Kejadian luar biasa (KLB) ialah kejadian kesakitan atau kematian yang
menarik

perhatian

umum

dan

mungkin

menimbulkan

kehebohan/ketakutan di kalangan masyarakat, atau yang menurut


pengamatan epidemiologi dianggap adanya peningkatan yang berarti
(bermakna) dari kejadian kesakitan atau kematian tersebut pada
kelompok penduduk dalam kurun waktu tertentu. Secara operasional
suatu kejadian dapat disebutkan KLB bila memenuhi satu atau lebih
ketentuan-ketentuan berikut:
a. Angka kesakitan/kematian suatu penyakit menular di suatu kecamatan
menunjukan kenaikan dua kali atau lebih selama tiga minggu berturutturut atau lebih.

b. Jumlah penderita baru dalam satu bulan dari suatu penyakit menular di
suatu kecamatan menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau lebih bila
dibandingkan dengan angka rata-rata sebulan dalam setahun
sebelumnya dari penyakit menular yang sama di kecamatan tersebut.
c. Angka rata-rata bulanan dalam satu tahun dari penderita-penderita
baru dari suatu penyakit menular di suatu kecamatan menunjukan
kenaikan dua kali atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata
bulanan dalam tahun sebelumnya dari penyakit yang sama.
d. Case fatality rate dari suatu penyakit menular tertentu dalam suatu
kurun waktu

tertentu (hari, minggu, bulan) di suatu kecamatan

menunjukan kenaikan 50% atau lebih bila dibandingkan dengan CFR


penyakit yang sama dalam kurun waktu yang sama periode
sebelumnya di kecamatan tersebut
e. Proportional rate penderita baru dari suatu penyakit menular dalam
satu periode tertentu, dibandingkan dengan proportional rate
penderita baru dari penyakit menular yang sama dalam tahun yang
lalu dengan periode yang sama menunjukkan kenaikan dua kali atau
lebih.
f. Khusus penyakit-penyakit kolera, DBD/DSS.
i.

Setiap peningkatan jumlah penderita penyakit tersebut, di suatu


daerah endemik yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan di atas.

ii.

Terdapatnya satu atau lebih penderita kematian karena penyakit


menular tersebut, di suatu kecamatan yang telah bebas dari

penyakit tersebut, paling sedikit bebas selama 4 minggu berturutturut.


g. Apabila kesakitan/kematian oleh keracunan yang timbul disuatu
kelompok masyarakat.
h. Apabila di daerah tersebut terdapat penyakit yang sebelumnya tidak
ada/ dikenal. Khusus untuk kasus AFP (acute flaccid paralysis) dan
tetanus neonatorum ditetapkan sebagai KLB bila ditemukan satu kasus
atau lebih (Bustan, 2005).

3. Wabah
Adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat
yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari keadaan
yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan
malapetaka sesuai undang-undang No.4 tahun 1984 tentang wabah
penyakit menular (Notoatmojo, 2003).

4. Program Pencegahan
Program pencegahan ialah mencegah agar penyakit menular tidak
menyebar di dalam masyarakat, yang dilakukan antara lain dengan
menberikan kekebalan kepada

host melalui kegiatan imunisasi,

penyuluhan kesehatan dan pemberantasan vector (Azwar, 1998; Depkes


RI, 2005).

10

5. Cara Penularan Penyakit Menular


Dikenal beberapa cara penularan penyakit menular, yaitu:
a. Penularan secara kontak, baik secara langsung maupun tidak langsung
b. Penularan melalui makanan dan minuman yang tercemar
c. Penularan melalui vektor
d. Penularan melalui suntikan, transfuse, tindik, tato.
e. Penularan melalui hubungan seksual (Notoatmojo, 2003; Depkes RI,
2005).

6. Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular


Surveilans epidemiologi suatu penyakit dapat diartikan sebagai kegiatan
pengumpulan

data/informasi

kesakitan/kematian

dan

melalui

penyebarannya

pengamatan
serta

terhadap

faktor-faktor

yang

mempengaruhinya secara sistematik, terus menerus dengan tujuan untuk


perencanaan suatu program, mengevaluasi hasil program dan sistem
kewaspadaan dini. Secara singkat dikatakan pengumpulan data atau
informasi untuk menetukan tindakan (Bustan, 2005).
Untuk dapat memonitor distribusi penyakit menular di dalam masyarakat
wilayah kerja puskesmas, dilakukan pencatatan, peristiwa kesakitan dan
kematian yang diakibatkan oleh penyakit menulat tersebut (Bustan, 2005;
Depkes RI, 2005).
Untuk pemantauan penyakit menular tertentu yang menjadi masalah
kesehatan di wilayah puskesmas disajikan dalam PWS Mingguan
Penyakit (contoh PWS[formulir W2] Penyakit Campak, Diare, DBD, dll).

11

Dengan penggunaan PWS penyakit secara mingguan ini dapat dikenali


atau diketahui secara dini kenaikan/distribusi suatu penyakit menular
tertentu menurut tempat (desa), dan waktu adalah minggu (Bustan, 2005;
Depkes RI, 2005).

B. Program Pencegahan dan Pemberantasan Diare


1. Definisi Diare
Diare adalah perubahan pada konsistensi dan atau frekuensi defekasi
dengan maupun tanpa lendir atau darah. Perubahan yang dimaksud adalah
konsistensi cair atau setengah cair dan peningkatan kandungan air dalam
feses yang lebih banyak dari normal, yaitu lebih dari 200 g atau 200
ml/24 jam pada orang dewasa atau lebih dari 10 g/kgBB/24 jam pada
anak. Sedangkan yang dimaksud dengan perubahan frekuensi adalah
keluarnya tinja lunak atau cair lebih atau sama dengan 3x/hari (Depkes
RI, 2005; Depkes RI, 2011; Sudoyo dkk., 2010).

Diare dapat diklasifikasikan berdasarkan lama waktu diare, mekanisme


patofisiologi, berat ringannya diare, dan penyebabnya. Berdasarkan lama
waktu, diare dibedakan sebagai diare akut, persisten dan kronis. Menurut
WHO diare akut dibedakan dari diare persisten dan diare kronis
berdasarkan lama berlangsungnya gejala (Setia, 2006; Sudoyo dkk.,
2010).
Diare akut adalah diare yang berlangsung kurang dari 14 hari. Diare
persisten adalah diare akut karena infeksi usus yang karena suatu sebab
berlangsung lebih atau sama dengan 14 hari yang biasa dihubungkan

12

dengan penyakit dasar atau keadaan lain, sedangkan diare kronis adalah
diare yang berlangsung lebih dari 14 hari, hilang timbul, yang biasa di
hubungkan dengan infeksi (Setia, 2006; Sudoyo dkk., 2010).

2. Epidemiologi
Diare adalah penyebab utama kesakitan dan kematian pada anak di
negara berkembang. Pada tahun 2003 diperkirakan 1,87 juta balita
meninggal karena diare. Hal ini menempatkan diare pada peringkat kedua
penyebab kematian. Delapan dari sepuluh kematian akibat diare terjadi
pada dua tahun pertama kehidupan (Depkes RI, 2005).

Di negara berkembang anak berusia di bawah 3 tahun umumnya


mengalami 3 episodik diare setiap tahunnya. Angka kejadian diare di
Indonesia hingga saat ini masih tinggi yaitu 423 per 1000 penduduk untuk
semua umur, yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hasil survei
kesehatan rumah tangga (SKRT) pada tahun 2004 menunjukkan angka
kematian akibat diare adalah 23 per 100 ribu penduduk dan balita sebesar
75 per 100 ribu balita (Depkes RI, 2005).

3. Etiopatogenesis
Penyebab diare dapat digolongkan sebagai berikut:
a. Infeksi
-

Enteral

13

Diare dapat disebabkan oleh bakteri, virus, parasit, maupun jamur.


Patogen penyebab diare dapat dirinci seperti pada Tabel 2.1. (Edi S,
1999; Depkes RI, 1999; Sudoyo dkk., 2010).

Tabel 2.1. Patogen yang paling sering ditemukan pada anak diare di negara berkembang
(Edi S, 1999; Depkes RI, 1999; Sudoyo dkk., 2010).
Jenis pathogen
Spesies pathogen
Persentase kasus
Virus
Rotavirus
15-25
Bakteri
Eschericia coli enterotoksigenik
10-20
Shigella
5-15
Campylobacter jedesember
10-15
Vibrio cholera
5-10
Salmonella (non-typi)
1-5
Escherichia coli enteropatogenik
1-5
Protozoa
Cryptosporidium
5-15
Tidak terdapat
20-30
pathogen

Parenteral
Diare dapat disebabkan oleh kuman penyebab otitis media akut,
pneumonia, travelers diarrhea, maupun intoksikasi kuman. Makanan
intoksikasi yang dimaksud dapat berupa makanan yang mengandung
toksin Clostridium perfringens, Bacillus cereu, ataupun beberapa
logam berat. Diare dapat juga disebabkan oleh intoleransi laktosa,
malabsobsi (Edi S, 1999; Sudoyo dkk., 2010).

b. Imunodefisiensi
kondisi

imunodefisiensi

berupa

hipogammaglobulinemia

dan

defisiensi Ig A dapat menyebabkan diare (Edi S, 1999; Sudoyo dkk.,


2010).

14

c. Terapi obat & Tindakan tertentu


Terdapat beberapa obat yang terbukti dapat menyebabkan diare di
antaranya antibiotik, kemoterapi, antasida. Gastrektomi dan radiasi
terapi tinggi dapat menimbulkan efek samping berupa diare (Sudoyo
dkk., 2010).
d. Lain-lain
Kondisi

lain dapat juga menyebabkan diare, seperti neuropati

anatomik serta faktor psikologis (Sudoyo dkk., 2010).

4. Cara penularan diare


Diare dapat ditularkan melalui makanan dan minuman yang tercemar
oleh tinja atau cairan muntahan pasien. Kuman yang terdapat pada feses
dapat langsung ditularkan pada orang lain apabila melekat pada tangan
dan kemudian dimasukan ke mulut atau dipakai untuk memegang
makanan tanpa dicuci terlebih dahulu. Diare pada bayi disebabkan oleh
puting susu ibu yang kotor. Vektor lalat dapat juga menularkan penyakit
diare (Edi S, 1999; Notoatmojo, 2003; Candra dkk., 2005; Sudoyo dkk.,
2010).

5. Tanda Dan Gejala Klinis Diare


Gejala dan tanda klinis diare dapat ditentukan melalui karakteristik diare
meliputi konsistensi, warna, volume, dan frekuensi buang air besar. Hal
ini menjadi petunjuk berharga dalam menentukan sumber terjadinya
diare. Hubungan antara karakteristik tinja dengan asal gangguan sumber

15

diare tercantum pada Tabel 2.2. (Candra dkk., 2005; Sudoyo dkk., 2010;
Depkes RI, 2011).

Tabel 2.2 Hubungan karakteristik tinja dengan sumber diare (Candra dkk., 2005; Sudoyo
dkk., 2010)
Karakter feses
Usus halus
Usus besar
Keadaan umum
Cair
Berdarah/ mukoid
Volume
Besar
Kecil
Darah
Biasanya positif tapi tak kasat Biasanya terlihat secara kasat
mata
mata
Keasaman
< 5,5
> 5,5
Test reduksi
Dapat positif
Negatif
Sel darah putih
< 5 /lapang pandang besar
>10/ lapang pandang besar
Normal
Dapat leukositosis
Organisme
Virus :
Bakteri invasif :
Rotavirus
E colli
Adenovirus
Shigella sp
Calicivirus
Salmonella sp
Astrovirus
Campylobacter sp
Yersinia sp
Bakteri entero toksik
Aeromonas sp
E colli
Plesiominas sp
Clostridium perfringens
Cholera sp
Bakteri toksik :
Vibrio sp
Clostridium difficile
Parasit :
Giardia sp
Cryptosporidium sp

Parasit :
Entamoeba organisme

6. Pemeriksaan Penunjang
Untuk diare yang berlangsung lebih dari beberapa hari atau diare dengan
dehidrasi perlu dilakukan pemeriksaan penunjang seperti di bawah ini:
a. Pemeriksaan darah tepi: kadar hemoglobin, hematokrit, hitung
leukosit, hitung differensial leukosit. Penting untuk mengetahui berat
ringannya hemokosentrasi darah, dan respons leukosit, contohnya
pada diare karena Salmonella dapat terjadi neutropenia. Pada diare
karena kuman yang bersifat invasif dapat terjadi shift to left.

16

b. Elektrolit darah, pemeriksaan ini diperlukan untuk mengobservasi


dampak diare terhadap kadar elektrolit darah.
c. Ureum dan kreatinin, diperlukan untuk memonitor adanya gagal ginjal
akut.
d. Pemeriksaan tinja untuk mencari etiologi diare. Pada infeksi bakteri,
ditemukan leukosit pada tinja dapat pula dilakukan pengukuran toksin
Clostridium difficile pada pasien yang telah mendapatkan terapi
antibiotik dalam jangka waktu tiga bulan terakhir. Pada infeksi parasit
dapat ditemukan telur cacing maupun parasit dewasa. Tinja dengan pH
kurang dari sama dengan 5,5 menunjukan adanya intoleransi
karbohidrat yang umumnya terjadi sekunder akibat infeksi virus. Pada
infeksi oleh organisme enteroinvasif, leukosit feses yang ditemukan
umumnya berupa neutrofil. Tidak ditemukannya neutrofil tidak
mengeliminasi kemungkinan infeksi organisme enterotoksin dan virus.
e. Apabila ditemukan leukosit pada feses, lakukan kultur feses untuk
menentukan apakah penyebab diare adalah Salmonella, Shigella,
Campilobakter, atau Yersenia.
f. Pemeriksaan serologi untuk mencari amuba.
g. Foto rontgen abdomen untuk melihat morfologi usus yang dapat
membantu diagnosis.
h. Rectoscopi, sigmoideoscopi dapat dipertimbangkan pada pasien
dengan diare berdarah atau diare akut persisten. Pada pasien AIDS,
kolonoskopi

dipertimbangkan

karena

ada

kemungkinan

diare

disebabkan oleh infeksi atau limfoma diarea kolon kanan. Biopsi

17

mukosa sebaiknya dilakukan bila dalam pemeriksaan tampak


inflamasi berat pada mukosa.
i. Biopsi usus.dilakukan pada diare kronis, atau untuk mencari etiologi
diare pada AIDS (Sudoyo dkk., 2010)

7. Tatalaksana
a. Tatalaksana Diare Secara Umum
Pada umumnya diare merupakan penyakit swasirna sehingga
dibutuhkan terapi suportif yang dibagi menjadi : tatalaksana penderita
diare di rumah, tatalaksana di sarana pelayanan kesehatan dan
tatalaksana lanjut (Sudoyo dkk., 2010; Depkes RI, 2011).

Tatalaksana penderita diare di rumah antara lain:


a. Meningkatkan pemberian cairan rumah tangga seperti kuah sayur,
tajin, larutan garam, dan bila ada berikan oralit
b. Melanjutkan pemberian makanan lunak yang tidak merangsang
selama diare serta makanan ekstra sesudah diare.
c. Segera membawa pasien ke puskesmas atau sarana kesehatan lain,
bila diare tidak membaik dalam tiga hari atau terdapat salah satu
dari tanda berikut:
-

Buang air besar encer semakin sering dalam jumlah banyak.

Ada muntah yang berulang

Rasa haus yang nyata

Tidak makan atau minum

Demam yang tinggi

18

Ada darah dalam tinja (Sudoyo dkk., 2010; Depkes RI, 2011).

Sedangkan tatalaksana di sarana pelayanan kesehatan meliputi :


a. Rehidrasi oral dengan oralit
b. Memberikan cairan intravena dengan cairan RL untuk pasien
dengan dehidrasi berat atau tidak dapat minum
c. Penggunaan obat secara rasional
d. Nasihat tentang meneruskan pemberian makanan, rujukan, dan
pencegahan (Sudoyo dkk., 2010; Depkes RI, 2011).

Pemberian rehidrasi dilakukan secara oral dengan pemberian oralit


dan parenteral dengan cairan laktat. Pemberian obat yang rasional
pada penderita diare meliputi pengobatan simptomatik dan kausal.
Pengobatan simptomatik yang biasa di berikan adalah antidiare,
antiemetik, dan antipiretik penggunaannya harus mempertimbangkan
risk and benefit secara matang, karena seringkali mempengaruhi lama
dan perjalanan penyakit (Setia, 2006; Sudoyo dkk., 2010; Depkes RI,
2011).

Obat simptomatik antidiare yang masih dianjurkan pada orang dewasa


adalah derivate opioid berupa loperamid, divenoksilat-antropin, dan
tingtur atropine. Loperamid dipilih karena tidak menyebabkan adiksi
dan efek samping minimal. Dimudsubsalisilat juga dapat digunakan,
namun pada pasien AIDS dapat menyebabkan enselopati dismud.

19

Pemberian obat antidiare pada pasien demam harus berhati-hati,


karena bila tidak diikuti pemberian antimikroba, maka akan
memperlama penyembuhan penyakit (Sudoyo dkk., 2010).

Selain derivat opioid, obat yang mengeraskan konsistensi tinja, seperti


atapulgit, dapat diberikan empat kali per hari, masing-masing dua
tablet. Smectite diberikan tiga kali sehari, masing-masing satu sachet
setiap pasien diare sampai diare berhenti. Golongan obat lain yang
dapat dipilih adalah antisekretorik berupa hidrasec tiga kali sehari,
masing-masing (Sudoyo dkk., 2010).

Pengobatan kausal dapat diberikan dengan pertimbangan 50-70%


diare di Indonesia diakibatkan oleh infeksi. Pemeriksaan leukosit tinja
secara praktis dapat digunakan untuk melihat kemungkinan infeksi
enteral sebagai penyebab diare. Jika pemeriksaan leukosit tinja
menunjukan jumlah leukosit > 10/LPB, dapat dianggap penyebab
diare adalah infeksi enteral dan dapat diberikan terapi antibiotika
(Sudoyo dkk., 2010; Depkes Ri, 2011).

Antibiotik yang dipilih adalah siproploksasin karena sangat efektif


mengatasi infeksi campilobakter, shigella, salmonella, yersinia, dan
aeromonas. Siproploksasin 500 mg diberikan 2 x sehari selama 5
sampai 7 hari. Sebagai aternatif dapat diberikan kontrimoksazol
(trimetoprim 160 mg dan sulfametoksazol 800 mg) 2 x sehari. Dapat

20

pula diberikan eritromisin 250-500 mg 4 x sehari sedangkan bila


curiga infeksi giardia maka diberikan metronidazol 250 mg 3 x sehari
selama 7 hari (Setia, 2006; Sudoyo dkk., 2010; Depkes RI, 2011).

Patogen spesifik yang harus diterapi dengan antibiotik adalah vibrio


colera dan klostridium dificile. Untuk mengobati klostridium dificile
diberikan metronidazol per oral 250-500 mg 4 x sehari selama 7
sampai 10 hari. Sebagai alternatif dapat diberikan vancomicin, tetapi
lebih mahal (Sudoyo dkk., 2010; Depkes RI, 2011)
b. Tatalaksana Rehidrasi pada Diare
Langkah-langkah terapi rehidrasi adalah sebagai berikut:
1. Tetapkan derajat dehidrasi penderita (lihat Tabel 2.3)
2. Tetapkan rencana pengobatan sesuai derajat dehidrasi penderita:
i.

Rencana terapi A untuk pasien tanpa dehidrasi

ii.

Rencana terapi B untuk pasien dengan dehidrasi ringan dan


sedang

iii.

Rencana terari C untuk pasien dengan dehidrasi berat (Sudoyo


dkk., 2010; Depkes RI, 2011).

Tabel 2.3. Penentuan derajat dehidrasi berdasarkan gejala dan tanda klinis (Sudoyo dkk.,
2010)
Klasifikasi
Gejala atau tanda
Dehidrasi berat
Dua atau lebih tanda-tanda berikut :
Letargi / tidak sadar
Sunken eyes
Tidak dapat minum atau sulit minum
Skin pinch sangat lambat kembali (> 2detik)
Dehidrasi sedang
Dua atau lebih tanda-tanda berikut :

21

Dehidrasi ringan

Rewel
Sunken eyes
Terlihat kehausan
Skin pinch lambat kembali
Tidak cukup tanda-tanda untuk mengklasifikasikannya sebagai
dehidrasi sedang atau berat

Pada rencana terapi A, pemberian oralit hanya setiap setelah pasien


buang air besar saja. Banyaknya pemberian cairan setiap buang air
besar dapat di lihat pada Tabel 2.4

Tabel 2.4. Rencana terapi A untuk diare tanpa dehidrasi (Sudoyo dkk., 2010).
Usia
Jumlah cairan yang diberikan setiap buang air besar
< 1 tahun
50-100 ml
1-5 tahun
100-200 ml
>5 tahun
200-300 ml
Dewasa
300-400 ml

Pada rencana terapi B, jumlah oralit yang diberikan dalam 3 jam


pertama disesuaikan dengan berat badan. Oralit yang diberikan
dihitung dengan mengalikan berat badan pasien (kg) dengan 75 ml.
Bila berat badan tidak diketahui dan atau memudahkan penggunaan di
lapangan, volume pemberian oralit dapat dilihat pada Tabel 2.5.
(Sudoyo dkk., 2010; Depkes RI, 2011).

Tabel 2.5. Rencana terapi B untuk penderita diare ringan dan diare sedang
(Sudoyo dkk., 2010; Depkes RI, 2011)
Usia
Jumlah oralit
< 1 tahun
300 ml
1-5 tahun
600 ml
>5 tahun
1200 ml
Dewasa
2400 ml

22

Pada rencana terapi C, hal paling pertama yang harus dilakukan


adalah menentukan bagaimana cairan akan diberikan, yaitu melalui
jalur oral atau dengan intravena jalur pilihan pada pasien dengan
dehidrasi

berat

sebenarnya

adalah

jalur

intravena,

karena

membutuhkan waktu rehidrasi yang cepat. Cairan yang paling baik


adalah RL, jika tidak ada, maka dapat digantikan dengan NaCl 0,9%
(Sudoyo dkk., 2010; Depkes RI, 2011).

Bila pasien tidak bisa diberikan cairan intravena, segera berikan


peroral dengan pipa nasogastrik sebanyak 20 ml/kgBB/jam selama 6
jam. Jumlah dan lama cairan yang diberikan pada pasien dengan
dehidrasi berat dapat dilihat pada tabel 2.6. (Sudoyo dkk., 2010;
Depkes RI, 2011).

Tabel 2.6. Rencana terapi C untuk penderita diare dengan dehidrasi berat
(Depkes RI, 2011)
Umur
Pemberian 30 ml/kgBB
Pemberian 70 ml/kg BB
dalam
dalam
Bayi < 12 bulan
1 jam
5 jam
Anak >12 tahun
1 jam
3 jam

Jika pasien dapat minum, berikan cairan rehidrasi oral sebanyak 5


ml/kgBB/jam sambil tetap diberikan cairan intravena selama 3-4 jam.
Setelah 6 jam pasang pipa nasogastrik dan berikan cairan sebanyak 20
ml/kgBB/jam selama 6 jam, setelah itu lakukan penilaian ulang derajat
dehidrasi (Depkes RI, 2011).

23

Cairan rehidrasi oral yang tersedia di pasaran dalam bentuk oralit yang
dikemas dalam bentuk serbuk. Terdapat 2 jenis kemasan serbuk oralit,
satu larutan yang diencerkan dengan larutan 200 cc, dan satu lagi
dengan 1 liter. Jika tidak tersedia oralit dapat diberikan cairan rumah
tangga berupa air tajin, sup, dan larutan gula dan garam (Sudoyo dkk.,
2010; Depkes RI, 2011).

WHO (2006) mengeluarkan cairan rehidrasi oral terbaru yang


komposisinya berbeda dengan oralit, cairan rehidrasi oral ini memiliki
kandungan glukosa dan garam yang lebih rendah dari oralit biasa.
Gabungan antara cairan rehidrasi oral baru ini dan suplemantasi zinc
yang adekuat terbukti menurunkan mortalitas bayi akibat diare
(Depkes RI, 2011).

Tabel 2.7. Komposisi cairan rehidrasi oral WHO 2006 (Depkes RI, 2011)
Kandungan
Gram/liter
%
Kandungan
Sodium klorida
2,6
12,683
sodium
Glukosa
13,5
65,854
Klorida
Potasium klorida
1,5
7,317
Glukosa
Trisodium sitrat dihidrat
2,9
14,146
Potassium
Sitrat
Total
20,5
100,00
Osmolaritas total

Liter
75
65
75
20
10
245

8. Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Diare di


Puskesmas
Program pencegahan dan pemberantasan penyakit diare (P2Diare) adalah
salah satu usaha pokok di puskesmas. Secara umum program P2D
meliputi penemuan kasus dini, diagnosis, pengobatan, surveilans,

24

penyediaan air bersih, distribusi logistik, komunikasi informasi dan


edukasi dan laboratorium (Depkes RI, 1999; Depkes RI, 2011).

Program P2D ini dilaksanakan untuk menurunkan angka kesakitan dan


kematian serta penanggulangan KLB yang dilaksanakan dengan
mengintensifkan peningkatan mutu pelayanan, meningkatkan kerja sama
lintas program dan lintas sektoral terkait serta meningkatkan partisipasi
masyarakat secara luas anatara lain melalui organisasi profesi dan LSM di
pusat maupun daerah (Depkes RI, 1999).

Kegiatan-kegiatan dalam program P2D adalah sebagai berikut:


1. Pendekatan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) yang bertujuan
untuk

meningkatkan

pengetahuan,

kesadaran,

kemauan,

dan

keterampilan masyarakat mengenai penganggulangan penyakit diare


sehingga angka kemartian dan kesakitan karena diare dapat dicegah.
Sasaran utama KIE adalah masyarakat
a. Tatalaksana pasien diare di rumah
i.

Meningkatkan pemberian cairan rumah tangga seperti kuah


sayur, air tajin, larutan gula garam atau oralit terutama untuk
dehidrasi.

ii.

Melanjutkan pemberian makanan yang lunak dan tidak


merangsang serta makanan ekstra sesudah diare

iii.

Membawa pasien diare ke sarana kesehatan, bila dalam tiga hari


tidak membaik, atau terdapat tanda berikut: BAB cair berkali-

25

kali, muntah berulang-ulang, rasa haus yang nyata, makan atau


minum sedikit, demam, tinja berdarah.
b. Pencegahan penyakit
i.

Meningkatkan pemberian ASI

ii.

Memperbaiki pemberian makanan pendamping ASI

iii.

Menggunakan air bersih yang cukup

iv.

Mencuci tangan dengan sabun

v.

Menggunakan jamban dan membuang tinja bayi dengan benar

vi.

Imunisasi campak

2. Tatalaksana diare di sarana kesehatan


a. Rehidrasi oral dengan oralit
b. Pemberian cairan intravena dengan RL untuk pasien dengan
dehidrasi berat dan tidak dapat minum
c. Penggunaan antibiotika secara rasional
d. Nasihat tentang meneruskan pemberian makanan, rujukan dan
pencegahan
3. Penanggulangan KLB
a. Pengamatan intensif dan pelaksanaan sistem kewaspadaan dini
(SKD)
b. Penemuan kasus secara aktif
c. Pembentukan pusat rehidrasi dan Tim Gerak Cepat (TGC)
d. Penyediaan logistik saat KLB
e. Penyelidikan terjadinya KLB

26

f. Pemutusan rantai penularan penyebab KLB

4. Pancatatan dan pelaporan


Pencatatan dan pelaporan dilakukan berdasarkan golongan umur dan
dilakukan berjenjang dalam kurun waktu harian, bulanan, triwulan,
semesteran dan tahunan. Tujuannya adalah untuk mencatat, menilai,
dan melaporkan hasil kegiatan penangulangan diare yang telah
dilakukan serta sebagai acuan dalam penyusunan rencana kegiatan
tahun berikutnya.

5. Peran serta masyarakat


Peran serta masyarakat dilakukan antara lain melalui pelatihan kader
tentang pemberantasan diare, hingga kader mampu melakukan
penyuluhan kepada masyarakat tentang kesehatan perorangan,
lingkungan dan air, mendeteksi dini kasus diare, melarutkan oralit dan
memberikannya, mengobati penderita diare dan melakukan rujukan.

Pada program P2D, terdapat kebijakan mutu bertujuan untuk


memberikan arah dalam penanggulangan diare di wilayah kerja
puskesmas. Terdapat beberapa target yang harus dicapai atau sasaran
mutu seperti di bawah ini: (Depkes RI, 1999)
1. 100% Puskesmas melaporkan kasus diare tepat waktu
2. Angka kematian 0%
3. KLB diare 0%

27

4. 100% masyarakat terlayani air bersih


5. 100% Puskesmas Kecamatan dan Kelurahan mampu melakukan
rehidrasi intravena
6. Angka kesakitan <1% (50/1000 penduduk tahun 2005)
7. 100% kader terlatih tentang penanganan penderita diare
8. 100% penderita diare tertangani
9. 100% oralit tersedia di kader miminal 10 sachet/200ml
10. 100% medis dan paramedis melakukan tatalaksana diare (MTBS)
11. 100% ketepatan diagnosis
12. 100% cakupan imunisasi campak
13. 100% puskesmas memiliki protab tatalaksana diare
14. 100% penderita diare diobati dan menerima oralit
15. 100% PDAM bebas kuman
16. 100% Puskesmas Kecamatan dan Kelurahan memiliki pojok oralit
17. 100% Puskesmas Kecamatan memiliki klinik sanitas
18. 100% masyarakat menggunakan jamban pada daerah kumuh

Pelaksanaan

P2D

di

Puskesmas

kecamatan

maupun

kelurahan

membutuhkan sumber daya manusia, yaitu dokter umum sebagai


pemeriksa dan perawat sebagai wasor program dan petugas perawatan
kesehatan masyarakat, dan analis sebagai pemeriksa laboratorium.
Pembiayaan P2D bersumber dari anggaran APBN, APBD tingkat I dan
II, BLN, LSM, dan swadana masyarakat (Depkes RI, 1999).

28