Anda di halaman 1dari 16

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Cortisol merupakan glukokortikoid utama didalam tubuh manusia. Sindroma Chusing
merupakan suatu kumpulan gejala yang disebabkan oleh adanya peningkatan sekresi kortisol
oleh berbagai sebab. Sindroma Chusing ini ditandai dengan adanya peningkatan berat badan
(obesitas), distribusi lemak pada bagian leher (buffalo hump) dan di wajah (moon face), striae
berwarna ungu pada kulit, osteoporosis, hiperglikemia, hipertensi, dan lain sebagainya.
Prevalensi sindroma Chusing ini pada laki-laki sebesar 1 : 30.000 dan pada perempuan 1 :
10.000. Angka kematian ibu yang tinggi pada sindroma Cushing disebabkan oleh hipertensi berat
(67%), diabetes gestasional (30%), superimposed preeklamsia (10%) dan gagal jantung sekunder
karena hipertensi berat (10%). Kematian ibu telah dilaporkan sebanyak 3 kasus dari 65
kehamilan dengan sindroma Cushing, dua kasus disebabkan gagal jantung dan 1 kasus infeksi
(Hernaningsih dan Soehita, 2005).
Sindroma Chusing ini dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti: tumor hipofisis, sekresi
ACTH ektopik oleh organ nonendokrin, tumor adrenal (adenoma dan karsinoma), dan
penggunaan obat steroid dosis tinggi dan jangka lama pada terapi penyakit kronis seperti arthritis
rheumatoid, asma bronchial, dan lain sebagainya. Penetapan diagnosis sindroma Chusing
berdasarkan penyebabnya perlu ditegakkan untuk mempermudah melakukan terapi pada pasien.
Seperti yang terdapat dalam skenario dimana terdapat pasien yang kemungkinan menderita
sindroma Chusing namun untuk menentukan penyebabnya harus dilakukan pemeriksaan
penunjang lainnya.
B.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Tujuan
Untuk mengetahui definisi sindrom cushing
Untuk mengetahui etiologi sindrom cushing
Untuk mengetahui patofisiologi sindrom cushing
Untuk mengetahui manifestasi klinis sindrom cushing
Untuk mengetahui penatalaksanaan sindrom cushing
Untuk mengetahui asuhan keperawatan sindrom cushing

II. TINJAUAN PUSTAKA


A. Pengertian
Definisi sindrom chusing dari beberapa sumber, antara lain :
- Syndrome Chusing: Gambaran klinis yang timbul akibat peningkatan glukotirid plasma jangka
panjang dalam dosis farmakologik (Latrogen).(William. F. Ganang, Fisiologis Kedokteran, Hal
364)
- Syndrome Chusing: Di sebabkan oleh sekresi berlebihan steroid adrenokortial, terutama
kortisol. (IPD.Edisi III jilid I, hal 826)
- Syndrome Chusing: Akibat rumatan dari kadar kortisol darah yang tinggi secara abnormal
karena hiperfungsi korteks adrenal. (Ilmu Kesehatan anak, Edisi 15 hal 1979).
B. Etiologi
Sindrom cushing disebabkan oleh sekresi kortisol atau kortikosteron yang berlebihan,
kelebihan stimulasi ACTH mengakibatkan hiperplasia korteks anal ginjal berupa adenoma
maupun carsinoma yang tidak tergantung ACTH juga mengakibatkan sindrom cushing.
Demikian juga hiperaktivitas hipofisis, atau tumor lain yang mengeluarkan ACTH. Syindrom
cuhsing yang disebabkan tumor hipofisis disebut penyakit cusing. (buku ajar ilmu bedah, R.
Syamsuhidayat, hal 945)

1.
2.

a.
b.
3.

Klasifikasi penyebab sindrom chusing, antara lain:


Pada sindrom chusing primer, terlalu banyak produksi kortisol yang diakibatkan oleh adenoma
atau karsinoma adrenal.
Pada sindrom chusing sekunder, terlalu banyak produksi kortisol yang diakibatkan oleh
hyperplasia adrenal karena banyak sekali ACTH. Terlalu banyak produksi ACTH dapat
diakibatkan oleh:
Hipofisis mengeluarkan terlalu banyak ACTH karena gangguan hipofisis atau hipotalamus.
Keluarnya ACTH yang berasal dari ektopik non hipofisis (produksi hormone diluar hipofisis)
meningkat, misalnya pada karsinoma bronkogenik, adenoma bronchial, dan karsinoma pancreas.
Pada sindrom chusing iatrogenic, kadar kortisol yang sangat tinggi sebagai akibat terapi
glukokortikoid yang berlangsung lama.

C. Patofiologi
Telah dibahas diatas bahwa penyebab sindrom cushing adalah peninggian kadar
glukokortikoid dalam darah yang menetap. Untuk lebih memahami manifestasi klinik sindrom
chusing, kita perlu membahas akibat-akibat metabolik dari kelebihan glikokorikoid.
Korteks
adrenal
mensintesis
dan
mensekresi
empat
jenis
hormon:
Glukokortikoid. Glukokortikoid fisiologis yang disekresi oleh adrenal manusia adalah kortisol..
Kelebihan glukokortikoid dapat menyebabkan keadan-keadaan seperti dibawah ini:
1. Metabolisme protein dan karbohidrat.
Glukokortikoid mempunyai efek katabolik dan antianabolik pada protein. Menyebabkan
menurunnya kemampuan sel-sel pembentuk protein untuk mensistesis protein, sebagai akibatnya
terjadi kehilangan protein pada jaringan seperti kulit, otot, pembuluh darah, dan tulang. Secara
klinis dapat ditemukan: Kulit mengalami atropi dan mudah rusak, luka-luka sembuh dengan
lambat. Ruptura serabut-serabut elastis pada kulit menyebabkan tanda regang pada kulit
berwarna ungu (striae). Otot-otot mengalami atropi dan menjadi lemah. Penipisan dinding
pembuluh darah dan melemahnya jaringan penyokong vaskule menyebabkan mudah timbul luka
memar. Matriks protein tulang menjadi rapuh dan menyebabkan osteoporosis, sehingga dapat
dengan mudah terjadi fraktur patologis. Metabolisme karbohidrat dipengaruhi dengan
merangsang glukoneogenesis dan menganggu kerja insulin pada sel-sel perifer, sebagai
akibatnya penderita dapat mengalami hiperglikemia. Pada seseorang yang mempunyai kapasitas
produksi insulin yang normal, maka efek dari glukokortikoid akan dilawan dengan meningkatkan
sekresi insulin untuk meningkatkan toleransi glukosa. Sebaliknya penderita dengan kemampuan
sekresi insulin yang menurun tidak mampu untuk mengkompensasi keadaan tersebut, dan
menimbulkan manifestasi klinik DM.
2. Distribusi jaringan adiposa.
Distribusi jaringan adiposa terakumulasi didaerah sentral tubuh (Obesitas). Wajah bulan (moon
face), Memadatnya fossa supraklavikulare dan tonjolan servikodorsal (punguk bison), Obesitas

trunkus dengan ekstremitas atas dan bawag yang kurus akibat atropi otot memberikan
penampilan klasik perupa penampilan Chusingoid.
3. Elektrolit, efek minimal pada elektrolit serum. Kalau diberikan dalam kadar yang terlalu besar
dapat menyebabkan retensi natrium dan pembuangan kalium. Menyebabkan edema, hipokalemia
dan alkalosis metabolik.
4. Sistem kekebalan
Ada dua respon utama sistem kekebalan; yang pertama adalah pembentukan antibody humoral
oleh sel-sel plasma dan limfosit B akibat ransangan antigen yang lainnya tergantung pada reaksireaksi yang diperantarai oleh limfosit T yang tersensitasi. Glukokortikoid mengganggu
pembentukan antibody humoral dan menghambat pusat-pusat germinal limpa dan jaringan
limpoid pada respon primer terhadap anti gen. Gangguan respon imunologik dapat terjadi pada
setiap tingkatan berikut ini: Proses pengenalan antigen awal oleh sel-sel sistem monosit
makrofag Induksi dan proleferasi limfosit imunokompeten. Produksi anti bodi,Reaksi
peradangan Menekan reaksi hipersensitifitas lambat.
5. Sekresi lambung
Sekeresi asam lambung dapat ditingkatkan. Sekresi asam hidroklorida dan pepsin dapat
meningkat. Faktor-faktor protekitif mukosa dirubah oleh steroid dan faktor-faktor ini dapat
mempermudah terjadinya tukak.

6. Fungsi otak
Perubahan psikologik terjadi karena kelebihan kortikosteroid, hal ini ditandai dengan oleh
ketidak stabilan emosional, euforia, insomnia, dan episode depresi singkat.
7. Eritropoesis
Involusi jaringan limfosit, ransangan pelepasan neutrofil dan peningkatan eritropoiesis. Namun
secara klinis efek farmakologis yang bermanfaat dari glukokortikoid adalah kemampuannya
untuk menekan reaksi peradangan. Dalam hal ini glukokortikoid: Dapat menghambat hiperemia,
ekstra vasasi sel, migrasi sel, dan permeabilitas kapiler. Menghambat pelapasan kiniin yang
bersifat pasoaktif dan menekan fagositosis. Efeknya pada sel mast; menghambat sintesis
histamin dan menekan reaksi anafilaktik akut yang berlandaskan hipersensitivitas yang
dperantarai anti bodi. Penekanan peradangan sangat deperlukan, akan tetapi terdapat efek anti
inflamasi yang merugikan penderita. Pada infeksi akut tubuh mungkin tidak mampu melindungi
diri sebagai layaknya sementara menerima dosis farmakologik. (Sylvia A. Price; Patofisiologi,
hal 1090-1091)
D.
1.
2.
3.

Manifestasi Klinis
Rambut kepala menjadi tipis
Wajah bulan (moon face)
Perubahan-Perubahan pada kulit

4. Buffalo hump
5. Hipertensi
6. Disfungsi Gonad
7. Gangguan Psikologis
8. Kelemahan Otot, Mudah lelah
9. Osteoporosis akibat Katabolisme Protein yang berlebih
10. Haus dan poliuri
11. Gangguan tidur akibat dhiural kortisol
12. Nyeri punggung
E. Test Diagnostik
1. CT scan
Untuk Menunjukkan pembesaran adrenal pada kasus syndrome cusing
2. Photo scaning
3. Pemeriksaan sidik nuklir
Kelenjar adrenal mengharuskan Pemberian kolesterol radio aktif secara inra vena
4. Pemeriksaan elektro kardiografi
Untuk menentukan adanya hipertensi. (Endokrinologi edisi 4 hal 437)
F. Penatalaksanaan
Karena lebih banyak Sindrom Cushing yang disebabkan oleh tumor hipofisis dibanding
tumor korteks adrenal, maka penanganannya sering ditujukan kepada kelenjar hipofisis. Operasi
pengangkatan tumor melalui hipofisektomi transfenoidalis merupakan terapi pilihan yang utama
dan angka keberhasilannya sangat tinggi (90%). Jika operasi ini dilakukan oleh tim bedah yang
ahli. Radiasi kelenjar hipofisis juga memberikan hasil yang memuaskan meskipun di perlukan
waktu beberapa bulan untuk mengendalikan gejala. Adrenalektomi merupakan terapi pilihan bagi
pasien dengan hipertropi adrenal primer.
Setelah pembedahan, gejala infusiensi adrenal dapat mulai terjadi 12 hingga 48 jam
kemudian sebagai akibat dari penurunan kadar hormon adrenal dalam darah yang sebelumnya
tinggi. Terapi penggantian temporer dengan hidrokortison mungkin diperlukan selama beberapa
bulan sampai kelenjar adrenal mulai memperlihatkan respon yang normal terhadap kebutuhan
tubuh. Jika kedua kelenjar diangkat (adrenalektomi bilateral), terapi penggantian dengan hormon
hormon korteks adrenal harus dilakukan seumur hidup.
Preparat penyekat enzim adrenal (metyrapon, aminoglutethhimide, mitotane, ketokonazol)
dapat digunakan untuk mengurangi hiperadrenalisme jika sindrom tersebut disebabkan oleh
sekresi ektopik ACTH oleh tumor yang tidak dapat dihilangkan secara tuntas. Pemantauan yang
ketat diperlukan karena dapat terjadi gejala insufisuensi adrenal dan efek samping akibat obat
obat tersebut.
Jika Sindrom Cushing merupakan akibat dari pemberian kortikosteroid eksternal
(eksogen), pemberian obat tersebut harus diupayakan untuk dikurangi atau dihentikan secara

bertahap hingga tercapai dosis minimal yang adekuat untuk mengobati proses penyakit yang ada
dibaliknya (misalnya, penyakit otoimun serta alergi dan penolakan terhadap organ yang
ditransplantasikan). Biasanya terapi yang dilakukan setiap dua hari sekali akan menurunkan
gejala Sindrom Cushing dan memungkinkan pemulihan daya responsif kelenjar adrenal terhadap
ACTH.

ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
- Data Dasar
Pengumpulan riwayat dan pemeriksaan kesehatan difokuskan pada efek tubuh dari hormone
korteks adrenal yang konsentrasinya tinggi dan pada kemampuan korteks adrenal untuk
berespons terhadap perubahan kadar kortisol dan aldosteron. Riwayat kesehatan mencakup
informasi tentang tingkat aktivitas klien dan kemampuan untuk melakukan aktivitas rutin dan
perawatan diri. Detailnya pengkajian keperawatan untuk klien dengan sindrom cushing
mencakup:
- Data Subjectif, berikut hal yang harus dikaji:
Perubahan proporsi tubuh, berat badan,distribusi bulu tubuh, rambut kepala rontok atau menipis,
pigmentasi kulit, memar, ekimosis, dan luka sulit sembuh

Nyeri tulang, terutama nyeri punggung


Riwayat infeksi pada kulit dan saluran pernapasan
Data neurologis, misalnya tingkah laku, konsentrasi ingatan
Asupan makanan dan cairan selama 24 jam
Peningkatan rasa haus dan nafsu makan
Perubahan haluaran urine
Data seksualitas. Wanita mengalami perubahan menstruasi, ciri-ciri seksualitas sekunder, dan
libido. Pria mengalami perubahan libido dan ciri-ciri seksualitas sekunder
Pengetahuan mengenai proses penyakitnya dan diagnosis pengobatan
Data objektif, berikut hal yang harus dikaji:
Adanya moon face, buffalo hump, obesitas trunkus, lengan dan kaki kurus, hiperpigmentasi,
striae, memar, ekimosis, dan luka yang belum sembuh.
Neurologis : ketepatan emosi dengan situasi, konsentrasi, dan ingatan.
Kardiovaskuler : tekanan darah, berat badan, nadi, adanya edema, dan distensi vena jugularis.
Nutrisi : asupan makanan dan cairan
Musculoskeletal : massa otot, kekuatan, dan kemmpuan berdiri dari posisi duduk
Eliminasi : haluaran urine dan adanya glukosuria
Seksualitas : cirri-ciri seksual sekunder, jerawat, distribusi bulu-bulu tubuh, dan rambut kepala.

Pemeriksaan Diagnostik
Uji diagnostic untuk gangguan ini adalah memeriksa adanya peningkatan kortisol serum,
hilangnya irama diurnal dari produksi kortisol, CT Scan, dan ultrasuara untuk mengetahui
adanya tumor adrenal. (Standar Perawatan Pasien; Susan Martin Tucker, hal, 342)
Pada sindrom chusing iatrogenic, uji diagnostic yang dilakukan adalah:
a. Uji terhadap darah dilakukan untuk mengetahui:
Penurunan kadar kalium serum (hipokalemia)
Peningkatan natrium serum (hipernatremia)
Peningkatan bikarbonat serum dan pH (alkalosis)
Penurunan magnesium serum (hipomagnesemia)
Peningkatan aldosteron plasma
b. Uji terhadap urine dilakukan untuk mengetahui :
Penurunan berat jenis urine (urine encer)
Peningkatan protein urine
Peningkatan aldosteron urine.

Penyimpangan KDM

Analisa Data
Data Pendukung
DS :
- Kelemahan secara
menyeluruh
DO :
- kemampuan berdiri
dari posisi duduk
- aktivitas dibantu
keluarga dan perawat
- tirah baring
/imobilisasi
DS :
- Klien mengatakan ada
memar dan lukanya
sulit sembuh
DO :
- Terdapat memar dan
ada luka yang belum
sembuh
- Kelembapan kulit
- Perubahan pigmentasi
- Perubahan turgor
DS :
- penolakan terhadap
berbagai perubahan
actual
- perasaan negative
mengenai bagian tubuh
(perasaan tidak
berdaya)
- keputusasaan atau
tidak ada kekuatan
DO :
- adanya moon face,
buffalo hump, obesitas
- perubahan struktur

Etiologi
- Tumor adrenokortikal,
hyperplasia adrenal, dan
tumor ekstra pituitary
- sekresi kortisol
- kadar kortisol dalam
darah
- produksi protein
- pembentukan energy
- Intoleransi aktivitas

Masalah
Intoleransi Aktivitas

- Tumor adrenokortikal,
hyperplasia adrenal, dan
tumor ekstra pituitary
- sekresi kortisol
- kadar kortisol dalam
darah
- produksi protein
- protein kulit hilang
- kerusakan integritas kulit

Kerusakan integritas
kulit

- Pemakaian obat
Gangguan citra
glukokortikoid dalam
tubuh
jangka panjang
- kadar kortisol dalam
darah
- distribusi jaringan
adipose
- Moon face, buffalo hump
- Gangguan citra tubuh

dan atau fungsi actual


DS :
- Tumor adrenokortikal,
- Perubahan haluaran
hyperplasia adrenal, dan
urine
tumor ekstra pituitary
DO :
- sekresi kortisol
- Haluaran urine dan
- kadar kortisol dalam
adanya glukosuria
darah
- Retensi natrium
- Penumpukan cairan
- Gangguan keseimbangan
cairan
DS :
- Pemakaian obat
- melaporkan nyeri baik glukokortikoid dalam
secara verbal maupun
jangka panjang
nonverbal
- kadar kortisol dalam
DO :
darah
- posisi untuk
- sekresi lambung
mengurangi nyeri
- ulkus
- tingkah laku ekspresif - nyeri
(gelisah, meringis, dan
mengeluh)
- perubahan dalam
nafsu makan
DS :
- Tumor adrenokortikal,
- Keterbatasan
hyperplasia adrenal, dan
kemampuan untuk
tumor ekstra pituitary
melakukan
- sekresi kortisol
ketramppilan motorik - kadar kortisol dalam
halus
darah
DO:
- produksi protein
- Keterbatasan ROM
- protein jaringan hilang
- atropi otot
- resti cedera

B. Diagnosa

Kelebihan volume
cairan

Nyeri

Resti Cedera

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan dan perubahan metabolisme protein.


Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan edema.
Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan fisik
Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kelebihan natrium
Nyeri berhubungan dengan meningkatnya sekresi lambung
Resti cedera berhubungan dengan atropi otot

C. Perencanaan
No.
Diagnosa
1.
Intoleransi aktivitas
berhubungan dengan
kelemahan dan perubahan
metabolisme protein. Yang
ditandai dengan :
DS :
- Kelemahan secara
menyeluruh
DO :
- kemampuan berdiri dari
posisi duduk
- aktivitas dibantu keluarga
dan perawat
- tirah baring/imobilisasi

2.

Kerusakan integritas kulit


berhubungan dengan
edema, yang ditandai
dengan :
DS :
Klien mengatakan ada
memar dan lukanya sulit
sembuh
DO :
Terdapat memar dan ada
luka yang belum sembuh
Kelembapan kulit
Perubahan pigmentasi
Perubahan turgor

Tujuan
Setelah tindakan
keperawatan diharapkan
toleransi aktivitas baik,
dengan kriteria hasil :
klien menunjukkan
kemampuan untuk
melakukan aktivitasnya
sendiri

Intervensi
Kaji tanda-tanda
intoleransi
Bantu untuk memilih
aktivitas yang sesuai
dengan kemampuan
fisik, psikologis dan
social
Bantu aktivitas klien
yang berarti
Pastikan lingkungan
aman bagi
keberlangsungan
gerakan-gerakan yang
melibatkan sejumlah
besar otot-otot tubuh

Setelah dilakukan tindakan - Inspeksi kulit terhadap keperawatan diharapkan


perubahan warna, turgor,
keadaan kulit membaik,
vaskular.
dengan kriteria hasil
- Pantau masukan cairan
Memar hilang
dan hidrasi kulit dan
Luka sembuh
membran mukosa.
Turgor kulit baik
- Inspeksi area tergantung
Pigmentasi kulit normal
edema.
- Berikan perawatan kulit.
Berikan salep atau krim. - Anjurkan menggunakan
pakaian katun longgar. - Kolaborasi dalam
pemberian matras busa.

R
Adanya tanda
aktivitas, dap
penentuan int
Aktivitas yan
kemampuan k
mengurangi p
kekuatan otot
Mengurangi p
yang berlebih
cepat capai
Mencegah ja
cedera lainny
jaringan lunak
terbentur pada
yang tajam.

Menandakan
buruk/kerusak
menimbulkan
infeksi.
Mendeteksi a
dehidrasi/hidr
mempengaruh
integritas jarin
seluler.
Jaringan edem
rusak/robek.
Lotion dan sa
diinginkan un
kering, robek

3.

Gangguan citra tubuh


Setelah dilakukan tindakan berhubungan dengan
keperawatan diharapkan
perubahan penampilan
citra tubuh kembali,dengan fisik, yang ditandai
kriteria hasil :
dengan:
- Dapat membicarakan diri
DS :
sendiri secara positif
- penolakan terhadap
- Klien mengungkapkan
berbagai perubahan actual perasaan dan metode
- perasaan negative
koping untuk persepsi
mengenai bagian tubuh
negatif tentang perubahan
(perasaan tidak berdaya,
penampilan
keputusasaan atau tidak
ada kekuatan
DO :
- adanya moon face,
buffalo hump, obesitas
- perubahan struktur dan
atau fungsi actual

4.

Kelebihan volume cairan


Setelah dilakukan tindakan berhubungan dengan
keperawatan diharapkan
kelebihan natrium, yang
dapat menunjukkan
ditandai dengan :
pulihnya volume cairan,
DS :
dengan criteria hasil :
- Perubahan haluaran urine - Menunjukkan volume
DO :
cairan stabil, dengan
- Haluaran urine dan
keseimbangan pemasukan
adanya glukosuria
dan pengeluaran, berat
edema
badan stabil, tanda vital
dalam rentang normal
- Tak ada edema.
-

- Mencegah iri
langsung dan
evaporasi lem
- Menurunkan
jaringan.
Bina hubungan saling - Dengan hubu
percaya
percaya, klien
Kaji tingkat pengetahuan mengungkapk
pasien tentang kondisi
dan masalahn
dan pengobatan
- Mengidentifi
Diskusikan arti
dan perlunya
perubahan pada pasien. - Beberapa pas
Anjurkan orang terdekat situasi sebaga
memperlakukan pasien
beberapa sulit
secara normal dan bukan perubahan hid
sebagai orang cacat.
peran dan keh
Rujuk ke perawatan
kemampuan c
kesehatan. Contoh:
sendiri.
kelompok pendukung. - Menyampaik
pasien mampu
situasi dan me
mempertahan
diri dan tujua
- Memberikan
untuk manaje
dari perubaha
Ukur masukan dan
- Menunjukan
haluaran, catat
sirkulasi, terja
keseimbangan positif.
perpindahan c
Timbang berat badan tiap terhadap terap
hari.
positif/pening
Awasi tekanan darah.
sering menun
Kaji derajat
cairan lenjut.
perifer/edema dependen - Peningkatan
Awasi albumin serum
biasanya berh
dan elektrolit (khususnya kelebihan vol
kalium dan natrium)
mungkin tidak
Batasi natrium dan
perpindahan c
cairan sesuai indikasi.
vaskuler.

5.

6.

Nyeri berhubungan
Setelah dilakukan tindakan
dengan peningkatan
keperawatan, diharapkan
sekresi lambung, yang
nyeri berkurang/hilang,
ditandai dengan :
dengan criteria hasil:
DS :
- Klien mengatakan nyeri
melaporkan nyeri baik
hilang/berkurang
secara verbal maupun
- menunjukkan postur tubuh
nonverbal
rileks
DO :
- mampu tidur dengan tepat
posisi untuk mengurangi
nyeri
tingkah laku ekspresif
(gelisah, meringis, dan
mengeluh)
perubahan dalam nafsu
makan

Resti cedera berhubungan


dengan atropi otot,yang
ditandai dengan :
DS :
- Keterbatasan kemampuan untuk melakukan
ketrampilan motorik halus DO :
- Keterbatasan ROM
-

- Catat keluhan nyeri,


lokasi, lamanya,
intensitas (skala 0-10)
- Kaji ulang faktor yang meningkatkan dan
menurunkan nyeri
- Berikan makan sedikit
tapi sering sesuai
indikasi untuk pasien
- Berikan obat sesuai
indikasi. Mis, antasida.
-

Setelah dilakukan tidakan keperawatan diharapkan


cedera tidak terjadi, dengan criteria hasil:
Klien bebas dari cedera
jaringan lunak atau fraktur Klien bebas dari area
ekimotik
Klien tidak mengalami
kenaikan suhu tubuh,
kemerahan, nyeri, atau

Perpindahan
jaringan sebag
natrium dan a
albumin dan p
Penurunan al
memperngaru
koloid plasma
pembentukan
Natrium mun
meminimalka
dalam area ek
Nyeri tidak s
ada harus dib
gejala nyeri p
membantuda
diagnosa dan
makanan mem
penetralisir as
menghancurk
gaster. Makan
mencegah dis
gaster.
menurunkan
dengan absorb
menetralisir k

Kaji tanda-tanda ringan - Efek antiinfla


infeksi
dapat mengab
Ciptakan lingkungan
umum inflam
yang protektif
- Mencegah jat
Bantu klien ambulasi
cedera lainny
Berikan diet tinggi
jaringan lunak
protein, kalsium, dan
- Mencegah ter
vitamin D
pada sudut fu
- Meminimalka
otot dan osteo

tanda-tanda infeksi dan


inflamasi lainnya

D. Implementasi
Implementasi merupakan suatu tindakan yang dilakukan langsung pada pasien, keuarga,
dan komunitas berdasarkan rencana keperawatan yang dibuat. Implementasi tindakan
keperawatan disesuaikan dengan rencana tindakan keperawatan (Keliat, 2006).

No
.
1.

2.

3.

Diagnosa

Implementasi

Intoleransi aktivitas
- Mengkaji tanda-tanda intoleransi
berhubungan dengan
- Membantu untuk memilih aktivitas yang
kelemahan dan perubahan sesuai dengan kemampuan fisik,
metabolisme protein.
psikologis dan social
- Membantu aktivitas klien yang berarti
- Memastikan lingkungan aman bagi
keberlangsungan gerakan-gerakan yang
melibatkan sejumlah besar otot-otot
tubuh
Kerusakan integritas kulit - Menginspeksi kulit terhadap perubahan
berhubungan dengan
warna, turgor, vaskular.
edema.
- Memantau masukan cairan dan hidrasi
kulit dan membran mukosa.
- Menginspeksi area tergantung edema.
- Memberikan perawatan kulit.
Memberikan salep atau krim.
- Menganjurkan menggunakan pakaian
katun longgar.
- Melakukan kolaborasi dalam pemberian
matras busa.
Gangguan citra tubuh
- Membina hubungan saling percaya

berhubungan dengan
perubahan penampilan
fisik.

- Mengkaji tingkat pengetahuan pasien


tentang kondisi dan pengobatan
- Mendiskusikan arti perubahan pada
pasien.
- Menganjurkan orang terdekat
memperlakukan pasien secara normal dan
bukan sebagai orang cacat.
- Merujuk ke perawatan kesehatan.
Contoh: kelompok pendukung.

4.

Kelebihan volume cairan - Mengukur masukan dan haluaran,


berhubungan dengan
mencatat keseimbangan positif.
kelebihan natrium.
Menimbang berat badan tiap hari.
- Mengawasi tekanan darah.
- Mengkaji derajat perifer/edema dependen
- Mengawasi albumin serum dan elektrolit
(khususnya kalium dan natrium)
- Membatasi natrium dan cairan sesuai
indikasi.

5.

Nyeri berhubungan dengan- Mencatat keluhan nyeri, lokasi, lamanya,


peningkatan sekresi
intensitas (skala 0-10)
lambung.
- Mengkaji ulang faktor yang
meningkatkan dan menurunkan nyeri
- Memberikan makan sedikit tapi sering
sesuai indikasi untuk pasien
- Memberikan obat sesuai indikasi. Mis,
antasida.

6.

Resti cedera berhubungan - Mengkaji tanda-tanda ringan infeksi


dengan atropi otot.
- Menciptakan lingkungan yang protektif
- Membantu klien ambulasi
- Memberikan diet tinggi protein, kalsium,
dan vitamin D

E. Evaluasi

Evaluasi adalah proses berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan pada
klien. Terdiri atas:
S: Respon subjektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan.
O: Respon objektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan.
A: Analisis ulang atas data subjektif dan objektif untuk menyimpulkan apakah masalah masih
tetap atau muncul masalah baru atau ada data yang kontradiksi dengan masalah yang ada. Dapat
pula membandingkan hasil dengan tujuan
P: Perencanaan atau tindak lanjut berdasarkan hasil analisis pada respons klien yang terdiri dari
tindak lanjut klien, dan tindak lanjut oleh perawat.
Hasil yang diharapkan:
Menurunkan resiko cedera dan infeksi
Bebas fraktur atau cedera jaringan lunak
Bebas daerah ekimosis.
Tidak mengalami kenaikan suhu, kemerahan, rasa nyeri ataupun tanda-tanda lain infeksi serta
inflamasi.
Meningkatkan partisipasi dalam aktivitas perawatan mandiri
Merencanakan aktivitas perawatan dan latihan untuk memungkinkan periode istirahat
Melaporkan perbaikan perasaan sehat.
Bebas komplikasi mobilitas.
Mencapai/mempertahankan integritas kulit.
Memiliki kulit yang utuh tanpa ada bukti adanya luka atau infeksi
Menunjukkan bukti berkurangnya edema pada ekstremitas dan badan
Mengubah posisi dengan sering dan memeriksa bagian kukit yang menonjol setiap hari.
Mencapai perbaikan citra tubuh.
Mengutarakan perasaan tentang perubahan penampilan, fungsi seksual dan tingkat aktivitas.
Mengungkapkan kesadaran bahwa perubahan fisik merupakan akibat dari pemberian
kortikosteroid yang berlebihan.
Memperlihatkan perbaikan fungsi mental.
Tidak adanya komplikasi.
Memperlihatkan tanda-tanda vital serta berat badan yang normal serta bebas dari gejala krisis
addisonian.
Mengidentifikasi tanda-tanda dan gejala hipofungsi korteks adrenal yang harus dilaporkan dan
menyatakan tindakan yang akan diambil pada keadaan sakit serta stress berat.
Mengidentifikasi strategi untuk memperkecil komplikasi sindrom cusing
Mematuhi anjuran untuk pemeriksaan tindakan lanjut. (Susanne c. smeltzer, buku ajar
keperawatan medikal bedah Brunner Suddart, Hal1331).

III. PENUTUP

A. Kesimpulan
Sindrom cushing adalah suatu keadaan yang diakibatkan oleh efek metabolik gabungan
dari peninggian kadar glukokortikoid dalam darah yang menetap. Kadar yang tinggi ini dapat
terjadi secara spontan atau karena pemeberian dosis farmakologik senyawa-senyawa
glukokortikoid.
Sindrom cushing disebabkan oleh sekresi kortisol yang berlebihan, kelebihan stimulasi
ACTH mengakibatkan hiperplasia korteks anal ginjal berupa adenoma maupun carcinoma.
Misalnya adenoma pada hipofisis.
Sindrom cushing juga dapat diakibatkan oleh pemberian glukortikoid jangka panjang
dalam dosis farmakologik (latrogen) atau oleh sekresi kortisol yang berlebihan pada gangguan
aksis hipotalamus-hipofise-adrenal (spontan) pada sindrom cusing spontan, hiperfungsi korteks
adrenal terjadi akibat rangsangan belebihan oleh ACTH atau sebab patologi adrenal yang
mengakibatkan produksi kortisol abnormal.
B. Saran
Bagi mahasiswa keperawatan diharapkan dapat mengerti konsep sindrom cushing serta
dapat melaksanakan asuhan keperawatan sesuai dengan prosedur yang ada.

DAFTAR PUSTAKA
http://alam414m.blogspot.com/2011/06/askep-sindrom-cushing.html
http://agungadiaryono.blogspot.com/2012/05/sindrom-cushing-makalah.html#.UVb03lLM6o8
http://baioe.wordpress.com/2009/04/25/3/
http://dhaniekim.blogspot.com/2011/05/askep-cushings-sindrom.html
http://geagreen.blog.com/2011/10/07/sindrom-cushing-hiperkostisolisme/
http://iry4.blogspot.com/p/askep-cuising-sindrom.html
http://medicastore.com/penyakit/3052/Cushing%27s_Syndrome.html