Anda di halaman 1dari 3

Pengaruh Pengajuan Klaim Restitusi Pajak Penghasilan dan Profitabilitas

Perusahaan terhadap

Struktur Modal Kreditur

1.1Latar belakang
Dewasa ini, pajak masih menjadi salah satu sumber penerimaan Negara
Republik Indonesia dalam membiayai semua pengeluaran dalam segala bidang
untuk

mencapai

cita-cita

kesejahteraan

masyarakat,

maka

peran

serta

masyarakat dalam membentuk kesadaran dan rasa peduli untuk membayar


pajak. Pemberian kesempatan serta wewenang kepada Wajib Pajak untuk
melaksanakan kewajiban perpajakannya melalui suatu sistem self assessment
diharapkan akan semakin meningkatkan kesadaran dan kepatuhan Wajib Pajak
sehingga penerimaan negara diharapkan semakin meningkat ditengah-tengah
keadaan perekonomian negara Indonesia yang saat ini masih dalam taraf yang
dapat dikatakan kurang baik.
Pajak Penghasilan (PPh) merupakan salah satu beban pajak yang wajib
dipenuhi atau dibayarkan oleh Wajib Pajak, baik Wajib Pajak orang pribadi
maupun warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang
berhak, badan dan bentuk usaha tetap. Selain kewajiban yang harus dipenuhi
oleh setiap Wajib Pajak, setiap Wajib Pajak juga mempunyai hak-hak yang
dillindungi dalam Undang-Undang Perpajakan, salah satu hak tersebut adalah
hak untuk melakukan kompensasi atau restitusi atau pengembalian pajak.
Dalam

pajak

penghasilan,

restitusi

diartikan

pengembalian

kelebihan

pembayaran pajak
Restitusi dapat diajukan terhadap semua jenis pajak. Restitusi pada pajak
penghasilan terjadi apabila jumlah kredit pajak atau jumlah pajak yang dibayar
lebih besar daripada jumlah pajak yang terutang atau telah dilakukan
pembayaran pajak yang tidak seharusnya terutang, dengan catatan Wajib Pajak
tidak punya hutang pajak lain. Meskipun sebagian besar literatur lebih
mempusatkan restitusi pajak yang dilakukan oleh Wajib Pajak individu, namun
bukan hal yang tidak mungkin bahwa terdapat suatu pengaruh pada pengajuan
klaim atas restitusi pajak diajukan oleh perusahaan-perusahaan atau Wajib Pajak
badan.
Restitusi

pajak

merupakan

sebuah

alat

yang

penting

dalam

suatu

pengambilan kebijakan pajak, di Negara Amerika Serikat bahkan dikatakan The


intent of this policy is to give taxpayers the ability to smooth out changes in

business income, and therefore taxes, over the business cycle1. Untuk
mencapai

keberhasilan

bergantung

pada

kebijakan

tersebut,

perusahaan-perusahaan

Pemerintah
yang

Amerika

mempunyai

Serikat

hak

untuk

mendapatkan restitusi pajak serta menggunakan pengembalian pajak tersebut


untuk menjalankan roda perusahaan. Pada Wajib Pajak badan, restitusi yang
dilakukan

suatu

perusahaan

pasti

berkaitan

dengan

penghasilan

dari

perusahaan tersebut yang akan bervariasi, fluktuatif, dan tidak akan selalu sama
di setiap tahunnya. Ketika tahun pertama, tahun kedua dan tahun ketiga suatu
perusahaan mendapatkan penghasilan yang tinggi, tidak dapat ditetapkan
secara absolut pada tahun berikutnya perusahaan tersebut akan mendapatkan
penghasilan yang tinggi pula. Kemungkinan untuk perolehan penghasilan yang
lebih kecil daripada tahun sebelumnya selalu ada. Dengan demikian, jumlah
pajak yang terutang juga akan menjadi berbeda di setiap tahunnya. Apabila
jumlah pajak yang dibayarkan selama satu tahun
daripada pajak
terjadi

yang

kelebihan

terutang

pembayaran

pada

pajak.

tahun

Atas

ternyata

lebih

besar

tersebut, maka akan

kelebihan

tersebut, sudah

seharusnya perusahaan berhak mengajukan klaim atas suatu restitusi pajak.


Namun, hal berbeda terjadi dimana sebagian perusahaan-perusahaan yang
memenuhi
pembayaran

syarat
pajak

untuk

mendapatkan

penghasilan

malah

pengembalian
tidak

atas

mengajukan

kelebihan

klaim

untuk

mendapatkan restitusi tersebut secara tepat waktu (Cooper and Knittel 2006;
Edgerton 2010; Mahon and Zwick 2015).

Terlebih lagi, restitusi tersebut

dikemudian hari akan diakui sebagai suatu pendapatan perusahaan, kemudian


pendapatan tersebut juga akan mempengaruhi tingkat profitabilitas dari
perusahaan tersebut, yakni kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan
laba. Dengan demikian, perusahaan yang memiliki tingkat profiibilitas yang
tinggi akan memperoleh kredit yang lebih tinggi pula. Namun justru fakta yang
terjadi adalah sebaliknya, dimana perusahaan-perusahaan yang memenuhi
syarat untuk memperoleh restitusi justru tidak mengajukan klaimnya secara
tepat waktu.
1 U.S. Congress, Joint Committee on Taxation, Estimated Budget Effects of The
Chairmans Amendment in The Nature of a Substitute to H.R. 598, The American
Recovery and Reinvestment Tax Act of 2009, 111th Cong., 1st sess., January 22,
2009, JCX-9-09