Anda di halaman 1dari 4

2.

2 Sumber Hukum Islam


2.2.1 Sunnah
Secara etimologi sunnah berarti jalan yang biasa dilalui,
cara

yang

senantiasa

dilakukan,kebiasaan

yang

selalu

dilaksanakan. Secara terminologi sunnah (menurut ulama ushul


fiqh) adalah seluruh yang disandarkan kepada Nabi Muhammad,
baik perkataan, perbuatan maupun persetujuan/penetapan (taqrir).
Ada beberapa istilah yang mempunyai kesamaan makna dengan
sunnah, antara lain :
- Hadits, biasa digunakan hanya terbatas kepada apa yang
-

datang dari Nabi SAW.


Khabar, digunakan terhadap apa yang datang dari selain

Nabi SAW
Atsar, apa yang datang dari sahabat, tabiin dan orang
sesudahnya

Para ulama sepakat bahwa sunnah merupakan sumber hukum


kedua sesudah Al-Quran. Hal ini berdasarkan pada QS. Ali Imran :
31; Al-Nisa:59; Al-Hasyr : 7; Al-Ahzab : 21; dan Hadist Rasul
yang artinya, sesungguhnya padaku telah diturunkan Al-Quran
dan sejenisnya (HR. Bukhari-Muslim).
Sebagai sumber hukum, sunnah mempunyai tiga fungsi :
a. Bayan taakid, sebagai penetap dan menegaskan hukumhukum yang terdapat pada Al-Quran.
b. Bayan tafsir, berfungsi sebagai penjelas atau memperinci
atau membatasi yang secara umum dijelaskan Al-Quran.
c. Bayan tasyri , sunnah berfungsi menetapkan suatu hukum
yang secara jelas tidak disebutkan dalam Al-Quran.
2.2.2

Ijtihad
Ijtihad

berarti

mencurahkan

segala

kemampuan

dan

memikul beban. Secara terminologi berarti mencurahkan


kemampuan untuk mendapatkan hukum syara (Hukum Islam)
tentang suatu masalah dari sumber (dalil) hukum yang tafsili/rinci
(Al-Quran dan sunnah). Dengan demikian dapat dipahami bahwa
Ijtihad merupakan suatu upaya (metode) para ulama dalam
merumuskan suatu hukum yang secara rinci tidak disebutkan dalam
Al-Quran maupun sunnah.

Terlepas dari pertentangan apakah Ijma dan Qiyas masuk


dalam sumber Hukum Islam atau tidak, akan dijelaskan beberapa
metode (Ijtihad) yang digunakan ulama dalam memutuskan suatu
hukum.
a. Ijma
Artinya konsensus atau kesepakatan. Menurut ahli ushul
fiqh adalah kesepakatan para imam mujtahid di kalangan umat
islam tentang Hukum Islam pada suatu masa setelah
Rasulullah SAW wafat. Ijma harus memenuhi empat unsur,
yaitu:
- Sejumlah mujtahid terlibat langsung dalam menetapkan
-

suatu konsensus,
Konsensus lahir tanpa memandang perbedaan,
Konsensus diiringi dengan pendapat masing-masing secara

jelas, baik secara tertulis, perkataan dan tindakan.


Konsensus semua mujtahid dapat diwujudkan dalam suatu

keputusan berbentuk hukum.


b. Qiyas
Secara etimologi qiyas berarti ukuran, membandingkan
(menyamakan sesuatu dengan yang lain). Arti terminologinya,
menyamakan sesuatu yang tidak disebut oleh nash (Al-Quran
dan sunnah) dengan sesuatu yang tidak disebut oleh nash.
c. Istishlah (al-mashlahah al-mursalah)
Adalah sifat-sifat yang sejalan dengan tindakan perintah
Allah SWT dan Rasul-Nya serta sejalan dengan tujuan syarat
tetapi tidak terdapat ketentuan yang pasti baik mendukung atau
menolak masalah tersebut oleh nash secara rinci.
d. Istihsan
Berarti memandang dan meyakini baiknya sesuatu. Salah
satu metode penetapan hukum yang dipakai oleh madzhab
Hanafi, Maliki dan hambali, sedangkan madzhab SyafiI
menolak.
e. urf
Yaitu kebiasaan mayoritas umat dalam menilai suatu
perkataan atau perbuatan dijadikan salah satu dalil dalam
menetapkan hukum.
f. Sad-al-adzarai

Yaitu menutup segala cara (jalan) yang menuju kepada


suatu perbuatan yang dilarang/merusak.
g. Istishhab
Arti
etimologinya
meminta
membandingkan

sesuatu

dan

bersahabat

atau

mendekatinya

yaitu

memberlakukan hukum yang sudah ditetapkan sebagaimana


adanya sampai ada dalil yang menunjukan bahwa hukum itu
diubah.
h. Madzhab shahabi
Adalah pendapat para sahabat (baik berupa fatwa maupun
ketetapan hukum di pengadilan) tentang suatu kasus yang
menjadi dasar ulama dalam menentukan hukum.
i. Syaru man qabalana
Merupakan hukum syariat sebelum islam datang yang
berkenaan dengan syariat islam

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Hukum Islam adalah hukum yang bersumber dan menjadi bagian dari
agama islam. Konsepsi hukum islam,dasar, dan kerangka hukumnya ditetapkan
oleh Allah. Hukum tersebut tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan
manusia dan benda dalam masyarakat,tetapi juga hubungan manusia dengan
tuhan, hubungan manusia dengan manusia dengan dirinya sendiri, hubungan
manusia dengan manusia lain dalam masyarakat, dan hubungan manusia dengan
benda alam sekitarnya.
Hukum Islam telah turut serta menciptakan tata nilai yang mengatur
kehidupan umat Islam, minimal dengan menetapkan apa yang harus dianggap

baik dan buruk, apa yang menjadi perintah,anjuran,perkenan dan larangan


agama. Banyak keputusan hukum dan unsur yurispudensial dari Hukum Islam
telah diserap menjadi bagian dari hukum positif yang berlaku. Adanya golongan
yang masih memiliki aspirasi teokratis di kalangan umat Islam dari berbagai
negeri sehingga penerapan Hukum Islam secara penuh masih menjadi slogan
perjuangan terwujudnya Hukum Islam yang sesuai dengan sumber hukum islam.
Apabila umat Islam Indonesia mau melakukan pengkajian hukum Islam,
maka kontribusi umat Islam dalam perumusan hukum nasional yang bernafaskan
hukum Islam semakin besar. Di samping itu, berbagai problematika hukum
Islam yang muncul dalam kehidupan sosial dapat dipecahkan dengan tepat.

DAFTAR PUSTAKA
Tim Dosen PAI. 2012. Buku Daras Pendidikan Agama Islam di Universitas
Brawijaya. Editor cet VII; Subky Hasbi. Malang: Pusat Pembinaan Agama