Anda di halaman 1dari 14

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

Pesatnya laju pertumbuhan ekonomi dan sosial di Indonesia


menyebabkan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan transportasi,
terutama di kota-kota besar. Kurangnya pelayanan dari sistem transportasi
angkutan jalan raya mengakibatkan masyarakat lebih memilih mobil pribadi
sebagai sarana angkutan paling ideal. Dengan meningkatnya pertumbuhan
penduduk, diiringi perkembangan kebutuhan transportasi khusunya mobil
pribadi maka kepadatan lalu lintas akan semakin tidak terbendung.
Kereta api sebagai salah satu media transportasi dapat menjadi
alternative bagi masyarakat
untuk menjalankan aktifitasnya, terutama
transportasi antar kota. Untuk mendukung hal tersebut maka stasiun kereta
api sebagai terminal penumpang sangat memegang peranan penting dalam
menampung dan memberikan kenyamanan bagi para penumpang.
Semenjak PERUMKA berubah status menjadi perseroan terbatas dengan
nama PT. KAI pada tahun 1999 maka perusahaan ini mulai merubah
manajemen pengelolaan perkeretaapian di Indonesia. Dalam hal ini PT. KAI
selain lebih mandiri dalam hal pendanaan karena mengarah pada profit
oriented, juga dituntut untuk selalu meningkatkan mutu pelayanannya
kepada para pengguna jasa kereta api.
Stasiun Surabaya Gubeng merupakan stasiun besar yang
menyediakan layanan bagi penumpang mulai dari kelas ekonomi, bisnis
maupun eksekutif. Tidak seperti stasiun kereta api besar lainnya yang hanya
melayani penumpang kelas bisnis dan eksekutif saja. Karena stasiun ini
harus menyediakan ruang yang cukup untuk menampung penumpang yang
cukup besar. Seiring dengan peningkatan pelayanan penumpang kereta api,
maka stasiun Suarabaya Gubeng menambahkan stasiun baru di sebelah
timur yang berseberangan dengan stasiun lama. Stasiun lama disediakan
bagi penumpang kelas ekonomi dan stasiun baru yang diperuntukan bagi
kelas bisnis dan eksekutif. Biasanya penumpang kelas ekonomi jumlahnya
lebih banyak dibandigkan dengan kelas bisnis dan eksekutif tapi ruang
tunggu yang ada tidak sesuai dengan kondisi yang ada dimana area tunggu
stasiun baru untuk kelas bisnis dan eksekutif lebih luas dibandingkan kelas
ekonomi.
Kurangnya pemeliharaan sarana dan prasarana, terbatasnya
gerbong dan infrastruktur, masalah kecelakaan kereta api, serta
permasalahan
lainnya
telah menyebabkan
citra
pelayanan
dan
manajemen perkeretaapian menurun.. Selama ini, PT KAI cenderung
mengejar kecepatan waktu untuk mengatasi jadwal keterlambatan yang
banyak dikeluhkan konsumen, sehingga seringkali mengabaikan sisi
pelayanan dan keselamatan penumpang. Dari data perusahaan PT Kereta
Api Indonesia jumlah penumpang setiap tahun meningkat sebesar 3%.
Survei yang dilakukan terhadap penumpang kereta api jalur SurabayaBanyuwangi dengan metode kuisioner pada tahun 2002 menunjukkan bahwa
75% penumpang memilih moda kereta api dan 67% kurang puas atas
pelayanan yang diberikan selama ini. Permasalahan permasalahan
ini
merupakan akumulasi dari banyak faktor diantaranya adalah manajemen
yang buruk.

Berdasarkan uraian diatas, maka pada makalah ini penulis bertujuan


untuk mengetahui bagaimana manajemen pengelolaan perjalanan kereta api
yang ada di Stasiun Gubeng.

1.2

Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mendapatkan


gambaran mengenai pelaksanaan manajemen pola perjalanan kereta api
yang diterapkan di Stasiun Gubeng dengan melihat fungsi manajemen yang
ada yaitu perencanaan,pengorganisasian, pengkoordinasian, dan juga
pengawasan terhadap sarana dan prasarana perkeretaapian.

1.3

Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN
Berisi uraian mengenai latar belakang, tujuan, dan sistematika penulisan.
BAB II TEORI MANAJEMEN TRANSPORTASI
Berisi uraian mengenai teori manajemen transportasi, definisi kereta api dan
stasiun, sejarah perkembangan kereta api, organisasi dan sistem
manajemen kereta api.
BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH TRANSPORTASI
Berisi uraian mengenai gambaran umum Stasiun Surabaya Gubeng
BAB IV KONSEPSI MANAJEMEN TRANSPORTASI
BAB V RANCANGAN PENGELOLAAN
BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB II TEORI MANAJEMEN TRANSPORTASI


2.1

Definisi Manajemen Transportasi

Menurut Siregar (1990:3), transportasi diartikan sebagai proses


mengangkut atau membawa sesuatu dari satu tempat ke tempat ke tempat
yang lainnya. Transportasi digunakan untuk memudahkan manusia
dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Dari definisi tersebut dapat
disimpulkan bahwa kegiatan transportasi akan terjadi apabila dipenuhi
beberapa persyaratan dengan adanya muatan yang diangkut, tersedianya
alat angkut yang memadai dan terdapata fasilitas jalan yang akan dilalui.
Manajemen transportasi adalah sebagai usaha dalam mencapai
tujuan yang telah ditentukan dengan penghasilan jasa angkutan oleh
perusahaan angkutan sedemikian rupa, sehingga dengan tarif yang
berlaku dapat memenuhi kepentingan umum. Pada umumnya manajemen
transportasi menurut Nasution (1996:30) menghadapi tiga tugas utama :
1) Menyusun rencana dan progam untuk mencapai tujuan dan misi
organisasi secara keseluruhan.
2) Meningkatkan produktivitas dan kinerja perusahaan.
3) Dampak sosial dan tanggung jawab sosial dalam pengoperasikan
angkutan kota
Menurut Abbas Salim (1993:15), kebutuhan akan jasa transportasi
ditentukan oleh barang dan penumpang yang akan diangkut dari satu
tempat ke tempat yang lain. Untuk mengetahui berapa jumlah permintaan
akan jasa angkutan yang sebenarnya (actual demand) perlu dianalisis
permintaan akan jasa-jasa transportasi sebagai berikut :
a) Peralatan yang digunakan
b) Kapasitas yang tersedia
c) Kondisi alat tehnis yang dipakai
d) Produksi jasa yang dapat diserahkan oelh perusahaan angkut
e) Sistem pembiayaan dalam pengoperasian alat angkut

2.2

Stasiun dan Kereta Api

2.4.1 Definisi Stasiun


Stasiun kereta api menurut Peraturan Menteri Perhubungan
Nomor 33 tahun 2011 didefinisikan sebagai tempat pemberangkatan
dan pemberhentian kereta api. Menurut Undang-undang Republik
Indonesia No.23 Tahun 2007 yang disebutkan dalam pasal 35
bahwa stasiun kereta api berfungsi sebagai tempat kereta api
berangkat atau berhenti untuk melayani naik turun penumpang,
bongkar muat barang, dan/atau keperluan operasi kereta api. Stasiun
untuk keperluan naik turun penumpang sekurang-kurangnya
dilengkapi fasilitas :
1) Keselamatan,
2) Keamanan,
3) Kenyamanan,
4) Naik turun penumpang,
5) Penyandang cacat,
6) Kesehatan,
7) Fasilitas umum.
Stasiun dapat dibagi menurut apa saja yang harus diangkut
atas dua jenis, yakni (Soebianto, 1979) :

1) Stasiun penumpang terdiri atas gedung gedung stasiun


dengan peron peron dan kelengkapan kelengkapan lain
lainnya, digunakan untuk mengangkut orang,bagasi, pos,
dan barang hantaran.
2) Stasiun barang terdiri atas gudang gudang
barang,
tempat muat dan bongkar dan kelengkapan kelengkapan
lainnya yang diperlukan untuk mengangkut barang.
Stasiun dibedakan berdasarkan bentuknya sebagai berikut.
1) Stasiun Kecil, juga disebut perhentian, yang biasanya oleh
kereta api cepat dan kilat dilewati saja. Stasiun-stasiun yang
paling kecil dikenal dengan nama perhentian kecil hanya
diperlengkapi buat menerima dan menurunkan penumpang
saja.

Gambar 1 Stasiun Kecil


Sumber : http://repository.usu.ac.id

2) Stasiun sedang terdapat di tempat tempat yang sedikit


penting dan disinggahi oleh kereta api cepat, dan sekali kali
juga oleh kereta api kilat.

Gambar 2 Stasiun Sedang


Sumber : http://repository.usu.ac.id

3) Stasiun besar terdapat dalam kota kota besar dan


disinggahi semua kereta api. Pengangkutan penumpang
dan barang laimnya dipisahkan sedangkan dapat pula
terdapat suatu stasiun langsiran yang tersendiri.

2.4.2 Definisi Kereta Api


Kereta api adalah sarana transportasi berupa kendaraan
tenaga uap atau listrik yang terdiri atas rangkaian gerbong yang
ditarik oleh lokomotif dan berjalan di atas rel atau rentangan baja.
(KBBI). Dan menurut Peraturan Menteri Perhubungan No. 32 Tahun
2011, Kereta api adalah sarana perkeretaapian dengan tenaga gerak,
baik berjalan sendiri maupun dirangkaikan dengan sarana
perkeretaapian lainnya yang akan ataupun sedang bergerak di
jalan rel yang terkait dengan perjalanan kereta api. Kereta api dibagi
dalam berbagai macam, yaitu :
a. Kereta api penumpang
b. Kereta api barang

c. Kereta api campuran


d. Kereta api kerja
e. Kereta api pertolongan

2.3

Sejarah Perkembangan Kereta Api

Revolusi industri pada abad ke-l8 mengakibatkan perkembangan


peningkatan volume angkutan barang yang besar. Angkutan kereta api
dapat dimanfiatkan karena mampu mengangkut barang dalam rangkaian
gerbong yang panjang. Pada tahun 1803, Trecithic (Inggris) berhasil
membuat kereta uap dan tahun 1829 Stevenson memperkenalkan lokomotif.
Lokomotif mampu menggerakkan 30 gerbong
barang dan kereta
penumpang dengan kecepatan sekitar 12 mil per jam.
Perkembangan teknologi lokomotif dari lokomotif uap menjadi
lokomotif diesel dan lokomotif listrik mengakibatkan kapasitas angkutan
dan kecepatan makin besar. Demikian pula gerbong baran g yang bLntuk
dan kegunaannya disesuaikan dengan muatan yang diangkut. Kereta
penumpang telah disempurnakan keadaannya dan memberikan berbagai
fasilitas untuk meningkatkan kenyamanan penumpang. Lebih jauir dari itu
juga telah digunakan komputer sebagai alat pengendali kecepatan lokomotif,
pengaturan gerbongbarang serta kereta
penumpang, dan lain-lainnya.
Dengan kemajuan teknologl ini, mutu pelayanan jasa kereta api makin baik.
Angkutan kereta api ini banyak dioperasikan di negara-negara seperti
Eropa, India, Amerika serikat, RRC, dan sebagainya. selain itu, patut pula
dicatat keberhasilan Jepang dalam angkutan kereta apinya, terutama
dilam kecepatan dan kenyamanannya. Sebagai contoh kereti api rel Tokaida
baru (Kereta Peluru) dengan kecepatan 270 km/jam dan dikendalikan
secara otomatis serta dengan jarak yang jauh dan biaya yang lebih ringan.
Satu gerbong dapat mengangkut 15 ton (netto) barang. Kapaiitas duduk
gerbong penumpang adalah 90 orang dan lokomotif memiliki kapasitas
tarik dorong sekitar 5000 tenaga kuda (horse poruer). Dewasa ini yang
banyak dipakai adalah lokomotif listrik dan diesel. Gerbong penumpang pun
kini dibuat menarik dengan sistem air conditioning untuk jarak jauh.
Sebelum adanya kenaikan harga minyak (7974) banyak digunakan lokomotif
listrik dan diesel, karena penggunaan dan perawatannya
yang lebih
sederhana dibandingkan dengan Iokomotif uap. Tetapi sejak kenaikan
harga bahan bakar minyak pada waktu itu di beberapa negara telah
diusahakan kembali pengoperasian lokomotif uap.penggunaan dan
perawatannya yang lebih sederhana dibandingkan dengan Iokomotif uap.
Tetapi sejak kenaikan harga bahan bakar minyak pada waktu itu di beberapa
negara telah diusahakan kembali pengoperasian lokomotif uap.
Kereta api sebenarnya dapat menyelenggarakan rencana-rencana
perjalanan secara
teratur dan dapat diandalkan (reguler and reliable
schedule), artinya tidak banyak tergantung pada cuaca, kecuali badai,
topan, atau banjir. Tingkat keselamatannya pun tinggi hingga adanya
jaminan barang-barang sampai di tujuan dalam keadaan baik.
Kereta api sangat
fleksibel dalam pengiriman barang, artinya
gerbong-gerbong tambahan dapat dikirimkan ke daerah-daerah tertentu
pada waktu musim panen atau menjelang hari raya seperti lebaran atau
natal untuk angkutan barang yang lebih besar dari keadaan normal.
Kereta api dapat menerima pengiriman-pengiriman yang sedikit, sehingga

seseorang tidak perlu menyewa satu gerbong (car load), tetapi dapat
juga menyewa kurang dari satu gerbong (less than car load) tanpa menunda
jadwal keberangkatan.
Sumbangan kereta api bagi perkembangan ekonomi dan masyarakat
sangat besar. Kereta api yang memulai angkutan barang dalam jumlah yang
besar dengan biaya yang rendah sehingga merangsang pertumbuhan
industri, pertambangan,
perdagangan,
dan kegiatan
lainnya di
masyarakat. Banyak kota-kota tumbuh dan berkembang setelah adanya
jaringan kereta api. Jenis moda ini juga merangsang pertumbuhan angkutan
jalan raya, sungai, danau, dan penyeberangan.

2.4

Organisasi dan Sistem Manajemen Perkeretaapian

2.4.3 Organisasi Perusahaan Kereta Api


Lingkup kegiatan perusahaan kereta api sangat luas. Wilayah
operasinya sampai ribuan kilometer, sarana dan prasarana yang
dimiliki dan dioperasikan sangat banyak tersebar di seluruh wilayah
operasi, muatan yang diangkut dalam satu tahun mencapai puluhan
juta ton dan jutaan penumpang. Karena itu perusahaan kereta api
ditandai oleh organisasinya yang luas dan kompleks, namun
dihadapkan dengan hat-hal kecil yang harus ditangani yang
berhubungan dengan masalah pemeliharaan, pengawasan dan
perbaikan peralatan dalam pelaksanaan kegiatan operasinya. Bentuk
organisasinya meluas secara horizontal dan vertikal. Meluas secara
horizontal dalam bentuk luasnya
lingkup pelayanannya kepada
masyarakat dan luasnya wilayah operasi. Meluas secara vertikal
berarti perusahaan memiliki unit-unit pelaksana yang harus
melakukan pengoperasian, pemeliharaan, dan pengawasan peralatan
yang demikian banyak ragam dan jenisnya, sehingga memenuhi
persyaratan beroperasi dengan lancar, aman, dan efisien.
Untuk itu diperlukan tenaga kerja yang ahli dan terlatih di
bidang jalan kereta api, jembatan, bengkel, telekomunikasi, sinyal,
administrasi, dan sebagainya. Tenaga kerja yang diperlukan mulai
dari tenaga manajer yang berpengetahuan dan mempunyai
kemampuan organisasi yang luas sampai kepada tenaga bengkel
yang terlatih untuk memperbaiki segala macam peralatan kereta api.

2.4.4 Sistem Manajemen Perkeretaapian


Perkiraan kebutuhan angkutan kereta api agar dapat dicapai
sesuai sasaran dalam kurun waktu tertentu, diperlukan fungsifungsi manajemen utama, dalam hal
ini fungsi
perencanaan,
pengorganisasi,
pelaksanaan, dan pengendalian
harus dapat
diterapkan. Dukungan terhadap fungsi-fungsi tersebut melibatkan
sistem informasi manajemen untuk mampu diketahui di seluruh
tingkat manajemen, seperti terlihat pada Gambar di bawah. Fungsi
utama pada fungsi manajemen tersebut meliputi alokasi sumber
(finansial,tenaga kerja, peraiatan dan energi), Inventori dan
pembagian sumber angkutan (peralatan operasi, peralatan bantu
operasi, tenaga kerja), pelaksanaan operasi (pengendalian lintas),
pengawasan dan evaluasi angkutan (pengawasan rute, evaluasi).
Rincian dari masing-masing dapat dilihat dalam Gambar xx.

Gambar 3 Fungsi Manajemen dan Informasi Operasi Kereta Api


Sumber: Soedjono Kramadibrata, Pola pengembangan Transportasi
Perkeretaapian, halaman 51

BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI


3.1

Sejarah Stasiun Surabaya Gubeng

3.2

Fasilitas Umum di Stasiun Surabaya Gubeng

10

BAB IV KONSEPSI MANAJEMEN TRANSPORTASI


4.1

Organisasi Pengelolaan Stasiun Gubeng

4.2

Manajemen Perjalanan Kereta Api

11

BAB V RANCANGAN PENGELOLAAN

12

BAB VI PENUTUP
6.1

Kesimpulan

6.2

Rekomendasi

13