Anda di halaman 1dari 12

TUGAS 5

PENGANGGARAN MODAL ( LANJUTAN 3)


DOSEN : Tetty Lasniroha Sarumpaet, S.E., M.Ak

Kelompok : 7
Kelas : C
Ari Sudrajat (0112U093)
Nur Fitria Lisdiana (0112U132)
Khansa Aghnia Zhafir (0112U373)
Tanggal Pengumpulan : 4 Maret 2014

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS WIDYATAMA BANDUNG
TAHUN AKADEMIK 2013-2014
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadiran Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan petunjuk-Nya
sehingga kelompok kami dapat menyelesaikan makalah Manajemen Keuangan Lanjutan,
yang mana makalah ini dibuat dengan bertujuan untuk memenuhi tugas Manajemen
Keuangan Lanjutan di Univeritas Widyatama.
Kelompok kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan keterbatasan dalam
penyajian dalam makalah ini. Oleh karena itu, kelompok kami mengharapkan kritik dan saran
yang membangun dari pembaca makalah demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah
yang kami buat ini dapat bermanfaat dan menambah ilmu pembacanya.
Demikian makalah ini disusun oleh kelompok kami, apabila ada kata-kata yang
kurang berkenan dan banyak terdapat kekurangan, kami memohon maaf yang sebesarbesarnya.

Bandung, 4 Maret 2014

Penulis

BAB I

PEMBAHASAN
1.1 Penjatahan Modal (Capital Rationing)
Penjatahan Modal (Capital Rationing) adalah Suatu proses tentang bagaimana
memilih alternative investasi yang tersedia, sehingga modal dapat digunakan dengan profit
maksimal dapat diperoleh. Atau pemberian batas oleh perusahaan pada jumlah yang akan
dikeluarkan untuk capital budgeting.
Alasan perlunya capital rationing :
1. Manajemen berpikir bahwa kadang-kadang kondisi pasar merugikan (tingkat bunga
tinggi, harga saham jatuh).
2. Kurangnya manajer yang memenuhi kualifikasi untuk menjalankan proyek.
3. Terbatasnya jumlah modal yang dimiliki, sedangkan sektor investasi terdiri dari
beberapa alternatif.
4. Adanya kaitan antara alternatif yang satu dengan yang lain dalam bentuk :
1. Independent (berdiri sendiri).
2. Mutually exlusive (memilih salah satu).
3. Dependent atau contingent (menerima satu harus menerima yang lain ).
1.2

Penganggaran Modal Dalam Keadaan Inflasi


Pengaruh umum teori keuangan maupun praktek pengambilan keputusan keuangan

telah menjadikan ketidak stabilan ekonomi khususnya mengenai harga, hal ini terbukti pada
ekonomi Amerika Serikat sejak pertengahan tahun 1960-an. Inflasi pada beberapa tahun
silam tidak menjadi masalah ekonomi makro yang utama, tapi ini adalah momok,
sebagaimana didemonstrasikan oleh Fed akhir-akhir ini dengan meningkatnya tingkat suku
bunga, tidak pernah menjadi agenda bagi pengambil keputusan keuangan. Ketidak stabilan
ekonomi makro mengharuskan dimana harapan mengenai tingkat inflasi di masa yang akan
datang digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan dimana modal

proyek akan diambil oleh perusahaan. Arus kas nominal menentukan derajat profitabilitas.
Bagaimanapun juga, dalam keputusan anggaran modal baik konsep riil dan nominal harus
dipertimbangkan. Tujuan dari makalah ini adalah untuk melanjutkan diskusi peran inflasi
dalam anggaran modal, dan untuk memfokuskan pada komponen proses individual untuk
menarik kesimpulan spesifik dengan memperhatikan interaksi antara variabel biaya modal,
inflasi dan arus kas.
Banyak penelitian yang telah diterbitkan menguji pengaruh inflasi terhadap proses
pengambilan keputusan anggaran modal dan walaupun inflasi tidak secara langsung menjadi
masalah serius, pelajaran pahit pada periode 1975-1985 dengan cepatnya kenaikan harga,
berpasangan dengan potensi inflasi di masa yang akan datang, menjadi alasan untuk
melanjutkan penelitian di bidang ini. Dalam artikel terkenal, Rappaport dan taggart [14]
menguji berbagai metode untuk menghubungkan pengaruh inflasi pada aggaran modal.
Mereka memberikan analisis yang menunjukkan pengaruh diferensial dengan menggunakan
pendekatan laba kotor per unit, pendekatan arus kas nominal (dimana forecast individual
dihubungkan dengan setiap komponen arus kas) dan pendekatan arus kas riil dimana deflator
harga umum digunakan untuk mendeflasikan arus kas nominal.
Van Horne [16] menunjukkan bahwa inflasi dalam forecasting arus kas harus juga
dicerminkan dalam tingkat diskon yang terkandung dalam inflasi; yaitu suatu bias yang
diperkenalkan jika arus kas nominal didiskon pada tingkat riil dan bukannya biaya modal
nominal. Cooley, Roenfeldt dan Chew menyatakan mekanisme dimana penyesuaian inflasi
dapat digabungkan dalam proses anggaran modal [6]. Pada saat yang sama, Nelson [12]
mendemonstrasikan teori pengaruh inflasi pada anggaran modal dan menunjukkan bagaimana
inflasi akan mengganti skedul NPV anggaran modal secara keseluruhan diturunkan menjadi
satu set atau proyek. Bailey dan Jensen [1] telah menganalisis bagaimana penyesuaian tingkat
harga mempengaruhi proses secara rinci dan secara khusus bagaimana penyesuaian tingkat
harga bisa mengubah peringkat proyek.
Rappaport dan Taggart mencoba untuk mengkombinasikan metodologi penyesuaian
laba kotor per unit yang sederhana untuk inflasi dengan pendekatan arus kas nominal yang
lebih realistis dan arus kas riil. Fokus laba kotor per unit atas pendapatan-biaya penjualan
dibagi dengan unit dan dapat mengobati inflasi melalui inflasi sederhana dengan laba kotor
per unit dilawankan dengan pengukuran inflasi untuk pendapatan dan biaya penjualan. Hal
ini dilakukan dengan penyederhanaan asumsi dimana marjin kotor sebagai persen dari

penjualan adalah konstan sepanjang waktu, [14, hal. 12] dimana mereka dinyatakan sama
seperti mengasumsikan EBIT merupakan prosentase konstan dari penjualan sepanjang waktu
atau bahwa pendapatan dan biaya meningkat pada tingkat yang sama.
a. Inflasi dan harga produk dalam anggaran modal
Pada tahap ini kami memperkenalkan masalah inflasi dalam proses anggaran modal
untuk menentukan secara khusus pengaruhnya pada sejumlah variabel keuangan.
Ri = PQ
Dimana :
Ri = pendapatan dalam periode i
P = harga rata-rata per produk sepanjang periode
Q = kuantitas tahunan produk yang terjual
Asumsikan bahwa kuantitas konstan sepanjang waktu, dan bahwa P adalah harga
konstan dalam ketiadaan inflasi. Biaya kita dirancang dengan Ci + Di, dimana Di, adalah
beban penyusutan selama periode i.
Dalam teori anggaran modal tradsional, posisi ekuilibrium akan menjadi seperti
perusahaan melanjutkan investasi naik ke titik dimana biaya marjinal sama dengan
pendapatan marjinal, atau :
I0 = investasi awal pada pabrik dan peralatan yang bisa disusutkan
WC0 = modal kerja bersih yang dibutuhkan dalam proyek
T

= tingkat pajak marjinal

R = biaya modal riil perusahaan


WC0 tidak didefiniskan dalam pengertian modal kerja bersih tradisional yang menjadi
aktiva lancar dikurangi hutang lancar. Hutang lancar dalam pengertian akuntansi
mengandung hutang jangka pendek. Untuk keputusan anggaran modal, modal kerja bersih

harus didefinisikan sebagai aktiva lancar dikurangi hutang tidak lancar hanya dalam definisi
yang merepresentasikan jumlah keuangan harus berasal dari sumber hutang dan ekuitas
tradisional.
Jenis investasi ini dalam modal kerja bersih adalah penting dalam pemahaman
dinamika anggaran modal karena hal ini merepresentasikan aktiva yang tidak bisa disusutkan.
Biaya pada perusahaan adalah nilai waktu dari uang, dan hal ini menyelamatkan di akhir
periode. Sebagaimana yang kita lihat, hal ini adalah konsep penting ketika inflasi dikenal
dalam proses.
Jika kita memasukan inflasi disini, dan mengasumsikan bahwa biaya modal secara
sempurna mencerminkan asumsi inflasi, sebagaimana yang terjadi pada pendapatan dan
biaya, persamaan diatas menjadi berikut :
Penampilan istilah baru, WCi, merepresentasikan kenaikan modal kerja bersih pada
setiap tahun sebagai akibat dari inflasi. Jika aktiva lancar dari perusahaan adalah $10 juta,
dan hutang lancar tidak termasuk hutang jangka pendek $5 juta, kemudian kenaikan 10%
dalam harga ini akan menaikan baik pada aktiva lancar dan hutang lancar 10%. Aktiva lancar
akan naik $1 juta, tapi hutang lancar akan naik hanya sebesar $500,000, dalam kasus ini
diuangkan $500,000. Tambahan syarat keuangan harus ditambahkan dalam proses
pengambilan keputusan anggaran modal, atau arus kas bersih dan nilai bersih saat ini yang
dinyatakan berlebihan. Tambahan terhadap modal kerja bersih dan modal kerja bersih awal
tercakup pada akhir proyek, sebagaimana terlihat dalam persamaan terakhir.
Hasil penting dari persamaan baru yang dibandingkan dengan persamaan yang
sebelumnya

adalah

dengan

memperhatikan

sisi

kanan

persamaan

baru

yang

merepresentasikan nilai saat ini dari arus kas masuk setelah inflasi, nilai tersebut kurang dari
sisi kanan persamaan sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa, inflasi mengurangi nilai saat
ini dari arus kas masuk dari proyek. Ada dua alasan mengapa pengurangan nilai terjadi.
Pertama, bahwa arus kas dari penyusutan dikurangi pada basis nilai saat ini, sementara arus
kas nominal dari penyusutan tidak dibebankan sementara tingkat diskon naik karena inflasi.
Alasan kedua atas penurunan nilai saat ini dari arus kas nampak dari modal kerja bersih dan
kenaikan ini merupakan syarat selama umur proyek. Walaupun arus kas keluar tercakup, nilai
waktu uang mengurangi nilai saat ini dari keseluruhan.

Pengaruh memasukan inflasi dalam persamaan pertama menegasikan analisis Rapport


dan Taggart dalam kesimpulan mereka dimana dinyatkaan bahwa :
Aturan yang bisa membantu untuk mengkombinasikan penyederhanaan administratif
dari pendekatan laba kotor dengan keunggulan teoritis mengenai pendekatan arus kas
nominal adalah untuk membuat penyederhaan asumsi, ketika memadai, rasio konstan dari RtCt menjadi Rt sepanjang waktu hal ini ekuivalen untuk mengasumsikan bahwa pendapatan
dan biaya naik pada tingkat yang sama sepanjang waktu. [14, hal. 12]
Pengaruh inflasi sebagaimana uamh ditunjukkan dalam persamaan diatas menyatakan
bahwa hal ini kemungkinan besar tidak akan terjadi. Manajer hanya dapat menerima
kenaikan yang sama jika mereka akan menurunkan jumlah laba yang bisa diterima dari modal
proyek. Dan pada tingkat marjin, masuknya inflasi akan menyebabkan proyek ditolak.
Rapport dan Taggart menyatakan tidak ada kebutuhan dimana tingkat ini menjadi tingkat
inflasi dalam ekonomi luas, tapi sebagian besar perusahaan akan mengharapkan bahwa
tingkat akan menjadi perkiraan yang masuk akal dari kasus untuk persamaan sisi biaya.
Inflasi pendapatan harus mengarah untuk menjadi lebih besar daripada inflasi biaya jika
NPV memberi hasil yang sama.
Pada titik ini pertimbangkan contoh berikut. Dalam tabel 2, data yang diberikan untuk
dua proyek yang hampir sama, A dan B yang hanya memiliki perbedaan dalam jenis
kebutuhan investasi. A membutuhkan $200,000 dan B membutuhkan $200,000, tapi investasi
A adalah modal kerja bersih sedangkan investasi B untuk pabrik dan peralatan yang bisa
disusutkan.
Jika persamaan diatas digunakan untuk menyelesaikan variabel yang hilang, harga
proyek perlu untuk disesuaikan atas pengambilan investasi, yaitu harga dimana NPV adalah
nol, kemudian untuk kasus A dan B harganya adalah sebagai berikut :
Harga pada kasus B lebih tinggi adalah hasil dari kenyataan bahwa biaya investasi
hanya 45% yang tercakup dalam perlindungan pajak dari penyusutan, sedangkan 100%
modal kerja bersih tercakup. Hal ini benar bahwa penyusutan bisa ditutup kembali dengan
lebih cepat tapi pada tingkat diskon yang rendah kecepatan penutupan tidak akan memadai
untuk mengatasi kerugian 55% dari investasi awal dengan basis kas.

Hasil diatas untuk inflasi nol. Jika kita memasukan harapan inflasioner pada tingkat
tetap, katakan 12% dalam sistem, hasilnya akan menjadi naik untuk biaya dan tingkat diskon.
Jika kita mengasumsikan bahwa hubungan antara inflasi dan tingkat diskon sebagaimana
dijelaskan sebelumnya, 12% inflasi akan menghasilkan 15.36% tingkat diskon. Jika kita
menaikan harga produk dengan jumlah tingkat inflasi yang diharapkan, dan pengujian untuk
NPV maka kita mendapatkan hasil berikut ini :
NPV yang lebih rendah secara substansial untuk kasus A mencerminkan masalah yang
disebabkan oleh keberadaan modal kerja bersih selama periode inflasi. Dalam kasus inflasi
yang menyebabkan suatu tambahan pada modal kerja bersih setiap tahun, dan tambahan arus
kas keluar yang tidak dapat ditutup kembali hingga akhir proyek. Biaya kesempatan kas
tinggi, karena tingkatnya tinggi, dimana kenaikan didasarkan pada tingginya inflasi. Dalam
kasus 2, hanya pengaruh yang mengurangi arus pajak dari perlindungan penyusutan. Jika
harga hanya dipertahankan pada tahap inflasi, kedua proyek tidak dapat diterima, tapi proyek
dengan modal kerja bersih lebih tinggi yang lebih tidak bisa diterima.
Derajat dimana harga harus naik untuk pengembalian investasi pada tingkat yang bisa
diterima dapat dihitung. Untuk kasus kas hasilnya adalah sebagai berikut :
Kasus A dengan modal kerja bersih, membutuhkan tingkat ganda dari biaya inflasi
untuk mempertahankan profitabilitas proyek perusahaan yang tidak bisa diubah., sementara
kasus B membutuhkan hanya sedikit lebih tinggi daripada kenaikan harga inflasi.
b. Implikasi bagi harga korporasi dan perilaku investasi
Analisis diatas memiliki implikasi signifikan bagi korporasi, dan implikasi ini
melebihi keputusan anggaran modal. Keputusan anggaran modal itu sendiri memiliki
pengaruh signifikan dengan keberadaan inflasi dan harapan inflasioner yang lebih tinggi,
serta kepentingan kritisnya adalah bahwa keputusan anggaran modal tidak netral bahkan jika
harga output yang diharapkan naik pada tingkat biaya yang sama dengan biaya modal. Secara
khusus, implikasi dari kenaikan dalam tingkat inflasi yang diharapkan pada proses anggaran
modal dan pengambilan keputusan adalah sebagai berikut :
1. Mengasumsikan perusahaan tidak dapat menaikan harga output diatas tingkat umum
inflasi, perusahaan akan menerima NPV yang lebih rendah sehingga profitabilitas

lebih rendah ketika diukur dengan NPV. Pada marjin, perusahaan akan lebih dulu
proyek investasi jika harga output dapat dinaikan pada tingkat yang lebih besar
daripada tingkat inflasi umum yang diharapkan. Jumlah tepat dimana harga akan
dinaikan tergantung pada derajat modal kerja bersih yang dibutuhkan relatif pada
tingkat investasi keseluruhan.
2. Suatu perusahaan memiliki banyak cara yang dapat merespon masalah yang
ditimbulkan oleh inflasi. Ada tiga bidang utama yang dapat dialamatkan dalam usaha
untuk menggantikan pengaruh negatif dari naiknya tingkat harga. Satu tindakan akan
menaikan harga output diatas tingkat inflasi, tapi kemampuan perusahaan juga akan
menjadi terbatas untuk memperluas pasar yang akan menahan harga lebih tinggi.
Struktur pasar akan memainkan peran penting disini, perusahaan yang oligopolistik
akan menikmati keberhasilan lebih besar dibandingkan perusahaan yang lebih
kompetitif. Bagaimanapun juga, dalam jangka panjang, hal ini akan mengarahkan
pada inflasi tinggi dan bisa menghancurkan diri sendiri. Jika tidak ada penyesuaian
lain yang dibuat, sektor investasi ekonomi akan mengalokasikan sumber daya untuk
proyek investasi baru.
3. Dua penyesuaian internal yang dapat dibuat dengan memperhatikan modal kerja
bersih dan struktur modal. Sebagaimana ditunjukkan dalam analisis sebelumnya,
selama inflasi perusahaan akan berada dalam tekanan untuk mengurangi jumlah
modal kerja bersih yang digunakan dengan mengurangi persediaan dan piutang serta
perluasan hutang. Hal ini mengurangi pembukaan modal yang membutuhkan
kenaikan selama inflasi.
Dengan memperhatikan tingkat diskon, penyesuaian utama bahwa perusahaan dapat
membuat struktur modal. Kenaikan inflasioner dalam tingkat diskon dapat digantkan menjadi
beberapa derajat dengan meningkatkan hutang dalam struktur modal dan menurunkan
biayamodal tertimbang. Tindakan ini bagaimanapun juga tidak tersedia bagi semua
perusahaan, hanya mereka yang mulai periode inflasioner dengan jumlah hutang yang relatif
rendah dalam struktur modalnya.
Berdasarkan diatas, seseorang akan mengharapkan bahwa derajat leverage digunakan
oleh perusahaan meningkat selama periode inflasioner. Lebih dari itu, untuk perluasan atas
hutang tak terencana, kemungkinan besar perusahaan akan membiayai hutang dari jangka

pendek daripada meminjam untuk jangka panjang. Ketika inflasi menurun, perusahaan akan
menemukan lebih banyak kemudahan untuk mengembalikan lebih banyak struktur modal
normal dengan menggantikan hutang jangka pendek dengan laba ditahan. Hal ini menyatakan
bahwa permintaan untuk dana jangka pendek akan naik dengan cepat selama periode inflasi
dan hal ini telah terjadi dalam kasus periode inflasioner akhir-akhir ini pada tahun 1973-74
dan 1978-81.

BAB II
KESIMPULAN
Capital Rationing dapat digunakan untuk memilih beberapa proyek dari berbagai proyek yang
tersedia. Analisis ini membantu pimpinan untuk memilih proyek yang tersedia jika dana yang dimiliki
terbatas.
Inflasi adalah suatu keadaan adanya kecenderungan naiknya harga barang-barang dan jasa. Inflasi ini
akan mempengaruhi kegiatan ekonomi baik secara makro maupun mikro termasuk kegiatan investasi.
Secara riil belum tentu keadaan setelah inflasi lebih baik dibanding sebelum inflasi karena secara
teoritis keadaan investasi dengan inflasi yang tinggi justru akan lebih jelek.

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Penganggaran_Modal
http://asdarmunandar.blogspot.com/2012/03/penganggaran-modal-bag-1.html
http://www.scribd.com/doc/96156775/makalah-penggaran-modal
http://manajemenkeuanganakuntansi.blogspot.com/2012/11/proyek-berbeda-umur-unequal-life.html
http://kelincicoklatdiary.wordpress.com/2010/10/14/net-present-value-npv-dan-internal-rate-of-returnirr/