Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK 1

PENENTUAN BERAT MOLEKUL BERDASARKAN MASSA JENIS GAS

Nama
NIM
Kelompok
Asisten

: Ahmad Suhardiman
: 131810301045
:6
: Yuliani

LABORATORIUM KIMIA FISIK


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JEMBER
2015

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Senyawa merupakan zat yang dapat diuraikan menjadi zat lain dengan bentuk lebih
sederhana menggunakan reaksi kimia. Senyawa tertentu dapat dikatakan sebagai
senyawa yang volatile karena memiliki titik didih yang rendah sehingga
senyawa tersebut mudah menguap. Senyawa yang mudah menguap memiliki
molekul dengan gaya antar molekul yang lemah. Senyawa tertentu setelah mengalami reaksi
kimia sederhana dapat berubah bentuk menjadi zat lain.
Wujud zat yang terbentuk didasarkan pada kuat lemahnya interaksi
dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu padat, cair, dan gas. Zat ini
terdiri dari partikel-partikel yang sangat kecil berupa atom, molekul, dan
ion. Gas adalah materi yang bergerak bebas. Gas memiliki energi kinetik
yang sangat besar. Pergerakannya yang sangat bebas membuat gas sukar
diamati. Sifat gas sekarang dapat diamati dengan adanya pendekatanpendekatan matematis.
Pengukuran gas pada tekanan rendah umumnya menunjukkan volume dari jumlah
gas dihubungkan oleh persamaan ideal PV=nRT, dimana R merupakan konstanta yang
bernilai sama untuk semua gas. Persamaan ini lebih dikenal dengan persamaan gas ideal.
Persamaan ini dapat digunakan dalam menentukan berat molekul suatu gas, dengan catatan
massa jenis gas telah diketahui nilainya. Massa jenis gas dapat ditentukan dengan membagi
massa gas dengan volume gas. Pengukuran massa jenis gas dapat juga dilakukan dengan
menggunakan alat Victor Meyer, namun alat tersebut masih sulit didapatkan. Oleh sebab itu
penentuan berat molekul berdasarkan massa jenis gas dilakukan untuk mempelajari dan
melakukan perhitungan berat molekul secara sederhana di Laboratorium maupun perhitungan
secara teoritinya..
1.2 Tujuan
Menentukan berat molekul senyawa volatil berdasarkan pengukuran massa jenis gas dan
mengaplikasikan persamaan gas ideal.
1.3 Tinjaun Pustaka

1.3.1. Dasar teori


Wujud zat yang paling sederhana adalah gas, yang dapat memenuhi segala wadah
yang ditempatnya. Perbedaan yang mendasar dari gas , cairan dan padatan ialah interaksi
partikel dari gas sangat lemah daripada cairan maupun padatatan sehingga gas dapat
digambarkan sebagai kumpulan molekul-molekul bergerak bebas (kacau balau), acak tapi
berkesinambungan, dengan kecepatan yang bertambah bila temperatur dinaikkan. Selain
volume yang ditempati dan jumlah zatnya (jumlah mol, n) sifat dasar untuk mempelajari gas
adalah tekanan dan temperaturnya. Gas yang telah diketahui nilai variabelnya dari V, n, p,
dan T dari sampel zat murni apapun maka pasti kapan pun dalam keadaan tersebut, zat
tersebut akan mempunyai sifat-sifat yang sama (misalnya kerapatan, kapasitas, kalor, dan
warna). Persamaan keadaan yang menghubungkan volume, tekanan, jumlah, dan temperatur
dari setiap zat murni, dan hanya ada tiga variabel bebas yang diperlukan untuk menyatakan
keadaan (Atkins, 1994).
Persamaan keadaan atau gas ideal adalah persamaan termodinamika yang
menggambarkan keadaan materi di bawah seperangkat kondisi fisik(physical properties).
Persamaan gas ideal adalah sebuah persamaan konstitutif yang menyediakan hubungan
matematik antara dua atau lebih fungsi keadaan yang berhubungan dengan materi, seperti
temperatur, tekanan, volume dan energi dalam (Atkins, 1994).
Persamaan gas ideal bersama-sama dengan massa jenis gas dapat digunakan untuk
menentukan berat molekul senyawa volatil. Persamaan gas ideal yang didapat:
PV = nRT..(1)
atau
PV = (m/BM)RT...(2)
Persamaan (2) diubah sehingga diperoleh:
P (BM) = (m/V)RT(3)
P (BM) = R T.(4)
BM = berat molekul
P

= tekanan gas (atm)

= volume gas (liter)

= suhu muntlak (K)

= konstanta gas = 0,08206 liter mol-1K-1

(Tim Kimia Fisik, 2015).


Hukum gabungan boyle-gaylussac untuk suatu sampel gas menyatakan bahwa
perbandingan pV/T adalah konstan.Persamaan tersebut hanya bermain pada tiga variabel yaitu

tekanan , temperatur dan volume.Gas ada dua jenisnya yaitu gas ideal dan gas nyata. Gas
ideal merupakan gas yang tidak ada di alam namun hanya ada pada teori sedangkan untuk gas
nyata merupakan gas yang ada di alam yang didekati dengan persamaan gas ideal. Salah satu
contoh dari gas nyata(real) ialah metana (CH4) dan oksigen.Gas nyata tersebut dilakukan
pengukuran secara cermat, ternyata hal ini tidak benar betul. Hipotesis gas yang dianggap
akan mengikuti hukum gabungan boyle-gaylussac untuk gas pada berbagai suhu dan tekanan
disebut gas ideal. Gas nyata akan menyimpang dari sifat gas ideal. Tekanan yang relatif
rendah termasuk pada tekanan atmosfer serta suhu yang tinggi, semua gas akan menempati
keadaan ideal sehingga hukum gabungan boyle-gaylussac untuk gas dapat dipakai untuk
segala macam gas yang digunakan (Brady, 1999).
Persamaan di atas(persamaan gas ideal) berkaitan dengan hukum gas,
antara lain;
1. Hukum Charles
Tahun 1787, fisikawan Perancis, Jacques Charles menemukan bahwa
oksigen, nitrogen, hidrogen, karbon dioksida, dan udara memuai ke tingkat
yang sama pada interval temperatur yang sama, pada lebih dari 80 kelvin.
Hal ini mengindikasikan adanya hubungan linear antara volume dan
temperatur. Volume gas dengan massa tertentu, berbanding lurus dengan
temperatur mutlak jika tekanan tidak berubah.
V

V1T2=V2T1 .(5)
(Keenan, 1990).
2. Hukum Gay Lussac
Persamaan

yang

digunakan

untuk

meramalkan

volume

gas

sempurna sewaktu sejumlah tertentu gas tersebut dipanasakan (atau


didinginkan) pada tekanan tetap, adalah sebagai berikut:
P1T2=P2T1 .(6)
Gay-Lussac menyatakan bahwa gas nyata bisa terdapat pada berbagai
keadaan yang berbeda dari keadaan gas sempurna, dan digambarkan
dengan permukaan P, T dalam bentuk yang berbeda-beda, tetapi
permukaan kita akan sama dengan permukaan gas sempurna pada
tekanan rendah (Atkins, 1994).
3. Hukum Avogadro
Bejana yang volumenya tertentu mengandung sejumlah tertentu
molekul

gas,

tanpa

tergantung

pada

macam

gas.

Hubungan

ini

dirumuskan oleh Amadeo Avogadro pada tahun 1811 dan dikenal sebagai
hukum Avogadro. Molekul yang sama banyak terdapat dalam gas-gas
berlainan yang volumenya sama, jika tekanan dan temperaturnya sama.
Banyaknya gas diukur dengan mudah dalam benttuk banyaknya mol, dan
diberi lambang n. Pada temperatur dan tekanan konstan, hukum ini
dinyatakan secara matematis sebagai
V n
(Keenan, 1990).
Cairan yang mudah menguap terdiri dari molekul-molekul yang mempunyai gaya
antarmolekul yang lemah. Mereka cenderung untuk tercerai-berai oleh gerakan masingmasing. Beberapa molekul meninggalkan induk cairan (menguap) jika kebetulan molekul
tersebut berarah ke atas dan cukup kecepatannya untuk mengalahkan gaya tarik yang lemah
itu. Uap adalah nama keadaan gas suatu zat pada suatu tekanan dan temperatur, zat itu
lazimnya berbantuk cairan atau zat padat. Cairan yang mudah menguap dikatakan atsiri
(volatile). Etil eter dan kloroform merupakan contok zat yang mudah menguap (Keenan,
1990).

Gambar Molekul dari Cairan Meninggalkan Induk Cairan.

1.3.2. MSDS ( Material Safety data Sheet )


a. Kloroform
Kloroform merupakan salah satu bahan yang digunakan pada percobaan ini sehingga
perlu diketahui cara penggunaannya dan cara membuang limbah kloroform bekas percobaan
dengan aman tanpa menimbulkan masalah. Kloroform memiliki wujud berbentuk liquid,
berbau sedikit manis, dan memiliki rasa manis. Berat molekul kloroform sebesar 119,38
g/mol dan memiliki rumus CHCl3. Bahan ini tidak berwarna. Kloroform memiliki titik didih
dan titik leleh masing-masing sebesar 61 C dan -63,5 C. Kloroform memiliki suhu kritis
yaitu 263,33 C Gravitasi spesifik bahan ini adalah 1,484 dengan tekanan uap sebesar 21,1

kPa. Kerapatan uap kloroform sebesar 4,36 g/cm3. Ambang batas bau kloroforom sebesar 85
ppm. Kloroform sangat sedikit larut dalam air dingin. Bahan ini berbahaya jika terjadi kontak
kulit, dan mata karena bersifat irritant. Bahan ini sedkit berbahaya apabila terjadi kontak
dengan kulit karena bersifat permeator. Cara pembuangan bahan ini setelah dipakai adalah
dengan mengabsorbnya menggunakan material inert

kemudian dibuang pada tempat

pembuangan yang tepat. Kloroform yang terkontak dengan kulit dapat diatasi dengan
membasuh kulit dengan air sekitar 15 menit dan dapatkan pertolongan dari medis apabila
mengalami iritasi berkelanjutan (Anonim, 2015).
b. Aseton
Aseton adalah bahan kimia yang berwujud cair. Aseton berbau
seperti buah-buahan, dan berbau, berbau tajam. Berat molekul aseton
adalah 58,08 gram/mol. Titik didih aseton adalah 56,2
titik lelehnya adalah -95,35

, sedangkan

. Aseton tidak berwarna. Aseton adalah

senyawa kimia yang mudah menguap karena memiliki titik didih lebih
rendah dari air. Zat ini mudah larut dalam air dingin dan air panas. Zat ini
tidak bersifat korosif. Bahan kimia ini sebaiknya ditempatkan dari bahan
panas dan cahaya. Aseton disimpan dalam suhu yang dingin dengan
tempet yang ventilasinya terjaga dengan baik. Aseton yang terkontak dengan
kulit dapat diatasi dengan membasuh kulit dengan air sekitar 15 menit dan dapatkan
pertolongan dari medis apabila mengalami iritasi (Anonim, 2015).
c.Benzena
Benzena adalah bahan kimia yang berwujud cair dengan berat
molekul 78,11 gram/mol. Benzena berbau seperti gasoline (bensin), tidak
berbau dan tidak berasa. Titik didih benzena adalah 80,1
lelehnya 5,5

, dan titik

. Bahan ini mudah larut dalam air, dietil eter, dan

aseton. Bahan ini akan menyebabkan iritasi atau inhalasi pada mata, dan
kontak dengan kulit. Benzena tidak stabil dalam keadaan yang panas dan
reaktif dengan asam atau zat pengoksidasi (Anonim,2015).

BAB 2. METODOLOGI PRAKTIKUM

2.1 Alat dan Bahan


2.1.1. Alat
1. Labu erlenmeyer 50 mL 3 buah
2. Gelas piala 150 mL 2 buah
3. Alumunium foil
4. Karet gelang
5. Neraca analitik
6. Thermometer
7. Pipet Mohr
8. Jarum
9. Kaki tiga
10. Bunsen
11. Penjepit kayu
12. Botol Semprot
13. Korek api
14. Statif thermometer
2.1.2 Bahan
- Kloroform
- Akuades

2.2.

Skema Kerja

Kloroform
- Diambil labu erlenmeyer 50 mL yang bersih dan kering, ditutup labu tersebut
dengan alumunium foil dan dikencangkan dengan karet gelang.
- Ditimbang dengan neraca analitik.
- Dimasukkan 3 ml bahan ke dalam erlenmeyer, ditutup kembali dengan
alumunium foil dan dikencangkan dengan karet gelang hingga tutup ini
bersifat kedap udara kedap udara, dilubangi dengan jarum agar uap bisa
keluar.
- Direndam labu erlenmeyer dalam penangas air bersuhu 90oC sehingga air di
bawah alumunium foil. Dibiarkan hingga cairan menguap. Dicatat suhu
penangas air tersebut.
- Diangkat labu erlenmeyer setelah cairan menguap, dikeringkan air di bagian
luar dengan desikator, udara masuk dan kloroform mengembun dalam cairan.
- Ditimbang labu erlenmeyer yang telah dingin dengan menggunakan neraca
analitik (alumunium foil dan karet tidak dilepas sebelum ditimbang).
- Ditentukan volume labu erlenmeyer dengan diisi air dan diukur massa air
dalam labu. Diukur suhu air dalam labu erlenmeyer. Diketahui volume air,
jika massa jenis air pada suhu air dalam labu erlenmeyer diketahui dengan
rumus

= m/V.

-diulangi proceduore yang sama untuk 3mL kloroform.


-diulangi procedure yang sama untuk 2mL kloroform secara duplo.
Hasil

BAB 3. HASIL DAN PENGOLAHAN DATA

3.1. Hasil

Ke

Massa
Erlenmeyer
(gram)

Massa
Erlenmeyer
+ Karet + Al
Foil (gram)

Massa
Total
(gram)

Massa
SetelahPemanasa
n (gram)

Massa
Erlenmeyer +
Air (gram)

34,592

35,500

38,299

36,241

100,453

34,592

35,500

38,251

35,994

100,453

34,805

36,825

40,910

36,839

99,896

34,805

36,839

40,732

36,995

99,896

Pencobaan

3.2.

Pengolahan data

Percobaa
n Ke-

Massa
Kloroform
(gram)

Volume
Erlenmeyer
(L)

Tekanan
(atm)

Berat
Molekul
(gram/mol)

Efisiensi

Suhu (K)

0,740

0,06591

364

335

280,33

0,493

0,06591

362

222

185

0,014

0,06514

363

6,397

5,35

0,157

0,06514

362

71,54

59,87

158,73

132,8

Rata Rata

(%)

BAB 4. PEMBAHASAN
Percobaan keenam memiliki tujuan yaitu menentukan berat molekul senyawa volatil
berdasarkan pengukuran massa jenis gas, dan melatih menggunakan persamaan gas ideal.
Senyawa volatil adalah senyawa yang memiliki titik didih rendah yaitu di bawah 100 C,
sehingga senyawa ini mudah menguap atau jika dipanaskan sampai suhu 100 C senyawa ini
akan menguap keseluruhan. Senyawa volatil yang digunakan dalam percobaan ini adalah
kloroform. Senyawa ini memiliki titik didih rendah yaitu 61 C sehingga dipastikan jika
kloroform dipanasakan hingga suhu 100C akan menguap keseluruhan.
Percobaan ini dilakukan pada sejumlah volume kloroform yang yang berbeda yaitu
2mL dan 3mL yang masing-masing dilakukan secara duplo.Percobaan yang pertama yaitu
mengambil Erlenmeyer kering dan kosong untuk ditimbang.Erlenmeyer jika tidak kering yang
dipakai misalnya ada sedikit air maka akan mengganggu massa Erlenmeyer kosong ketika
dilakukan penimbangan dan diperoleh massa Erlenmeyer kosong masing-masing 34,592 ;
34,592 ; 34,805 dan 34,805 g. Selanjutnya yaitu kemudian Erlenmeyer kosong dengan karet
dan aluminium foilnya ditimbang sehingga diperoleh besarnya massa masing-masing 35,500 ;
35,500 ; 36,825 dan 36,839 g. Kemudian pada Erlenmeyer tersebut dimasukkan 2mL dan 3
mL pada Erlenmeyer tersebut secara kencang. Hal tersebut dilakukan Karena kloroform
mudah menguap sehingga hal tersebut untuk mencegah kloroform menguap keluar
Erlenmeyer.Perlakuan selanjutnya yaitu memberi lubang kecil dengan jarum pada aluminium
foil ktika erlenmaeyer tersebut akan dimasukkan kedalam penangas, agar uap dapat keluar
melalui lubang tersebut. Suhu yang digunakan pada praktikum ini bukan 100C melainkan
kondisi pada suhu 91 oC, 89 oC , 90 oC , 89 oC. Hal tersebut dilakukan Karena pada suhu
tersebut air sudah mendidih dan suhu tersebut bila dibandingkan dengan titik didih kloroform
masih jauh sehingga pada kondisi tersebut mampu membuat kloroform menguap keseluruhan.
Titik didih yang menunjukkan dibawah 100 oC tersebut menandakan bahwa tekanan yang ada
didalam ruang praktikum tekanannya dibawah tekanan normal(1 atm).
Kloroform yang berada dalam erlenmayer tertutup yang memiliki lubang kecil pada
bagian tutupnya yang dipanaskan pada suhu 91 oC, 89 oC , 90 oC , 89 oC, maka uap cairan

tersebut akan mendorong udara yang ada di dalam erlenmayer untuk keluar melalui lubang
kecil tersebut. Kondisi saat semua udara di dalam erlenmayer habis maka uap dari cairan
tersebutlah yang akan keluar, dimana uap cairan ini akan berhenti keluar saat terjadi
kesetimbangan tekanan dengan tekanan udara luar. Kondisi kesetimbangan ini menyebabkan
labu erlenmayer hanya terisi uap cairan saja, dimana volumenya sama dengan volume
erlenmayer dan suhunya sama dengan suhu penangas air.
Pemanasan dihentikan saat semua cairan kloroform menguap. Labu erlenmayer yang
berisi uap kloroform ini dibiarkan terlebih dahulu hingga dingin. Udara akan masuk kembali
dalam labu erlenmayer dan uap kloroform akan kembali mengembun dan berubah wujud
menjadi cairan, kemudian penimbangan dilakukan dengan neraca analitik. Hasil pengamatan
menunjukkan massa labu erlenmayer, aluminium foil, karet gelang, dan cairan kloroform
setelah diuapkan adalah 36,241 ; 36,241 ; 36,839 dan 36,995 g sehingga dapat ditentukan
massa kloroform pada labu erlenmayer adalah 0,740 ; 0,493 ; 0,014 dan 0,157 g.
Suhu penangas air masing-masing adalah 91 oC, 89 oC , 90 oC , 89 oC .Volume uap
kloroform sama dengan volume labu erlenmayer, sehingga ditentukan volume labu
erlenmayer dengan cara mengisi labu dengan air sampai penuh, dan menghitung massa
airnya, sehingga diperoleh volume air melalui persamaan

m
.
V

Berat molekul kloroform dapat ditentukan menggunakan persamaan gas ideal yaitu
diketahui volume air dan massa jenisnya maka dapat ditentukan massa jenis zatnya sehingga
jika diketahui massa jenis zatnya maka berat molekul dapat diketahui. Massa cairan volatil
sangat berpengaruh terhadap berat molekulnya, dimana semakin besar massa suatu cairan
volatil, maka makin besar pula berat molekulnya. Berat molekul kloroform dari beberapa labu
erlenmayer adalah 335 , 222 , 6,397 dan 71,54 g mol -1 . Dari data praktikum yang diperoleh
tersebut data berat molekul yang dihasilkan terjadi penyimpagan yang besar bila dibandingan
dengan perhitungan secara teoritis seharusnya berat berat kloroform yang diperoleh sekitar
119,5 g/mol.Penyimpangan yang dihasilkan dari besarnya molekul tersebut diakibatkan oleh
kesalahan orangnya (human eror) maupun pada penggunaan alat. Untuk berat molekul yang
diperoleh sebesar 335 g mol-1 dan 222 g mol-1 hal tersebut dapat menyimpang jauh yaitu jika
dilihat dari variable-varible yang digunakan pada perhitungan yaitu terletak pada perhitungan
massa kloroform. Hal tesebut terjadi salah ketika melakukan pengamatan ketika memastikan
saat kloroform benar-benar menjadi uap maupun kurang ketelitian dari praktikannya.untuk
berat molekul yang diperoleh dengan kecil yaitu 6,397 dan 71,54 g mol -1 . Data tersebut dapat
hasilkan pada kesalahan praktikan yaitu untuk yang 6,397 g mol -1 saat melakukanpemanasan
pada penangas terlalu lama sehingga kemungkinan uap dari kloroform didalam erlenmeyer

menguap keluar melalui lubang tersebut. Dengan diperolehnya massa kloroform yang sangat
kecil akan menghasilkan berat molekul yang kecil dan menyimpang jauh dengan berat
molekul secara teoritisnya.
Berat molekul paling besar adalah pada Erlenmeyer untuk percobaan 2mL kloroform.
nilai ini didapat dari massa kloroform paling besar yaitu 0,740 g. Berat molekul kloroform
yang didapat dari percobaan berbeda dengan nilai berat molekul kloroform secara teori yaitu
119,5 gram/mol. Perbedaan hasil percobaan dengan berat molekul secara teori

bisa

dimungkinkan karena adanya uap air yang ikut masuk pada erlenmeyer. Faktor lainnya yaitu
uap kloroform juga dimungkinkan ada yang keluar dari erlenmeyer dikarenakan lubang jarum
yang terlalu besar ataupun penutup yang kurang rapat.
Faktor penyebab kesalahan yang pertama yaitu ketika melakukan pemanasan terhadap
telat mengangkat erlenmeyer kloroform tersebut sehingga yang seharusnya dapat mengusir
udara yang berada diatas kloroform namun kloroform yang dihasilkan akan memiliki massa
yang lebih kecil.Selain itu juga disedakan lubangnya tersebut sedikit besar disbanding yang
lain sehingga untuk penguapannya pun berbeda sehingga akan menghasilkan massa kloroform
yang berbeda untuk penggunaaan mL kloroform yang sama.Penggunaan tekanan 1 atm juga
mempengaruhi karena pada suhu didih normal air yang digunakan tidaklah 100 oC sehingga
seharusnya tekanan yang digunakan bukanlah tekanan normal selain itu suhu yang digunakan
berada dibawa suhu didih standart air(99,6 oC) yaitu 91 oC, 89 oC , 90 oC , 89 oC maka
seharusnya tekananan yang dgunakan pun dibawa tekanan standart 1 bar.
Perolehan data hasil perhitungan

BAB 5. PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari percobaan ini adalah :
1. Berat molekul rata-rata kloroform dari hasil percobaan adalah 158,73 g mol-1
2. Berat molekul dapat ditentukan dengan menggunakan persamaaan gas ideal yang telah
diketahui massa jenisnya.

5.2. Saran
Saran untuk praktikum ini adalah:
1. Usahakan untuk benar-benar diperhatikan ketika memanaskan kloroform yang berada
dalam Erlenmeyer kedalam penangas karena jika lalai bisa saja semua kloroform meguap
keluar lubang sehingga hasil yang diperoleh kurang maksimal.
2. Usahakan dalam pengambilan kloroform dilakukan pada lemari asam karena
kloroform(pekat pada table yang tertera ada botol) yang sifatnya mudah menguap.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2015.

Material

Safety

Data

Sheet

Acetone.[Serial

Online].

http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9927062 [Diakses tanggal 8 maret 2015]


Anonim.2015.

Material

Safety

Data

Sheet

Benzena

.[Serial

Online].

http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9927164 [Diakses tanggal 8 maret 2015]


Anonim.2015.

Material

Safety

Data

Sheet

http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9927133

Kloroform.[Serial

Online].

[Diakses tanggal 8 maret

2015].
Atkins, P.W. 1994. Kimia Fisika. Jakarta : Erlangga.
Brady, J. E. 1999. Kimia Universitas, Jilid 1, edisi kelima. Jakarta:Binarupa Aksara.
Keenan, C.W. dkk. 1990. Ilmu Kimia untuk Universitas Edisi Keenam Jilid 1. Jakarta:
Erlangga.
Tim Kimia Fisik. 2015. Penuntun Praktikum Kimia Fisik I. Jember: FMIPA Universitas
Jember.

LAMPIRAN DATA PRAKTIKUM

Lembar Perhitungan
Pada 2mL CHCl3
Percobaan 1 ( 2 mL CHCl3 ) :

massa
V
massa

V=

65,86 gram
= 65,91 mL = 0,06591 L
0,9993 gram/mL

PV=nRT
PV=

massa
RT
BM

BM =

massa
PV

RT
=

0,74 gram
1 atm x 0,06591 L

22,08 gram/mol
0,06591

0,082 L atm/mol K 364 K

= 335 gram/mol
Percobaan 2 (2 mL CHCl3 ) :

massa
V
massa

V=

65,86 gram
= 65,91 mL = 0,06591 L
0,9993 gram/mL

PV=nRT
PV=

massa
RT
BM

BM =

massa
PV

RT

0,493 gram
1 atm x 0,06591 L

0,082 L atm/mol K 362 K

14,63 gram/ mol


0,06591

= 222 gram/mol
Pada 3 mL CHCl3
Percobaan 3( 3 mL CHCl3 ) :

massa
V
massa

V=

65,091 gram
= 65,14 mL = 0,06514 L
0,9993 gram/mL

PV=nRT
PV=

massa
RT
BM

BM =

massa
PV

RT

0,014 gram
1 atm x 0,06514 L

0,417 gram/ mol


0,06514

0,082 L atm/mol K 363 K

= 6,397 gram/mol
Percobaan 4( 3 mL CHCl3) :

massa
V
massa

V=

65,091 gram
= 65,14 mL = 0,06514 L
0,9993 gram/mL

PV=nRT
PV=

massa
RT
BM

BM =

massa
PV

RT

0,157 gram
1 atm x 0,06514 L

0,417 gram/ mol


0,06514

0,082 L atm/mol K 362 K

= 71,54 gram/mol
Rata Rataberatmolekulkloform = 158,73 gram/mol

BM Percobaan : =

BM Percobaan 1+2+3+ 4
4

( 335+ 222+ 6,397+71,54 ) gram/mol


4

634,937 gram/mol
4

= 158,73 gram/mol