Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

TEORI PENGUKURAN
Diajukan sebagai tugas mata kuliah teori akuntansi

Disusun Oleh:
Sofia Indrawati

A31113520

Castelein Marleen Latanna

A31113527

Andi St. Haniah P

A31113508

Lisdayani

A31113526

Sulis Darmanto

A31113504

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2016

Teori Akuntansi

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas hidayah-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, nikmat, dan inayah-Nya kepada penulis. Shalawat dan
salam semoga tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Makalah yang
berjudul Teori Pengukuran diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Teori
Akuntansi.
Adapun makalah yang berjudul "Teori Pengukuran" ini telah penulis
usahakan dapat disusun dengan sebaik mungkin dengan mendapat bantuan dari
berbagai pihak, sehingga penyusunan makalah ini dapat diselesaikan secara tepat
waktu. Untuk itu penulis tidak lupa untuk menyampaikan banyak terimakasih
kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam penulisan makalah ini.
Terlepas dari upaya penulis untuk menyusun makalah ini dengan sebaikbaiknya, penulis tetap menyadari bahwa tentunya selalu ada kekurangan, baik dari
segi penggunaan kosa-kata, tata bahasa maupun kekurangan-kekurangan lainnya.
Oleh karena itu, dengan lapang dada penulis membuka selebar-lebarnya bagi
pembaca yang bermaksud untuk memberikan kritik dan saran kepada penulis agar
penulis dapat memperbaiki kualitas makalah ini.
Penulis berharap semoga makalah yang berjudul "Teori Pengukuran ini
bermanfaat, dan pelajaran-pelajaran yang tertuang dalam makalah ini dapat
diambil hikmah dan manfaatnya oleh para pembaca.

Makassar, 05 Maret 2016

Penyusun

ii | T e o r i P e n g u k u r a n

Teori Akuntansi

DAFTAR ISI
Kata Pengantar .................................................................................................

ii

Daftar Isi........................................................................................................... iii


BAB I PENDAHULUAN ................................................................................

A. Latar Belakang .....................................................................................

B. Rumusan Masalah ................................................................................

C. Tujuan Penulisan ..................................................................................

BAB II PEMBAHASAN .................................................................................

A. Pentingnya Pengukuran .......................................................................

B. Skala Pengukuran ................................................................................

C. Tipe-tipe Pengukuran ..........................................................................

D. Kehandalan dan Akurasi dalam Pengukuran ...................................... 10


E. Pengukuran dalam Akuntansi ............................................................. 13
F. Permasalahan Pengukuran bagi Auditor ............................................. 14
BAB III PENUTUP ......................................................................................... 17
Daftar Pustaka .................................................................................................. 19

iii | T e o r i P e n g u k u r a n

Teori Akuntansi

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan akuntansi yang dipraktekan dalam suatu negara maupun entitas
memiliki tujuan yang mengarah kepada suatu pemeliharaan hubungan antar entitas
bisnis maupun individual, berdasarkan interpretasi informasi keuangan yang
disajikan oleh akuntansi. Penekanan pengakuntansian lebih kepada satuan
kuantitatif (postulat unit moneter) yang dapat dinyatakan secara moneter daripada
unsur kualitatif yang sulit diukur seperti informasi terkait kemampuan pegawai,
produktivitas penyelesaian tugas, pengetahuannya, dan lain-lain. Oleh karena itu
suatu sistem pengukuran akuntansi harus dibuat dan diimplementasikan agar
informasi

akuntansi

benar-benar

menunjukkan

aturan

semantiknya

dan

meminimalisir kelemahannya.
Pengukuran merupakan bagian yang sangat penting dalam suatu penyelidikan
ilmiah. Tujuan pengukuran tersebut adalah untuk menjadikan data yang dihasilkan
lebih informative dan menjadi lebih bermanfaat. Pengukuran dipakai dalam
berbagai disiplin pengetahuan ataupun bidang pekerjaan dan profesi termasuk
bidang akuntansi. Sebagai penyedia informasi akuntansi memerlukan pengukuran
karena data kuantitatif merupakan bagian dominan dari informasi akuntansi.
Dalam beberapa kasus data kuantitatif mempunyai dampak yang lebih besar
dibanding data kualitatif. Oleh karena pengukuran atribut yang disajikan dalam
laporan akuntansi (misalnya aktiva, laba dan utang) merupakan fungsi penting
dalam akuntansi di bagian ini dibahas mengenai konsep-konsep pengukuran.
Dalam akuntansi pengukuran pada umumnya dikaitkan dengan satuan
pengukur berupa unit moneter. Maksudnya agar pengukuran tersebut menunjukkan
makna ekonomik dan karenanya pengukuran yang demikian disebut penilaian
(valuation). Penilaian adalah proses penentuan jumlah rupiah suatu obyek untuk
menentukan makna ekonomik obyek tersebut di masa lalu, sekarang atau yang akan
datang.
Dari uraian tersebut maka pengukuran berarti proses penetapan jumlah uang
untuk mengakui dan memasukkan setiap unsur laporan keuangan dalam neraca dan
laporan laba rugi. Di dalam akuntansi pembedaan penerapan pengukuran dan

1|Teori Pengukuran

Teori Akuntansi

penelitian umumnya dilakukan. Pengukuran biasanya untuk menunjuk proses


penentuan jumlah rupiah yang harus dicatat pada saat obyek atau transaksi terjadi.
Sedangkan penilaian biasanya digunakan untuk menunjuk proses penentuan jumlah
rupiah yang harus diletakkan pada tiap elemen atau pos laporan keuangan pada saat
penyajian laporan keuangan. Jadi secara aplikatif dalam praktek pengukuran terjadi
pada saat pencatatan (jurnal) sedangkan penilaian pada saat penyajian.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, kami akan merumuskan masalah sebagai
berikut:
1. Apa arti penting dari pengukuran ?
2. Apa yang dimaksud dengan skala ?
3. Ada berapa macam dari tipe pengukuran ?
4. Apa yang dimaksud dengan keandalan dan keakuratan ?
5. Bagaimana pelaksanaan pengukuran dalam akuntansi ?
6. Apa saja isu pengukuran terhadap auditor ?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan latar belakang penulisan makalah yang telah dijelaskan, maka
tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk memberikan pemahaman mengenai arti pentingnya pengukuran
2. Untuk menjelaskan mengenai skala-skala yang digunakan dalam
pengukuran
3. Untuk memberikan pemahaman tentang tipe-tipe dari pengukuran
4. Untuk memberikan pemahaman atas kehandalan dan keakuratan
pengukuran
5. Untuk memberikan pemahaman terkait implementasi pengukuran
dalam akuntansi
6. Untuk menjelaskan mengenai pengukuran dalam akuntansi dan
pengukuran terhadap auditor.

2|Teori Pengukuran

Teori Akuntansi

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pentingnya Pengukuran
Menurut Campbell, orang yang pertama menangani masalah pengukuran,
definisi pengukuran adalah: "The assignment of numerals to represent properties
of material systems other than numbers yang berarti penentuan angka-angka yang
menggambarkan sifat-sifat sistem material dan bilangan-bilangan didasarkan pada
hukum yang mengatur tentang sifat- sifat. Sedangkan menurut Stevens, seorang
ahli teori pengukuran ilmu sosial, pengukuran disebut sebagai Assignment of
numerals to objects or events according to rules yang berarti penentuan angkaangka yang ada kaitannya dengan objek-objek ataupun peristiwa-peristiwa sesuai
dengan peraturan.
Dalam pengertian Campbell, The System sama dengan object or events
dalam pengertian Stevens. Dalam hal ini contohnya adalah: meja, manusia, aset,
atau jarak perjalanan. Properties yaitu spesifikasi atau karakteristik dari The
System dalam pengertian Campbell. Dalam hal ini maka Teori Pengukuran
menurut Campbell lebih tepat.
Ketika melihat hubungan antara pernyataan secara matematika yang
berkolerasi dengan hubungan dari objek atau kejadian, maka pengukuran atas objek
atau kejadian tersebut telah terjadi. Dalam akuntansi, mengukur laba dengan
langkah pertama yaitu menghitung/menilai modal dan kemudian mengkalkulasikan
laba sebagai pertukaran dalam modal selama periode akuntansi untuk semua
kejadian ekonomi yang mempengaruhi perusahaan (Godfrey, dkk. 2010).
Pengukuran adalah proses pemberian angka-angka atau label kepada unit
analisis untuk merepresentasikan atribut-atribut konsep. Atribut adalah sesuatu
yang melekat pada suatu objek yang menggambarkan sifat atau ciri yang dikandung
objek tersebut (Suwardjono, 2010).
Dalam setiap aktivitas manusia, pengukuran senantiasa terjadi. Dapat berupa
penilaian subjektif, misalnya persepsi seseorang tentang orang lain, yang dapat
menentukan bentuk hubungan antar keduanya pada masa mendatang, dapat pula
berupa pengukuran yang lebih objektif ataupun data statistik. Saat transaksi jualbeli, merupakan situasi yang tepat sebagai contoh tentang pengukuran. Sekantung

3|Teori Pengukuran

Teori Akuntansi

gula yang kita beli, mungkin berukuran satu kilogram, atau setengah kilogram,
itulah pengukuran yang nyata sehari-hari. Sedangkan dalam akuntansi contoh
pengukuran yang dilakukan adalah ketika kita mengukur keuntungan dengan
terlebih dahulu menetapkan nilai terhadap modal dan kemudian menghitung
keuntungan sebagai perubahan modal selama periode setelah memperhitungkan
semua peristiwa ekonomi yang mempengaruhi kekayaan perusahaan.
Seluruh pengukuran dalam kehidupan itu memiliki tujuan-tujuan khusus untuk
menentukan langkah berikutnya. Pengukuran sangat penting dilakukan karena
dengan mengukur suatu objek, maka kita dapat mengetahui nilai suatu objek
sehingga dapat menjadi acuan untuk dapat menentukan kebijakan yang berkaitan
dengan objek tersebut. Untuk memudahkan kita melakukan suatu pengukuran
sehingga memperoleh suatu hasil yang akurat dan dapat diandalkan maka kita dapat
menggunakan skala dan memilih tipe pengukuran yang sesuai dengan karakteristik
objek yang kita ukur.
B. Skala Pengukuran
Setiap pengukuran dibuat berdasarkan sebuah skala. Sebuah skala dibuat ketika
aturan semantic digunakan untuk menghubungkan pernyataan matematika kepada
objek atau kejadian. Skala menunjukkan informasi apa yang diwakili oleh angka,
sehingga memberikan arti kepada angka tersebut. Jenis skala yang dibuat
tergantung kepada aturan sematik yang digunakan. Menurut Steven, skala dapat
digambarkan secara umum menjadi nominal, ordinal, interval atau rasio. (Godfrey,
dkk. 2010).
1. Skala Nominal
Dalam skala nominal, nomor hanya diigunakan sebagai sebuauh label.
Contohnya adalah penomoran pemain sepak bola. Banyak teori yang tidak
sependapat

dengan

skala

nominal.

Torgerson

menyatakan:

Dalam pengukuran, nomor yang digunakan menunjuk kepada jumlah atau


tingkat kepemilikan dari suatu objek, dan bukan menunjukkan kepada objek
itu sendiri. Sedangkan dalam skala nominal, nomor menunjukkan kepada
objek atau kelompok dari objek. (Godfrey, dkk. 2010).
Skala nominal secara sederhana menunjukkan klasifikasi, dimana tidak ada
pengukuran yang diperhitungkan dalam penggunaan istilah. Sifat utama yang dimiliki

4|Teori Pengukuran

Teori Akuntansi

angka tersebut digunakan untuk mengidentifikasi pemain atau obyek. Menurut Godfrey
et al (2010:135) skala ini dapat dilihat dalam sistem akuntansi, contoh yang mendekati
adalah klasifikasi dari asset dan kewajiban. Hal ini juga dapat lihat dari penomoran kelas
aset tetap, dengan header akun dan detail akun yang dirancang dalam sistem. Penomoran
tersebut untuk menunjukkan klasifikasi kelas aset tetap menurut masa manfaatnya
(biasanya dimulai dengan tanah karena non depreciable asset, lalu gedung dan aset tetap
lain yang berumur lebih pendek).
2. Skala Ordinal
Skala urutan dibuat ketika peringkat operasi dari objek dipertanyakan
mengenai sifat yang dihasilkan (Godfrey et al, 2010:135). Misalnya terkait
keputusan pengadaan aset tetap berupa mesin yang diurutkan berdasarkan
tingkat produktivitasnya, yaitu mesin I, II, dan III. Menurut Godfrey telah
menunjukkan adanya skala urutan, yaitu dalam pengaturan penomoran yang
terkait dalam alternatif pemilihan investasi modal. Nomor-nomor tersebut
mengindikasikan urutan dari ukuran produktivitas mesin-mesin tersebut
dari yang terproduktif ke yang tidak produktif (Godfrey et al, 2010:135).
Kelemahan dari skala urutan adalah adanya selang antara nomor (1 ke
2, 2 ke 3, dan 1 ke 3) yang tidak dapat menginformasikan apa-apa mengenai
perbedaan kuantitas dari sifat yang ditampilkan (Godfrey, 2010:135).
Contoh terkait aset tetap, misalnya Mesin I, II, dan III masing-masing
ternyata memiliki tingkat produktivitas per tahunnya, 2000 ton, 1500 ton,
dan 300 ton. Sebagai contoh, dalam tahap pengukuran aspek produktivitas,
pilihan nomor 2 sangat dekat dengan pilihan pada nomor 1 (selisih 500 ton),
dan pilihan pada nomor 3 ternyata jauh lebih kecil daripada pilihan nomor
2 (selisih sampai 1200 ton). Kelemahan yang lainnya menurut Godfrey et al
(2010:135) adalah nomor-nomor tersebut tidak memperlihatkan seberapa
besar proses yang disebabkan dari obyek tersebut. Hal ini dapat dilihat dari
urutan rangking mesin I, II, dan III yang mana angka tersebut tidak
memperlihatkan seberapa besar proses yang disebabkan dari mesin tersebut
(karena hanya angka rangking).
Torgerson dalam Godfrey et al (2010:135) berpendapat bahwa
beberapa skala urutan memiliki sifat asal yakni nilai alami 0, Nilai alami 0

5|Teori Pengukuran

Teori Akuntansi

dapat menjadi titik netral dimana dalam satu arahan telah mencakup
alternatif prediksi keuntungan dan dalam perintah lainnya telah
diprediksikan kerugian yang mungkin timbul. Nomor-nomor tersebut
menjadi alternatif pilihan pada titik 0 yang nantinya akan menjadi pertanda
positif ataupun pertanda negatif.
3. Skala Interval
Skala interval memberikan informasi yang lebih daripada informasi
yang diberikan pada skala ordinal. Tidak hanya dalam penentuan peringkat
obyek yang telah diketahui mengenai sifat yang diberikan tapi juga
rentangan jarak antara interval pada skala yang sama. Pemilihan titik 0 juga
ada dalam skala. sebagai contoh adalah skala Celcius dalam suhu.
Kesamaan interval pada suhu dikenal dari kesamaan volume pemuaian
dengan kesepakatan keputusan dari titik 0 untuk skala. Perbedaan suhu
dibagi menjadi titik beku dan titik didih yaitu 100, sedangkan titik beku
sendiri berada pada suhu 0. Jika suhu pada dua kamar yang berbeda diukur
dengan themometer Celcius menunjukkan 22 dan 30, maka dapat
disimpulkan bahwa ruangan yang kedua lebih panas, karena suhu pada
kamar yang kedua 8 derajat lebih tinggi daripada di kamar yang pertama.
Perbedaan antara angka-angka tersebut dapat diterjemahkan secara
langsung untuk menunjukkan perbedaan karakteristik dari obyek (Godfrey
et al, 2010:135-136).
Kelemahan dari skala interval ini adalah titik 0 diputuskan secara pasti.
Contoh skala interval ini terkait akuntansi piutang dagang, seperti
pengukuran beban kerugian piutang untuk perusahaan yang menggunakan
allowance method dengan jumlah cadangan ditentukan berdasarkan analisis
umur piutang. Dengan melihat interval waktu jatuh tempo (belum jatuh
tempo, 1-30 hari, 31-60 hari, 61-90 hari, dan lain-lain) untuk mengukur
beban kerugian piutang dan cadangannya, walaupun penetapan umur
tersebut lebih bersifat arbiter manajemen.
4. Skala Rasio
Skala rasio adalah skala yang:
a. Memberikan peringkat kepada objek atau kejadian

6|Teori Pengukuran

Teori Akuntansi

b. Interval antar objek diketahui dan sama


c. Asal yang unik, titik nol yang alami, dimana jaraknya dengan objek
terakhir diketahui.
Contohnya adalah pengukuran panjang. Ketika panjang A adalah 10
meter dan panjang B adalah 20 m, maka tak hanya bisa mengatakan bahwa
B 10 meter lebih panjang dari A, tetapi B juga dua kali lebih panjan dari A.
Invarian dalam skala berarti bahwa apapun metode pengukuran yang
digunakan, maka sistem pengukuran akan menghasilkan format yang sama
dari variabel-variabel yang digunakan dan pengambil keputusan akan
membuat keputusan yang sama juga. Tapi hal ini tidak berlaku dalam
akuntansi, setiap sistem yang berbeda akan berbeda juga variabelvariabelnya. Pengukuran pendapatan dengan cara yang berbeda akan
menghasilkan keputusan yang berbeda juga. Metode-metode pengukuran
yang berbeda tersebut tidak memberikan informasi yang sama.
C. Tipe-Tipe Pengukuran
Menurut Godfrey et al (2010:138) harus ada aturan untuk menetapkan angkaangka sebelum pengukuran dapat dilakukan. Aturan ini biasanya berbentuk
seperangkat operasi yang harus diciptakan untuk suatu tugas yang diberikan.
Perumusan aturan menimbulkan skala. Pengukuran dapat dilakukan hanya pada
skala-skala (Godfrey et al, 2010:138).
Campbell dalam Godfrey et al (2010:138) telah menyebutkan dua jenis
pengukuran, yaitu: pengukuran dasar (fundamental) dan turunan (devided
measurement). Campbell menambahkan pernyataan bahwa angka tersebut
ditetapkan sesuai dengan hukum yang mengatur terkait dengan properti (atribut,
bila mengacu pada definisi Suwardjono) dan pengukuran hanya dapat dilakukan
ketika terdapat teori empiris yang telah dikonfirmasi (hukum) untuk mendukung
pengukuran.
Torgerson dalam Godfrey et al (2010:138) menambah satu lagi jenis
pengukuran disamping fundamental dan turunan. Jenis selanjutnya, yaitu
pengukuran fiat, disebut-sebut beliau sebagai tambahan untuk pengukuran
fundamental dan turunan yang telah dibahas oleh Campbell. Penjelasan terkait
ketiga jenis pengukuran tersebut adalah sebagai berikut:

7|Teori Pengukuran

Teori Akuntansi

1. Pengukuran Fundamental
Sebuah pengukuran mendasar adalah di mana angka ditetapkan ke
properti dengan mengacu pada hukum alam dan yang tidak tergantung pada
pengukuran atas variabel lain. Sifat seperti panjang, hambatan listrik,
jumlah dan volume secara fundamental terukur. Sebuah skala rasio dapat
dirumuskan untuk masing-masing properti berdasarkan ketentuanketentuan yang berkaitan dengan ukuran yang berbeda (jumlah) dari harta
yang diberikan. Penafsiran angka tergantung pada teori empiris yang telah
dikonfirmasi yang mengatur operasi pengukuran (Godfrey et al, 2010:138).
Berdasarkan definisi diatas, maka dapat disimpulkan karakteristik
pengukuran fundamental adalah:
a. Penetapan angka ke atribut berdasarkan pada hukum alam atas
atribut tersebut.
b. Penetapan angka tidak didasarkan pada pengukuran variabel lain.
c. Penafsiran angka tergantung pada teori empiris yang telah
dikonfirmasi (confirmed empirical theory) yang mengatur operasi
pengukuran.
Godfrey et al (2010:138) menyatakan bahwa ternyata sifat
fundamental adalah bersifat saling menambah dan operasi aritmatika dapat
dilakukan secara mudah dengan pemantauan secara fisik.
2. Pengukuran Turunan
Menurut Campbell dalam Godfrey et al (2010:139), pengukuran
turunan berasal dari salah satu yang tergantung pada pengukuran atas dua
atau lebih besaran lainnya. Pengukuran kepadatan adalah sebuah contoh.
Hal ini tergantung pada baik pengukuran massa dan volume. Operasi
pengukuran terderivasi tergantung pada hubungan yang diketahui atas sifatsifat dasar suatu properti. Didasarkan pada teori empiris yang telah
dikonfimasi terkait properti diberikan untuk memperoleh properti lainnya.
Operasi matematika dapat dilakukan pada angka-angka dari pengukuran
terderivasi (Godfrey et al, 2010:139).
Berdasarkan definisi terkait pengukuran turunan diatas, dapat
disimpulkan bahwa jenis pengukuran ini merupakan pengukuran kepada

8|Teori Pengukuran

Teori Akuntansi

atribut secara tidak langsung. Sebagai contoh untuk pengukuran kepadatan


diatas, dapat mengukur tingkat kepadatan suatu benda secara langsung,
tetapi kepadatan akan terbentuk bila mengukur massa dan volume benda
tersebut. Juga sama seperti akuntansi, dapat diketahui berapa ukuran profit
perusahaan pada suatu periode hanya dengan melakukan pengukuran
terhadap atribut-atribut lain yang membentuknya, yaitu melalui operasi
penambahan pendapatan dan pengurangan beban (Godfrey et al, 2010:139).
Menurut Godfrey et al, hubungan yang diketahui di antara sifat-sifat fisik
dapat mempermudah pengukuran melalui beberapa sifat-sifat dasar atribut
(Godfrey et al, 2010:139).
3. Pengukuran Fiat
Godfrey et al (2010:139) berpendapat bahwa hal ini khas dalam ilmuilmu sosial, dan dalam akuntansi, untuk menggunakan definisi yang
dibangun secara arbiter untuk menghubungkan properti-properti tertentu
yang diamati (variabel) ke suatu konsep tertentu, tanpa memiliki suatu teori
yang telah dikonfirmasi untuk mendukung hubungan ini. Godfrey et al
(2010:139) memberi penjelasan terkait jenis pengukuran ini.
........ dalam akuntansi tidak diketahui bagaimana mengukur konsep profit
secara langsung. Sebaliknya, diasumsikan bahwa variabel pendapatan,
keuntungan, biaya, dan kerugian berkaitan dengan konsep laba dan karena
itu dapat digunakan untuk memberikan ukuran tidak langsung dari profit.
Digunakan definisi yang arbiter untuk menghubungkan variabel ke konsep
tersebut. Dalam hal ini, mempertimbangkan jumlah aljabar dari
pengukuran variabel yang menjadi ukuran profit.
Torgerson dalam Godfrey et al (2010:139) menunjukkan bahwa
masalah utama dengan pengukuran dengan fiat adalah berbagai skala
pengukuran dapat dibangun akibat tidak didasarkan pada teori yang telah
dikonfirmasi. Torgerson menambahkan, dalam akuntansi, misalnya
berbagai dewan standar akuntansi menentukan skala akuntansi dengan fiat,
bukan dengan mengacu pada teori pengukuran yang telah dikonfirmasi,
Godfrey et al (2010:139) memberikan penjelasan terkait keterbatasan
pengukuran ini dengan pernyataan apakah diketahui, misalnya bahwa cara

9|Teori Pengukuran

Teori Akuntansi

tertentu yang digunakan untuk mengukur profit adalah valid ?, hal ini
mungkin saja salah satu dari ratusan cara untuk mengukur profit sepanjang
cara tersebut berdasarkan teori yang telah dikonfirmasi, dan juga tidak ada
alasan yang baik untuk yakin dengan hasilnya.
D. Kehandalan dan Akurasi Dalam Pengukuran
Yang
kegiatan

dimaksud

dengan

keandalan

dan

ketepatan

dari

pengukuran,harus dinyatakan terlebih dahulu bahwa tidak ada

pengukuran yang bebas dari kesalahan kecuali perhitungan. Misalnya, mengukur


jumlah kursi di ruangan tertentu dan dengan benar. Untuk semua pengukuran
mengandung kesalahan atau eror.
Menurut Suwardjono (2010:171), Keterandalan adalah kemampuan informasi
untuk memberi keyakinan bahwa informasi tersebut benar atau valid. Beliau juga
menambahkan bahwa keterandalan sangat erat kaitannya dengan sumber informasi
dan cara merepresentasi, mendeskripsi atau menyimbolkannya. Sedangkan
Godfrey et al (2010:140) berpendapat terkait dengan apa yang dimaksud keandalan
dalam pengukuran atau keakuratan pengukuran. Beliau juga menambahkan bahwa
semua pengukuran tidak bebas dari error, kecuali dalam hal menghitung dan semua
pengukuran melibatkan error.
1. Sumber sumber Kesalahan
Sumber-sumber kesalahan dalam pengukuran menurut Godfrey et al
(2010:140) adalah sebagai berikut:
a. Operasi Pengukuran dinyatakan secara tidak tepat.
Aturan untuk menetapkan angka atas atribut yang diberikan
biasanya terdiri dari serangkaian operasi. Sebuah aset operasi bisa
saja dinyatakan secara tidak tepat dan bisa diinterpretasikan dengan
salah oleh pihak yang mengukur. Sebagai contoh perhitungan
keuntungan melibatkan beberapa operasi, seperti klasifikasi biaya
dan alokasi antara aset-aset dan biaya-biaya yang sering
diinterpretasikan secara berbeda oleh Akuntan yang berbeda
(Godfrey et al, 2010:140).

10 | T e o r i P e n g u k u r a n

Teori Akuntansi

b. Pengukur
Pengukur mungkin salah menafsirkan aturan, bias, atau
menerapkan atau membaca instrumen secara tidak benar. Satu
perhatian dalam akuntansi adalah bahwa manajer memiliki bias
tertentu untuk meningkatkan laba tercatat atau aset dan kemudian
manajer ini melakukan tekanan pada akuntan untuk membiaskan
akun-akun terkait (Godfrey et al, 2010:140).
c. Instrumen
Banyak operasi pengukuran meminta penggunaan instrumen
fisik, seperti penggaris atau termometer atau barometer, yang
mungkin cacat. Ada potensi untuk kesalahan bahkan ketika
instrumen tersebut bukan alat fisik tetapi, misalnya, grafik, tabel,
tabel angka atau indeks harga, misalnya (Godfrey et al, 2010:140).
d. Lingkungan
Keadaan di mana pengukuran dilakukan dapat mempengaruhi
hasil. Sebagai contoh kondisi cuaca dapat mempengaruhi instrumen
atau

pengukuran,

kebisingan

dapat

mengalihkan

perhatian

pengukuran atau, dalam akuntansi, tekanan dari manajemen dapat


mempengaruhi keputusan akuntan, tekanan (misalnya dari beban
kerja yang berat) menyebabkan penyimpangan konsentrasi dan
gangguan, sumber kesalahan dapat diberi label lingkungan.
Kesalahan acak biasanya disebabkan oleh faktor lingkungan. Faktor
lain adalah lingkungan dimana manajemen perusahaan beroperasi
(Godfrey et al, 2010:140).
e. Atribut yang tidak jelas
Apa yang harus diukur mungkin tidak jelas, khususnya jika
pengukuran melibatkan suatu konsep yang tidak dapat diukur secara
langsung. Masalah ketidakjelasan atribut tidak jarang di akuntansi.
Berapa nilai dari aktiva tidak lancar ? Apakah nilai sekarang, biaya
akuisisi, biaya saat ini atau harga jual ? mengingat bahwa tujuan
utama akuntansi adalah untuk mencerminkan nilai, penting untuk
secara jelas mendefinisikan nilai. Apakah nilai pakai, nilai tukar,

11 | T e o r i P e n g u k u r a n

Teori Akuntansi

atau beberapa atribut lain yang akuntan harus mengukur ?


Masalahnya terletak dalam menentukan atribut yang akan diukur
(Godfrey et al, 2010:140-141).
f. Resiko dan Ketidakpastian
Hal ini berkaitan dengan distribusi pengembalian aset berwujud.
Misalnya keuntungan masa mendatang pada aset berwujud seperti
gedung adalah berisiko tetapi homogen (lebih kurang) dan harganya
dapat diamati yaitu ketika harga satu aset mungkin dibawah atau
overestimate jumlah pengembalian yang belum pasti (Godfrey et al,
2010:141).
2. Pengukuran yang dapat diandalkan
Sering diperlukan bahwa sebelum unsur-unsur seperti aktiva,
kewajiban, pendapatan, dan beban diakui dalam laporan keuangan, unsurunsur tersebut harus mampu untuk dilakukan pengukuran yang dapat
diandalkan. Gagasan keandalan menggabungkan dua aspek: ketepatan dan
kepastian

pengukuran, dan pengungkapan yang secara meyakinkan

mewakili sehubungan dengan transaksi ekonomi yang mendasarinya dan


berbagai peristiwa. Aspek pengukuran menyangkut presisi pengukuran.
Istilah presisi ini sering digunakan dalam dua konteks. Pertama.
mungkin merujuk ke suatu angka. Kedua, ia dapat merujuk ke operasi
pengukuran, dalam hal ini berkaitan dengan suatu:
a. tingkat penyempurnaan operasi atau kinerjanya
b. persetujuan hasil antara operasi pengukuran yang digunakan
berulang kali yang diterapkan pada properti tertentu.
Berdasarkan dua istilah tersebut, kita dapat mengatakan bahwa realibity
pengukuran berkaitan dengan presisi dengan mana suatu properti tertentu
diukur dengan menggunakan satu perangkat operasi.
3. Pengukuran yang akurat
Meskipun prosedur pengukuran mungkin sangat handal, memberikan
hasil yang sangat tepat, namun tidak mungkin menghasilkan hasil yang
akurat. Alasannya adalah akurasi berhubungan dengan seberapa dekat
pengukuran menuju nilai sejati dari atribut pengukuran. (Godfrey, dkk.

12 | T e o r i P e n g u k u r a n

Teori Akuntansi

2010). Sifat fundamental, seperti panjang dari suatu objek, dapat ditentukan
secara akurat dengan membandingkan objek dengan standar yang mewakili
nilai sebenarnya.
Masalahnya adalah pada beberapa pengukuran nilai yang sebenarnya
tidak diketahui. Untuk menentukan ketepatan dalam akuntansi, diperlukan
atribut apa yang perlu diukur untuk mencapai tujuan pengukuran. Tujuan
dari akuntansi untuk menyajikan informasi yang berguna. Oleh karena itu
akurasi pengukuran berkaitan dengan gagasan pragmatis dari kegunaan,
tetapi akuntan tidak sama dalam menentukan spesifikasi dan standar
kuantitatif yang harus diterapkan.
E. Pengukuran dalam Akuntansi
Kerangka pengukuran dan pengakuan sebagaimana telah dimuat dalam SFAC
No. 5 telah dikembangkan dan dilengkapi dengan SFAC No. 7 tentang penggunaan
informasi aliran kas dan nilai sekarang dalam pengukuran akuntansi. Sebagai
komponen kerangka konseptual, SFAC No. 7 memberi pedoman yang berisi:
(Suwardjono, 2010:196)
1. Tujuan nilai sekarang dalam pengukuran akuntansi
2. Prinsip-prinsip umum yang melandasi penggunaan nilai sekarang, terutama
bila jumlah rupiah aliran kas masa datang saat terjadinya (timing), atau
keduanya tidak pasti.
Saat pengukuran akuntansi terdiri dari pengukuran saat pengakuan mula-mula,
dan pengukuran baru mulai (Suwardjono, 2010:196). Pengukuran saat pengakuan
mula-mula adalah pengukuran pada suatu elemen atau pos timbul dan dicatat
pertama kali akibat transaksi, kejadian, atau keadaan (Suwardjono, 2010:196).
Contoh yaitu saat pengakuan awal aset tetap pada cost saat terjadinya transaksi
(acrual basic). Sedangkan pengukuran baru mulai merupakan pengukuran dalam
periode-periode setelah pengakuan mula-mula untuk menentukan jumlah rupiah
bawaan baru yang tidak berkaitan dengan jumlah-jumlah rupiah sebelumnya
(Suwardjono, 2010:196), contohnya seperti pengukuran nilai buku aset dan
depresiasi yang dibebankan pada periode pelaporan.
Tujuan

nilai

sekarang

menangkap/merefleksikan

dalam

sedapat

pengukuran
mungkin

akuntansi

perbedaan

adalah

untuk

ekonomik

antara

13 | T e o r i P e n g u k u r a n

Teori Akuntansi

sehimpunan aliran kas masa datang dan untuk mengestimasi nilai wajar
(Suwardjono, 2010:199). Menurut SFAC No. 7, paragraf 23 dalam Suwardjono
(2010:200), nilai sekarang dapat menangkap perbedaan ekonomik antara aliran kas
jika unsur-unsur berikut dipertimbangkan.
1. Suatu estimasi aliran kas masa datang atau dalam beberapa kasus yang
kompleks, serangkaian kas masa datang yang tiba pada saat berbeda
2. Harapan-harapan tentang variasi yang mungkin terjadi dalam jumlah dan
saat tibanya aliran kas tersebut.
3. Nilai waktu uang yang ditunjukkan dengan oleh bunga bebas resiko
4. Harga atau nilai penanggungan resiko atau ketidakpastian yang melekat
pada aset dan kewajiban.
5. Faktor-faktor lain termasuk likuiditas dan ketaksempurnaan pasar.
Godfrey et al (2010:145) menjelaskan terkait pengukuran bahwa pengukuran
dalam akuntansi termasuk dalam kategori pengukuran yang didasarkan pada modal
dan keuntungan. Laba akuntansi, sesuai dengan standar akuntansi internasional,
merupakan perubahan modal selama periode dari semua kegiatan termasuk
kenaikan dan penurunan nilai wajar aktiva bersih, tidak termasuk transaksi dengan
pemilik. Modal berasal dari pengukuran nilai wajar antara aktiva dan kewajiban.
Hal itu berarti harus dilakukan pengukuran nilai modal awal, jumlah penghasilan
yang diterima, jumlah pemakaian modal, dan perubahan nilai wajar aktiva bersih.
Peningkatan modal selama periode kemudian akan mengukur jumlah laba dari
berbagai sumber termasuk operasi dan pengukuran kembali (setelah disesuaikan
dengan modal baru atau pembayaran dividen). Nilai wajar aktiva bersih disajikan
kembali dan kemudian akan menjadi modal pembukuan pada periode berikutnya
(Godfrey et al, 2010:145).
F. Permasalahan Pengukuran Bagi Auditor
Beberapa isu untuk auditor terkait pergeseran fokus pengukuran keuntungan
dari pendapatan dan beban untuk menilai perubahan atas nilai wajar aktiva bersih.
Ketika keuntungan ditentukan dengan cara mencocokkan pendapatan dan beban
selama satu periode, auditor dapat berkonsentrasi pada pengumpulan bukti bahwa
transaksi tersebut telah ditangani dengan tepat oleh sistem akuntansi klien. Namun

14 | T e o r i P e n g u k u r a n

Teori Akuntansi

ketika keuntungan berasal dari perubahan nilai wajar. Pertanyaan yang lebih sulit
muncul untuk auditor terkait bukti pada perkiraan manajemen.
Sebagai contoh, salah satu aspek untuk mengukur keuntungan dengan
perubahan nilai wajar aktiva bersih yang ditangani oleh akuntansi standar IAS
36/AASB 136. Standar ini mensyaratkan penurunan nilai aktiva diakui sebagai rugi
penurunan nilai. Manajemen entitas diperlukan untuk menilai pada tanggal laporan
apakah ada indikasi bahwa aset mungkin terganggu. Jika kondisi tersebut terjadi,
manajemen akan mengestimasi jumlah terpulihkan aktiva tersebut. Jika jumlah
yang dapat dipulihkan suatu aktiva kurang dari nilai tercatatnya, nilai tercatat aktiva
harus diturunkan menjadi sebesar nilai yang dapat diperoleh kembali. Pengurangan
ini merupakan kerugian penurunan nilai. Kerugian penurunan nilai diakui segera
dalam laba dalam banyak kasus (Godfrey, et al, 2010:150).
Pedoman standar audit internasional untuk kerugian penurunan nilai audit dan
perkiraan nilai wajar terkandung adalah ISA 540. Auditor diharuskan untuk
mengumpulkan bukti untuk menilai jika manajemen telah mengikuti standar
akuntansi yang tepat dan jika jumlah yang diakui sebagai kerugian penurunan nilai
wajar. Untuk melakukan hal ini, auditor harus menentukan apakah manajemen telah
memilih metode penilaian yang sesuai dan masuk akal dan asumsi. Jika standar
akuntansi tidak meresepkan metode penilaian untuk aset dan kewajiban tertentu
yang dipertimbangkan, auditor dapat menerima metode penilaian yang wajar. Ini
berarti bahwa sulit bagi auditor untuk tidak setuju dengan pemilihan manajemen
terhadap metode penilaian tertentu yang sedang digunakan oleh entitas lain. Auditor
harus mengumpulkan bukti bahwa metode ini diterapkan secara konsisten, sehingga
manajer tidak memilih dan memilih metode dari tahun ke tahun tergantung pada
hasil keuntungan yang diinginkan. Auditor juga harus menilai apakah nilai aktiva
atau kewajiban dengan benar ditentukan dari asumsi signifikan manajemen, model
penilaian dan data yang mendasari relevan. Data tersebut akan mencakup suku
bunga yang digunakan untuk mendiskontokan arus kas, nilai pasar digunakan oleh
perusahaan perbandingan, data royalti, dan sebagainya (Godfrey et al, 2010:150).
Adanya berbagai alternatif metode penilaian atas aset yang menimbulkan
masalah tersendiri bagi auditor. Terdapat banyak cara penilaian aset yang dapat
diterima oleh auditor jika memenuhi persyaratan:

15 | T e o r i P e n g u k u r a n

Teori Akuntansi

1.

Metode penilaian diaplikasikan secara tepat dan konsisten,

2.

Menggunakan asumsi yang beralasan,

3.

Data yang digunakan untuk penilaian tersebut valid.

Pada prakteknya, auditor kadang menerima tekanan dari manajer perusahaan


auditee untuk menerima metode penilaian atas aset perusahaan tersebut jika tidak
maka auditee akan mencari auditor yang lain. Masalah ini yang muncul adalah audit
atas biaya historical seperti standar biaya persediaan. Seharusnya biaya atas
persediaan ditetapkan secara tepat, tapi biaya itu didasarkan atas asumsi proses
produksi yang dipengaruhi oleh kondisi yang berubah-ubah.

16 | T e o r i P e n g u k u r a n

Teori Akuntansi

BAB III
PENUTUP
Elemen-elemen statement keuangan harus diukur untuk membentuk informasi
semantic, yaitu elemen (object), ukuran (size), dan hubungan (relationship). Atribut
elemen harus diidentifikasi dan atribut pengukuran yang sesuai dipilih untuk
mendapatkan ketepatan penyimbolan. Pengukuran adalah penentuan besarnya unit
pengukur yang akan dilekatkan pada suatu object (elemen/pos) yang terlibat dalam
suatu transaksi, kejadian, atau keadaan untuk merepresentasi makna atribut objek
tersebut. Sehingga dua objek atau lebih dapat dibedakan dan diperbandingkan atas
dasar makna tersebut. Setelah elemen-elemen diukur, apakah elemen harus
disajikan melalui statement keuangan atau media pelaporan yang lain. Oleh karena
itu, diperlukan criteria pengakuan atas dasar elemen yang dipilih, pengukuran yang
tepat, dan karakteristik kualitatif. Empat criteria pengakuan utama (fundamental)
adalah definisi, keterukuran, keberpautan, dan keterandalan dalam lingkup kualitas
informasi batas atas dan batas bawah.
Pengukuran mencakup hubungan formal angka dengan sifat-sifat atau kejadian
dengan berpedoman pada peraturan semantik. Peraturan yang digunakan untuk
menentukan jumlah dapat dientukan sesuai dengan keempat skala: nominal,
ordinal, interval atau rasio. Dalam akunting, kita dapat menggunakan skala rasio
untuk mengukur sifat-sifat finansial pendapatan, aset dan hutang. Namun demikian,
kita juga dapat mengaplikasikan skala ordinal untuk peringkat projek-projek
investasi atau profitabilitas atau keuntungan perusahaan, atau skala interval dalam
akunting biaya standar.
Pada pembahasan ini menjelaskan tiga jenis pengukuran yang berbeda.
Pengukuran mendasar adalah apabila angka-angka yang tidak bergantung pada
sifat-sifat lainnya, namun tetap dapat dilakukan dengan mengacu pada hukum alam.
Dalam akunting, terdapat perdebatan tentang sifat nilai dasar. Pengukuran yang
dilakukan, sangat bergantung pada hasil pengukuran terdahlu pada dua atau lebih
kuantitas lainnya. Pengukuran pertama selalu berubah dan biasanya dapat
ditentukan dengan fiat. Semua pengukuran tidak terlepas dari kesalahan karena
banyak pengukuran nilai yang benar tidak diketahui. Teori pengukuran juga
mengajarkan pada kita bahwa apabila banyak pengukuran dalam akunting ada pada

17 | T e o r i P e n g u k u r a n

Teori Akuntansi

skala rasio, yang merupakan skala yang paling informatif, maka akan terdapat
dasar teori yang sangat lemah sebab dikategorikan sebagai pengukuran fiat.
Pengukuran fiat adalah pengukuran yang mengaitkan bilangan dengan
sifat-sifat objek atau kejadian-kejadian berdasarkan definisi yang berubah.
Kepercayaan yang sangat besar pada pengukuran seperti ini dapat diperoleh
apabila terdapat bukti-bukti emperis atau bukti-bukti teoritis yang mendukung
hubungan sifat-sifat atau kebutukan akan teori-teori seperti ini.

18 | T e o r i P e n g u k u r a n

Teori Akuntansi

DAFTAR PUSTAKA
Godfrey, Jayne, Allan Hodgson, Ann Tarca, Jane Hamilton, Scott Holmes (2010),
Accounting Theory,7th ed., John Wiley & Sons, Inc. Suwardjono
(2010),
https://www.academia.edu/11878634/Teori_Pengukuran_dalam_Akuntansi.
Diakses pada tanggal 5 Maret 2016. Pukul 20.32
http://www.slideshare.net/erlinda11593/measurement-theory-42976572.

Diakses

pada tanggal 5 Maret 2016. Pukul 20.48

19 | T e o r i P e n g u k u r a n