Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

Kurangnya Mutu Akademik di Indonesia

Mata Kuliah
Manajemen Pendidikan

Oleh :
Muhammad Kartika Dewantoro
14010024089

Kelas Teknologi Pendidikan 2014 B

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN KURIKULUM DAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN
PRODI TEKNOLOGI PENDIDIKAN
2015

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di Indonesia terdapat banyak sekolah atau lembaga

yang telah mendidik dan

mengajar anak-anak di Indonesia. Akan tetapi yang diterapkan di Indoesia untuk


anak-anak Indonesia belum mampu membentuk masyarakat Indonesia yang memiliki
keterampilan dan ilmu pengetahuan yang mumpuni.Penguasaan ilmu pengetahuan
yang kurang dan lemah inilah membuat Indonesia masih belum dapat berkembang
secara mendunia. Hal tersebut dikarenakan kurangnya kemamuan masyarakat bangsa
Indonesia untuk belajar dan kurangnya perhatian pembelajar dan orang tua dalam
memahami anak atau peserta didik mereka.
B. Rumusan masalah
1. Apa definisi dari rendahnya mutu akademik di Indonesia?
2. Mengapa dapat terjadi rendahnya mutu akademik di Indonesia?
3. Faktor apa saja yang memengaruhi rendahnya mutu akademik di Indonesia?
4. Siapa saja yang berperan dalam masalah rendahnya mutu akademik Indonesia?
5. Bagaimana solusi dalam mengatasi rendahnya mutu akademik di Indonesia?
C. Tujuan
Maksud dan tujuan dari makalah ini adalah untuk membahas pentingnya masalah
tentang rendahnya mutu di Indonesia, mengulas tentang rendahnya mutu akademik di
Indonesia, mengetahui cara penanganan masalah kurangnya mutu akademik di
Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
Sebelum mengulas secara mendalam mengenai masalah kurangnya mutu
akademik di Indonesia, perlu diketahui secara mendalam definisi atau dari
masalah tersebut.Arti kata berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia, kurang
yang berarti belum atau tidak cukup, mutu yang berarti kwalitas atau suatu ukuran
terhadap sesuatu, akademikadalah prestasi yang diambil dari mata pelajaran. Dari
arti masing-masing kata dapat disimpulkan bahawa kurangnya mutu pendidikan
adalah belum tercukupinya mutu dari hasil prestasi pebelajar di Indonesia.
Akademik masih terkait dengan namanaya pendidikan yang dimana pendidikan
diselenggarakan untuk memberikan pencerahan dan sekaligus perubahan
signifikan kepada pebelajar. Dapat dikatakan pula bahwa akademik disini adalah
berkenaan dengan kegiatan pendidikan yang dilakukan di lembaga pendidikan di
Indonesia. Yakni prestasi pebelajar yang masih kurang dalam suatu kegiatan
pendidikan yang menjadi suatu acuan bahwa masih sedikit sekali masyarakat
Indonesia lulusan dari suatu lembaga pedidikan yang masih belum mampu
bersaing di dalam dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan. Sehingga hal inilah
yang menjadi penyebab Indonesia masih belum bisa menjadi negara maju yang
memiliki daya saing secara global.
B. Faktor Kurangnya Mutu Akademik di Indonesia
Kurangnya mutu akademik di Indonesia berkenaan dengan tiga hal, yakni
pebelajar, sekolah, dan faktor lingkungan pebelajar.
Menurut Alex Sobur (2003) yang menjadi faktor dari pebelajar sendiri yakni,
a. Fisik
Faktor fisik yang dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok, antara
lain faktor kesehatan. Umpamanya anak yang kurang sehat atau kurang gizi,
daya tangkap dan kemampuan belajarnya akan kurang dibandingkan dengan
anak yang sehat. Selain faktor kesehatan, faktor lain yang penting adah cacat
yang dibawa sejak anak dalam kandungan. Keadaan cacat ini juga dapat
menghambat keberhasilan pebelajar.
b. Psikis
1. Intelegensi
Anak yang memiliki intelegensi yang rendah mengalami kesulitan dalam
mengikuti pembelajaran, bahkan dapat tertinggal oleh teman-teman di

kelasnya. Dikarenakan anak ini membutuhkan proses belajar yang lebih


lambat dan lebih banyak memerlukan waktu untuk belajar.
2. Perhatian dan Minat
Bagi seorang anak, mempelajari seuatu hal yang menarik perhatian akan
lebih mudah diterima daripada mempelajari hal yang tidak menarik
perhatian. Dalam hal minat, tentu saja seseorang yang menaruh minat pada
suatu bidang akan lebih mudah mempelajari bidang tersebut. Sekalipun
seseorang tersebut mampu mempelajari sesuatu, tetapi jika tidak
mempunyai minat, tidak mau, atau tidak ada kehendakuntuk mempelajari,
ia tidak akan bisa mengikuti proses belajar.
3. Bakat
Pada dasarnya bakat mirip dengan intelegensi. Itulah sebabnya seorang
anak memiliki intelegensi sangat cerdas atau luar biasa disebut juga
dengan talentend child, yakni anak berbakat. Bakat setiap anak berbeda,
seorang anak yang berbakat musik akan lebih cepat mempelajari musik
tersebut. Orang tua terkadang kurang memperhatikan faktor bakat,
sehingga mereka memaksakan kehendak untuk menyekolahkan anaknya
pada bidang keahlian tertentu tanpa mengetahui terlebih dahulu bakat yang
dimiliki anaknya itu. Pemaksaan kehendak terhadap anak tentu saja akan
berpengaruh buruk terhadap prestasi anak yang bersangkutan.
4. Motivasi
Faktor motivasi memiliki peranan dalam proses belajar. Ketiadaan
motivasi baik internal maupun eksternal akan menyebabkan kurang
semangatnya anak dalam melakukan proses pembelajaran baik di sekolah
maupun di rumah. Jika orang tua atau guru memberikan motivasi kepada
anak, maka timbul dorongan pada diri anak untuk belajar dan anak akan
mengetahui manfaat belajar dan tujuan yang hendak dicapai.

5. Kematangan
Kematangan ini erat sekali hubungannya dengan masalah minat dan
kebutuhan anak. Oleh karena itu, setiap usaha belajar akan nerhasil bila
dilakukan bersamaan dengan tingkat kematangan individu. Kita tebtu tidak
bisa melatih anak yang baru berumur 5 bulan untuk belajar berjalan.
Begitu pula dengan kita tidak bisa memaksa pebelajar pada usia sekolah

dasar untuk mempelajari pelajaran sekolah menengat atas, semua juga pelu
dilihat dari tingkat kematangan.
6. Kepribadian
Kepribadian mempengaruhi keadaan anak dalam belajar. Dalam proses
pembentukan kepribadian, terdapat beberapa fase yang harus dilalui sesuai
dengan tahap perkembangan anak. Seorang anak yang belum mencapai
fase tertentu akan mengalami kesulitan jika orang tua menagajarkan
sesuatu yang belum sesuai dengan fase tersebut kepribadinnya.
Selanjutnya adalah faktor dari sekolah dan lingkunan. Faktor ini juga memengaruhi
mutu akademik pebelajar dan faktor ini adalah eksogen yang berasal dari luar di
pebelajar. Faktor eksogen menurut Alex Sobur (2003) yakni,
1. Faktor Sekolah
Faktor lingkungan sosial sekolah seperti para guru , pegawai administrasi, dan
teman-teman sekolah, dapat memengaruhi semangat belajar seorang anak. Pada
Faktor guru, guru menunjukkan sikap dan perilaku yang rajin dapat mendorong
ank untuk melakukan hal yang sama. Selain itu cara guru mengajar seperti
sikap dan kepribadian guru, tinggi rendahnya pengetahuan dapat menentukan
keberhasilan anak dalam belajar. Disisi lain terdapat juga faktor hubungan
antara guru dengan murid juga dapat menentukankeberhasilan anak dalam
belajar. Faktor lain yang membantu kesungguhan anak di sekolah adalah faktor
disiplin, sudah tentu anak tidak akan serius dalam belajar, sehingga mutu
pelajaran akan menurun.
2. Faktor Lingkungan
Anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang baik, memiliki
intelegensi yang baik, bersekolah di suatu sekolah yang keadaan guru-gurunya
serta alat pelajarannya yang baik, belum tentu pula menjamin anak belajar
dengan baik. Misal karena jarak antar rumah dan sekolah yang jauh sehingga
memerlukan kendaraan atau waktu yang cukup lama dapat melelahkan anak
yang bisa berakibat pada proses dan hasil belajar anak. Selain itu faktor teman
bergaul dan aktivitas dalam masyarakat dapat pula mempengaruhi kegiatan
belajar anak. Aktivitas luar sekolah memang baik, akan tetapi jika anak terlalu
banyak melakukan aktivitas di luar sekolah kurang mampu membagi waktu
belajar dengan sendirinya aktivitas tersebut akan merugikan anak karena
kegiatan belajarnya terganggu.
Faktor lain ditambahkan berdasarkan pendapat dari Jimerson, Egeland dan Teo
(dalam papalia, 2008) tentang faktor yang memengaruhi mutu akademik yakni,
1. Faktor Status Sosioekonomis dan Lingkungan Keluarga
5

Status sosioekonomi menjadi faktor yang kuat dalam prestasi akademik melalui
pengaruhnya terhadap iklim keluarga, lingkungan keluarga, dan cara
membesarkan anak

(National Council dalam Papalia, 2008). Status

sosioekonomi mempengaruhi kemampuan orang tua untuk menyediakan


lingkungan yang mendukukung pembelajaran. Selain itu juga faktor orang tua
yang selalu memberikan dorongan kepada anak memiliki motivasi intrinsik
yang lebih baik dibandingan dengan anak yang kurang diberikan dorongan oleh
orang tua.
Apabila seorang individu atau pebelajar tersebut pada dasarnya berasal dari
keluarga yang memiliki status ekonomi rendah atau menengah ke bawah,
cenderung pebelajar tersebut mau tidak mau harus disekolahkan ke sekolah
yang cenderung murah dan pastinya sekolah yang seperti itu kebanyakan
memiliki mutu pendidikan yang kurang, bahkan fasilitas dan sarana prasarana
yang kurang memadahi. Dan apabila pebelajar juga memiliki lingkungan
keluarga yang rusak, terdapat kekacuan di dalam keluarganya, dan
pertengakaran antara orang tua, maka anak tidak akan betah berada di dalam
rumah dan hal tersebut dapat memengaruhi akademik pebelajar, bahkan anak
tersebut dapat pergi meninggalkan rumah yang akan memperburuk keadaan
dalam lingkup pendidikan anak tersebut.
2. Faktor Sistem Pendidikan
Sistem pendidikan berpusat pada anak, artinya berfokus kepada minat anak.
Sejumlah pendidikan dan pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan,
dimulai dengan memperbanyak pekerjaan rumah hingga organisasi dan
kurikulum. Pendidikan pengajaran pada tingkat awal berfokus terhadap bidang
berdasarkan minat dan bakat yang dimiliki oleh anak.
Hal tersebut diatas berkenaan dengan bakat dan minat anak atau pebelajar.
Apabila sistem pendidikan yang diterapkan dan dijalankan tidak berfokus
kepada minat dan bakat yang dimiliki pebelajar, maka tidak akan terjadi
koherensi pembelajaran antara pebelajar dan materi pelajaran yang
diterimanya, sehingga dapat mengurangi mutu akademik pebelajar pada materi
yang sedang ditekuninya tanpa didasari keminatan pebelajar atau walaupun
memiliki keminatan akan tetapi tidak memiliki bakat dalam bidang tersebut.
C. Menumbuh Kembangkan Mutu Akademik Pebelajar
1. Menjaga Stamina dan Kesehatan Pebelajar

Dalam kehidupan sehari-hari, sebenarnya yang termudah dan tersulit untuk


menjaga kesehatan adalah dengan memerhatikan asupan makanan dan
minuman. Dengan asupan yang baik, stamina tubuh akan terjaga. Namun
asupan yang baik belum tentu selaras dengan asupan makanan kita secara
benar. Seringkali asupan mineral yang dibutuhkan tubuh terdapat dalam
makanan-makanan yang sering dianggap remeh, seperti tempe, tahu, sayursayur, kacang-kacangan, dan sbagainya. Sebaliknya, makanan-makanan lezat
yang menggugah selera makan malah membawa dampak buruk bila
dikonsumsi berlebihan.
Terkadang orang tua kurang memerhatikan hal tersebut. Mereka cenderung
membiarkan anaknya makan apapun yang diinginkan oleh si anak. Sehingga
makanan tersebut dapat menyebabkan gangguan pada organ tubuh termasuk
pada otak. Makanan yang tidak memiliki asupan gizi hanya mengenyangkan
tidak dapat mencerdaskan dan menambah gizi anak. Sehingga dapat membuat
kinerja otak menurun bahkan menghambat kemampuan bekerja otak. Hal ini
membuat

pebelajar

mengalami

kelemahan

berpikir

dalam

kegiatan

pembelajaran di kelas sehingga dapat menurunya mutu akademik pebelajar


tersebut.
2. Peningkatan Intelegensi Pebelajar
Intelegensi menurut Hebert Spencer (dalam Harry Alder 2001) adalah kualitas
bawaan sejak lahir, sebagai hal yang berbeda dari kemampuan yang diperoleh
melalui belajar.
Agar dapat meningkatkan Intelegensi pebelajar dengan dua cara utama. Yang
pertama adalah dengan mengikuti tes dan latihan, atau penguasaan tes. Dengan
kata lain diperlukan keterampilan untuk mengikuti sebuah tes psikometri.
Sama halnya dengan prestasi lain lain yang pernah diraih, hanya perlu
mengetahui teknik tes Intelegensi. Cara kedua adalah dengan meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan pebelajar dlaam setiap subyek tes. Dalam hal
ini pebelajar harus mengejar semua ketertinggalan pebelajar dan kembali
mempelajari ulang apa yang telah dilupakan.
Dalam hal ini merujuk ke orang tua lagi, orang tua harus mampu mengetahui
seberapa tinggi Intelegensi anak. Apa bila orangtua mengetahui bahwa
Intelegensi anak tergolong rendah, maka orang tua harus melakukan dua hal
utama diatas dalam peningkatan Intelegensi anak. Perlu pengawasan dari

orang tua secara langsung agar dapat diketahui bahwa seorang anak tadi
apakah benar-benar belajar dan berusaha dengan baik.
3. Motivasi Belajar
Dalam teori motivasi belajar tidak dapat dilepaskan dengan pembahasan
tentang Teori Belajar Koneksionisme S R dan Teori Belajar Kognitif (Teori
Gestalt). Kurt Lewin sebagai tokoh teori medan mengusulkan tiga konstruksi
teori motif, yakni tensi, valensi, dan tujuan. Tensi timbul dari intensi,
tindakan-tindakan kemauan dan lain-lain yang merupakan komitmen arbitrasi
seseorang yang disebut juga kuasi kebutuhan.
Valensi merupakan suatu konstruk untuk memahami tingkah laku . Aktivitas
yang diinginkan (dipertimbangkan) disebut valensi dan cenderung bergabung
di dalamnya disebut kekuatan. Jika pada pebelajar timbul kebutuhan, pada
individu tersebut akan timbul kekuatan yang bervalensi dan sebaliknya. Tensi
mencari tujuan yang merupakan suatu kebutuhan.
Konsep yang telah dikemukakan di atas selanjutnyadigunakan sebagai dasar
penyusunan motivasi bagi pebelajar baik ketika belajar di sekolah, di rumah,
maupun di masyarakat.
Teori motivasi belajar baik di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat
dikemukakan oleh RBS. Furdyartanto (2002) sebagai berikut.
a) Guru menciptakan suasana belajar yang menyenangkan
Hal yang menyenangkan akan memperkuat dorongan, sebaliknya
pengalaman yang tidak menyenangkan akan menghambat. Penerapan
prinsip ini kepada pebelajar dapat dilakukan oleh guru ketika mengajar di
dalam kelas, misalnya ketika guru sedang menyiapkan suasana kelas
supaya kondusif dan menyenagkan peseta didik. Contoh kongkretnya, guru
menunjukkan sikap yang ramah, tidak cemberut, tidak mudah marah, tidak
mencela anak, tidak menyindir, dan lain lain. Perlakuan yang dicontohkan
tersebut akan membuat pebelajar di dalam kels menjadi senang dan
bergairah dalam belajar.
b) Guru memebrikan hadiah dan hukuman kepada siswa
Guru dapat mmeberikan hadiah untuk mendorong kegiatan belajar siswa
sebelum menempuh ujian sekolah. Hadiah dapat berupa barang seperti
peralatan pendukung belajar (pensil, bolpoin, tas sekolah, buku, dan lainlain), hadiah juga dapat berupa pujian atau sanjungan saja. Kepada
pebelajar dapat diberikan janji jika nilai mereka tinggi akan diberi hadiah.
Dengan janji yang menyenangkan tersebut pebelajar akan terpacu untuk
rajin belajar. dalam pemberian sanksi atau hukuman hendaknya guru
8

berhati-hati agar tidak menimbulkan rasa dendam dan meresahkan


pebelajar.
c) Guru melakukan kompetisi dan kerja sama pada siswa
Guru mengadakan kompetisi prestasi di kelas atau di sekolah dengan
tujuan meningkatkan semangat belajar peserta didik. Ajang kompetisi
prestasi menjadi lebih menyemangati siswa dengan diberikan hadiah bagi
pemenang. Perngaruh ajang ini sangat baik, selain memotivasi pebelajar
untuk lebih berprestasi juga akan meningkatkan kerja sama antarsiswa
dalam belaajr karena terdorong ingin mengharumkan nama baik kelompok
masing-masing.
d) Guru selalu mengusahakan ada yang baru ketika melakukan pembelajaran
di kelas
Guru harus pandai menciptakan sesuatu yang baru ketika melakukan
pembelajaran di kelas sehingga siswa menjadi senang, bergairah dalam
menerima pelajaran dari guru. Dengan adanya hal ini perhatian siswa akan
bertambah, dampaknya akan lebih antusias belajar.
e) Guru perlu menyiapkan tujuan pembelajaran yang jelas
Apabila tujuan pembelajaran disusun secara jelas, pada anak akan timbul
semacam dorongan atau motivasi terarah hanya kepada tujuan yang telah
jelas dicanangkan.
f) Guru dalam mengajar tidak menggunakan prosedur yang menekan
Apabila tujuan pembelajaran disusun dengan jelas, pada anak akan timbul
semacam dorongan atau motivasi terarah hanya kepada tujuan yang telah
jelas dicanangkan sebelumnya.
g) Guru menggunakan contoh-contoh hidup sebagai model-model yang
menarik siswa
Guru dalam mengajar dapat menggunakan model-model hidup dari hewan
atau tumbuhan supaya lebih menarik perhatian siswa. Cara ini mendorong
siswa untuk lebih semangat belajar.
h) Guru melibatkan siswa secara aktif
Guru dapat menerapkan model belajar siswa aktif agar pembelajaran
dalam kelas berhasil dan menarik bagi segenap pebelajar di dalam kelas.
4. Mutu Pembelajaran
Pada saat sebagian besar intuisi pendidikan dituntut untuk mengerjakan lebih
baik lagi, penting baginya untuk memfokuskan diri pada aktifitas utama yakni
pembelajaran. Semua pebelajar beda satu sama lain, dan mereka belajar
dengan model yang cocok dengan kebutuhan dan kecenderungan mereka
9

masing-masing. Intuisi pendidikan yang menggunakan prosedur mutu terpadu


harus menangkap secara serius isu-isu tentang gaya dan kebutuhan
pembelajaran untuk menciptakan strategi individualisasi dan diferensiasi
dalam pembelajaran.
Pebelajar adalah pelanggan utama, dan jika model pembelajaran tidak
memenuhi kebutuhan individu masing-masing mereka, maka itu berarti bahwa
intusisi tersebut tidak dapat mengklaim bahwa ia telah mencapai mutu
terpadu. Intuisi pendidikan memiliki kewajiban untuk membuat pebelajar
sadar terhadap variasi metode pembelajaran yang diberikan kepada mereka.
Intuisi pendidikan harus memberi pelajar kesempatan untuk mencontoh
pembelajaran dalam variasi model berbeda.
D. Meningkatkan Prestasi Akademik Pebelajar
1. Meningkatkan Prestasi Akademik Pebelajar
Dalam meningkat mutu akademik pebelajar, terdapat banyak sekali hal yang
dapat dilakukan, seperti halnya mengundang guru les privat ke rumah,
mengikuti bimbingan belajar, tambahan jam belajar di sekolah, meningkatkan
kedisiplinan anak, meningkatkan motivasi belajar para siswa, bahkan
melakukan karantina terhadap para pebelajar agar lebih berkonsentrasi dalam
belajar. seluruh uraian di atas menggambrkan berbagai upaya yang dilakukan
oleh orang tua dan huru untuk meningkatkan prestasi akademik siswa. Semua
itu hanya tertuju kepada siswa, siswa menjadi obyek kesalahan dan
kekurangan. Hal tersebut diatas terlalu memaksakan dan menekan pebelajar
sehingga malah menjadikan pebelajar stres dan depresi. Dalam hal diatas
untuk meningkatkan prestasi akademik yang bisa dilakukan bertumpu pada
dua hal saja, yakni:
a) Menambah jam belajar
Cara ini muncul karena anggapan bawa dengan menambah jam belajar,
siswa akan lebih memahami mata pelajaran.
b) Dengan menganggap bahwa anak adalah tempat yang selalu salah dan
kurang
Anak dimotivasi, karena anak kurang motivasi. Anak dibuat agar
berkonsentrasi belajar, karena anak kurang konsentrasi. Cara ini muncul
karena yang menjadi konsentrasi dalam buruknya prestasi akademik
bukanlah orang tua dan guru, tetapi siswa.
2. Meningkatkan Prestasi Akademik Pebelajar Lebih Baik
Terdapat tiga pelaku dalam sistem pendidikan yang memiliki pengaruh besar
pada anak atau siswa. Tiga pelaku itu adalah orang tua, guru, dan siswa. Dapat
10

disebut sebagai segitiga pendidikan. Pada saat ini segita tersebut


mengganbarkan bahwa orang ta dan guru selalu benar dan pebelajar selalu
salah. Hal itu menjadikan orang tua sebagai polisi terhadap anak dan guru
sebagai penyampai materi ayng begitu padat kepada siswa dan mengejar target
materi dalam waktu yang terbatas. Sebenarnya untuk meningkatkan prestasi
akademik pebelajar yang lebih baik adalah dengan menyeimbangkan segitiga
pendidikan tersebut.
a) Orang tua selalu melakukan introspeksi diri. Jika misalnya prestasi
akademik anak rendah, orang tua bertanya dalam diri, Apa yang salah
dari diri saya? Apa yang kurang dari diri saya? Apa saya kurang
memperhatikan anak saya? Apakah cara saya menasihati anak saya yang
keliru? Dan sebagainya
b) Demikian juga dengan guru selalu melakukan introspeksi disi, jika
misalnya prestasi akademik pebelajar rendah. Misalnya Apakah cara saya
memberi nasihat ke anak dididik saya keliru? Apakah cara mengajar saya
kurang tepat? Apakah saya terlalu keras bertindak terhadap para siswa
saya? Dan seterusnya.
c) Anak atau siswa terutama yang masih duduk di bangku SD sebaiknya
tidak dianggap tidak pernah salah. (Tuhan saja tidak memberikan dosa
kepada anak yang belum akil balig) Jika anak atau siswa sudah SMP atau
SMA sebaiknya ketiga pelaku saling melakkan introspeksi diri dan tidak
saling menyalahkan.
3. Setiap pebelajar menggunakan kekuatan yang berbeda untuk menyerap materi
pelajaran.
Dalam pebelajar menangkap pelajaran memiliki caranya yang berbeda, ada
yang lebih kuat penangkapannya dengan tipe visual ataupun dengan tipe
auditor. Ketika guru atau orang tua mengajar materi pelajaran dengan cara
yang sesuai dengan kekuatan yang dimiliki pebelajar dalam menyerap materi
tersebut, maka ini menjadi salah satu unsur para pebelajar merasa bisa tenang
dan tidak merasa tertekan dalam belajar. dan para pebelajar merasa sangat
mudah menyerap materi pelajaran tersebut.
a) Cara belajar paling efektif untuk tipe belajar visual:
1. Akan lebih efektif apabila materi pelajaran disampaikan dalam bentuk
tulisan ataupun dalam bentuk grafik, gambar, peta, lukisan maupun
diagram.

11

2. Belajar efektif dengan membaca, karena pelajar visual adalah pembaca


yang tepat dan tekun, serta lebih suka membaca sendiri daripada
dibacakan.
3. Mengingat materi pelajaran yang terlihat dan secara visual akan
mengulanginya.
4. Sangat baik untuk menjelaskan materi pelajaran yang telah dipelajari
dengan cara memperlihatkan atau menfemonstrasikan dalam bentuk
tulisan, lukisan, potret dan lain sebagainya.
5. Ketika belajar perlu banyak mencatat dan menulis
6. Menggunakan bulpen warna warni untuk mengetahui hal-hal penting
b) Lingkungan Belajar yang mendukung
1. Agar efektf dalam belajar, perlu lingkungan belajar yang tenang
2. Di kelas, lebih baik duduk di depan, jauh dari pintu dan jendela
3. Agar efektif dalam belajar, perlu penataan yang rapi terhadap alat tulis
menulis
4. Didorong agar ikut aktif berpartisipasi dalam belajar kelompok.
Tipe belajar auditor berarti menggunakan telinga sebagai penangkap materi.
Pengalaman diproses melalui kata-kata dan bunyi. Ketika otak berpikir
dengan cara ini, ia mendengar dan berpartisipasi dalam percakapanpercakapan, nada, suara, musik, pidato, kuliah, dan argumen.
a) Cara belajar paling efektif untuk tipe belajar auditor:
1. Mendengar dan mengungkapkan sesuatu secara lisan merupakan
kunci efektivitas proses belajar.
2. Materi pelajaran disampaikan secara lisan juga dapat meningkatkan
gairah belajar.
3. Untuk meningkatkan daya ingat perlu kata-kata yang berirama, dan
mendengar materi pelajaran secara berulang.
4. Buku pelajaran harus ada ilustrasi yang memperlihatkan adanya
interaksi secara verbal.
5. Bila tengah mengerjakan soal berhitung, gunakan kertas bergaris
untuk membantu ketepatan letak angka-angka yang dijumlahkan.
6. Mencatat dengan bulpen atau pensil berwarna warni dan gambar
untuk membantu mengingat materi pelajaran yang tengah dikerjakan.
4. Kurikulum Mendukung Mutu Akademik Pebelajar
Perhatian masyarakat terhadap maslah pendidikan tidak pernah surut. Masalah
mutu pendidikan tidak pernah surut. Ada uang merisaukan mutu karena
mengetahui terbatasnya pengetahuan anak tentang suatu bidang pelajaran, ada
yang merisaukan mutu karena melihat kemampuan membaca dan menulis para

12

pelajar, rendahnya disiplin sosialisasi generasi muda, rendahnya daya serap


pelajar sebagai yang ternyata hasil tes.
Pada saat pengamat, pecinta dan pemeduli merisaukan mutu pendidikan,
kalangan lain makin menyadari bahwa keberhasilan pembangunan suatu
masyarakat, yang pada saat ini terutama dilihat dari indikator ekonomi,
ternyata tidak ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam melainkan lebih
ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia.
a) Bila terjadi menurunnya mutu pendidikan, yang pertama kali harus diamati
dan dianalisa adalah kualitas proses belajar mengajar yang terjadi di kelas,
dan bukan langsung kepada kurikulum dalam pengertian pertama dan
kedua.
b) Bila ternyata kualitas proses belajar mengajar diketemukan tidak
mendukung tercapainya tujuan pendidikan, dari komponen kurikulum yang
perlu ditinjau adalah buku pedoman guru dan selanjutnya baru GBPP, yang
terakhir ini bila ternyata bahwa GBPP tidak memberikan acuan materi bagi
terjadinya proses belajar mengajar.

13

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam memajukan Indonesia hal yang perlu dibangun adalah masyarakat. Apabila
mutu akademik masyarakat Indonesia sangat mumpuni dan masyarakat yang maju,
maka akan membawa Indonesia semakin maju. Untuk meningkatkan mutu akademik
masyarakat Indonesia yakni para pebelajar dan generasi muda, perlu diketahui
memiliki hal yang berperan penting dalam pelaksanaannya yakni orang tua dan guru.
Dalam hal ini perlu diperhatikan faktor pendukung dalam peningkatan mutu
akademik, yakni dari faktor pebelajar sendiri, sekolah, dan lingkungan. Apablia faktor
tersebut

diperhatikan

dengan

seksama

dan

memang

dijalankan

secara

berkesinambungan dan berkelanjutan, maka akan mampua mendukung, membentuk,


dan meningkatkan mutu akademik masyarakat bangsa Indonesia.

14

DAFTAR PUSTAKA
Poerwadarminta. 1982. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: PN Bala Pustaka
Saroni, Mohammad. 2013. Pendidikan Untuk Orang Miskin. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Sobur, Alex. 2003. Psikologi Umum Dalam Lintasan Sejarah. Bandung: Pustaka Setia
Papalia, Danie E, Wendkos, S., & Feldman, R. D. 2008. Human Development. Jakarta:
Kencana
Cahanar, P., Irwan, Suhanda. 2006. Makanan Sehat Hidup Sehat. Jakarta: Kompas Media
Nusantara
Alder, Marry. 2001. Boost Your Intelegence. Jakarta: Erlangga
Atmaja, Prawira Purwa. 2012. Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru. Jogjakarta: ArRuzz Media
Sallis, Edward. 2006. Total Quality Management In Education. Jogjakarta: IRCiSoD
Musrofi, M. 2010. Melesatkan Prestasi Akdemik Siswa. Yogyakarta: PEDAGOGIA
Semiawan, R. Conny, Soedijarto. 1991. Mencari Strategi Pengembangan Pendidikan
Nasional Menjelang Abad XXI. Jakarta: PT Grasindo

15