Anda di halaman 1dari 32

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN

DIFTERI
Oleh

: Aliffiani Agus Hartanti (P27820414067)

Pengertian

Difteri adalah suatu infeksi akut yang mudah menular, dan yang sering diserang terutama saluran
pernapasan bagian atas, dengan tanda khas timbulnya pseudomonas (Ngastiyah)

Difteri adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh corynebacterium diphteriae yang berasal dari
membrane mukosa hidung dan nasofaring, kulit, dan lesi lain dari orang yang terinfeksi (Suriadi dan Rita
Yuliani).

Difteri adalah penyakit infeksi yang dapat menyerang pada saluran napas bagian atas yang disebabkan
karena kuman corynebacterium diphteriae yang bersifat gram positif, polimorf, dan tidak membentuk spora
(Alimul Aziz).

Jenis penyakit difteri dibedakan menjadi 2, yaitu difteri faringtonsil dan difteri laring trakea. Perbedaan terdapat pada gejala yang
ditimbulkan. Difteri laring-trakea gejalanya lebih berat daripada
difteri faring-tonsil.

Difteri faring-tonsil

Difteri laring-trakea

Cara Penularan
Difteri dapat menular melalui kontak langsung dan tidak
langsung. Air ludah yang berterbangan,batuk, bersin pada
seseorang yang terkena difteri dapat menularkan langsung
kepada orang lain. Penularan juga dapat melalui alat yang
terkontaminasi bakteri difteri. Penularan melalui air susu dan
debu dapat juga terjadi. Manusia merupakan satu-satunya
sumber infeksi difteri bagi manusia lainnya.

Epidemiologi
Difteri tersebar di seluruh dunia, tetapi insiden penyakit ini menurun drastic setelah
perang dnia ke II. Tetapi, mortalitasnya relative konstan, sekitar 10% dari semua kasus.
Insiden difteri mencapai puncaknya elam musim gugur dan musim dingin. Delapan
puluh persen masih terjadi pada individu kurang dari 15 tahun (tidak mendapatkan
imunisasi primer difteri). Bagaimanapun, setiap epidemic insiden menurut usia tergantung
kekebalan individu. Serangan difteri menunjukkan bahwa penyakit ini menyerang kalangan
penduduk miskin yang tinggal berdesakan dan memperoleh faslitas kesehatan yang
terbatas. Kematian umumnya terjadi pada individu yang belum mendapatkan imunisasi.

Etiologi
Penyebab penyakit difteri pada anak adalah Corynebacterium diphteriae yang memiliki ciri :

Basil gram positif yang tidak membentuk spora

Mempunyai kemampuan positif untuk memproduksi exotoxin, baik secara invitro/invivo, dan
dalam media telurit membentuk tipe koloni mitis, intermedius, dan gravis

Koloni mitis : halus, berwarna hitam, dan cembung

Koloni intermedius

Koloni gravis : berwarna kelabu dan setengah kasar

: berukuran kecil, halus, serta memiliki pusat berwarna hitam

Mempunyai kemampuan untuk membentuk toksin yang dipengaruhi oleh bacteriophage


yang mengandung gene tox.

Patofisiologi
Kuman masuk kedalam tubuh melalui mukosa hidung/mulut, lalu kuman akan melekat dan
berkembangbiak pada mukosa saluran pernapasan bagian atas. Dan kuman mulai memproduksi toksin yan dapat
meresap ke sel sekelilingnya dan selanjutnya akan disebarkan melalui pembuluh darah dan limfe.
Dampak dari pembentukan toksin adalah menghambat pembentukan protein dalam sel, sehingga akan
terbentuk rangkaian polipeptida yang diperkirakan sebagai penyebab matinya sel.

Respon tubuh terhadap C. diphteriae adalah terjadi inflamasi local yang bersama-sama
membentuk jaringan nefrotik membentuk bercak exudat. Apabila toksin semakin banyak,
eksudat semakin luas dan dalam sehingga terbentuk membrane yang melekat erat. Membrane
jaringan ini jika dibiarkan akan semakin meluas mulai dari daerah oro-naso-faring sampai
trakea, laring, dan bronkus/cabang bronkus dan menimbulkan sumbatan jalan napas.
Toksin yang beredar dalam darah dapat menimbulkan kerusakan sel pada organ jantung
saraf, dan ginjal. Toksin yang telah masuk ke sel membuuhkan waktu untuk menimbulkan
gejala klinis (masa inkubasi selama 2-5 hari).

Tanda dan Gejala


Tanda dan gejala difteri secara umum :

Demam

Batuk pilek ringan

Sakit saat menelan dan pembengkakan tenggorokan

Mual, muntah, sakit kepala

Kaku leher

Kesulitan bernapas

Malaise

Tanda dan gejala difteri faring-tonsil :

Demam

Nyeri telan

Ada pseudomembran yang diawali bercak putih


keabuan dan menembus ke faring dan laring

Napas bau
Pembengkakan kelenjar leher (bullneck)

Tanda dan gejala difteri laring-trakea :

Sesak napas hebat

Adanya stridor inspiratory

Sianosis

Retraksi otot suprasternal

Klasifikasi Difteri

Infeksi ringan :

Pseudomembran hanya pada hidung

Faucial (rongga faring)

Gejala nyeri telan

Infeksi sedang :

Pseudomembran menyebar ke dinding posterior faring

Oedem laring yang ringan, menimbulkan suara serak

Infeksi berat :

Pseudomembran meluas

Terdapat gejala-gejala sumbatan

Terdapat komplikasi

Komplikasi

Saluran pernapasan : terjadi obstruksi jalan napas

Kardiovaskuler : miokarditis adalah akibat langsung dari toksin. Diagnosis klinis memperlihatkan blok
atrioventricular komplet atau parsial

Kelainan ginjal : nefritis

Kelainan saraf : paralisis


Neuritis : biasanya tahap dari perkembangan lanjut. Kehilangan sensoris maupun paralisis motoric terjadi
dengan cepat. Paralisis dapat terjdi pada :

Paralisis palatum mole, sehingga terjadi suara sengau dan tersedak atau sukar menelan

Paralisis otot mata, yang dapat mengakibatkan gangguan akomodasi dan dilatasi pupil

Paralisis umum, yang dapat mengenai otot muka, leher, anggota gerak, dan yang paling berbahaya jika
mengenai otot pernapasan.

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan medis

Pengobatan umum dengan perawatan yang baik

Isolasi dan pengawasan EKG

Pengobatan spesifik
1.

Antidiphteria serum (ADS), 20.000 U/hari selama 2 hari berturut-turut yang sebelumnya harus dilakukan uji kulit dan
uji mata.
Pengobatan difteri :

Infeksi ringan : 20.000-40.000 unit

Infeksi sedang : 40.000-60.000 unit

Infeksi berat : 80.000-100.000 unit

2.

Antibiotic. Diberi penislin prokain 50.000 U/kgBB/hari sampai 3 hari bebas demam. Untuk pasien trakeostomi
ditambah kloramfenikol 75mg/kgBB/hari dibagi 4 dosis

3.

Kortikosteroid, untuk mencegah timbulnya miokarditis yang membahayakan dengan memberikan prednisone 2
mg/kgBB/hari selama 3-4 minggu

Penatalaksanaan keperawatan
Pasien difteri dirawat di kamar isolasi tertutup. Petugasmemakai gaus khusus
(celemek) dan masker yang harus ganti tiap pergantian tugas atau telah
dianggap kotor dan jangan sampai berlaru-larut. Penunggu pasien juga
memakai gaun khusus untuk mencegah penularan diluar ruangan. Tersedia
perlangkapan cuci tangan, desinfektan, sabun, lap, handuk yang selalu kering,
dan air bersih. Dan juga tersedia tempat untuk merendam alat makan yang
diisi dsinfektan.

Pemeriksaan Penunjang

Tes Schick
Tes ini bertujuan untuk mengetahui status imun seseorang terhadap difteri. Pada kulit
lengan depan disuntikkan 0,1 ml toksin difteri yang sudah diencerkan. Reaksi positif,
menunjukkan warna kemerahan di tempat suntikan, dibaca setelah 72 jam sampai 120
jam, menunjukkan kadar antitoksin dalam darah kurang dari 0,03 unit toksin per ml,
yang berarti ia peka terhadap infeksi bakteri. Sebaliknya, jika reaksi negative
berartimemiliki daya tahan terhadap difteri sehingga bila terinfeksi kuman difteri tidak
menjadi sakit atau menderita sakit yang ringan.

Usapan tenggorok dan hidung


Untuk menentukan pengobatannya, pasien perlu periksa usapan tenggorok dan hidungnya yang
berguna menemukan kuman difteri. Untuk pengambilan usapan diperlukan 2 tabung reaksi yang
diminta dari lab. Tabung satu berisi 1 kapas lidi yang diperlukan untuk usapan tenggorok, dan
tabung satunya berisi 2 kapas lidi untuk mengambil usapan pada 2 lubang hidung. Lalu isikan
kedalam tabung tersebut 1 ml NaCl; pada waktu memasukkan kapas lidi yang telah mengandung
usapan tidak boleh terendam ke dalam cairan tersebut maka tabung harus dalam posisi berdiri
( maksud NaCl ini agar udara dalam tabung lembab dan kuman tidak akan cepat mati).

Pencegahan
Tindakan pencegahan paling efektif terhadap difteri adalah
imunisasi aktif. Imunisasi difteri biasa diberikan bersamaan dengan
imunisasi pertussis dan tetanus. Imunisasi DPT adalah vaksin yan
mengandung racun kuman difteri yang telah dihilangkan sifat
racunnya,

tetapi

dapat

merangsang

pembentukan

antibody.

Frekuensi pemberian dilakukan selama 3 kali melalui intra muscular


dengan interval waktu 4 minggu. Disertai dengan dosis boster yang
diberikan setahun kemudian. Dan dosis boster selanjutnya diberikan
selang waktu 10 tahun dan dapat mempertahankan kadar antibody.

Asuhan Keperawatan
1.

Pengkajian
.

Identitas :
.

Umur : bisa terjadi pada semua golongan umur, namun yang paling sering adalah anak usia 1-10 tahun

Suku bangsa : dapat terjadi di seluruh dunia terutama di negara-negara miskin

Keluhan utama
.

Riwayat kesehatan sekarang


.

Klien merasakan lesu, pucat, sakit kepala, anoreksia, lemah, kesulitan bernapas, nyeri telan, nafsu makan menurun,
bengkak pada tenggorokan/leher, lesu, demam

Riwayat kesehatan dahulu


.

Klien merasakan sesak napas

Klien mengalami peradangan kronis pada tonsil, sinus, faring, laring, dan saluran napas atas serta mengalami pilek
dengan secret bercampur darah

Riwayat penyakit keluarga


.

Adanya keluarga yang mengalami difteri

Pola fungsi kesehatan

Pola nutrisi dan metabolisme


Jumlah nutrisi kurang disebabkan anoreksia

Pola aktivitas
Klien mengalami gangguan aktivitas karena malaise dan demam

Pola istirahat tidur


Klien mengalami sesak nafas sehingga mengganggu istirahat tidur

Pola eliminasi
Klien mengalami penurunan jumlah urin dan feses karena jumlah asupan nutrisi kurang disebabkan oleh
anoreksia

Pemeriksaan fisik :

Pada difteri faring-tonsil terdapat malaise, suhu tubuh >38,9 oC, pseudomembran pada tonsil dan dinding faring,
serta bullneck

Pada difteri laring terdapat stridor, suara parau/sengau, dan batuk kering. Sementara pada obstruksi laring yang
besar terdapat etraksi supra sternal, subcotal, dan supra clavicular

Pada difteri hidung terdapat pilek ringan, secret hidung serosanguinus sampai mukopurulen, dan membrane
putih pada septum nasi

Pemeriksaan laboratorium

Untuk menentukan diagnostic pasti diperlukan pemeriksaan sediaan langsung


dengan kultur dan pemeriksaan toksigenitas

Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan adanya penurunan kadar hemoglobin,


lekositosis, penurunan jumlah eritrosit dan kadar albumin, serta adanya albuminuria.

Usapan tenggorok dan hidung untuk menemukan kuman difteri.

Diagnosis Keperawatan

Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan obstruksi pada jalan napas
ditandai dengan sesak napas, suara napas ronchi, sianosis

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake


nutrisi yang kurang akibat gangguan menelan ditandai dengan rongga mulut terluka
atau inflamasi, berat badan turun 20 % atau lebih di bawah berat badan ideal untuk
tinggi badan dan rangka tubuh, tonus palatum buruk

Nyeri akut berhubungan dengan infeksi bakteri Corynebacterium diphteriae ditandai


dengan perilaku pendistraksi seperti merintih dan menangis, pasien melaporkan nyeri

Perencanaan

Diagnosis : ketidakefektifan jalan napas berhubungan dengan obstruksi pada jalan napas

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam anak menunjukkan tanda-tanda kepatenan jalan napas efektif

Kriteria hasil :
a. Orang tua klien atau klien mengatakan sesaknya berkurang
b. RR 15-30 x/menit
c. Tidak sianosis
d. Penurunan produksi sputum
e. Batuk efektif

Intervensi :
a. Berikan pasien posisi semi fowler atau fowler
R/ membantu bernapas dan ekspansi dada serta ventilasi lapangan paru
b. Memberikan oksigen sesuai advis (2-4 lt/menit)
R/ meningkatkan kebutuhan oksigen jaringan

c.

Kaji status pernapasan klien sekurangnya tiap 4 jam atau menurut standar
R/ mengetahui tanda bahaya yang terjadi pada klien seperti sesak napas dan bunyi napas

d.

Ajarkan klien untuk batuk efektif


R/ mengeluarkan eksudat hasil dari infeksi dengan tenaga yang minimal

e.

Lakukan penghisapan sekresi sesuai keperluan


R/ menstimulasi batuk dan membersihkan jalan napas

f.

Menyediakan tisu atau kantong tersendiri untuk membuang secret


R/ mencegah penyebaran infeksi di dalam rumah sakit

Diagnosis : ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang kurang akibat

gangguan menelan

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam diharapkan asupan nutrisi pasien meningkat

Kriteria hasil :
a.

Nafsu makan pasien meningkat

b.

Pasien tidak menunjukkan penurunan berat badan yang berarti

c.

Pasien mampu mengkomunikasikan kebutuhan diit khusus (makan lewat NGT)

Intervensi :

a.

Berikan diit TKTP yang sesuai dengan kondisi pasien


R/ tinggi kalori dan tinggi protein berfungsi untuk tubuh dalam menghasilkan energy dan meregenerasi sel yang telah rusak

b.

Timbang dan catat berat badan pasien bila perlu setiap hari dan pada jam yang sama
R/ mendapatkan pembacaan yang akurat dan mendeteksi penurunan berat badan

c.

Berikan diit dalam bentuk hangat dan lunak/bubur


R/ memunculkan gairah makan saat makanan masih hangat dan sediaan lunak untuk memudahkan saluran
cerna atas dalam mencerna makanan

d.

Mengatur pemberian makan dalam porsi sedikit tapi sering


R/ meminimalisir rasa sakit pada gangguan menelan

e.

Menjaga kebersihan mulut


R/ dengan keadaan mulut yang bersih akan meningkatkan nafsu makan

f.

Memasang NGT dan mengajari prosedur pada pasien dan keluarga tentang pemberian makan melalui NGT
untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak
R/ pemasangan NGT dilakukan jika anak tidak bisa sama sekali tidak dapat makan lewat mulut dan hal ini
mendorong pasien dan keluarga berpartisipasi dalam hal perawatan

Diagnosis : nyeri akut berhubungan dengan infeksi bakteri Corynebacterium diphteriae

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapakan pasien dapat nyaman dan mampu
menoleransi nyeri

Kriteria hasil :
a.

Pasien mengungkapkan bahwa dirinya sudah nyaman dan nyeri berkurang

b.

Pasien menunjukkan nyeri dengan skala angka 1-2 untuk anak yang telah mengerti angka, dan untuk anak toddler atau
pra sekolah menggunakan skala warna

Intervensi :
a.

Mengkaji tingkat nyeri pasien


R/ mengetahui perkembangan akurat nyeri yang dirasakan pasien

b.

Mengajak anak mengalihkan rasa nyeri dengan memberinya mainan, membaca buku, melihat TV
R/ mengalihkan focus anak terhadap rasa nyeri dengan tindakan yang menyenangkan

c.

Melakukan latihan teknik relaksasi seperti mengatur posisi jika anak mampu melakukannya
R/ mengurangi ketegangan otot dan membantu mengurangi focus terhadap nyeri

d.

Kolaborasi dalam pemberian analgesic


R/ meyakinkan pengurangan nyeri yang adekuat pada pasien

Implementasi
Implementasi atau pelaksanaan sesuai dengan intervensi yang akan dilakukan ke pasien. Semua alat yang
yang dibutuhkan harus disiapkan terlebih dahulu. Perawat memakai APD dan mempersiapkan mental dan
sikap yang tenang serta ramah untuk bertemu pasien agar pasien dapat bekerjasama dengan baik dengan
petugas kesehatan. Lalu perawat siap untuk melakukan asuhan kepada pasien.

Evaluasi
Evaluasi dari hasil yang sesuai dengan batasan karakteristik dan sesuai dengan tujuan :
a.

Peningkatan fungsi saluran napas yag ditunjukkan dengan masih mempertahankan kepatenan jalan napas

b.

Asupan nutrisi pasien yang meningkat dan tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti

c.

Pasien merasa telah nyaman dan menunjukkan pengurangan tingkat nyeri yang dialami

Daftar Pustaka

Andareto, Obi.2015.Penyakit menular di Sekitar Anda.Jakarta : Pustaka Ilmu

Behrman, Richard E.1992.Ilmu Kesehatan Anak bagian 2.Jakarta : EGC

Fakultas Kedokteran UI.-.Kapita Selekta Kedokteran.Jakarta : Media Aesculapius

Hidayat, Alimul Aziz.2006.Pengantar Ilmu Keperawatan Anak buku 2.Jakarta Selatan :


Salemba Medika

Merenstein, Gerald B.2002.Buku Pegangan Pediatrik.Jakarta : EGC

Muscari, Mary E.2005.Keperawatan Pediatrik edisi 3.Jakarta : EGC

Suriadi.2006.Asuhan Keperawatan pada Anak edisi 2.Jakarta : Sagung Seto

Ngastiyah.2005.Perawatan Anak Sakit edisi 2.Jakarta : EGC

Nursalam.2008.Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak.Jakarta : Salemba Medika

Soedarto.2009.Penyakit Menular di Indonesia.Jakata : Sagung Seto

Soedarto.1990.Penyakit-Penyakit Infeksi di Indonesia.Jakarta : Widya Medika

Taylor, Cynthia M.2003.Diagnosis Keperawatan.Jakarta : EGC

TERIMA KASIH