Anda di halaman 1dari 14

Penyebaran Islam (1200 - 1600)

Berbagai teori perihal masuknya Islam ke Indonesia terus muncul sampai saat ini. Fokus diskusi mengenai
kedatangan Islam di Indonesia sejauh ini berkisar pada tiga tema utama, yakni tempat asal
kedatangannya, para pembawanya, dan waktu kedatangannya. Mengenai tempat asal kedatangan Islam
yang menyentuh Indonesia, di kalangan para sejarawan terdapat beberapa pendapat. Ahmad Mansur
Suryanegara mengikhtisarkannya menjadi tiga teori besar. Pertama, teori Gujarat, India. Islam dipercayai
datang dari wilayah Gujarat India melalui peran para pedagang India muslim pada sekitar abad ke-13 M.
Kedua, teori Makkah. Islam dipercaya tiba di Indonesia langsung dari Timur Tengah melalui jasa para
pedagangArab muslim sekitar abad ke-7 M. Ketiga, teori Persia. Islam tiba di Indonesia melalui peran para
pedagang asal Persia yang dalam perjalanannya singgah ke Gujarat sebelum ke nusantara sekitar abad
ke-13 M.[1]. Melalui Kesultanan Tidore yang juga menguasai Tanah Papua, sejak abad ke-17, jangkauan
terjauh penyebaran Islam sudah mencapai Semenanjung Onin di Kabupaten Fakfak, Papua Barat.
Kalau Ahli Sejarah Barat beranggapan bahwa Islam masuk di Indonesia mulai abad 13 adalah tidak
benar, HAMKAberpendapat bahwa pada tahun 625 M sebuah naskah Tiongkok mengkabarkan bahwa
menemukan kelompok bangsa Arab yang telah bermukim di pantai Barat Sumatera (Barus) [2]. Pada saat
nanti wilayah Barus ini akan masuk ke wilayah kerajaanSrivijaya.
Pada tahun 674 M semasa pemerintahan Khilafah Islam Utsman bin Affan, memerintahkan mengirimkan
utusannya (Muawiyah bin Abu Sufyan) ke tanah Jawa yaitu ke Jepara (pada saat itu namanya Kalingga).
Hasil kunjungan duta Islam ini adalah raja Jay Sima, putra Ratu Sima dari Kalingga, masuk Islam [3].
Pada tahun 718M raja Srivijaya Sri Indravarman setelah kerusuhan Kanton juga masuk Islam pada
masa khalifah Umar bin Abdul Aziz (Dinasti Umayyah).
Sanggahan Teori Islam Masuk Indonesia abad 13 melalui Pedagang Gujarat
Teori Islam Masuk Indonesia abad 13 melalui pedagang Gujarat, menurut pendapat sebagian besar orang,
adalah tidaklah benar. Apabila benar maka tentunya Islam yang akan berkembang kebanyakan di
Indonesia adalah aliran Syi'ah karena Gujarat pada masa itu beraliran Syiah, akan tetapi kenyataan Islam
di Indonesia didominasi Mazhab Syafi'i.
Sanggahan lain adalah bukti telah munculnya Islam pada masa awal dengan bukti Tarikh Nisan Fatimah
binti Maimun (1082M) di Gresik.

Masa kolonial
Anak-anak mengaji Al Quran diJawa pada masa kolonial Hindia Belanda

Pada abad ke-17 masehi atau tahun 1601 kerajaan Hindia Belanda datang ke Nusantara untuk berdagang,
namun pada perkembangan selanjutnya mereka menjajah daerah ini. Belanda datang ke Indonesia
dengan kamar dagangnya, VOC, sejak itu hampir seluruh wilayah Nusantara dikuasainya kecuali Aceh.
Saat itu antara kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara belum sempat membentuk aliansi atau kerja sama.
Hal ini yang menyebabkan proses penyebaran dakwah terpotong.
Dengan sumuliayatul (kesempurnaan) Islam yang tidak ada pemisahan antara aspek-aspek kehidupan
tertentu dengan yang lainnya, ini telah diterapkan oleh para ulama saat itu. Ketika penjajahan datang, para
ulama mengubah pesantren menjadi markas perjuangan, para santri (peserta didik pesantren)
menjadi jundullah (pasukan Allah) yang siap melawan penjajah, sedangkan ulamanya menjadi panglima
perang. Potensi-potensi tumbuh dan berkembang di abad ke-13 menjadi kekuatan perlawanan terhadap

penjajah. Ini dapat dibuktikan dengan adanya hikayat-hikayat pada masa kerajaan Islam yang syairsyairnya berisi seruan perjuangan. Para ulama menggelorakan jihad melawan penjajah Belanda. Belanda
mengalami kewalahan yang akhirnya menggunakan strategi-strategi:

Politik devide et impera, yang pada kenyataannya memecah-belah atau mengadu domba antara
kekuatan ulama dengan adat, contohnya perang Padri di Sumatera Barat dan perang
Diponegoro di Jawa.

Mendatangkan Prof. Dr. Snouk Cristian Hourgonye alias Abdul Gafar, seorang Guru Besar keIndonesiaan di Universitas Hindia Belanda, yang juga seorang orientalis yang pernah mempelajari
Islam di Mekkah. Dia berpendapat agar pemerintahan Belanda membiarkan umat Islam hanya
melakukan ibadah mahdhoh (khusus) dan dilarang berbicara atau sampai melakukan politik praktis.
Gagasan tersebut dijalani oleh pemerintahan Belanda dan salah satunya adalah pembatasan
terhadap kaum muslimin yang akan melakukan ibadah Haji, karena pada saat itulah terjadi
pematangan pejuangan terhadap penjajahan. [4]

Di akhir abad ke-19, muncul ideologi pembaruan Islam yang diserukan oleh Jamal-al-Din
Afghani dan Muhammad Abduh. Ulama-ulama Minangkabau yang belajar di Kairo,Mesir banyak berperan
dalam menyebarkan ide-ide tersebut, di antara mereka ialah Muhammad Djamil Djambek dan Abdul Karim
Amrullah. Pembaruan Islam yang tumbuh begitu pesat didukung dengan berdirinya sekolah-sekolah
pembaruan seperti Adabiah (1909), Diniyah Putri (1911), dan Sumatera Thawalib (1915). Pada tahun
1906, Tahir bin Jalaluddin menerbitkan koran pembaruan al-Iman di Singapura dan lima tahun kemudian,
di Padang terbit koran dwi-mingguan al-Munir.[5]

Demografisebagian besar ummat Islam di Indonesia berada di wilayah Indonesia bagian Barat,
seperti di pulau Sumatera, Jawa, Madura dan Kalimantan. Sedangkan untuk wilayah Timur, penduduk
Muslim banyak yang menetap di wilayah Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, dan Maluku Utara dan enklave
tertentu di Indonesia Timur seperti Kabupaten Alor, Fakfak, Haruku, Banda, Tual dan lain-lain.
Pengadaan transmigrasi dari Jawa dan Madura yang secara besar-besaran dilakukan oleh
pemerintahan Suharto selama tiga dekade ke wilayah Timur Indonesia telah menyebabkan bertambahnya
jumlah penduduk Muslim disana.

Arsitektur
Islam sangat banyak berpengaruh terhadap arsitektur bangunan di Indonesia. Rumah Betawi salah
satunya, adalah bentuk arsitektur bangunan yang banyak dipengaruhi oleh corak Islam. Pada salah satu
forum tanya jawab di situs Era Muslim disebutkan bahwa Rumah Betawi yang memiliki teras lebar, dan
ada bale-bale untuk tempat berkumpul, adalah salah satu ciri arsitektur peradaban Islam di Indonesia.

Masjid
Masjid Raya Medan al Ma'shun, adalah salah satu ciri bangunan berarsitektur Islam yang ada di Indonesia

Masjid adalah tempat ibadah Muslim yang dapat dijumpai diberbagai tempat di Indonesia. Menurut
data Lembaga Ta'mir Masjid Indonesia, saat ini terdapat 125 ribu[7] masjid yang dikelola oleh lembaga
tersebut, sedangkan jumlah secara keseluruhan berdasarkan data Departemen Agama tahun 2004, jumlah

masjid di Indonesia sebanyak 643.834 buah, jumlah ini meningkat dari data tahun 1977 yang sebanyak
392.044 buah. Diperkirakan, jumlah masjid dan mushala di Indonesia saat ini antara 600-800 ribu buah. [8]

Pendidikan
Pesantren adalah salah satu sistem pendidikan Islam yang ada di Indonesia dengan ciri yang khas dan
unik, juga dianggap sebagai sistem pendididikan paling tua di Indonesia. [9] Selain itu, dalam pendidikan
Islam di Indonesia juga dikenal adanya Madrasah Ibtidaiyah (dasar), Madrasah Tsanawiyah (lanjutan),
dan Madrasah Aliyah (menengah). Untuk tingkat universitas Islam di Indonesia juga kian maju seiring
dengan perkembangan zaman, hal ini dapat dilihat dari terus beragamnya universitas Islam. Hampir
disetiapprovinsi di Indonesia dapat dijumpai Institut Agama Islam Negeri serta beberapa universitas Islam
lainnya.

Politik
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Politik Islam di Indonesia
Dengan mayoritas berpenduduk Muslim, politik di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh dan peranan
ummat Islam. Walau demikian, Indonesia bukanlah negara yang berasaskan Islam, namun ada beberapa
daerah yang diberikan keistimewaan untuk menerapkan syariat Islam, seperti Aceh.
Seiring dengan reformasi 1998, di Indonesia jumlah partai politik Islam kian bertambah. Bila sebelumnya
hanya ada satu partai politik Islam, yakni Partai Persatuan Pembangunan-akibat adanya kebijakan
pemerintah yang membatasi jumlah partai politik, pada pemilu 2004 terdapat enam partai politik yang
berasaskan Islam, yaitu Partai Persatuan Pembangunan, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Bintang
Reformasi, Partai Amanat Nasional, Partai Kebangkitan Bangsa dan Partai Bulan Bintang.

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang
berakal (QS. Yusuf ayat 111).
Sangat penting mempelajari sejarah dakwah Islam di Indonesia. Sesuai dengan firman Allah
dalam Al Quran ayat 111 bahwa mempelajari sejarah terdapat ibrah (pelajaran). Dengan
memepelajari sejarah di masa lampau, kita dapat mengambil pelajaran untuk di masa yang
akan datang dibuat perencanaan atau konsep yang lebih baik khususnya untuk dakwah di
tanah air kita, Indonesia. Sesuai dengan hadist Rasulullah Hari ini harus lebih baik dari hari
kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini .
Bahasa merupakan nilai tertinggi dari suatu peradaban. Suatu bangsa dipengaruhi nilai
tertentu jika bahasanya dipengaruhi oleh nilai tersebut. Bahasa Indonesia banyak
dipengaruhi oleh bahasa Arab (bahasa Al-Quran) contohnya kata ibarat yang kata dasarnya
dari ibrah ini yang bermakna pelajaran dan masih banyak lagi bahasa indonesia yang
berasal dari bahasa Arab. Ini membuktikan bahwa budaya Indonesia sudahdipengaruhi oleh
budaya islami.
Sejarah masuknya Islam di Indonesia melalui babak babak yang penting:
1. Babak pertama, abad 7 masehi (abad 1 hijriah).
Pada abad 7 masehi, Islam sudah sampai ke Nusantara. Para Dai yang datang ke
Indonesia berasal dari jazirah Arab yang sudah beradaptasi dengan bangsa India yakni
bangsa Gujarat dan ada juga yang telah beradaptasi dengan bangsa Cina, dari berbagai

arah yakni dari jalur sutera (jalur perdagangan) dakwah mulai merambah di pesisir-pesisir
Nusantara.
Sejak awal Islam tidak pernah membeda-bedakan fungsi seseorang untuk berperan sebagai
dai (juru dakwah). Kewajiban berdakwah dalam Islam bukan hanya kasta (golongan)
tertentu saja tetapi bagi setiap masyarakat dalam Islam. Sedangkan di agama lain hanya
golongan tertentu yang mempunyai otoritas menyebarkan agama, yaitu pendeta. Sesuai
ungkapan Imam Syahid Hasan Al-Bana Nahnu duat qabla kulla syai artinya kami adalah
dai sebelum profesi-profesi lainnya.
Sampainya dakwah di Indonesia melalui para pelaut-pelaut atau pedagang-pedagang
sambil membawa dagangannya juga membawa akhlak Islami sekaligus memperkenalkan
nilai-nilai yang Islami. Masyarakat ketika berbenalan dengan Islam terbuka pikirannya,
dimuliakan sebagai manusia dan ini yang membedakan masuknya agama lain sesudah
maupun sebelum datangnya Islam. Sebagai contoh masuknya agama Kristen ke Indonesia
ini berbarengan dengan Gold (emas atau kekayaan) dan glory (kejayaan atau kekuasaan)
selain Gospel yang merupakan motif penyebaran agama berbarengan dengan penjajahan
dan kekuasaan. Sedangkan Islam dengan cara yang damai.
Begitulah Islam pertama-tama disebarkan di Nusantara, dari komunitas-komunitas muslim
yang berada di daerah-daerah pesisir berkembang menjadi kota-kota pelabuhan dan
perdagangan dan terus berkembang sampai akhirnya menjadi kerajaan-kerajaan Islam dari
mulai Aceh sampai Ternata dan Tidore yang merupakan pusat kerajaan Indonesia bagian
Timur yang wilayahnya sampai ke Irian jaya.
2. Babak kedua, abad 13 masehi.
Di abad 13 Masehi berdirilah kerajaan-kerajaan Islam diberbagai penjuru di Nusantara. Yang
merupakan moment kebangkitan kekuatan politik umat khususnya didaerah Jawa ketika
kerajaan Majapahit berangsur-angsur turun kewibawaannya karena konflik internal. Hal ini
dimanfaatkan oleh Sunan Kalijaga yang membina di wilayah tersebut bersama Raden Fatah
yang merupaka keturunan raja-raja Majapahit untuk mendirikan kerajaan Islam pertama di
pulau Jawa yaitu kerajaan Demak. Bersamaan dengan itu mulai bermunculan pula kerajaankerajaan Islam yang lainnya, walaupun masih bersifat lokal.
Pada abad 13 Masehi ada fenoma yang disebut dengan Wali Songo yaitu ulama-ulama
yang menyebarkan dakwah di Indonesia. Wali Songo mengembangkan dakwah atau
melakukan proses Islamisasinya melalui saluran-saluran:
a) Perdagangan
b) Pernikahan
c) Pendidikan (pesantren)
Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang asli dari akar budaya indonesia, dan juga
adopsi dan adaptasi hasanah kebudayaan pra Islam yang tidak keluar dari nilai-nilai Islam
yang dapat dimanfaatkan dalam penyebaran Islam. Ini membuktikan Islam sangat
menghargai budaya setempat selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
d) Seni dan budaya
Saat itu media tontonan yang sangat terkenal pada masyarakat jawa kkhususnya yaitu
wayang. Wali Songo menggunakan wayang sebagai media dakwah dengan sebelumnya
mewarnai wayang tersebut dengan nilai-nilai Islam. Yang menjadi ciri pengaruh Islam dalam
pewayangan diajarkannya egaliterialisme yaitu kesamaan derajat manusia di hadapan Allah
dengan dimasukannya tokoh-tokoh punakawam seperti Semar, Gareng, Petruk, dan
Bagong.
Para Wali juga menggubah lagu-lagu tradisional (daerah) dalam langgam Islami, ini berarti
nasyid sudah ada di Indonesia ini sejak jaman para wali. Dalam upacara-upacara adat juga
diberikan nilai-nilai Islam.
e) Tasawwuf
Kenyatan sejarah bahwa ada tarikat-tarikat di Indonesia yang menjadi jaringan penyebaran
agama Islam.
3. Babak ketiga, masa penjajahan Belanda.

Pada abad 17 masehi tepatnya tahun 1601 datanglah kerajaan Hindia Belanda kedaerah
Nusantara yang awalnya hanya berdagang tetapi akhirnya menjajah. Belanda datang ke
Indonesia dengan kamar dagangnya yakni VOC, semejak itu hampir seluruh wilayah
nusantara dijajah oleh Hindia Belanda kecuali Aceh. Saat itu antar kerajaan-kerajaan Islam
di nusantara belum sempat membentuk aliansi atau kerja sama. Hal ini yang menyebabkan
proses penyebaran dakwah terpotong.
Dengan sumuliayatul (kesempurnaan) Islam yang tidak ada pemisahan antara aspek-aspek
kehidupan tertentu dengan yang lainnya, ini telah diterapkan oleh para Ulama saat itu.
Ketika penjajahan datang, mengubah pesantren-pesantren menjadi markas-markas
perjuangan, santri-santri (peserta didik pesantren) menjadi jundullah (pasukan Allah) yang
siap melawan penjajah sedangkan ulamanya menjadi panglima perangnya. Hampir seluruh
wilayah di Indonesia yang melakukan perlawanan terhadap penjajah adalah kaum muslimin
beserta ulamanya.
Potensi-potensi tumbuh dan berkembang di abad 13 menjadi kekuatan perlawanan
terhadap penjajah. Ini dapat dibuktikan dengan adanya hikayat-hikayat pada masa kerajaankerajaan Islam yang syair-syairnya berisikan perjuangan. Ulama-ulama
menggelorakan Jihad melawan kaum kafir yaitu penjajah Belanda. Belanda mengalami
kewalahan yang akhirnya menggunakan strategi-strategi:
Politik devide et impera, yang pada kenyataannya memecah-belah atau mengadu
domba antara kekuatan Ulama dengan adat contohnya perang Padri di Sumatera Barat dan
perang Diponegoro di Jawa.
Mendatangkan Prof. Dr. Snouk Cristian Hourgonye alias Abdul Gafar seorang Guru
Besar keIndonesiaan di Universitas Hindia Belanda juga seorang orientalis yang pernah
mempelajari Islam di Mekkah, dia berpendapat agar pemerintahan Belanda membiarkan
umat Islam hanya melakukan ibadah mahdhoh (khusus) dan dilarang berbicara atau sampai
melakukan politik praktis. Gagasan tersebut dijalani oleh pemerintahan Belanda dan salah
satunya adalah pembatasan terhadap kaum muslimin yang akan melakukan ibadah Haji
karena pada saat itulah terjadi pematangan pejuangan terhadap penjajahan.
4. Babak keempat, abad 20 masehi
Awal abad 20 masehi, penjajah Belanda mulai melakukan politik etik atau politik balas budi
yang sebenarnya adalah hanya membuat lapisan masyarakat yang dapat membantu
mereka dalam pemerintahannya di Indonesia. Politik balas budi memberikan pendidikan dan
pekerjaan kepada bangsa Indonesia khususnya umat Islam tetapi sebenarnya tujuannya
untuk mensosialkan ilmu-ilmu barat yang jauh dari Al-Quran dan hadist dan akan
dijadikannya boneka-boneka penjajah. Selain itu juga mempersiapkan untuk lapisan
birokrasi yang tidak mungkin pegang oleh lagi oleh orang-orang Belanda. Yang mendapat
pendidikanpun tidak seluruh masyarakat melainkan hanya golongan Priyayi (bangsawan),
karena itu yang pemimpin-pemimpin pergerakan adalah berasalkan dari golongan
bangsawan.
Strategi perlawanan terhadap penjajah pada masa ini lebih kepada bersifat organisasi
formal daripada dengan senjata. Berdirilah organisasi Serikat Islam merupakan organisasi
pergerakan nasional yang pertama di Indonesia pada tahun 1905 yang mempunyai anggota
dari kaum rakyat jelata sampai priyayi dan meliputi wilayah yang luas. Tahun 1908 berdirilah
Budi Utomo yang bersifat masih bersifat kedaerahan yaitu Jawa, karena itu Serikat Islam
dapat disebut organisasi pergerakan Nasional pertama daripada Budi Utomo.
Tokoh Serikat Islam yang terkenal yaitu HOS Tjokroaminoto yang memimpin organisasi
tersebut pada usia 25 tahun, seorang kaum priyayi yang karena memegang teguh Islam
maka diusir sehingga hanya menjadi rakyat biasa. Ia bekerja sebagai buruh pabrik gula. Ia
adalah seorang inspirator utama bagi pergerakan Nasional di Indonesia. Serikat Islam di
bawah pimpinannya menjadi suatu kekuatan yang diperhitungkan Belanda. Tokoh-tokoh
Serikat Islam lainnya ialah H. Agus Salim dan Abdul Muis, yang membina para pemuda yang
tergabung dalam Young Islamitend Bound yang bersifat nasional, yang berkembang sampai
pada sumpah pemuda tahun 1928.
Dakwah Islam di Indonesia terus berkembang dalam institusi-institusi seperti lahirnya
Nadhatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, dan lain-lain. Lembaga-lembaga ke-Islaman

tersebut tergabung dalam MIAI (Majelis Islam Ala Indonesia) yang kemudian berubah
namanya menjadi MASYUMI (Majelis Syura Muslimin Indonesia) yang anggotanya adalah
para pimpinan institusi-institusi ke-Islaman tersebut.
Di masa pendudukan Jepang, dilakukan strategi untuk memecah-belah kesatuan kekuatan
umat oleh pemerintahan Jepang dengan membentuk kementrian Sumubu (Departemen
Agama). Jepang meneruskan strategi yang dilakukan Belanda terhadap umat Islam. Ada
seorang Jepang yang faham dengan Islam yaitu Kolonel Huri, ia memotong koordinasi
ulama-ulama di pusat dengan di daerah, sehingga ulama-ulama di desa yang kurang
informasi dan akibatnya membuat umat dapat terbodohi.
Pemerintahan pendudukan Jepang memberikan fasilitas untuk kemerdekaan Indonesia
dengan membentuk BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan
Indonesia) dan dilanjuti dengan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan lebih
mengerucut lagi menjadi Panitia Sembilan, Panitia ini yang merumuskan Piagam Jakarta
tanggal 22 Juni 1945. Piagram Jakarta merupakan konsensus tertinggi untuk
menggambarkan adanya keragaman Bangsa Indonesia yang mencari suatu rumusan untuk
hidup bersama. Tetapi ada kalimat yang kontroversi dalam piagam ini yaitu penghapusan 7
kata lengkapnya kewajiban menjalankan syariat Islam bagi para pemeluk-pemeluknya
yang terletak pada alinea keempat setelah kalimat Negara berdasarkan kepada Ketuhan
Yang Maha Esa.
Babak kelima, abad 20 & 21.
Pada babak ini proses dakwah (Islamisasi) di Indonesia mempunyai ciri terjadinya
globalisasi informasi dengan pengaruh-pengaruh gerakan Islam internasional secara efektif
yang akan membangun kekuatan Islam lebih utuh yang meliputi segala dimensinya.
Sebenarnya kalau saja Indonesia tidak terjajah maka proses Islamisasi di Indonesia akan
berlangsung dengan damai karena bersifat kultural dan membangun kekuatan secara
struktural. Hal ini karena awalnya masuknya Islam yang secara manusiawi, dapat
membangun martabat masyarakat yang sebagian besar kaum sudra (kelompok struktur
masyarakat terendah pada masa kerajaan) dan membangun ekonomi masyarakat. Sejarah
membuktikan bahwa kota-kota pelabuhan (pusat perdagangan) yang merupakan kota-kota
yang perekonomiannya berkembang baik adalah kota-kota muslim. Dengan kata lain Islam
di Indonesia bila tidak terjadi penjajahan akan merupakan wilayah Islam yang terbesar dan
terkuat. Walaupun demikian Allah mentakdirkan di Indonesia merupakan jumlah peduduk
muslim terbesar di dunia, tetapi masih menjadi tanda tanya besar apakah kualitasnya
sebanding dengan kuantitasnya.
Islam Indonesia dalam Sorotan Dunia
Ala'i Najib

Alumni Islamic Studies Fakultas Teologi University of Leiden Belanda,


danvisiting Fellow di East West Center University of Hawaii USA
Pertemuan saya dengan banyak orang non-Indonesia yang bertutur tentang Islam di
Indonesia seringkali menggembirakan dan menimbulkan kebanggaan tersendiri.
Sebutlah seorang teman saya dari Universitas Khourtom Sudan yang sama-sama belajar
di Belanda, mengatakan Muslim di Indonesia itu moderat,apa ukurannya? Situasi yang
ada!
Kakaknya yang bekerja di Jakarta, sering bercerita kepadanya bahwa hidup di Indonesia
seringkali menimbulkan perasaan yang berbeda-beda. Sebagai muslim, ia merasa;
suatu hari saya seperti hidup di negara muslim, suatu hari seperti di negara Kristen.
Mengapa? Sebab, tidak ada dress code bagi perempuan muslim di sini. Dia menjumpai
para eksekutif dan pekerja kantor berjas rapi dengan rok kurang lebih satu lutut.
Sebaliknya suatu hari dia menemui komunitas wanita muslim yang berpakaian dan
berkerudung sangat rapat, sehingga seolah-olah dia ada di negara Islam.

Ada juga cerita lain, selain fenomena di atas. Islam yang dikenal sebagai agama yang
cenderung patriarkhal (meskipun sebenarnya potensi patriarkhal ada pada semua
agama) juga menjadi sorotan; pertanyaan seorang teman dari Aljazair, misalnya;
Apakah sudah umum perempuan-perempuan muslim di Indonesia dibolehkan pergi
belajar ke luar negeri? Bagi saya, itu merupakan sesuatu yang sebenarnya dalam Islam
nyaris tanpa perdebatan akan keumumannya. Terakhir, cerita seorang muslim AustraliaTurki dengan penuh heran; kok perempuan Muslim Indonesia boleh bernyanyi di depan
publik ?
Awal September 2003 lalu, saya dengan dua orang fellow dari Pakistan dan Malaysia
memberikan presentasi, Islam Beyond Middle East di East West Center (EWC) Hawai.
Saat itu disampaikan, Indonesia terutama, memang mendapat sorotan karena
keunikannya, sebagai negara dengan jumlah populasi muslim terbesar memiliki model
keberagaman tersendiri dengan mengawinkan budaya-budaya lokalnya dengan substansi
Islam itu sendiri. Islam Indonesia, memang sudah menjadi perhatian dunia, entah dalam
rangka kepentingan kolonial, akademik, budaya maupun politik.
Tulisan singkat ini sebenarnya ingin melihat Islam Indonesia dalam persepsi dunia masa
kolonial (yaitu masa kelahiran organisasi-organisasi Islam), masa Suharto, masa
reformasi, masa sebelum 11 September 2001, dan pasca 11 September.
Sorotan Islam Masa kolonial
Melihat periode ini sangatlah panjang. Namun, periode-periode ini bisa dilihat sebagai
titik awal identitas Islam di Indonesia. Hal ini karena masuknya Islam di Indonesia yang
ditandai dengan akulturasi budaya yang sangat kental, berjalan lancar dan tidak
mengagetkan keberagamaan awal penduduknya. Islam melebur dengan budaya lokal,
menangkap spirit penyebaran agama yang harus disampaikan tanpa kekerasan. Tak ada
kafiyeh, jilbab, masjid berkubah layaknya di Timur Tengah, kalaupun ada itu dalam
hitungan angka. Banyak kalangan dalam dan luar mengakui keberhasilan ini, lepas dari
perdebatan apakah Islam dibawa oleh pedagang Gujarat atau dari orang-orang Arab
langsung. Dari sinilah, citra Islam Arab tidak nampak di Indonesia, abad-abad
belakangan barulah nampak identitas Arab itu, lagi-lagi bukan dalam jumlah yang
mayoritas.
Sementara itu, ketaatan kepada pemimpin/pemuka agama yang nyaris
tanpareserve menjadi gambaran umum di banyak tempat. Hal ini malah menjadi
kekuatan tersendiri di masa lampau. Masa kolonial Belanda misalnya, mengabadikan
nama Snouck Hurgronje sebagai penasehat ulung pemerintahannya. Resistensi Muslim
Aceh memang menjadi pekerjaan besar tersendiri bagi kolonial. Strategi inilah yang
kemudian mengantarkan Snouck[i]sampai di Tanah suci dan rahasia kekuatan Aceh
terkuak, dan Aceh menjadi daerah di Indonesia yang paling akhir ditaklukan. Peristiwa
ini kemudian menjadi sejarah penting bagaimana satu dari banyak tipologi Islam di
Indonesia dimanfaatkan oleh dunia luar.
Selain gambaran politik Islam dan kolonial di masa itu, proses-proses penyebaran Islam
di Nusantara yang memang tidak persis seiring waktu dan tempat dengan kolonialisasi
juga menarik dikemukakan. Pertama, sebagaimana dijelaskan di atas, akulturasi dan
asimilasi budaya telah membentuk identitas Islam Indonesia sebagai agama pendatang.
Identitas yang banyak disemangati oleh nilai toleransi itu telah membuat konfigurasi

anyar antara agama yang datang dari Timur Tengah dan agama yang tunduk
pada original culture tanpa menafikan substansi pesan langit agama itu.
[ii] Kedua, meski kemudian menjadi agama mayoritas, Islam tidak menjadi dominan di
seluruh area Indonesia, banyak daerah menjadi konsentrasi agama-agama tertentu,
misalnya; Manado untuk Kristen, Bali untuk Hindu dsb.[iii] Fenomena ini sesungguhnya
mengajarkan, bahwa di antara yang berbeda, tetap ada harmoni, dan untuk melawan
kekerasan atas nama agama, kuncinya terletak pada toleransi, seperti di masa lalu,
sesuatu yang sangat sulit kita temukan pada masa sekarang. Selain hal-hal di atas,
masih banyak contoh lain di masa lalu yang menjadi fondamen warna Islam di
Indonesia.
Masa Kemerdekaan: Islam versus Komunis =Islam Komunis?
Yang menarik dari Islam masa ini adalah, era di mana gerakan komunis mulai mendapat
momentumnya. Ketika ramai-ramai orang mempersepsikan komunis setali tiga uang
dengan atheisme, komunisme di Indonesia malah berinteraksi secara baik-baik dengan
kaum muslim. Kenapa? Karena komunisme adalah gerakan, bukan dimaknai sebagai
ideologi an sich[iv], ia bisa dijadikan model gerakan untuk memperbaiki
ketidakberdayaan masyarakat, yang memang menjadi kondisi nyata bangsa Indonesia
waktu itu. Presiden Soekarno sendiri memaklumatkan ideologi Nasakom, yang sama
sekali bukan sebagai relasi agama vis-a-vis komunisme tapi lebih sebagai perlawanan
mengguritanya kapitalisme dan Soekarno merasa harus menemukan formula yang tepat
mengatasi situasi keterpurukan ekonomi bangsa, belum stabilnya politik negara. Meski
untuk itu, perkawanannya dengan negara-negara tetangga yang menjadikan komunis
sebagai poros, barangkali banyak mengilhami pemikiran Soekarno dalam melihat
persoalan di Indonesia.
Meski dunia lebih mencatat komunis di Indonesia sebagai gerakan kudeta, namun
sebenarnya internalisasi nilai-nilai komunis dalam Islam menarik untuk ditelusuri.
Beberapa dari mereka malah mencari titik persamaan antara keduanya, sebagai sesuatu
yang oleh publik diantagoniskan, misalnya; keberpihakan terhadap yang lemah dan citacita mewujudkan masyarakat yang sejahtera.
Islam Soeharto, Islamisasi dan Islam Abangan
Tesa Clifford Gertz tentang kategori tiga muslim
sebagai santri, abangan danpriyayi sebenarnya sudah lama terbantahkan. Meski
analisanya tak sepenuhnyasahih, Gertz sesungguhnya telah melihat praktek-praktek
keagamaan model masyarakat Jawa dibandingkan dengan konsep agamanya
yang genuine. Pada abangan, bisa dikatakan bahwa ada proses konversi yang tidak
lengkap. Dalam waktu yang lama misalnya, orang-orang Jawa masih memelihara praktek
tradisi Hindu dan menggunakan Islam dan Syariahnya hanya sebagai bungkus atau
petunjuk formal dan wadah bagi kehidupan spiritual.[v]
Pada era Soeharto, performance Islam Indonesia sebenarnya justru lebih pada
kecurigaan kelompok-kelompok, pencatatan setiap pertemuan publik yang bersifat
keagamaan, pembubaran organisasi yang dianggap menggerogoti Pancasila dan
tindakan subversif. Baru pada era 90-an Islam nampaknya menemukan momentum
gerakannya. Ini misalnya ditandai dengan lahirnya ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim
Indonesia) di tahun 1992, greening di level birokrasi meminjam istilah Hefner dalam

Civil Islam menjadi gairah baru kehidupan muslim di Indonesia. Sejak itu, atributatribut Islam --para pengamat lebih sering menyebutnya sebagai simbol-- menjadi
warna keseharian kehidupan muslim. Pilihan memakai busana muslimah, misalnya,
sudah menjadi bagian dari kehidupan publik, dan fenomena tidak hanya terjadi di ICMI,
namun seiring menguatnya gerakan tarbiyah Islam dari kaum urban. Gerakan ini,
terutama dimotori kaum muda dari universitas-universitas umum. Mereka menginginkan
kehidupan yang khusu dengan menerapkan ajaran-ajaran yang fundamental seperti
masa Rasulullah saw, terutama cara berpakaian. Model yang sebenarnya ingin
mengambil prinsip-prinsip literal al-Quran dan sunnah. Tak heran, kalau
timbul guyonan baju menunjukkan identitas madzhabnya! Gerakan ini banyak mendapat
perhatian pengamat asing, terutama untuk studi-studi akademik. Apalagi fenomena ini
tidak hanya terdiri dari satu grup, namun muncul juga di grup yang lain dengan
identifikasi khusus. Sebagian kentara sekali warna Timur Tengahnya, sehingga kadang
lebih mewakili eksistensi budaya Timur Tengahnya daripada pesan keagamaannya.
Dengan fenomena ini bertambah lagi warna Islam di Indonesia.
Kecenderungan-kecenderungan di atas, kemudian melahirkan Islam labeling[vi];radikal,
fundamental, moderat, liberal dan sebagainya. Mengapa? karena identitas itu
memudahkan penggambaran gerakan masing-masing. Apakah Islam di masa lalu yang
lebih menunjukkan identitas Islam Indonesia kemudian lenyap? Jawabnya, tidak
sepenuhnya. Namun gerakan yang paling banyak menarik media massa ini lebih sering
ter-cover daripada Islam genuine[vii]Indonesia sebelumnya. Meski awal-awal
kemerdekaaan, kita tak melupakan gerakan DI/TII dan kekejaman kelompok
Kartosuwiryo yang mencita-citakan berdirinya Islam di Indonesia.
Islam Indonesia Sebelum Tragedi 11 September
Studi Islam di Indonesia sebenarnya banyak menarik perhatian Islamist di luar negeri
terutama tentang raksasa dua organisasi massa Islam; NU dan Muhammadiyah. Namun,
meski Indonesia kaya dengan banyak intelektual muslim, dari pihak organisasi manapun,
mereka jarang terkenal dalam dunia Internasional.[viii] Memang, Islamic studies di
kelas-kelas Internasional banyak menjadikan Islam Indonesia menjadi obyek kajian, tapi
mereka umumnya tidak terfokus pada satu tokoh. Studi-studi lebih diarahkan pada
perkembangan Islam dalam kaitannya dengan kasus-kasus khusus, politik misalnya.
Pasca Soeharto, yaitu era reformasi nampaknya merupakan momentum untuk
melahirkan ekspresi Islam masing-masing, NU dan Muhammadiyah tidak lagi menjadi
dwi-tunggal yang mengundang perhatian banyak pengamat asing. Selain NU dan
Muhammadiyah, realitasnya, ada banyak organisasi massa Islam di Indonesia, misalnya
Persis atau Perti, namun memang tidak sebesar dua organisasi sebelumnya.
Sementara itu, seperti disinggung di atas, era reformasi adalah era keterbukaan yang
memungkinkan orang untuk mengekspresikan pikiran termasuk cara keberagaamaan.
Ambillah contoh misalnya; lahirnya Front Pembela Islam (FPI) dan MMI (Majelis
Mujahidin Indonesia). Forum Komunikasi Islam Ahlussunnah wal Jamaah dengan Laskar
Jihadnya, dan lain-lain. Masing-masing organisasi Islam ini lahir dengan karakternya
masing-masing. Yang menarik, gerakan organisasi ini mampu menyedot perhatian media
massa dengan coverage yang seluas-luasnya di media dalam dan luar negeri. Wajar
saja, karena selain sangat kental dengan simbol, gerakannya yang lebih mengandalkan
unjuk kekuatan dalam melawan sesuatu di mana hal ini tidak dijumpai sebelumnya--

bahkan banyak orang dirugikan atas pembenaran tindakannya yang mengatasnamakan


agama dengan kata lain jihad.[ix]
Fenomena munculnya gerakan baru Islam ini juga didukung oleh menguatnya wacana
penerapan syariat Islam yang dibarengi oleh kebijakan pemerintah dengan otonomi
daerah masa presiden Abdurrahman Wahid. Policy ini lebih memberikan keleluasaan
daerah untuk mengatur pemerintahnnya sendiri. Sejak inilah Islam Indonesia banyak
dikenal lebih pada gerakannya, beberapa gerakan yang anarki dengan
mengatasnamakan amar maruf lebih sering didengar masyarakat daripada kegiatankegiatan ilmiah dan kajian-kajian untuk mengeksplorasi Islam. NU dan Muhammadiyah,
malah sunyi dari publikasi.
Islam Indonesia Pasca 11 September: Merespon Amerika, Mencari Sekutu,
Mencipta Enemi Baru
Tak ada yang menyangka, bahwa 11 September 2001 lalu, WTC di New York yang
secanggih itu security-nya bisa hancur luluh dalam hitungan menit dan menggegerkan
dunia.[x] Banyak simpati dunia akan tragedi itu kepada Amerika. Presiden Megawati,
bahkan, menjadi tamu pertama George Bush setelah peristiwa itu dan menyatakan
dukungannya bahwa Indonesia di belakang setiap usaha untuk menumpas
kekerasan/terorisme.
Namun apa yang terjadi? Setelah malapetaka Amerika ini, muncul misi Amerika;
perang melawan teroris. Indonesia pasca tragedi itu, pernah dijuluki surga bagi
teroris[xi], dengan merujuk situasi gerakan Islam belakangan. Dikatakan bahwa otak
pengeboman itu; Osama bin Leden, banyak mempunyainetwork dengan pentolan ormasormas yang lahir belakangan. Asumsi ini timbul karena meningkatnya gerakan Islam
radikal di Indonesia. Mereka misalnya dikenali dengan ciri-ciri; penggunaan simbolsimbol Arab, sering mengerahkan massa, cita-cita menegakkan negara Islam dan lainlain.
Bagi mereka, terutama mereka yang melihat perkembangan Islam di Indonesia
belakangan, gejala ini memunculkan kekhawatiran tersendiri, terutama ketakutan
matinya demokrasi di Indonesia. Bukan itu saja, gerakan-gerakan yang didanai secara
swadaya, ini juga rentan akan kedekatannya dengan penyandang-penyandang dana dari
Timur Tengah.
Sejak Amerika memproklamirkan war againts terorist, Indonesia masuk dalam sasaran
ini. Apakah yang populer dan bisa diinventarisir dalam sorotan dunia tentang isu Islam di
Indonesia pasca tragedi 11 September?
Pertama, isu Jamaah Islamiyah (JI). Organisasi yang hampir tak pernah dikenal di
Indonesia ini, disinyalir sebagai sarang lahirnya teroris. Meski sebenarnya banyak
tokohnya ada di Malaysia, tak urung orang-orang yang pernah terlibat atau berhubungan
dengan almarhum Abdullah Sungkar, sang pemimpin di Malaysia di manapun berada
dianggap telah ikut menghidup-hidupkan JI ini. Di Indonesia, nama Abu Bakar Baasyir,
ketua MMI dan pengasuh pesantren Ngruki ini mendadak menjadi sangat terkenal,
dalam kasus pencarian jaringan-jaringan JI. Apapun alasannya, akhirnya ia berhasil
dikenai dengan serangkaian tuduhan makar maupun aktor di balik terjadinya gerakangerakan Islam garis keras.

Kedua, meningkatnya sentimen anti-Amerika. Ketika terjadi peristiwa 11 September


2001, Indonesia sebenarnya menunjukkan atensi dan simpati serta mengutuk perbuatan
tak berperikemanusian ini, siapa pun pelakunya. Namun keputusan pemerintahan
Amerika untuk menyisir Afganistan, negeri di mana Osama bin Leden kira bersembunyi,
telah melukai banyak umat muslim di Indonesia. Afganistan memang di bawah rezim
Taliban yang ditengarai sangat radikal dan literal dalam pemahamaman keagamaan,
namun bukan kewajiban Amerika untuk kemudian menyerangnya dengan alasan untuk
membebaskan rakyat dari kekuasaan yang tiran sambil mencari-cari Osama. Agresi
tetap agresi, di mana tindakan Amerika ini tak bisa meluputkan jatuhnya korban-korban
sipil.
Setelah sukses dengan Afganistan dan memberinya kompensasi, Amerika dengan
kebijakan barunya menyerang Irak. Apapun alasannya, Irak yang sampai hari belum
sesukses Afganistan untuk ditaklukkan, Amerika telah menjadikan Irak sebagai seteru
baru dan seolah-olah menjadi imaginer enemy.Untuk melakukan itu semua Amerika
tidak sendiri, ia banyak mendapat sekutu, terutama sebagian negara-negara di Eropa.
Policy pemerintahan Amerika seperti di atas, sebenarnya sangatlah membuat
risih. Banyak orang kemudian termasuk di Indonesia- yang menggeneralisir bahwa
apapun yang berbau Amerika harus dimusuhi, kalau perlu dengan jalan kekerasan. Di
Indonesia, ketika terjadi penyerangan-penyerangan itu, tak sedikit waralaba-waralaba
Amerika yang ingin dihancurkan. Sementara orang kulit putih dari negara manapun,
menjadi target kekerasan bom, maupunsweeping. Ini yang kemudian membuat sejumlah
negara memberikan travel warning kepada turis untuk datang ke Indonesia.
Ketiga, menguatnya citra Islam radikal di Indonesia. Media massa, baik dalam maupun
luar, telah banyak mengekspos berita-berita tentang wajah Islam di Indonesia yang
seringkali tanpa reserve. Lihatlah, bagaimana istilah JI bisa sangat populer, bagaimana
setiap saya bertemu dengan orang asing, selalu ditanya tentang Islam Fundamentalis,
FPI dan sebagainya. Hal ini tentu disebabkan konstribusi media yang besar dalam
menimbulkan opini publik yang suka atau tidak suka telah mengubah wajah Islam di
Indonesia.
Keempat, meningkatnya aksi bom untuk dan atas nama jihad. Bagaimana pun, ketika
dunia masih tersentak dengan peristiwa 11 September, tiba-tiba bom Bali terjadi dan
disusul dengan Bom J.W. Marriot hotel, yang targetnya membunuh orang. Serangkaian
bom itu, mendadak menimbulkan spirit saudara-saudara kita untuk jadi martir setelah
membunuh orang!
Kajian Islam Indonesia, Perlukah Dibuka Kelas Internasional?
Historiografi Islam di Indonesia sebenarnya banyak ditulis, baik oleh orang-orang
Indonesia sendiri maupun pengamat asing. Banyak mahasiswa Indonesia maupun nonIndonesia yang studi di luar negeri mengambil spesifikasi Islamic Studies, dan mereka
menulis tentang Islam Indonesia. Sebagai negara dengan jumlah populasi muslim
terbesar di dunia dengan segala keragamannya, sudah saatnya kajian Islam Indonesia
menjadi satu subyek sendiri. Bahkan, hal ini dapat menjadi bukti kekhasan Islam
Indonesia di bumi sendiri.

Di Universitas Leiden Belanda, contohnya, meski bukan subyek yang wajib diambil, ada
mata kuliah Dissemination Islam in Indonesia, yang mengkhususkan kajian Islam
Indonesia abad ke-20. Pemikir-pemikir Islam Indonesia, jarang dikaji secara khusus
seperti mereka mengkaji Mohammed Arkoun, Hassan Hanafi atau tokoh yang lain.
Melihat contoh demikian, sudah saatnya didorong Studi Islam Indonesia menjadi
bagian dari mata kuliah yang harus ditawarkan di Islamic Studies kelas Internasional.
Sementara jika di PTAI dibuka kelas Internasional, sudah seharusnya ada muatan
kurikulum lokal yang khusus menyoroti perkembangan Islam Indonesia termasuk
memasukkan perkembangan mutakhir, 10-tahunan terakhir yang berkembang sangat
pesat, dewasa ini. Hal ini, juga agar jangan sampai kelas internasional Indonesia tak
beda dengan kelas internasional di luar Indonesia yang mengkaji tokoh-tokoh yang
sama. Usaha ini bukan hanya mendorong tumbuhnya pemikir-pemikir muslim dengan
gagasan yang brilian dan selalu menjawab problem keberagamaan kini, namun juga
mempromosikan Islam Indonesia, paling tidak, sudah dielaborasi di negeri sendiri. Selain
itu, ini juga untuk menumbuhkan terbitnya buku-buku atau karya-karya tulis dari para
penulis muslim Indonesia, sehingga mampu menembus dunia internasional (go
international). Di sisi lain, agar para pengamat non-Indonesia lebih dekat mengenal
Islam Indonesia dan tak seburuk digambarkan media (baca: asing) selama ini.
Penutup
Wajah Islam di Indonesia selalu mengalami perubahan bentuk dari waktu ke waktu.
Masa pra kemerdekaan sebenarnya tak jauh dengan masa-masa Soeharto. Pada masa
reformasilah, saya kira yang banyak mendapat sorotan dunia. Saat itu, wajah Islam kita
tiba-tiba total menjadi Islam yang garang, yang suka menunjukkan kekuatan dan
banyak mencita-citakan mati syahid (martir) kalau berhasil melenyapkan orang yang
didefinisikan sebagai musuh.
Meski citra ini mereduksi wajah Islam Indonesia yang toleran dan ramah, publik atau
dunia mulai melihat titik terang Islam di Indonesia. Mereka misalnya sering mencari
rujukan-rujukan model keberagamaan seperti di NU dan Muhammadiyah. Sebutlah yang
agak kontroversial misalnya, undangan Presiden Bush sewaktu ke Bali dan safari dubes
AS ke beberapa tokoh dan pesantren.
Di sisi lain, dalam konteks dinamika kelimuan di Perguruan Tinggi Agama Islam, kiranya
secepatnya dapat menciptakan kurikulum untuk mengenal Islam Indonesia
yang genuine. Terlebih bila terdapat kelas Internasionalnya. Realitas sosial perempuan
Islam Indonesia, seperti terungkap melalui komentar kawan saya di atas, dalam wacana
mutakhir keislaman, saya kira dapat menjadi wacana khas a la Indonesia. Hal itu, sudah
saatnya diujicobakan.

[i]Hanya orang Muslimlah yang bisa masuk Haramain, karena siasatnya itu,
kemusliman Snouck Hurgonje sesungguhnya banyak menimbulkan kontroversi. Prof. Dr.
P.S van Koningsveld. Snouck Hurgronje dan Islam. Delapan Karangan Hidup dan Karya

Seorang Orientalis Zaman Kolonial Islam(translated from Snouck Hurgronje en Islam,


acht artkelen over lenen en werk van een orientalist uit het koloniale tijd perk), (Jakarta:
Girimukti Pusaka, 1987).
[ii]Adaptasi misi Islam seperti ini sampai hari ini masih banyak dipraktekkan
orang-orang NU, meski ada sebagaian kelompok lain yang menentang, karena dianggap
terlalu kelewatan percampurannya, hingga terkesan lebih dominan agama lain daripada
Islamnya.
[iii]Seorang Muslim dari Australia yang melihat dari dekat kehidupan beragama di
Indonesia mengatakan; negaramu itu unik, meski ada agama mayoritas, tetap ada
daerah yang menjadi central agama-agama tertentu! Dan ia melihat Islam dipraktekkan
secara luwes.
[iv]Lihat, misalnya buku biografi Hasan Raid Pergulatan Muslim Komunis;
Otobiografi Hasan Raid, tahun 2001. Selain beliau, kita mengenal Kyai Misbah dari Jawa
Timur yang juga dikenal sepakat dengan aliran yang katanya menjadi ancaman bagi
kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga harus diberangus.
[v]Argumen ini misalnya dikemukakan oleh Fauzan Saleh dalam Modern Trends in
Islamic Theological Discourses in Twentieth Century Indonesia, a critical Survey (Leiden:
Brill NV, 2001).
[vi]Islam labeling merupakan penyebutan/opini saya pribadi. Kaum akademi
Indonesia sebenarnya sudah lama menggunakan kategorisasi Islam, yang merujuk pada
Fazlurrahman. Meski Islam-islam yang bersifat argumentatif dan kategoritatif itu tak
sepenuhnya ada dalam kehidupan muslim di Indonesia di waktu lalu.
[vii]Islam yang genuine Indonesia, dimaksudkan sebagai penggambaran identitas
Islam yang hanya dapat ditemukan di Indonesia
[viii]Pemikir-pemikir dunia Islam sudah tak asing lagi bagi kalangan mahasiswa
Perguruan Tinggi Islam maupun akademisinya. Terutama, bahwa pemikiran mereka
menjadi silabi wajib di perguruan Tinggi. Bahkan banyak dari mereka sengaja diundang
ke Indonesia. Seorang Professor Islamic Studies dari Universitas Quaid-I-Azam
University Islamabad di Pakistan, yang sama-sama menjadi visiting fellow di East West
Center dengan saya mengatakan tak tahu banyak tentang pemikiran Islam di Indonesia,
kecuali tentang NU dan Muhammadiyah. Keadaan ini mungkin bisa dipahami, karena tak
banyak dari mereka yang punya publikasi Internasional dan mendapat sambutan luas.
[ix]Organisasi-organisasi yang kerap terlihat dalam pengerahan massa, kadang
juga menimbulkan distorsi berita untuk koran luar negeri misalnya; Harian Honolulu Star
Buletin (koran dengan jumlah oplah yang besar di Hawaii) tanggal 8/11/2003 memuat
berita dan gambar tentang pembukaan kongres MMI. Dengan judul yang sangat
bombastis; 3000 orang di Indonesia mengadakan rallyuntuk mendukung bos teroris
(yang dimaksud adalah Abu Bakar Baasyir). Padahal mereka adalah santri-santri
Pesantren Baasyir yang menghadiri pembukaan kongres.
[x]Sampai hari ini, saya tidak pernah merasakan aura 11 September di
Indonesia, bagaimana mereka mengekpresikan simpati terhadap korban Amerika,

memuntahkan kebenciannya akan policy Amerika yang sepihak membuat agresi ke


negara-negara yang dia anggap sarang teroris setelah memaklumkan war againts
teroris. Kesan-kesan muslim Indonesia hanya saya tangkap dari media massa atau
media elektronik. Saya menghayati ekspresi-ekspresi Muslim itu, karena 11 September
2001, saya sedang studi di Leiden (Belanda), 11 September 2002, hari wisuda saya dan
masih di Leiden dan 11 September 2003 saya di Hawaii USA. Pada 11 September 2001,
di Belanda, saya melihat masyarakat Muslim (tidak termasuk muslim Indonesia)
beramai-ramai mendukung Osama bin Leden, pemimpin jaringan al-Qaida yang diduga
berada di balik tragedi 11 September. Kelompok mereka, yang sebenarnya lebih
menitikberatkan pada anti-Amerika, ada dalam jumlah yang besar, sampai waktu itu
cukup mengkhawatirkan pemerintah Belanda. Sebaliknya, kalau kita berada di USA, kita
akan melihat bahkan merasakan peristiwa 11 September sebagai perbuatan
biadab, unhuman dan sama sekali bukan akibat arogansi Amerika, sebab korbankorbannya memang masyarakat sipil.