Anda di halaman 1dari 18

PRESENTASI KASUS BESAR

ILMU PENYAKIT MATA

TRI YUNITA
11-2009-075

PEMBIMBING
Dr. Rosalia Septiana Widiastuti, Sp.M

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA


KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA
RUMAH SAKIT MARDI RAHAYU - KUDUS
PERIODE 8 NOVEMBER 2010-11 DESEMBER 2010
0

TINJAUAN PUSTAKA

PENDAHULUAN
Bola Mata terdiri atas dinding bola mata dan isi bola mata, dimana dinding bola mata
terdiri atas sclera dan kornea sedangkan isi bola mata terdiri atas lensa, uvea, badan kaca dan
retina. Uvea merupakan lapisan dinding kedua dari bola mata setelah sclera dan tenon. Uvea
merupakan jaringan lunak, terdiri dari iris, badan siliar dan koroid.
Uveitis adalah inflamasi traktus uvea (iris,korpus siliaris,dan koroid) dengan berbagai
penyebabnya. Struktur yang berdekatan dengan jaringan uvea yang mengalami inflamasi
biasanya juga ikut mengalami inflamasi. Peradangan pada uvea dapat hanya mengenai bagian
depan jaringan uvea atau iris yang disebut iritis. Bila mengenai badan tengah disebut siklitis.
Iritis dengan siklitis disebut iridosiklitis atau disebut juga dengan uveitis anterior dan merupakan
bentuk uveitis tersering. Dan bila mengenai lapisan koroid disebut uveitis posterior atau
koroiditis.
Uveitis umumnya unilateral, biasanya terjadi pada dewasa muda dan usia pertengahan.
Ditandai adanya riwayat sakit, fotofobia, dan penglihatan yang kabur, mata merah (merah
sirkumneal) tanpa tahi mata purulen dan pupil kecil atau ireguler. Berdasarkan reaksi radang,
uveitis anterior dibedakan tipe granulomatosa dan non granulomatosa. Penyebab uveitis anterior
dapat bersifat eksogen dan endogen. Penyebab uveitis anterior meliputi: infeksi, proses
autoimun, yang berhubungan dengan penyakit sistemik, neoplastik dan idiopatik.
Pola penyebab uveitis anterior terus berkembang sesuai dengan perkembangan teknik
pemeriksaan laboratorium sebagai sarana penunjang diagnostik. Lebih dari 75% uveitis endogen
tidak diketahui penyebabnya, namun 37% kasus di antaranya ternyata merupakan reaksi
imunologik yang berkaitan dengan penyakit sistemik. Penyakit sistemik yang berhubungan
dengan uveitis anterior meliputi: spondilitis ankilosa, sindroma Reiter, artritis psoriatika,
penyakit Crohn, kolitis ulserativa, dan penyakit Whipple. Keterkaitan antara uveitis anterior
dengan spondilitis ankilosa pada pasien dengan predisposisi genetik HLA-B27 positif pertama
kali dilaporkan oleh Brewerton et al.
1

Insidensi uveitis sekitar 15 per 100.000 orang.Sekitar 75% merupakan uveitis


anterior.Sekitar 50% pasien dengan uveitis menderita penyakit sistemik terkait.Di Amerika
Serikat,uveitis merupakan penyebab kebutaan nomor tiga setelah Retinopati Diabetik dan
Degenerasi Macular.Umur penderita biasanya bervariasi antara usia prepubertal sampai 50 tahun.
Variasi gejala sering dijumpai, hal ini berhubungan dengan faktor penyebabnya dan
dimana kelainan itu terjadi, biasanya pasien datang mengeluh nyeri ocular, fotofobia, penglihatan
kabur, dan mata merah. Pada pemeriksaan didapatkan tajam penglihatan menurun,terdapat
injeksi siliar, KP, flare, hipopion, sinekia posterior, tekanan intra okuler bisa meningkat hingga
sampai edema macular.
DEFINISI
Uveitis adalah inflamasi traktus uvea (iris, korpus siliaris dan koroid) dengan berbagai
penyebabnya. Struktur yang berdekatan dengan jaringan uvea yang mengalami inflamasi
biasanya juga ikut mengalami inflamasi.
Patofisiologi
Patofisiologi pasti dari uveitis tidak diketahui. Secara umum uveitis disebabkan oleh reaksi
imunitas. Uveitis sering dihubungkan dengan infeksi seperti herpes, toksoplasmosis dan sifilis.
Reaksi imunitas terhadap benda asing atau antigen pada mata juga dapat menyebabkan cedera
pada pembuluh darah dan sel-sel pada traktus uvealis. Uveitis juga sering dikaitkan dengan
penyakit atau kelainan autoimun, seperti lupus eritematosus sistemik dan artritis reumatoid. Pada
kelainan autoimun, uveitis mungkin disebabkan oleh reaksi hipersensitifitas terhadap deposisi
kompleks imun dalam traktus uvealis. Berikut ini adalah beberapa kelainan yang dapat
menyebabkan uveitis anterior :
Autoimun

Artritis idiopatik juvenilis, Spondilitis ankilosa, sindrom Reiter, Kolitis


ulserativa, Uveitis terinduksi lensa, Sarkoidosis, Penyakit

Infeksi

Crohn, Psoriasis
Sifilis, Tuberkulosis, Morbus Hansen, Herpes Zoster, Herpes

Keganasan

simpleks, Onkoserkiasis, Leptospirosis


Sindrom Masquerade (Retinoblastoma, Leukimia, Limfoma,
2

Melanoma maligna)
Idiopatik, Uveitis traumatik, Ablatio retina, Iridosiklitis

Lain-lain

heterokromik Fuchs, krisis glaukomatosiklitik

Klasifikasi
Secara klinis, uveitis dapat diklasifikasikan dengan bermacam cara yang sering membingungkan.
Ada yang mengklasifikasikan uveitis berdasarkan lokasi atau posisi anatomis lesi yaitu uveitis
anterior, uveitis intermedia, uveitis posterior dan panuveitis atau uveitis difus. Ada juga yang
membagi berdasarkan derajat keparahan menjadi uveitis akut, uveitis subakut, uveitis kronik dan
uveitis eksaserbasi. Pembagian lain uveitis berdasarkan patologinya yaitu uveitis granulomatosa
dan uveitis non-granulomatosa. Dan ada juga pembagian uveitis berdasarkan demografi yang
berdampingan dengan faktor terkait seperti jenis kelamin, ras, usia, geografis, unilateral/bilateral
dan lain-lain; serta pembagian uveitis berdasarkan etiologinya.

Gambar 1. Pembagian Uveitis berdasarkan Lokasi Anatomis Lesi


Gejala dan Tanda
Gejala akut dari uveitis anterior adalah mata merah, fotofobia, nyeri, penurunan tajam
penglihatan dan hiperlakrimasi. Sedangkan pada keadaan kronis gejala uveitis anterior yang
ditemukan dapat minimal sekali, meskipun proses radang yang hebat sedang terjadi.

a. Uveitis Anterior Jenis Non-Granulomatosa


3

Pada bentuk non-granulomatosa, onsetnya khas akut, dengan rasa sakit, injeksi, fotofobia
dan penglihatan kabur. Terdapat kemerahan sirkumkorneal atau injeksi siliar yang disebabkan
oleh dilatasi pembuluh-pembuluh darah limbus. Deposit putih halus (keratic presipitate/ KP)
pada permukaan posterior kornea dapat dilihat dengan slit-lamp atau dengan kaca pembesar. KP
adalah deposit seluler pada endotel kornea. Karakteristik dan distribusi KP dapat memberikan
petunjuk bagi jenis uveitis. KP umumnya terbentuk di daerah pertengahan dan inferior dari
kornea. Terdapat 4 jenis KP yang diketahui, yaitu small KP, medium KP, large KP dan fresh KP.
Small KP merupakan tanda khas pada herpes zoster dan Fuchs uveitis syndrome. Medium KP
terlihat pada kebanyakan jenis uveitis anterior akut maupun kronis. Large KP biasanya jenis
mutton fat biasanya terdapat pada uveitis anterior tipe granulomatosa. Fresh KP atau KP baru
terlihat berwarna putih dan melingkar. Seiring bertambahnya waktu, akan berubah menjadi lebih
pucat dan berpigmen. Pupil mengecil dan mungkin terdapat kumpulan fibrin dengan sel di
kamera anterior. Jika terdapat sinekia posterior, bentuk pupil menjadi tidak teratur.

Gambar 2. Gambaran Keratic Presipitates pada Uveitis Anterior


b. Uveitis Anterior Jenis Granulomatosa
Pada bentuk granulomatosa, biasanya onsetnya tidak terlihat. Penglihatan berangsur kabur dan
mata tersebut memerah secara difus di daerah sirkumkornea. Sakitnya minimal dan fotofobianya
tidak seberat bentuk non-granulomatosa. Pupil sering mengecil dan tidak teratur karena
terbentuknya sinekia posterior. KP mutton fat besar-besar dapat terlihat dengan slit-lamp di
permukaan posterior kornea. Tampak kemerahan, flare dan sel-sel putih di tepian pupil (nodul
Koeppe). Nodul-nodul ini sepadan dengan KP mutton fat. Nodul serupa di seluruh stroma iris
disebut nodul Busacca.

Non Granulomatosa

Granulomatosa

Onset

Akut

Tersembunyi

Nyeri

Nyata

Tidak ada atau ringan

Fotofobia

Nyata

Ringan

Penglihatan

Sedang

Nyata

Nyata

Ringan

Putih halus

Kelabu besar (mutton fat)

Kecil dan tak teratur

Kecil dan tak teratur (bervariasi)

kabur
Merah
Sirkumkorneal
Keratic
precipitates
Pupil

Sinekia posterior Kadang-kadang

Kadang-kadang

Noduli iris

Tidak ada

Kadang-kadang

Lokasi

Uvea anterior

Uvea anterior, posterior atau difus

Perjalanan

Akut

Kronik

Sering

Kadang-kadang

penyakit
Kekambuhan
Diagnosis
Diagnosis uveitis anterior dapat ditegakkan dengan melakukan anamnesis, pemeriksaan
oftalmologi dan pemeriksaan penunjang lainnya.
a. Anamnesis
Anamnesis dilakukan dengan menanyakan riwayat kesehatan pasien, misalnya pernah menderita
iritis atau penyakit mata lainnya, kemudian riwayat penyakit sistemik yang mungkin pernah
diderita oleh pasien.
Keluhan yang dirasakan pasien biasanya antara lain:
Nyeri dangkal (dull pain), yang muncul dan sering menjadi lebih terasa ketika mata
disentuh pada kelopak mata. Nyeri tersebut dapat beralih ke daerah pelipis atau daerah
periorbital. Nyeri tersebut sering timbul dan menghilang segera setelah muncul.
Fotofobia atau fotosensitif terhadap cahaya, terutama cahaya matahari yang dapat
menambah rasa tidak nyaman pasien
5

Kemerahan tanpa sekret mukopurulen


Pandangan kabur (blurring)
Umumnya unilateral
b. Pemeriksaan Oftalmologi
Visus : visus menurun
Tekanan intraokular (TIO) pada mata yang meradang lebih rendah daripada mata yang
sehat. Hal ini secara sekunder disebabkan oleh penurunan produksi cairan akuos akibat
radang pada korpus siliaris. Akan tetapi TIO juga dapat meningkat akibat perubahan
aliran keluar (outflow) cairan akuos
Konjungtiva : terlihat injeksi silier/ perilimbal atau dapat pula (pada kasus yang jarang)
injeksi pada seluruh konjungtiva
Kornea : KP (+), udema stroma kornea
Camera Oculi Anterior (COA) : sel-sel flare dan/atau hipopion. Ditemukannya sel-sel
pada cairan akuos merupakan tanda dari proses inflamasi yang aktif. Jumlah sel yang
ditemukan pada pemeriksaan slitlamp dapat digunakan untuk grading. Grade 0 sampai +4
ditentukan dari:
0 : tidak ditemukan sel
+1 : 5-10 sel
+2 : 11-20 sel
+3 : 21-50 sel
+4 : > 50 sel
Aqueous flare adalah akibat dari keluarnya protein dari pembuluh darah iris yang
mengalami peradangan. Adanya flare tanpa ditemukannya sel-sel bukan indikasi bagi
pengobatan. Melalui hasil pemeriksaan slit-lamp yang sama dengan pemeriksaan sel,
flare juga diklasifikasikan sebagai berikut:
0 : tidak ditemukan flare
+1 : terlihat hanya dengan pemeriksaan yang teliti
+2 : moderat, iris terlihat bersih
+3 : iris dan lensa terlihat keruh
+4 : terbentuk fibrin pada cairan akuos
Hipopion ditemukan sebagian besar mungkin sehubungan dengan penyakit terkait HLA-,
penyakit Behcet atau penyakit infeksi terkait iritis.
6

Gambar 3. Gambaran Hipopion pada Uveitis Anterior


Iris : dapat ditemukan sinekia posterior
Lensa dan korpus vitreus anterior : dapat ditemukan lentikular presipitat pada kapsul
lensa anterior. Katarak subkapsuler posterior dapat ditemukan bila pasien mengalami
iritis berulang
c. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium mendalam umumnya tidak diperlukan untuk uveitis anterior, apalagi
bila jenisnya non-granulomatosa atau menunjukkan respon terhadap pengobatan non spesifik.
Akan tetapi pada keadaan dimana uveitis anterior tetap tidak responsif terhadap pengobatan
maka diperlukan usaha untuk menemukan diagnosis etiologiknya. Pada pria muda dengan
iridosiklitis akut rekurens, foto rontgen sakroiliaka diperlukan untuk mengeksklusi kemungkinan
adanya spondilitis ankilosa. Pada kelompok usia yang lebih muda, artritis reumatoid juvenil
harus selalu dipertimbangkan khususnya pada kasuskasus iridosiklitis kronis. Pemeriksaan darah
untuk antinuclear antibody dan rheumatoid factor serta foto rontgen lutut sebaiknya dilakukan.
Perujukan ke ahli penyakit anak dianjurkan pada keadaan ini. Iridosiklitis dengan KP mutton fat
memberikan kemungkinan sarkoidosis. Foto rontgen toraks sebaiknya dilakukan dan
pemeriksaan terhadap enzim lisozim serum serta serum angiotensine converting enzyme sangat
membantu. Pemeriksaan terhadap HLA-B27 tidak bermanfaat untuk penatalaksanaan pasien
dengan uveitis anterior, akan tetapi kemungkinan dapat memberikan perkiraan akan suseptibilitas
untuk rekurens. Sebagai contoh, HLA-B27 ditemukan pada sebagian besar kasus iridosiklitis
yang terkait dengan spondilitis ankilosa. Tes kulit terhadap tuberkulosis dan histoplasmosis dapat
berguna, demikian pula antibodi terhadap toksoplasmosis. Berdasarkan tes-tes tersebut dan
gambaran kliniknya, seringkali dapat ditegakkan diagnosis etiologiknya. Dalam usaha penegakan
diagnosis etiologis dari uveitis diperlukan bantuan atau konsultasi dengan bagian lain seperti ahli
7

radiologi dalam pemeriksaan foto rontgen, ahli penyakit anak atau penyakit dalam pada kasus
atritis reumatoid, ahli penyakit THT pada kasus uveitis akibat infeksi sinus paranasal, ahli
penyakit gigi dan mulut pada kasus uveitis dengan fokus infeksi di rongga mulut, dan lain-lain.
Anjuran pemeriksaan Untuk mengetahui penyebab sistemik uveitis
anterior
Penyakit yang

Hasil

Pemeriksaan

dicurigai

laboratorium

radiologi

ESR,(+)

Sacroiliac x-

HLA-B27
(+)HLA-B27

Rays

konsultasi

Pemeriksaan
lainnya

berdasarkan
riwayat dan
pemeriksaan fisik
Ankylosing

Rheumatologist

spondylitis
Inflammatory

Internist or

bowel disease
Reiters syndrome

Psoriatic arthritis

ESR,(+)

Joint x-

gastroenterologist
Internist,

HLA-B27

rays

urologist,

conjunctival,

rheumatologist
Rheumatologist,

urethral, prostate

(+)HLA-B27

Cultures;

dermatologist
Herpes

Diagnosis klinis

Dermatologist

Behcets disease

(+)HLA-B27

Internist or

Behcets skin
puncture

Rheumatologist
Test
Lyme disease

ELISA or Lyme

immunofluorescent

Internist,

assay
rheumatologis

Juvenile rheumatoid

ESR,(+)ANA,

Joint x- rays

Rheumatologist or

arthritis
(-)Rheumatoid
Sarcoidosis

factor
Angiotensin

pediatrictian
Chest x-ray

Internist

converting

Syphilis

enzyme (ACE)
(+)RPR or

Internist

VDRL
FTA-ABS or
MHATP
Tuberculosis

Chest x-ray

Internist

Purified protein
derivative (PPD)
skin test

Diagnosis Banding
Berikut adalah beberapa diagnosis banding dari uveitis anterior:
Konjungtivitis. Pada konjungtivitis penglihatan tidak kabur, respon pupil normal, ada
kotoran mata dan umumnya tidak ada rasa sakit, fotofobia atau injeksi siliaris.
Keratitis atau keratokonjungtivitis. Pada keratitis atau keratokonjungtivitis, penglihatan
dapat kabur dan ada rasa sakit dan fotofobia. Beberapa penyebab keratitis seperti herpes
simpleks dan herpes zoster dapat menyertai uveitis anterior sebenarnya.
Glaukoma akut. Pada glaukoma akut pupil melebar, tidak ditemukan sinekia posterior
dan korneanya beruap.
Penatalaksanaan
Tujuan utama terapi uveitis anterior adalah:
Mencegah sinekia posterior
Mengurangi keparahan (severity) dan frekuensi serangan atau eksaserbasi uveitis
9

Mencegah kerusakan pembuluh darah iris yang dapat:


Mengubah kondisi dari iridosiklitis akut menjadi iridosiklitis kronik
(terjadi perburukan diagnosis)
Meningkatkan derajat keparahan keadaan yang memang sudah kronik
Mencegah atau meminimalkan perkembangan katarak sekunder
Tidak melakukan tindakan yang dapat menyakiti atau merugikan pasien
Untuk uveitis anterior non-granulomatosa
Analgetik sistemik secukupnya untuk mengurangi rasa sakit
Kacamata gelap untuk keluhan fotofobia
Pupil harus tetap dilebarkan untuk mencegah sinekia posterior. Atropine digunakan
sebagai pilihan utama untuk tujuan ini. Kemudian setelah reda, dilanjutkan dengan kerja
singkat seperti siklopentolat atau homatropin
Tetes steroid lokal cukup efektif digunakan sebagai anti radang
Steroid sistemik bila perlu diberikan dalam dosis tunggal selang sehari yang tinggi dan
kemudian diturunkan sampai dosis efektif. Steroid dapat juga diberikan subkonjungtiva
dan peribulbar. Pemberian steroid untuk jangka lama dapat menimbulkan katarak,
glaukoma dan midriasis pada pupil.
Sikoplegik spesifik diberikan bila kuman penyebab diketahui.
Untuk uveitis anterior granulomatosa
Terapi diberikan sesuai dengan penyebab spesifiknya. Atropin 2% diberikan sebagai
dilator pupil bila segmen anterior terkena.
Komplikasi
Berikut ini adalah beberapa komplikasi dari uveitis anterior:
Sinekia anterior perifer. Uveitis anterior dapat menimbulkan sinekia anterior perifer yang
menghalangi humor akuos keluar di sudut iridokornea (sudut kamera anterior) sehingga
dapat menimbulkan glaukoma
Sinekia posterior dapat menimbulkan glaukoma dengan berkumpulnya akuos humor di
belakang iris, sehingga menonjolkan iris ke depan
Gangguan metabolisme lensa dapat menimbulkan katarak Edema kistoid makular dan
degenerasi makula dapat timbul pada uveitis anterior yang berkepanjangan.

10

PROGNOSIS
Kebanyakan kasus uveitis anterior berespon baik jika dapat didiagnosis secara awal dan
diberi pengobatan. uveitis anterior mungkin berulang, terutama jika ada penyebab sistemiknya.
Karena baik para klinisi dan pasien harus lebih waspada terhadap tanda dan mengobati dengan
segera. Prognosis visual pada iritis kebanyak akan pulih dengan baik, tanp adanya katarak,
glaucoma atau posterior uveitis.
KESIMPULAN
Uveitis adalah inflamasi traktus uvea (iris,korpus siliaris,dan koroid) dengan berbagai
penyebab.Struktur yang berdekatan dengan jaringan uvea yang mengalami inflamasi biasanya
juga ikut mengalami inflamasi. Uveitis anterior merupakan radang iris dan badan siliar bagian
depan atau pars plikata, yang disebabkan oleh gangguan sistemik di tempat lain, yang secara
hematogen dapat menjalar ke mata atau timbul karena reaksi alergi mata. Uveitis anterior
dikatakan akut jika terjadi kurang dari 6 minggu dan dikatakan sebagai kronik jika lebih dari 6
minggu. Laboratorium sangat dibutuhkan guna mendapat sedikit gambaran mengenai penyebab
uveitis. Penatalaksanan yang utama untuk uveitis tergantung pada keparahannnya dan bagian
organ yang terkena dan prognosis kebanyakan kasus uveitis anterior berespon baik jika dapat
didiagnosis secara awal.
=====================================================================
DAFTAR PUSTAKA
1. Ilyas S., Penuntun Ilmu Penyakit Mata, edisi ketiga, Balai Penerbit FKUI, Jakarta,2005
2. Ilyas S. , Ilmu Penyakit Mata, edisi ketiga, Balai Penerbit FKUI, Jakarta,2004
3. Daniel G. Vaughan, Taylor Asbury, Paul Riordan-Eva : Konjungtiva; Oftalmologi Umum,
Edisi 14, Jakarta : Widya Medika, 2000
4. www.emedicine.com/ophthalmology

11

LAPORAN KASUS
STATUS PASIEN
I. IDENTITAS PASIEN
Nama lengkap : Ny. S R
Umur

: 43 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan


Agama

: Islam

Pekerjaan

: Swasta

Alamat

: Bakalan 2/4 kemambang

No. CM

: 000685

II. ANAMNESIS
Anamnesis secara

: Autoanamnesis
12

Keluhan Utama

: Penglihatan buram dan merah pada mata kanan sejak 1 minggu

Riwayat Penyakit Sekarang:


Sejak 1 minggu lalu, pasien mengeluh penglihatannya buram dan nyeri pada mata
kanan. Selain itu, pasien juga mengeluh mata kanan terasa mengganjal, sakit bila
dipegang, mata merah serta terasa perih. Adanya kepala pusing berdenyut. Pasien juga
mengaku mata terasa silau bila melihat cahaya. Rasa mual, muntah, riwayat trauma, mata
gatal dan berair disangkal. Mata kiri tidak ada keluhan.
Riwayat Penyakit Dahulu

: Riwayat Diabetes Melitus, Hipertensi, alergi dan trauma


pada mata disangkal. Terdapat riwayat uveitis anterior OD

Riwayat Penyakit Keluarga

: Tidak ada keluhan serupa sebelumnya di keluarga

Riwayat Sosial Ekonomi

: sedang

III. PEMERIKSAAN FISIK


A. STATUS GENERALIS
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran
: Compos mentis
Tanda Vital
Tekanan Darah
: 110/80mmHg
Nadi
: 84 kali/menit
Respiratory rate
: 20 kali/menit
Suhu
: 37C
Kepala
: Normosefali, distribusi rambut merata
THT
: Normotia, normosepta, sekret -/-, T1-T1 tenang, faring tidak
hiperemis
Thoraks Jantung : BJ 1-2 reguler, murmur (-), gallop (-)
Paru : Suara nafas vesikuler, ronki -/-, wheezing -/Abdomen
: Supel, datar, bising usus (+) normal, nyeri tekan (-)
Ekstremitas
: Deformitas (-) dan tidak edema
KGB
: Tidak teraba membesar
B. STATUS OFTALMOLOGI
Gambar:
OD

OS

13

Keterangan:
1. OD Pupil ireguler

OCULI DEXTRA(OD)
6/7,5
Tidak dikoreksi
Gerak bola mata normal,

PEMERIKSAAN
Visus
Koreksi

OCULI SINISTRA(OS)
6/6
Tidak dikoreksi
Gerak bola mata normal,

enoftalmus (-),

Bulbus okuli

enoftalmus (-),

eksoftalmus (-),

eksoftalmus (-),

strabismus (-)
Edema (-), hiperemis(-),

strabismus (-)
Edema (-), hiperemis(-),

nyeri tekan (+),

nyeri tekan (-),

blefarospasme (-),

Palpebra

blefarospasme (-),

lagoftalmus (-),

lagoftalmus (-)

ektropion (-),

ektropion (-),

entropion (-)
Edema (-),

entropion (-)
Edema (-),

injeksi konjungtiva (+),

injeksi konjungtiva (-),

injeksi siliar (+),

injeksi siliar (-),

bangunan patologis (-),

Konjungtiva

bangunan patologis (-),

infiltrat (-),

infiltrat (-),

hiperemis (-)
Warna merah dan tidak

hiperemis (-)
Warna putih dan tidak

Sklera

ikterik
Bulat, edema (-),

ikterik
Bulat, edema (-),

keratik presipitat (-)

Kornea

keratik presipitat (-)

infiltrat (-), sikatriks (-)


Dangkal, kedalaman

Camera Oculi Anterior

infiltrat (-), sikatriks (-)


Jernih, hipopion (-),

cukup, hipopion (-),

(COA)

hifema (-),

hifema (-)
Sinekia posterior (+)

Iris

Kripta (+), warna coklat,

14

edema (-), sinekia (-),


Ireguler, letak sentral

Pupil

atrofi (-)
Reguler, letak sentral,

Sulit dinilai
Sulit dinilai
Sulit dinilai

Lensa
Vitreus
Retina

Jernih
Jernih
Vaskularisasi normal,
perdarahan (-), rasio A/V:
2/3, eksudat (-)

IV. RESUME
Subjektif:
Pasien perempuan berusia 43 tahun datang dengan keluhan mata kanan buram dan
nyeri sejak 1 minggu yang lalu. Selain itu, pasien juga mengeluh mata kanan terasa
mengganjal, sakit bila dipegang, mata merah serta terasa perih. Adanya kepala pusing
berdenyut dan terasa silau bila melihat cahaya.
Objektif:
Pada pemeriksaan fisik mata, diperoleh visus pada mata kanan 6/7,5, nyeri tekan
palpebra (+), sclera warna merah, keratik presipitat kecil (+) di inferior, COA dangkal,
sinekia posterior (+), pupil ireguler, letak sentral,reflex pupil L/TL -/-, lensa sulit dinilai,
vitreus sulit dinilai
V. DIAGNOSA DIFFERENSIAL

Uveitis anterior : dipertahankan karena pasien merasa kemeng, mata merah


(+), berair, (+), injeksi siliar (+), keratik presipitat (+), tyndall effect (+),
sinekia posterior (+), pupil miosis (+).

Keratitis : disingkirkan karena tidak ditemukan kelainan pada kornea,


infiltrate (-).

Glaukoma akut : disingkirkan karena pusing (-), melihat pelangi/halo (-), mual
dan muntah (-), COA dangkal (-), midriasis (-), TIO tidak meningkat.

15

Konjungtivitis akut : disingkirkan karena mata lengket saat pagi (-), gatal (-),
folikel (-), membrane (-), injeksi konjungtiva (-).

VI. DIAGNOSA KERJA


Uveitis anterior
VII. TERAPI
Medikamentosa:
-

Lameson 16 mg 3x1

Tropin ed 1% 2X1 tetes OD

Tobroson ed tiap 1 jam OD

Spiramicin 500mg 3x1 tab

VIII. PROGNOSIS
OKULI SINISTRA (OS)
Quo Ad Visam:
Quo Ad Sanam
:
Quo Ad Kosmetikam :
Quo Ad Vitam
:

Ad bonam
Ad bonam
Ad bonam
Ad bonam

OKULI DEKSTRA (OD)


Dubia Ad bonam
Dubia Ad bonam
Dubia ad bonam
Ad bonam

IX. USUL DAN SARAN


Usul:
-

USG mata untuk menilai segmen posterior

Pemeriksaan gonioskopi untuk mengetahui lebar sempitnya sudut bilik mata


depan.

Pemeriksaan OCT (Optical Coherence Tomography) untuk membantu dalam


penegakan diagnosis glaukoma.

Saran:
-

Edukasi pasien untuk mengistirahatkan mata untuk beberapa hari.

Memakai obat secara teratur

Jangan mengucek mengucek mata


16

Jaga kebersihan mata

17