Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Tanaman karet pada mulanya berasal dari lembah Sungai Amazon. Karet liar atau
semi liar masih banyak ditemukan di bagain utara Amerika Selatan, mulai dari
Brazil, Venezuela, Kolombia, dan Peru (Ghani et al., 1989). Karet merupakan
komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi di dalam upaya peningkatan
devisa Indonesia. Ekspor Karet Indonesia selama 20 tahun terakhir terus
menunjukkan adanya peningkatan dari 1.0 juta ton pada tahun 1985 menjadi 1.3
juta ton pada tahun 1995 dan 2.0 juta ton pada tahun 2005. Pendapatan devisa dari
komoditi ini pada semester pertama tahun 2006 mencapai US$ 2.0 milyar, dan
diperkirakan nilai ekspor karet pada tahun 2006 akan mencapai US $ 4,2 milyar
(Anwar, Tanpa Tahun).
Pada tahun 1876, tanaman karet pertamakali diintroduksikan ke Asia tenggara.
Karet mulai menjadi komoditas yang dipentingkan setelah industri mobil mulai
berkembang di benua Amerika. Revolusi Industri dibidang perkaretan mulai
menggeliat sekitar awal abad 19 ketika Charles Good Year tahun 1839 dari
Amerika Serikat berhasil mengolah lateks dengan belerang. Proses menggunakan
belerang tersebut dinamakan vulkanisasi. Dunlop orang Inggris tahun 1888
berhasil menciptakan ban mobil. Dengan kemajuan dibidang industri lateks, maka
permintaan dunia akan laeks terus meningkat (Syamsulbahri, 1985).
Hal tersebut kemudian menandai pesanya penanaman karet alam secara besarbesaran, terutama pada daerah beriklim sama dengan hutan Amazon. Tahun 1900
perkebunan kare sudah melanda seluruh dunia termasuk Srilangka, India,
Malaysia, dan Indonesia (Syamsulbahri, 1985).
Konsumsi total karet dunia pada tahun 1986 adalah 13,6 juta ton. Namun
demikian produksi karet alam hanya 4,39 juta ton atau sekitar 32,3% saja. Dari
produk karet tersebut, 92 % poduksi dihasilkan dari negara-negara Malaysia,
Indoneisa, Thailand dan Srilangka. Dari areal perkaretan dunia tersebut, sebagain
besar perkebunan karet adalah diusahakan oleh perkebunan rakyat (Syamsulbahri,
1985).
Indonesia adalah negara terbesar ke 2 dalam hal penghasil karet dan memiliki
louas lahan karet terbesar di dunia (USAID, 2007). Sekitar 84% dari kebun karet
yang ada di Indonesia dimiliki oleh perkebunan rakyat. Pada tahun 2005, rata-rata

panen pohon karet di Indonesia adalah 862 kg/ha per tahun. Hal ini sangat
berbeda dengan Malaysia, Thailand, Vietnam, dan India yang telah mencapai
lebih
dari
1000
kg/ha
per
tahun
(USAID,
2007).
Di Indonesia karet merupakan komoditi yang penting. Hal ini disebabkan karena
selain potensi ekonominya, juga potensi alam dan iklim yang sangat mendukung.
Potensi ekonomi yang dimiliki Indonesia terhadap karet cukup besar dikarenakan
adanya peningkatan karet dunia yakni 4-5% pertahun. Sekalipun tampaknya
produksi karet sintetis dewasa ini mampu mendesak pasok produk karet alam.
Pada saat ini, produksi kare dunia sebesar 15 juta dengan produksi karet alam
sebesar 6 juta ton sedangkan produksi karet sintetis sebesar 9 juta ton (Anonim,
1991).
Untuk peningkatan dan pemberdayaan komoditas karet di Indonesia, perlu adanya
pemahaman menyeluruh dari sektor hulu ke sekor hilir. Pada makalah kali ini
akan dibahas secara singkat dan jelas mengenai usaha pertanian dibidang
perkebunan karet khususnya perkebunan karet di Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Peranan Karet Alam Dalam Perekonomian Nasional
Karet memiliki berbagai peranan penting bagi Indonesia, antara lain : (a)
Sumber pendapatan dan lapangan kerja penduduk; (b) Sumber devisa
negara dari ekspor non-migas; (c) Mendorong tumbuhnya agro-industri di
bidang perkebunan; dan (d) Sumber daya hayati dan pelestarian
lingkungan. Luas areal tanaman karet pada tahun 2006 sekitar 3,31 juta
hektar, dengan produksi 2,64 juta ton atau 27,3% produksi karet alam
dunia (9.2 juta ton), menempatkan Indonesia sebagai negara penghasil
karet alam terbesar kedua setelah Thailand (IRSG, 2007)
Pada tahun 2005, karet mampu menghasilkan devisa hingga US $ 2,58
milyar, naik menjadi US $ 3,77 milyar pad tahun 2006, menempatkan
karet sebagai komoditas penghasil devisa terbesar diantara komoditas
perkebunan. Ekspor Karet Indonesia selama 20 tahun terakhir terus
menunjukkan adanya peningkatan dari 1.0 juta ton pada tahun 1985
menjadi 1,3 juta ton pada tahun 1995 dan 2,29 juta ton pada tahun 2006.
Pendapatan devisa dari komoditi ini pada tahun 2005 mencapai US$ 2,58
milyar, dan meningkat tajam menjadi US $ 4,36 milyar pada tahun 2006
seiring dengan melonjaknya harga karet dari 1,2 USD/kg hingga sekitar 2
USD/kg
pada
tahun
2006
(Depperind,
2007).
Bagi perekonomian nasional, karet merupakan komoditas perkebunan

yang sangat penting. Selain sebagai sumber lapangan kerja, komoditas ini
juga memberikan kontribusi yang signifikan sebagai salah satu sumber
devisa non-migas, pemasok bahan baku karet dan berperan penting dalam
mendorong pertumbuhan sentra-sentra ekonomi baru di wilayah-wilayah
pengembangan karet. Karet bersama-sama dengan kelapa sawit merupakan
dua komoditas utama penghasil devisa terbesar dari subsektor perkebunan.
dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, karet menyumbang devisa dari 25%
hingga
40%
terhadap
total
ekspor
produk
perkebunan.
Disamping sebagai penghasil devisa ekspor, perkebunan karet sebagian
besar merupakan perkebunan rakyat dengan rata-rata luas kepemilikan
relatip kecil, tetapi merupakan sumber mata penghasilan bagi berjuta-juta
keluarga petani karet. Pada tahun 2006, luas areal perkebunan rakyat
mencapai tidak kurang dari 85%, sisanya merupakan perkebunan Negara
dan Swasta. Dari total produksi, hampir 76% nya berasal dari perkebunan
rakyat.
1. Prospek Perdagangan Karet Alam
Hasil kajian para pakar memperlihatkan bahwa prospek perdagangan karet
alam dunia sangat baik. Dalam jangka panjang, perkembangan produksi
dan konsumsi karet menurut ramalan ahli pemasaran karet dunia yang juga
Sekretaris Jenderal International Rubber Study Group, Dr. Hidde P. Smit,
mennunjukkan bahwa konsumsi karet alam akan mengalami peningkatan
yang sangat signifikan dari 8,5 juta ton di tahun 2005, naik menjadi 9,23
pada tahun 2006, dan diprediksi menjadi 11,9 juta ton pada tahun 2020
Sementara itu produksi karet alam dunia sebesar 8,5 juta ton pada tahun
2005, naik menjadi 9,18 juta ton pada tahun 2006, diprediksi menjadi 11,4
juta ton di tahun 2020. Harga karet alam di pasar dunia juga diprediksikan
tetap bertahan pada level di atas US $ 1 per kg, bahkan pada tahun 2013
diperkirakan bisa menembus US $ 2,4 per kg dan bahkan level harga
tersebut telah dicapai pada tahun 2006 ini. Pada tahun 2020 diperkirakan
harga karet alam di pasaran dunia tetap bertahan pada angka US $ 1,9 per
kg.
Timbulnya peningkatan konsumsi karet alam di negara-negara Asia
disebabkan makin meningkatnya perkembangan industri ban dan
komponen industri lainnya. Konsumsi karet alam dan karet sintetik dunia
yang pada tahun 2004 baru mencapai 20,03 juta ton akan meningkat
mencapai 28,67 juta ton pada tahun 2020, diantaranya 11,9 juta ton karet
alam. Indonesia diharapkan dapat memasok 3,5 juta ton pada tahun 2020.
ISRG berpendapat bahwa pada jangka panjang diperkirakan terdapat
kekurangan pasok yang tidak saja disebabkan oleh permintaan dunia yang
meningkat dengan cepat tetapi juga 2 diantara 3 negara penghasil karet
alam yaitu Malaysia dan Thailand yang merupakan negara dengan
ekonomi yang berkembang cepat, mungkin menjadi generasi baru dari

Newly Industrialized Countries (NICs), sehingga kedua negara akan


meninggalkan agrobisnis karet. Indonesia diharapkan dapat mengisi
kekurangan pasok untuk kebutuhan dunia.
1. Kondisi Industri Primer Karet Alam
Selama lebih dari 35 tahun (1970-2006), areal perkebunan karet di
Indonesia meningkat sekitar 4,8% per tahun, namun pertumbuhan yang
nyata terutama terjadi pada areal karet rakyat, sedangkan pada perkebunan
besar negara dan swasta sangat rendah, dibawah 1% pertahun. Dari
keseluruhan areal perkebunan rakyat tersebut, sebagian besar ( 91%)
dikembangkan secara swadaya murni, dan sisanya ( 9 %) dibangun
melalui proyek-proyek PIR, PRPTE, UPP Berbantuan, Partial, dan
Swadaya
Berbantuan.
Permasalahan utama yang dihadapi perkebunan karet nasional adalah
rendahnya produktivitas karet rakyat (600-800 kg/ha/th), antara lain
karena sebagian besar tanaman masih menggunakan bahan tanam asal biji
(seedling) tanpa pemeliharaan yang baik, dan tingginya proporsi areal
tanaman karet yang telah tua, rusak atau tidak produktif ( 13% dari total
areal). Pada saat ini sekitar 400 ribu ha areal karet berada dalam kondisi
tua dan rusak dan sekitar 2-3% dari areal tanaman menghasilkan (TM)
yang
ada
setiap
tahun
akan
memerlukan
peremajaan.
Persoalan mendasar untuk meningkatkan produktivitas karet rakyat
melalui peremajaan tanaman tua/rusak adalah masalah dana khusus untuk
peremajaan dengan suku bunga yang wajar sesuai dengan tingkat resiko
yang dihadapi. Hal ini sangat berbeda dengan negara-negara produsen
utama karet lainnya seperti Thailand, Malaysia dan India. Dana
pengembangan, promosi, dan peremajaan karet di negara-negara tersebut
umumnya disediakan oleh pemerintah yang diperoleh dari pungutan CESS
ekspor komoditas karet. Di Indonesia, pungutan CESS untuk
pengembangan komoditas perkebunan telah dihentikan sejak tahun 1970
Permasalahan utama lainnya di perkebunan karet rakyat adalah bahwa
bahan baku yang dihasilkan umumnya bermutu rendah, dan pada sebagian
lokasi harga yang diterima di tingkat petani masih relatif rendah (60-75%
dari harga FOB) karena belum efisiennya sistem pemasaran bahan olah
karet rakyat (bokar), antara lain disebabkan lokasi kebun jauh dari pabrik
pengolah karet dan letak kebun terpencar-pencar dalam skala luasan yang
relatif kecil dengan akses yang terbatas terhadap fasilitas angkutan,
sehingga
biaya
transportasi
menjadi
tinggi.
Bahan olah karet dari petani pada umumnya berupa bekuan karet yang
dibekukan dengan bahan pembeku yang direkomendasikan (asam format),
maupun yang tidak direkomendasikan (asam cuka, tawas, dsb), serta
pembekuan secara alami. Pada saat ini bahan olah karet tersebut
mendominasi pasar karet di Indonesia karena dinilai petani paling praktis

dan

menguntungkan.

Bahan olah karet berupa lateks dan koagulum lapangan, baik yang
dihasilkan oleh perkebunan rakyat maupun perkebunan besar dapat diolah
menjadi komoditas primer dalam berbagai jenis mutu. Lateks kebun dapat
diolah menjadi lateks pekat dan lateks dadih serta karet padat dalam
bentuk RSS, SIR 3L, SIR 3CV, SIR 3WF dan thin pale crepe yang
tergolong karet jenis mutu tinggi (high grades). Sementara koagulum
lapangan, yakni lateks yang membeku secara alami atau dengan koagulan
selanjutnya hanya dapat diolah menjadi SIR10, SIR 20 dan brown crepe
yang
tergolong
jenis
karet
mutu
rendah
(low
grades)
Sebagian besar produk karet Indonesia diolah menjadi karet remah (crumb
rubber) dengan kodifikasi Standard Indonesian Rubber (SIR), sedangkan
lainnya diolah dalam bentuk RSS dan lateks pekat. Kapasitas pabrik
pengolahan crumb rubber pada saat ini sesungguhnya sudah melebihi dari
kapasitas penyediaan bokar dari perkebunan rakyat, namun pada lima
tahun mendatang diperlukan investasi baik untuk merehabilitasi pabrik
yang ada maupun untuk membangun pabrik pengolahan baru untuk
menampung pertumbuhan pasokan bahan baku yang diperhitungkan akan
meningkat seiring dengan gencarnya upaya-upaya peremajaan dan
perluasan
areal
kebun
karet
yang
baru.
Prospek bisnis pengolahan crumb rubber ke depan diperkirakan tetap
menarik, karena marjin keuntungan yang diperoleh pabrik relatif pasti.
Marjin pemasaran, antara tahun 2000-2006 berkisar antara 3,7%-32,5%
dan marjin keuntungan pabrik pengolahan antara 2-4% dari harga FOB,
tergantung pada tingkat harga yang berlaku. Tingkat harga FOB itu sendiri
sangat dipengaruhi oleh harga dunia yang mencerminkan permintaan dan
penawaran karet alam, dan harga beli pabrik dipengaruhi kontrak pabrik
dengan pembeli/buyer (biasanya pabrik ban) yang harus dipenuhi. Pada
umumnya marjin yang diterima pabrik akan semakin besar jika harga
meningkat.
1. Klasifikasi Jenis Bahan Olah Karet (Bokar)
Berdasarkan standar mutu bokar yang berlaku saat ini (SNI 06-2047-2002)
sebagaimana disajikan pada Tabel 3.1, terdapat 4 jenis bahan olah karet
yakni lateks kebun, dan koagulumnya dalam bentuk sit, lump dan slab.

Lateks kebun
Lateks kebun adalah getah pohon karet yang diperoleh dari pohon
karet (Hevea brasiliensis M.), berwarna putih dan berbau segar.
Umumnya lateks kebun hasil penyadapan mempunyai kadar karet
kering (KKK) antara 20-35%, serta bersifat kurang mantap
sehingga harus segera diolah secepat mungkin. Cara penyadapan
dan penanganan lateks kebun sangat berpengaruh kepada sifat
bekuan
sekaligus
tingkat
kebersihannya.

Untuk memperoleh lateks kebun yang baik, langkah-langkah yang


harus dilakukan adalah :
a. Mengumpulkan lateks kebun yang masih segar 3-5 jam
setelah penyadapan. Sebagai wadah, sebaiknya
menggunakan sejenis mangkok, ember dan wadah lain
yang bersih dan kering untuk menampung lateks kebun
agar mutu terjaga baik.
b. Menghindarkan prakoagulasi dengan menambahkan
larutan amonia encer (10%) sebanyak 100-200 ml (1/2 1 gelas) ke dalam 10 liter (1 ember) lateks kebun
c. Koagulum (bekuan karet) yang terjadi dalam ember
harus segera dipisahkan dari lateks agar lateks kebun
tidak mengalami penggumpalan seluruhnya.
d. Lateks kebun jangan dicampur dengan benda lain seperti
kayu dan kotoran lain dan jangan diencerkan.
2. Sistem Tataniaga Bahan Olah Karet
Struktur Pasar Bahan Olah Karet
Sistem tataniaga karet rakyat memperlihatkan struktur yang sangat
kompleks dan mengarah pada bentuk pasar oligopsonistik. Pada
sentra-sentra karet rakyat pola swadaya murni, sering ditemukan
sejumlah petani karet hanya berhadapan dengan satu orang
pedagang karet. Pada kondisi demikian petani karet benar-benar
memiliki posisi sebagai price taker. Negosiasi harga tidak pernah
terjadi, karena petani tidak memiliki pilihan yang lain.
Pada kawasan yang telah relatif terbuka, umumnya pada sentra
produksi karet rakyat pengembangan dan sekitarnya, telah terjadi
pergeseran struktur dari bentuk oligopsonistik mengarah pada
monopsonistik ke struktur oligopsonistik yang mengarah pada
pasar yang lebih beraing. Sekian petani berhadapan dengan sekian
pedagang. Dengan kondisi ini, petani memiliki peluang melakukan
negosiasi harga dengan beberapa pedagang. Keputusan petani
untuk menjual hasil kebunnya akan lebih rasional dengan
mempertimbangkan harga yang akan diperoleh. Namun demikian,
pada kenyataan di lapangan, biasanya setiap petani tetap memiliki
pedagang
langganan
tempat
melakukan
transaksi.
Rasionalitas keputusan yang diambil oleh petani dalam melakukan
transaksi bokar sangat dipengaruhi juga oleh kondisi sosial
ekonomi petani. Bagi petani berlahan sempit dan memiliki
pendapatan relatif kecil, seringkali memiliki ketergantungan yang
kuat dengan pedagang. Walaupun memiliki alternatif saluran
penjualan yang lain, karena ada keterikatan secara finansial (hutang
uang) dengan pedagang, maka petani memiliki kewajiban secara
moral untuk menjual hasil kebunnya kepada pedagang yang
bersangkutan dan harga jual akan menjadi pertimbangan kedua.

Saluran dan Kelembagaan Tataniaga


Hingga saat ini produksi dan ekspor karet Indonesia didominasi
oleh jenis mutu SIR 20. Karena orientasi pemasaran karet adalah
ekspor maka sistem tataniaga bokar berfungsi sebagai penghubung
antara petani sebagai produsen bokar dengan ekportir yang pada
umumnya juga sekaligus sebagai prosesor/pengolah. Dengan
teknologi pengolahan crumb rubber, peran petani dalam sistem
tataniaga bokar hanya terbatas sebagai penyedia bahan olah yang
bentuk
dan
mutunya
masih
sangat
bervariasi.
Selanjutnya pengolahan bokar tersebut dilakukan secara terpusat di
pabrik-pabrik crumb rubber yang umumnya berlokasi jauh dari
pusat-pusat produksi karet rakyat. Setiap wilayah produksi karet
rakyat memiliki variasi dalam saluran tataniaganya, tetapi sebagai
pola umum digambarkan secara skematis seperti terlihat pada
Gambar 4.1. Di dalam pola ini terlibat petani, pedagang perantara
tingkat desa, pedagang perantara tingkat kecamatan, pedagang
perantara tingkat kabupaten/propinsi dan pabrik pengolahan. KUD,
kelompok tani, dan pasar lelang telah masuk dalam sistem
tataniaga
bokar.
Hasil pengamatan memperlihatkan bahwa sebagian besar rumah
tangga petani menjual karetnya kepada pedagang perantara, hanya
sebagian kecil saja petani yang menjual bokarnya ke pasar atau
langsung ke pabrik pengolahan. Fakta ini menunjukkan bahwa
saluran tataniaga melalui pedagang perantara masih dianggap lebih
menguntungkan dibandingkan dengan saluran lainnya.

BAB III
PENUTUP