Anda di halaman 1dari 33

SISTEM HUKUM DAN PERADILAN INTERNASIONAL

A. PENDAHULUAN
Keberadaan hukum internasional dalam tata pergaulan internasional,
sesungguhnya merupakan konsekuensi dari adanya hubungan internasional
yang telah dipraktikan oleh negara-negara selama ini. Hubungan
internasional yang merupakan hubungan antar negara, pada dasarnya
adalah hubungan hukum. Ini berarti dalam hubungan internasional
telah melahirkan hak dan kewajiban antar subyek hukum (negara) yang
saling berhubungan baik dalam bentuk hubungan bilateral, regional
maupun multilateral.
Hukum internasional mutlak diperlukan dalam rangka menjamin
kelancaran tata pergaulan internasional. Hukum internasional menjadi
pedoman dalam menciptakan suasana kerukunan dan kerjasama yang
saling menguntungkan. Hukum internasional bertujuan untuk mengatur
masalah-masalah bersama yang penting dalam hubungan antara subjeksubjek hukum internasional.
Perkembangan dunia global yang sudah melintasi batas-batas wilayah
teritorial negara lain, sangat membutuhkan aturan yang jelas dan tegas.
Aturan tersebut, bertujuan agar tercipta suasana kerukunan dan kerja sama
yang saling menguntungkan. Kerja sama dalam hubungan antar bangsa,
memerlukan aturan hukum yang bersifat internasional. Sumber hukum
internatsional berupa perjanjian internasional, kebiasaan internasional dan
sebagainya, mempunyai peranan penting dalam mengatur masalah-masalah
bersama antara subyek-subyek hukum internasional.
Istilah lain untuk hukum internasional adalah hukum bangsa-bangsa.
Munculnya sengketa-sengketa internasional yang banyak terjadi, lebih
sering disebabkan oleh ulah segelintir negara (terutama yang memiliki
kekuatan tertentu) yang mengabaikan aturan-aturan internasional yang
telah disepakati bersama. Oleh sebab itu, dihormati atau tidaknya hukum
internasional sangat tergantung dari komitmen setiap negara dalam
memandang dan menghargai bangsa atau negara-negara lain. Dan tidak
kalah pentingnya adalah bagaimana peranan Perserikatan Bangsa Bangsa
melalui Dewan Keamanan yang sesuai tugasnya adalah memelihara
perdamaian dan keamanan internasional di atas kepentingan negara-negara
tertentu. Karena sampai dengan sekarang masalah-masalah sengketa
internasional masih sulit untuk diselesaikan melalui Pengadilan
Internasional, manakala sudah melibatkan negara-negara adikuasa.

1 | Page

B. SISTEM HUKUM DAN PERADILAN INTERNASIONAL


1. Sistem Hukum Internasional
Dalam berbagai kesempatan kita sering mendengar kata sistem. Ketika
berbicara hukum, maka orang akan bertanya pentingnya sistem hukum,
demikian juga ketika orang berbicara tentang hukum internasional, orang
akan bertanya bagaimana sistem hukum internasionalnya dan sebagainya.
Kata sistem dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia mengandung arti
susunan kesatuan-kesatuan yang masing-masing tidak berdiri sendirisendiri, tetapi berfungsi membentuk kesatuan secara keseluruhan.
Pengertian sistem dalam penerapannya, tidak seluruhnya berasal dari suatu
disiplin ilmu yang mandiri, karena dapat pula hanya berasal dari
pengetahuan, seni maupun kebiasaan : seperti sistem mata pencaharian,
sistem tarian, sistem perkawinan, sistem pemerintahan, sistem hukum dan
sebagainya.
Bertolak dari pengertian sistem yang telah dikemukakan di atas, maka
sistem hukum internasional dimaksudkan adalah satu kesatuan hukum
yang berlaku untuk komunitas internasional (semua negara-negara di
dunia) yang harus dipatuhi dan diataati oleh setiap negara. Sistem hukum
internasional juga merupakan aturan-aturan yang telah diciptakan bersama
oleh negara-negara anggota yang melintasi batas-batas negara. Kepatuhan
terhadap sistem hukum internasional tersebut, adakalanya karena negara
tersebut terlibat langsung dalam proses pembuatan dan tidak sedikit juga
yang tinggal meratifikasinya.

2. Pengertian Hukum Internasional


Hugo de Groot (Grotius) dalam bukunya De Jure Belli ac Pacis (Perihal
Perang dan Damai) mengemukakan, bahwa hukum dan hubungan
internasional didasarkan pada kemauan bebas dan persetujuan beberapa
atau semua negara. Ini ditujukan demi kepentingan bersama dari mereka
yang menyatakan diri di dalamnya. Sedangkan Sam Suhaedi berpendapat
bahwa hukum internasional merupakan himpunan aturan-aturan, normanorma dan asas yang mengatur pergaulan hidup dalam masyarakat
Internasional.
Dalam pengertian umum, Hukum internasional adalah bagian hukum
yang mengatur aktivitas entitas berskala internasional. Pada awalnya,
Hukum Internasional hanya diartikan sebagai perilaku dan hubungan antar
negara namun dalam perkembangan pola hubungan internasional yang
semakin kompleks pengertian ini kemudian meluas sehingga hukum
internasional juga mengurusi struktur dan perilaku organisasi internasional
dan, pada batas tertentu, perusahaan multinasional dan individu.
2 | Page

(http://id.wikipedia.org/wiki/Kategori:Perserikatan_Bangsa-Bangsa)
Beberapa sarjana lain menyatakan pendapatnya tentang hukum
internasional adalah sebagai berikut :
a. J.G. Starke
Hukum internasional, adalah sekumpulan hukum (body of law) yang
sebagian besar terdiri dari asas-asas dan karena itu biasanya ditaati dalam
hubungan antar negara.
b. Wirjono Prodjodikoro
Hukum internasional, adalah hukum yang mengatur perhubungan hukum
antara berbagai bangsa di berbagai negara.
c. Mochtar Kusumaatmadja
Hukum internasional, adalah keseluruhan kaidah-kaidah dan asas-asas yang
mengatur hubungan atau persoalan yang melintasi batas-batas negara
antara :
negara dan negara
negara dan subjek hukum lain bukan negara atau subjek hukum bukan
negara satu sama lain.

3. Asal Mula Hukum Internasional


Bangsa Romawi sudah mengenal hukum internasional sejak tahun 89
SM. Hukum tersebut lebih dikenal dengan Ius Civile (hukum sipil) dan Ius
Gentium (hukum antar bangsa). Ius Civile merupakan hukum nasional yang
berlaku bagi warga Romawi di manapun mereka berada. Ius Gentium yang
kemudian berkembang menjadi Ius Inter Gentium ialah hukum yang
merupakan bagian dari hukum Romawi dan diterapkan bagi kaula negara
(orang asing) yang bukan orang Romawi, yaitu orang-orang jajahan atau
orang-orang asing.
Hukum ini kemudian berkembang menjadi Volkernrecht (bahasa
Jerman), Droit des Gens (bahasa Prancis) dan Law of Nations atau
International Law (Bahasa Inggis). Pengertian Volkernrecht dan Ius
Gentium sebenarnya tidak sama karena dalam hukum Romawi, istilah Ius
Gentum mempunyai pengertian berikut ini.
a. Hukum yang mengatur hubungan antara dua orang warga kota Roma dan
orang asing (orang yang bukan warga kota Roma).
b. Hukum yang diturunkan dari tata tertib alam yang mengatur masyarakat
segala bangsa, yaitu hukum alam (natuurecht). Menjadi dasar
perkembangan hukum internasional di Eropa pada abad ke-15 sampai abad
ke-19.

3 | Page

Dalam perkembangan berikutnya, pemahaman tentang hukum


internasional dapat dibedakan dalam 2 (dua) hal, yaitu:
a. Hukum perdata Internasional, yaitu hukum internasional yang mengatur
hubungan hukum antar warga negara suatu negara dan warga negara dari
negara lain (antar bangsa).
b. Hukum Publik Internasional, yaitu hukum internasional yang mengatur
negara yang satu dan negara yang lain dalam hubungan internasional
(hukum antar negara).

4. Hukum Internasional Dalam Arti Modern


Terwujudnya Hukum Internasional yang kita kenal sekarang merupakan
hasil kerja keras para pakar hukum dunia yang mengadakan konferensi di
Wina tahun 1969 atas prakarsa PBB. Hasil konferensi tersebut menyepakati
sebuah naskah hukum internasional, baik yang menyangkut lapangan
Hukum Perdata Internasional maupun Hukum Publik Internasional.

Bonus Info Kewarganegaraan


Perjanjian tidak tertulis tidak sama dengan perjanjian
internasional lisan. Perjanjian internasional lisan hanya merupakan
salah satu bagian dari perjanjian internasional tak tertulis. Dalam
hubungan antar negara satu dengan lainnya, negara-negara akan
bertindak sesuai dengan kebiasaan-kebiasaan internasional dan
sopan santun internasional. Hubungan itu dapat menimbulkan suatu
kebiasaan internasional yang lama kelamaan menjadi hukum
kebiasaan internasional.
Negara-negara yang mengadakan hubungan internasional
diwakili oleh wakil-wakil yang berkuasa penuh serta bertindak untuk
dan atas nama wewenang umum atau wewenang yang diwakili oleh
presiden, menteri luar negeri, perdana menteri, atau wewenang
khusus yang diwakili oleh Menteri-menteri yang bertindak sesuai
dengan departemennya. Sebagai wakil yang sah, apa yang dilakukan
dan diucapkan oleh mereka dalam forum resmi dapat dijadikan
ukuran untuk melihat dan mengetahui pandangan setiap negara
tersebut sehingga merupakan janji. Jika negara itu ingkar janji, maka
negara yang merasa dirugikan dapat mengklaimnya.
Walaupun perjanjian internasional tidak tertulis, namun
akibat hukum yang timbul tidak jauh berbeda dengan
perjanjian internasional tertulis. Perjanjian internasional tak
tertulis berperan sebagai pendamping perjanjian internasional dalam
menampung dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan pergaulan
internasional. Setiap pejabat tinggi suatu negara harus hati-hati
dalam bertindak mewakili negaranya karena pernyataan dan
perilakunya akan selalu dijadikan pegangan bagi negara lain.
Seandainya terjadi pergantian pemerintah baik secara konstitusional
4 | Page

maupun inkonstitusional, pemerintah yang baru harus tetap terikat


pada pernyataan (statement) dari wakil-wakil atau pejabat
pemerintah lama.

5. Asas-Asas Hukum Internasional


Dalam menjalin hubungan antar bangsa, setiap negara harus
memperhatikan asas-asas hukum internasional, yaitu:
Asas Teritorial
Asas ini didasarkan pada kekuasaan negara atas daerahnya. Menurut asas
ini, negara melaksanakan hukum bagi semua orang dan semua barang yang
ada di wilayahnya. Jadi terhadap semua barang atau orang yang berada di
luar wilayah tersebut, berlaku hukum asing (internasional) sepenuhnya.
Asas Kebangsaan
Asas ini didasarkan pada kekuasaan negara untuk warga negaranya.
Menurut asas ini, setiap negara di manapun dia berada, tetap mendapatkan
perlakuan hukum dari negaranya. Asas ini mempunyai kekuatan
exteritorial. Artinya hukum di negara tersebut tetap berlaku juga bagi
warga negaranya, walaupun berada di negara asing.
Asas Kepentingan Umum
Asas ini didasarkan pada wewenang negara untuk melindungi dan
mengatur kepentingan dalam kehidupan masyarakat. Dalam hal ini, negara
dapat menyesuaikan diri dengan semua keadaan dan peristiwa yang
bersangkut paut dengan kepentingan umum. Jadi, hukum tidak terikat pada
batas-batas wilayah suatu negara.
Apabila ketiga asas ini tidak diperhatikan, akan timbul kekacauan
hukum dalam hubungan antar bangsa. Oleh sebab itu, antara satu negara
dan negara lain perlu ada hubungan yang teratur dan tertib dalam bentuk
hukum internasional.

Bonus Info Kewarganegaraan


Dalam rangka pelaksanaan hukum internasional sebagai bagian dari
hubungan internasional, dikenal beberapa asas lain sebagai berikut :
1. PACTA SUNT SERVANDA
Setiap perjanjian yang telah dibuat harus ditaati oleh pihak-pihak
yang mengadakan.
2. EGALITY RIGHTS
Pihak yang saling mengadakan hubungan itu berkedudukan sama.
3. RECIPROSITAS
5 | Page

Tindakan suatu negara terhadap negara lain dapat dibalas setimpal,


baik tindakan yang bersifat negatif maupun positif.
4. COURTESY
Asas saling menghormati dan saling menjaga kehormatan negara.
5. RIGHT SIG STANTIBUS
Asas yang dapat digunakan terhadap perubahan yang
mendasar/fundamental dalam keadaan yang bertalian dengan
perjanjian itu.

6. Sumber Hukum Internasional


Sumber-sumber hukum internasional, adalah sumber-sumber yang
digunakan oleh Mahkamah Internasional dalam memutuskan masalahmasalah hubungan internasional. Sumber hukum internasional, menurut
Mochtar Kusumaatmadja dalam buku Hukum Internasional Humaniter,
dapat dibedakan antara sumber hukum dalam arti material dan sumber
hukum dalam arti formal.
Dalam arti material bahwa, hukum internasional tidak dapat
dipaksakan seperti hukum nasional, karena masyarakat internasional
bukanlah suatu negara dunia yang memiliki badan kekuasaan atau
pemerintahan tertentu seperti halnya sebuah negara. Masyarakat
internasional adalah masyarakat negara-negara atau bangsa-bangsa yang
anggotanya didasarkan atas kesukarelaan dan kesadaran, sedangkan
kedaulatan sebagai kekuasaan tertinggi tetap berada di negara masingmasing.
Meskipun
demikian,
dalam
kenyataannya
kaidah-kaidah
hukum
internasional juga ditaati oleh sebagian besar negara-negara anggota
masyarakat bangsa-bangsa yang berarti juga mengikat. Mengenai hal ini,
ada dua aliran yang memiliki pendapat yang berbeda. Kedua aliran itu
adalah sebagai berikut :
a. Aliran Naturalis
Aliran ini bersandar pada hak asasi atau hak-hak alamiah. Aliran ini
berpendapat bahwa kekuatan mengikat dari hukum internasional
didasarkan pada hukum alam yang berasal dari Tuhan. Menurut teori ini
dasar mengikatnya hukum internasional, karena hukum internasional
adalah hukum alam, sehingga kedudukannya dianggap lebih tinggi daripada
hukum nasional. Pencetus teori ini adalah Grotius (Hugo de Groot) yang
kemudian diikuti dan disempurnakan oleh Emmerich Vattel, ahli hukum
dan diplomat Swiss.
b. Aliran Positivisme
Aliran ini mendasarkan berlakunya hukum internasional pada persetujuan
bersama dari negara-negara ditambah dengan asas pacta sunt servanda
6 | Page

yang dianut oleh madzhab Wina dengan pellopornya Hans Kelsen.


Menurut Hans Kelsen pacta sunt servanda merupakan kaidah dasar pasal
26 Konvensi Wina tentang Hukum Perjanjian (Viena Convention of The
Law of Treaties) tahun 1969.
Dalam arti formal, merupakan sumber hukum yang digunakan oleh
Mahkamah Internasional dalam memutuskan masalah-masalah hubungan
internasional. Menurut Brierly, sumber hukum internasional dalam arti
formal merupakan sumber hukum paling utama dan memiliki otoritas
tertinggi dan otentik yang dapat dipergunakan oleh Mahkamah
Internasional di dalam memutuskan suatu sengketa internasional adalah
Pasal 38 Piagam Mahkamah Internasional Permanen tertanggal 16
Desember 1920.

a.
b.
c.
d.
e.

Sumber-sumber hukum internasional sesuai dengan yang tercantum di


dalam Piagam Mahkamah Internasional Pasal 38, adalah sebagai berikut :
Perjanjian Internasional (Traktat = Treaty),
Kebiasaan-kebiasaan internasional yang terbukti dalam praktek umum dan
diterima sebagai hukum,
Asas-asas umum hukum yang diakui oleh bangsa-bangsa beradab,
Keputusan-keputusan hakim dan ajaran-ajaran para ahli hukum
internasional dari berbagai negara sebagai alat tambahan untuk
menentukan hukum, dan
Pendapat-pendapat para ahli hukum yang terkemuka.

5. Subjek Hukum Internasional


Subjek hukum internasional adalah orang, negara, badan/organisasiorganisasi tertentu yang dapat melakukan tindakan-tindakan untuk dan atas
nama sendiri atau pihak lain yang dapat menimbulkan hak dan kewajiban
dalam bidang internasional. Pihak-pihak yang dapat disebut sebagai subjek
hukum internasional adalah Negara, Tahta Suci, Palang Merah
Internasional, Organisasi Internasional, Orang Perorangan (Individu),
Pemberontak dan pihak dalam sengketa.
N
o
1.

7 | Page

Subjek
Negara

Uraian

Keterangan

Merupakan
subjek
hukum
internasional dalam arti yang
klasik, artinya bahwa negara
semenjak
lahirnya
hukum
internasional negara sudah
diakui sebagai subjek hukum

Dalam istilah lain,


hu-kum
internasional
adalah
hukum
antar negara.

internasional.
2.

Tahta
Suci

Tahta
Suci
(Vatikan)
merupakan suatu contoh dari
subjek hukum internasional
selain
negara.
Hal
ini
merupakan
peninggalan
sejarah sejak zaman dahulu
ketika paus bukan hanya
merupakan
kepala
gereja
Roma tetapi memiliki pula
kekuasaan duniawi.

Tahta
Suci
mewakili
perwakilan
diplomatik
di
banyak
ibukota
negara.

3.

Palang
Merah
Internasi
onal

Palang Merah Internasional


berkedu-dukan di Jenewa dan
merupakan salah satu subjek
hukum internasional. Hal ini
diperkuat
dengan
adanya
perjanjian,
kemudian
oleh
beberapa
konvensi
Palang
Merah
(Konvensi
Jenewa)
tentang perlindungan korban
perang.

Saat ini Palang


Merah
Internasional
dikenal
dengan
organisasi
internasional.

4.

Organisas
i
Internasi
onal

Merupakan
subjek
hukum
yang mempu-nyai hak-hak dan
kewajiban yang dite-tapkan
dalam
konvensi-konvensi
inter-nasional
yang
merupakan
anggaran
dasarnya
atau
merupakan
subjek hukum internasional
menurut hukum interna-sional,
khususnya yang bersumber
pada
konvensi-konvensi
internasional tadi.

Organisasi
internasional
seperti
PBB,
ILO,WHO dan FAO
memiliki hak dan
kewajiban seperti
telah
ditetapkan
dalam
konvensikonvesi
internasional
sebagai
angga-ran
dasarnya.

5.

Orang
Perseoran
gan

Dalam arti yang terbatas


orang perseorangan dapat
dianggap
sebagai
subjek
hukum
internasional.
Perjanjian
Perdamaian
Versailles tahun 1919 yang
mengakhiri Perang Dunia I
antara Jerman dengan Ingris
dan Prancis, dengan masingmasing
sekutunya,
telah
menetapkan pasal-pasal yang

Dalam
perkembangan
lebih lanjut, selain
individu
para
perwakilan suatu
negara dapat juga
para turis, para
pelajar,
para
musisi
yang
sedang
muhibah
ke negara lain,

8 | Page

memung-kinkan
orang para
wakil
perorangan
mengajukan olahraga,
dan
perkara
ke
hadapan sebagainya.
Mahkamah
Arbitrasi
Internasional. Misalnya ada
penuntutan terhadap bekas
para pemimpin perang Jerman
dan Jepang, yang dituntut
untuk orang perseorangan
(individu) dalam perbuatan
yang dikualifikasikan sebagai :
kejahatan
terhadap
perdamaian,
kejaha-tan
terhadap manusia, penjahat
perang
oleh
Mahkamah
Internasional.
6.

Pemberon
tak dan
Pihak
dalam
Sengketa

Menurut
hukum
perang;
pemberontak
dapat
memperoleh kedudukan dan
hak
sebagai
pihak
yang
bersengketa dalam beberapa
hal tertentu.

Para pemberontak
di-anggap sebagai
salah satu subjek
hukum
internasional
yang
memiliki beberapa
alasan, misal-nya
merekapun
memiliki hak yang
sama untuk:

Menentukan
nasibnya sendiri ;
Hak secara bebas
memilih
sistem
eko-nomi, politik,
sosial sendiri; dan
Hak menguasai
sum-ber kekayaan
alam di wilayah
dari wilayah yang
didudukinya.

6. Hubungan Hukum Internasional dengan Hukum Nasional


Dalam
kenyataan
kehidupan
sehari-hari,
praktik-praktik
penyelenggaraan negara pada suatu negara antara hukum internasional
dengan hukum nasional tidak dapat dipisahkan. Hal ini, karena hukum
nasional menjadi dasar pembentukkan hukum internasional. Adanya
9 | Page

hubungan antara hukum internasional dengan hukum nasional ternyata


menarik para ahli hukum untuk menganalisis lebih jauh. Terdapat 2 (dua)
aliran yang mencoba memberikan gambaran bagaimana keterkaitan antara
hukum internasional dengan hukum nasional, yaitu sebagai berikut :
Aliran Monoisme
Dengan tokohnya Hanz Kelsen dan Georges Scelle. Menurut aliran ini
semua hukum merupakan satu sistem kesatuan hukum yang mengikat
individu-individu dalam suatu negara ataupun terhadap negara-negara
dalam masyarakat internasional. Menurut aliran monoisme antara hukum
internasional dan hukum nasional merupakan satu kesatuan. Hal ini
disebabkan:
a. Walaupun kedua sistem hukum itu mempunyai istilah yang berbeda, tetapi
subjek hukumnya tetap sama, yaitu individu-individu yang terdapat dalam
suatu negara.
b. Sama-sama mempunyai kekuatan hukum yang mengikat. Hukum tidak
mungkin
untuk dibantah. Hukum internasional dan hukum nasional
merupakan bagian dari satu kesatuan ilmu hukum dan karena itu kedua
perangkat hukum tersebut sama-sama mempunyai kekuatan mengikat
apakah terhadap individu-individu maupun negara.
Aliran Dualisme
Dengan tokohnya Triepel dan Anzilotti, Aliran ini beranggapan bahwa
hukum internasional dan hukum nasional merupakan dua sistem terpisah
yang berbeda satu sama lain. Menurut aliran dualisme perbedaan kedua
hukum tersebut disebabkan pada :
a.

Perbedaan Sumber Hukum


Hukum nasional bersumber pada hukum kebiasaan dan hukum tertulis
suatu negara, sedangkan hukum internasional berdasarkan pada hukum
kebiasaan dan hukum yang dilahirkan atas kehendak bersama negaranegara dalam masyarakat internasional.

b.

Perbedaan Mengenai Subjek


Subjek hukum nasional adalah individu-individu yang terdapat dalam suatu
negara, sedangkan subjek hukum hukum internasional adalah negaranegara anggota masyarakat internasional

c.

Perbedaan Mengenai Kekuatan Hukum


Hukum nasional mempunyai kekuatan mengikat yang penuh dan sempurna
jika dibandingkan dengan hukum internasional yang lebih banyak bersifat
mengatur hubungan negara-negara secara horizontal.

7. Proses Ratifikasi Hukum Internasional menjadi Hukum


Nasional
10 | P a g e

a.

Proses Ratifikasi Hukum Internasional menurut UU No. 24 tahun


2000 tentang Perjanjian Internasional.
Dalam UU No. 24 tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional, bahwa
dalam pembuatan perjanjian internasional harus didasarkan pada prinsipprinsip persamaan, saling menguntungkan dan memperhatikan
hukum nasional atau hukum internasional yang berlaku. Lebih lanjut
pada pasal 5, disebutkan bahwa pembuatan perjanjian harus didahului
dengan konsultasi dan koordinasi dengan menteri luar negeri dan posisi
pemerintah harus dituangkan dalam suatu pedoman delegasi.
Pembuatan perjanjian dapat dilakukan dengan surat kuasa penuh. Surat
kuasa diperlukan bagi seseorang yang mewakili pemerintah untuk
menerima atau menandatangani suatu naskah, sedangkan presiden dan
menteri tidak memerlukan dokumen tersebut. Surat kuasa dikeluarkan oleh
menteri luar negeri sesuai dengan praktik internasional yang telah
dikukuhkan dalam konvensi Wina tahun 1969. Di samping itu, ada pula
dokumen lain, yaitu surat kepercayaan yang dikeluarkan menteri luar
negeri untuk menghadiri, merundingkan, atau menerima hasil akhir suatu
pertemuan internasional.
Surat kuasa tidak diperlukan jika penandatanganan suatu perjanjian
internasional hanya bersifat kerjasama teknis sebagai pelaksanaan
perjanjian yang sudah berlaku. Selain itu, undang-undang tentang
perjanjian internasional pun berisi ketentuan mengenai persyaratan atau
pernyataan terhadap suatu perjanjian internasional yang dapat dilakukan
pada saat penandatanganan perjanjian, kemudian ditugaskan pada waktu
dilakukannya pengesahan. Persyaratan dan pengesahan dapat ditarik
kembali setiap saat melalui pernyataan tertulis.
Pengesahan perjanjian internasional merupakan tahap yang sangat
penting dalam proses pembuatan perjanjian internasional karena pada
tahap tersebut suatu negara menyatakan diri untuk terikat secara definitif.
Tentang pengesahan perjanjian internasional, dapat dibedakan antara
pengesahan dengan undang-undang dan pengesahan dengan keputusan
presiden.
Selanjutnya, setiap undang-undang atau keputusan presiden tentang
pengesahan perjanjian internasional ditempatkan dalam Lembaran Negara
Republik Indonesia. Pemberlakuan perjanjian internasional yang tidak
disahkan dengan undang-undang atau keputusan presiden, langsung
berlaku setelah penandatanganan atau pertukaran dokumen perjanjian atau
nota diplomatik ataupun melalui cara-cara lain sebagaimana disepakati oleh
para pihak terkait.
Adapun yang termasuk kategori perjanjian yang langsung berlaku ini
antara lain adalah perjanjian yang secara teknis mengatur kerjasama di
11 | P a g e

bidang pendidikan, sosial budaya, pariwisata, penerangan, kesehatan dan


keluarga berencana, lingkungan hidup, pertanian, kehutanan, serta
kerjasama persaudaraan antara provinsi dan kota. Selanjutnya juga
terdapat kemungkinan bagi Indonesia untuk melakukan perubahan atas
ketentuan suatu perjanjian Internasional berdasarkan kesepakatan para
pihak terkait melalui tata cara yang ditetapkan dalam perjanjian dan
disahkan dengan peraturan perundang-undangan yang setingkat.
Penyimpanan perjanjian internasional merujuk pada tanggung jawab
menteri luar negri untuk menyimpan dan memelihara naskah asli perjanjian
internasional, serta menyampaikan salinan naskah resmi dari setiap
perjanjian internasional kepada lembaga negara, lembaga pemerintah, dan
kepada sekretariat organisasi nasional. Suatu perjanjian internasional dapat
berakhir apabila:
a. Terdapat kesepakatan para pihak melalui prosedur yang ditetapkan dalam
perjanjian;
b. Tujuan perjanjian tersebut telah dicapai;
c.
d.

Terdapat perubahan dasar yang mempengaruhi pelaksanaan perjanjian;


Salah satu pihak tidak melaksanakan atau melanggar ketentuan dalam
perjanjian;

e.

Dibuat suatu perjanjian baru yang menggantikan perjanjian lama;

f.

Munculnya norma-norma baru dalam dalam hukum internasional;

g.

Hilangnya objek perjanjian

h. Terdapat hal-hal yang merugikan kepentingan nasional.


Selanjutnya, pasal 19 menegaskan pula bahwa perjanjian internasional
yang berakhir sebelum waktunya berdasarkan kesepakatan para pihak
terkait, tidak mempengaruhi penyelesaian setiap pengaturan yang menjadi
bagian perjanjian dan belum dilaksanakan secara penuh pada saat
berakhirnya perjanjian tersebut.
b.

Proses Ratifikasi Perjanjian Internasional Menurut Pasal 11 UUD


1945.

Pengertian Ratifikasi
Dalam Konvensi Wina tahun 1969 tentang Hukum (perjanjian)
internasional, disebutkan bahwa dalam pembuatan hukum (perjanjian) baik
bilateral maupun multilateral dapat dilakukan melalui tahap-tahap :
Perundingan (Negotiation), Penandatanganan (Signature), dan Pengesahan
(Ratification).

12 | P a g e

Ratifikasi merupakan suatu cara yang sudah melembaga dalam kegiatan


hukum (perjanjian) internasional. Hal ini menumbuhkan keyakinan pada
lembaga-lembaga perwakilan rakyat bahwa wakil yang menandatangani
suatu perjanjian tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan
kepentingan umum. Ratifikasi dapat dibedakan sebagai berikut :
a. Ratifikasi oleh badan eksekutif. Sistem ini biasa dilakukan oleh raja-raja
absolut dan pemerintah otoriter.
b. Ratifikasi oleh badan legislatif. Sistem ini jarang digunakan.
c. Ratifikasi campuran (DPR dan Pemerintah). Sistem ini paling banyak
digunakan karena peranan legislatif dan eksekutif sama-sama menentukan
dalam proses ratifikasi suatu perjanjian.

Proses Ratifikasi
Suatu negara mengikatkan diri pada suatu perjanjian dengan syarat apabila
telah disahkan oleh badan yang berwenang di negaranya. Penandatanganan
atas perjanjian hanya bersifat sementara dan masih harus dikuatkan
dengan pengesahan atau penguatan. Persetujuan untuk meratifikasi
(mengikatkan diri) tersebut, dapat diberikan dengan berbagai cara,
tergantung pada persetujuan mereka. Misalnya, dengan penandatanganan,
ratifikasi, pernyataan turut serta (accession), ataupun pernyataan menerima
(acceptance) dan dapat juga dengan cara pertukaran naskah yang sudah
ditandatangani.
Berikut ini ada beberapa contoh proses ratifikasi dari hukum (perjanjian)
internasional menjadi hukum nasional.
a. Persetujuan Indonesia Belanda mengenai penyerahan Irian Barat (Papua)
yang ditandatangani di New York (15 Januari 1962), disebut Agreement.
Akan tetapi, karena pentingnya materi yang diatur di dalam agreement
tersebut maka dianggap sama dengan treaty. Sebagai konsekuensinya,
presiden memerlukan persetujuan DPR dalam bentuk pernyataan
pendapat.
b.

Perjanjian antara Indonesia Australia mengenai garis batas wilayah


antara Indonesia dengan Papua New Guinea yang ditandatangani di Jakarta,
12 Februari 1973 dalam bentuk agreement. Namun, karerna pentingnya
materi yang diatur dalam agreement tersebut, maka pengesahannya
memerlukan persetujuan DPR dan dituangkan ke dalam bentuk Undangundang, yaitu UU No. 6 Tahun 1973.

c.

Persetujuan garis batas landas kontinen antara Indonesia dan Singapura


tentang selat Singapura (25 Mei 1973). Sebenarnya materi persetujuan ini
cukup penting, namun dalam pengesahannya tidak meminta persetujuan
DPR melainkan dituangkan dalam bentuk Keputusan Presiden.

13 | P a g e

Proses Ratifikasi Menurut UUD 1945


Pasal 11 UUD 1945 menyatakan bahwa Presiden dengan persetujuan
Dewan Perwakilan Rakyat menyatakan perang, membuat perdamaian, dan
perjanjian dengan negara lain. Untuk menjamin kelancaran dalam
pelaksanaan kerjasama antara Eksekutif (Presiden) dengan Legislatif
(Dewan Perwakilan Rakyat), harus memperhatikan hal-hal berikut.
1) Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat menyatakan
perang, membuat perdamaian, dan perjanjian dengan negara lain.
2) Presiden dalam membuat perjanjian internasional lainnya yang dapat
menimbulkan akibat luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait
dengan beban keuangan negara, dan/atau mengharuskan perubahan atau
pembentukkan undang-undang harus dengan persetujuan Dewan
Perwakilan Rakyat.
3)

Ketentuan lebih lanjut tentang perjanjian internasional diatur dengan


undang-undang.
Berdasarkan hal tersebut, hanya perjanjian-perjanjian yang penting
(treaty) yang disampaikan kepada DPR, sedangkan perjanjian lain
(agreement) akan disampaikan kepada DPR hanya untuk diketahui. Pasal 11
UUD 1945 tidak menentukan bentuk yuridis dari persetujuan DPR. Oleh
karena itu, tidak ada keharusan bagi DPR untuk memberikan
persetujuannya dalam bentuk undang-undang.

Sesuai dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut, pemerintah dapat


berpendapat bahwa perjanjian yang harus disampaikan kepada DPR untuk
mendapat persetujuan sebelum disahkan oleh presiden ialah perjanjianperjanjian yang lazimnya berbentuk treaty dan mengandung materi sebagai
berikut.
1) Soal-soal politik atau soal-soal yang dapat mempengaruhi haluan politik
negara, seperti perjanjian-perjanjian persahabatan, perjanjian-perjanjian
perubahan wilayah, atau penetapan tapal batas.
2) Ikatan-ikatan yang sedemikian rupa sifatnya dapat mempengaruhi haluan
politik negara, perjanjian kerjasma ekonomi, atau pinjaman uang.
3) Soal-soal yang menurut UUD atau menurut sistem perundangan harus
diatur dengan undang-undang, seperti soal-soal kewarganegaraan dan soalsoal kehakiman.

Bonus Info Kewarganegaraan


Praktik ratifikasi di Indonesia didasarkan pada landasan juridis
konstitusional UUD 1945 Pasal 11 ayat (1), yang berbunyi Presiden
dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat menyatakan perang,
14 | P a g e

membuat perdamaian, dan membuat perjanjian dengan negara lain.


Mengenai kata perjanjian tersebut, masih bersifat umum dan di
dalam Penjelasan UUD 1945 juga tidak ditemukan kriterianya (hanya
disebutkan kedudukan presiden sebagai kepala negara). Untuk itu,
pada tanggal 22 Agustus 1960, Presiden Soekarno mengirim Surat
Nomor 2826 HK/60, perihal pembuatan perjanjian dengan negara
lain kepada DPR. Inti surat tersebut adalah bahwa surat perjanjian
akan meminta persetujuan DPR, jika hal itu bersifat penting. Akan
tetapi, jika perjanjian mengandung materi lain, cukup diberitahukan
kepada DPR saja.
Praktik-praktik demikian telah lazim dilaksanakan di Indonesia
dan disebut dengan sistem campuran. Sistem ini biasanya dibuat
untuk perjanjian, seperti treaties, agreement tertentu atau protocol
(protokol). Dalam bentuk protokol yang diratifikasi DPR (16 Juli
2004), misalnya Protokol Cartagena tentang Keamanan Hayati (
Protocol on Biosefety to the Convention on Biological Diversity)
merupakan bentuk kesepakatan antara berbagai pihak yang
mengatur tata cara gerakan lintas batas suatu organisme hidup yang
dihasilkan oleh bioteknologi modern dari satu negara ke negara lain
oleh seseorang atau badan.

8. Peradilan Internasional
Peradilan Internanasional, dilaksanakan oleh Mahkamah Internasional yang
merupakan salah satu organ perlengkapan PBB yang berkedudukan di Den
Haag (Belanda). Para anggotanya terdiri terdiri atas ahli hukum terkemuka,
yakni 15 orang hakim yang dipilih dari 15 negara berdasarkan
kecakapannya dalam hukum. Masa jabatan mereka 9 (sembilan) tahun,
sedangkan tugasnya antara lain selain memberi nasihat tentang persoalan
hukum kepada Majelis Umum dan Dewan Keamanan, juga memeriksa
perselisihan atau sengketa antara negara-negara anggota PBB yang
diserahkan kepada Mahkamah Internasional.
Mahkamah Internasional dalam mengadili suatu perkara, berpedoman pada
perjanjian-perjanjian internasional (traktat-traktat dan kebiasaan-kebiasaan
internasional) sebagai sumber-sumber hukum. Keputusan Mahkamah
Internasional, merupakan keputusan terakhir walaupun dapat diminta
banding. Di samping pengadilan Mahkamah Internasional, terdapat juga
pengadilan arbitrasi internasional. Arbitrasi internasional hanya untuk
perselisihan hukum, dan keputusan para arbitet tidak perlu berdasarkan
peraturan hukum.

15 | P a g e

Dalam hukum internasional dikenal juga istilah Adjudication, yaitu suatu


teknik hukum untuk menyelesaikan persengkataan internasional dengan
menyerahkan putusan kepada lembaga peradilan. Adjudikasi berbeda dari
arbitrasi, karena adjudikasi mencakup proses kelembagaan yang dilakukan
oleh lembaga peradilan tetap, sementara arbitrasi dilakukan melalui
prosedur ad hoc. Lembaga peradilan internasional pertama yang berkaitan
dengan adjudikasi adalah permanen Court of International Justice (PCJI)
yang berfungsi sebagai bagian dari sistem LBB mulai tahun 1920 hingga
1946. PCJI dilanjutkan dengan kehadiran International Court of Justice
(ICJ), suatu organ pokok PBB.

Bonus Info Kewarganegaraan

Pengadilan Internasional
untuk Bekas Yugoslavia
Pengadilan Internasional untuk Bekas Yugoslavia (bahasa Inggris:
International Criminal Tribunal for the former Yugoslavia (ICTY)) adalah
sebuah badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang didirikan untuk
mengadili para penjahat perang di Yugoslavia. Pengadilan atau tribunal ini
berfungsi sebagai sebuah pengadilan ad-hoc yang merdeka dan terletak di
Den Haag, Belanda.
Badan ini didirikan oleh Resolusi 827 dari Dewan Keamanan PBB, yang
diluncurkan pada tanggal 25 Mei 1993. Badan ini memiliki yurisdiksi
mengenai beberapa bentuk kejahatan yang dilakukan di wilayah mantan
negara Yugoslavia semenjak 1991: pelanggaran berat Konvensi Jenewa
1949, pelanggaran undang-undang perang, genosida, dan kejahatan
terhadap kemanusiaan. Badan ini hanya bisa mengadili orang secara
pribadi dan bukan organisasi atau pemerintahan. Hukuman maksimum
adalah penjara seumur hidup. Beberapa negara telah menanda-tangani
perjanjian dengan PBB mengenai pelaksanaan hukuman ini. Vonis terakhir
dijatuhkan pada 15 Maret 2004. Badan ini memiliki tujuan untuk
mengakhiri semua sidang pada akhir 2008 dan semua kasus banding pada
2010.
Sumber
http://id.wikipedia.org/wiki/Pengadilan_Internasional_untuk_Bekas_Yugoslavia

16 | P a g e

C.

PENYEBAB TIMBULNYA SENGKETA INTERNASIONAL


DAN
CARA
PENYELESAIAN
OLEH
MAHKAMAH
INTERNASIONAL

1. Sengketa Internasional dan Faktor Penyebab.


Sengketa internasional adalah sengketa atau perselisihan yang terjadi
antar negara baik yang berupa masalah wilayah, warganegara, hak asasi
manusia, maupun masalah yang bersifat pelik, yaitu masalah terorisme.
Dalam mengatasi perselisihan atau sengketa antar bangsa, keberadaan
hukum internasional dapat berperan untuk mengatur batas negara,
mengatur hubungan diplomasi, membuat, melaksanakan dan menghapus
traktat. Selain itu mengatur masalah kepentingan bersama dalam bidang
ekonomi, sosial, budaya, hukum dan hankam.
Selain hukum internasional peran hukum damai pun tidak dapat
diabaikan. Hukum damai mengatur cara memecahkan perselisihan dengan
jalan damai, seperti perundingan diplomatik dan mediasi dengan meminta
pihak ketiga menjadi perantara atau penengah dalam menyelesaikan
sengketa internasional yang terjadi. Faktor-faktor penyebab timbulnya
sengketa internasional sangat kompleks. Namun demikian, dapat
disebutkan antara lain :
N
o
1.

Faktor
Penyebab
Segi Politis
(Adanya
Pakta
Pertahanan
atau Pakta
Perdamaian)

17 | P a g e

Uraian

Keterangan

Pasca perang dunia kedua


(1945) muncul dua blok
kekuatan besar, barat (liberal
membentuk
pakta
pertahanan NATO) di bawah
pimpinan Amerika dan timur
(komunis membentuk pakta
pertahanan
Warsawa)
dipimpin Uni Soviet. Kedua
blok tersebut, saling berebut
pengaruh dibidang idielogi
dan ekonomi serta saling
berlomba
memperkuat
senjata. Akibatnya sering
terjadi
konflik
(sengketa)
diberbagai
negara
yang
menjadi korban

Krisis Kuba dan


krisis semenanjung
Indocina
yang
berakibat
Korea
terbagi
menjadi
Korea
Utara
(komunis)
dan
Korea
Selatan
(liberal), Kamboja,
Vietnam,
dan
sebagainya.

2.

3.

4.

Hak
Atas
Suatu
Wilayah
Teritorial

Wilayah teritorial menjadi


Masalah
sangat kompleks, manakala kepulauan
wilayah tersebut
menjadi Sipadan - Ligitan
sengketa saling mengklaim an-tara pemerintah
antar negara yang berbeda
Indo-nesia dengan
Malaysia.
Yang
akhirnya
berdasarkan penetapan
Mahkamah
Interna-sional
kedua
pulau
tersebut
menjadi
milik Malaysia.

Konflik Palestina
Israel
yang
merupakan konflik
klasik
antara
bangsa Arab dan
bangsa Yahudi.
Pengembang Negara-negara selain yang Korea Utara dan
memiliki hak veto di PBB dan Iran yang sampai
an Senjata
pemenang Perang Dunia II, hari
ini
masih
Nuklir atau
sulit
untuk
mendapat dicurigai Ame-rika
Senjata
kepercayaan
dunia dan
sekutunya,
Biologi
internasional
dalam karena
mengembangkan
berbagai kepemilikan
senjata
yang
berbasis teknologi senjata
teknologi nuklir dan biologi. nuklir.
Mereka akan selalu dicurigai
Amerika
dan
dan
dianggap
sebagai sekutu-nya
destabilitas untuk kawasan
menuduh
Irak
sekitarnya.
mengembangkan
sen-jata pemusnah
masal.
Permasalaha Kasus Amerika Afganistan,
n Terorisme kasus ini diawali peristiwa 11
November
2001
atau
peristiwa serangan teroris
terhadap
gedung
World
Trade Center dan gedung
Pentagon
di
Amerika.
Amerika menduga serangan
tersebut
dilakukan
oleh
kelompok Islam Al Qaeda

18 | P a g e

Dampak peristiwa
ini
adalah
serangan/invasi
Amerika
dan
sekutunya
terhadap
negara
Afganis-tan,
Irak
dan
Somalia
(negara-negara
yang
di-anggap

(Afganistan)
pimpinan sarang teroris).
Osama bin Laden.

2.

5.

Ketidakpuas
an Terhadap
Rezim Yang
Berkuasa.

Pemerintah
dalam

melaksanakan
kekuasaannya, dirasakan kurang
adil
oleh
sebagian
masyarakat
atau
daerah
sehingga menuntut adanya
otonomi lebih luas atau

separatis (pemisahan untuk


merdeka).

Kasus kelompok
mi-noritas muslim
Moro di Filipina
yang
me-nuntut
pemerintahan
otonomi.
Kasus
Gerakan
Aceh
Merdeka
(GAM)
di
Indonesia
yang
me-nuntut
kemerdekaan.

6.

Adanya
Hegemoni
(pengaruh
kekuatan)
Amerika.

Pasca
perang
dingin,

kekuatan dunia telah menjadi


monopolar (satu kekuatan)
yaitu Amerika dan sekutunya.
Hal ini berakibat dominasi
Amerika di berbagai wilayah
negara sering melakukan
tindakan unilateral (sepihak)

yang
sering
melanggar
kaidah-kaidah
hukum
internasional.

Penyerarangan
terhadap
negara
Afghanistan, Irak,
dan Somalia yang
tanpa minta restu
Dewan Keamanan
PBB.
Amerika hampir
sela-lu
menutup
mata
ter-hadap
apa
yang
dilakukan Israel di
kawa-san
Timur
Tengah
dalam
konflik
dengan
Palestina.

Peran Mahkamah Internasional dalam Menyelesaikan


Sengketa Internasional
Mahkamah internasional adalah badan PBB yang berkedudukan di Den
Haag (Belanda) Mahkamah dapat bersidang di tempat lain kalau dianggap
perlu. Masa bersidang diadakan setiap tahun kecuali waktu-waktu libur.
Sidang-sidang lengkap pada prinsipnya dihadiri oleh 15 anggota, tetapi
quorum dengan 9 anggota sudah cukup untuk mengadili suatu perkara.
Biasanya mahkamah bersidang dengan 11 anggota tidak termasuk hakimhakim ad hoc.
Mahkamah memilih ketua dan wakil ketua untuk masa jabatan tiga tahun
dan dapat dipilih kembali. Mahkamah juga mengangkat panitera dan
19 | P a g e

pegawai-pegawai lain yang dianggap perlu. Adapun bahasa-bahsa resmi


yang digunakan menurut pasal 39 Statuta, harus Prancis dan Inggris.
Namun, atas permintaan salah satu dari pihak yang bersengketa,
mahkamah dapat mengizinkan penggunaan bahasa lain.
Wewenang Mahkamah Internasional
Wewenang mahkamah diatur oleh Bab II statuta yang khusus mengenai
wewenang mahkamah dengan ruang lingkup masalah-masalah mengenai
sengketa. Untuk mempelajari wewenang ini harus dibedakan antara
wewenang ratione personae, yaitu siapa-siapa saja yang dapat mengajukan
perkara ke mahkamah dan wewenang ratione materiae, yaitu mengenai
jenis sengketa-sengketa yang dapat diajukan.
N
o
1.

Wewena
ng
Ratione
Persona
e

2.

Ratione
Materia

20 | P a g e

Uraian

Keterangan

Yaitu
akses
ke
Mahkamah
Internasional yang hanya
terbuka untuk negara,
individu dan organisasiorganisasi internasi-onal
tidak
dapat
menjadi
pihak
dari
suatu
sengketa
di
depan
mahkamah.
Pada
prinsipnya, mahkamah
hanya
terbuka
bagi
negara-negara anggota
dari statuta. Negaranegara ini teru-tama
semua
anggota
PBB
(189 negara). Namun
selain
anggota
PBB,
negara yang bukan anggota PBB dapat menjadi
pihak
pada
statuta
mahkamah
dengan
syarat-syarat yang akan
diten-tukan
oleh
Majelis Umum atas
rekomendasi
Dewan
Keamanan.

Keputusan
mahkamah
adalah keputusan organ
hukum tertinggi di dunia.
Penolakan suatu negara
terhadap
keputusan
lembaga tersebut, akan
dapat merusak citranya
dalam pergaulan antar
bangsa
apalagi
jika
sebelumnya jika negaranegara tersebut telah
wewenang
wajib
mahkamah. Oleh karena
itu, dengan menga-dakan
pengecualian
terhadap
ketentuan tersebut, juga
diberi-kan kemungkinan
kepada
negara-negara
lain yang bukan pihak
pada statuta untuk dapat
mengajukan
suatu
perkara ke mahkamah
(Pasal 35 ayat 2 statuta).
Dalam hal ini, dewan
keamanan
dapat
menentukan
syaratsyaratnya.

Menurut pasal 36 ayat 1 Wewenang


mahkamah
wewenang
Mahkamah pada prinsipnya bersifat

Inter-nasional meliputi
semua perkara yang
diajukan
pihak-pihak
yang
bersengketa
kepadanya,
teruta-ma
yang terdapat dalam
piagam PBB atau dalam
perjanjian-perjanjian
dan
konvesi-konvensi
yang berlaku. Walaupun
Pasal 36 ayat 1 ini tidak
tidak
mengadakan
pembedaan
antara
sengketa hukum dan
politik
yang
boleh
dibawa ke mahka-mah,
dalam
praktiknya
mahka-mah
selalu
menolak
memeriksa
perkara-perkara
yang
tidak ber-sifat hukum.

fakultatif. Ini berari jika


terjadi suatu sengketa
antar
dua
negara,
mahkamah baru dengan
persetujuan
bersama
dapat membawa perkara
mereka ke mahkamah.
Akan
tetapi
adanya
persetujuan antara pihakpihak yang bersengketa,
wewenang
mahkamah
tidak
akan
berlaku
terhadap
sengketa
tersebut.

Selain kedua wewenang tersebut, Mahkamah Internasional memiliki


wewenang wajib (Compulsory Jurisdiction). Wewenang wajib dari
mahkamah hanya dapat terjadi jika negara-negara sebelumnya dalam suatu
persetujuan menerima wewenang tersebut.
1) Wewenang Wajib Berdasarkan Ketentuan Konvensional
Seperti juga halnya dengan arbitrasi, dalam praktiknya wewenang wajib
ini dapat diterima dalam bentuk klausula khusus atau dalam bentuk
perjanjian-perjanjian umum. Klausula khusus ini terdapat dalam suatu
perjanjian sebagai tambahan dari perjanjian itu sendiri. Klausula bertujuan
menyelesaikan sengketa-sengketa yang mungkin lahir di masa yang akan
datang mengenai pelaksanaan dan interpretasi perjanjian tersebut di depan
mahkamah.
Klausula-klausula
khusus
dijumpai
dalam
perjanjian-perjanjian
perdamaian tahun 1919, perjanjian-perjanjian wilayah mandat, dan
perjanjian-perjanjian mengenai minoritas. Setelah perang dunia II, klausulaklausula yang demikian juga terdapat dalam piagam-piagam konstitutif
organisasi-organisasi internasional. Klausula-klausula tersebut terdapat
dalam konvensi-konvensi kodifikasi yang baru, misalnya konvensi-konvensi
mengenai hubungan diplomatik tahun 1961 dan mengenai hukum perjanjian
1969.
21 | P a g e

Di samping itu, ada pula perjanjian-perjanjian umum bilateral dan


multilateral, yaitu perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh negara-negara
yang khusus bertujuan menyelesaikan secara damai sengketa-sengketa
hukum mereka di masa datang di muka mahkamah. Perlu diingat bahwa
keharusan untuk menerima wewenang wajib mahkamah hanya terbatas
pada sengketa-sengketa hukum.
2) Klausula Opsional
Pasal 36 ayat 2 statuta mengatakan bahwa negara-negara pihak statuta,
dapat setiap saat menyatakan menerima wewenang wajib mahkamah dan
tanpa persetujuan khusus dalam hubungannya dengan negara lain
menerima kewajiban yang sama dalam semua sengketa hukum megenai:
a) penafsiran suatu perjanjian
b) setiap persoalan hukum internasional
c) adanya suatu fakta yang bila terbukti akan merupakan pelanggaran
terhadap kewajiban internasional;
d) jenis atau besarnya ganti rugi yang harus dilaksanakan karena pelanggaran
dari suatu kewajiban internasional.
Fungsi Konsultatif Mahkamah Internasional
Mahkamah juga mempunyai fungsi konsultatif, yaitu memberikan
pendapat-pendapat yang tidak mengikat atau apa yang disebut advisory
opinion. Hal ini ditulis dalam pasal 69 ayat 1 Piagam Statuta dan aturan
prosedur, mahkamahlah yang menetapkan syarat-syarat pelaksanaan pasal
tersebut yang terdapat pada Bab IV Statuta.
1) Natur Yuridik Pendapat Hukum (Advisory Opinion)
Terdapat perbedaan dalam penyelesaian sengketanya, keputusankeputusan mahkamah merupakan keputusan-keputusan hukum yang
mengikat pihak-pihak yang bersengketa, sedangkan pendapat-pendapat
yang dikeluarkan mahkamah bukan merupakan keputusan hukum dan tidak
mempunyai kekuatan mengikat. Apalagi pelaksanaan pendapat-pendapat
tersebut sama sekali tidak bisa dipaksakan. Jadi yang dikeluarkan
mahkamah hanyalah suatu pendapat dan bukan merupakan suatu
keputusan. Pendapat ini bertujuan memberikan penjelasan-penjelasan
kepada badan-badan yang mengajukan pertanyaan kepada mahkamah atas
permasalahan hukum.
Sebagai contoh, konvensi 1946 mengenai hak-hak istimewa, dan
kekebalan PBB, menyebutkan bahwa kalau terjadi sengketa antara PBB dan
negara-negara anggota mengenai pelaksanaan dan intrepretasi konvensi,
sengketa dapat diajukan ke mahkamah untuk meminta pendapatnya. Selain
itu, pihak-pihak yang bersengketa berjanji untuk bertindak sesuai dengan
pendapat mahkamah tersebut. Mekanisme pendapat yang menjadi wajib ini
22 | P a g e

merupakan jalan keluar bagi organisasi internasional yang diperbolehkan


mengajukan sengketa ke mahkamah dengan keputusan yang mengikat.
Dengan demikian, pendapat-pendapat mahkamah tidak mempunyai
kekuatan hukum dan jika pihak-pihak yang bersengketa menerimanya,
semata-mata disebabkan kekuatan moral pendapat-pendapat itu sendiri.
Pada umumnya, organ-organ yang meminta pendapat dan negara-negara
yang bersangkutan menerima pendapat-pendapat mahkamah dan jarang
sekali pendapat mahkamah itu dilaksanakan.
2) Permintaan Pendapat Mahkamah Internasional
Pasal 96 dan pasal 65 statuta menyatakan bahwa mahkamah dapat
memberikan pendapat mengenai semua persoalan hukum. Berbeda dengan
mahkamah yang dulu, mahkamah yang sekarang
dapat diminta
pendapatnya untuk semua persoalan hukum, baik yang bersifat konkrit
maupun yang abstrak, sedangkan mahkamah yang dulu hanya dapat
ditanya tentang sengketa-sengketa hukum yang konkrit.
a) Badan yang dapat meminta pendapat mahkamah
Kebalikan dari prosedur wajib, prosedur konsultatif hanya terbuka bagi
organisasi-organisasi internasional dan bukan bagi negara-negara. Menurut
pasal 96 ayat 1, Majelis Umum dan Dewan Keamanan PBB dapat minta
advisori opinion mengenai masalah hukum ke mahkamah. Selanjutnya,
menurut ayat 2 pasal tersebut, hak untuk meminta pendapat mahkamah ini
juga dapat diberikan kepada organ-organ lain PBB dan badan-badan khusus
dengan syarat bahwa semua harus mendapat otoritas terlebih dahulu dari
Majelis Umum.
b) Pemberian pendapat oleh mahkamah
Secara teoritis, mahkamah tidak diwajibkan untuk menjawab. Namun,
dalam praktiknya, mahkamah tidak pernah lalai dalam melakukan tugasnya,
bahkan mahkamah harus berpegang teguh pada pendapat mahkamah
bahwa sebagai organ hukum PBB, kewajiban memberikan pendapatpendapat kalau diminta, untuk membantu lancarnya tugas PBB.
Sebaliknya, mahkamah dapat menolak permintaan pendapat kalau
dianggap terdapat ketidak normalan dalam permintaan tersebut. Selain itu,
mahkamah memeriksa apakah pertanyaan yang diajukan suatu organisasi
internasional betul-betul berada di bawah wewenang organisasi tersebut,
serta apakah organisasi-organisasi mempunyai wewenang khusus. Juga
dilihat dari prakteknya mahkamah menolak memberikan pendapat terhadap
soal-soal politik atau soal-soal yang berada di bawah wewenang nasional
suatu negara.
Mengenai kegiatan mahkamah dari tahun 1922-1940, mahkamah tetap
internasional telah mengeluarkan 31 keputusan, 27 advisory opinion, dan 5
23 | P a g e

ordonasi. Oleh karena itu, kegiatan-kegiatan mahkamah tetap tidak


mengecewakan, sedangkan tentang mahkamah internasional yang sekarang
dari tahun 1946-1993 telah memutuskan 44 perkara dan telah memberikan
21 pendapat (advisory opinion). Mahkamah Internasional dewasa ini
bukanlah merupakan satu-satunya peradilan tetap, tetapi terdapat pula
mahkamah-mahkamah lain yang mempunyai wewenang yang terbatas.

Bonus Info Kewarganegaraan


Berikut beberapa istilah penting yang berhubungan dengan
upaya-upaya penyelesaian Internasional.
1. Advisory Opinion
Suatu opini hukum yang dibuat oleh pengadilan dalam melarasi
permasalahan yang diajukan oleh lembaga berwenang. Prosedur
opini petunjuk (Advisory Opinion) berbeda dari proses peradilan
yang penuh perdebatan karena di dalam pembentukan opini
petunjuk tidak ada satu pihak pun yang dianggap sebagai
penggugat atau tergugat.
2. Compromis
Suatu kesepakatan awal di anatara pihak yang bersengketa yang
menetapkan ketentuan ihwal persengketaan yang akan
diselesaikan.
Compromis
menetapkan
batasan
jurisdiksi
mengenai peradilan arbitrase melalui :
a) Penetapan ihwal persengketaan,
b) Menetapkan prinsip untuk memandu peradilan, dan
c)
Membuat aturan prosedur yang harus diikuti dalam
menentukan kasus.
Suatu putusan dapat bersifat nihil bila peradilan melampaui
otoritasnya seperti yang ditentukan oleh pihak yang bersangkutan
dalam compromis.
4. Ex Aequo Et Bono
asas untuk menetapkan keputusan oleh pengadilan internasional
atas dasar keadilan dan keterbukaan. Konsep ini dicantumkan
dalam Pasal 38 Statuta Mahkama Internasional yang dapat
diterapkan sebagai dasar untuk membuat keputusan hanya jika di
sepakati oleh pihak yang bersengketa.

3.

Prosedur Penyelesaian Sengketa Internasional Melalui


Mahkamah Internasional
Ketentuan-ketentuan
prosedural
dalam
penyelesaian
sengketa
internasional berada di luar kekuasaan negara-negara yang bersengketa.
Ketentuan-ketentuan tersebut sudah ada sebelum lahirnya sengketasengketa dan hal ini terdapat dalam Bab III statuta. Selanjutnya, pasal 30
24 | P a g e

statuta memberikan wewenang kepada mahkamah untuk membuat aturanaturan tata tertib guna melengkapi Bab III tersebut. Jadi, jika statuta
merupakan suatu konvensi, aturan prosedural tadi merupakan satu
perbuatan unilateral mahkamah yang
mengikat negara-negara yang
bersengketa. Di sini teknik internasional identik dengan teknik intern suatu
negara.
Mengenai isi ketentuan-ketentuan prosedural dicatat bahwa proses di
depan mahkamah mempunyai banyak kesamaan dengan yuridiksi intern
suatu negara, yaitu :
a. Prosedur tertulis dan perdebatan lisan diatur sedemikian rupa untuk
menjamin setiap pihak dalam dalam mengemukakan pendapatnya;
b. Sidang-sidang mahkamah terbuka untuk umum, sedang sidang-sidang
arbitrasi tertutup. Tentu saja rapat hakim-hakim mahkamah diadakan dalam
sidang tertutup.
Selanjutnya, sesuai pasal 26 statuta, mahkamah dari waktu kewaktu
dapat membentuk satu atau beberapa kamar yang terdiri atas tiga hakim
atau lebih untuk
memeriksa kategori tertentu kasus-kasus seperti
perburuhan atau masalah-masalah yang berkaitan dengan transit dan
komunikasi. Kemungkinan ini telah digunakan beberapakali oleh
mahkamah. Sengketa internasional dapat diselesaikan oleh Mahkamah
Internasional melalui prosedur berikut :
Sanksi dapat dijatuhkan bila terbukti bahwa suatu pemerintahan atau
individu yang bersangkutan telah melakukan pelanggaran terhadap traktat
atau konvensi-konvensi internasional berkaitan dengan pelanggaran HAM
atau kejahatan humaniter. Dalam hal ini, sesungguhnya pemerintah/individu
mempunyai wewenang untuk mencegah terjadinya pelanggaran tersebut,
tetapi tidak dilakukan dan tidak melakukan apa-apa untuk mencegah
terjdinya perbuatan tersebut.
Berikut ini terdapat beberapa hal yang berkaitan dengan prosedur
penyelesaian sengketa internasional melalui Mahkamah Internasional.
a. Wewenang Mahkamah
Mahkamah dapat mengambil tindakan sementara dalam bentuk
ordonasi. Tindakan sementara ialah tindakan yang diambil mahkamah
untuk melindungi hak-hak dan kepentingan pihak-pihak yang bersengketa
sambil menunggu keputusan dasar atau penyelesaian lainnya yang akan
ditentukan mahkamah secra defenitif.
Dalam kasus okupasi Kedutaan Besar Amerika Serikat oleh
kelompokmilitan di Teheran tanggal 4 Nopember 1979, mahkamah
menetapkan tindakan-tindakan sementara agar menyerahkan kembali
kedutaan besar tersebut dan pembebasan sandera. Demikian juga dalam
sengketa antara Amerika Serikat dan Nikaragua, mahkamah pada 10 Mei
25 | P a g e

1984 menetapkan tindakan-tindakan sementara agar hak Nikaragua atas


kedaulatan dan kemerdekaan politiknya tidakdiancam oleh kegiatankegiatan militer Amerika Serikat. Selanjutnya, selama berlangsungnya
proses, mahkamah dapat membuat angket, melakukan pemeriksaanpemeriksaan oleh para ahli, berkunjung ke tempat sumber sengketa untuk
keperluan pengumpulan bukti.
b. Penolakan Hadir di Mahkamah
Sehubungan dengan ketidakhadiran salah satu pihak yang bersengketa
di mahkamah, pasal 53 statuta menyatakan bahwa sikap salah satu pihak
tidak muncul di mahkamah atau tidak mempertahankan perkaranya, pihak
lain dapat meminta mahkamah mengambil keputusan untuk mendukung
tuntutannya. Masalah ketidakhadiran salah satu pihak dalam perkara di
mahkamah pernah terjadi pada waktu mahkamah tetap dan dalam sistem
mahkamah sekarang. Sebagai contoh dapat diambil ketidakhadiran Albania
dalam peristiwa Selat Corfu (keputusan mahkamah 15 Desember 1949),
ketidak hadiran Islandia dalam peristiwa wewenang dibidang penangkapan
ikan (keputusan 25 Juli 1974), Prancis 20 Desember 1974 dalam peristiwa
uji coba nuklir, Turki dalam peristiwa landas kontinen laut Egie (19
Desember 1978), Iran dalam peristiwa personel diplomatik, dan konsulat
Asdi Teheran tanggal 21 Mei 1980, serta tanggal 21 Mei 1980, serta tanggal
27 Juni1986 dalam aktivitas militer kontra- Nikaragua.
Negara bersengketa yang tidak hadir di mahkamah tidak menghalangi
organ tersebut untuk mengambil keputusan dengan syarat seperti
tercantum dalam pasal 53 ayat 2 statuta. Pasal tersebut menjelaskan bahwa
sebelum menjatuhkan keputusan kepada pihak yang tidak hadir ,
mahkamah harus yakin bahwa ia bukan saja mempunyai wewenang,
melainkan juga keputusannya betul-betul didasarkan atas fakta dan hukum.
Dengan demikian, pihak yang dihukum, walaupun tidak hadir pada
prinsipnya tidak dapat menolak keputusan yang telah ditetapkan oleh
mahkamah.

4. Keputusan Mahkamah Internasional dalam Menyelesaikan


Sengketa Internasional
Keputusan mahkamah internasional diambil dengan suara mayoritas dari
hakim-hakim yang hadir. Jika suara seimbang, suara ketua atau wakilnya
yang menentukan. Keputusan mahkamah terdiri dari 3 bagian. Bagian
pertama berisikan komposisi mahkamah, informasi mengenai pihak-pihak
yang bersengketa, serta wakil-wakilnya, analisis mengenai fakta-fakta, dan
argumentasi hukum pihak-pihak yang bersengketa. Bagian kledua berisikan
penjelasan mengenai motivasi mahkamah.

26 | P a g e

Pemberian motivasi keputusan mahkamah merupakan suatu kaeharusan


karena penyelesaian yuridiksional sering merupakan salah satu unsur dari
penyelesaian yang lebih luas dari sengketa dan karena itu, perlu dijaga
sensibilitas pihak-pihak yang bersengketa. Bagian ketiga berisi dispositif.
Dispositif ini berisikan keputusan mahkamah yang mengikat negara-negara
yang bersengketa.
Seperti halnya dengan praktik peradilan intern negara-negara Anglo
Saxon, pernyataan pendapat yang terpisah diperbolehkan. Maksud
pendapat terpisah ialah jika suatu keputusan tidak mewakili seluruh atau
hanya sebagian dari pendapat bulat para hakim, hakim-hakim yang lain
berhak memberikan pendapat secara terpisah (pasal 57 Statuta). Jadi
pendapat terpisah ini disebut Jissenting Opinion (pendapat seorang hakim
yang tidak menyetujui suatu keputusan dan menyatakan keberatan
terhadap motif-motif yang diberikan dalam keputusan tersebut). Dengan
kata lain, pendapat terpisah adalah pendapat hakim yang tidak setuju
dengan keputusan yang diambil oleh kebanyakan hakim. Pengaturan resmi
pendapat terpisah akan melemahkan kekuatan keputusan mahkamah,
walaupun di lain pihak akan menyebabkan hakim-hakim mayoritas berhatihati dalam memberikan motif keputusan mereka.
Pasal 13 Pakta Liga Bangsa-Bangsa telah menegaskan jika suatu
keputusan peradilan tidak dilaksanakan, dewan dapat mengusulkan
tindakan-tindakan yang akan menjamin pelaksanaan keputusan tersebut.
Selain itu Piagam PBB dalam pasal 94 menjelaskan hal-hal berikut.
a. Tiap-tiap negara anggota PBB harus melaksanakan keputusan mahkamah
internasional dalam sengketa.
b. Jika negara yang bersengketa tidak melaksanakan kewajiban-kewajiban
yang dibebankan oleh mahkamah kepadanya, negara pihak lain dapat
mengajukan persoalannya kepada Dewan Keamanan. Kalau perlu, dapat
membuat rekomendasi-rekomendasi atau memutuskan tindakan-tindakan
yang akan diambil supaya keputusan tersebut dilaksanakan.

Bonus Info Kewarganegaraan


COMPULSORY JURISDICTION
Merupakan kekusaan peradilan internasional untuk mendengar dan
memutuskan kategori tertentu mengenai suatu kasus tanpa
memerlukan kesepakatan terlebih dahulu dari pihak yang terlibat
untuk menerima ketentuan hukum dalam kasus tersebut. Statuta
Mahkamah Internasional dilengkapi dengan kekuasaan hukum
yang tercantum dalam aturan tambahan pasal 36 yang
menentukan bahwa pihak yang bersengketa di hadapan statuta
harus menyatakan bahwa mereka mengakui kekuasaan hukum ipso
27 | P a g e

facto tanpa persetujuan khusus, dan pihak negara lainnya menerima


kewajiban serupa. Kekuasaan hukum mahkamah internasional
mencakup seluruh permasalahan hukum dalam ihwal 1) Penafsiran
perjanjian, b) Setiap permasalahan hukum internasional, c) Keadaan
yang dianggap melanggar kewajiban internasional, d) Sifat dan
peringkat ganti rugi yang harus dikenakan bagi pelanggaran
terhadap kewajiban internasional.
Sumber : Jack C. Plano dan Roy Olton dalam Kamus Hubungan Internasiona

5.

Peranan
Hukum
Perdamaian Dunia

Internasional

Dalam

Menjaga

Permasalahan yang terjadi antara satu negara dan negara lain atau satu
negara dan banyak negara akan dapat menimbulkan konflik dan
pertentangan, baik dalam kaitannya dengan hak suatu negara atau banyak
negara, maupun dengan kebiasaan seorang kepala negara, diplomatik atau
duta besar.
Kesemua subjek ini mempunyai hak dan kewajiban masing-masing, yang
dalam pelaksanaannya harus mengikuti permainan internasional dan
mengikuti aturan yang telah disepakati secara bersama atau secara
internasional. Suatu negara yang telah membina hubungan kerja dengan
negara lain, haruslah mempunyai korps diplomatik pada negara yang
bersangkutan. Seorang diplomat harus tunduk pada hukum diplomatik yang
telah ditentukan secara internasional.
Berikut ini ada beberapa contoh mengenai peranan hukum internasional
(berdasarkan sumber-sumbernya) dalam menjaga perdamaian dunia.
a.
Perjanjian pemanfaatan Benua Antartika secara damai (Antartika
Treaty)pada tahun 1959.
b. Perjanjian pemanfaatan nuklir untuk kepentingan perdamaian (NonProliferation Treaty) pada tahun 1968.
c. Perjanjian damai Dayton (Ohio- AS) pada tahun 1995 yang mengharuskan
pihak Serbia, Muslim Bosnia, dan Kroasia untuk mematuhinya.untuk
mengatasi perjanjian tersebut, NATO menempatkan pasukannya guna
meneggakkan hukum internasional yang telah disepakati.

6. Prinsip Hidup Berdampingan Secara Damai Berdasarkan


Persamaan Derajat

28 | P a g e

Dalam penyelesaian sengketa internasional, diupayakan melalui caracara damai dan pelarangan akan penggunaan kekerasan. Keharusan untuk
menyelesaikan sengketa secara damai ini, pada mulanya dicantumkan
dalam Pasal 1 konvensi mengenai penyelesaian sengketa-sengketa secara
damai yang ditandatangani di Den Haag pada tanggal 18 Oktober 1907,
kemudian dikukuhkan oleh pasal 2 ayat 3 Piagam PBB, selanjutnya oleh
deklarasi prinsip-prinsip hukum internasional mengenai hubungan
bersahabat dan kerjasama antar negara yang diterima oleh Majelis Umum
PBB pada tanggal 24 Oktober 1970. Deklarasi tersebut meminta agar
semua negara menyelesaikan sengketa mereka dengan cara damai agar
perdamaian, keamanan internasional, dan keadilan tidak sampai terganggu.
Dengan demikian, pelarangan penggunaan kekerasan dan penyelesaian
sengketa secara damai merupakan norma-norma imperatif dalam pergaulan
antarbangsa. Oleh karena itu, hukum internasional telah menyusun
berbagai cara penyelesaian sengketa secara damai dan menyumbangkannya
kepada masyarakat dunia demi terpeliharanya perdamaian dan keamanan
serta terciptanya pergaulan antarbangsa yang serasi.

a.

b.
c.
d.
e.
f.
g.

D.

Prinsip penyelesaian sengketa internasional secara damai didasarkan


pada prinsip-prinsip hukum internasional yang berlaku secara universal.
Hal tersebut dimuat dalam deklarasi mengenai hubungan bersahabat dan
kerjasama antarnegara tanggal 24 Oktober 1970 (A/RES/2625/XXV), serta
deklarasi Manila tanggal 15 November 1982 (A/RES/37/10) mengenai
penyelesaian sengketa internasional secara damai sebagai berikut.
Prinsip bahwa negara tidak akan menggunakan kekerasan yang bersifat
mengancam
integritas teritorial atau kebebasan politik suatu negara,
atau menggunakan cara-cara lainnya yang tidak sesuai dengan tujuantujuan PBB.
Prinsip non-intervensi dalam urusan dalam negeri dan luar negeri suatu
negara.
Prinsip-prinsip persamaan hak menentukan nasib sendiri bagi setiap
bangsa.
Prinsip persamaan kedaulatan negara.
Prinsip hukum internasional mengenai kemerdekaan, kedaulatan, dan
integritas teritorial suatu negara.
Prinsip itikad baik dalam hubungan internasional.
Prinsip keadilan dan hukum internasional.

MENGHARGAI
INTERNASIONAL

KEPUTUSAN

MAHKAMAH

Mahkamah Internasional ialah organ hukum utama PBB yang


berkedudukan di Den Haag (Belanda). Sejak didirikan tahun 1945,
29 | P a g e

lembaga ini bertugas memutuskan hukum antar negara dan memberikan


pendapat hukum bagi PBB dan lembaga-lembaganya tentang hukum
internasional.
Seluruh anggota PBB secara otomatis menjadi anggota Mahkamah
Internasional. Oleh sebab itu, jika terjadi sengketa maka sudah menjadi
ketentuan bagi negara-negara anggota untuk menggunakan haknya bila
merasa dirugikan oleh negara lain. Akan tetapi sebaliknya, jika suatu
keputusan Mahkamah Internasional telah diputuskan maka dengan segala
konsekuensi yang ada harus mau menerimanya. Hal tersebut mengingat
bahwa apa yang menjadi keputusan Mahkamah Internasional merupakan
keputusan terakhir walaupun dapat dimintakan banding.
Berikut ini adalah beberapa contoh negara-negara dan orang-perorang
yang karena ketaatannya terhadap ketentuan hukum internasional, maka
mau menerima proses penyelesaian sengketa internasional sebagai wujud
penghargaan terhadap keputusan Mahkamah Internasional.
No
1.

2.

Pihak-Pihak
Yang
Uraian Kasus atau Kejadian
Terlibat
Tahun 1906, tentara Amerika telah
Amerika
melakukan kejahatan perang dengan
Serikat di
membunuh warga Filipina (moro
Filipina,
massacre), pada waktu itu detasemen
Indo China
Amerika menyerang sebuah desa
& Jepang
Moro dan membunuh lebih dari 600
rakyat desa itu, membakar sawah
beserta rumah-rumahnya.
Tahun 1968, peristiwa yang lebih
dikenal dengan My Lai Massacre,
sebuah kompi Amerika menyapu
warga desa dengan senjata otomatis
hingga menewaskan sekitar 500
korban.
Pada tahun 1945, lebih dari 40.000
rakyat Jepang yang tidak berdosa
telah
terpanggang
dengan
dijatuhkannya bom atom di Hirosima
dan Nagasaki (Jepang). Hal ini belum
termasuk dampak kelainan genetis
yang dialami korban cedera dan
keturunanya.
Jerman &
Jepang
dalam
aksinya di
Eropa dan

30 | P a g e

Peeriode antara tahun 1933 s.d. 1939


Jerman di bawah pimpinan Adolf
Hitler telah melakukan pembasmian
terhadap
lawan
politik
maupun
orang-orang Yahudi serta penyerbuan

Keterangan
Para
pelaku
kejaha-tan
perang
telah
diajukan
ke
peng-adilan
militer, na-mun
tidak
lama
kemudian
banyak
yang
dibebaskan.
(Mahkamah
inter-nasional
belum
dapat
berbuat
banyak).

Sebelum
Perang Dunia
II,
kolonialisme
Barat
dengan jutaan

terhadap negara Austria, Polandia


dan Cekoslowakia dengan cara-cara
yang sangat biadab (holocaust).
Demikian juga Pasukan Jepang baik
di Indonesia, Korea maupun di China
yang
sangat
kejam
selama
pendudukan
di
nagara-negara
tersebut.
Di
Indonesia,
selama
pendudukan Jepang yang dikenal
dengan Romusha telah memaksa
rakyat Indonesia menjadi budak dan
diperlakukan sangat kejam. Tidak
kurang dari 10.000 rakyat Indonesia
hilang dan tidak pernah kembali
selama
berlangsungnya
romusha
tersebut.

korban
tidak
tersentuh. Baru
sete-lah sekutu
membuka
Pengadilan
Nu-remberg
(1945-1946)
untuk Nazi dan
Jepang, dimulailah
proses
pelem-bagaan
untuk
kejahatan
perang
mela-lui empat
Konvensi
Geneva tahun
1949.

Kurun waktu antara tahun 1992Serbia di


pasukan
Serbia
telah
Kroasia dan 1995,
melakukan
pemmbersihan
etnik
Bosnia
Herzegovina (etnic cleansing) terutama terhadap
(Yugoslavia) warga sipil muslim Bosnia (di
Sarajevo) dan daerah-daerah lain
serta
di
Kroasia
yang
ingin
melepaskan diri dari Serbia setelah
bubarnya negara federasi Yugoslavia.
Tidak kurang 700.000 warga sipil
telah disiksa dan dibunuh dengan
kejam. Beberapa nama yang harus
bertanggungjawab atas perbuatan
kejahatan perang tersebut antara lain
: Stanislav Galic, Gojko Jankovic,
Janco Janjic, Dragon Zelenovic,
Karadzic, Mladic, dan lain-lain.

Tahun
1994
penga-dilan
terhadap para
penjahat perag
telah terbukti
Den
Haag
(Belanda).
Proses
pengadilan
terus
berlangsung,
namun hasilnya
belum
sesuai
harapan.
Banyak
yang
masih
gagal
ditangkap.

Pemerintah Dalam waktu tiga bulan di tahun


1994, tidak kurang 500.000 etnis
Rwanda
Hutu dan Tutsi telah terbunuh.
terhadap
Pemerintah Rwanda bertanggungetnis Hutu
jawab atas kasus terbunuhnya kedua
dan Tutsi
etnis tersebut.

PBB menggelar
pe-ngadilan
kejahatan
perang
yang
digelar
di
Arusha
(Tanzania), namun
ha-nya mampu
menye-rat
29
orang
yang
diadilli.

Asia.

Catatan :
Berdasarkan modal Pengadilan Rwanda ini, akhirnya PBB menggelar
pengadilan untuk penjahat-penjahat perang. Internasionalisasi pengadilan
31 | P a g e

penjahat perang semakin menjadi penting dengan disetujuinya oleh 91


negara sebuah Statuta Roma 1998, sebuah langkah untuk membentuk ICC
(International Criminal Court) yang permanen. Namun, banyak pengamat
mengkritik pengadilan di Den Haag saja, lebih banyak gagal daripada
suksesnya, apalagi model ICC.

Contoh lain dalam penyelesaian sengketa internasional selain kejahatan


perang, yaitu : Timor-Timur yang akhirnya diselesaikan secara Internasional
dengan cara referandum dan sejak tahun 1999, Timor-Timur berdiri sendiri
menjadi sebuah negara Republik Timor Lorosae. Demikian juga perselisihan
antara Indonesia dengan Malaysia tentang status pulau Sipadan dan
Ligitan. Karena kedua negara tersebut tidak mampu menyelesaikan dengan
hukum nasionalnya, akhirnya diserahkan kepada Mahkamah Internasional.
Pada tahun 2002, keluar keputusan Mahkamah Internasional yang
memenangkan Malaysia sebagai pemilik sah kedua pulau tersebut.
Meskipun bangsa Indonesia sangat menyesalkan hilangnya pulau
Sipadan dan Ligitan dari peta wilayah kedaulatan republik Indonesia,
namun demi penghormatan terhadap keputusan Mahkamah Internasional
maka dengan besar hati (legowo) keputusan tersebut dapat dipahami.
Berikut adalah pernyataan resmi dari Menteri Luar Negeri atas nama
Pemerintah Republik Indonesia.

KESIMPULAN
1. Hukum internasional, disebut juga sebagai hukum bangsa-bangsa yang
dilakukan oleh suatu negara atau bangsa dalam mengadakan hubungan
dengan negara lain agar terjalin kerja sama yang baik dan saling
menguntungkan.
2. Menurut para ahli, bahwa penekanan tentang hukum internasional adalah
terletak pada kaidah-kaidah yang mengatur hubungan atau yang melintasi
batas-batas negara lain. Dengan demikian dalam hukum internasional dapat
dibedakan antara hukum perdata internasional dan hukum publik
internasional. Asas-asas yang digunakan dalam membina hubungan dengan
negara lain adalah asas teritorial, asas kebangsaan, dan asas kepentingan
umum.
3.

Sumber hukum internasional dapat dibedakan menjadi sumber yang


bersifat material dan formal. Sedangkan sumber-sumbernya berasal dari
traktat, kebiasaan-kebiasaan internasional, asas-asas umum yang diakui
bangsa beradab, keputusan-keputusan hakim, dan pendapat-pendapat para
ahli hukum terkemuka.
32 | P a g e

4. Bahwa dalam praktik penyelenggaraan negara, penerapan antara hukum


nasional dan hukum internasional tidak dapat dipisahkan. Hal ini karena
hukum nasional menjadi dasar pembentukan hukum internasional. Untuk
lebih memahami tentang hubungan tersebut, terdapat aliran monoisme dan
aliran dualisme.
5.

Ratifikasi merupakan proses penandatanganan yang dilakukan oleh


pemerintah dengan lembaga perwakilan rakyat. Dalam prakteknya,
ratifikasi dapat dibedakan antara lain ; ratifkasi oleh badan eksekutif,
ratifikasi oleh badan legislatif, dan ratifikasi campuran (pemerintah dan
parlemen). Ratifkasi campuran, merupakan ratifkasi yang paling banyak
diterapkan.

6. Beberapa penyebab timbulnya sengketa internasional antara lain adalah


dapat dilihat dari segi
politis, misalnya persaingan antar negara-negara
yang tergabung dalam blok pertahan NATO (pimpinan Amerika Serikat) dan
blok pertahanan Warsawa (pimpinan Uni Soviet).
7.

Dalam menyelesaikan masalah-masalah internasional, Mahkamah


Internasional mempunyai peranan penting dalam upaya penyelesesaian
berbagai sengketa atau konflik-konflik baik bilateral, regional maupun
internasional. Misalnya upaya penyelesaian mengadili para penjahat perang
di kawasan Balkan.

8.

Prinsip hidup berdampingan secara damai, merupakan dambaan semua


bangsa-bangsa beradab dimuka bumi ini. Oleh sebab itu, PBB yang dibentuk
untuk menjaga ketertiban dan perdamaian dunia memiliki organ Dewan
Keamanan yang salah satu fungsinya adalah untuk menyelesaikan berbagai
sengketa internasional secara damai.

9.

Dalam upaya pelaksanaan penyelesaian sengketa internasional, ada


beberapa istilah yang perlu kita pahami bersama, antara lain: adfisory
opinion, compromis, compulsory jurisdiction, ex aequo et bono, dan lainlain.

10. Sebagai bangsa yang beradab dan bagian tidak terpisahkan dari anggota
masyarakat dunia, bangsa Indonesia mau tunduk dan patuh kepada
ketentuan-ketentuan internasional yang telah disepakati bersama. Oleh
sebab itu, apapun keputusan dari organ utama PBB yaitu Mahkamah
Internasional tentang sengketa-sengketa internasional dengan negara lain
harus dihormati dan dijunjung tinggi.

33 | P a g e