Anda di halaman 1dari 5

2.

Pendahuluan Eksodonsia

2.1.1

Pengertian Eksodonsia
Eksodonsia adalah salah satu cabang ilmu bedah mulut yang mempelajari

tentang hal-hal yang berhubungan dengan tindakan bedah gigi (Datarkar. 2007).
2.1.2

Tujuan Eksodonsia
Eksodonsia merupakan tindak bedah mulut yang memilik tujuan untuk

mengeluarkan seluruh bagian gigi bersama jaringan patologisnya dari dalam soket
gigi serta menanggulangi komplikasi yang mungkin ditimbulkannya. Eksodonsia
yang sempuma menunjukkan bahwa bagian gigi dan jaringan patologis yang
melekat seluruhnya harus ikut terambil keluar dan dalam soket. Sisa akar gigi,
granuloma apikalis dan serpihan jaringan gigi serta tulang tulang alveolar harus
diangkat keluar soket (Datarkar. 2007).
2.1.3

Prinsip Eksodonsia
Prinsip kerja eksodonsia pada hakekatnya mengikuti tahapan kerja tindak

bedah pada umumnya yang harus melalui 3 tahapan pokok, yaitu tahap pra bedah,
merupakan persiapan untuk eksodonsia, tahap bedah merupakan langkah kerja
untuk melakukan eksodonsia dan tahap pasca bedah langkah kerja untuk yang
ditujukan untuk penyembuhan luka pasca eksodonsia sampai penanggulangan
komplikasinya(Datarkar. 2007).

2.2

Indikasi Eksodonsia Anak

Dokter gigi sebelum melakukan tindakan ekstraksi perlu mengetahui


riwyat medis pasien seperti riwayat cabut gigi sebelumnya, riwayat pengobatan
yang sedang dilakukan, riwayat alergi dan kemungkinan reaksi anestesi yang
pernah dialami sebelumnya. Hal tersebut perlu dilakukan agar tindakan ekstraksi
yang kita lakukan dapat berjalan dengan aman dan lancar.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pencabutan gigi:
1. Anatomi gigi menentukan jenis alat pencabutan, gerakan pencabutan, dan
2.
3.
4.
5.

posisi pencabutan.
Anestesi dilakukan untuk menghilangkan atau mengurangi rasa sakit.
Jumlah gigi yang dicabut dalam satu kunjungan.
Tidak menggunakan tenaga yang besar.
Pemeriksaan kembali elemen gigi yang baru dicabut.

Hilangnya gigi sebab dicabut terutama pada usia muda akan membuat gigigigi sebelah dan lawannya bergerak ke arah gigi yang hilang tersebut sehingga
membuat gigi tidak dalam posisi yang seharusnya. Oleh karenannya tindakan
pecabutan gigi sebaiknya merupakan tindakan terakhir yang dilakukan dokter gigi
apabila tidak ada cara lain untuk mempertahankan gigi tersebut di dalam rahang.
Ekstraksi gigi harus sesuai dengan indikasi. Indikasi ekstrasi pada gigi
permanen tidak sama dengan gigi decidui (gigi susu). Ekstraksi gigi susu
dilakukan karena berbagai sebab antara lain:
Indikasi pencabutan gigi pada gigi decidui/susu antara lain:
1

Gigi ekstra (supernumerary) yang menghambat pertumbuhan gigi lain,

dimana gigi tumbuh berlebih dan tidak normal.

Gambar 2. Gigi sulung supernumerary


Sumber
: http://klinikjoydental.com/
Gigi persistensi, dimana gigi sulung tidak tanggal pada waktunya

sehingga menyebabkan gigi permanen terhambat pertumbuhannya.

Gambar 2 Gigi sulung persistensi menyebabkan terhambatnya

pertumbuhan
Sumber
: http://assets.kompas.com/
Gigi susu yang merupakan fokus infeksi, dimana keberadaan gigi

yang tidak sehat dapat merupakan sumber infeksi bagi tubuh.

Gambar 2 Infeksi pada gigi sulung


Sumber
: http://majalah1000guru.net/2015
Gigi susu dengan karies besar sehingga gigi menjadi non vital, sehingga
tidak dapat ditambal lagi dan tidak dapat dilakukan perawatan endodontik,
misalnya pada gigi dengan akar bengkok, ataupun saluran akar buntu.

Gambar
Terdapat karies besar pada gigi anterior.
Sumber
: http://tamannya-hati.blogspot.co.id/2014
Gigi susu yang sudah goyah dan sudah waktunya tanggal, oleh karena

resorbsi tulang alveolar misalnya pada atropi senilis, patologis, maupun


truama.
6 Gigi susu yang akarnya menyebabkan ulkus dekubitus.
7 Gigi dengan fraktur/patah pada akar, misalnya karena jatuh. Kondisi
ini dapat menyebabkan rasa sakit berkelanjutan pada penderita sehingga
2.3.1

gigi tersebut menjadi non-vital atau mati (Andlaw. 2012, Datarkar. 2007)
Kontraindikasi Eksodontia Anak
1 Anak yang sedang menderita infeksi akut di mulutnya. Kontraindikasi
ekstraksi gigi yang bersifat setempat umumnya menyangkut suatu
infeksi akut jaringan di sekitar gigi. Misalnya gigi dengan kondisi
abses yang menyulitkan anestesi, acute infection stomatitis atau
herpetic stomatitis.
Infeksi tersebut harus disembuhkan terlebih dulu baru dapat di
lakukan pencabutan.

2.

Blood diserasia atau kelainan pada darah


Pasien-pasien dengan penyakit trombositopeni purpura, leukemia,
anemia, hemofilia, maupun kelainan darah lainnya sangat penting
untuk diketahui riwayat penyakitnya sebelum dilakukan tindakan
ekstraksi gigi. Untuk itu agar tidak terjadi komplikasi pasca ekstraksi
perlu ditanyakan adakah kelainan perdarahan seperti waktu perdarahan
dan waktu pembekuan darah yang tidak normal pada penderita.
Di mana bisa mengakibatkan terjadinya perdarahan, dan infeksi
setelah pencabutan. Pencabutan

dilakukan

setelah

konsultasi

dengan dokter ahli tentang penyakit darah(Andlaw. 2012, Datarkar.


2007).
DAFTAR PUSTAKA
Datarkar, Abhay N. 2007. Exodontia Practice. New Delhi : Jaypee
Brothers Medical Publishers
Andlaw R. J. dan W. P. Rock. 2012. Perawatan Gigi Anak. Jakarta: Widya
Medika