Anda di halaman 1dari 17

Rizky

ardiansyah
Sautsnida mizuro
Natasya johanna
Achmad anshori
Irvine ruben
Ar rafi raka
M. Faris

Sriwijaya (atau juga disebut Srivijaya; Thai: atau "r wichy") adalah salah
satu kemaharajaan bahari yang pernah berdiri di pulau Sumatera dan banyak
memberi pengaruh di Nusantara dengan daerah kekuasaan membentang dari
Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, dan pesisir
Kalimantan.[1][2] Dalam bahasa Sanskerta, sri berarti "bercahaya" atau "gemilang",
dan wijaya berarti "kemenangan" atau "kejayaan",maka nama Sriwijaya bermakna
"kemenangan yang gilang-gemilang". Bukti awal mengenai keberadaan kerajaan ini
berasal dari abad ke-7; seorang pendeta Tiongkok, I Tsing, menulis bahwa ia
mengunjungi Sriwijaya tahun 671 dan tinggal selama 6 bulan.Selanjutnya prasasti
yang paling tua mengenai Sriwijaya juga berada pada abad ke-7, yaitu
prasasti Kedukan Bukit di Palembang, bertarikh 682.Kemunduran pengaruh
Sriwijaya terhadap daerah bawahannya mulai menyusut dikarenakan beberapa
peperangan di antaranya serangan dari raja Dharmawangsa Teguh dari Jawa pada
tahun 990, dan tahun 1025 serangan Rajendra Chola I dari Koromandel, selanjutnya
tahun 1183 kekuasaan Sriwijaya di bawah kendali kerajaan Dharmasraya

1.
2.

Pertama berpusat di Muara Takus, di


pertemuan Sungai Kampar kanan-kiri.
Kemudian pindah ke Jambi dan
Palembang

FAKTOR PENDORONG
PERKEMBANGAN KERAJAAN
SRIWIJAYA :
Letaknya yang strategis di Selat Malaka
yang merupakan jalur pelayaran dan
perdagangan internasional.
Kemajuan kegiatan perdagangan antara
India dan Cina melintasi selat Malaka.
Keruntuhan Kerajaan Funan di Vietnam
Selatan memberikan kesempatan bagi
perkembangan Sriwijaya sebagai negara
maritim (sarwajala) yang selama abad ke6 dipegang oleh kerajaan Funan.

Adapun sumber sejarah kerajaan Sriwijaya antara lain :


a. Berita China
Berdasarkan berita dari China yang di buat pada masa Dinasti Tang
disebutkan bahwa di pantai timur Sumatra selatan telah berdiri sebuah
kerajaan yang disebut She-li-fo-she. Nama kerajan tersebut diidentikkan
dengan Sriwijaya. Pendeta Buddha dari China, I-Tsing juga pernah
singgah di Sriwijaya pada tahun 685 M untuk menerjemahkan kitab suci
agama Buddha selama 4 tahun di bawah bimbingan Sakyakirti.
b. Berita Arab
Berita dari Arab menyebutkan adanya negara Zabag (disamakan dengan
Sriwijaya) seperti dikatakan oleh Ibh Hordadbeh bahwa raja Zabag banyak
menghasilkan emas setiap tahunnya seberat 206 kg emas. Begitu juga
berita dari Alberuni mengatakan Zabag lebih dekat dengan China daripada
India yang dikenal Swarnadipa (pulau emas) karena banyak
menghasilkan emas.

c. Berita India
Dari Berita India, dapat diketahui bahwa raja dari Kerajaan
Sriwijaya pernah menjalin hubungan dengan raja-raja dari
kerajaan yang ada di India seperti dengan Kerajaan Nalanda,
dan Kerajaan Chola. Dengan Kerajaan Nalanda disebutkan
bahwa Raja Sriwijaya mendirikan sebuah prasasti yang
dikenal dengan nama Prasasti Nalanda. Namun hubungan
dengan Kerajaan Chola (Cholamandala) menjadi retak
setelah raja Chola, yaitu Raja Rajendra Chola, ingin
menguasai Selat Malaka.
d. Berita dalam negeri
Dari dalam negeri, terdapat sumber sejarah berupa prasastiprasasti.

DENGAN HURUF PALAWA DAN


BAHASA MELAYU KUNO

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Prasasti Kedukan Bukit


Prasasti Talang Tuwo
Prasasti Kota Kapur
Prasasti Telaga Batu
Prasasti Karang Birahi
Prasasti Ligor

Arca atau patung


Ditemukannya arca Buddha di Bukit Siguntang (sebelah barat
Palembang). seperti berbagai arca Budha yang ditemukan di
Bukit Seguntang, Palembang, dan arca-arca Bodhisatwa
Awalokiteswara dari Jambi, Bidor, Perak dan Chaiya, dan
arca Maitreya dari Komering, Sumatera Selatan.
Candi
Ditemukannya candi Muara Takus sebagai peninggalan dari
kerajaan Sriwijaya. Seperti Candi Kalasan, Candi Sewu, dan
Borobudur. di Sumatera antara lain Candi Muaro Jambi,
Candi Muara Takus, dan Biaro Bahal.


1.
2.
3.

Kekuasaan tertinggi di Kerajaan Sriwijaya dipegang oleh raja.


Untuk menjadi raja, ada tiga persyaratan yaitu:
Samraj, artinya berdaulat atas rakyatnya.
Indratvam, artinya memerintah seperti Dewa Indra yang selalu
memberikan kesejahteraan pada rakyatnya.
Ekachattra. Eka berarti satu dan chattra berarti payung. Kata ini
bermakna mampu memayungi (melindungi) seluruh rakyatnya.
Belum diketahui secara jelas bagaimana struktur pemerintahan di
bawah raja. Salah satu pembantunya yang disebut secara jelas
hanya senapati yang bertugas sebagai panglima perang (pemimpin
tentara).

Dapunta Hyang Sri Yayanaga (Prasasti Kedukan Bukit


683 M, Prasasti Talangtuo 684 M)
2. Cri Indrawarman (berita Cina, 724 M)
3. Rudrawikrama (berita Cina, 728 M)
4. Wishnu (Prasasti Ligor, 775 M)
5. Maharaja (berita Arab, 851 M)
6. Balaputradewa (Prasasti Nalanda, 860 M)
7. Cri Udayadityawarman (berita Cina, 960 M)
8. Cri Udayaditya (Berita Cina, 962 M)
9. Cri Cudamaniwarmadewa (Berita Cina, 1003. Prasasti
Leiden, 1044 M)
10.Maraviyatunggawarman (Prasasti Leiden, 1044 M)
11.Cri SanggramaWijayatunggawarman (Prasasti Chola,
1004 M)
1.

Aspek Kehidupan Sosial


Kerajaan Sriwijaya karena letaknya yang strategis dalam lalu lintas
perdagangan internasional menyebabkan masyarakatnya lebih
terbuka dalam menerima berbagai pengaruh asing. Masyarakat
Sriwijaya juga telah mampu mengembangkan bahasa komunikasi
dalam dunia perdagangannya. Kemungkinan bahasa Melayu Kuno
telah digunakan sebagai bahasa pengantar terutama dengan para
pedagang dari Jawa Barat, Bangka, Jambi dan Semenanjung
Malaysia. Penduduk Sriwijaya juga bersifat terbuka dalam menerima
berbagai kebudayaan yang datang. Salah satunya adalah
mengadopsi kebudayaan India, seperti nama-nama India, adatistiadat, serta tradisi dalam Agama Hindu. Oleh karena itu,Sriwijaya
pernah menjadi pusat pengembangan ajaran Buddha di
AsiaTenggara.

Di dunia perdagangan, Sriwijaya menjadi pengendali


jalur perdagangan antara India dan Tiongkok, yakni
dengan penguasaan atas selat Malaka dan selat Sunda.
Orang Arab mencatat bahwa Sriwijaya memiliki aneka
komoditi seperti kapur barus, kayu gaharu, cengkeh,
pala, kepulaga, gading, emas, dan timah yang membuat
raja Sriwijaya sekaya raja-raja di India. Kekayaan yang
melimpah ini telah memungkinkan Sriwijaya membeli
kesetiaan dari vassal-vassalnya di seluruh Asia
Tenggara

Karena

kerajaan sriwijaya dipengaruhi


oleh agama budha maka kehidupan
masyarakat sesuai dengan ajaranya
selain itu masyarakat juga menjali
hubungan dengan kerajaan lain.
Agama Buddha yang berkembang di
Sriwijaya ialah aliran Mahayana
dengan salah satu tokohnya yang
terkenal ialah Dharmakirti.

Seorang bhiksu Buddha dari Cina, I-tsing pada abad ke-7 singgah di
Sriwijaya untuk belajar bahasa Sansekerta.
Tahun 717 seorang pendeta Tantris, Wajrabodhi dan Amoghawajra
datang ke Sriwijaya.
Tahun 1011 - 1023 M datang pendeta dari Tibet, Attisa untuk belajar
agama Budha kepada Guru Besar Sriwijaya, Dharmakirti.
Seorang guru agama Buddha yang terkenal di Sriwijaya adalah
Sakyakirti yang menulis buku berjudul Hastadandasastra.

Kerajaan Sriwijaya mencapai puncaknya pada masa pemerintahan


Raja Balaputradewa.
Dalam Prasasti Nalanda (860 M), Balaputradewa mengajukan
permintaan kepada Raja Dewapaladewa dari Benggala untuk
mendirikan biara bagi para mahasiswa Sriwijaya yang belajar di
Nalanda.
Balaputradewa adalah putra dari Samaratungga dari Dinasti
Syailendra yang memerintah di Jawa Tengah tahun 812 - 824 M.

Berulang kali diserang kerajaan Colomandala dari India.


Kerajaan taklukan Sriwijaya banyak yang melepaskan diri dari
kekuasaannya.
Misalnya Ligor, Tanah Kra, Kelantan, Pahang, Jambi dan Sunda.
Terdesak perkembangan kerajaan di Thailand yang meluaskan
pengaruhnya ke arah selatan (semenanjung Malaya).
Terdesak pengaruh kerajaan Singosari yang menjalin hubungan dengan
kerajaan Melayu ( di Jambi).
Mundurnya perekonomian dan perdagangan Sriwijaya karena Bandarbandar pentingnya sudah melepaskan diri dari Sriwijaya.
Kemungkinan juga tidak adanya raja yang cakap dan berwibawa untuk
memimpin kerajaan sebagai akibat dari kurangnya pengaderan.
Serangan Majapahit dalam upaya penyatuan nusantara tahun 1337 M.