Anda di halaman 1dari 28

KONSEP KOMUNITAS

DAN SIFAT-SIFATNYA , DAN


SUKSESI
DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 4

1.Arilda Setiya Ningrum (E1A013004)


2.Dian Yuliana (E1A013014)
3.Iryasti Yudistia
(E1A013021)
4.Rohmi Wardani
(E1A013043)

KONSEP KOMUNITAS
DAN SIFAT-SIFATNYA

Komunitas
Komunitas ialah kumpulan dari berbagai populasi yang hidup

pada suatu waktu dan daerah tertentu yang saling


berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Komunitas
memiliki derajat keterpaduan yang lebih kompleks bila
dibandingkan dengan individu dan populasi.
Komposisi suatu komunitas ditentukan oleh seleksi tumbuhan
dan hewan yang kebetulan mencapai dan hidup di tempat
tersebut, dan kegiatan anggota-anggota komunitas ini
bergantung pada penyesuaian diri setiap individu terhadap
faktor-faktor fisik dan biologi yang ada di tempat tersebut.
Nama komunitas harus dapat memberikan keterangan
mengenai sifat-sifat komunitas tersebut. Cara yang paling
sederhana, memberi nama itu dengan menggunakan katakata yang dapat menunjukkan bagaimana wujud komunitas
seperti padang rumput, padang pasir, hutan jati.

Ringkasannya pemberian nama komunitas


dapat berdasarkan :
1. Bentuk atau struktur utama seperti jenis dominan,
bentuk hidup atau indikator lainnya seperti hutan
pinus atau hutan jati, dapat juga berdasarkan sifat
tumbuhan dominan seperti hutan sklerofil.
2. Berdasarkan habitat fisik dari komunitas, seperti
komunitas hamparan lumpur, komunitas pantai
pasir, komunitas lautan,dll.
3. Berdasarkan sifat-sifat atau tanda-tanda fungsional
misalnya tipe metabolisme komunitas. Berdasarkan
sifat lingkungan alam seperti iklim, misalnya
terdapat di daerah tropik dengan curah hujan yang
terbagi rata sepanjang tahun, maka disebut hutan
hujan tropik.

Di alam terdapat bermacam-macam


komunitas yang secara garis besar
dapat dibagi dalam dua bagian yaitu:
1. Komunitas akuatik : komunitas ini

misalnya yang terdapat di laut, di danau,


di sungai, di parit atau di kolam.
2. Komunitas terrestrial : yaitu kelompok
organisme yang terdapat di pekarangan,
di hutan, di padang rumput, di padang
pasir, dll.

Menurut Nybakken (1988) bagi tumbuhan akuatik,

intensitas cahaya sangat menentukan penggunaan


energy untuk fotosintesis.Tumbuhan kekurangan energy
jika intensitas cahaya berkurang. Semakin cerah suatu
perairan semakin jauh cahaya matahari yang dapat
tembus kedalam perairan dan dengan begitu akan banyak
ditemukan tumbuhan laut seperti lamun yang
memerlukan cahaya matahari untuk melakukan
fotosintesis.
Beberapa karakteristik struktur komunitas yang biasanya

dijadikan petunjuk adanya derajad ketidakstabilan


ekologis meliputi : keseragaman,dominansi, keragaman,
dan kelimpahan.( Krebs, 1997) Wardoyo (1981),
mengemukakan bahwa suhu air merupakan faktor yang
cukup penting bagi lingkungan perairan, kecerahan dan
kekeruhan. Setiap spesies atau kelompok mempunyai
batas toleransi maksimum dan minimum untuk hidupnya.

STRUKTUR KOMUNITAS
Struktur yang diakibatkan oleh penyebaran
organisme di dalam, dan interaksinya dengan
lingkungannya dapat disebut pola (Hutchinson,
1953). Berikut adalah struktur komunitas dan
karakter komunitas:
Kualitatif : seperti komposisi, bentuk hidup,
fenologi dan vitalitas. Vitalitas menggambarkan
kapasitas pertumbuhan dan perkembangbiakan
organisme.
Kuantitatif : seperti Frekuensi dan densitas.
Frekuensi kehadiran merupakan nilai yang
menyatakan jumlah kehadiran suatu spesies di
dalam suatu habitat. Densitas (kepadatan)
dinyatakan sebagai jumlah atau biomassa per unit
contoh, atau persatuan luas/volume, atau

Secara garis besar komunitas dapat dibedakan menjadi dua macam


yaitu sebagai berikut :
1. Komunitas perairan :

terdiri atas populasi dari berbagai jenis organisme


yang seluruh anggotanya hidup di dalam air, baik di air tawar, di payau,
atau di air asin. Karakteristik biogeokimia lingkungan perairan
mempengaruhi keragaman kehidupan jenis organisme penghuninya.
Dalam komunitas perairan itu sendiri terdapat komunitas bentos yang
terdiri atas hewan-hewan yang melekat pada dasar perairan, komunitas
plankton yang merupakan organisme kecil yang terapung dan gerakannya
tergantung arus, dan neuston yang anggotanya bergerak di permukaan
air.
2. Komunitas daratan terdiri atas populasi organisme yang seluruh hidupnya
terdapat di atas daratan. Komunitas ini dapat dibedakan atas komunitas
daratan berair, seperti hutan rawa, hutan magrove, dan habitat daratan
kering. Setiap organisme hidup (biotik) di lingkungan atau di suatu daerah
berinteraksi dengan faktor-faktor fisik dan kimia yang biasa disebut faktor
biotik (yang tidak hidup). Faktor biotik dengan abiotik saling
mempengaruhi atau saling mengadakan pertukaran material yang
merupakansuatu sistem. Disebut sistem karena penyebaran organisme
hidup di dalam lingkunagn tidak terjadi secara acak, menunjukkan suatu
keteraturan sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Setiap sistem yang
demikian disebut ekosistem. Jadi komunitas dengan lingkungan fisiknya
membentuk ekosistem (Soerianegara,1988).

Berdasarkan pembentukannya struktur


komunitas dibagi menjadi :
1. Struktur fisik
Struktur fisik suatu komunitas tampak apabila
komunitas tersebut
diamati meliputi :
Stratifikasi vertikal : Stratifikasi merupakan lapisan-

lapisan secara vertikal yang di bentuk oleh keadaan


bentuk atau (life from) angota-angota komonitas
tersebut, yang di pakai sebagai dasar biasanya
ketinggian dari pohon tersebut (Guritno, 1995).
Horisontal heterogenitas : Hasil dari sebuah susunan
dari pengaruh lingkungan dan biologis.

2. Struktur biologi
Struktur biologi komunitas meliputi :
Dominasi spesies : dikawasan tropika jarang

sekali terjadi komunitas alami dirajai oleh hanya


satu jenis, dan bila ada biasanya komunitas
tersebut mempunyai habitat yang ekstrim yang
hanya jenis-jenis tertentu saja yang dapat
toleran dan mampu hidup pada habitat tersebut.
Keanekaragaman jenis : adalah suatu sifat
komunitas yang memperlihatkan tingkat-tingkat
keragaman jenis organisme yang dinyatakan
dengan indeks keragaman.
Kelimpahan spesies : adalah jumlah individu per
satuan volume atau suatu area. Kelimpahan
individu dapat dijadikan indikator tingkat
kesuburan pada suatu daearah.

Komunitas Tepi ( Boundary )


Komunitas tepi ( Boundary ) adalah
pemisah atau batas antara sistem dan
daerah di luar sistem (lingkungan).
Kecenderungan meningkatnya variasi
dan
kepadatan
pada
komunitas
peralihan
dikenal
sebagai
efek
pinggir/tepi (edge effect). Organisme
yang paling banyak atau paling lama
dalam zone peralihan disebut jenis
pinggir (edge spesies).

Ekoton
Suatu ekoton adalah suatu zona (daerah) peralihan (transisi) atau

pertemuan antara dua komunitas yang berbeda dan menunjukkan


sifat yang khas. Daerah transisi antara komunitas rumput dan hutan
atau daerah peralihan antara dua komunitas besar seperti komunitas
akuatik dan komunitas terestrial merupakan contoh ekoton.
Jadi, ekoton merupakan pagar komunitas (batas komunitas). Seperti
diketahui biasanya berubah secara perlahan-lahan atau secara
gradient. Komunitas dapat berubah secara tiba-tiba akibat
lingkungan yang tiba-tiba terputus atau karena interaksi tanaman
terutama kompetisi. Pada keadaan yang pertama (tiba-tiba terputus)
ekoton merupakan daerah peralihan yang merupakan campuran
dari dua tipe komunitas yang bersebelahan. Pada keadaan yang
kedua (kompetisi) ekoton dapat dikenal jelas. Komunitas ekoton
umumnya mempunyai banyak organisme dari dua komunitas yang
saling bertautan dan yang memperlihatkan ciri-ciri yang khas dan
batas yang jelas antara ekoton dan tetangganya (disampingnya)
dengan demikian ekoton berisikan spesies yang lebih banyak dan
kepadatan populasi yang sering lebih daripada komunitas
disampingnya.

SUKSESI

Pengertian Suksesi
Suksesi adalah suatu proses perubahan, berlangsung

satu arah secara teratur yang terjadi pada suatu


komunitas dalam jangka waktu tertentu hingga
terbentuk komunitas baru yang berbeda dengan
komunitas semula. Dengan perkataan lain suksesi
dapat diartikan sebagai perkembangan ekosistem tidak
seimbang menuju ekosistem seimbang. Suksesi terjadi
sebagai akibat modifikasi lingkungan fisik dalam
komunitas atau ekosistem.
Akhir proses suksesi yaitu terbentuknya suatu bentuk
komunitas klimaks. Komunitas klimaks adalah suatu
komunitas terakhir dan stabil (tidak berubah) yang
mencapai keseimbangan dengan lingkungannya.

Berdasarkan

tempat
terbentuknya,
terdapat tiga jenis komunitas klimaks
sebagai berikut :
1. Hidroser yaitu suksesi yang terbentuk
di ekosistem air tawar.
2. Haloser yaitu suksesi yang terbentuk di
ekosistem air payau.
3. Xeroser yaitu suksesi yang terbentuk di
daerah gurun.

Contoh peristiwa suksesi


Pada tahun 1883 Gunung Krakatau, Banten meletus, semua

kehidupan di gunung tersebut musnah. Seratus tahun


kemudian ternyata di Gunung Krakatau tersebut sudah
terbentuk hutan kembali. Awalnya sejenis lumut kerak
(lichen) dan beberapa jenis lumut tertentu. Asam-asam
yang dieksresi oleh Lichen itu menghancurkan substrat
batuan dan menyediakan sedikit tanah. Partikel tanah
tambahan terbentuk karena penghancuran oleh iklim dan
terbawa angin. Penghancuran dan pembusukan terhadap
lichen dapat menambahkan sedikit humus sehingga lumut
lain menetap. Setiap musim terdapat pertumbuhan baru,
yang lama membusuk (menyediakan humus). Tidak lama
kemudian tersedia cukup tanah untuk paku-pakuan dan
kemudian tumbuh rerumputan, kemudian semak (perdu).
Keadaan ini menyediakan kondisi pertumbuhan yang amat
baik untuk biji-biji tumbuhan tinggi (pohon).

FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA


SUKSESI
Iklim : keadaan iklim membawa akibat rusaknya vegetasi
baik sebagian maupun seluruhnya. Dan akhirnya suatu
tempat yang baru berkembang menjadi lebih baik.
1.1 Topografi : Suksesi terjadi karena adanya perubahan kondisi
tanah, antara lain:
Erosi : Erosi dapat terjadi karena angin, air dan hujan.
Dalam proses erosi tanah menjadi kosong kemudian terjadi
penyebaran biji oleh angin (migrasi) dan akhirnya proses
suksesi dimulai.
Pengendapan (denudasi) : Erosi yang melarutkan lapisan
tanah, di suatu tempat tanah diendapkan sehingga
menutupi vegetasi yang ada dan merusakkannya.
Kerusakan vegetasi menyebabkan suksesi berulang
kembali di tempat tersebut.
2. Biotik :
.Pemakan tumbuhan seperti serangga yang merupakan
pengganggu di lahan pertanian mengakibatkan kerusakan
vegetasi. Di padang penggembalaan, hutan yang ditebang,
1.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


PROSES SUKSESI
Luasnya

habitat asal yang mengalami


kerusakan.
Jenis-jenis tumbuhan di sekitar ekosistem
yang terganggu.
Kecepatan pemancaran biji atau benih
dalam ekosistem tersebut.
Iklim terutama arah dan kecepatan angin
yang membawa biji, spora, dan benih lain
serta
curah
hujan
yang
sangat
berpengaruh daam proses perkecambahan.
Jenis substrat baru yang terbentuk

TAHAP -TAHAP SUKSESI DAN


KARAKTERISTIK SUKSESI
Urutan kejadian secara rasional ke dalam 5 fase, yaitu:
1. Fase NUDASI : proses awal terjadinya pertumbuhan
pada lahan terbuka/kosong.
2. Fase MIGRASI : proses hadirnya biji-biji tumbuhan,
spora dan lain-lainnya.
3. Fase ECESIS : proses kemantapan pertumbuhan biji-biji
tersebut.
4. Fase REAKSI : proses persaingan atau kompetisi antara
jenis
tumbuhan
yang
telah
ada/hidup,
dan
pengaruhnya terhadap habitat setempat.
5. Fase STABILISASI: proses manakala populasi jenis
tumbuhan mencapai titik akhir kondisi yang seimbang
(equilibrium), di dalam keseimbangan dengan kondisi
habitat lokal maupun regional.

suksesi
Park (1980) menjelaskan sebagai
berikut:
1.Keanekaragaman ekologi (Ecological Diversity).

Keanekaragaman jenis/species umumnya meningkat


selama suksesi karena meningkatnya sejumlah relung
dalam habitat yang tersedia bagi tingkat perkembangan
seral berikutnya. Park (1980) menyimpulkan bahwa
secara umum peningkatan keanekaragaman ekologis
melalui suksesi ekologi harus menjadi elemen kunci
dalam semua strategi pengelolaan hutan.
2. Struktur Ekosistem dan Produktivitas.
Dengan adanya proses suksesi dalam suatu ekosistem
maka biomasa akan cenderung meningkat, dan
meningkatnya
jumlah
maupun
keanekaragaman
habitat. Produktivitas juga akan meningkat, minimal
selama awal suksesi.

3. Perubahan Karakteristik Tanah.


Pada ekosistem daratan, misalnya hutan Jati di RPH
Darupono, KPH Kendal, karakteristik tanahnya berbeda
dengan yang ada di bawah tegakan Jati yang dikelola
secara intensif. Pada ketebalan humus, kelembaban
tanah dan iklim mikro di bawah tegakan hutan Jati yang
tercampur dengan berbagai jenis kayu lain secara
bertingkat-tingkat.
4. Stabilitas Ekosistem
Ada beberapa pendapat yang masih diperdebatkan,
yaitu berkisar antara stabilitas ekosistem atau
stabilitas yang dinamis. Kedua pendapat ini beralasan
untuk yang pertama bahwa secara sederhana dengan
adanya suksesi secara keseluruhan telah meniadakan
perubahan ekologis dalam suatu sistem, atau hanya
sedikit terjadi peningkatan melalui proses suksesi.
5. Tingkatan waktu (Time Scales)
Dalam ekosistem hutan, suksesi jauh lebih lama karena

MACAM-MACAM SUKSESI
1. Suksesi Primer
Suksesi primer adalah perkembangan vegetasi, mulai dari
habitat yang tidak bervegetasi serta mampu melewati
tahapannya tanpa gangguan dari luar, sampai pada
masyarakat yang stabil atau klimaks. Suksesi primer terjadi
apabila
masyarakat
asal
terganggu.
Gangguan
ini
mengakibatkan hilangnya masyarakat asal tersebut secara
total. Suksesi primer ini terbagi lagi menjadi 2 jenis, yakni
suksesi yang berawal dari habitat kering, yang disebut
suksesi xerark, dan suksesi yang berawal dari daerah basah
(air tergenang) yang disebut suksesi hidrark.
Gangguan yang dialami komunitas tersebut dapat terjadi
secara alami maupun oleh campur tangan manusia.
Gangguan secara alami dapat berupa tanah longsor, letusan
gunung berapi, dan endapan lumpur di muara sungai.
Gangguan oleh campur tangan manusia dapat berupa
kegiatan penambangan (batu bara, timah, dan minyak bumi).

Contoh Suksesi Primer


Di

Indonesia proses suksesi primer


berhasil diamati didaerah bekas gunung
Krakatau yang meletus dahsyat pada
tahun 1883. Kawasan yang sebelumnya
tertutup oleh lapisan lahar membantu
mulai menunjukkan adanya kehidupan
dengan hadirnya makhluk hidup pionir,
yaitu berupa liken. Sampai saat ini daerah
bekas letusan gunung tersebut masih
menampakkan
tanda-tanda
proses
suksesi.

2. Suksesi sekunder terjadi jika suatu


gangguan terhadap suatu komunitas tidak
bersifat merusak total tempat komunitas
tersebut sehingga masih terdapat kehidupan
/ substrat seperti sebelumnya.
Gangguan alami misalnya angin topan,
erosi, banjir, kebakaran, pohon besar yang
tumbang, aktivitas vulkanik, dan kekeringan
hutan. Gangguan yang disebabkan oleh
kegiatan manusia. Contoh: kondisi hutan
yang terlantar atau tanah garapan yang
ditinggalkan.

PROSES TERJADINYA SUKSESI

Perkembangan

sifat substrat atau tanah yang


progresif,
misalnya
terjadinya
pertam-bahan
kandungan
bahan
organik
sejalan
dengan
perkembangan komunitas yang semakin kompleks
dengan komposisi jenis yang lebih beraneka ragam
daripada sebelumnya.
Semakin kompleksnya struktur komunitas, peningkatan
kepadatan, dan tingginya tumbuhan, sehingga dalam
komunitas terbentuk stratifikasi.
Peningkatan
produktifitas
sejalan
dengan
perkembangan komunitas dan perkem-bangan tanah.
Peningkatan jumlah jenis sampai pada tahap tertentu
dari suksesi.
Peningkatan pemanfaatan sumber daya lingkungan
sesuai dengan peningkatan jumlah jenis.

PERTANYAAN DISKUSI
1. Apa yang Anda ketahui tentang komunitas klimaks?
2. Berikan contoh komunitas klimaks yang ada disekitar Anda!

Jawab:
3. Komunitas klimaks adalah suatu komunitas terakhir dan stabil
(tidak berubah) yang mencapai keseimbangan dengan
lingkungannya.
Komunitas
klimaks
ditandai
dengan
tercapainya homeostatis atau keseimbangan, yaitu suatu
komunitas
yang
mampu
mempertahankan
kestabilan
komponennya dan dapat bertahan dari berbagai perubahan
dalam sistem secara keseluruhan.
Beberapa ciri komunitas klimaks antara lain adalah sebagai berikut:
Mampu menyokong kehidupan seluruh spesies yang hidup
didalamnya.
Mengandung lebih banyak makhluk hidup dan macam bentuk
interaksi dibandingkan komonitas suksesional.

PERTANYAAN DISKUSI
2. Contoh peristiwa suksesi yang ada di lingkungan sekitar

misalnya di suatu lahan (lapangan) terbuka di sekitar


kampus, pada lahan tersebut hanya tumbuh rumput
(mengalami fase nudasi), kemudian disekitar lapangan
tersebut terdapat pohon kamboja, lalu selang beberapa
waktu tumbuh pohon kamboja muda di lapangan tersebut
karena serbuknya diterbangkan oleh angin (mengalami
fase migrasi), lalu pohon kamboja tersebut tumbuh dan
berkembang
hingga
ukurannya
bertambah
besar
(mengalami fase ecesis), akibatnya rerumputan (yang
pertama tumbuh) yang ada di lapangan
tiba-tiba
menghilang (mengalami fase reaksi), lama kelamaan
hanya pohon kamboja saja yang tumbuh di lapangan
tersebut karena sudah mencapai titik keseimbangan
/komunitas klimaks (mengalami fase stabilitasi).

SEKIAN