Anda di halaman 1dari 18

Pendahuluan

Peningkatan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) akibat


pertumbuhan ekonomi dan penduduk selama dua
abad telah memperburuk dampak dari pemanasan
global, yang dapat mengarah pada perubahan iklim
yang tidak dapat dipulihkan. Meningkatnya CDM
adalah salah satu dari tiga mekanisme fleksibel
dalam Protokol Kyoto yang dirancang untuk
membantu negara industri/Annex B untuk
memenuhi komitmennya mengurangi emisi GRK
dan membantu negara berkembang dalam
mencapai pembangunan berkelanjutan.
CDM adalah satu-satunya mekanisme fleksibel yang
melibatkan negara berkembang. Berdasarkan
Protokol Kyoto, negara berkembang tidak memiliki
kewajiban membatasi emisi GRKnya, akan tetapi
dapat secara sukarela berkontribusi dalam
pengurangan emisi global dengan menjadi tempat

Apa itu Mekanisme Pembangunan Bersih?

Mekanisme Pembangunan Bersih (MPB) atau dikenal


juga sebagai Clean Development Mechanism (CDM)
merupakan salah satu mekanisme yang terdapat di
dalam Protokol Kyoto. Mekanisme MPB merupakan
satu-satunya mekanisme yang melibatkan Negara
berkembang, di mana negara maju dapat
menurunkan emisi gas rumah kacanya dengan
mengembangkan proyek ramah lingkungan di
negara berkembang.

Apa tujuan MPB?

1. Seperti yang tertera pada Protokol Kyoto pasal 12, tujuan


MPB adalah:

-Membantu negara berkembang yang tidak termasuk


sebagai negara Annex I dalam menerapkan pembangunan
yang berkelanjutan serta menyumbang pencapaian tujuan
utama Konvensi Perubahan Iklim, yaitu menstabilkan
konsentrasi gas rumah kaca dunia pada tingkat yang tidak
akan mengganggu system ikllim global.
- Membantu negara-negara Annex I atau negara maju
dalam memenuhi target penurunan jumlah emisi
negaranya.
- MPB membantu negara-negara Annex I untuk memenuhi
target pengurangan emisi rata-rata mereka sebesar 5,2
persen di bawah tingkat emisi tahun 1990, sesuai dengan
ketentuan di dalam Protokol Kyoto.

Apa fungsi dari MPB?


Sesuai tujuannya, MPB menghasilkan
proyek yang dapat menurunkan emisi
gas rumah kaca serta mendukung
pembangunan berkelanjutan. Bukti
bahwa proyek tersebut telah
menurunkan emisi gas rumah kaca
adalah diterbitkannya sertifikat
pengurangan emisi (Certified Emission
Reductions-CERs) oleh Badan Eksekutif
MPB (CDM Executive Board) atas
proyek yang bersangkutan. Sertifikat
inilah yang kemudian dapat dijual

LATAR BELAKANG CDM


TERJADINYA PENINGKATAN SUHU RATA-RATA
DIPERMUKAAN BUMI (DALAM KURUN 100 TAHUN
MENINGKAT 0,6 DERAJAT CELCIUS) KARENA ADANYA
PENINGKATAN GAS RUMAH KACA (GRK)
PEMBENTUKAN UNFCCC (UNITED NATION FRAMEWORK
CONVENTION ON CLIMTE CHANGE) 1980, YANG
SELANJUTNYA DITANDATANGANI OLEH 154 NEGARA
PADA PERTEMUAN-PUNCAK BUMI DI RIO DE JANEIRO
1992.
PROTOKOL KYOTO 1997 MENARGETKAN REDUKSI GRK
SEKURANG-KURANGNYA 5 % DARI LEVEL TAHUN 1990.

DAMPAK JIKA TIDAK ADA PENGURANGAN


GRK
SUHU GLOBAL RATA-RATA DIPERKIRAKAN AKAN
MENINGKAT DENGAN KETINGGIAN 1,4 5,8 DERAJAT
CELCIUS DALAM JANGKA WAKTU 100 TAHUN KE DEPAN
PERMUKAAN AIR LAUT AKAN NAIK DENGAN BESARAN
0,09 0,88 METER MENJELANG TAHUN 2100, KARENA
TERJADI EKSPANSI THERMAL AIR LAUT DAN
MENCAIRNYA ES DI KUTUB BUMI,
JUMLAH PENDUDUK YANG AKAN MENGALAMI BENCANA
BANJIR AKAN TERUS BERTAMBAH SETIAP TAHUN
KARENA PERMUKAAN AIR LAUT YANG TERUS MENERUS
MELUAP DAN MENGAKIBATKAN BANJIR BANDANG.
BANYAK JENIS-JENIS MAKHLUK HIDUP AKAN
KEHILANGAN HABITATNYA DAN AKAN PUNAH SEKETIKA

CDM DI INDONESIA
INDONESIA MERUPAKAN SALAH SATU NEGARA YANG
TERMASUK DALAM NON-ANNEX 1 DARI KONVENSI
YANG DIPERKENANKAN UNTUK BERPARTISIPASI
DALAM CLEAN DEVELOPMENT MECHANISME
SEBAGAI NEGARA TUAN RUMAH.

ENAM JENIS GRK YANG DICAKUP


OLEH PROTOKOL KYOTO
GAS KARBON DIOKSIDA (CO2)
GAS METANA (CH4)
OKSIDA NITROUS (N2O)
KARBON HIDROFLUORO (HFCs)
KARBON PERFLUORO (PFCs).
SULFUR HEXAFLORIDA (SF6)

SUMBER UTAMA GRK


GAS

GWP

SUMBER UTAMA

ASAL DARI ENERGI (CO2)

PEMBAKARAN BAHAN BAKAR FOSIL (PADAT, CAIR, DAN GAS)


UNTUK PEMBANGKIT ENERGI

ASAL BUKAN DARI ENERGI

INSINERASI DARI BATU KAPUR PADA INDUSTRI PROSES (PABRIK


SEMEN)
INSINERASI LIMBAH PADAT

METANA (CHA4)

21

OKSIDA NITROUS (N2O)

310

BAHAN BAKU PROSES INDUSTRI KIMIA


PROSES PENCERNAAN KOTOTRAN HEWAN TERNAK

KARBON HIDROFLUORO
(HFCS)

140
11.700

PRODUKSI HCFC 22
KEBOCORAN DARI MEDIA PENDINGIN PADA KULKAS DAN
AIRCONDITIONING, DSB

KARBON PERFLUORO
(PFCS)

6.5009.200

KEBOCORAN PADA BAHAN ISOLASI PANAS PADA PEMBERSIHAN


METAL
PENGGUNAAN BAHAN ETCHING DALAM PROSES PRODUKSI SEMI
KONDUKTOR

SULFUR HEXAFLUORIDA
(SF6)

23.900

PENGGUNAAN PENUTUP GAS DALAM PROSES PENCAIRAN


MAGNESIUM
PENGGUNAAN DALAM PROSES PRODUKSI BAHAN SEMI KONDUKTOR
PENGGUNAAN SEBAGAI ISOLASI GAS LISTRIK

FERMENTASI ANAEROBIK DI TEMPAT PEMBUANGAN SAMPAH


PENGOLAHAN ANAEROBIK LIMBAH CAIR
KOTORAN HEWAN TERNAK
SAWAH PADI

Catatan :

PEMANFAATAN SAMPAH KOTA


UNTUK ENERGI

REFUSED
DERIVED FUEL
(4.000 kcal/kg)

SAMPAH KOTA
(1.250 kcal/kg)

SAMPAH
ORGANIK

1 ton sampah dapat memproduksi sekitar 0,496 m3 - 0.744 m3


biogas yang terdisi dari 60 %c gas metana dan 40 % CO2

1 m3 biogas setara dengan 4.713 kcal

1 kg sampah kota setara dengan 1.000 - 1.500 kcal/kg

1 kg Refused Derived Fuel (RDF) setara dengan 4.000 kcal

1 kg minyak tanah setara dengan 11.100 kcal


INSTALASI
PEMBAKARAN
DENGAN
PEMANFAATAN
PANAS

UAP
BERTEKANAN

TURBIN

GENERATOR

LISTRIK

INSTALASI
PEMBAKARAN
DENGAN
PEMANFAATAN
PANAS

UAP
BERTEKANAN

TURBIN

GENERATOR

LISTRIK

PENGHANCURAN

INSTALASI
BIOGAS

GAS DIESEL
ENGINE

GENERATOR

LISTRIK

TPA
(SANITARY
LANDFILL)

PEMANFAATAN
GAS METANA

GAS DIESEL
ENGINE

GENERATOR

LISTRIK

PERSYARATAN DASAR TPA UNTUK


PEMANFAATAN GAS
SEDIKITNYA ADA SATU JUTA TON SAMPAH DI TPA
MASIH AKTIF (OPTIONAL, TERGANTUNG HASIL
EKSPLORASI)
KEDALAMAN SAMPAH MINIMAL 12 M (UNTUK OPEN
DUMPING BEBERAPA KONTRAKTOR MENSYARATKAN
20 M)
SEBAGAI PERBANDINGAN : PERTUMBUHAN GAS YANG
DIANGGAP EKONOMI ADALAH SEKITAR 30.000
M3/HARI ATAU 1 JUTA TON CUBIC FEET/HARI.

SIKLUS PROYEK CDM


LANGKAH 1 :
REKAYASAN PROYEK

LANGKAH 2 :
VALIDASI/REGISTRASI

LANGKAH 3 :
IMPLEMENTASI/OPERASI DAN PEMANTAUAN PROYEK

LANGKAH 4 :
VERIFIKASI/SERTIFIKASI

LANGKAH 5 :
PENERBITAN CER

LANGKAH 6 :
DISTRIBUSI CER

Sektor-sektor yang dapat berpartisipasi dalam MPB

Tahapan-tahapan apa yang harus dilalui suatu


proyek MPB?
Rancangan proyek
Tahap awal dalam mengembangkan sebuah proyek MPB
adalah mengidentifikasi apakah proyek tersebut dapat
menurunkan gas rumah kaca. Selain itu, pengembang proyek
perlu melakukan analisis finansial untuk mengenditifikasi
apakah proyek tersebut menguntungkan secara finansial.
Validasi
Pada tahap ini, seluruh informasi yang terdapat di dalam PDD,
terutama penghitungan baseline, dikaji untuk kemudian
divalidasi oleh badan validator independent (DOE). Badan
independent ini akan mengevaluasi apakah proyek tersebut
telah memenuhi semua persyaratan MPB dan kemudian
melaporkannya kepada EB.
Persetujuan Nasional
Surat rekomendasi/persetujuan nasional didapatkan dari
otoritas nasional untuk MPB, yaitu Komisi Nasional MPB, yang
berisi pernyataan bahwa partisipasi pengembang proyek
dalam MPB bersifat sukarela dan bahwa kegiatan proyek yang
terkait membantu tercapainya pembangunan berkelanjutan di

Registrasi
Pada tahap ini Badan Eksekutif menerima secara formal
pengajuan PDD dari DOE. Sebuah proyek yang didaftarkan ke
Badan Eksekutif akan melalui sebuah proses komentar publik
selama 30 hari, di mana PDD akan diumumkan di situs web
yang bisa diakses publik untuk mendapatkan komentar terbuka
dari semua pihak.
Implementasi proyek dan pemantauan (monitoring)
Implementasi merupakan tahap di mana aktivitas proyek
dijalankan. Tahap implementasi ini bisa dijalankan sebelum
atau sesudah registrasi. Jika dilakukan sebelum registrasi, batas
waktu paling awal adalah tahun 2000. Artinya sebuah proyek
yang berjalan sebelum tahun 2000 tidak bisa diajukan sebagai
proyek MPB.
Verifikasi dan Sertifikasi
Pada tahap ini hasil pemantauan akan dikaji ulang, termasuk
metodologi yang digunakan dalam melakukan pemantauan.
Penerbitan CER
Badan Eksekutif mempunyai waktu maksimum 15 hari setelah
permohonan penerbitan CERs diberikan untuk mengkaji ulang

Daftar Pustaka
Murdiyarso, Daniel.,CDM: Mekanisme
Pembangunan Bersih, Jakarta: Kompas, 2003.

TERIMAKASIH