Anda di halaman 1dari 12

Gatal pada Sela-sela Jari Kaki Disebabkan

Jamur Golongan Dermatofita


Kelompok E2
Ayu Anas Silvya 102010072
Jessica Susanto 102011032
Mangga Senapati 102013352
Ayu Asmarita 102013390
Gerry Namyu 102014032
Shintia Novotna Katoda 102014094
Yosepha Vebrianti Hutauruk 102014147
Christovel Liempepas 102014153
Shaliny Arulnathen 102014236
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No.6 Jakarta 11510
Telephone :(021) 5694-2061.
Abstract
Tinea pedis is one dermatophyte fungal infection of the skin . Dermatophytosis is
caused by three types of fungi , ie Epider- , tripchophyton , and Microsporum . The disease is
included in mycosis palng often found in the world . Anthropophilic dermatophytes infection
is usually caused by an element hyphae of fungi capable of infecting the skin . Desquamasi
scale skin can be infected in the environment for months or years . Therefore, the
transmission can occur by indirect contact long after the infection occurs . If its management
with topical or systemic acute if chronic .
Keywords : Tinea pedis , dermatophytosis.
Abstrak
Tinea pedis merupakan salah satu infeksi jamur dermatofita pada kulit. Dermatofitosis
ini disebabkan oleh tiga jenis jamur, yaitu epidermophyton, tripchophyton, dan microsporum.
Penyakit ini termasuk dalam mikosis yang palng sering dijumpai di dunia. Infeksinya
anthropophilic dermatophytes biasanya disebabkan oleh adanya elemen hifa dari jamur yang
1 | FK UKRIDA

mampu menginfeksi kulit. Skala desquamasi kulit bisa terinfeksi di lingkungan selama
berbulan-bulan atau tahun. Oleh karena itu transmisi bisa terjadi dengan kontak tidak
langsung lama setelah infeksi terjadi. Penatalaksanaanya dengan topikal jika akut atau
sistemik jika kronis.
Kata kunci: Tinea pedis, dermatofitosis.
Pendahuluan
Istilah

dermatofitosis

harus

dibedakan

dengan

dermatomikosis.

Dermatomikosis merupakan arti umum, yaitu semua penyakit jamur yang menyerang kulit.
Dermatofitosis adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk atau stratum
korneum pada lapisan epidermis di kulit, rambut dan kuku yang disebabkan oleh golongan
jamur dermatofita. Secara klinis dermatofitosis dibagi berdasarkan bagian tubuh yang
terkena, yakni tinea kapitis (scalp, rambut, alis, bulu mata), tinea korporis (badan dan anggota
badan, selain tangan, kaki dan daerah tinea kruris), tinea kruris (genitokrural sampai dengan
bokong, pubis, paha atas medial), tinea barbe (daerah jenggot/jambang), tinea manum (tangan
dan telapak tangan), tinea pedis (kaki dan telapak kaki), dan tinea unguium (kuku). 1
Anamnesis
Seorang dokter harus melakukan wawancara yang seksama terhadap pasiennya atau
keluarga dekatnya mengenai masalah yang menyebabkan pasien mendatangi pusat pelayanan
kesehatan. Wawancara yang baik seringkali sudah dapat mengarahkan masalah pasien ke
diagnosis penyakit tertentu. Wawancara terhadap pasien disebut anamnesis. Anamnesis dapat
langsung dilakukan terhadap pasien (auto-anamnesis) atau terhadap keluarganya atau
pengantarnya (alo-anamnesis). Pada pasien dengan keluhan gatal pada sela-sela kaki kanan
dan kiri dengan kesadaran penuh anamnesis masih bisa dilakukan terhadap pasien itu sendiri,
apabila pasien datang dengan kesadaran menurun, anamnesis bisa dilakukan pada keluarga
atau orang yang mengantar pasien tersebut. Anamnesis yang baik akan terdiri dari identitas,
keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit dalam
keluarga, anamnesis susunan sistem dan anamnesis pribadi.3
Identitas. Identitas meliputi nama lengkap pasien, umur atau tanggal lahir, jenis
kelamin, nama orang tua atau suami isteri atau penanggung jawab, alamat, pendidikan,
pekerjaan, suku bangsa dan agama. Identitas perlu ditanyakan karena dengan data identitas,
seorang dokter dapat juga memperkuat diagnosis, kemungkinan terapi yang akan diberikan
atau kemungkinan akan terjadinya komplikasi yang dapat terjadi pada pasien tersebut.3
2 | FK UKRIDA

Keluhan Utama. Keluhan utama adalah keluhan yang dirasakan pasien yang
membawa pasien pergi ke dokter atau mencari pertolongan. Dalam menuliskan keluhan
utama harus disertai dengan indikator waktu, berapa lama pasien mengalami hal tersebut.
Contoh dalam kasus adalah keluhan gatal pada sela-sela jari kanan dan kiri.3
Riwayat Penyakit Sekarang. Riwayat perjalanan penyakit merupakan cerita yang
kronologis, terinci dan jelas mengenai keadaan kesehatan pasien sejak sebelum keluhan
utama sampai pasien datang berobat. Dalam melakukan anamnesis diusahakan mendapatkan
data-data sebagai berikut: 1) Waktu dan lamanya keluhan berlangsung; 2) Sifat dan beratnya
serangan, misalnya mendadak, perlahan-lahan, terus menerus, hilang timbul, cenderung
bertambah berat atau berkurang dan sebagainya; 3) Lokalisasi dan penyebarannya, menetap,
menjalar, berpindah-pindah, contohnya pada kasus keluhan gatal pada sela- sela jari kaki
kanan dan kiri 4) Hubungannya dengan waktu, misalnya nyeri timbul setiap saat atau hanya
pada saat tertentu; 5) Hubungannya dengan aktivitas, 6) Keluhan-keluhan yang menyertai
serangan, atau keluhan lain yang bersamaan dengan serangan seperti demam, penurunan
berat badan atau gejala sistemik lainnya; 7) Apakah keluhan baru pertama kali atau sudah
berulang kali; 8) Faktor risiko dan pencetus serangan, termasuk faktor-faktor yang
memperberat atau meringankan serangan; 9) Apakah ada saudara sedarah atau teman dekat
yang menderita keluhan yang sama; 10) Riwayat perjalanan ke daerah yang endemis untuk
penyakit tertentu; 11) Perkembangan penyakit, kemungkinan telah terjadi komplikasi atau
gejala sisa; 12) Upaya yang telah dilakukan dan bagaimana hasilnya, jenis-jenis obat yang
telah diminum oleh pasien juga tindakan medik lain yang berhubungan dengan penyakit yang
saat ini diderita. Setelah semua data terkumpul, usahakan untuk membuat diagnosis
sementara dan diagnosis diferensial. Bila mungkin, singkirkan diagnosis diferensial, dengan
menanyakan tanda-tanda positif dan tanda-tanda negatif dari diagnosis yang paling mungkin.3
Riwayat Penyakit Dahulu. Bertujuan untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan adanya
hubungan antara penyakit yang pernah diderita dengan penyakitnya sekarang. Di bagian ini,
tanyakan pula apakah pasien pernah mengalami kecelakaan, menderita penyakit yang berat
dan menjalani operasi tertentu, riwayat alergi obat dan makanan, lama perawatan, apakah
sembuh sempurna atau tidak. Obat-obat yang pernah diminum oleh pasien juga harus
ditanyakan, termasuk steroid, kontrasepsi, transfusi, kemoterapi dan riwayat imunisasi.3
Riwayat Penyakit Keluarga. Penting untuk mencari kemungkinan penyakit heredier,
familial atau penyakit infeksi. 3
3 | FK UKRIDA

Riwayat Pribadi. Riwayat pribadi meliputi data-data sosial, ekonomi, pendidikan dan
kebiasaan. Perlu ditanyakan pula apakah pasien mengalami kesulitan kehidupan sehari-hari
seperti masalah keuangan, pekerjaan dan sebagainya. Kebiasaan pasien yang juga harus
ditanyakan adalah kebiasaan merokok, minum alkohol, termasuk penyalahgunnaan obatobatan terlarang (narkoba). Yang tidak kalah pentingnya adalah anamnesis mengenai
lingkungan tempat tinggalnya, termasuk keadaan rumahnya, sanitasi, sumber air minum,
ventilasi, tempat pembuangan sampah dan sebagainya.3
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik mempunyai nilai yang sangat penting untuk memperkuat temuantemuan dalam anamnesis. Salah satu pemeriksaan fisik yang dilakukan adalah memeriksa
tanda-tanda vital yang terdiri dari suhu, tekanan darah, nadi, dan frekuensi pernapasan. Suhu
tubuh yang normal adalah 36-37oC. Pada pagi hari suhu mendekati 36oC, sedangkan pada
sore hari mendekati 37oC. Tekanan darah diukur dengan menggunakan tensimeter dengan
angka normalnya 120/80 mmHg. Pemeriksaan nadi biasa dilakukan dengan melakukan
palpasi a. radialis. Frekuensi nadi yang normal adalah sekitar 60-80 kali permenit. Dalam
keadaan normal, frekuensi pernapasan adalah 16-24 kali per menit.4
Kedua adalah pemeriksaan fisik yang dilakukan adalah dengan inspeksi dan palpasi.
Inspeksi yang dilakukan awalnya adalah melihat kondisi umum pasien, apakah sakit ringan
atau berat. Selanjutnya dalam pemeriksaan kulit, dilakukan inspeksi kelainan kulit yang
ditemukan, apakah jenisnya, bagaimana warna dan bentuk lesi. Selanjutnya dilakukan palpasi
pada lesi untuk mengetahui suhu, mobilitas, nyeri tekan, dan kedalaman. Penggunaan kaca
pembesar mungkin membantu. Hal-hal pokok dalam pemeriksaan dermatologis yang baik
adalah:4,5
1. Lokasi dan/distribusi dari kelainan yang ada.
2. Karakteristik dari setiap lesi.
3. Pemeriksaan lokasi-lokasi sekunder.
4. Teknik-teknik pemeriksaan khusus.
Boleh dikatakan bahwa pada kulit yang meradang, sulit untuk menentukan mana lesi
atau lesi-lesi deskriptif yang harus dipilih untuk proses deskriptif. Penyakit kulit itu sangat
dinamis. Beberapa lesi pada setiap bercak bisa timbul dengan cepat, sangat lambat, dan
beberapa lainnya bisa pada tingkatan perubahan di antara keduanya.4
Pemeriksaan Penunjang

4 | FK UKRIDA

Pemeriksaan mikologik untuk membantu menegakkan diagnosis terdiri atas


pemeriksaan langsung sediaan basah dan biakan. Pemeriksaan lain, misalnya pemeriksaan
histopatologik, percobaan binatang, dan imunologik tidak diperlukan.2
Pada pemeriksaan mikologik untuk mendapatkan jamur diperlukan bahan klinis, yang
dapat berupa kerokan kulit, rambut, dan kuku. Bahan untuk pemeriksaan mikologik diambil
dan dikumpulkan sebagai berikut: terlebih dahulu tempat kelainan dibersihkan dengan
spiritus 70%, kemudian bahan atau specimen berasal dari:2
1.
2.

Kulit yaitu kerokan papul, pustul, krusta, skuama, atap vesikel.


Kuku yaitu kerokan tepi kuku, permukaan, dasar, debris d bawah kuku, dan

3.

bagian terjauh dari distal kuku.


Rambut yaitu rambut dicabut dan mengerok kulit pada llesi, atau potong rambut
yang mengandung lesi/benjolan.
Pemeriksaan langsung sediaan basah dilakukan dengan mikroskop, mula-mula dengan

pembesaran 10x10 kemudian dengan pembesaran 10x40. Pemeriksaan dengan pembesaran


10x100 biasanya tidak diperlukan.2
Sediaan basah dibuat dengan meletakan bahan diatas gelas alas, kemudian ditambah
1-2 tetes larutan KOH. Konsentrasi larutan KOH untuk sediaan rambut adalah 10% dan untuk
kulit dan kuku 20%. Setelah sediaan dicampur dengan larutan KOH, ditunggu 15-20 menit
hal ini diperlukan untuk melarutkan jaringan. Untuk mempercepat proses pelarutan dapat
dilakukan pemanasan sediaan basah diatas api kecil. Pada saat mulai keluar uap dari sediaan
tersebut, pemanasan sudah cukup. Bila terjadi penguapan, maka akan terbentuk kristal KOH,
sehingga tujuan yang diinginkan tidak tercapai. Untuk melihat elemen jamur lebih nyata
dapat ditambahkan zat warna pada sediaan KOH, misalnya tinta parker superchroom blue
black.2
Hasil pemeriksaan akan menunjukan dermatofitosis jika didapatkan elemen jamur kulit
berupa hifa panjang dan/atau artrospora. Pada rambut berupa spora endotrik/ektotrik dan
kadang terdapat hifa di dalam atau di luar rambut.2
Pemeriksaan dengan pembiakan diperlukan untuk menyokong pemeriksaan langsung
sediaan basah dan untuk menentukan spesies jamur. Pemeriksaan ini dilakukan dengan
menanamkan bahan klinis pada media buatan. Yang dianggap paling baik pada waktu ini
adalah medium agar dekstrosa sabouraud. Pada agar sabouraud dapat ditambahkan antibiotik
saja (kloramfenikol) atau ditambah pula klorheksimid. Kedua zat tersebut diperlukan untuk
menghindarkan kontaminasi bakterial maupun jamur kontaminan.2
Diagnosis Kerja
5 | FK UKRIDA

Tinea pedis (athletes foot) merupakan infeksi dermatofit yang tersering, biasanya
terdapat rasa gatal pada daerah di sela-sela jari kaki yang berskuama, terutama di antara jari
ketiga dengan keempat dan keempat dengan kelima, atau pada telapak kaki. Infeksi ini
biasanya didapat dari adanya kontak dengan debris keratin yang terinfeksi pada lantai kolam
renang dan kamar mandi. Kadang-kadang terjadi penyebaran yang luas ke telapak kaki dan
bagian samping kaki (disebut juga moccasin tinea pedis karena mirip dengan bentuk sepatu
kulit yang lunak). Penyakit ini juga menyebar ke punggung kaki. Kadang-kadang tinea pedis
mengikuti pola timbulnya lesi vestikulobosa yang episodic pada telapak kaki, yang terutama
terjadi pada cuaca yang hangat. Infeksi jamur pada kaki sering asimetris, sangat berbeda
dengan eksema yang simetris.4
Diagnosis Banding
1. Kandidiasis intertriginosa
Kandidiasis adalah penyakit jamur, yang bersifat akut atau subakut disebabkan oleh
spesies Candida yaitu Candida albicans. Kandidiasis intertriginosa biasanya berupa lesi yang
timbul di daerah predileksi, yaitu daerah-daerah lipatan kulit, seperti ketiak, bawah payudara,
lipat paha, intergluteal, antara jari-jari tangan dan jari-jari kaki, sekitar pusat, dan lipat leher.
Kelainan yang tampak berupa kemerahan kulit yang berbatas tegas, erosi dan bersisik. Lesilesi tersebut sering dikelilingi oleh lesi-lesi satelit berupa vesikel-vesikel dan pustula milier,
yang bila memecah meninggalkan daerah yang erosi dan selanjutnya dapat berkembang
menyerupai lesi-lesi primernya. Kelainan pada sela-sela jari sering berkembang menyerupai
lesi-lesi primernya. Kelainan pada sela-sela jari sering ditemukan pada orang yang banyak
berhubungan dengan air, seperti tukang cuci atau petani di sawah, orang-orang yang memakai
kaus dan sepatu terus-menerus.
Kandidiasis pada kaki dan sela-sela jari ini sering dikenal sebagai kutu air. Kulit di
sela-sela jari menjadi lunak, terjadi maserasi dan dapat mengelupas menyerupai kepala susu.
Faktor predisposisi kandidiasis intertriginosa adalah diabetes mellitus, kegemukan, banyak
keringat dan penyakit-penyakit yang menyebabkan daya tahan tubuh menurun.5
2. Dermatitis intertriginosa.
Intertrigo

merupakan

istilah

umum

untuk

kelainan

kulit

didaerah

lipatan/intertriginosa, yang dapat berupa inflamasi maupun infeksi bakteri atau jamur.

6 | FK UKRIDA

Sebagai factor predisposisi ialah keringat/kelembaban, kegemukan, gesekan antardua


permukaan kulit dan oklusi.2
3. Eritrasma
Eritrasma disebabkan oleh organisme Gram positif, Corynebacterium minutissimum.
Eritrasma timbul di daerah intertriginosa yaitu aksila, lipat paha, dan daerah di bawah
payudara. Namun demikian, tempat yang paling sering diserang oleh organisme ini adalah
daerah sela-sela jari kaki yang memberikan penampakan seperti skuama yang mengalami
maserasi, mirip dengan yang disebabkan oleh infeksi jamur. Pada tempat-tempat yang lain
organisme tersebut menimbulkan daerah-daerah dengan tepi coklat, skuama yang tipis, dan
permukaan

seperti

sekam.

Penyakit

ini

biasanya

tanpa

gejala

(asimtomatik).

Corynebacterium minutissimum menghasilkan porfirin yang dengan lampu Wood


menghasilkan fluoresensi merah terang yang menyolok.4
Etiologi
Dermatofitosis disebabkan oleh jamur golongan dermatofita. Dermatofita merupakan
golongan jamur yang mempunyai sifat dapat mencernakan keratin. Berdasarkan sifat
morfologi, dermatofita dikelompokkan dalam 3 genus: Tricophyton, Microsporum dan
Epidermophyton. Dari ketiga genus tersebut diketahui sekitar 20 spesies penyebab, sebagian
tersebar luas di dunia dan sebagian lagi penyebarannya dibatasi secara geografik. Enam
spesies penyebab utama dermatofitosis di Indonesia adalah Tricophyton mentagrophytes,
Microsporum canis, Microsporum gypseum, Tricophyton concentricum dan Epidermophyton
floccosum. Penyebab dari Tinea pedis adalah semua genus dermatofita terutama Tricophyton
rubrum dan Tricophyton mentagrophytes.6
Hifa Tricophyton rubrum halus. Jamur ini membentuk banyak mikrokonidia.
Mikrokonidianya kecil, berdinding tipis dan berbentuk lonjong. Mikrokonidia ini terletak
pada konidiafora yang pendek, dan tersusun secara satu persatu pada sisi hifa (en thyrse).
Makrokonidia Tricophyton rubrum berbentuk sebagai pensil dan terdiri atas beberapa sel.
Mikrokonidia Tricophyton mentagrophytes berbentuk bulat dan jamur ini banyak membentuk
hifa spiral. Makrokonidia Tricophyton mentagrophytes juga berbentuk pensil.6
Faktor predisposisi tinea pedis berupa kaki yang selalu basah, baik oleh air (tukang
cuci), maupun keringat (sepatu tertutup dan memakai kaos kaki). Sering terjadi maserasi
kulit.6

7 | FK UKRIDA

Epidemiologi
Tinea pedis terdapat baik di daerah tropik maupun daerah lainnya. Penyakit ini
banyak terlihat pada orang yang dalam kehidupan sehari-hari banyak bersepatu tertutup
disertai perawatan kaki yang buruk dan para pekerja dengan kaki yang selalu atau sering
basah. Penderita biasanya orang dewasa. Prevalensi pada laki-laki lebih tinggi dibanding
perempuan. Insidens meningkat sesuai dengan meningkatnya umur dan umunya terjadi
pascapubertas. 6
Patofisiologi
Jamur superfisial harus menghadapi beberapa kendala saat menginvasi jaringan keratin.
Jamur harus tahan terhadap efek sinarultraviolet, variasi suhu dan kelembaban, persaingan
dengan flora normal, asam lemak fungistatik dan sphingosines yang diproduksi oleh
keratinosit. Setelah proses adheren, spora harus tumbuh dan menembus stratum korneum
dengan kecepatan lebih cepat daripada proses proses deskuamasi. Proses penetrasi ini
dilakukan melalui sekresi proteinase, lipase, dan enzim musinolitik, yang juga memberikan
nutrisi. Trauma dan maserasi juga membantu terjadinya penetrasi. Mekanisme pertahanan
baru muncul setelah lapisan epidermis yang lebih dalam telah dicapai, termasuk kompetisi
dengan zat besi oleh transferin tidak tersaturasi dan juga penghambatan pertumbuhan jamur
oleh progesteron. Di tingkat ini, derajat peradangan sangat tergantung pada aktivasi sistem
kekebalan tubuh. Keadaan basah dan hangat dalam sepatu memainkan peran penting dalam
pertumbuhan jamur. Selain itu hiperhidrosis, akrosianosis dan maserasi sela jari merupakan
faktor predisposisi timbulnya infeksi jamur pada kulit. Sekitar 60-80% dari seluruh penderita
dengan gangguan sirkulasi (arteri dan vena) kronik akibat onikomikosis dan/atau tinea pedis.
Jamur penyebab ada di mana-mana dan sporanya tetap patogenik selama berbulan-bulan
di lingkungan sekitar manusia seperti sepatu, kolam renang, gedung olahraga, kamar mandi
dan karpet. Bukti eksperimen menunjukkan bahwa pentingnya faktor maserasi pada infeksi
dermatofita sela jari. Keadaan basah tersebut menunjang pertumbuhan jamur dan merusak
stratum korneum pada saat yang bersamaan. Peningkatan flora bakteri secara serentak
mungkin dan bisa juga memainkan peran. Terdapat bukti tambahan bahwa selama beberapa
episode simtomatik pada tinea pedis kronik, bakteri seperti coryneform bisa berperan sebagai
ko-patogenesis penting, tetapi apakah bakteri tersebut membantu memulai infeksi baru masih
belum diketahui.5
Gejala klinis

8 | FK UKRIDA

Ada empat tipe klinis yang berbeda dari tinea pedis : interdigital, hiperkeratosis,
ulserasi dan vesikular, masing-masing dengan pola karakteristik manifestasi kulit.
Tinea pedis Interdigital: Hal ini terjadi dalam dua bentuk, bentuk paling umum dari
infeksi ini biasanya muncul di interspaces antara jari kaki keempat dan jari kelima, sesekali
menyebar ke bagian bawah kaki. Jenis pertama interdigital tinea pedis, yang dikenal sebagai
Dermatofitosis simplex, sebagian besar asimtomatik dan terlihat kering, bersisik,
pengelupasan minimal interspaces dengan sesekali pruritus. Bentuk keduanya yaitu
dermatofitosis kompleks yang simtomatik dan biasanya terlihat basah, ruang interdigital
maserasi bersama dengan fisura dari sela, hiperkeratosis, leukokeratosis dan erosi.2
Tinea Pedis tipe Hiperkeratosis atau Moccasin: ini terdiri dari sisik dan hiperkeratosis
melibatkan plantar dan aspek lateral kaki, menyerupai sandal. Infeksi tinea pedis dengan jenis
moccasin umumnya bilateral dan sering disertai dengan onikomikosis subungual. Jenis
infeksi ini diduga disebabkan oleh Trichophyton rubrum, biasanya pada pasien dengan latar
belakang atopik atau kecenderungan infeksi turun-temurun.2
Tinea pedis Ulseratif: Ada proses ulseratif akut biasanya melibatkan telapak kaki dan
terkait dengan maserasi, penggundulan kulit dan perembesan.
Tinea pedis Vesikobulosa: Ini adalah bentuk paling umum dari infeksi ini. Pasien
dengan jenis tinea pedis ini terdapat vesikel kecil dan lecet dengan dasar eritematosa,
biasanya dekat punggung kaki dan plantar berdekatan permukaan kaki, kadang-kadang
pustula juga ditemukan dalam jenis ini, tetapi khas mereka kecil dan berhubungan dengan
vesikel yang jelas. Vesikel penuh dengan nanah daripada cairan bening adalah indikasi dari
bakteremia sekunder biasanya Staphylococcus aureus. Varian lainnya adalah infeksi
interdigital yang mana dermatofit merusak stratum korneum dan menyebabkan maserasi
berikutnya dan leukokeratosis yang membuat pertumbuhan berlebih dari bakteri seperti
Micrococcus, Sedantarious, Brevibacterium.2
Penatalaksanaan
1. Nonfarmakologik
Difokuskan pada edukasi pada pasien mengenai faktor predisposisi. 2
-

Menjaga agar kaki tetap bersih dan kering terutama sela-sela jari kaki.

Mencuci kaki secara teratur dengan sabun dan air lalu mengeringkannya dengan hatihati paling sedikit 2 kali sehari.

Menggunakan kaos kaki dan sepatu yang bersih dan kering.

2. Farmakologik
9 | FK UKRIDA

- Terapi sistemik
1. Terbinafin (Lamisil, Daskil)
Menghambat epoxidase squalene, yang menekan sintesis ergosterol sehingga
menyebabkan kematian sel jamur. Dosisnya 250 mg/hari selama 1-2 minggu.
Pada anak-anak diberikan berdasarkan berat badan. 12-20 kg digunakan 62,5
mg/hari, 20-40 kg digunakan 125 mg/hari, dan > 40 kg digunakan 250 mg/hari.
Pada wanita hamil biasanya aman, tapi harus dipertimbangkan antara
keuntungan dan resiko pemberian.7,8
2. Itrakonazol (Sporanox)
Mempunyai sifat fungistatik. Mensintesis materi anti jamur triazole yang
memperlambat pertumbuhan sel jamur dengan menghambat sitokrom P450
yang mensintesis ergosterol, suatu komponen penting pada membran sel jamur.
Dosis 200 mg 2x1 selama 1 minggu. Bisa juga 200 mg/hari selama 3 minggu
atau 100 mg/hari selama 4 minggu. Untuk anak-anak 5 mg/kgBB/hari selama 2
minggu. Keamanan untuk ibu hamil belum dibuktikan. 7,8
3. Fluconazol (Diflucan)
Merupakan jamur oral sintetik (distriazole spektrum luas) yang secara selektif
menghambat sitokrom P450 jamur dan sterol C14 alfa-demetilasi. Dosis 150300 mg/minggu selama 3-4 minggu atau 50 mg/hari selama 30 hari. Untuk
anak-anak 3-6 mg/kgBB/minggu selama 14-28 hari. Keamanan untuk ibu hamil
belum diuji.7,8
-

Topikal
1. Allilamin topikal
a. Naftifin krim 1 % dan gel ( Naftin)
Anti jamur spektrum luas dan mensintesis derifat allilamin yang dapat
menekan sintesis jamur. Krim dioleskan 4 kali sehari sedangkan gel
dioleskan 2 kali sehari. Biasanya ama untuk ibu hamil.7
b. Terbinafin (Lamisil)
Sebaiknya digunakan 2 kali sehari selama lebih dari 1 minggu tetapi tidak
lebih dari 4 minggu.7
2.

a.

Imidazol topikal

Klotrimazole krim 1 % (Mycelex, Lotrimin)


Anti jamur spektrum luas yang menghambat pertumbuhan jamur dengan
meningkatkan permeabilitas membran sel. Dioleskan pada daerah lesi
10 | F K U K R I D A

dan sekelilingnya 2 kali sehari selama 2-6 minggu. Biasanya aman pada
ibu hamil.7
b.

Ekonazol krim 1 % (Spectazole topikal )


Efektif pada infeksi kutaneus. Dapat mempengaruhi sintesis dan
metabolisme RNA dan protein. Merusak permeabilitas membran sel.
Dioleskan tipis di area lesi 2-4 kali sehari selama 4 minggu. 7

c.

Mikonazol (Monistat)
Merusak membran sel jamur dengan menghambat biosintesis ergosterol.
Permeabilitas membran meningkat menyebabkan nutrisinya keluar dan
jamur mati. Salep miconazole 2 % digunakan pada area intertriginosa
dioleskan tipis untuk menghindari efek maserasi. Cream dan salep
dioleskan menutupi area lesi 2 kali sehari selama 2-6 minggu, sedangkan
bentuk bedak digunakan pada area lesi 2 kali sehari selama 2-4 minggu. 7

d.

Oksikonazol krim 1 % (Oxistat)


Cara kerjanya sama dengan mikonazole. Digunakan pada area lesi 4 kali
sehari selama 2 minggu.7

3.

Puridon topikal
Siklopirox krim 1 % (Loprox). Mempengaruhi sintesis DNA, RNA dan protein
dengan menghambat transport elemen esensial dalam sel jamur. Digunakan 2 kali sehari pada
area lesi. Evaluasi kembali diagnosis jika tidak ada perbaikan selama 4 minggu. 7
Prognosis
Prognosis untuk tinea pedis umumnya baik jika ditangani secara tepat dan tidak
menimbulkan les
i yang mengganggu dari segi estetik. Perkembangan penyakit dermatofitosis dipengaruhi oleh
bentuk klinik dan penyebab penyakitnya disamping faktor-faktor yang memperberat atau
memperingan penyakit. Apabila faktor-faktor yang memperberat penyakit dapat dihilangkan,
umumnya penyakit ini dapat hilang sempurna.6

Kesimpulan
Dalam skenario kali ini dimana didapatkan seorang perempuan berusia 21 tahun
dengan pekerjaan tukang cuci baju dengan keluhan gatal pada sela jari kaki kiri dan kanan
sejak 2 bulan yang lalu, diyakini sebagai salah satu kelainan dermatofitosis yaitu tinea pedis
11 | F K U K R I D A

tipe interdigitalis dengan ciri khas utama, terlihat fisura dan maserasi pada sela-sela jari kaki.
Pengobatan yang baik dapat dilakukan secara topikal dan dilakukan pencegahan dengan
menjaga higiene dari kaki penderita untuk mencegah timbulnya tinea pedis kembali.
Daftar Pustaka
1. Mansjoer A, et al. Kapita selekta kedokteran jilid dua.. Edisi 3. Jakarta: Media
Aesculapius. 2004. p. 96-7.
2. Unandar B. Mikosis. In. Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, editors. Ilmu penyakit kulit
dan kelamin. 5th ed. Jakarta: Balai penerbitan FKUI; 2007. p. 89- 104.
3. Welsby, philip d. Pemeriksaan Fisik dan Anamnesa Klinis.Jakarta: EGC .2006.Hal
182-3
4. Graham R B. Dermatologi: catatan kuliah. Ed 8. Jakarta: Erlangga. 2005. p. 10-8
5. Siregar R S. Penyakit jamur kulit edisi 2. Jakarta: EGC. 2005. p. 49-53.
6. Departemen Parasitologi FKUI. Parasitologi kedokteran. Edisi 4. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 2013.
7. Joyce LK, Evelyn RH. Farmakologi dan proses perawatan medis. Jakarta: EGC; 2004.
8. Robbins CM. Tinea pedis [online].
Available from:URL:http://www.emedicine.com/DERM/topic470.htm

12 | F K U K R I D A