Anda di halaman 1dari 16

Analisis Pemanfaatan Bronjong Sabut Kelapa Untuk

Mengantisipasi Bencana Tanah Longsor di Desa Planjan,


Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah

Disusun Oleh :
Tiara Noviyanti
4315115976

Jurusan Pendidikan Geograf


Fakultas Ilmu Sosial
Universitas Negeri Jakarta
Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan bronjong sabut kelapa


untuk mengantisipasi bencana tanah longsor di Desa Planjan,
Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.
2. Untuk mengetahui tingkat ancaman bencana tanah longsor di desa
Planjan
3. Untuk mengetahui peranan masyarakat terhadap antisipasi bencana
tanah longsor di desa Planjan
4. Untuk mengetahui peranan pemerintah terhadap antisipasi bencana
tanah longsor di desa Planjan

Latar Belakang Permasalahan


Longsor atau sering disebut gerakan tanah adalah suatu peristiwa geologi
yang terjadi karena pergerakan masa batuan atau tanah dengan berbagai
tipe dan jenis seperti jatuhnya bebatuan atau gumpalan besar tanah.
Tanah longsor terjadi apabila gaya pendorong pada lereng lebih besar dari
pada gaya penahan. Gaya penahan pada umumnya dipengaruhi oleh
kekuatan batuan dan kepadatan tanah. Sedangkan gaya pendorong
dipengaruhi oleh besarnya sudut lereng, air, beban serta berat jenis tanah
atau batuan (PVMBG, 2008). Di Indonesia, bencana tanah longsor kerap
terjadi hampir tiap musim penghujan tiba. Salah satu daerah yang
memiliki tingkat potensi bencana longsor adalah Kabupaten Cilacap di
jawa Tengah.
Kabupaten Cilacap adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah.
Ibukotanya adalah Cilacap. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten
Brebes dan Kabupaten Banyumas di utara, Kabupaten Banyumas dan
Kabupaten Kebumen di timur, Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten
Ciamis, Kota Banjar, dan Kabupaten Pangandaran (Jawa Barat) di sebelah
Barat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten
Cilacap, Jawa Tengah menyatakan puluhan desa di 14 kecamatan
merupakan daerah rawan longsor. Kepala UPT BPBD Cilacap, Edi Sapto
Priyono mengatakan daerah rawan longsor tersebut berada di wilayah
bagian barat dan utara Kabupaten Cilacap, yang didominasi wilayah
pegunungan.
Salah satu desa yang rawan bencana longsor adalah Desa Planjan yang
terletak di kecamatan Kesugihan, kabupaten Cilacap. Oleh karena itu,
untuk mengantisipasi bencana tanah longsor, Badan Penanggulangan
Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap membuat penahan longsor
yang biasa di sebut Bronjong. Namun berbeda dari bahan yang biasa
dipakai, Jaring penahan longsor atau Bronjong ini terbuat dari sabut
kelapa. Selain murah dan ramah lingkungan, teknologi sederhana tersebut
juga bisa digunakan sebagai media konservasi. Sekaligus sebagai media

resapan dan pada titik tertentu akan mengalirkan air. Sabut kelapa juga
sebagai media yang baik untuk menanam.
pemasangan bronjong dilakukan di bukit curam. Secara teknis, jaring
sabut dipasang di tebing rawan longsor.
Untuk saat ini, total bronjong yang sudah dipasang selebar 4 ribu meter
persegi di Desa Planjan, Kecamatan Kesugihan. Pemasangan Bronjong
sabut kelapa ini memiliki manfaat yang baik dan merupakan inovasi yang
ramah lingkungan serta dari segi pembiayaan juga lebih terjangkau untuk
mengantisipasi bencana longsor, oleh karena itu, penulis sangat tertarik
untuk meneliti bagaimana pemanfaatan Bronjong sabut kelapa sebagai
langkah antisipasi bencana longsong yang sering terjadi di desa Planjan,
Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, dapat
dirumuskan permasalahannya sebagai berikut
1. Bagaimana tingkat ancaman tanah longsor di desa planjan,
Kecamatan Kesugihan?
2. Bagaimana pemanfaatan bronjong sabut kelapa dan yang ada di
Desa Planjan, Kecamatan Kesugihan?
3. Bagaimana peranan masyarakat desa Planjan dalam mengantisipasi
bencana longsor?
4. Bagaimana peranan BNPB daerah cilacap dalam mengantisipasi
bencana longsor di desa planjan, Kecamatan Kesugihan?

Tinjauan Pustaka
I. Pengertian Tanah Longsor
Tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa
batuan, bahan rombakan tanah, atau material campuran tersebut yang
bergerak ke bawah atau keluar lereng. Longsor atau gerakan tanah adalah
suatu peristiwa geologi yang terjadi karena pergerakan masa batuan atau
tanah dengan berbagai tipe dan jenis seperti jatuhnya bebatuan atau
gumpalan besar tanah.
Beberapa ahli mendefnisikan tanah longsor (landslide) sebagai suatu
pergerakan masa batuan, tanah, atau bahan rombakan penysusun lereng
bergerak ke bawah atau kelur lereng karena pengaruh gravitasi. Secara
umum kejadian longsor disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor pendorong
dan faktor penahan. Faktor pendorong adalah faktor-faktor yang
memengaruhi kondisi material sendiri, sedangkan faktor pemicu/penahan
adalah faktor yang menyebabkan bergeraknya material tersebut.
Meskipun penyebab utama kejadian ini adalah gravitasi yang
memengaruhi suatu lereng yang curam.
Tanah longsor terjadi apabila gaya pendorong pada lereng lebih besar dari
pada gaya penahan. Gaya penahan pada umumnya dipengaruhi oleh
kekuatan batuan dan kepadatan tanah. Sedangkan gaya pendorong
dipengaruhi oleh besarnya sudut lereng, air, beban serta berat jenis tanah
atau batuan (PVMBG, 2008). Jadi, dari beberapa defnisi di atas dapat
disimpulkan bahwa tanah longsor/longsoran (landslide) adalah pergerakan
suatu material penyusun lereng berupa massa batuan, tanah, atau bahan
rombakan material (yang merupakan percampuran tanah dan batuan)
menuruni lereng, yang terjadi apabila gaya pendorong pada lereng lebih
besar dari pada gaya penahan. Proses tersebut melalui tiga tahapan, yaitu
pelepasan, pengangkutan atau pergerakan, dan pengendapan.
Jenis-Jenis Tanah Longsor
Jenis-jenis tanah longsor dapat dikategorikan sebagai berikut:
1.

Longsoran Translasi

Longsoran translasi adalah bergeraknya massa tanah dan batuan pada


bidang gelincir berbentuk rata atau menggelombang landai.
2.

Longsoran Rotasi

Longsoran rotasi adalah bergeraknya massa tanah dan batuan pada


bidang gelincir berbentuk cekung.
3.

Pergerakan Blok

Pergerakan blok adalah perpindahan batuan yang bergerak pada bidan


gelincir berbentuk rata. Longsoran ini disebut juga longsoran translasi
blok batu.
4.

Runtuhan Batu

Runtuhan batu terjadi ketika sejumlah besar batuan atau material lain
bergerak ke bawah dengan cara jatuh bebas.Umumnya terjadi pada
lereng yang terjal hingga menggantung terutama di daerah pantai. Batubatu besar yang jatuh dapat menyebabkan kerusakan yang parah.
5.

Rayapan Tanah

Rayapan tanah adalah jenis tanah longsor yang bergerak lambat. Jenis
tanahnya berupa butiran kasar dan halus. Jenis tanah longsor ini hampir
tidak dapat dikenali. Setelah waktu yang cukup lama longsor jenis
rayapan ini bisa menyebabkan tiang-tiang telepon, pohon, atau rumah
miring ke bawah.
6.

Aliran Bahan Rombakan

Jenis tanah longsor ini terjadi ketika massa tanah bergerak didorong oleh
air. Kecepatan aliran tergantung pada kemiringan lereng, volume dan
tekanan air, dan jenis materialnya. Gerakannya terjadi di sepanjang
lembah dan mampu mencapai ratusan meter jauhnya. Di beberapa
tempat bisa sampai ribuan meter seperti di daerah aliran sungai di sekitar
gunung api. Aliran tanah ini dapat menelan korban cukup banyak.
Gejala Umum Terjadinya Tanah Longosr
Sebelum atau saat terjadi tanah longsor, terdapa gejala-gejala yang
sering muncul saat terjadi tanah longsor. Gejala-gejala terjadinya tanah
longsor adalah:
1) Munculnya retakan-retakan di lereng yang sejajar dengan arah
tebing.
2) Biasanya terjadi setelah hujan.
3) Munculnya mata air baru secara tiba-tiba.

4) Tebing rapuh dan kerikil mulai berjatuhan.


5) Jika musim hujan, biasanya air tergenang, menjelang bencana itu,
airnya langsuns hilang.
6) Runtuhnya bagian tanah dalam jumlah besar.
7) Pohon atau tiang listrik banyak yang miring.
Penyebab Terjadinya Tanah Longsor
Pada prinsipnya tanah longsor terjadi bila gaya pendorong pada lereng
lebih besar daripada gaya penahan. Gaya penahan umumnya dipengaruhi
oleh kekuatan batuan dan kepadatan tanah. Sedangkan gaya pendorong
dipengaruhi oleh besarnya sudut lereng, air, beban serta berat jenis tanah
batuan. Terdapat beberapa faktor penyebab tanah longsor, diantaranya
yaitu:
1) Hujan
Ancaman tanah longsor biasanya dimulai pada bulan November karena
meningkatnya intensitas curah hujan. Musim kering yang panjang akan
menyebabkan terjadinya penguapan air di permukaan tanah dalam
jumlah besar. Hal itu mengakibatkan munculnya pori-pori atau rongga
tanah hingga terjadi retakan dan merekahnya tanah permukaan.
Ketika hujan, air akan menyusup ke bagian yang retak sehingga tanah
dengan cepat mengembang kembali. Pada awal musim hujan, intensitas
hujan yang tinggi biasanya sering terjadi, sehingga kandungan air pada
tanah menjadi jenuh dalam waktu singkat.
Hujan lebat pada awal musim dapat menimbulkan longsor, karena melalui
tanah yang merekah air akan masuk dan terakumulasi di bagian dasar
lereng, sehingga menimbulkan gerakan lateral. Bila ada pepohonan di
permukaannya, tanah longsor dapat dicegah karena air akan diserap oleh
tumbuhan. Akar tumbuhan juga akan berfungsi mengikat tanah.
2) Lereng terjal
Lereng atau tebing yang terjal akan memperbesar gaya pendorong.
Lereng yang terjal terbentuk karena pengikisan air sungai, mata air, air
laut, dan angin. Kebanyakan sudut lereng yang menyebabkan longsor
adalah 1800 apabila ujung lerengnya terjal dan bidang longsor mendatar.
3) Tanah yang kurang padat dan tebal
Jenis tanah yang kurang padat adalah tanah lempung atau tanah liat
dengan ketebalan lebih dari 2,5 m dan sudut lereng lebih dari 220. Tanah
jenis ini memiliki potensi untuk terjadinya tanah longsor terutama bila
terjadi hujan. Selain itu tanah ini sangat rentan terhadap pergerakan

tanah karena menjadi lembek terkena air dan pecah ketika hawa terlalu
panas.
4)

Batuan yang kurang kuat

Batuan endapan gunung api dan batuan sedimen berukuran pasir dan
campuran antara kerikil, pasir, dan lempung umumnya kurang kuat.
Batuan tersebut akan mudah menjadi tanah bila mengalami proses
pelapukan dan umumnya rentan terhadap tanah longsor bila terdapat
pada lereng yang terjal.
5)

Jenis tata lahan

Tanah longsor banyak terjadi di daerah tata lahan persawahan,


perladangan, dan adanya genangan air di lereng yang terjal. Pada lahan
persawahan akarnya kurang kuat untuk mengikat butir tanah dan
membuat tanah menjadi lembek dan jenuh dengan air sehingga mudah
terjadi longsor. Sedangkan untuk daerah perladangan penyebabnya
adalah karena akar pohonnya tidak dapat menembus bidang
longsoranyang dalam dan umumnya terjadi di daerah longsor lama.
6) Getaran
Getaran yang terjadi biasanya diakibatkan oleh gempa bumi,
ledakan,getaran mesin, dan getaran lalu lintas kendaraan. Akibat yang
ditimbulkannya adalah tanah, badan jalan, lantai, dan dinding rumah
menjadi retak.
7) Susut muka air danau atau bendungan
Akibat susutnya muka air yang cepat di danau maka gaya penahan lereng
menjadi hilang, dengan sudut kemiringan waduk 220 mudah terjadi
longsoran dan penurunan tanah yang biasanya diikuti oleh retakan.
8) Adanya beban tambahan
Adanya beban tambahan seperti beban bangunan pada lereng, dan
kendaraan akan memperbesar gaya pendorong terjadinya longsor,
terutama di sekitar tikungan jalan pada daerah lembah. Akibatnya adalah
sering terjadinya penurunan tanah dan retakan yang arahnya kearah
lembah.
9) Pengikisan/erosi
Pengikisan banyak dilakukan oleh air sungai ke arah tebing. Selain itu
akibat penggundulan hutan di sekitar tikungan sungai, tebing akan
menjadi terjal.

10) Adanya material timbunan pada tebing


Untuk mengembangkan dan memperluas lahan pemukiman umumnya
dilakukan pemotongan tebing dan penimbunan lembah. Tanah timbunan
pada lembah tersebut belum terpadatkan sempurna seperti tanah asli
yang berada di bawahnya. Sehingga apabila hujan akan terjadi penurunan
tanah yang kemudian diikuti dengan retakan tanah.
11)

Bekas longsoran lama

Longsoran lama umumnya terjadi selama dan setelah terjadi


pengendapan material gunung api pada lereng yang relatif terjal atau
pada saat atau sesudah terjadi patahan kulit bumi. Bekas longsoran lama
memilki ciri:
a) Adanya tebing terjal yang panjang melengkung membentuk tapal
kuda.
b) Umumnya dijumpai mata air, pepohonan yang relatif tebal karena
tanahnya gembur dan subur.
c) Daerah badan longsor bagian atas umumnya relatif landai.
d) Dijumpai longsoran kecil terutama pada tebing lembah.
e) Dijumpai tebing-tebing relatif terjal yang merupakan bekas longsoran
kecil pada longsoran lama.
f) Dijumpai alur lembah dan pada tebingnya dijumpai retakan dan
longsoran kecil.
g) Longsoran lama ini cukup luas.

12)

Adanya bidang diskontinuitas (bidang tidak sinambung)

Bidang tidak sinambung ini memiliki ciri:


a) Bidang perlapisan batuan
b) Bidang kontak antara tanah penutup dengan batuan dasar
c) Bidang kontak antara batuan yang retak-retak dengan batuan yang
kuat.
d) Bidang kontak antara batuan yang dapat melewatkan air dengan
13)

Penggundulan hutan

Tanah longsor umumnya banyak terjadi di daerah yang relatif gundul


dimana pengikatan air tanah sangat kurang.
14)

Daerah pembuangan sampah

Penggunaan lapisan tanah yang rendah untuk pembuangan sampah


dalam jumlah banyak dapat mengakibatkan tanah longsor apalagi
ditambah dengan guyuran hujan, seperti yang terjadi di Tempat

Pembuangan Akhir Sampah Leuwigajah di Cimahi.


menyebabkan sekitar 120 orang lebih meninggal.

Bencana

ini

Wilayah Rawan Tanah Longsor


Setidaknya terdapat 918 lokasi rawan longsor di Indonesia. Setiap
tahunnya kerugian yang ditanggung akibat bencana tanah longsor sekitar
Rp 800 miliar, sedangkan jiwa yang terancam sekitar 1 juta. Berikut
adalah daerah-daerah di Indonesia yang rawan longsor.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Jawa Tengah 327 Lokasi


Jawa Barat 276 Lokasi
Sumatera Barat 100 Lokasi
Sumatera Utara 53 Lokasi
Yogyakarta 30 Lokasi
Kalimantan Barat 23 Lokasi
Sisanya tersebar di NTT, Riau, Kalimantan Timur, Bali, dan Jawa Timur.

Tampak bahwa kejadian bencana dan jumlah korban bencana tanah


longsor di Propinsi Jawa Barat lebih besar dibandingkan dengan propinsi
lainnya. Hal demikian disebabkan oleh factor geologi, morfologi, curah
hujan, dan jumlah penduduk serta kegiatannya.
Bencana alam seperti gerakan tanah, terutama longsor, dapat terjadi
pada berbagai skala dan kecepatan. Di alam, banjir dan longsor sering
terjadi hampir bersamaan dan disebabkan oleh hujan yang sangat lebat
yang di dalam gerakan tanah disebut sebagai unsur pemicu. Untuk
meminimalkan kerugian akibat bencana tersebut maka dilakukan usaha
mengenal tanda-tanda yang mengawali gerakan tanah, atau disebut
sebagai mitigasi.
Tahapan Mitigasi Bencana Tanah Longsor
Berikut ini adalah tahapan yang biasanya dilakukan dalam mitigasi
bencana tanah longsor:
1)

Pemetaan

Menyajikan informasi visual tentang tingkat kerawanan bencana alam


geologi di suatu wilayah, sebagai masukan kepada masyarakat dan atau
pemerintah kabupaten/kota dan provinsi sebagai data dasar untuk
melakukan pembangunan wilayah agar terhindar dari bencana.
2)

Penyelidikan

Mempelajari penyebab dan dampak dari suatu bencana sehingga dapat


digunakan dalam perencanaan penanggulangan bencana dan rencana
pengembangan wilayah.

3)

Pemeriksaan

Melakukan penyelidikan pada saat dan setelah terjadi bencana, sehingga


dapat diketahui penyebab dan cara penaggulangannya.
4)

Pemantauan

Pemantauan dilakukan di daerah rawan bencana, pada daerah strategis


secara ekonomi dan jasa, agar diketahui secara dini tingkat bahaya, oleh
pengguna dan masyarakat yang bertempat tinggal di daerah tersebut.
5)

Sosialisasi

Memberikan pemahaman kepada Pemerintah Provinsi /Kabupaten /Kota


atau Masyarakat umum, tentang bencana alam tanah longsor dan akibat
yang ditimbulkannnya. Sosialisasi dilakukan dengan berbagai cara antara
lain, mengirimkan:

Poster, booklet, dan leaflet atau dapat juga secara langsung kepada
masyarakat danaparat pemerintah.
Pemeriksaan bencana longsor
Bertujuan mempelajari penyebab, proses terjadinya, kondisi bencana
dan tatacara penanggulangan bencana di suatu daerah yang terlanda
bencana tanah longsor.

Mengurangi Dampak Tanah Longsor


Tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng, dapat
berupa tanah atau batuan yang bergerak secara cepat atau perlahan
menuruni lereng. Tanah longsor bisa terjadi di daerah berbukit dengan
kemiringan lereng lebih dari 20 derajat. Namun demikian, untuk daerah
dengan struktur tanah lempung pada kondisi jenuh air akan mungkin
terjadi longsor pada sudut lereng kurang dari 20 derajat.
Tanah longsor juga merupakan dampak dari terdapatnya lapisan tanah
yang tebal menumpang di atas batuan yang lebih keras dan kedap air.
Sistem tata air dan tataguna lahan yang kurang baik di daerah lereng
seperti adanya kolam ikan pada lereng, sawah, ladang terbuka yang
hanya ditanami dengan tanaman berperakaran dangkal, kurangnya
tanaman penutup lereng , terdaptanya retakan-retakan berbentuk tapal
kuda pada bagian atas tebing, atau terdapatnya mata air pada tebing
yang menunjukan tebing telah jenuh air yang sering disertai longsoranlongsoran kecil merupakan ciri bahwa daerah tersebut rawan terjadinya
tanah longsor.
Upaya yang harus dilakukan dalam rangka mengurangi dampak tanah
longsor, diantaranya:

1) Mengenali daerah tempat tinggal dan sekitarnya, sehingga jika


terdapat ciri-ciri rawan longsor dapat segera menghindar.
2) Menanami daerah lereng dengan pohon-pohon berperakaran dalam
(terutama pohon-pohon yang dapat dimanfaatkan buahnya dengan
tujuan tidak untuk diambil kayunya/atau tidak untuk ditebang).
3) Melarang penebangan pohon pada daerah rawan longsor.
4) Menutup retakan-retakan yang timbul di atas tebing dengan tanah
lempung untuk mencegah air hujan masuk ke dalam tanah.
5) Selalu waspada jika terjadi curah hujan tinggi.
6) Waspada terhadap rembesan air dan longsoran kecil di sepanjang
lereng.
Jika terjadi bencana longsor, maka upaya yang harus dilakukan adalah
sebagai berikut:
1) Lakukan evakuasi korban yang tertimbun secara hati-hati.
2) Melakukan evakuasi penduduk yang tinggal di daerah bahaya ke
tempat penampungan yang aman.
3) Mencari sumber-sumber air bersih yang dapat dimanfaatkan untuk
daerah penampungan korban.
4) Segera menghubungi fhak terkait lurah/camat atau satlak
penanggulangan bencana dan pengungsi.
Pencegahan Terjadinya Bencana Tanah Longsor
Bencana tanah longsor dapat terjadi dengan berbagai penyebab. Dalam
rangka melakukan pencegahan dari bencana ini, dapat dilakukan dengan
cara dibawah ini:
o Jangan mencetak sawah dan membuat kolam pada lereng bagian atas
di dekat pemukiman (gambar kiri). Buatlah terasering (sengkedan),
ada lereng yang terjal bila membangun permukiman (gambar kanan)
o Segera menutup retakan tanah dan dipadatkan agar air tidak masuk
ke dalam tanah melalui retakan (gamar kiri) Jangan melakukan
penggalian di bawah lereng terjal.(gambar kanan)
o Jangan menebang pohon di lereng (gambar kiri) dan jangan
membangun rumah di bawah tebing. (gambar kanan)
o Jangan mendirikan permukiman di tepi lereng yang terjal (gambar kiri)
Pembangunan rumah yang benar di lereng bukit. (gambar kanan)
o Jangan mendirikan bangunan di bawah tebing yang terjal. (gambar
kiri) dan pembangunan rumah yang salah di lereng bukit. (gambar
kanan)
o Jangan memotong tebing jalan menjadi tegak. (gambar kiri) dan
jangan mendirikan rumah di tepi sungai yang rawan erosi. (gambar
kanan)
Selama Dan Sesudah Terjadi Bencana

Dalam menangani berbagai macam bencana, khususnya longsor, ada


bebrbagai kegiatan yang dapat dilakukan selama dan sesudah terjadinya
bencana, yaitu:
a.

Tanggap Darurat

Yang harus dilakukan dalam tahap tanggap darurat adalah penyelamatan


dan pertolongan korban secepatnya supaya korban tidak bertambah. Ada
beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain:

Kondisi medan
Kondisi bencana
Peralatan
Informasi bencana

b.

Rehabilitasi

Upaya pemulihan korban dan prasarananya, meliputi kondisi sosial,


ekonomi, dan sarana transportasi. Selain itu dikaji juga perkembangan
tanah longsor dan teknik pengendaliannya supaya tanah longsor tidak
berkembang dan penentuan relokasi korban tanah longsor bila tanah
longsor sulit dikendalikan.
c.

Rekonstruksi

Penguatan bangunan-bangunan infrastruktur di daerah rawan longsor


tidak menjadi pertimbangan utama untuk mitigasi kerusakan yang
disebabkan oleh tanah longsor, karena kerentanan untuk bangunanbangunan yang dibangun pada jalur tanah longsor hamper 100%. Ada
beberapa tindakan perlindungan dan perbaikan yang bisa ditambah untuk
tempat-tempat hunian, antara lain:

Perbaikan drainase tanah (menambah materi-materi yang bisa


menyerap).
Modifkasi lereng (pengurangan sudut lereng sebelum pembangunan).
Vegetasi kembali lereng-lereng.
Beton-beton yang menahan tembok mungkin bisa menstabilkan
lokasi hunian.

II. Definisi Bronjong


Kawat Bronjong merupakan sebuah anyaman dari belahan-belahan kawat
yang diisi dengan batu-batu untuk maksud tertentu.
Kawat Bronjong dapat dipergunakan untuk :

Melindungi dan memperkuat tebing tanah, baik lereng sungai maupun


lereng tanggul.
Menjaga tepi sungai terhadap arus aliran air dan usaha menjauhkan
arus aliran air dari tepi sungai yang merusak tebing-tebingnya.
Membuat bendung untuk meninggikan taraf muka air, dll
Kawat Bronjong banyak digunakan pada tebing-tebing tanah agar tidak
terjadinya longsor, juga tebing-tebing sungai pada pelaksanaan pekerjaan
normalisasi sungai atau untuk mengatasi gerusan air sungai yang deras.
Kekuatan kawat bronjong tergantung dari bahan-bahan yang dipakai
untuk bronjong, benda-benda yang hanyut melalui bronjong, agresif atau
tidaknya dari air yang mengalir di situ, adanya gangguan-gangguan dan
baik tidaknya pembuatan, pemasangan dan pemeliharaan bronjongbronjong itu sendiri.

IV. Kondisi Umum Wilayah Penelitian


Letak geografs Kabupaten Cilacap pada 108 4 30 109 22 30 Garis
Bujur Timur dan 7 30 20 7 45 Garis Lintang Selatan, dengan luas
wilayah 225.361 Km2 dengan batas wilayah meliputi :
Sebelah Utara : Kabupaten Banyumas
Sebelah Selatan : Samodera Hindia
Sebelah Timur : Kabupaten Kebumen
Sebelah Barat : Kabupaten Ciamis
Secara geografs berada di bagian wilayah selatan Provinsi Jawa Tengah
berhadapan langsung dengan perairan Samudera Hindia, dengan panjang
garis pantai 105 km, yang dimulai dari bagian timur pantai Desa Jetis
Kecamatan Nusawungu ke arah barat hingga Ujung Kulon Pulau
Nusakambangan berbatasan dengan Provinsi Jawa Barat.
Topograf wilayah Kabupaten Cilacap terdiri dari permukaan landai dan
perbukitan dengan ketinggian antara 6 198 m dari permukaan laut.
Wilayah topograf terendah pada umumnya dibagian selatan yang
merupakan daerah pesisir dengan ketinggian antara 6 12 m dpl, yang
meliputi dari wilayah Cilacap Timur yaitu Kecamatan Nusawungu,
Binangun, Adipala, Sebagian Kesugihan, Cilacap Utara, Cilacap Tengah,
Cilacap Selatan, Kampung Laut, dan sebagian Kawunganten. Sedangkan
topograf yang termasuk dataran rendah dan sedikit berbukit antara lain
Kecamatan Jeruklegi, Maos, Sampang, Kroya, Kedungreja, dan Patimuan
dengan ketinggian antara 8 75 m dpl . Sedangkan topograf yang

termasuk dataran tinggi atau perbukitan meliputi wilayah Cilacap bagian


barat yaitu Kecamatan Daeyeuhluhur, Wanareja, Majenang, Cimanggu,
Karangpucung, dengan ketinggian antara 75 198 m dpl, dan Kecamatan
Cipari, Sidareja, sebagian Gandrungmangu, dan sebagian Kawunganten
dengan ketinggian. antara 23 75 m dpl.
Kabupaten Cilacap memiliki luas wilayah cukup besar serta berbagai
keadaan topograf serta factor pendukung lingkungan yang berbeda-beda,
tentunya akan sangat berpengaruh terhadap ketersediaan potensi
sumberdaya alam yang ada. Potensi sumberdaya alam yang ada meliputi
dalam kawasan pesisir, dalam kawasan dataran rendah, serta potensi
sumberdaya alam pada kawasan pedalaman atau wilayah dataran tinggi
atau perbukitan, yang masing-masing mempunyai karakteristik yang
berbeda-beda, tentunya akan berbeda-beda pula dalam pemanfaatannya
serta dalam pengelolaanya.
Daerah pesisir Kabupaten Cilacap merupakan kawasan yang mempunyai
suatu ekosistem sangat unik yang ada di bagian selatan Pulau Jawa.
Kawasan perairan pesisir yang banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor
fsik lingkungan eksternal dari aktivitas daratan, pengaruh masa air sungai
dan muatan sedimen melalui proses hidro-oseanografs yang terjadi
hingga ke tengah laut pada radius 5 mil, sehingga terjadi proses
pengkayaan unsur hara seperti Nitrat dan Posfat yang penting bagi
fotosintesis biomasa ftoplankton perairan.
Pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan pesisir dan
laut
adalah
melalui
pengembangan
perikanan
tangkap
serta
pengembangan budidaya di ditambak. Potensi sumberdaya perikanan
tangkap di Cilacap sangat besar dikarenakan letaknya berbatasan
langsung dengan Samodera Hindia, yang mana mempunyai keunggulan
yang kompetitif seperti ikan tuna dan jenis udang, yang merupakan
komoditas eksport perikanan Kabupaten Cilacap. Sedangkan potensi
sumberdaya perikanan budidaya di kawasan pesisir adalah budidaya
tambak udang, bandeng, serta kepiting. Disamping itu masih banyak
potensi Sumberdaya Perikanan yang memiliki nilai ekonomis dan
prospektif untuk dikembangkan di masa yang akan datang misalnya sidat,
rumput laut serta kerang (totok)
Sedangkan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan
pedalaman atau di kawasan dataran tinggi adalah melalui pengembangan
perikanan budidaya ikan di kolam, budidaya ikan di karamba di perairan
umum dan penangkapan ikan di perairan umum (sungai, rawa dan
genangan). Produk unggulan utama komoditas budidaya ikan di kolam

adalah ikan gurami, serta jenis ikan lainnya antara lain : lele, nila, ikan
mas, tawes, bawal tawar, patin
Dengan demikian secara langsung ataupun tidak langsung bidang
Kelautan dan Perikanan mempunyai andil terhadap kontribusi pendapatan
daerah, perbaikan ekonomi dan taraf hidup masyarakat di kabupaten
Cilacap.
Kabupaten Cilacap dalam tatanan administrasi pemerintahan terdiri dari
24 Kecamatan dan 284 Desa/Kelurahan, dengan spesifkasi 11 Kecamatan
(72 Desa/Kelurahan) yang memiliki wilayah pesisir di wilayah Selatan Jawa
Tengah. Jumlah penduduk keseluruhannya 1.872.576. jiwa (laki-laki:
947.814 jiwa, perempuan: 924.732 jiwa), pertumbuhan penduduk:sekitar
8,48 % dan dengan laju pertumbuhan ekonomi sebesar 34,08 %, serta
jumlah penduduk miskin 148.282 jiwa (Pra sejahtera 146.736 jiwa).

Metode Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan
bronjong sabut kelapa dan rumput vetiver untuk mengantisipasi bencana
tanah longsor di desa Planjan, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap.
Penelitian ini dilakukan pada Maret-April 2016
Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
penelitian yang bersifat deskriptif kualitatif dengan melihat langsung
kondisi lapangan dan di dukung data kuantitatif.

Populasi dan Sample


Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah Seluruh desa yang berpotensi longsor
yang memanfaatkan bronjong sabut kelapa dan rumput vetiver untuk
mengantisipasi bencana tanah longsor di Kabupaten Cilacap

Sample
Sample pada penelitian ini adalah desa yang mewakili seluruh populasi
yaitu di desa Planjan, yang berada di Kecamatan kesugihan, kabupaten
Cilacap.

Teknik Analisis yang Digunakan

Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif, dimana bentuk analisis ini


bertujuan untuk menguji suatu generalisasi hasil penelitian berdasarkan
satu sampel dan dari segi yang diperoleh dalam analisis ini adalah sebuah
gambaran secara umum tentang masalah yang dikaji.

Daftar Pustaka
Bakornsl PB. 2006. Kebijakan Pengurangan Risiko Bencana di Indonesia.
Badan
Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana.
Dardak, A.H. 2006. Kebijakan Penataan Ruang dalam Pengelolaan
Kawasan Rawan
Bencana Longsor. Bahan Makalah dalam Lokakarya
Penataan Ruang Sebagai
Wahana Untuk Meminimalkan Potensi Kejadian Bencana
Longsor. Jakarta, 7
Maret 2006