Anda di halaman 1dari 33

16

TUGAS MATA KULIAH PENGELOLAAN SDM & E

Nama

: Marisa Oktavia

Prodi

: Teknik Pertambangan

Dosen Pengampu
Prof. Dr. Ir. Edy Sutriyono, MSc.

Pasca Sarjana Teknik Pertambangan


Fakultas Teknik
Universitas Sriwijaya
2016

KATA PENGANTAR
51

15

Puji Syukur penulis panjatkan atas Kehadirat Allah SWT, yang mana atas
Berkat Rahmat dan Karunianya penulis dapat menyelesaikan tugas mata kuliah
Pengelolaan Sumberdaya Mineral dan Energi. Dengan judul Pengelolaan Tamabang
Batubara di PT Kuansing Inti Makmur Jobsite Tanjung Belit Kabupaten Bungo.
Penulis mengucapkan rasa terima kasih atas semua bantuan yang telah
diberikan, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penyelesaian tugas ini.
Secara khusus penulis sampaikan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Edi Sutriyono, MSc. Selaku dosen pengampu mata kuliah
Pengelolaan Sumberdaya Mineral dan Energi .
2. Teman teman satu angkatan Prodi Pasca Sarjana Teknik pertambangan
Penulis menyadari bahwa penyelesaian tugas ini belum sempurna, baik dari
segi materi maupun penyajiannya. Oleh karena itu, saran dan kritikan dari Bapak dan
teman teman sangat diharapkan dalam penyempurnaanya.
Semoga tugas ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan bagi pembaca dan
khususnya bagi penulis.
Palembang, 23 April 2016
Penulis

DAFTAR ISI

Halaman Judul

...i

15

Kata Pengantar

.. ii

Daftar Isi

.. iii

BAB I. PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang

..

1
BAB II. TIJAUAN PERUSAHAAN
2.1. Lokasi Kesampaian Daerah..... 2
2.2. Struktur Organisasi .......4
2.3. Izin Usaha Pertambangan..... 4
2.4. Iklim dan Curah Hujan .....6
2.5. Geologi Regional .....6
2.6. Morfologi .....8
BAB III. DESKRIPSI TEORI
3.1. Tambang Terbuka .....9
3.2. Faktor yang Mempengaruhi Produksi ...10
3.3. Batubara ....21

BAB IV. AKTIVITAS PENAMBANGAN


4.1. Land Clearing ...23
4.2. Pengupasan Top Soil ....23

15

4.3. Pengupasan Overburden .....25


4.4. Pemuatan dan Pengengkutan Overburden ....26
4.5. Penimbunan dan Perataan Disposal ...26
4.6. Penggalian dan Pengangkutan Batubara ...26
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang

15

PT. Kuansing Inti Makmur (PT. KIM) merupakan sebuah perusahaan swasta
yang bergerak di bidang pertambangan batubara. Berlokasi di Desa Tanjung Belit
Kecamatan Jujuhan Kabupaten Bungo Provinsi Jambi. Dalam melaksanakan kegiatan
penambangannya, PT. KIM dibantu oleh sebuah subkontraktor yaitu PT. Artamulia
Tata Pratama (PT. ATP) baik dari kegiatan pekerjaan pengupasan lapisan tanah
penutup sampai ke pengambilan batubara. Dengan metoda penambangan tambang
terbuka dan sistem penambangan buka tutup.
Dalam kegiatan pengupasan lapisan

tanah

penutup

(overburden),

PT. Kuansing Inti Makmur menggunakan rangkaian kerja alat gali muat (excavator
backhoe pc 1250) dan alat angkut (HD komatsu 465) untuk memindahkan material
dari front penambangan ke disposal (tempat penimbunan) dengan target produksi
overburden 74 bcm/jam. Setelah dilakukan pengupasan overburden barulah dilakukan
ekpose batubara dengan target produksi 5 juta ton/ tahun dengan kalori batubara
5600-5800kcal.
Setiap operasi penambangan memerlukan jalan tambang sebagai sarana
infrastruktur yang vital di dalam lokasi penambangan dan sekitarnya. Jalan tambang
berfungsi sebagai penghubung lokasi-lokasi penting. Antara lain lokasi tambang
dengan disposal, stockpile, pekantoran, mess tempat tinggal karyawan dan tempat
lainnya di wilayah penambangan. Kontruksi jalan tambang secara garis besar hampir
sama dengan jalan raya. Perbedaan yang khas terletak pada permukaan jalannya yang
tidak dilapisi oleh aspal atau beton pada jalan raya.

BAB II
TINJAUAN PERUSAHAAN

15

2.1. Lokasi dan Kesampaian Daerah


Koordinat PT. Kuansing Inti Makmur dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 2.1. koordinat PT. KIM.
NO
1
2
3
4

GARIS BT
1010 43 50.69
1010 45 54.87
1010 45 54.87
1010 43 50.69

GARIS LS
010 23 50.66
010 23 50.99
010 24 8.74
010 24 8.74

Sumber: PT. KIM Divisi Engginering (2013)

Lokasi IUP PT. Kuansing Inti Makmur (PT. KIM) terletak di Desa Tanjung
Belit Kecamatan Jujuhan Kabupaten Bungo. Untuk mencapai lokasi PT. KIM dari
kantor pusat Jakarta ke Jambi yaitu menempuh waktu 60 menit menggunakan jalur
udara (pesawat terbang). Dari Provinsi Jambi ke Kabupaten Bungo menggunakan
kendaraan roda empat dengan waktu tempuh 5 jam perjalanan.
Dari pusat Kabupaten Bungo ke lokasi IUP sampai ke KM 44 menempuh
waktu perjalanan 45 menit dengan melintasi jalan aspal dan jalan tanah berdebu. Dari
KM 44 menuju pit tambang menempuh jarak 19 km. Lokasi dan kesampaian daerah
tersebut dapat dilihat pada gambar 2.1 di bawah ini.

15

Sumber: PT. KIM Divisi Engginering (2013)

Gambar 2.1. Lokasi kesampaian daerah PT. KIM

15

2.2. Struktur Organisasi Perusahaan


Struktur organisasi perusahaan PT. KIM dapat dilihat pada gambar di bawah
ini.
KTT

MINE PLANE
and
DEPARTEME
NT

MINE
GEOLO
GI

COMDEV

COAL LOGISTIC AND


QUALITY CONTROL
DEPT

PRODUction
DEPT

MINE
PLAN

east
PIT

COAL
QC.

WEST
PIT

LAND
COMPERASION

COAL
TRANSPORT

PUREASHING

INFRASTRUKTUR
AND ROAD DEPT

INFRA

Roa

HR-GA

SHE
DEPT

SAFE
TY

FINANCE

FINANCE
STATIF
SECURIT
Y

HR

GA

Sumber: PT. KIM Divisi HR-GA (2013)


2.3. Izin Usaha Pertambangan
Izin usaha pertambangan PT. KIM terdiri dari :
1. Kuasa Pertambangan Ekplorasi (SK.Bupati Bungo no 439 DPELH 2008).
2. Ekploitasi (SK.Bupati Bungo no 464 tahun 2008).
3. IUP Operasi Produksi (SK.Bupati Bungo no 252/DESDM tahun 2010)
Massa berlaku IUP 30 desember 2008 29 desember 2019.
2.4. Iklim dan Curah Hujan

ENVIR
Ovmen

15

Iklim dan curah hujan PT. Kuansing Inti Makmur sama dengan iklim
Indonesia pada umumnya yaitu iklim tropis dengan dua musim, musim kemarau dan
musim hujan. Aktivitas tambang terbuka sangat dipengaruhi oleh cuaca. Intensitas
hujan yang tinggi pada musim hujan akan mengakibatkan terhentinya aktivitas
penambangan, hal ini disebabkan oleh genangan air pada daerah penambangan,
dengan sistem penyaliran tambang yang kurang baik dan kurangnya perawatan
terhadap drainase jalan. Kondisi jalan yang licin sehingga mempengaruhi kegiatan
penambangan. Data curah hujan PT. KIM dapat dilihat pada tabel 2.2 berikut:
Table 2.2. Data Curah Hujan PT. KIM
Year

Rain (hours)

Bulan

Jan

Feb

Mar

Apr

May

Jun

Jul

Aug

Sep

Oct

Nov

Dec

2007

0.0

27.9

44.9

83.3

51.9

29.0

17.2

11.0

43.1

41.6

93.8

106.5

2008

89.0

38.0

88.5

41.0

37.5

28.0

32.1

12.0

62.5

27.0

92.5

110.1

2009

85.8

43.5

57.6

40.9

29.0

12.3

10.6

43.0

24.0

40.5

54.9

121.5

2010

98.3

90.8

99.0

87.2

29.1

54.7

78.5

53.7

42.8

54.4

72.4

32.8

2011

84.8

52.6

53.8

42.6

55.6

48.9

17.8

19.1

28.1

40.0

77.0

90.0

2012

33.5

72.6

22.0

40.5

46.4

18.0

44.3

6.8

23.9

66.1

94.9

133.9

2013

90.0

78.9

86.8

57.1

40.1

34.0

81.4

25.8

47.5

Sumber : PT. KIM Divisi Engginering (2013)

2.5. Geologi Regional


Areal KP PT. KIM secara regional terletak diantara cekungan Sumatera Tengah
dan cekungan Sumatera Selatan. Cekungan Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan
berawal dari masa kuarter dan diendapkan formasi sinamar. Formasi yang terdapat di
area PT. KIM yaitu formasi Sinamar dan Rantau Ikil. Daerah penelitian secara
dominan tersusun oleh Formasi Sinamar (Tos) yang terdiri dari: batu pasir, berwarna
abu-abu hingga abu-abu terang, berbutir halus hingga sedang, menyudut tanggung,
loose, formasi tersebut memiliki umur Oligosen. Batu lempung berwarna abuabu
hingga abuabu kecoklatan-kemerahan, sedikit pasiran, lunak. Batu lanau, berwarna
abuabu hingga abu-abu kehijauan, kompak. Batubara berwarna hitam kusam sampai
hitam mengkilap, kilap dull, agak keras, mengandung damar tebal sampai 15 cm.
Formasi Sinamar merupakan endapan darat dengan lingkungan rawa-rawa (limnik).

15

Diatasnya diendapkan Formasi Rantau Ikil (Tmr) yang terdiri dari batu
lempung hijau bersifat gampingan, napal dan sisipan batu gamping berlapis,
mencirikan lingkungan danau. Kedua Formasi tersebut secara tidak selaras ditutupi
oleh Endapan Vulkanik Kuarter yang berasal dari pegunungan barisan di sebelah
baratnya akibat kegiatan magmatisma. Endapan vulkanik tersebar tidak merata di
daerah penyelidikan, terdiri dari breksi laharik, aglomerat dan konglomerat. Breksi,
berwarna hitam, keras, masa dasar pasir kasar tufaan, fragmen berupa batuan beku
andesit, berwarna abu-abu hingga abu-abu kehitaman, bentuk membulat-menyudut
tanggung, ukuran kerikil sampai boulder. Peta geologi PT. KIM dapat dilihat pada
Gambar 2.2 berikut.

15

Sumber: PT. KIM Divisi Engginering (2013)

Gambar 2.2. Peta Geologi PT. KIM


2.6. Morfologi
Daerah penyelidikan merupakan wilayah dengan bentuk morfologi berupa
perbukitan bergelombang sedang hingga kuat yang terletak pada ketinggian berkisar
110 350 meter dari permukaan laut. Bentuk morfologi ini dikontrol oleh litologi
yang berasal Formasi Sinamar berupa batu lempung, batu lanau dan batu pasir, serta
litologi dari endapan vulkanik kuarter berupa batuan konglomerat laharik. Sungai
utama yang mengalir di daerah ini terdiri dari Sungai Tanjung Belit yang berada di
bagian Barat lokasi dengan lebar sungai antara 5-10 meter.

15

BAB III
DESKRIPSI TEORI
3.1. Tambang terbuka
Merupakan suatu sistem penambangan dimana seluruh aktifitas kerjanya
berhubungan langsung dengan atmosfer atau udara luar. Berdasarkan macam material
yang ditambang, maka tambang terbuka dibagi menjadi :
a. Open Pit/Open Cut/Open Cast/Open Mine
Suatu sistem penambangan yang diterapkan untuk endapan bijih yang
mengandung logam. Contoh: Tambang Nikel di Pomalla, Sulawesi Tenggara,
mineralnya Garnierite, Tambang Alumunium di Kijang Riau Kepulauan, mineralnya
Gibbsite, Boechmite, Diaspore (Bauksite), Tambang Tembaga di Earthberg Irian Jaya,
mineralnya Calcophyrite dan Cuprite, Tambang Timah di Pemali Bangka mineralnya
Cassiterite, dll.
b. Quarry
Suatu sistem penambangan yang diterapkan untuk endapan mineral industri
(golongan C). Contoh: Tambang Batu Pualam di Tulung Agung Jawa Timur
batuannya marmer.
c. Strip Mine
Suatu sistem penambangan yang diterapkan untuk endapan bijih yang
letaknya horizontal atau sedikit miring. Contoh: Tambang Batubara di Tanjung Enim
Sumatera Selatan.
d. Alluvial Mine
Suatu sistem penambangan yang diterapkan untuk endapan alluvial. Contoh:
Tambang Bijih Timah di Bangka Belitung mineralnya Cassiterite.
Berdasarkan cara penambangan yang dilakukan ada beberapa cara
pembuangan overburden yang sesuai untuk tambang terbuka yaitu :
a. Back Filling, yaitu menimbun kembali tempat-tempat bekas penggalian
yang sudah diambil ore nya.

15

b. Benching System, yaitu pengupasan overburden dengan sistem jenjang,


sistem ini cocok untuk tanah penutup yang tebal dan batubara yang tebal.
c. Multi Bucket Excavator System, yaitu pembuangan tanah penutup ketempat
yang sudah digali batubaranya atau ketempat pembuangan khusus. Cara
pengupasan ini mirip dengan cara Bucket Wheel Excavator (BWE), cocok
untuk tanah penutup yang materialnya lunak dan tidak lengket.
d. Drag Scrapper System, cara ini biasanya langsung diikuti dengan
pengambilan bahan galian setelah tanah penutupnya dibuang, tetapi bisa
juga tanah penutupnya dihabiskan terlebih dahulu kemudian baru bahan
galiannya ditambang, cocok untuk tanah penutup yang materialnya
lunak/lepas (loose).
e. Cara konvensional, kombinasi alat gali (bulldozer), alat muat (track loader)
dan alat angkut (dump truck).
3.2. Faktorfaktor yang Mempengaruhi Produksi
Pola pemuatan Overburden

a.

Berdasarkan dari posisi dump truck untuk dimuati hasil galian backhoe (pola
gali muat), maka ada dua pola pemuatan yaitu :
1. Top Loading
yaitu alat gali muat melakukan penggalian dengan menempatkan dirinya di
atas jenjang atau alat angkut berada di bawah alat gali muat (Gambar 3.1).
2. Bottom Loading
yaitu alat gali muat melakukan penggalian dengan menempatkan dirinya di
jenjang yang sama dengan posisi alat angkut (Gambar 3.1)

15

Gambar 3.1. Pola Pemuatan


b.

Geometri Jalan Angkut


Pada pengertiannya, geometri jalan tambang yang memenuhi syarat adalah

bentuk dan ukuran-ukuran dari jalan tambang tersebut sesuai dengan tipe (bentuk,
ukuran dan spesifikasi) alat angkut yang digunakan dan kondisi medan yang ada
sehingga dapat menjamin serta menunjang segi keamanan dan keselamatan operasi
pengangkutan. Geometri jalan tersebut merupakan hal yang mutlak harus dipenuhi
1.

oleh suatu perusahaan. Geometri jalan angkut yang harus diperhatikan adalah:
Lebar Jalan Angkut
Jalan angkut yang lebar diharapkan membuat lalu lintas pengangkutan
menjadi lancar dan aman. Namun, karena keterbatasan dan kesulitan yang muncul
dilapangan maka lebar jalan angkut minimum harus diperhitungkan dengan cermat.
Perhitungan lebar jalan angkut pada saat kondisi lurus dan berbelok berbeda,
dikarenakan pada saat kendaraan membelok akan membutuhkan ruang gerak yang
besar.

a.

Lebar Jalan Angkut pada Jalan Lurus

15

Lebar jalan angkut pada jalan lurus dengan jalur ganda atau lebih menurut
Aasho Manual Rural Highway Design harus ditambah dengan setengah lebar alat
angkut pada bagian tepi kiri dan kanan jalan.
L = n.Wt + (n+1)(1/2.Wt)
Sumber : Awang Suwandi. Pengantar Jalan Tambang (2004)

Keterangan :
L = Lebar jalan angkut minimum, meter
n = Jumlah jalur
Wt = Lebar alat angkut (total), meter.

Wt

Wt

Wt

Wt

Wt

Lm

Su
mber: Awang Suwandi. Pengantar Jalan Tambang (2004)

Gambar 3.3. Lebar Jalan Angkut Dua Jalur pada Kondisi Lurus
b.
a)

Lebar Jalan Angkut pada Belokan


Penentuan lebar jalan pada tikungan (belokan) didasarkan pada:
Jarak dari kedua tepi jalan
b) Lebar jejak ban
c) Lebar juntai (overhang) bagian depan dan belakang saat kendaraan belok
d) Jarak antar kendaraan saat bersimpang

15

Sumber: Awang Suwandi. Pengantar Jalan Tambang (2004)

Gambar 3.4. Lebar Jalan Angkut pada Belokan


Wmin = 2 (U+Fa+Fb+Z) + C
Z = (U+Fa+Fb)/2
Keterangan:
U = Lebar jejak roda (center to centertires), m
Fa = Lebar juntai (overhang) depan, m
Fb = Lebar juntai belakang, m
Z = Lebar bagian tepi jalan, m
C = Clearance antar kendaraan, m
2. Jari-jari Tikungan dan Superelevasi
a. Jari-jari Tikungan
Jari-jari tikungan jalan angkut berhubungan dengan kontruksi alat angkut
yang digunakan, khususnya jarak horizontal antara poros depan dan belakang roda.
R= W/sin
Sumber: Awang Suwandi. Pengantar Jalan Tambang (2004)

Keterangan:
R = Jari-jari belokan alat angkut, m
W = Jarak poros depan dan belakang, m
= Sudut penyimpangan roda depan
b. Superelevasi

15

Pada jalan belokan merupakan daerah berbahaya karena pada jalan belokan
tersebut dump truck akan mengalami gaya sentrifugal. Untuk mengimbangi gaya
tersebut maka pada jalan belokan diperlukan kemiringan jalan atau superelevasi yaitu
perbedaan ketinggian tepi jalan terluar dengan tepi jalan bagian dalam pada suatu
tikungan. Rumus superelevasi yaitu:
1/M =

( e+e n ) B
LS

Sumber : Awang Suwandi. Pengantar Jalan Tambang (2004)

Keterangan : 1/m = Landai relative %


e = Superelevasi
e n = Kemiringan melintang normal
B = Lebar jalur
Ls = Panjang lengkungan
3.

Kemiringan Jalan Angkut


Kemiringan atau grade jalan angkut merupakan satu faktor penting yang

harus diamati secara detail dalam kegiatan kajian terhadap kondisi jalan tambang
tersebut. Hal ini dikarenakan kemiringan jalan angkut berhubungan langsung dengan
kemampuan alat angkut, baik dari pengereman maupun dalam mengatasi tanjakan.
Kemiringan jalan angkut biasanya dinyatakan dalam persen (%). Kemiringan (grade)
dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Grade ( ) = h/ x x 100%
Sumber: Awang Suwandi. Perencanaan Jalan Tambang (2004)

keterangan :

h = Beda tinggi antara dua titik yang diukur .


x = Jarak datar antara dua titik yang diukur.

Secara umum kemiringan jalan maksimum yang dapat dilalui dengan baik
oleh alat angkut besarnya berkisar antara 18 % 10 %. Akan tetapi untuk jalan naik
maupun turun pada bukit, lebih aman kemiringan jalan maksimum sebesar 8 %.

4.

Cross Section

15

Sudut yang dibentuk oleh dua sisi permukaan jalan terhadap bidang
horizontal. Yg mempunyai bentuk penampang melintang cembung. Dibuat demikian
agar mempelancar penyaliran bila turun hujan atau sebab lain. Sehingga tidak
membuat jalan tergenang yang dapat membahayakan kendaraan yang lewat dan
mempercepat kerusakan jalan.
5. Kontruksi Jalan Angkut
Konstruksi jalan adalah suatu lapisan penyusun jalan yang tersusun dari
bahan-bahan perkerasan dan diletakkan di atas tanah dasar atau subgrade. Secara
umum perkerasan jalan angkut harus cukup kuat untuk memenuhi dua syarat, yaitu :
1. Secara keseluruhan harus mampu untuk menahan berat atau beban
kendaraan maksimum yang berada di atasnya. Sehingga apabila daya
dukung jalan yang ada tidak dapat menahan beban yang diterima, maka
kondisi jalan akan mengalami penurunan dan pergeseran jalan maupun
tanah dasarnya yang selanjutnya berakibat jalan akan bergelombang dan
banyak cekungan-cekungan.
2. Permukaan jalan harus mampu untuk menahan gesekan roda kendaraan,
pengaruh air dan hujan. Jika hal ini tidak terpenuhi untuk permukaan jalan
(road surface) akan mengalami kerusakan yang pada mulanya terjadi
lubang-lubang kecil, semakin besar dan kemudian akan menjadi rusak
berat.
Tujuan utama dalam konstruksi perkerasan jalan angkut adalah membangun
dasar jalan yang memungkinkan, dimana dalam pengangkutan muatan, pemindahan
beban pada poros roda yang diteruskan melalui lapisan pondasi tidak melampaui daya
dukung tanah dasar (subgrade). Untuk mengetahui besarnya tekanan alat angkut
terhadap tanah atau ground pressure (GP), dapat digunakan persamaan berikut :

C. Faktor material

15

Jenis dan kondisi material yang akan digali akan berpengaruh pada hasil
produksi.
a. Faktor Pengembangan Material
Swell merupakan pengembangan volume suatu material setelah digali dari
tempatnya, dengan kata lain pengembangan (swell) terjadi apabila material digali dari
tempat aslinya. Pengembangan volume suatu material perlu diketahui, karena yang
diperhitungkan pada penggalian selalu didasarkan pada kondisi material sebelum
digali (bank), sedangkan material yang ditangani (dimuat untuk diangkut) selalu
material yang telah mengembang (loose).
Untuk menyatakan besarnya pengembangan volume dikenal dua istilah yaitu:
1.

Faktor pengembangan (swell factor)

2.

Persen pengembangan (percent swell), %


Untuk menghitung swell factor dan percent swell berdasarkan volume dapat

menggunakan persamaan:
Sf =

swell=

Bank volume
Loose volume

L oose volume Bank volume


100
)
Bank volume

Sumber : partanto pradjkosuma. Pemindahan Tanah Mekanis (1996)

Sedangkan untuk menghitung swell faktor dan percent swell berdasarkan


kerapatan (densitas) menggunakan persamaan:
SF=

swell=

loose weig h t
weig h tbank

weig h tbankloose weig h t


100
loose weig ht

Sumber : partanto pradjkosuma. Pemindahan Tanah Mekanis (1996)

b. Sifat Kohesi

15

Sifat pengikatan/kelengketan material yang sama jenis, terutama ditentukan


oleh kadar lempung.
c. Sifat Mekanik Material
Berpengaruh pada kemampuan alat gali pada pengoperasian penggalian. Sifat
ini dipengaruhi oleh kuat tekan, kuat geser material penggalian.Faktor-faktor tersebut
menyebabkan terjadinya perbedaan kekerasan material. Karena perbedaan kekerasan
material yang digali sangat bervariasi maka sering dilakukan pengelompokan sebagai
berikut:
1.

Lunak (soft) atau mudah digali (easy digging), misalnya tanah atas atau top
soil, pasir (sand), lempung pasiran (sandy clay), pasir lempungan (clayed
sand).

2.

Agak keras atau medium hard digging, misalnya tanah liat atau lempung
(clay) yang basah dan lengket. Batuan yang sudah lapuk (weathered rock).

3.

Sukar digali atau keras (hard digging), misalnya : batu sabak (slate),
material yang kompak (compacted material), batuan sediman (sedimentary
rock), konglomerat (conglomerate), breksi (breccia).

4.

Sangat sukar digali atau sangat keras (very hard digging) atau batuan segar
(fresh rock) yang memerlukan pemboran dan peledakan sebelum dapat
digali, misalnya : batuan beku segar (fresh igneous rock), batuan malihan
segar (fresh metamorphic rock).

D. Faktor Isian Mangkuk (Bucket Fill Factor)


Faktor isian mangkuk (bucket fill factor) merupakan perbandingan antara
kapasitas nyata material yang masuk kedalam mangkuk (bucket) excavator dengan
kapasitas teoritis dari alat muat tersebut yang dinyatakan dalam persen. Faktor isian
mangkuk ini menunjukkan bahwa semakin besar faktor isian maka semakin besar
produktivitas alat muat tersebut. Faktor pengisian dipengaruhi oleh kapasitas
mangkuk, jenis dan sifat material.
Untuk menghitung faktor isian mangkuk (bucket fill factor) digunakan
persamaan sebagai berikut :

15

Fill Fac tor( FF)=

Volume Nyata(Vn)
100
Volume Teoritis (Vt )

Sumber : partanto pradjkosuma. Pemindahan Tanah Mekanis (1996)

Keterangan :
FF

: Faktor pengisian (fill factor), %

Vn

: Volume nyata, (m3, ton)

Vt

: Volume teoritis mangkuk (bucket) alat galimuat, (m3, ton)

E. Waktu Edar
Waktu edar adalah waktu yang diperlukan dalam alat mekanis untuk
menghasilkan sekali putaran kerja atau melakukan satu siklus kerja.
1.

Waktu edar alat gali-muat


Waktu edar alat gali muat dapat dirumuskan sebagai berikut :
Ctgm = Tm1 + Tm2 + Tm3 + Tm4
Sumber : Hand Book Komatsu Edition 24

Keterangan :
Ctgm = Waktu edar alat gali-muat, detik
Tm1 = Waktu menggali material, detik
Tm2 = Waktu putar dengan bucket terisi, detik
Tm3 = Waktu menumpahkan muatan, detik
Tm4 = Waktu putar dengan bucket kosong, detik
2. Waktu edar alat angkut
Waktu edar alat angkut dapat dirumuskan sebagai berikut :
Cta = Ta1 + Ta2 + Ta3 + Ta4 + Ta5 + Ta6
Sumber : Hand Book Komatsu Edition 24

Keterangan :
Cta = Waktu edar alat angkut, menit
Ta1 = Waktu mengambil posisi untuk dimuati, menit
Ta2 = Waktu diisi muatan, menit

15

Ta3 = Waktu mengangkut muatan, menit


Ta4 =Waktu mengambil posisi untuk penumpahan,
menit
Ta5 = waktu pengosongan muatan, menit
Ta6 = waktu kembali kosong, menit
F. Ketersediaan Alat dan Penggunaan Alat
Salah satu hal yang mempengaruhi produksi dari kebutuhan alat gali-muat dan
alat angkut yang diinginkan dalam operasi penambangan adalah masalah kesediaan
alat.
Ketersediaan alat adalah faktor yang menunjukan kondisi alat-alat mekanis
dalam melakukan pekerjaan dengan memperhatikan kehilangan waktu selama kerja.
Kondisi peralatan mekanis dibagi menjadi:
1) Kondisi peralatan 90% - 100%
Berlaku untuk peralatan baru dan siap pakai, kemampuan minimal 70% dan belum
mengalami perbaikan apapun serta dalam keadaan lengkap.
2)

Kondisi peralatan 70% - 89%

Berlaku untuk peralatan lama yang dalam keadaan yang siap beroperasi dengan
kemampuan minimal 70% namun sudah dipakai lebih dari satu tahun atau seribu
jam kerja.
3)

Kondisi peralatan 50% - 69%

Peralatan yang dalam keadaan rusak ringan operasi. Kemampuan alatnya minimal
60% dan sudah dioperasikan lebih dari dua tahun atau tiga ribu jam kerja.
Perhitungan untuk mengetahui kesediaan alat gali muat dan alat angkut adalah
sebagai berikut:
a. Kesediaan Mekanik (Mechanical Availability)
Merupakan suatu cara untuk menyetahui kondisi mekanis yang sesungguhnya
dari alat yang sedang dipergunakan. Persamaan untuk kesediaan mekanik
(mechanical availability) sebagai berikut:

15

MA=

W
x 100
W +R
Sumber: Partanto Projosumarto, Pemindahan Tanah Mekanis (1993)

Dengan data kesediaan mekanis dari catatan waktu kerja dan waktu
perbaikan alat maka didapatkan data yang terpercaya tentang kemampuan alat dalam
menghadapi kondisi tertentu dalam setiap operasi kerjanya. Dengan data tersebut,
daya guna alat diwaktu yang akan datang juga dapat diperkirakan dengan ketepatan
yang beralasan.
b. Kesediaan Fisik (Physical Availability)
Merupakan catatan mengenai keadaan fisik dari alat yang sedang dipergunakan.
Persamaan untuk kesediaan fisik (physical availability) sebagai berikut:
PA=

W +S
x 100
W +R+S

Sumber: Partanto Projosumarto, Pemindahan Tanah Mekanis (1993)

Kesediaan fisik pada dasarnya merupakan data yang menunjukkan


seberapa besar alat pernah digunakan sebelumnya. Data tentang kesediaan fisik juga
merupakan suatu yang berguna untuk penafsiran secara umum dari daya guna
mekanis alat dan juga sebagai indikator dari efisiensi penjadwalan alat.
c. Pemakaian Kesediaan (Use of Availability)
Menunjukan berapa persen waktu yang diperlukan oleh suatu alat untuk
beroperasi pada saat alat tersebut dapat dipergunakan (available). Persamaan untuk
pemakaian kesediaan (use of availability) sebagai berikut:
UA=

W
100
W +S
Sumber: Partanto Projosumarto, Pemindahan Tanah Mekanis(1993)

Angka ini dapat memperlihatkan seberapa efektif suatu alat yang tidak
sedang rusak dapat dimanfaatkan, sehingga dapat dijadikan ukuran seberapa baik
pengelolaan alat yang digunakan.

15

d. Penggunaan Efektif (Effective Utilization)


Menunjukan berapa persen dari seluruh waktu kerja yang tersedia dapat
dimanfaatkan untuk kerja produktif. Effective utilization sebenarnya sama dengan
pengertian efisiensi kerja. Persamaan untuk penggunaan efektif (effective utilization)
sebagai berikut:
EU =

W
100
W + S+ R
Sumber: Partanto Projosumarto, Pemindahan Tanah Mekanis (1993)

Keterangan:
MA

= Kesediaan mekanik (mechanical availability),

%
PA

= Kesediaan fisik (physical availability), %

UA

= Pemakaian Kesediaan (Use of Availability), %

EU

= Penggunaan Efektif (Effective Utilization), %

= Waktu kerja efektif atau jumlah jam kerja alat,

jam
R

= Rata-rata waktu untuk perbaikan alat, jam


= Waktu yang hilang karena menunggu saat perbaikan
termasuk juga waktu untuk penyediaan suku cadang
(spare part) serta waktu untuk perawatan.
S

= Rata-rata waktu alat tidak bekerja padahal alat


tidak rusak (standbay),

jam

W+ R+S = Jumlah seluruh jam kerja dimana alat dijadwalkan


untuk beroperasi, jam.

15

Penggunaan efektif berguna untuk mengetahui seberapa efektif waktu kerja


yang digunakan untuk berproduksi dan berpengaruh pada hasil produksi kerja.
Sehingga dapat untuk mengetahui kemampuan produktivitas alat yang bekerja.
3.3. Batubara
a. Definisi Batubara
Menurut achmad prijono, dkk (1992), batubara adalah bahan bakar hidro
karbon tertambat terbentuk dari tumbuhan dalam lingkungan bebas oksigen serta
terkena pengaruh temperature dan tekanan yang berlangsung sangat lama. Sedangkan,
menurut simon dan Hopkins batubara adalah batuan yang mudah terbakar berasal dari
akumulasi perubahan tumbuhan secara fisik dan kimia.
Dari beberapa definisi di atas, batubara dapat didefinisikan sebagai batuan
sedimen organik hidrokarbon tertambat yang dapat terbakar serta terbentuk di alam
dari akumulasi tumbuhan yang telah menggalami perubahan baik secara kimia atau
fisik dalam waktu yang sangat lama.
b. Terjadinya Batubara
Ada dua teori yang menerangkan terjadinya batubara yaitu teori insitu dan
drift. Teori instu yaitu batubara terbentuk dari tumbuhan atau pohon yang berasal dari
hutan tempat batubara tersebut terbentuk. Teori drift yaitu terbentuk dari tumbuhan
atau pohon yang berasal dari hutan lain. Proses pembentukan batubara terdiri atas dua
tahap yaitu biokimia (penggambutan) dan geokimia (pembatubaraan).
c. Komposisi Batubara
Pada dasarnya ada dua jenis material yang membentuk batubara yaitu:
1.

Combustible material
Bahan yang dapat dibakar atau dioksidasi oleh oksigen. Terdiri dari karbon,
senyawa hidokarbon, sulfur, hydrogen dan lain-lain.

2.

Non combustible material


Bahan yang tidak dapat terbakar atau dioksidasi oleh oksigen. Terdiri dari
sio2, cao, na2o, mgo.

d. Jenis-jenis Batubara

15

Secara umum ada 4 tingkat atau kelas dari batubara yaitu:


1.

Gambut
Memiliki karakteristik warna coklat, kandungan air tinggi, mudah
teroksidasi, nilai panas yang rendah.

2.

Lignit
Warna kecoklatan, kompaksi, rapuh, kandungan air yang tinggi karbon
rendah, nilai panas yang rendah.

3.

Subbituminus
Warna hitam, kompak, air sedang, nilai panas yang dihasilkan sedang,
kandungan karbon terbang sedang.

4.

Antrasit
Warna hitam mengkilap, material kompak kuat, kandungan air rendah,
panas yang dihasilkan tinggi

15

15
Dumping Top Soil

BAB IV

AKTIVITAS PENAMBANGAN
Aktivitas pertambangan yang dilakukan PT KIM terdiri dari :
4.1. Land Clearing
Land clearing bertujuan untuk membersihkan area penambangan dari tumbuhan
semak belukar dan pohon. Pohon yang berdiameter kecil dan tumbuhan semak belukar
dibersihkan dengan menggunakan bulldozer yang berukuran kecil. Sedangkan pohon
yang berdiameter besar ditebang dengan menggunakan gergaji mesin. Kegiatan ini
dilakukan untuk mempermudah pekerjaan pengupasan tanah pucuk.

Hauling Top Soil

Gambar 4.1. Land Clearing Di PT. KIM


4.2. Pengupasan Top Soil
Loading Top Soil
Top soil atau tanah pucuk merupakan tanah yang mempunyai ketebalan lebih
kurang 0,5 m dan merupakan lapisan tanah yang paling atas. Tanah pucuk sebagian besar
mengandung humus, akar, dan jasad renik tanah..
Pengupasan tanah pucuk dilakukan dengan Excavator Backhoe Komatsu PC 1250
LC dan alat angkut Dump Truck komatsu HD 465. Tanah pucuk diangkut ke tempat
penimbunan sementara untuk digunakan kembali pada saat reklamasi. . Lapisan top soil
yang ditimbun sementara dan dilakukan pemeliharaan untuk mempertahankan zat hara
dan organisme di dalamnya tetap dalam kondisi baik. Untuk penyimpanan top soil
memerlukan waktu yang lama, timbunan top soil ditanam tanaman penutup (cover crop).

15

Gambar 4.2 Pengupasan Top Soil


4.3. Pengupasan Overburden

Pengupasan overburden dilakukan dengan menggunakan Excavator Backhoe


Komatsu PC 1250 LC dan alat angkut dump truck HD 465 dengan kapasitas vessel 45
ton. Lapisan overburden ditimbun pada out pit dump yang terletak tidak jauh dari areal
lubang tambang pada saat pembukaan tambang pertama. Pada pembukaan tambang
selanjutnya dilakukan inpit dump pada lokasi tambang pertama atau biasa disebut dengan
sistem backfilling.

Gambar 4.2. Pengupasan dan Pemuatan Overburden

15

4.4. Pemuatan dan Pengangkutan Overburden


Kegiatan pemuatan overburden bertujuan memindahkan overburden yang telah
digali oleh alat gali-muat ke dalam alat angkut untuk kemudian dibawa dan dibuang ke
disposal area. Alat angkut yang digunakan adalah Dump Truck Komatsu HD 465 dengan
jarak loading ppint ke disposal yaitu 1.7 km. . Konstruksi jalan tambang terbuat dari
tanah yang diperkeras dengan pasir batu (jalan macadam). Lebar jalan tambang sekitar 25
meter termasuk berm dan saluran drainase di kiri kanan jalan.

Gambar 4.3. Pemuatan Dan Pengangkutan OB


4.5. Penimbunan dan Perataaan Disposal

Material overburden yang diangkut oleh Dump Truck HD 465 tadi selanjutnya
dibawa dan ditumpahkan ke disposal area yang telah disediakan. Overburden dibuang
secara berkelanjutan ke disposal sehingga terjadi penumpukan tanah di disposal tersebut.
Untuk itu, perlu dilakukan perataan timbunan material agar tidak mengganggu proses
penimbunan selanjutnya. Perataan timbunan material overburden ini dilakukan dengan
menggunakan Bulldozer.
4.6. Penggalian dan Pengangkutan Batubara

Alat yang digunakan untuk penggalian batubara adalah Excavator PC 400


Batubara dari front penambangan diangkut oleh dan Dump Truck Nissan CWB (dapat
dilihat pada Gambar 4.3.) dengan jarak tempuh loading point ke stockpile yaitu 2 km.

15

Gambar 4.4. Dump Truck Nissan CWB


4.7. Pemasaran Batubara
Market batubara PT KIM dikirim ke lontar, kerawang dan keluar negeri(india)
serta perusahaan lainnya yang masih tergabung di sinarmas group. Pemasaran
batubara tersebut diangkut dari lokasi ke tempat tujuan menggunakan dump truck
dan tongkang.
4.8. Reklamasi
Reklamasi adalah kegiatan yang bertujuan memperbaiki atau menata kegunaan
lahan yang terganggu sebagai akibat kegiatan usaha pertambangan, agar dapat
berfungsi dan berdaya guna sesuai peruntukan. Setelah kegiatan penambagan
PT KIM melakukan kegiatan reklamasi dengan menanam pohon karet(tanaman asal
daerah tersebut). Dimana bibit karet tersebut disediakan sendiri oleh perusahaan.

15

Gambar 4.5. Reklamasi PT KIM

DAFTAR PUSTAKA

15

Yanto Indonesianto, Ir. Msc (2000), Pemindahan Tanah Mekanis,UPN Veteran


Yogyakarta,2000
, Komatsu , Komatsu Performance Handbook Edition 24

Projosumarto, Partanto., 1993, Pemindahan Tanah Mekanis, Jurusan Teknik


Pertambangan, Institut Teknologi Bandung.
Tenrisukki Andi T, 2003, Pemindahan Tanah Mekanis, Gunadarma, Jakarta
Suwandi Awang, 2004, Perencanaan Jalan Tambang, Diklat Perencanaan Tambang
Terbuka Unisba, Bandung.
Http://Rachmatrisejet.Blogspot.Com/2012/12/Pengantar-Jalan-Tambang.Html