Anda di halaman 1dari 7

3.

1 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan


Nutrisi adalah zat yang terkandung didalam makanan yang dibutuhkan manusia
atau makhluk hidup lainnya untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan baik sesuai
dengan fungsinya. Nutrisi di peroleh dari hasil pemecahan/pemrosesan makanan oleh
sistem pencernaan atau sering disebut juga dengan sari-sari makanan (FHC Nutrition).
Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) adalah neonatus dengan berat
badan lahir pada saat kelahiran kurang dari 2.500 gram (sampai 2.499 gram).BBLR
adalah bayi yang lahir dengan berat lahir kurang 2.500 gram tanpamemandang masa
kehamilan (Prawirohardjo, 2008).
Pada masa neonatus, nutrisi BBLR merupakan kebutuhan paling besar
dibandingkan kebutuhan pada masa manapun dalam kehidupan; untuk mencapai
tumbuh kembang optimal. Pertumbuhan BBLR yang direfleksikan per kilogram berat
badan hampir dua kali lipat bayi cukup bulan, sehingga BBLR membutuhkan dukungan
nutrisi khusus dan optimal untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Pada umumnya BBLR
dengan berat lahir kurang dari 1500 g, memerlukan nutrisi parenteral segera sesudah
lahir. Belum ada standar kebutuhan nutrien yang disusun secara tepat untuk BBLR,
sebanding dengan air susu ibu (ASI). Rekomendasi yang ada ditujukan untuk memenuhi
kebutuhan nutrien yang mendekati kecepatan tumbuh dan komposisi tubuh janin normal
(Nasar, 2004).
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan adalah asupan nutrisi tidak
cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik. Beberapa faktor yang berhubungan yaitu
faktor biologis, ketidakmampuan mencerna makanan, ketidakmampuan mengabsorbsi
nutrien,

kurang

asupan

makanan,

faktor

ekonomi,

gangguan

psikososial,

ketidakmampuan makan (Nanda, 2015)


3.1.2 Intervensi Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
1. Sediakan diet yang dapat memenuhi kebutuhan kalori. Berikan ASI jika
tersedia.
Nutrisi bagi bayi berat badan lahir rendah yang terbaik adalah Air Susu Ibu
(ASI). Air susu ibu (ASI) adalah makanan terbaik bagi bayi baru lahir, baik bayi yang
dilahirkan cukup bulan (matur) maupun kurang bulan (prematur). Berbagai hasil
penelitian menunjukkan bahwa pemberian ASI memberikan banyak keuntungan
fisiologis maupun emosional (Nur Aisyah, 2012)
Pertumbuhan BBLR yang direfleksikan per kilogram berat badan hampir dua
kali lipat bayi cukup bulan, sehingga BBLR membutuhkan dukungan nutrisi khusus
dan optimal untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Pada umumnya BBLR dengan
berat lahir kurang dari 1500 g, memerlukan nutrisi parenteral segera sesudah lahir.

Belum ada standar kebutuhan nutrien yang disusun secara tepat untuk BBLR,
sebanding dengan air susu ibu (ASI). Rekomendasi yang ada ditujukan untuk
memenuhi kebutuhan nutrien yang mendekati kecepatan tumbuh dan komposisi
tubuh janin normal sesuai masa gestasi serta mempertahankan kadar normal nutrien
dalam darah dan jaringan tubuh. Tujuh ahli klinis dari Unit Neonatal UK
menginformasikan bahwa faktor penentu pemenuhan kebutuhan pada bayi adalah
dengan pemberian ASI. Berdasarkan temuan studi, tim riset dan advisory menyetujui
secara praktik terhadap pemberian ASI berdampak pada bayi ke depannya
(Williams, 2009).
Intake kalori tergantung usia, status metabolik dan level aktivitas. Panduan
umum adalah sebagai berikut :
a. usia kurang dari sama dengan 6 bulan : 108 kcal/kg/hari
b. usia 6-12 bulan : 98 kcal/kg/hari
c. usia 1- 3 tahun : 1,300 kcal/hari
d. usia 4- 6 tahun : 1,800 kcal/hari
e. usia 7-10 tahun : 2,000 kcal/hari
f. usia 11-14 tahun : 2,500 kcal/hari
g. usia 15- 18 tahun : 3,000 kcal/hari
Pemenuhan diet yang sesuai dengan kebutuhan kalori anak membantu
memelihara dan kebutuhan pertumbuhan (Ditzenberger, G, 2009).
2. Sediakan nutrisi parenteral cairan, jika diindikasikan
Kematangan

fungsi

organ

khususnya

saluran

cerna,

sangat

menentukan jenis dan cara pemberian nutrisi pada BBLR. Kondisi klinis
seringkali merupakan faktor penentu, apakah nutrisi enteral atau parenteral
yang akan diberikan. Saluran cerna merupakan organ pertama yang
berhubungan dengan proses digesti dan absorpsi makanan. Ketersediaan
enzim pencernaan baik untuk karbohidrat, protein, maupun lemak sangat
berkaitan dengan masa gestasi. Umumnya pada neonatus cukup bulan (NCB)
enzim pencernaan sudah mencukupi kecuali laktase dan diperkirakan sekitar
25% NCB sampai usia 1 minggu menunjukkan intoleransi laktosa. Aktivitas
enzim sukrase dan Iaktase Iebih rendah pada BBLR dan sukrase Iebih cepat
meningkat daripada laktase. Di samping masalah enzim, kemampuan
pengosongan lambung (gastric emptying time) Iebih lambat pada bayi BBLR
dari pada bayi cukup bulan. Demikian pula fungsi mengisap dan menelan
(suck and swallow) masih belum sempurna, terlebih bila bayi dengan masa
gestasi kurang dari 34 minggu. Toleransi terhadap osmolaritas formula yang

diberikan masih rendah, sehingga kemungkinan terjadinya komplikasi seperti


NEC (neoritising enterocolitis) ataupun diare Iebih besar. Perkembangan
anatomis dan fisiologis saluran cerna pada janin dapat dilihat pada Tabel-1 di
berikut ini.

(Nasar, 2004)
Penelitian yang dilakukan di Cochrane menemukan yang memenuhi syarat di mana
total 359 bayi prematur yang berpartisipasi. Percobaan tersebut tidak mendeteksi efek
signifikan secara statistik tingkat pertumbuhan di rumah sakit. Meta-analisis menemukan
bahwa bayi yang menerima makan melalui transpilorik memiliki risiko lebih tinggi gangguan
gastro-intestinal (khas RR 1,48 (95% confidence interval (CI) 1,05-2,09); khas RD 0,09 (95%
CI 0,02-0,17); jumlah diperlukan untuk mengobati untuk hasil berbahaya (NNTH) 10 (95% CI
6-50); enam penelitian, 245 bayi) dan semua kasus kematian (khas RR 2,46 (95% CI 1,364,46); khas RD 0,16 (95 % CI 0,07-0,26); NNTH 6 (95% CI 4-14); enam penelitian, 217
bayi). Namun, sidang yang memberikan kontribusi paling berat untuk temuan ini adalah
kemungkinan telah dipengaruhi oleh alokasi selektif bayi kurang matang dan sakit untuk
makan transpilorik. Kami tidak menemukan perbedaan yang signifikan secara statistik dalam
kejadian efek samping lainnya, termasuk necrotising enterocolitis, perforasi usus, dan

pneumonia aspirasi. Kesimpulan penulis : Data yang tersedia tidak memberikan bukti efek
menguntungkan dari makan transpilorik untuk bayi prematur. Beberapa bukti bahaya ada,
termasuk risiko yang lebih tinggi dari gangguan gastrointestinal dan kematian, tetapi temuan
ini harus ditafsirkan dan diterapkan dengan hati-hati karena kelemahan metodologis dalam
uji coba disertakan (Watson J.,McGuire, 2009).
Penelitian yang dilakukan oleh McGuire dari University of New York didapatkan
bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan pemberian makan bayi dengan bayi prematur
melalui nasal tube feeding atau oral tube feeding. Namun terdapat perbedaan secara
statistik dan signifikan pada minggu pertama setelah sistem random/acak berat badan bayi
lebih rendah pada bayi yang makan melalui via nasoenteric feeding tube (0,6 vs 8,3 kg/day).
Nasal tube feeding dapat mengakibatkan peningkatan kejadian aspirasi yang dapat
berdampak apneua pada bayi. Pada penelitian tersebut apneua di definisikan bayi henti
nafas selama 5 detik bukan yang pada umumnya (yaitu lebih dari 20 detik). Dari penelitian
tersebut oral gastric tube tetap direkomendasikan bagi bayi yang tidak atau belum mempu
memiliki efek menelan dll (Watson J.,McGuire, 2009)..
3. Berikan suplement jika diperlukan
Bukti

menunjukkan

bahwa

pemberian

iodine

pada

bayi

preterm

sangat

menguntungkan. Iodine secara esensial merupakan diproduksi oleh hormon tyroid. Hormon
tyroid penting bagi perkembangan otak bayi baru lahir. Bayi preterm sering memiliki level
iodine dan hormon tiroid pada minggu pertama kelahiran sangat sedikit. Hal ini dikarenakan
kurangnya diet iodine. Disinilah peneliti memberikan efek uji pasca pemberian iodine pada
bayi baru lahir dengan preterm. Terdapat data insufficient yang mewakili perbedaan
pemberian suplementasi iodine yaitu untuk mencegah morbiditas dan mortalitas bayi
preterm. Iodine secara klinis penting bagi morbiditas respirasi dan meningkatnya
neurodevelopment bayi (Ibrahim MDH, Sinn JKH, McGuire W, 2006).
Bayi prematur sering membutuhkan emulsi lemak parenteral jika intake dan energi
yang dibutuhkan bayi tidak dapat tercapai didapatkan secara enteral. Emulsi lemak kedelai
untuk pemenuhan nutrisi bayi baru lahir dan bayi prematur telah dipertanyakan, karena
memiliki konsentrasi polyunsaturated asam lemak LA (linoleid acid) dan ALA ( linoleid acid)
dan

mengandung

rendah

vitamin

E.

Emulsi

lemak

mengandung

jumlah

rantai

polyunsaturated asam lemak AA dan DHA (docosahexanoic acid) yang rendah, yang secara
fungsi esensial berpengaruh terhadap perkembangan visual dan saraf. Sintesis LCP (long
chain polyunsaturated fatty acids with 20 and 22 carbon atoms) dari prekursor asam lemak
pada bayi prematur maupun yang matur dan jumlah LA dan ALA dari emulsi kedelai
berdampak pada pembentukan LCP yang menjadi penghambat. Selain itu tingginya
polyunsaturated asam lemak dalam emulsi minyak kedelei meningkatkan peroksidasi lemak,

yang mana dapat berdampak pada bayi prematur. Adapun bayi yang sering mendapatkan
stres oksidatif selama infeksi, perawatan Iintensive care beresiko memilik antioksidatif yang
rendah (Zimmermann, 2003)
Kesimpulan dari studi di Munchen Germany bahwa emulsi lemak dari minyak zaitun
dan minyak kedelai sangat baik ditoleransi bayi prematur. Desaturasi rantai LA ke
DGLA( dihomo gamma

linoleic acid) muncul pada kedua kelompok pembanding dan

meningkat pada kelompok yang diberikan intervensi, tetapi total n 6 metabolisme memiliki
kesamaan pada kedua kelompok. Hal ini dimungkinkan karena desaturasi ini memiliki
batasan untuk AA dan sintesis EPA(eicosapentaenoic acid) pada populasi. Adapun peneliti
menyimpulkan

emulsi kedelai lebih berstandar untuk nutrisi parenteral bayi prematur

(Zimmermann, 2003)

DAFTAR PUSTAKA
Health

Nutrition For Children's Growth


http://fhcnutrition.com/pengertian-nutrisi/
Desember 2015 pukul 20.00 WIB.

2015. Pengertian nutrisi.(Online)


FHC Nutrition. Diakses tanggal 27

Prawirohardjo, S. 2008. Ilmu Kebidanan. Edisi Ketiga. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.
Cochrane Database of Systematic Reviews: Plain Language Summaries [Internet].
Chichester, UK: John Wiley & Sons, Ltd; 2003-. Iodine supplementation for the
prevention of mortality and adverse neurodevelopmental outcomes in preterm
infants. 2006 Apr 19 [Updated 2008].
Nasar 2004. Tatalaksana Nutrisi Pada Bayi Berat Lahir Rendah. Divisi Gizi & Penyakit
Metabolik. Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM. Jakarta. Sari Pediatri,
Vol. 5, No. 4, Maret 2004: 165 170.
Ditzenberger, G. Nutritional Support of Very Low Birth Weight Newborns, Critical Care
Nursing Clinics of North America 21(2):18194, June 2009.
Nanda International. 2015. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2015-2017 Edisi
10. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Nur Aisyah 2012. Nutrisi Untuk Bayi Baru Lahir. Rumah Sakit Husada Utama Surabaya.
(Online) http://www.husadautamahospital.com/artikel_35.php. Diakses pada tanggal
31 Desember 2015 pukul 20.20 WIB)
Zimmermann, 2003. Parenteral Fat Emulsions Based on Olive and Soybean Oils A
Randomized Clinical Trial in Preterm Infants. University of Frankfurt Germany.
Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition Philadelphia Lippincot
Williams.37: 161-167.
Watson J, McGuire W. Transpyloric versus gastric tube feeding for preterm infants.
Cochrane Database of Systematic Reviews 2013, Issue 2. Art. No.: CD003487. DOI:
10.1002/14651858.CD003487.pub3.
McGuire W., Watson J. 2013. Nasal versus oral route for placing feeding tubes in preterm or
low birth weight infants.The Cochrane Collaboration Published by Jhon Wiley and
Sons Ltd.